INDIKATOR PENGARAHAN YANG BAIK DALAM MANAJEMEN
KEPERAWATAN
Dosen Pengampu: Yeni Nur Ramayanti [Link], Ns, [Link]
Disusun oleh :
ARIN ARISKA
16.0.P.061
SEKOLAH TINGGI ILMU KESEHATAN MITRA HUSADA
PROGRAM STUDI SARJANA KEPERAWATAN
KARANGANYAR
2020
Pengarahan dan Pengendalian dalam Manajemen Keperawatan
A. Konsep Dasar Pengarahan dan Pengendalian
1. Pengarahan
Sumber daya manusia menjadi modal utama dalam terselenggaranya roda
organisasi pelayanan [Link] manajer keperawatan harus dapat mengelola
SDM agar dapat bekerja efektif dan efisien dalam mencapai tujuan yang telah
ditetapkan melalui fungsi penggerakan.
Henry Fayol dalam Siagian (2007) menyebut penggerakan sebagai
commanding atau directing, sedangkan George R Terry (1993) menggunakan istilah
actuating yaitu sebagai upaya atasan untuk menggerakkan bawahan. Pengarahan
merupakan hubungan manusia dalam kepemimpinan yang [Link] bawahan
digerakkan supaya mereka bersedia menyumbangkan tenaganya untuk secara
bersama-sama mencapai tujuan suatu organisasi.
Pengarahan dalam organisasi bersifat sangat komplek karena menyangkut
manusia dengan berbagai tingkah lakunya yang berbeda-beda (Muninjaya, 1999).
2. Pengendalian
Proses terakhir dari manajemen adalah pengendalian atau pengontrolan. Fayol
(1998)mendefinisikan pengontrolan adalah “Pemeriksaan apakah segala sesuatu yang
terjadisesuai dengan rencana yang telah disepakati, instruksi yang dikeluarkan, serta
prinsip-prinsipyang ditentukan”.
Tujuan pengontrolan adalah untuk mengidentifikasi kekurangan dankesalahan
agar dapat dilakukan perbaikan. Pengontrolan penting dilakukan untukmengetahui
fakta yang ada, sehingga jika muncul isue dapat segera direspons dengan cepatdengan
cara duduk bersama.
Menurut Mockler ( 1984 ), pengendalian dalam manajemen adalah usaha
sistematisuntuk menetapkan standar prestasi kerja agar sesuai dengan tujuan
perencanaan, untukmendesain sistem umpan balik informasi, untuk membandingkan
prestasi yangsesungguhnya dengan standar yang telah ditetapkan, untuk menetapkan
apakah ada deviasidan untuk mengukur signifikansinya, serta mengambil tindakan
yang diperlukan untukmemastikan bahwa sumber daya digunakan dengan cara yang
efektif dan efisien mungkinuntuk mencapai tujuan.
Pengendalian adalah proses untuk memastikan bahwa aktivitas yangdilakukan
adalah sesuai dengan aktivitas yang direncanakan dan berfungsi untuk menjaminmutu
serta evaluasi kinerja.
B. Tujuan Pengarahan dan Pengendalian
1. Pengarahan
Muninjaya (1999) menyebut tujuan fungsi pengarahan ada lima yaitu :
1) Menciptakan kerja sama yang lebih efisien
Komunikasi antara atasan dan bawahan berpotensi menjadi lebih baik,
efisiensi kerja dapat tercapai dengan kontribusi kepala ruang dalam menggerakkan
bawahannya, misalnya melalui supervisi tindakan keperawatan yang dilakukan
kepala ruang berdampak pada minimalnya kesalahan tindakan yang pada akhirnya
dapat menghemat bahan, alat dan waktu dibandingkan jika terjadi kesalahan
akibat dari tidak dilakukan supervisi tindakan keperawatan oleh kepala ruang.
2) Mengembangkan kemampuan dan ketrampilan staf
Supervisi, pendelegasian merupakan sebagian kegiatan terkait dengan
fungsi pengarahan. Kegiatan tersebut memberikan peluang bagi bawahan untuk
mengerjakan tugas sesuai dengan tanggung jawabnya secara mandiri
3) Menumbuhkan rasa memiliki dan menyukai pekerjaan
Pengarahan yang dilakukan kepala ruang ketika perawat melakukan
kesalahan, memberi motivasi saat motivasi menurun, memberi apresiasi saat
kinerja baik akan dapat meningkatkan rasa memiliki dan menyukai pekerjaan
4) Mengusahakan suasana lingkungan kerja yang dapat meningkatkan motivasi
danprestasi kerja staf
Pemimpin yang baik adalah yang mampu menciptakan suasana lingkungan
yang kondusif dan menciptakan hubungan interpersonal yang harmonis,
kepemimpinan yang adil merupakan kunci sukses dalam memberikan motivasi
kerja dan meningkatkan prestasi kerja perawat pelaksana
5) Pengarahan bertujuan membuat organisasi berkembang lebih dinamis
Pengarahan yang dilakukan oleh kepala ruang akan menjadikan hal yang
bermanfaat bagi semua perawat sehingga akan mempermudah semua perawat
untuk mengembangkan diri yang pada gilirannya akan membuat organisasi
berkembang lebih dinamis
2. Pengendalian
1) Dapat mengetahui kegiatan program yang sudah dilaksanakan oleh staf dalam
kurunwaktu tertentu,
2) Dapat mengetahui adanya penyimpangan pada pemahaman staf yang
melaksanakantugas
3) Dapat mengetahui apakah waktu dan sumber daya organisasi sudah digunakan
dengantepat dan efisien
4) Dapat mengetahui faktor penyebab terjadinya penyimpangan
5) Dapat mengetahui staf yang perlu diberikan penghargaan (reward)
C. Prinsip Pengarahan dan Pengendalian
1. Pengarahan
Pengarahan yang baik akan terlihat dalam bentuk (5 W dan I H), yaitu:
1) (What) Apa yang harus dilakukan oleh staf perawat/perawat pelaksana
2) (Who) Siapa yang melaksanakan suatu pekerjaan
3) (When )Jam berapa seharusnya dilakukan (mulai jam masuk sampai jam pulang)
4) (How)Bagaimana caranya mengerjakan dan berapa frequensi seharusnya
dikerjakan
5) (Why) Kenapa pekerjaan itu harus dilakukan
6) (Where) dimana? Tentunya di ruang atau tempat masing masing
2. Pengendalian
Proses pengendalian yang dilakukan seorang manajer dikatakan berhasil bila
mengandung beberapa karakteristik seperti di bawah ini:
1) Menggambarkan kegiatan sebenarnya
2) Melaporkan kesalahan dengan tepat
3) Berpandangan ke depan
4) Menunjukkan kesalahan pada hal-hal yang kritis dan penting
5) Bersifat obyektif
6) Bersifat fleksibel
7) Menggambarkan pola kegiatan organisasi
8) Bersifat ekonomis
9) Bersifat mudah dimengerti
10) Menunjukkan kegiatan perbaikan
D. Kegiatan Manajer Keperawatan pada Fungsi Pengarahan dan Pengendalian
1. Kegiatan Pengarahan:
Berikut di bawah ini akan diuraikan 10 rambu-rambu kegiatan pengarahan
yang penting diketahui menurut Douglas, yaitu:
1) Tentukan tujuan pengarahan yang realistis
2) Berikan prioritas pertama kepada yang penting dan urgen
3) Lakukan koordinasi dan efisien dengan unit kerja lain
4) Identifikasi tanggung jawab semua pekerjaan agar semua staf bekerja dengan
benardan adil
5) Ciptakan budaya kerja yang aman dan suasana pendidikan berkelanjutan agar
selalubekerja dengan keilmuan yang kokoh dan mutakhir
6) Timbulkan rasa percaya diri anggota yang tinggi, dengan memberikan reward
andpunishment yang jelas dan tegas
7) Terjemahkan standar operasional prosedur yang mudah dibaca dan dimengerti
agarmemudahkan pekerjaan yang akan dilakukan staf
8) Jelaskan prosedur keadaan gawat/force major baik terhadap pasien maupun
situasigawat lainnya
9) Berikan pengarahan yang sifatnya jelas, singkat dan tepat
10) Gunakan manajemen kontrol yang baik untuk mengkaji kualitas layanan secara
teraturdan rutin
2. Kegiatan Pengarahan:
Berikut ini adalah langkah-langkah pengendaalian/pengontrolan:
1) Menetapkan standar dan menetapkan metode mengukur prestasi kerja
2) Melakukan pengukuran prestasi kerja
3) Menetapkan apakah prestasi kerja sesuai dengan standar
4) Mengambil tindakan korektif
E. Indikator Pengarahan Yang Baik Dan Indikator Pengendalian Mutu Asuhan
Keperawatan
1. Indikator Pengarahan yang baik:
Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Pengarahan Arni (2009) menyatakan
bahwa arus komunikasi melalui media pengarahan dipengaruhi oleh struktur hierarki
dalam organisasi. Namun arus komunikasi ini tidaklah berjalan lancar, tetapi
dipengaruhi oleh berbagai faktor antara lain sebagai berikut :
a. Keterbukaan Kurangnya sifat terbuka diantara pimpinan dan pegawai akan
menyebabkan pemblokan atau tidak mau menyampaikan pesan atau gangguan
dalam pesan. Umumnya para pimpinan tidak begitu memperhatikan arus
komunikasi kebawah. Pimpinan mau memberikan informasi kebawah bila mereka
merasa bahwa pesan itu penting bagi penyelesaian tugas. Tetapi apabila suatu
pesan tidak relevan dengan tugas, pesan tersebut tetap dipegangnya. Misalnya
seorang pimpinan akan mengirimkan pesan untuk memotivasi pegawai guna
penyempurnaan hasil kerja, tetapi tidak mau mendiskusikan kebijaksanaan baru
dalam mengatasi masalah-masalah organisasi.
b. Kepercayaan Pada Pesan Tulisan Kebanyakan para pimpinan lebih percaya pesan
tulisan dan metode diskusi yang menggunakan alat-alat elektronik dari pada pesan
yang disampaikan secara lisan dan tatap muka. Hal ini menjadikan pimpinan lebih
banyak menyampaikan pesan secara tertulis berupa bulletin, manual yang mahal,
buklet dan film sebagai pengganti kontak personal secara tatap muka antara
pimpinan dan bawahan.
c. Pesan Yang Berlebihan Karena banyaknya pesan-pesan yang dikirim secara
tertulis, maka pegawai dibebani dengan memo-memo, bulletin, surat-surat
pengumuman, majalah, dan pernyataan kebijaksanaan sehingga banyak sekali
pesan-pesan yang harus dibaca oleh pegawai. Reaksi pegawai terhadap pesan
tersebut biasanya cenderung untuk tidak membacanya. Banyak karyawan hanya
membaca pesan-pesan tertentu yang dianggap penting bagi dirinya dan yang lain
diberikan saja tidak dibaca.
d. Timing atau ketepatan waktu pengiriman pesan mempengaruhi komunikasi ke
bawah. Pimpinan hendaklah mempertimbangkan saat yang tepat bagi pengiriman
pesan dan tampak yang potensial kepada tingkah laku [Link] seharusnya
dikirim kebawah pada saat saling menguntungkan kepada kedua belah pihak yaitu
pimpinan dan karyawan. Tetapi bila pesan yang dikirimkan tersebut tidak pada
saat dibutuhkan oleh karyawan maka mungkin akan mempengaruhi kepada
efektifitasnya.
e. Penyaringan Pesan-pesan yang dikirimkan kepada bawahan hendaklah semuanya
diterima mereka, tetapi mereka saring mana yang mereka perlukan. Penyaringan
pesan ini dapat disebabkan oleh bermacam-macam faktor diantaranya perbedaan
persepsi diantara pegawai, jumlah mata rantai dalam jaringan komunikasi dan
perasaan kurang percaya kepada pimpinan.
2. Indicator Pengendalian Mutu Asuhan Keperawatan
a. Keselamatan pasien (patien safety)
Pelayanan keperawatan dinilai bermutu jika pasien aman dari kejadian jatuh,ulkus
dekubitus, kesalahan pemberian obat dan cidera akibat restrain.
b. Keterbatasan perawatan diri.
Kebersihan dan perawatan diri merupakan kebutuhan dasar manusia yang
harusterpenuhi agar tidak timbul masalah lain sebagai akibat dari tidak
terpenuhinya kebutuhan tersebut, misal penyakit kulit, rasa tidak nyaman, infeksi
saluran kemih, dll. Pelayanan keperawatan bermutu jika pasien terpelihara
perawatan dirinya dan bebas dari penyakit yang disebabkan oleh higiene yang
buruk.
c. Kepuasan pasien
Salah satu indikator penting lainnya dari pelayanan keperawatan yang
bermutuadalah kepuasan [Link] tingkat kepuasan pasien terhadap
pelayanankeperawatan tercapai bila terpenuhinya kebutuhan pasien/keluarga
terhadappelayanan keperawatan yang diharapkan.
d. Kecemasan
Cemas adalah perasaan was-was, kuatir atau perasaan tidak nyaman yang
terjadikarena adanya sesuatu yang dirasakan sebagai ancaman. Kecemasan yang
masih ada setelah intervensi keperawatan, dapat menjadi indikator klinik.
e. Kenyamanan
Rasa nyaman (comfort) adalah bebas dari rasa nyeri atau nyeri terkontrol.
Pelayanan keperawatan dinilai bermutu jika pasien merasa nyaman dan bebasdari
rasa nyeri dan menyakitkan
f. Pengetahuan
Indikator mutu lain adalah pengetahuan dimana salah satunya
diimplementasikandalam program discharge [Link] planing adalah
suatu proses yang dipakai sebagai pengambilan keputusan dalam hal memenuhi
kebutuhan pasien dari suatu tempat perawatan ke tempat lainnya. Dalam
perencanaan kepulangan, pasien dapat dipindahkan kerumahnya sendiri atau
keluarga, fasilitas rehabilitasi, nursing home atau tempat tempat lain diluar rumah
sakit.
F. Langkah Supervisi Ruang Rawat
Langkah-langkah pada supervise keperawatan adalah sebagai berikut (Nursalam, 2014):
a. Pra Supervisi
1) Supervisor menetapkan kegiatan yang akan disupervisi.
2) Supervisor menetapkan tujuan dan kompetensi yang akan dinilai.
b. Pelaksanaan Supervisi
1) Supervisor menilai kinerja perawat berdasarkan alat ukur atau instrument yang
telah disiapkan.
2) Supervisor mendapat beberapa hal yang memerlukan pembinaan
3) Supervisor memanggil PP dan PA untuk mengadakan pembinaan dan klarifikasi
permasalahan.
c. Pasca Supervisi- 3F
1) Pelaksanaan supervisi dengan inspeksi, wawancara dan memvalidasi data
sekunder
Supervisor mengklarifikasi permasalahan yang ada
Supervisor melakukan tanya jawab dengan perawat
2) Supervisor memberikan penilaian supervisi (F-Fair)
Supervisor mengklarifikasi masalah yang ada
Supervisor melakukan tanya jawab dengan perawat
3) Supervisor memberikan feedback dan klarifikasi (sesuai hasil laporan supervisi)
4) Supervisor memberikan reinforcement dan follow up perbaikan.
G. Praktik Pengarahan Kepala Ruangan Sesuai Standar Akreditasi
1. Memberi pengarahan tentang penugasan kepada ketua TIM
2. Memberi pujian kepada anggota TIM yang melakukan tugas dengan baik
3. Memberi motifasi dalam peningkatan pengetahuan, ketrampilan dan sikap
4. Menginformasikan hal-hal yang dianggap penting dan berhubungan dengan ASKEP
pasien
5. Melibatkan bawahan sejak awal hingga akhir kegiatan
6. Membimbing bawahan yang mengalami kesulitan dalam melaksanakan tugasnya
7. Meningkatkan kolaborasi dengan anggota TIM lain
8. Mengembangkan sistem pengarahan formal dan informal
Daftar Pustaka
Cushway, B. dan Lodge , D. (1999) Organisational behavior and design, perilaku organisasi
dan desain organisasi, Jakarta : PT Elex Media Indonesia, Terjemahan
Dauglass ,L.A. (1984). The Effective Nurse Leader ang Manager, @ nd .ed. St. Louish : The
CV Mosby Company
Departemen Kesehatan RI (2002) Standar tenaga keperawatan di Rumah sakit, Jakarta,
Departemen Kesehatan RI
Sitorus, Ratna. (2006) Model Praktek Keperawatan Profesional, Edisi pertama, Jakarta , EGC
-------------------(2006) Model Praktek Keperawatan Profesional, Panduan Implementasi ,
Edisipertama, Jakarta , EGC
Swansberg,RC& Swansberg RJ ( 1999) Introductory manajemen and leadership for nurses:
an interactive text, Second edition., Boston : Jones and Bartlett Publishers.
Tappen GR (2001) Nursing Leadership and Management Consep and Practice , 4 th ed, FA
Davis, Philadelphia: WB Saunders.
Thoha. M (2008) Perilaku organisasi: Konsep dasar dan aplikasinya. Cetakan ke18 , Jakarta :
PT Raja Grafindo Persada
Gillies, D.A. (1994) Nursing management a system approach, Philadelphia : W.B Sounders
Company
Mariono, (2001). Materi kuliah ketenagaan, Fakultas Ilmu Keperawatan Universitas
Indonesia Jakarta
Dauglass (1992) , The Effective Nurse : Leader and manager, 4th, St Louish : Mosby years
Book.
Fik- UI dan RSUP CiptpMangunkusumo, (2000), Semiloka : Model Praktek Keperawatan
Profesional II, Jakarta 12 -14 Juli 2000.
Gillies, (1994) Nursing Management a System Approach, Philadelphia : WB Saunders
Kron and Gray, (1987), The Management of Patient Care : Putting Leadership Skill to Work,
6th, Philadelphia: WB Saunders.
Dexter, Akbar. 2012. Fungsi Pengarahan dalam
Management .[Link] /Fungsi-Pengarahan-Dalam-
Manajemen
Swamburg, Russel C. 2000. Pengantar kepemimpinan dan manajemen [Link] :
EGC [Link]
diakses tanggal 28 Oktober 2018