Nama : Hanifah
NIM : 172210101102
Resume
Besaran dan Pengukuran
Besaran
Besaran di dalam fisika adalah sesuatu yang dapat diukur, mempunyai nilai yang
dinyatakan dengan angka-angka, dan pada umunya mempunyai satuan. Besaran-besaran
dalam fisika digolongkan menjadi dua golongan, yaitu besaran pokok dan besaran turunan.
Besaran pokok adalah besaran yang satuannya telah ditentukan terlebih dahulu atau besaran
yang tidak diturunkan dari besaran lain.
a. Besaran pokok
Besaran adalah sesuatu yang dapat ditentukan atau diukur, dan hasil
pengukurannya dinyatakan dengan satuan. Satuan adalah sesuatu yang digunakan
sebagai pembanding dalam pengukuran. Besaran Pokok adalah besaran yang
satuannya telah ditetapkan terlebih dahulu dan tidak bergantung pada satuan-satuan
besaran lain.
Dalam Sistem Internasional ada 7 besaran pokok yaitu:
No. Nama Besaran Lambang Satuan
1. Panjang l Meter
2. Massa m Kilogram
3. Waktu t Sekon
4. Kuat arus listrik I Ampere
5. Suhu T Kelvin
6. Intensitas cahaya Iv Candela
7. Jumlah zat n Mol
b. Besaran turunan
Besaran turunan adalah besaran yang satuannya diturunkan dari satuan besaran
pokok.
No. Nama Besaran Lambang Satuan
1. Luas A m2
2. Kecepatan v ms-1
3. Percepatan a ms-2
4. Gaya F kg ms-2
5. Tekanan P kg m-1s-2
6. Usaha W kg m-2s-2
Pengukuran
a. Instrumen Pengukuran
Instumen pengukuran adalah alat yang digunakan untuk melakukan
pengukuran. Hasil akhir dari proses pengukuran sangat tergantung pada kemampuan
alat ukur yang digunakan. Kemampuan alat ukur dapat diketahui dari berbagai kriteria
yang ditetapkan, diantaranya adalah:
1. Akurasi, adalah kemampuan alat ukur untuk memberikan hasil ukur yang
mendekati hasil sebenarnya.
2. Presisi, adalah kemampuan alat ukur untuk memberikan hasil yang sama dari
pengukuran yang dilakukan berulang-ulang dengan cara yang sama.
3. Sensitivitas, adalah tingkat kepekaan alat ukur terhadap perubahan besaraan
yang akan diukur.
4. Kesalahan ( error ), adalah penyimpangan hasil ukur terhadap nilai yang
sebenarnya.
Idealnya sebuah alat ukur memiliki akurasi, presisi dan sensitivitas yang baik sehingga
tingkat kesalahannya relatif kecil dan data yang dihasilkan akan akurat.
b. Pengukuran Besaran Pokok
1. Pengukuran Besaran Panjang
Pengukuran besaran panjang bisa dilakukan dengan menggunakan mistar, jangka
sorong, atau mikrometer sekrup. Alat ukur tersebut memiliki nilai ketelitian yang
berbeda-beda. Nilai ketelitian adalah nilai terkecil yang masih dapat diukur.
1.1 Mistar
Mistar merupakan alat ukur panjang yang paling sederhana dan sudah
lumrah dikenal orang. Ada dua jenis mistar yang sering digunakan, yaitu
stik meter dan mistar metrik. Stik meter memiliki panjang 1 meter dan
memiliki skala desimeter, sentimeter, dan milimeter. Mistar metric
memiliki panjang 30 sentimeter. Mistar memiliki skala pengukuran terkecil
1 milimeter, sesuai dengan jarak garis terkecil 18 antara dua garis yang
saling berdekatan. Ketelitiannya adalah 0,5 milimeter, atau setengah dari
skala terkecil.
1.2 Jangka Sorong
Jangka sorong merupakan alat ukur panjang yang memiliki batas
ketelitian sampai dengan 0,1 mm. Jangka sorong dapat digunakan untuk
mengukur diameter bola, diameter dalam tabung, dan kedalaman lubang.
Skala utama tertulis pada batang jangka sorong. Pada rahang sorong (geser)
diberi skala sebanyak 10 bagian 19 dengan panjang 9 mm yang disebut
skala nonius. Jadi, setiap satu skala nonius panjangnya 0,9 mm.
1.3 Mikrometer sekrup
Mikrometer sekrup adalah alat ukur panjang yang ketelitiannya paling
tinggi. Mikrometer sekrup mempunyai ketelitian 0,01 mm sehingga cocok
untuk mengukur antara lain tebal kertas, diameter kawat email, dan tebal
kain.
2. Pengukuran Besaran Massa
Pengukuran massa pada umumnya dilakukan dengan menggunakan neraca.
Ada beberapa jenis neraca, antara lain neraca Ohauss, neraca lengan, neraca
langkan, neraca pasar, neraca tekan, neraca badan, dan neraca elektronik. Salah
satu jenis neraca yang sering digunakan di laboratorium adalah neraca lengan.
Neraca ini mempunyai bagian-bagian penting, antara lain tempat beban, skala
yang disertai beban geser, sistem pengatur khusus dan penunjuk.
Ada dua jenis neraca Ohauss, yaitu neraca dua lengan yang mempunyai batas
ketelitian 0,01 g dengan batas mengukur massa 310 g sehingga disebut neraca
Ohauss-310 dan neraca tiga lengan yang mempunyai batas ketelitian 0,1 g dengan
batas mengukur massa 2,610 kg dan disebut neraca Ohauss-2610. Kedua jenis
neraca Ohauss ini sering digunakan di laboratorium.
3. Pengukuran Besaran Waktu
Pengukuran waktu umumnya dilakukan dengan menggunakan stopwatch. Jenis
stopwatch cukup banyak dan biasanya memiliki tiga tombol yaitu tombol start,
stop dan reset. Tombol start berfungsi untuk menjalankan stopwatch dan tombol
stop untuk menghentikan nya. Sedangkan tombol reset berfungsi untuk mengatur
stopwatch ke posisi nol.
Angka Penting
Angka penting adalah angka-angka yang diperoleh dari hasil pengukuran yang terdiri
dari angka-angka pasti dan satu angka terakhir yang diragukan. Penentuan jumlah angka
penting dan cara penulisannya dalam proses berhitung harus mengacu pada ketentuan yang
berlaku.
1. Angka yang merupakan angka penting adalah:
a. Semua angka bukan nol:
458 terdiri dari 3 angka penting
46,79 terdiri dari 4 angka penting
b. Angka nol yang berada diantara angka bukan nol:
450043 terdiri dari 6 angka penting
20,02 terdiri dari 4 angka penting
c. Angka nol yang berada di sebelah kanan tanda desimal dan mengikuti angka
bukan nol:
2,280 terdiri dari 4 angka penting
0,200 terdiri dari 3 angka penting
2. Angka yang bukan merupakan angka penting adalah ;
a. Angka nol yang berada di sebelah kiri angka bukan nol:
0,000675 terdiri dari 3 angka penting
0,03 terdiri dari 1 angka penting
b. Angka nol disebelah kanan angka bukan nol dan tanpa desimal, kecuali jika diberi
tanda khusus, misalnya garis pada angka yang diragukan:
500 terdiri dari 1 angka penting
2050 terdiri dari 3 angka penting
Ketidakpastian pada Pengukuran
Pada dasarnya setiap pengukuran tidak akan menghasilkan nilai yang benar atau tidak
tepat sama dengan yang sebenarnya. Artinya sebuah hasil pengukuran selalu mengandung
ketidakpastian.
1. Ketidakpastian Pengukuran pada Hasil Percobaan
Ketidakpastian disebabkan oleh adanya kesalahan dalam pengukuran.
Kesalahan (error) adalah penyimpangan nilai yang diukur dari nilai benar 0 x .
Macam-macam kesalahan, yaitu :
a) Ketidakpastian yang disebabkan oleh nilai skala terkecil pada alat ukur yang
berarti bahwa alat ukur memiliki keterbatasan
b) Keteledoran atau keterbatasan keterampilan orang yang melakukan
pengukuran dalam mengukur dan menggunakan alat ukur
c) Kesalahan acak yaitu kesalahan yang tidak bersistem dan di luar kendali orang
yang melakukan pengukuran. Misalnya gerak Brown molekul udara, fluktuasi
tegangan listrik PLN atau baterai, atau gangguan pada alat-alat ukur elektronik
d) Kesalahan sistematis, yaitu :
Kesalahan kalibrasi, yaitu kesalahan yang terjadi karena cara memberi
nilai skala pada saat pembuatan alat tidak tepat, sehingga berakibat
setiap kali alat digunakan suatu kesalahan melekat pada hasil
pengukuran. Kesalahan ini dapat diatasi dengan mengkalibrasi ulang
alat terhadap alat standar
Kesalahan titik nol, kesalahan ini terjadi karena titik nol skala tidak
tepat berimpit dengan titik nol jarum penunjuk atau kegagalan
mengembalikan jarum penunjuk ke nol sebelum melakukan
pengukuran. Kesalahan ini dapat diatasi dengan melakukan koreksi
pada penulisan hasil pengukuran
Kesalahan komponen alat, misalnya pada alat ukur yang memiliki
pegas, terjadi karena makin lama dipakai pegas semakin lemah atau
terjadi gesekan antara jarum dengan bidang skala
Kesalahan pandangan/paralak, kesalahan ini timbul apabila pada waktu
membaca skala, mata pengamat tidak tegak lurus di atas jarum
penunjuk/skala. Keadaan saat bekerja, pemakaian alat dalam keadaan
yang berbeda dengan keadaan pada waktu alat dikalibrasi (pada suhu,
tekanan, dan kelembapan udara yang berbeda) akan menyebabkan
terjadinya kesalahan. Kesalahan sistematik menyebabkan hasil yang
diperoleh menyimpang dari hasil yang sebenarnya dan simpangan ini
mempunyai arah tertentu
Ketidakpastian mutlak dan ketidakpastian relatif
1. Ketidakpastian Mutlak
Ketidakpastian mutlak berhubungan dengan ketepatan pengukuran bahwa
makin kecil ketidakpastian mutlak, makin tepat pengukuran tersebut. Ketepatan
(presisi) adalah suatu aspek pengukuran yang menyatakan kemampuan alat ukur untuk
memberikan hasil pengukuran sama pada pengukuran berulang. Suatu alat ukur
dikatakan memiliki presisi tinggi bila dipakai pada pengukuran berulang yang
memberikan hasil yang tidak banyak berubah.
2. Ketidakpastian Relatif
Ketidakpastian relatif berhubungan dengan ketelitian pengukuran yaitu makin
kecil ketidakpastian relatif, makin tinggi ketelitian pengukuran tersebut. Ketelitian
(akurasi) adalah suatu aspek yang menyatakan tingkat pendekatan dari nilai hasil
pengukuran alat ukur dengan nilai benar
Ketelitian (%) = 100% - ketidakpastian relatif (%)
Karena demikian banyaknya sumber-sumber kesalahan dalam pengukuran,
maka tidak mungkin kesalahan-kesalahan itu dapat ditanggulangi secara serempak
dalam waktu yang sama dan setiap saat, oleh sebab itu yang terbaik yang dapat kita
lakukan adalah menekan kesalahan-kesalahan itu sekecil mungkin dengan
memperhitungkan seberapa besar ketidakpastian hasil pengukuran.
Daftar Pustaka
Depdiknas. (2005). Ilmu Pengetahuan Alam-Fisika. Jakarta: Dirjen Dikdasmen
Djonoputro, B. D. (1984). Teori Ketidakpastian. Bandung: Penerbit ITB
Halliday, D., Resnick, R. (1997). Physics , terjemahan: Patur Silaban dan Erwin Sucipto.
Jakarta: Erlangga.
Slamet, A., dkk. (2008). Praktikum IPA. Jakarta: Dirjen Dikti Depdiknas.
Soejoto dan Sustini, E. (1993). Petunjuk Praktikum Fisika Dasar. Jakarta: Dirjen Dikti
Depdiknas.
Tipler, P.A. (1998). Fisika untuk Sains dan Teknik. Jakarta: Erlangga.