0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
35 tayangan26 halaman

Sistem Penyediaan Air Bersih PDAB

Makalah ini membahas tentang sistem penyediaan dan distribusi air bersih dari sumber hingga konsumen. Terdiri dari empat bagian utama yaitu unit air baku, unit produksi, unit distribusi, dan unit pelayanan. Mendiskusikan kualitas air baku, ruang lingkup sistem, elemen dasar sistem, model sistem, dan perangkat keras dan lunak yang digunakan.

Diunggah oleh

Ahmad Hilmi
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd
0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
35 tayangan26 halaman

Sistem Penyediaan Air Bersih PDAB

Makalah ini membahas tentang sistem penyediaan dan distribusi air bersih dari sumber hingga konsumen. Terdiri dari empat bagian utama yaitu unit air baku, unit produksi, unit distribusi, dan unit pelayanan. Mendiskusikan kualitas air baku, ruang lingkup sistem, elemen dasar sistem, model sistem, dan perangkat keras dan lunak yang digunakan.

Diunggah oleh

Ahmad Hilmi
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd

MAKALAH

Sistem Penyediaan dan Distribusi Air Bersih Air Sungai

disusun untuk memenuhi tugas mata kuliah Otomasi Gedung


Komersial II

Disusun oleh:
Ahmad Hilmi
(171364001)

PROGRAM STUDI D-IV TEKNIK OTOMASI INDUSTRI


JURUSAN TEKNIK ELEKTRO
POLITEKNIK NEGERI BANDUNG
TAHUN 2020
DAFTAR ISI

Halaman Judul

Daftar isi....................................................................................................................1

1. Pengertian Sistem Penyediaan dan Distribusi Air Bersih Bangunan....................3

2. Ruang Lingkup Sistem..........................................................................................3

3. Elemen dasar dan Jariangan Sistem......................................................................8

4. Model-model sistem ...........................................................................................13

5. Mekanisme utilitas sistem...................................................................................17

6. Posisi Utilitas Sistem pada Bangunan.................................................................19

7. Hardware.............................................................................................................19

8. Software..............................................................................................................21

9. HMI.....................................................................................................................25

DAFTAR PUSTAKA.............................................................................................27
1. Pengertian Sistem Penyediaan dan Distribusi Air Bersih Bangunan
Sistem distribusi air bersih adalah pendistribusian atau pembagian air
melalui sistem perpipaan dari bangunan pengolahan (reservoir) ke daerah
pelayanan (konsumen). Dalam perencanaan sistem distribusi air bersih,
beberapa faktor yang harus diperhatikan antara lain daerah layanan dan jumlah
penduduk yang akan dilayani, kebutuhan air, letak topografi daerah layanan,
jenis sambungan sistem, pipa distribusi, tipe pengaliran, pola jaringan,
perlengkapan sistem distribusi air bersih, dekteksi kebocoran.
Sistem penyediaan air bersih harus dapat menyediakan jumlah air yang
cukup untuk kebutuhan yang diperlukan. Peraturan Pemerintah No. 16 Tahun
2005 tentang sistem pengembangan air minum menyebutkan bahwa sistem
penyediaan air minum menyebutkan bahwa sistem penyediaan air minum
terdiri dari:
[Link] Air Baku
[Link] Produksi
[Link] Distribusi
[Link] Pelayanan

Dalam sistemnya penyediaan air bersih harus mampu menyediakan


jumlah air yang cukup untuk kebutuhan yang diperlukan. Unsur-unsur sistem
terdiri dari sumber air, fasiilitas penyimpanan, fasilitas transmisi ke unit
pengolahan, fasilitas pengolahan, fasilitas transmisi dan penyimpanan dan
fasilitas distribusi.

Pressure Tank merupakan tangki yang bisa menyimpan air bertekanan


untuk sementara. Tangki ini di lengkapi dengan membran (diaphragm) yang
akan memisahkan air dan udara. Fungsi utama yaitu Menghemat listrik
(pemakaian listrik) pada pompa, tekanan air pada system perpipaan, Sebagai
bantalan udara, sehingga pompa bisa off (mati) secara halus (soft), tidak terjadi
lonjakan, dan Untuk mengurangi efek palu air (water hammering), saat kran
air di matikan tiba tiba atau saat pompa mati tiba tiba.
2. Ruang lingkup Sistem PDAB
Langkah awal dalam suatu perencanaan penyediaan air bersih adalah
memperkirakan jumlah kebutuhan air. Sulit untuk mendapatkan angka yang
pasti jumlah pemakaian air suatu daerah, karena banyak faktor yang
mempengaruhinya. Pendekatan yang dapat dilakukan adalah menghitung rata-
rata pemakaian setiap orang perhari, memperkirakan jumlah penduduk pada
jangka waktu tertentu dan umur rencana konstruksi.
Data masa lalu tentang suatu daerah merupakan petunjuk yang baik
dalam pemilihan suatu angka tentang penggunaan air perkapita bagi tujuan-
tujuan perencanaan. Disamping itu data-data mengenai jumlah penduduk
sangat membantu memperkirakan jumlah penduduk pada jangka waktu
tertentu.
2.1 Kualitas Air Baku
Departemen Kesehatan Republik Indonesia telah mengeluarkan
standar kualitas air baku sesuai dengan Peraturan Menteri Kesehatan
Nomor 173/MenKes/Per/VII tanggal 3 Agustus 1977. Standar kualitas air
baku dibedakan menjadi:
1. Golongan A, yaitu air yang dapat digunakan sebagai air secara langsung
tanpa pengolahan terlebih dahulu.
2. Golongan B, yaitu air yang dapat digunakan sebagai air baku untuk
diolah sebagai air minum dan keperluan rumah tangga.
3. Golongan C, yaitu air yang dapat digunakan untuk keperluan perikanan
dan peternakan.
4. Golongan D, yaitu air yang dapat dipergunakan untuk keprluan
pertanian dan dapat dipergunakan untuk usaha perkotaan, industri dan
listrik tenaga air.
Kualitas atau mutu air yang mengalir dalam suatu jaringan pipa
distribusi air sangat penting, tujuan utama dari perencanaan jaringan
distribusi air bersih yaitu agar para konsumen pengguna distribusi air
bersih terhindar dari berbagai macam penyakit. Perjalanan air langsung
berhubungan dengan dinding pipa yang mempengaruhi kebersihan air.
Persyaratan kualitas menggambarkan mutu atau kualitas dari air baku air
bersih. Persyaratan ini meliputi persyaratan fisik, persyaratan kimia,
persyaratan biologis dan persyaratan radiologis. Syarat – syarat tersebut
berdasarkan Permenkes No.416/Menkes/PER/IX/1990 dinyatakan bahwa
persyaratan kualitas air bersih adalah sebagai berikut :
1. Syarat – syarat fisik
Secara fisik air bersih harus jernih, tidak berbau dan tidak berasa.
Selain itu juga suhu air bersih sebaiknya sama dengan suhu udara atau
kurang lebih 25˚ c, dan apabila terjadi perbedaan maka batas yang
diperbolehan adalah 25˚ c ± 3˚ c.
a. Bau
Air yang berbau selain tidak estetis juga tidak akan disukai oleh
masyarakat. Bau air dapat memberi petunjuk akan kualitas air.
b. Rasa
Air yang bersih biasanya tidak memberi rasa/tawar. Air yang tidak
tawar dapat menunjukkan kehadiran berbagai zat yang dapat
membahayakan kesehatan.
c. Warna
Air sebaiknya tidak berwarna untuk alasan estetis dan untuk
mencegah keracunan dari berbagai zat kimia maupun
mikroorganisme yang berwarna. Warna dapat disebabkan adanya
tannin dan asam humat yang terdapat secara alamiah di air rawa,
berwarna kuning muda, menyerupai urin, oleh karenanya orang
tidak mau menggunakannya. Selain itu, zat organik ini bila terkena
khlor dapat membentuk senyawa – senyawa khloroform yang
beracun. Warna pun dapat berasal dari buangan industri.
d. Kekeruhan
Kekeruhan air disebabkan oleh zat padat yang tersuspensi, baik
yang bersifat anorganik maupun maupun yang organik. Zat
organik, biasanya berasal dari lapukan batuan dan logam,
sedangkan yang organik dapat berasal dari lapukan tanaman atau
hewan. Buangan industri dapat juga merupakan sumber kekeruhan.
e. Suhu
Suhu air sebaiknya sejuk atau tidak panas terutama agar tidak
terjadi pelarutan zat kimia yang ada pada saluran/pipa yang dapat
membahayakan kesehatan, menghambat reaksi – reaksi biokimia di
dalam saluran/pipa, mikroorganisme patogen tidak mudah
berkembangbiak dan bila diminum air dapat menghilangkan
dahaga.
f. Jumlah Zat Padat Terlarut
Jumlah Zat Padat Terlarut (TDS) biasanya terdiri atas zat organik,
garam anorganik, dan gas terlarut. Bila TDS bertambah maka
keadaan akan naik pula. Selanjutnya, efek TDS ataupun kesadahan
terhadap kesehatan tergantung pada spesies kimia penyebab
masalah tersebut.
2. Syarat – syarat kimia
Dari segi parameter kimia, air yang baik adalah air yang tidak
tercemar secara berlebihan oleh zat – zat kimia yang berbahaya bagi
kesehatan antara lain air raksa (Hg), Alumunium (Al), Arsen (As),
barium (Ba), besi (Fe), flourida (F), tembaga (Cu), derajat keasaman
(pH), dan zat kimia lainnya.
Kandungan zat kimia dalam air bersih yang digunakan sehari –
hari hendaknya tidak melebihi kadar maksimum yang diperbolehkan
seperti tercantum dalam Peraturan Menteri Kesehatan RI Nomor
416/Menkes/Per/IX/1990.
3. Syarat – syarat Mikrobiologis
Pada umumnya sumber – sumber air yang terdapat di alam bumi
ini mengandung bakteri. Jumlah dan jenis bakteri bermacam – macam
dan berbeda – beda sesuai dengan tempat dan kondisi yang
mempengaruhinya. Oleh karena itu, air yang digunakan untuk
keperluan sehari – hari haruslah 18 bebas dari bakteri patogen. Bakteri
golongan coli tidak merupakan bakteri golongan patogen, namun
bakteri ini merupakan indikator dari pencemaran air oleh bakteri
patogen.
4. Syarat – syarat Radioktivitas
Apapun bentuk radioaktivitas efeknya adalah sama dilihat dari
segi paramteternya, yakni dapat menimbulkan kerusakan pada sel – sel
yang terpapar. Kerusakan dapat berupa kematian, dan juga perubahan
komposisi genetik. Kematian sel dapat diganti kembali apabila sel
dapat beregenerasi dan apabila tidak seluruh sel mati. Perubahan
genetis dapat menimbulkan berbagai penyakit seperti kanker dan
mutasi.
5. Syarat – syarat Bakteriologis
Air minum tidak bolah mengandung bakteri-bakteri penyakit dan
juga tidak boleh mengandung banteri-bakteri golongan coli yang telah
melebihi batas tertentu yaitu 1 coliper 100 ml air. Bakteri golongan ini
berasal dari usus besar dan tanah. Bakteri patogen yang mugkin
terdapat didalam air. Misalnya :
a. Bakteri Typosium

b. Vibrio Colerae

c. Bakteri Dysentriae

d. Entamoeba Hystolotica

e. Bakteri Enteristis (prnyakit perut)

Persyaratan air bersih secara rinci tertuang dalam Kuputusan


Mentri Kesehatan Republik Indonesia Nomor 907/MENKES/VII/2002
tentang syarat-syarat dan pengawasan kualitas air minum.
2.2 Kuantitas
Secara umum penyediaan air bersih berasal dari sumber air
permukaan atau air dalam tanah. Untuk wilayah kelurahan pipa reja,
sumber penyediaan air yang dikelola oleh PDAM berasal dari air
sungai. Karena tujuan utama dari perencanaan jaringan adalah agar
kebutuhan masyarakat akan tersedianya air bersih dapat terlayani
dangan baik. Untuk hal-hal yang dapat mengurangi jumlah air yang
didistribusikan antara lain disebabkan oleh banyaknya sambungan pipa
dan panjangnya jalur pipa sedapat mungkin dihindarkan.
Persyaratan kuantitas dalam penyediaan air bersih dapat ditinjau
dari banyaknya air baku yang tersedia. Artinya air baku tersebut dapat
digunakan untuk memenuhi kebutuhan sesuai dengan kebutuhan
daerah dan jumlah penduduk yang akan dilayani.
Persyaratan kuantitas juga bisa ditinjau dari standar debit air
bersih yang dialirkan ke konsumen sesuai dengan jumlah kebutuhan
air bersih. Dan kuantitas adalah syarat yang terpenting dalam melayani
konsumen agar kebutuhannya sehari – hari berjalan sesuai dengan
kemampuan konsumen masing – masing.
2.3 Kontinuitas
Dalam penyediaan air bersih tidak hanya berhubungan dengan
kualitas dan kuantitas air saja, tetapi dari segi kontinuitas juga harus
mendukung. Kontinuitas adalah di mana air harus bisa tersedia secara
terus-menerus meskipun dimusim kemarau selama umur rencana.
Karena tujuan utama dari perencanaan jaringan distribusi air adalah
agar kebutuhan masyarakat akan terpenuhi secara terus-menerus
walaupun musim kemarau. Salah satu cara menjaga agar kontinuitas
air tetap tersedia adalah dengan membuat tempat penampungan air
(reservoar) untuk menyimpan air sebagai persediaan air musim
kemarau.
Persyaratan kontinuitas juga sangat penting untuk menghitung
aliran kelanjutan pemakaian air baku untuk air bersih secara terus –
menerus setiap harinya. Kontinuitas aliran dapat ditinjau dari dua
aspek yaitu aspek kebutuhan konsumen dan aspek reservoir pelayanan
air. Aspek kebutuhan konsumen, sebagian besar konsumen
memerlukan air untuk kehidupan dan pekerjaannya dalam jumlah yang
tidak dapat ditentukan. Karena itu diperlukan aspek ini pada waktu
yang tidak ditentukan. Dan aspek pelayanan reservoir diperlukan
karena fasilitas energi reservoir yang siap setiap saat.

3. Elemen Dasar dan Jaringan Sistem PDAB


Sistem distribusi air bersih perpipaan pada umumnya mencakup beberapa
komponen, yaitu reservoir dan jaringan perpipaan. Reservoir mempunyai
fungsi penting bagi sistem penyediaan air bersih di suatu daerah. Perbedaan
kapasitas pada jaringan transmisi jaringan yang menggunakan kebutuhan
maksimum per hari dengan kebutuhan pada jam puncak untuk sistem
distribusi, menyebabkan dibutuhkannya reservoir. Saat pemakaian air berada
di bawah rata-rata, reservoir akan menampung kelebihan air untuk digunakan
saat pemakaian maksimum.
Fungsi dari reservoir antara lain adalah untuk menampung air bersih
yang siap didistribusikan, meratakan debit air dalam sistem jaringan distribusi
serta mengatur tekanan air dalam jaringan distribusi. Berdasarkan lokasinya
reservoir dibedakan menjadi dua jenis, yaitu:
1. Elevated Reservoir
Reservoir yang menyimpan atau menampung air yang terletak diatas tanah.

2. Ground Reservoir
Reservoir yang menyimpan atau menampung air yang terletak dibawah
tanah.

Jaringan perpipaan merupakan penghubung antara node. Penghubung


antar pipa tersebut biasanya berupa tee yang tergolong sebagai aksesoris pipa.
Aksesoris pada jaringan perpipaan memengaruhi kehilangan air. Fungsi dari
jaringan perpipaan adalah untuk mengalirkan air dari penyedia distribusi
menuju konsumen. Jaringan perpipaan terdiri dari beberpa komponen,
meliputi:

1. Pipa utama/ primer

Pipa utama merupakan pipa distribusi yang menghubungkan blok-blok


pelayanan dalam area yang dilayani, dimulai dari reservoir ke seluruh
jaringan. Pipa ini tidak dapat dipakai untuk melayani penyadapan (tapping)
ke konsumen. Jenis pipa yang digunakan harus mempunyai ketahanan
tinggi terhadap tekanan.

2. Pipa distribusi/ sekunder

Pipa distribusi dipakai untuk menyadap air langsung dari pipa utama untuk
mengalirkan ke suato blok pelayanan. Jenis pipa yang digunakan sebaiknya
memiliki kualitas yang relatif sama dengan pipa utama. Pipa distribusi
terhubung secara langsung dengan pipa servis dan diameternya dapat
ditentukan berdasarkan banyaknya pipa servis yang terhubung dengan pipa
distribusi tersebut.

3. Pipa servis/ tersier

Pipa servis adalah pipa yang melayani dan terhubung secara langsung
dengan konsumen. Pipa ini berhubungan dengan pipa distribusi dan
mengalirkan air ke konsumen dengan diameter tertentu sesuai dengan
pemakaian konsumen.

4. Fitting dan aksesoris

Fitting dapar berupa tee dan bend yang menghubungkan satu pipa ke pipa
lain sedangkan aksesoris yang umumnya digunakan adalah valve, enlarger
dan reducer.

5. Water meter

Water meter berfungsi untuk memonitor penggunaan air.

6. Keran kebakaran/ hidran

Keran kebakaran digunakan sebagai titik pengambilan air pada saat


kebakaran dan juga dapat berfungsi sebagai ventilasi (air valve).

7. Pompa Transfer, berfungsi untuk memompa air bersih dari ground water
tank ke roof tank melalui pipa transfer. Beberapa jenis pompa transfer yang
sering dipakai, antara lain :
o End Suction Pump
o Horizontal Split Case Pump
o Multi Stage Pump
o Centrifugal Pump

8. Pressure Tank, berfungsi untuk meringankan kerja pompa dari keadaan


start-stop yang terlalu sering. Beberapa jenis pressure tank yang sering
dipakai, antara lain :

a. Diaphragma Pressure Tank

b. Non Diaphragma Pressure Tank atau Well Pressure Tank

9. Peralatan pengaturan dan ukur, meliputi :

a. Check Valve, penahan aliran balik air didalam instalasi pipa.

b. Gate Valve, pengatur buka-tutup aliran air didalam pipa.

c. Ball Valve, pengatur jumlah aliran air didalam pipa.

d. Butterfly Valve, pengatur buka-tutup aliran air di dalam pipa.

e. Floating Valve, klep pengatur buka-tutup aliran air ke tanki.

f. Foot Valve, penahan air balik di bawah pipa isap.

g. Strainer, berfungsi sebagai filter air.

h. Flexible Joint, penahan getaran dan gerakan.

i. Pressure Gauge, pengukur tekanan.

j. Pressure Switch, alat kontak hubung-putus akibat tekanan.

k. Flow Switch, alat kontak hubung-putus akibat aliran.

l. Water Meter, pengukur debit air.


3.1 Sistem Jaringan dan Pemipaan

Jaringan distribusi adalah rangkaian pipa yang berhubungan dan


digunakan untuk mengalirkan air ke konsumen. Tata letak distribusi
ditentukan oleh kondisi topografi daerah layanan dan lokasi pengolahan
biasanya diklasifikasikan sebagai berikut :

1. Sistem Cabang (branch)

Sistem ini adalah sistem jaringan perpipaan dimana pengaliran air


hanya menuju kesatu arah dan pada setiap ujung akhir daerah pelayanan
terdapat titik mati.

Sistem ini biasanya digunakan pada daerah dengan sifat-sifat berikut:

- Perkembangan kota kearah memanjang.

- Sarana jaringan jalan induk saling berhubungan.

- Keadaan topogrfi dengan kemiringan medan yang menuju kesatu


arah.

Keuntungan sistem cabang:


- Sistem lebih sederhana sehingga perhitungan dimensi pipa lebih
mudah.
- Pemasangan lebih mudah dan sederhana.
- Peralatan lebih sedikit.
- Perpiaan lebih ekonomis karena menggunakan pipa lebih sedikit
(pipa distribusi hanya dipasang didaerah yang padat penduduk).
Kerugian sistem cabang:
- Kemungkinan terjadinya penimbunan kotoran dan pengendapan di
ujung pipa tidak dapat dihindari, sehingga diperlukan pembersihan
yang intensial untuk mencegah timbulnya bau dan perubahan rasa.
- Bila terjadi kerusakan, pengaliran air dibawahnya akan berhenti.
- Kemungkinan tekanan air yang diperlukan tidak cukup bila ada
sambugan baru.
- Keseimbangan sistem pengaliran kurang terjamin, terutama
terjadinya tekanan kiritis pada bagian pipa terjauh.
- Suplay air akan terganggu apabila terjadi kebakaran atau kerusakan
pada salah satu bagian sistem.

2. Sistem Melingkar (Loop)


Sistem Melingkar adalah sistem jaringan perpipaan dimana
didalam sistem ini jaringan pipa induk distribusi saling berhubungan
satu dengan yang lain membentuk loop-loop, sehingga pada pipa induk
tidak ada titik msti (dead end).
Pada sistem melingkar biasanya digunakan pada:
- Daerah yang mempunyai jaringan jalan yang berhubungan.
- Daerah yang perkembangannya kesegala arah.
- Daerah dengan topografi ang relatif datar.
Keuntungan pada sistem melingkar adalah:
- Alirannya tersirkulasi secara bebas, sehingga genangan atau
endapan dapat dihindari.

- Keseimbangan aliran mudah dicapai.

Kerugian pada sistem melingkar adalah:


- Pipa yang digunakan relatif lebih banyak.

- Jaringan perpipaan lebih rumit.

- Perengkapan yang digunakan akan lebih banyak.

Umumnya yang tersedia pada sistem jaringan distribusi air bersih


adalah:
1. Pipa primer atau pipa induk
Pipa primer adalah pipa yang berfungsi membawa air dari instalasi
pengolahan atau reservoir distribusi, dimana mempunyai diameter
yang relatif besar.
2. Pipa Sekunder
Pipa sekuder adalah pipa yang disambungkan pada pipa primer,
dimana mempunyai diameter yang kurang dari atau sama dengan
pipa primer
3. Pipa tersier
Pipa tersier adalah pipa yang gunanya menghubungkan langsung
dari pipa sekunder atau primer untuk melayani pipa service ke induk
sangat tidak menguntungkan, disamping dapat mengganggu lalu
lintas kendaraan.
4. Pipa Service
Pipa sevice adalah pipa yang berfungsi untuk menghubungkan
kepada pipa pengguna, pipa disambungkan langsung pada pipa
sekunder atau tersier, yang mempunyai diameter relatif lebih kecil.

4. Model-model Sistem PDAB

Sistem penyediaan air bersih dalam suatu bangunan gedung terdiri


dari 3 (tiga) Sistem, yaitu :

1) Sistem sambungan langsung

2) Sistem tangki tekan

3) Sistem tangki atap


1. Sistem sambungan langsung

2. Sistem tangki tekan


3. Sistem tangki atap

5. Mekanisme Operasi Sistem


PDAB

5.1 Sistem sambungan langsung

Sistem sambungan
langsung adalah sistem dimana, pipa distribusi
kebangunan langsung dengan pipa cabang dari
sistem penyediaan air minum secara
kolektif (daiam hal ini pipa cabang
distribusi PDAM).

Karena
terbatasnya
tekanan air di pipa distribusi PDAM, maka sistem ini hanya bisa untuk
bangunan kecil atau bangunan rumah sampai dengan 2 (dua) lantai.

Pada umumnya sumber air yang digunakan pada sistem, ini adalah, air
yang berasal dan pipa cabang sistem penyediaan air minum secara kolektif
(dalam hal ini pipa cabang distribusi PDAM).

5.2 Sistem tangki tekan

Biasanya sistem ini digunakan bila air yang akan masuk kedalam
bangunan, pengalirannya menggunakan pompa.

Prinsip kerja sistem ini dapat dijelaskan sebagai berikut: Air dari
PDAM atauyang telah ditampung dalam tangki bawah dipompakan ke
dalam suatu bejana (tangki) tertutup, sehingga air yang ada didalam tangki
tertutup tersebut dalam keadaan terkompresi. Air dan tangki tertutup
tersebut dialirkan ke dalam sistem distribusi bangunan.

Pompa bekerja secara otomatis yang diatur oleh suatu detektor


tekanan, yang menutup/membuka saklar motor listlik penggerak pompa.
Pompa berhenti bekeria kalau tekanan dalam tangki telah mencapai suatu
batas maksimum yang ditetapkan, dan bekerja kembali setelah tekanan
dalam tangki mencapai suatu batas minimum yang ditetapkan. Daerah
fluktuasi tekanan biasanya ditetapkan antard 1,00 kg/cm2 sampai 1,50
kg/cm2

Pada umumnya sumber air yang digunakan pada sistem ini adalah, air
yang berasal dari reservoir bawah (yang sumbernya bisa dari PDAM atau
dari sumur atau dan PDAM dan sumur) atau langsung dari sumur (air
tanah).

5.3 Sistem tangki atap

Apabila sistem sambungan langsung oleh berbagai hal tidak dapat


diterapkan, maka dapat diterapkan sistem tangki atap.
Dalain sistem ini, air ditampung leriebih dahulu pada tangki bawah,
laludipompakan ke tangki atas. Tangki atas dapat berupa tangki yang di
simpan di atas atap atau dibangunan yang tertinggi, dan bisa juga berupa
menara air.

Pada umumnya sumber air yang digunakan pada sistem ini adalah air
yang berasal dari reservoir bawah (yang sumbernya bisa dari PDANI atau
dari sumur atau dari PDAM dan sumur) atau langsung dari sumur (air
tanah).

Untuk lebih jelasnya sistem ini dapat dilihat pada Gambar 4, dan
Gambar 5. Agar supaya system penyediaan air minum di dalam bangunan
gedung (plumbing air minum) dapat berfungsi secara optimal, maka perlu
memenuhi beberapa persyaratan diantaranya adalah :

a) Syarat kualiitas

b) Syarat kuantitas

c) Syarat tekanan

6. Posisi Utilitas (PDAB) dalam Sistem Otomasi Bangunan

HMI SERVER MASTER

SLAVE
7. Perangkat Keras Kendali Utilitas Dalam Jaringan Otomasi Bangunan
7.1 Perangkat Keras Kendali Sistem PDAB
Software yang digunakan adalah Epanet, dalam perangkat lunak ini
terintegrasi dengan komponen-komponen lainnya atau perangkat keras.
Epanet memodelkan sebuah sistem distribusi air berupa serangkaian jalur-
jalur yang dihubungkan dengan titik-titik. Sebuah jalur bisa mewakili pipa,
pompa, dan katup. Sedangkan titik mewakili junction (persimpangan),
tank (bak penampung) dan reservoir.
- Junctions adalah titik – titik yang merupakan tempat penyambungan
antar links (pipa, pompa dan katup) sekaligus penanda masuk maupun
keluarnya air dalam jaringan distribusi dengan format input pada
junction
- Reservoir merupakan titik yang mewakili sumber luar tak hingga atau
cekungan air dalam jaringan distribusi misalnya danau, sungai dan
akuifer air tanah.
- Tank merupakan node dengan kapasitas tampungan yang dapat
beragam selama waktu simulasi (running).
- Pipa merupakan penghubung yang membawa air dari satu titik ke titik
lainnya dalam jaringan distribusi.
- Pompa merupakan penghubung yang memberi energi ke fluida (air)
sehingga fluida tersebut bertambah nilai tinggi hidrolik (hydraulic
head).
- Katup merupakan penghubung yang membatasi tekanan atau aliran
pada titik tertentu dalam jaringan distribusi.

7.2 Aktuator dan Sensor


Aktuator pada sistem utilitas yaitu katup. Katup adalah suatu link
yang membatasi tekanan ataupun aliran pada suatu titik tertentu pada
jaringan. Yang menjadi parameter input untuk katup adalah:
- Awal dan akhir node
- Diameter
- Setting
- Status
Output hasil perhitungan untuk sebuah katup adalah rata-rata aliran
dan [Link] tipe katup yang disediakan oleh Epanet (perangkat
lunak utilitas) adalah
- Pressure Reducing Valve (PRV)
- Pressure Sustaining Valve (PSV)
- Pressure Breaker Valve (PBV)
- Flow Control Valve (FCV)
- Throttle Control Valve (TCV)
- General Purpose Valve (GPV).

Sensor yang digunakan pada sistem utilitas yaitu:


- Resistance Temperature Detectors (RTDs) adatah sebuah transduser
temperatur yang dibuat dari elemen kawat konduktif. Jenis kawat yang
banyak digunakan dalam RTDS adalah platinum, nickel, copper, dan
nickel-iron. Seluruh permukaan kawat diberi selubung pengaman.
Dalam RTD, resistansi dari kawat naik secara linier dengan naiknya
temperatur yang diukur, oleh karena RTD disebut mempunyai koefisien
temperatur positif (Temperature positive coefficient).
- Pressure sensor (sensor tekanan) merupakan alat yang digunakan untuk
mengukur tekanan, yaitu dengan cara mengubah tegangan mekanis
menjadi sinyal listrik
- Sensor level adalah pengukur ketinggian permukaan fluida cair pada
suatu tangki. Level adalah suatu besaran fisika yang dapat dikatakan
sebagai variabel proses dasar yang dapat diukur dengan jenis sensor
fisika (sesuai dengan klasifikasi sensor). Sensor yang digunakan adalah
dengan menggunakan d/p transmitter.

8. Perangkat Lunak Jaringan Kendali


Metode yang dipergunakan dalam analisis pendistribusian air bersih yaitu
dengan memakai program EPANET versi 2.0. program tersebut merupakan
program komputer (software) dengan tampilan Windows yang dapat
melakukan simulasi periode tunggal atau majemuk dari perilaku hidrolis dan
kualitas air pada jaringan pipa bertekanan. Dengan analisis simulasi yaitu
melacak aliran air (flow) pada pipa, tekanan (pressure) di setiap titik (node),
kedalaman (height) air dalam tangki serta konsentrasi bahan kimia dalam
sistem distribusi air bersih maupun air minum.
Dengan penjelasannya pada tiap bagian (input,prosess dan output) yaitu :
1. Membuat jaringan sistem distribusi atau mengimport file jaringan (dalam
bentuk text file). Maksudnya adalah dalam tampilan windows EPANET
dapat dibuat skema jaringan pendstribusianyang dikehendaki maupun
dapat dilakukan dengan mengambil jaringan yang sudah ada (tersimpan
dalam format/program lain) misalnya computer aided drawing (CAD)
2. Mengedit sifat objek atau komponen fisik yang terlihat dalam sistem
distribusi. Yang termasuk komponen fisik dalam sistem distribusi
diantaranya:
- Junctions adalah titik – titik yang merupakan tempat penyambungan
antar links (pipa, pompa dan katup) sekaligus penanda masuk
maupun keluarnya air dalam jaringan distribusi dengan format input
pada junction
- Reservoir merupakan titik yang mewakili sumber luar tak hingga atau
cekungan air dalam jaringan distribusi misalnya danau, sungai dan
akuifer air tanah.
- Tank merupakan node dengan kapasitas tampungan yang dapat
beragam selama waktu simulasi (running).
- Pipa merupakan penghubung yang membawa air dari satu titik ke titik
lainnya dalam jaringan distribusi.
- Pompa merupakan penghubung yang memberi energi ke fluida (air)
sehingga fluida tersebut bertambah nilai tinggi hidrolik (hydraulic
head).
- Katup merupakan penghubung yang membatasi tekanan atau aliran
pada titik tertentu dalam jaringan distribusi.
3. Pengaturan dan pengoperasian sistem lebih ditekankan sebagai editing
pada komponen yang tidak nampak dalam sistem (non-visual
components), terdiri atas :
- Curve editor ditujukan untuk mengatur bagaimana link (pompa)
maupun node bekerja sesuai standar atau keadaan yan dikehendaki.
Curve editor diantaranya hubungan tinggi tekan dengan debit (pump
curve), biaya atas pengunaan energi/hubungan efisiensi dengan debit
(effisiency curve), hubungan volume dengan kedalaman air (volume
curve) dan hubungan kehilangan energi dengan debit (headloss curve).
- Pattern editor ditujukan untuk mengatur pola distribusi air bila
dilakukan simulasi berjangka (extended period simulation) sesuai
dengan waktu yang dikehendaki.
- Controls editor merupakan pengaturan yang dilakukan terhadap node
dan links pada saat simulasi terjadi, apakah dikehendaki tertutup,
terbuka maupun keadaan lainnya.
- Demand editor ditujukan unutk pengaturan kebutuhan sekaligus
dilakukan penggolongan kebutuhan tersebut berdasarkan kategori
yang ditetapkan saat simulasi berjalan.
- Sorce quality editor merupakan pengaturan dengan memasukkan
komponen water quality ketika simulasi berjalan. Editor ini dapat
diabaikan bilamana ditujukan hanya untuk simulasi hidrolik.
4. Memilih analisis yang diinginkan untuk menjalankan simulasi,
diperlukan untuk kesesuaian dengan penggunaan formula, sistem satuan
serta karakteristik lain yang dikehendaki, apakah menggunakan formula
Hazen- Williams, Darcy-Weisbach atau Chezy-Manning.
5. Menjalankan program (running) dilakukan setelah proses input
terjadi, adapun komentar ketika running dilakukan diantaranya :
- Run was succesfull yang berarti bahwa proses running berjalan
baik sehingga bisa dilanjutkan dengan mengetahui outputnya.
- Run was unsuccesfull. See status report for reason yang berarti
bahwa proses berhenti dikarenakan beberapa hal namun dapat
diketahui kesalahan yang terjadi dengan melihat komentar
kesalahan tersebut.
- Warning message were generated. See status report for reason
yang berarti bahwa ada beberapa input yang menyebabkan
kegagalan simulasi ketika simulasi sedang berjalan. Kesalahan ini
dapat terjadi misalnya karena pompa yang tidak bekerja, jaringan
tidak terhubung, adanya tekanan negatif, sistem tidak seimbang
serta persamaan hidrolik tidak terpecahkan.
6. Mengetahui hasil keluaran, tahapan akhir ini dapat diketahui bila
proses analisis yang berlangsung berjala dengan baik (running was
succesfull). Adapun hasil keluaran tersebut dapat ditampilkan
dalam tabel dan grafik.

9. Human Machine Interface (HMI)


HMI merupakan perangkat lunak antar muka berupa GUI berbasis
komputer yang menjadi penghubung antara operator dengan mesin atau
peralatan yang dikendalikan serta bertindak pada supervisory (GlobalSpec,
2010).
Human Machine Interface (HMI) dapat berupa pengendali dan visualisasi
status baik dengan manual maupun melalui visualisasi komputer yang bersifat
real time. Sistem HMI biasanya bekerja secara online dan real time dengan
membaca data yang dikirimkan melalui I/O port yang digunakan oleh sistem
controller-nya. A. Irawan (2010) menyebutkan bahwa secara umum HMI
mempunyai fungsi-fungsi sebagai berikut:
1. Memonitori dan memberikan informasi kondisi plant kepada operator
melalui GUI secara real time. Tampilan kondisi plant adalah berdasarkan
hasil pembacaan input dan output dari proses yang sedang berlangsung
pada plant.
2. Menentukan kondisi output (aktuator) berdasarkan nilai input yang
diperoleh dari pembacaan sensor.
3. Pengambilan dan penyimpanan data dalam satu koleksi data. Pada
umumnya data dapat berupa data pengukuran, status sistem yang diwakili
oleh status valve sebagai actuator, status alarm, tanggal pengambilan dan
penyimpanan data.
4. Menyimpan kondisi alarm, sehingga dapat diketahui alasan terjadinya
penyimpangan dalam sistem.
5. Menampilan grafik dari sebuah proses yang ada di plant, misalkan grafik
penampilan proses kenaikan dan penurunan beban utama yang terhubung
ke genarator baik secara real time maupun historikal. Trending dapat
dilihat secara online real time atau historis.
Pada Penyediaan dan Distribusi Air bersih air baku PDAM. SCADA
agregat/HMI memberikan kontrol real-time dan proses visualisasi untuk
organisasi distribusi air dan pengolahan air limbah skala yang berbeda dan
jenis, termasuk sistem sanitasi, utilitas air, kota, distribusi, filtrasi,
desalinasi, dan remediasi.
DAFTAR PUSTAKA

Al Layla, M.A., Ahmad S. dan Middlebrooks, E.J. ,1980, Water Supply


Engineering Design, Ann Arbor Science, Ann Arbor.
Kodoatie, R,. ,1997, Analisis Ekonomi Teknik, Andi Offset, Yogyakarta.
Kodoatie, R. ,2003, Manajemen dan Rekayasa Infrastruktur, Pustaka Pelajar,
Semarang.
Mangkoediharjo, S. ,1985, Penyediaan Air Bersih I Dasar-Dasar Perencanaan
dan Evaluasi Kebutuhan Air , Teknik Penyehatan Institut Teknologi Sepuluh
Nopember, Surabaya.
Mangkoediharjo, S. ,1985, Penyediaan Air Bersih II Dasar-Dasar Perencanaan
dan Evaluasi Kebutuhan Air , Teknik Penyehatan Institut Teknologi Sepuluh
Nopember, Surabaya.
Mays, L.W. ,2000,. Water Distribution Systems Handbook, McGraw-Hill, New
York.
Rangkuti, F. ,2004, Analisis SWOT Teknik Membedah Kasus Bisnis, Gramedia
Pustaka Utama, Jakarta.
Roosman, L.A. ,2000, Epanet 2 User Manual, Water Supply and Water Resources
Division, National Risk.
Susanto, Deki. 2007. ANALISA DISTRIBUSI AIR PADA PIPA JARINGAN
DISTRIBUSI DI SUB-ZONE SONDAKAN PDAM KOTA SURAKARTA
DENGAN SIMULTANEOUS LOOP EQUATION METHOD.
[Link]
air-pada-pipa-jaringan-distribusi-di-sub-zone-sondakan-pdam-kota-Surakarta-
[Link]
Prihatinni. 2012. ANALISIS SISTEM PENDISTRIBUSIAN AIR BERSIH
PADA BANGUNAN BERTINGKAT DENGAN SOFTWARE EPANET 2.0.
[Link]

Anda mungkin juga menyukai