CORTEX
Disusun guna memenuhi tugas mata kuliah “Farmakognosi”
Dosen Pengampu : Tatiana Siska Wardani, M. Farm
DISUSUN OLEH:
1. FAIZATUL ISMA NIM. 190209011
2. ILHAM LA TANSA NIM. 190209013
3. KEZIA PUTRI MAHA DEWI NIM. 190209015
4. MUHAMMAD FAIZUR RASYID AL FAJRI NIM. 190209017
5. NIA ISA WULANDARI NIM. 190209019
6. OKTOVINA JULIANA MITIK NIM. 190209020
7. RIZKY NUR DIANA NIM. 190209024
PROGRAM STUDI SARJANA FARMASI
FAKULTAS ILMU KESEHATAN
UNIVERSITAS DUTA BANGSA
SURAKARTA
2020
KATA PENGANTAR
Assalamu’alaikum Wr. Wb.
Puji syukur marilah kita panjatkan atas kehadirat Tuhan yang Maha Esa
yang telah memberikan rahmat dan hidayahnya sehingga kami dapat
menyelesaikan tugas ini dengan baik. Pembuatan makalah ini dapat menjadi salah
satu wadah pembelajaran dalam menambah ilmu mata kuliah Farmasi Fisika.
Mudah-mudahan makalah yang telah kami buat ini bisa dengan
mudah dipahami oleh siapapun yang membacanya. Sebelumnya kami mohon
maaf bilamana terdapat kesalahan kata atau kalimat yang kurang berkenan.
Serta tak lupa kami juga berharap adanya masukan serta kritikan yang
membangun dari para pembaca demi terciptanya makalah yang lebih baik.
Wassalamu’alaikum Wr. Wb.
Surakarta, 17 Maret 2020
Penyusun
DAFTAR ISI
ii
KATA PENGANTAR....................................................................................ii
DAFTAR ISI...................................................................................................iii
BAB I PENDAHULUAN...............................................................................1
Latar Belakang......................................................................................1
Rumusan Masalah.................................................................................1
Tujuan...................................................................................................1
BAB II PEMBAHASAN.................................................................................2
Pengertian Cortex.................................................................................2
Macam-macam Simplisia Cortex..........................................................2
Alstoniae Cortex...................................................................................2
Alyxiae Cortex......................................................................................3
Burmani Cortex.....................................................................................3
Cinchonae Cortex.................................................................................5
Cinnamomi Cortex................................................................................6
Granati Pericarpium..............................................................................7
Litseae Cortex.......................................................................................8
Parameriae Cortex.................................................................................9
Symploci Cortex...................................................................................9
Syzygii Jambolani Cortex.....................................................................10
BAB III PENUTUP.........................................................................................11
DAFTAR PUSTAKA......................................................................................12
iii
BAB I
PENDAHULUAN
1.1 Latar belakang
Farmakognosi merupakan bagian, biokimia, dan kimia sintesis sehingga
ruang lingkupnya menjadi luas seperti yang didefenisikan sebagai fluduger,
yaitu penggunaan secara serentak sebagai cabang ilmu pengetahuan untuk
memperoleh segala segi yang perlu diketahui tentang obat.
Dalam kehidupan sehari-sehari, kita ketahui bahwa banyak masyarakat
didunia ini sudah kenal bahwa sebagian dari tanaman ini adalah obat. Sering
kita lihat bahwa sebagian dari masyarakat memanfaatkan tanaman sebagai
makanan, sedangkan pada bidang farmasi mengenal bahwa sebagaian tanaman
dapat dimanfaatkan sebagai obat-obatan.
Sejalan kemajuan teknologi, kita sebagai masyarakat indonesia khususnya
seorang farmasi harus semakin mengenal tentang jaringan-jaringan yang
terdapat dalam tanaman khususnya simplisia yang dapat dijadikansebagai
obat. Hal ini perlu kita ketahui agar pengetahuan kita semakin berkembang,
mengenai jaringan didalam didalam suatu simplisia khususnya pada cortex.
1.2 Rumusan Masalah
a. Apakah yang dimaksud dengan cortex?
b. Apa saja tanaman yang dapat dimanfaatkan sebagai simplisia cortex?
c. Apa saja manfaat dari simplisia cortex dalam farmasi?
1.3 Tujuan
a. Mengetahui pengertian cortex.
b. Mengetahui macam-macam simplisia cortex.
c. Mengetahui manfaat kulit tanaman untuk pengobatan.
1
BAB II
PEMBAHASAN
2.1 Pengertian
Cortex adalah kulit batang, merupakan bagian kulit yang digunakan sebagai
ramuan obat. Simplisia kulit batang umumnya diambil dari bagian kulit terluar
tanaman tingkat tinggi yang berkayu. Bagian yang sering digunakan sebagai
bahan ramuan meliputi kulit batang, cabang atau kulit akar sampai ke lapisan
epidermis.
Macam-macam simplisia cortex meliputi :
a. ALSTONIAE CORTEX
Nama lain : Kulit Pule
Nama Tanaman Asal : Alstonia scholaris (L) [Link]
Family : Apocynaceae
Zat Berkhasiat utama : Alkaloida ditamina, ekitamina, ekhitenina,
akhitamidina, alstonina
Kegunaan : Antipiretika, stomakika, antidiabetika,
anthelmintika
Pemerian : tidak berbau, rasa pahit yang tidak mudah hilang.
Bagian yang digunakan : kulit batang dan kulit cabang
Penyimpanan : dalam wadah tertutup baik
2
b. ALYXIAE CORTEX
Nama lain : Pulasari
Nama Tanaman Asal : Alyxia reinwardtii (BL) atau Alyxia stellata
(Aust).
Family : Apocynaceae
Zat Berkhasiat utama : Alkaloida, zat pahit, kumarin, tanin, minyak
atsiri, asam organik
Kegunaan : Aromatika, karminativa, antipiretika
Pemerian : Bau dan rasa mirip kumarin, agak pahit.
Bagian yang digunakan : kulit batang dan kulit cabang
Penyimpanan : dalam wadah tertutup baik
c. BURMANI CORTEX
Nama lain : Kulit Manis jangan, Kulit Kayu Manis Padang,
Keningar
Nama Tanaman Asal : Cinnamomum burmami (Blume)
Family : Lauraceae
3
Zat Berkhasiat utama : Minyak atsiri yang mengandung sinamil aldehid,
sinamil asetat, borneol, simen, tanin, damar, bornil
asetat.
Kegunaan : Diaforetika, karminativa, anti iritansia, aromatika
Pemerian : Bau khas, rasa manis
Bagian yang : kulit batang
digunakan
Penyimpanan : dalam wadah tertutup baik
Keterangan :
Cara panen :
1. Pohon ditebang sekaligus, tunggul tebangan diter bagian
atasnya.
2. Cara ditumbuk, yakni 2 bulan sebelum ditebang 5 cm dari
leher akar, seluruh kulit batang dikupas setinggi 80 – 100 cm.
Setelah 2 bulan baru ditebang maksudnya agar pengulitan
mudah dilakukan dan diharapkan tumbuh tunas baru yang
lebih sempurna pada permukaan tanah
3. Pohon dipukul-pukul dengan benda tajam 2 bulan sebelum
ditebang, dengan maksud untuk mendapat kulit yang tebal
pada waktu pemotongan, sebab pada bekas – bekas pukulan
akan menghasilkan pembengkakan kulit.
4. Sistem Vietnam (sistem panen tanpa tebang), yaitu memotong
sebagian kulit batang secara berselang- seling dengan ukuran
panjang 30 cm, lebar 10 cm. Setelah kulit batang bertaut
kembali sehabis panen pertama, lalu dilakukan panen kedua
dan seterusnya.
Jenis – jenis : Dalam perdagangan dikenal sebagai Cassia vera.
Ada 2 varietas :
1. Berdaun muda, berwarna merah pekat, banyak ditanam di Sumatera Barat dan
Kerinci
2. Berdaun hijau ungu.
Perbedaan : Kayu manis pucuk merah mempunyai kualitas lebih baik,
tetapi produksinya lebih rendah dari pada yang berpucuk hijau.
d. CINCHONAE CORTEX
4
Nama lain : Kulit Kina, Peruvian Bark, Jesuit Bark
Nama Tanaman Asal : Chinchona succirubra
Family : Rubiaceae
Zat Berkhasiat utama : Alkaloida kinina, sinkonina, sinkodina, kina tanat,
kinidin, asam tanat, asam kina, damar.
Persyaratan Kadar : Kadar kinin tidak kurang dari 8,0 %
Kegunaan : Antipiretika, antimalaria, amara, cardiaka.
Pemerian : Bau khas terutama dari kulit dahan, pada
penyimpanan lama bau menghilang, rasa pahit dan
kelat.
Bagian yang : kulit batang, kulit dahan dan kulit akar
digunakan
Penyimpanan : dalam wadah tertutup baik
Keterangan :
Sediaan : Cinchonae extractum
Perbedaan :
Cinchona succirubra berisi 9% alkaloida.
Cinchona ledgeriana berisi 6–10% alkaloida.
Cinchona calisaya berisi 6–8% alkaloida
Untuk memperoleh banyak kulit ditanam Cinchona succirubra
Untuk mendapat banyak alkaloida ditanam Cinchona ledgeriana
Untuk cepat-cepat mendapat banyak alkaloida ditanam Cinchona ledgeriana
diatas Cinchona succirubra secara okulasi.
5
Cara panen:
1. Dicabut (cara Indonesia) pohon-pohon yang jaraknya 60 cm –
100 cm satu sama lain, dicabut seluruhnya dan diambil kulit
batang dan kulit akarnya, setelah 6-7 tahun, pada daerah tadi
dilakukan pencabutan lagi.
2. Dipangkas : pohon-pohon yang berumur 7 tahun dipangkas
batangnya beberapa cm di atas tanah, dari pangkal batang nanti
tumbuh sejumlah cabang baru yang nanti juga dipungut.
3. Dikikis : Kulit batang dikikis tanpa mengenai kulit kayunya
4. Dilumutkan : Menurut penelitian ternyata kulit kina yang
banyak terkena sinar matahari alkaloidnya lebih rendah dari
kulit kina yang ditempat teduh. Jika kulit kina tersebut ditutupi
dengan lumut, maka kadar alkaloidnya akan naik luar biasa.
Setelah kulit kina ini di panen, bekasnya ditutupi lumut kembali,
maka timbul kulit kulit kina baru yang juga tinggi kadar
alkaloidnya. Pengambilan kulit dilakukan sedikit demi sedikit
sampai seluruh kulit lama terambil.
e. CINNAMOMI CORTEX
Nama lain : Kulit Kayu Manis, Ceylon Cinnamon
Nama Tanaman Asal : Cinnamomum zeylanicum (BI)
Family : Lauraceae
Zat Berkhasiat utama : Minyak atsiri yang mengandung eugenol
sinamilaldehida, tanin.
Kegunaan : Karminativa, dicampur dengan adstringensia
lainnya untuk obat daire
6
Pemerian : Bau aromatik, rasa pedas dan manis.
Bagian yang digunakan : kulit bagian dalam yang diperoleh dari anak
batang yang telah dipangkas.
Penyimpanan : dalam wadah tertutup baik
Keterangan :
Cara panen :
Tanaman yang berumur 2-3 tahun dipotong beberapa cm diatas tanah. Tunas-
tunas baru dipilih 5-6 buah dan dibiarkan tumbuh untuk dipotong lagi setelah
mencapai tinggi 2-3 meter. Panen dilakukan pada musim hujan, batang-
batang dikulit arah memanjang menjadi 2 bagian atau lebih. Diberkas dan
didiamkan beberapa lama supaya terjadi fermentasi yang nanti mempermudah
pengikisan epidermis dan jaringan hijau dibawah epidermis.
f. GRANATI PERICARPIUM
Nama lain : Kulit Buah Delima, Granati fructus cortex
Nama Tanaman Asal : Punica granatum (L)
Family : Punicaceae
Zat Berkhasiat utama : Tanin sampai ± 20% alkaloida yang terdiri dari
peletrina, metil-peletrina, psudo-peletrina, metil
iso-peletrina, iso-peletrina.
Kegunaan : Adstringensia usus, anthelmintika.
Pemerian : Tidak berbau, rasa sangat sepat, lama-lama
menimbulkan rasa tebal di lidah.
7
Bagian yang digunakan : kulit buah yang masak
Penyimpanan : dalam wadah tertutup baik
g. LITSEAE CORTEX
Nama lain : Kulit Krangean, Krangean
Nama Tanaman Asal : Litsea cubeba (Lour) Pers.
Family : Lauraceae
Zat Berkhasiat utama : Minyak atsiri mengandung sitral, limonen,
sapinen, metilheptanon, sitronelal, tanin galat,
ellagat.
Kegunaan : Karminativa, spasmolitika, stomakika.
Pemerian : Bau khas aromatik, rasa agak pedas, dan agak
pahit.
Bagian yang digunakan : kulit batang
Penyimpanan : dalam wadah tertutup baik
h. PARAMERIAE CORTEX
8
Nama lain : Kulit Kayu Rapat, Pegatsih
Nama Tanaman Asal : Parameria levigata (Juss) Moldenke, Parameria
barbata.
Family : Apocynaceae
Zat Berkhasiat utama : Tanin.
Kegunaan : Astringensia
Pemerian : Bau lemah, rasa agak kelat dan agak pahit.
Bagian yang digunakan : kulit batang dan kulit cabang.
Penyimpanan : dalam wadah tertutup baik
i. SYMPLOCI CORTEX
Nama lain : Kulit Sariawan
Nama Tanaman Asal : Simplocos odoratissima (BL, choisy)
Family : Simplocaceae
Zat Berkhasiat utama : Glukosida symplokosin, metil salisilat,
alumunium sulfat.
Kegunaan : Antisariawan.
Pemerian : Bau agak wangi, tidak berasa.
9
Bagian yang digunakan : kulit dahan
Penyimpanan : dalam wadah tertutup baik
j. SYZYGII JAMBOLANI CORTEX
Nama lain : Kulit Jamblang
Nama Tanaman Asal : Syzygium jambolanum (Lamk); Eugenia cumini
(L) Skells.
Family : Myrtaceae
Zat Berkhasiat utama : Tanin, asam galat, jambulol, jambolisin.
Kegunaan : Astringensia, obat diabetes, emenagoga.
Pemerian : Bau lemah, rasa pahit dan kelat.
Bagian yang digunakan : kulit dahan
Penyimpanan : dalam wadah tertutup baik
BAB III
PENUTUP
10
3.1 Kesimpulan
Simplisia cortex yaitu kulit batang yang dikeringkan yang digunakan
sebagai ramuan obat. Simplisia kulit batang umumnya diambil dari bagian
kulit terluar tanaman tingkat tinggi yang berkayu. Bagian yang sering
digunakan sebagai bahan ramuan meliputi kulit batang, cabang atau kulit akar
sampai ke lapisan epidermis.
DAFTAR PUSTAKA
11
Agil, Mangestuti. "SIMPLISIA DENGAN KANDUNGAN MINYAK ATSIRI.
" Buku Ajar Farmakognosi-Jilid 1 (2020): 59.
Depkes RI. 1979. Farmakope Indonesia Edisi III. Jakarta
Depkes RI. 1995. Farmakope Indonesia Edisi IV. Jakarta
Depkes RI. Materia Medika Indonesia jilid I-VI. Jakarta
Farmakope Edisi III Departemen Kesehatan RI tahun 1995
Farmakope Edisi IV Departemen Kesehatan RI
Inventaris Tanaman Obat Indonesia Depkes & Kesejahteraan Sosial RI Badan
Penelitian dan Pengembangan Kesehatan Tahun 2000
Lestari, Titi. dkk. 2016. Farmakognosi jilid 1. Jakarta: Pilar Utama Mandiri
Lestari, Titi. dkk. 2016. Farmakognosi jilid 2. Jakarta: Pilar Utama Mandiri
Pusat Penelitian Obat Tradisional, Unika Widya Mandala, 2011
Rahman, Abdul. "SIMPLISIA KARBOHIDRAT DAN GLIKOSIDA." Buku Ajar
Farmakognosi-Jilid 1 (2020): 29.
Ricke, Suhartono. dkk. 2014. Farmakognosi X. Jakarta: Pilar Media
Ricke, Suhartono. dkk. 2014. Farmakognosi XI. Jakarta: Pilar Media
Ricke, Suhartono. dkk. 2014. Farmakognosi XII. Jakarta: Pilar Media
Syamsuni, A. 2006. Ilmu Resep. Jakarta: EGC
Tanaman Obat Indonesia jilid I, Departemen Kesehatan Republik Indonesia, 1985
12