0% menganggap dokumen ini bermanfaat (1 suara)
162 tayangan18 halaman

Fungsi Peralatan Bantu PLTA Jatiluhur

Fungsi utama dari peralatan bantu, sistem pelumasan, pendinginan, drainase, pemadam kebakaran, penerangan, crane, proteksi dan panel kontrol pada pembangkit listrik tenaga air adalah untuk menjaga operasional dan keamanan unit pembangkit listrik berjalan dengan baik dan efisien.

Diunggah oleh

Daffaathaya Risti
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd
0% menganggap dokumen ini bermanfaat (1 suara)
162 tayangan18 halaman

Fungsi Peralatan Bantu PLTA Jatiluhur

Fungsi utama dari peralatan bantu, sistem pelumasan, pendinginan, drainase, pemadam kebakaran, penerangan, crane, proteksi dan panel kontrol pada pembangkit listrik tenaga air adalah untuk menjaga operasional dan keamanan unit pembangkit listrik berjalan dengan baik dan efisien.

Diunggah oleh

Daffaathaya Risti
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd

PENULIS : DAFFA ATHAYA RISTI

30. Apa fungsi dari masing – masing peralatan bantu tersebut ?


a. Sistim Catu Minyak Tekan
Catu minyak tekan atau High Pressure Oil Pump digunakan untuk mengangkat
turbin dan porosnya melaui bantalan generator pada saat start unit dan stop unit.
Untuk start unit tekanan kerja dari HP oil pump adalah 150 bar untuk mengangkat
pada saat turbin belum berputar setinggi ± 0,07 mm. Kemudian pada saat pembukaan
guidevane tekanan diturunkan menjadi 115 bar, dan diturunkan pelan-pelan pada saat
turbin sudah bekerja sampai tekanan 0 bar. Setelah putaran turbin mencapai 90% HP
oil pump dimatikan. Sedangkan untuk stop unit HP oil pump digunakan padasaat
putaran sudah 90% dengan tekanan kerja yang sama pada saat start unit. Padasaat
unit sudah stop HP oil pump baru dimatikan.

b. Sistim Pelumasan
Fungsi utama minyak pelumas adalah untuk pelumasan, sedangkan fungsi lain
yang tak kalah pentingnya adalah untuk pendingin, perapat, mengurangi korosi,
peredam kejut dan kontrol.
 Sebagai Pendingin.
Gesekan akan menimbulkan panas yang apabila berlebihan dapat menimbulkan
kerusakan material. Minyak pelumas akan menyerap panas tersebut untuk
dibawa dan dibuang di sistem pendingin minyak pelumas atau ke udara luar.
 Sebagai Perapat
Pelumas dapat difungsikan sebagai perapat, misalnya untuk mencegah
bocornya hydrogen dari poros alternator ke udara luar.
 Untuk mengurangi korosi.
Pelumas dapat mengurangi laju korosi karena membentuk lapisan pelindung
pada permukaan logam sehingga kontak langsung antara zat penyebab korosi
dengan permukaan logam dapat dihindari atau dikurangi.
 Sebagai Peredam Kejut.
Beban kejut dapat terjadi pada komponen mesin, diantaranya pada roda gigi.
Lapisan minyak pelumas akan memperkecil benturan diantara permukaan roda
gigi yang saling bersinggungan, sehingga dapat meredam getaran dan noise.

c. Sistim Pendinginan
Fungsi dari cooling water system pada PLTA adalah untuk menjaga agar mesin
tidak beroperasi pada temperatur yang sangat tinggi (overheating) maka sangat
diperlukan sistem pendingin yang efektif. Jika mesin dioperasikan pada temperatur
tinggi maka efisiensi mesin akan menurun. Pada dasaarnya sistem pendingin pada
PLTA menggunakan air yang diambil dari water supply dan dipompa oleh sebuah
pompa sentrifugal.

d. Sistim Drainege
Sistem drainage berfungsi sebagai sistem pengosongan dan pengurasan air pada
spiral casing dan turbin saat akan dilakukan maintenance atau perbaikan pada unit
PLTA tersebut dengan memanfaatkan metode grafitasi. Air akan dialihkan oleh pipa-
pipa menuju dewatering pit atau kolong pengosongan.
PENULIS : DAFFA ATHAYA RISTI

e. Sistim Pemadam Kebakaran


Sistem pemadam kebakaran yang tersedia di unit PLTA berfungsi untuk
memadamkan api seandainya terjadi kebakaran atau ledakan sehingga menjadi sistem
proteksi yang baik agar terhindar dari kerusakan yang lebih serius bagi bangunan
ataupun manusia didalamnya.
Sistem pemadam kebakaran pada pusat listrik hampir sama dengan sistem
pemadam kebakaran pada kebanyakan fasilitas lainnya, seperti pabrik dan bangunan
gedung. Sistem utamannya adalah instalasi pemipaan yang siap dengan air bertekanan
tertentu, yang sewaktu-waktu dapat dipergunakan untuk memadamkan api jika
terjadi kebakaran.
Sistem didukung oleh pompa-pompa pemadam kebakaran dengan kapasitas
(flowrate) dan tekanan (head pressure) tertentu. Konfigurasi pompa-pompa adalah
terdiri atas Pompa Pemadam – Listrik, Pompa Pemadam – Diesel, serta Pompa Jockey.
Masing-masing pompa, penggerak (motor listrik dan diesel engine), serta panel
listriknya harus terstandar National Fire Protection Asosiation (NFPA),
Underwriters Laboratories Inc. (UL) dan Factory Mutual (FM).
Alat pemadam api ringan (APAR) umumnya ditempatkan pada tempat-tempat
tertentu yang dikhawatirkan jika pemadaman menggunakan air, dapat merusak
peralatan, semisal pada ruang panel (switchgear room). Sedangkan untuk sistem
cairan busa biasanya ditempatkan pada tangki-tangki bahan bakar.

f. Sistim Penerangan
Sistem ini berfungsi untuk memberikan pencahayaan yang baik pada unit
pembangkit. Pembangkit listrik tenaga air biasanya memiliki powerhouse atau tempat
operasi turbin dan generator dibawah tanah, sehingga tidak memungkinkan
terdapatnya jendela sehingga tidak ada cahaya matahari yang dapat masuk. Dengan
begitu sangat penting adanya sistem penerangan, karena dalam operasinya,
pembangkit listrik tenaga air membutuhkan 24 jam kebutuhan penerangan dan
pencahayaan.

g. Crane

Gambar Waduk Jatiluhur

Pada PLTA Jatiluhur yang kami kunjungi terdapat dua buah tower crane pada
waduk jatiluhur. Tower crane adalah alat yang dipakai untuk mengangkat material
PENULIS : DAFFA ATHAYA RISTI

dengan cara vertical serta horizontal kesuatu tempat yang tinggi pada ruangan gerak
yang terbatas. Type crane ini dibagi berdasar pada langkah crane itu berdiri yakni
crane yang bisa berdiri bebas (free standing crane), crane di atas rel (rail mounted
crane), crane yang ditambatkan pada bangunan (tied-in tower crane) serta crane
panjat (climbing crane). Kemunkinan pada waduk Jatiluhur crane tersebut digunakan
untuk keperluan konstruksi waduk seperti perbaikan atau penggantian komponen yang
besar.

31. Apa fungsi dari Proteksi dan Panel Kontrol ?


Nilai investasi peralatan listrik pada suatu pembangkit listrik sedemikian besarnya,
sehingga perhatian yang khusus harus diutamakan agar setiap peralatan tidak hanya dapat
beroperasi dengan efisiensi yang optimal, tetapi juga harus teramankan dari gangguan yang
fatal. Gangguan tersebut merupakan potensi yang merugikan ditinjau dari beberapa hal, maka
perlunya dipasang sistem proteksi yang berfungsi sebagai berikut:
 Mencegah kerusakan peralatan-peralatan pada sistem tenaga listrik akibat
terjadinya gangguan atau kondisi operasi sistem yang tidak normal
 Mengurangi kerusakan peralatan-peralatan pada sistem tenaga listrik akibat
terjadinya gangguan atau kondisi operasi sistem yang tidak normal
 Mempersempit daerah yang terganggu sehingga gangguan tidak melebar pada sistem
yang lebih luas
 Memberikan pelayanan tenaga listrik dengan keandalan dan mutu tinggi kepada
konsumen
 Mengamankan manusia dari bahaya yang ditimbulkan oleh tenaga listrik.

Sistem proteksi pembangkit ataupun transmisi harus bekerja sesuai syaratnya


diantaranya cepat bereaksi jika terjadi gangguan, selektif, peka/sensitif terhadap gangguan,
andal/reliability, stabilitas dan ekonomis. Jika syarat tersebut tidak terpenuhi, maka akan
mempengaruhi kinerja pembangkit.

Rangk. Trip / Alarm.

Rangk. Arus.

Gambar relai proteksi


Relai Proteksi adalah suatu perangkat kerja proteksi yang mempunyai fungsi dan peranan
PENULIS : DAFFA ATHAYA RISTI

1. Memberikan signal alarm/melepas pemutus tenaga (circuit breaker) dengan tujuan


mengisolir gangguan/kondisi yang tidak normal seperti adanya :
 Beban lebih, tegangan rendah
 Kenaikan suhu, beban tidak seimbang
 Daya kembali, frekuensi rendah
 Hubung singkat dan kondisi tidak normal lainnya
2. Melepas/mentripkan peralatan yang berjalan tidak normal untuk mencegah timbulnya
kerusakan. Contohnya : Proteksi beban lebih (overload) berfungsi untuk mengamankan
mesin listrik dan kerusakan isolasi.
3. Melepas/mentripkan peralatan yang terganggu secara cepat dengan tujuan mengurangi
kerusakan yang lebih berat. Contohnya : Bila suatu mesin listrik secara cepat
distop/dilepas setelah terjadinya gangguan pada belitan, maka hanya sebagian kumparan
saja yang perlu diperbaiki. Tetapi apabila gangguan terjadi secara terusmenerus maka
kemungkinan seluruh belitan akan rusak dan memerlukan perbaikan total/overhoul.
4. Melokalisir kemungkinan dampak akibat gangguan dengan memisahkan peralatan yang
terganggu dari sistem. Peralatan yang terganggu dapat menyebabkan gangguan pada
peralatan yang lain yang berada pada sistemnya.
5. Melepas peralatan/bagian yang terganggu secara cepat dengan maksud menjaga
stabilitas sistem, kontinuitas pelayanan dan unjuk kerja system

Panel adalah susunan beberapa bidang yang membentuk suatu kesatuan bentuk dan fungsi. Panel
listrik merupakan tempat pengaturan pembagi dan pemutus aliran listrik. Pintu panel adalah daun
pintu yang terdiri dari beberapa keping papan kayu solid dirangkai oleh rangka / ram.

Panel kontrol adalah lemari yang berisi komponen listrik untuk mengontrol dan menampilkan
keadaan input output peralatan. Selain itu, panel kontrol juga berfungsi untuk menstabilkan
tegangan.

Gambar panel control

32. Apa fungsi dari Switchgears ( Peralatan hubung / Pembagi ) ?


Switchgear adalah perangkat listrik untuk operasi switching atau pemutus dan
connecting beban baik beban individu maupun kelompok beban. Untuk lebih detail berikut
adalah fungsi dari switchgear:
PENULIS : DAFFA ATHAYA RISTI

1. Fungsi Switching (melalui Circuit Breaker atau Load Break Switch atauDisconnecting
Switch, dll)
2. Fungsi Proteksi (switchgear dilengkapi dengan fuse atau relay untuk proteksibeban
seperti overcurrent, overload, reverse power, under/over voltage, dll
3. Fungsi pengukuran (switchgear dilengkapi dengan meter untuk pengukuranbesaran
listrik seperti arus, tegangan, kwh, frekwensi, Power Factor, dll)
4. Fungsi Monitoring (switchgear dilengkapi dengan pilot indicator/fasilitasmonitoring
untuk memonitor status seperti status on/off maupun abnormal/trip),bisa untuk
remote monitoring melalui PLC/DCS/SCADA

Gambar switchgear
33. Apa fungsi dari Transformator
Transformator sendiri adalah komponen elektronik yang digunakan untuk memidahkan
tenaga listrik pada rangkaian listrik. Biasanya pemindahan ini terjadi pada dua buah hingga
lebih rangkaian listrik. Dan pemindahan tenaga listrik biasanya dilakukan melalui induksi
elektromagnetik. Sehingga selain memindahkan tenaga listrik, transformator juga memiliki
beberapa fungsi lainnya seperti di bawah ini:

1. Transformator selain memiliki fungsi besar sebagai salah satu komponen elektronik, juga
berfungsi dalam sebuah sistem komunikasi. Transformator seringkali digunakan untuk
menentukan frekuensi radio dan juga video.

2. Transformator juga seringkali digunakan untuk menaikkan tegangan listrik. Beberapa


barang elektronik yang memanfaatkan transformator untuk menaikkan tegangan listrik adalah
komputer, lemari es hingga televisi. Biasanya fungsi transformator ini lebih banyak dimiliki oleh
transformator step up. Jumlah lilitan sekundernya lebih banyak karena fungsinya untuk menaikkan
tegangan.

3. Transformator juga banyak dimanfaatkan untuk menurunkan tegangan listrik. Biasanya


transformator untuk menurunkan tegangan ini seringkali disebut transformator step up.
jumlah lilitan sekundernya lebih sedikit sementara lilitan primenya lebih banyak. Biasanya
transformer step down seringkali digunakan saat Anda mengisi baterai ponsel atau saat
Anda mengisi baterai.
PENULIS : DAFFA ATHAYA RISTI

Sesuai dengan fungsi kegunaannya maka trafo terbagi ke dalam beberapa jenis :

 Trafo step up/down untuk menaikkan atau menurunkan tegangan.


 Trafo adaptor untuk mengubah tegangan dari arus AC ke arus DC
 Trafo IF (frekuensi menengah) untuk penguat frekuensi menengah pada radio
penerima.
 Trafo OT (Out Put) digunakan pada rangkaian penguat, receiver dan perangkat
audio atau audio visual.

Gambar transformator

34. Jelaskan klasifikasi pemeliharaan PLTA


PENULIS : DAFFA ATHAYA RISTI

JENIS & KEGIATAN PEMELIHARAAN PLTA

A. Overhaul

Batasan jam kerja tersebut sebelumnya telah disepakati pada forum diskusi
pemeliharaan tanggal 06 Februani 1987, dimana pada diskusi tersebut batas selang waktu
untuk Major Overhaui (MO) dibagi tiga pola yaitu :

a Pola A, pada pola ini unit pernbangkit (PLTA) melaksanakan MO setelah unit mencapai.
interval 40.000 jam kerja.
b Pola B. pada pola mi unit pembangkit (PLTA) melaksanakan MO setelah unit mencapai
interval 60.000 jam kenja.
c Pola C, pada pola ini unit pembangkit (PLTA) melaksanakan MO setelah unit mencapal.
interval 80.000 jam kerja

Kegiatan yang dilakukan tiap jenis pemeliharaan PLTA adalah sebagai berikut :

a. Annual Inepection (Al)


Sesuai dengan ruang lingkup kegiatannya yaitu pemeriksaan, pengukuran dengan
membuka manhole atau bagian lain tanpa melepaskan bagian utama, penyetelan, perbaikan
kecil dan dilakukan pengujian, sasaran Annual Inspection adalah menjaga keandalan. Yang
dimaksud Keandalan disini adalah unit pembangkit PLTA tersebut beroperasi dengan baik,
aman dan sesuai kernampuanya (beban nominalnya) dengan force outage yang serendah-
rendahnya.

b. General Inepection (GI)


Sesuai dengan ruang lingkup kegiatannya yaitu pemeriksaan, pengukuran dengan
membuka manhole dan bagian lain tanpa atau melepas bagian utama bila perlu ,
penyetelan, perbaikan, penggantian (bukan peralatan utama) dan dilakukan pengujian.
Sasaran General Inspection disamping untuk meningkatkan keandalan dan juga diharapkan
mampu/dapat mengantisipasi beban lebih diluar beban nominalnya tanpa merusak
peralatan utama maupun peralatan bantunya akibat adanya relay pengaman. c. Major
Overhaul (MO)

Ruang lingkup kegiatan Major Overhaul meliputi pembongkaran total, perbaikan,


pemeriksaan, pengukuran , penyetelan , penggantian peralatan dan dilakukan pengujian.
Pemeliharaan ini dilakukan dengan maksud untuk :

 Meningkatkan daya rnarnpu mendekati install capacity


 Meningkatkan keandalan
 Meningkatkan efisiensi

Dan ketiga sasaran MO yang harus dicapai, maka waktu kegiatan yang dibutuhkan relatif
lebih lama karena memerlukan pembongkaran peralatan utama untuk diadakan pemeriksaan,
penyetelan, perbaikan, penggantian dan pergujian agar ketiga [Link] tersebut dapat
tercapai
PENULIS : DAFFA ATHAYA RISTI

B. Pengujian

Pengujian ini dilakukan üntuk mengetahui atau sebagai tolok ukur bahwa pemeliharan
yang dilaksanakan telah sesuai dengan tujuannya. Pengujian yang dilakukan paling tidak akan
memberi gambaran unjuk kerja mesinnantinya bila beroperasi kembali atau paling tidak untuk
mengetahui keberhasilan pemeliharaan dengan membandingkan hasil pengujian sebelum dan
sesudah pemeliharaan. Mengingat pentingnya pengujian maka pelaksanaannya harus dilakukan
dengan hati-hati. teliti dan tepat . Hasil pengujian harus dipelajari, dicatat dan disusun
dengan sebaik-baiknya. Jenis pengujian yang dilakukan tergantung jenis pemeliharaan, karena
masing-masing berlainan tergantung pada tingkat pemeliharaan itu sendiri.

Persiapan Pengujian

Sebelum pengujian dilakukan semua peralatan-peralatan pengukur yang diperlukan


harus dipersiapkan termasuk time schedule pengujian yang diterbitkan oleh Sektor. Juga
harus diketahui dengan hasil baik dari kegiatan pemeriksaan dan pengukuran berikut :

» Pengukuran mutu tahanan isolasi stator generator. Pengukuran mutu tahanan isolasi
stator generator dapat dilakukan dengan menggunakan megger atau mengukur sudut
hilang dielectric (tangen delta). Pengukuran mutu tahanar isolasi ini sangat penting guna
mengetahui kondisi isolasi tersebut sebelum dan sesudah pemeliharaan.
» Hasil uji minyak pelumas. Pengujian minyak pelumas dilakukan di laboratorium untuk
mengetahui sifat-sifat minyak pelumas yang kemudian dlbandingkan dengan
spesifikasinya dan bila perlu dilakukan treatment terhadap pelumas tersebut.
» Hasil pemeriksaan alignment poros. Pemeriksaan kelurusan poros ini bertujuan untuk
memperhalus/mengurangi vibrasi unit pembangkit.
» Hasil pengukuran clearance bantalan-bantalan, sudu atur dan lain lain. Pengukuran ini
dilakukan untuk mengetahui kondisi clearance apakah masih dalam batas-batas yang
diijinkan
» Setting relay-relay proteksi. Relay-relay yang ada harus dilakukan pengujian bukan
hanya hasil kerjanya tetapi juga kebenaran pengawatannya. Jalannya reley diperiksa
dengan arus yang sebenarnya pada sisi primer. trafo arus (CT) yang bersangkutan
dengan hubungan rangkaian yang sebenarnya pula
» Kalibrasi meter-meter. Alat ukur besaran ternperatur, tekanan, vibrasi. dan lainlain
harus dikalibrasi terIebih dahuiu sehIngga pencatatan data akan lebih akurat.

Pelaksanaan pengujian

Pelaksanaan pengujian dilakukan sebelum dan sesudah pemeliharaan yang disesuaikan


dengan tingkat pemeliharaan. Pengujian sebelum pemeliharaan ini penting dilakukan untuk
melihat keberhasilan pemeliharaan tersebut. Macam-macam pengujian yang dilakukan antara
lain :
PENULIS : DAFFA ATHAYA RISTI
P

 Percobaan putar (running test)

Percobaan ini dilakukan untuk mengetahui bahwa tidak ada kelainan pada saat
pemutaran pertama kali. Pelaksanaannya adalah sesudah main valve dibuka, sedikit demi
sedikit sudu antar (inlet guide vane) dibuka. Setelah turbin berputar sudu antar ditutup
kembali, meskipun sudu antar tertutup turbin tetap berputar karena adanya momen
kelembaman. Sementara turbin berputar, kelainan bunyi, gesekan-gesekan, arah poros, dan
kelainan lainnya diperiksa. Kemudian sudu antar dibuka lagi sampai putaran poros mencapai
putaran nominalnya dengan memperhatikan suara , suhu, vibrasi. Setelah itu turbin tetap
dijalankan sampai suhu bantalan mencapai harga jenuhnya. Besaran yang dicatat dalam
pengujian adalah putaran poros, suhu bantalan, suhu pendinging, langkah servo motor, tekanan
air penstock, tekanan air di draft tube dan runner.

 Putaran pengeringan (dray out running operation test)

Apabila percobaan. Putar telah selesai harus dilakukan pemutaran pengeringan.


Pemutaran ini dilakukan agar nilai tahanan isolasi stator generator meningkat. Cara yang
dilakukan biasanya adalah sebagal berikut :

Hubung singkat tiga phasa yang dilakukan antara pemutus beban (PMT) dan terminal
generator pada saat putaran nominal dengan tegangan generator tertentu tanpa beban.
Kemudian arus hubung singkat diperbesar sedikit demi sedikit dan diatur sehingga suhu
kumparan stator mencapai suhu tertentu dan diusahakan suhu stator tersebut konstan.
Selama pemutaran berjalan suhu kumparan, suhu udara pendirigin, nilai tahanan isolasi diukur
dengan interval waktu tertentu. Nilai tahanan isolasi akan naik dan setelah mencapai titik
jenuh percobaan ini harus dihentikan.

 Pembebanan bertahap.

Pengujian ini dilakukan untuk menyelidiki sifat-sifat turbin dengan mengukur antara
bukaan sudu antar dengan daya turbin atau mengukur panjang langkah servo motor. Pengujian
ini dilakukan dengan pengatur putaran (governor) yang dipasang pada posisi manual. Sudu
antar (inlet guide vane)dibuka sedikit demi sedikit mulai bukaan tanpa beban sampai dengan
beban penuh, kemudian ditutup sedikit demi sedikit dari bukaan penuh sampai dengan tanpa
beban. Pada saat percobaan ini dilakukan pengukuran/pencatatan terhadap beban, tekanan,
langkah servo motor, tegangan, arus eksitasi, vibrasi, suara (noise), level air, dan lain-lain.
Apabila draft tube dilengkapi dengan katup isap udara, katup isap tersebut harus dikontrol
sedemikian rupa sehigga turbin dapat bekenja dengan efisiensi yang tinggi akan tetapi aman.

 Pelepasan beban (load rejection test) pada beban 25 %, 50 %, 75 %, dan 100 %

bila memungkinkan. Percobaan ini dilakukan untuk mengetahui transient tekanan air penstock.
kenaikan putaran, kepekaan governor, dan kenaikan tegangan generator. PLTA tersebut
dioperasikan kemudian dibebani. Putaran dan tegangan generator sebelumnya diatur pada
harga nominal kemudian masing-masing beban diputuskan dengan melepas. Circuit Breakernya.
Pencatatan pada percobaan ini adalah variasi tegangan, frekuensi, variasi putaran, variasi
tekanan air penstock, waktu untuk mencapai kesetabilan, langkah servomotor, dan lainlain.
 Pembebanan kejutan (sudden load increase test)

Latar belakang percobaan ini adalah untuk mengetahui bahwa tiap-tiap peralatan kontrol
telah beroperasi dengan baik dan pelaksanaannya tekanan air kejut penstock dijaga sampai
dengan harga yang diijinkan pada kondisi sudden load increase. PLTA tersebut dioperasikan
setelah tekanan penstock stabil, beban dinaikkan dengan tiba-tiba (pada 25 %, 50 %, 75 %,
100 % beban bila mernungkinkan). Pencatatan pada percobaan ini adalah variasi tegangan,
frekuensi, variasi putaran, variasi tekanan air penstock, waktu untuk mencapai kestabilan,
langkah servo motor, dan lainlain.

 Emergency stop test.

Latar belakang percobaan ini adalah untuk mengetahui bahwa emergency stop dapat
dilakukan dengan pengoperasian peralatan kontrol bila terjadi gangguan electrikel selama
PLTA beroperasi. Caranya adalah sebagai berikut, PLTA dioperasikan hingga beban 40% dan
beban nominal. Emergency stop relay (86-1) secara manual dikerjakan. Pencatatan pada
percobaan ini adalah waktu dan putaran

 Quick stop test

Latar percobaan ini untuk mengetahui bahwa stop unit secara cepat dapat dilakukan
dengan peralatan kontrol bila terjadi gangguan mekanis pada waktu PLTA beroperasi.
Percobaan ini dapat dilakukan dengan dua cara :

1) Quick stop relay


Pertama PLTA dioperasikan dengan beban 40 % beban nominal. Salah satu dan quick
stop relay dikerjakan secàra manual. Pencatatan pada percobaan ini adalah waktu dan
putaran.
2) Dengan penurunan tekanan pelumas governor PLTA dioperasikan dengan beban 100 %
beban nominal. Kemudian pompa pelumas diberhentikan, yang akan mengakibatkan
pressure switch (63Q. ) bekenja dan ini menyebabkan drain valve membuka dan
tekanan pelumas turun. Pencatatan pada percobaan ini adalah waktu, putaran, tekanan
pelumam, dan level pelumas sampai dengan putaran mesin nol.
 Over speed test .

Pengujian ini dilakukan untuk mengetahui keandalan dari relay over speed. Sebelum
dilakukan pengujian relay over speed terlebih dahulu di setting pada harga yang [Link]
ditentukan. Kemudian PLTA dioperasikari (diputar tanpa beban) sampai relay over speed
bekerja. Putaran pada saat relay over speed kerja dicacat sampal dengan PLTA stop.

 Load test (temperatur rise test).


Pengujian ini dilakukan untuk meyakinkan bahwa unit dapat dioperasikan pada beban
100 % beban nominal dengan aman. PLTA dioperasikari pada putaran, tegangan, dan beban
nominal. Pengukuran bemacanmacam besaran dilakukan dengan interval waktu tertentu.
Pengukuran yang dilakukan antara lain, temperatur bantalan, temperatur air pendingin,
tegangan, arus, frekuensi, factor daya (cos q), tekanan penstock, :runner dan juga level
air. Pada pengujian ini juga harus diperiksa kebocoran pelumas, air. dan lain-lain.

 Automatic start and stop operation.


Pengujian ini dilakukan untuk mengetahui bahwa unit dapat dioperasikan dengan start dan
stop secara automatis. PLTA distart dengan menggunakan master kontrol switch,
kemudian dilakukan pencatatan waktu dan urutan start. Prosedure stop dilakukan dengan
menggunakan master kontrol switch juga dilakukan dengan catatan waktu dan urutan
stop.
C. Predictive Maintenance

Pemeliharaan predictive adalah system pemeliharaan preventive berbasis kondisi peralatan


dengan cara memonitor peralatan secara terus menerus atau berkala pada saat mesin operasi
atau stop. Hasil pemantauan dianalisa dan dievaluasi serta disimpulkan prakiraan kondisi
untuk dituangkan dalam rekomendasi pemeliharaan. Pemantauan rutin kondisi mesin ada 2
macam yaitu :

1. Kondisi langsung , yaitu meliputi pengukuran volume/massa aliran, suhu , kecepatan dan
tekanan.
2. Kondisi tidak langsung , yaitu melipiti pengukuran vibrasi , jumlah dan ukuran partikel
suatu komponen yang terlepas, kondisi keretakan, nilai konduktivitas, kebisingan dan
tahanan listrik.

Hasil pemantauan dianalisa untuk mengetahui kondisi sekarang dan kondisi perkiraan
yang akan datang Obyek yang dipantau pada suatu mesin untuk keperluan pemeliharaan
predictive meliputi :
 Getaran
 Life assessment (NDT & DT)
 Kualitas air
 Unjuk kerja
 Termografi
 Tribologi.

35. Jelaskan skema Pelumasan pada PLTA


lubricating Oil System

Lubricating Oil System merupakan suatu sistem yang menyediakan minyak pelumasan
untuk 5 (lima) bantalan pada generator dan turbin. Pelumasan disini bertujuan untuk menjaga
bantalan terhadap gesekan mekanik dengan poros, agar poros tidak cepat aus dan mengurangi
panas sehingga operasi turbin dan generator menjadi lancar.

Diagram alur lubricating Oil System pada PLTA Lodoyo, Blitar


Cara kerja lubricating Oil System:

Dari Sump Tank lubrication berfungsi memasok kebutuhan minyak bagi System pelumasan dan
menampung minyak yang kembali dari System pelumasan. Di dalam tangki dilengkapi dengan filter
(Strainer) yang berguna untuk menyaring kotoran pada oli pelumasan dengan dilengkapi water
contaminant yang mendeteksi adanya air dalam Sump Tank lubrication. Pada sumptank terdapat
batangan magnet yang berfungsi sebagai pengikat kotoran / geram yang bersifat magnetik agar
tidak merusak sistem. Jika terdapat air lebih dari 5 % sensor contaminant water akan bekerja dan
akan memberi sinyal alarm pada control panel, dan untuk melihat level minyak dalam tangki secara
visual disediakan gelas duga dan tongkat pengukur ( deep stick ). Setelah oli berkumpul di Sump
Tank lubrication. Oli di pompa dengan tube oil pompa menuju Oil cooler untuk pendinginan serta
penyerapan panas minyak pelumas yang keluar dari bantalan ( Bearing ) turbin sebelum menuju ke
gravity tank, setelah oli memenuhi gravity tank, dengan memanfaatkan gaya gravitasi oli secara
otomatis mengalir melewati Oil Flow Relay ( sensor ) untuk mendeteksi adanya oli yang mengalir
menuju Bearing turbin untuk mulai proses pelumasan.

Diagram alur Pressure Oil System pada PLTA Lodoyo, Blitar


Cara kerja Pressure Oil System

Proses ini bermula dari Sump Tank oil pressure. Sump Tank ini berfungsi sebagai penampung
minyak tekan. Didalam Sump Tank Oil Pressure terjadi dua proses yaitu proses onloading dan
proses unloading. Pada proses unloading minyak tekanan tinggi (high) akan dipompa oleh
pressure pump dari Sump Tank kembali menuju ke sump tank. Sedangkan onloading minyak
yang bertekanan rendah ( low ) akan mengaktifkan Unloader valve yang di tandai dengan
bunyi dan selanjutnya oli dipompa oleh pressure pump menuju ke Pressure oil tank ( POT ),
setelah itu Oil Pressure mengalir dari POT melewati filter yang berfungsi untuk menyaring
gram – gram pada oli. Setelah proses penyaringan, Oil Pressure akan dialirkan kedalam 5
tujuan untuk di distribusi valve Guide Vane dan Runner Vane. Tujuan tersebut ialah :

1. Untuk membuka katup Water supply dan katub oil pressure.


2. Untuk mensupplay ke brake yang berfungsi membuka dan mengerem brake.
3. Untuk lock Guide Vane yaitu untuk mengunci Guide Vane.
4. Oli masuk ke Runner Vane untuk menggerakkan Runner Vane.
5. Oli masuk ke Guide Vane untuk menggerakkan Guide Vane.

Selanjuntnya sisa – sisa oli dari proses tersebut akan dialirkan munuju leakage oil tank.
Jika oli sudah mencapai pada level ketinggian tertentu maka secara otomatis pompa (leakage
pump) akan bekerja dan oli akan dialirkan kembali menuju Sump Tank oil pressure.

36. Jelaskan masalah Vibrasi pada PLTA


Pengertian vibrasi itu sendiri adalah Gerakan yang dilakukan secara berulang-ulang dari suatu
benda dengan lintasan yang sama dan dengan kecepatan tertentu yang dilakukan pada waktu
tertentu.

Vibrasi pada PLTA umumnya terjadi pada turbin. Vibrasi pada turbin :

• Getaran pada poros


Body yang diputar,disitu tentu ada sebuah gaya lintang tertentu,yang arahnya berotasi sama
dengan poros,cenderung untuk membengkokkan poros.

Gambar turbin air

• Getaran pada sudu

Bila sebuah sudu ataura kitan sudu dikenai oleh gaya sesaat, akan terjadi getaran bebas

Gambar sudu turbin air


Penyebab getaran :

1. Penyebab umum

• Pemilihan bahan dan material yang tidak memenuhi standart yang akan digunakan
untuk turbin atau komponennya.
• Cara pemasangan atau penempatan turbin tersebut yang belum tepat sempurna.
• Penyeimbangan yang tidak sesuai.
• Adanya gaya-gaya gangguan.
• Perbedaan ukuran-ukuran laluan sudu (terjadi akibat ketidaktelitian saat
pembuatan).
• Adanya benda-benda asing yang ikut dalam aliran fluida, yang dapat mengakibatkan
ketidakseimbangan dalam kerja (putaran) turbin, dll
2. Penyebab khusus

• Adanya aliran turbulen pada fluida kerja.


• Adanya gaya- gaya lintang tertentu yang mempengaruhi gerak rotasi turbin.
• Akibat putaran yang tidak stabil
• Kecepatan putaran yang tidak sesuai dengan defleksi yang diijinkan dari standart
material yang digunakan.
• Peredam yang digunakan tidak mampu lagi meredam gaya-gaya lintang yang tidak
semestinya.
• Frekuensi sudu yang yang tidak sesuai dengan frekuensi alami sudu.
• Gesekan-gesekan pada sudu dan atau poros yang dapat mengakibatkan terjadinya
getaran.

Efek vibrasi :

• Kerusakan pada komponen-komponen, seperti


 Keropos
 Perubahan bentuk permukaan komponen
 Perubahan bentuk komponen, dll

• Terjadinya polusi suara atau bunyi didaerah sekitar komponen


• Penurunan kecepatan rotasi turbin
• Penurunan effisiensi turbin
• Penurunan kecepatan putar poros generator
• Penurunan daya hasil produksi,dll.

Solusi :

• Memberikan peredam (damp) yangtepat pada komponen yang rawanterhadap


vibrasi.
• Menggunakan material yang tepatdan memiliki batas vibrasi yangcukup besar
37. Jelaskan gangguan operasi pada PLTA
Gangguan pada PLTA secara garis besar dapat dibagi atas 4 kelompok, yaitu :

1. Gangguan pada sirkit listrik generator

Gangguan pada Sirkit Listrik Generator yang menyebabkan tripnya PMT(Pemutus


Tenaga) , pada umumnya disebabkan oleh :

» Gangguan diluar seksi generator tetapi PMT generator ikut trip sebagai akibat
kurang selektifnya relai generator.
» Ada gangguan dalam seksi generator yang disebabkan karena: " Kerusakan
generator atau alat bantu generator, " Binatang yang menimbulkan arus hubung
singkat" Kontak-kontak listrik yang belum sempurna.
» Ada gangguan dalam sistem eksitasi generator, biasanya menyangkut pengatur
tegangan otomatis.
» Ada gangguan pada sistem arus searah khususnya yang diperlukan untuk
mentripkan PMT. Gangguan pada sirkit listrik tersebut di atas berlaku untuk
semua macam Pusat Listrik.

2. Gangguan pada mesin penggerak mula

Gangguan Pada Mesin Penggerak Generator (prime mover) merupakan gangguan yang
paling sering terjadi pada semua Pusat Listrik. Hal-hal yang menyebabkan gangguan mesin
penggerak generator secara singkat adalah :

a. Kerusakan pada bagian-bagian yang berputar atau bergeser, seperti bantalan, batang
penggerak, katup-katup (khususnya yang jarang bergerak dan pada waktu diperlukan
malah macet).
b. Kerusakan pada bagian-bagian dimana terdapat pertemuan antara zat-zat yang
berbeda suhunya seperti yang terjadi pada alat-alat pendingin di PLTA.
c. Kebocoran pada perapat dari bagian yang mengandung zat cair atau gas yang
bertekanan tinggi

3. Gangguan pada instalasi yang berhubungan dengan lingkungan seperti instalasi air pendingin
dan saluran air terbuka pada PLTA.

Gangguan pada instalasi yang berhubungan dengan lingkungan . Pada PLTA sering kali
terjadi air sungai banyak mengandung kotoran, sehingga saringan air masuk tersumbat dan
mengganggu operasi Pusat Listrik yang bersangkutan.

4. Gangguan pada sirkit kontrol

Dalam setiap Pusat listrik selalu terdapat sirkit kontrol yang mengatur baik sirkit
listrik generator, mesin penggerak generator maupun alat-alat bantu. sirkit kontrol dapat
berupa sirkit listrik, sirkit mekanik, sirkit pneumatik ataupun sirkit hidrolik. Dapat pula
merupakan kombinasi dari beberapa macam sirkit kontrol. Seringkali gangguan timbul karena
adanya bagian dari sirkit kontrol yang tidak berfungsi dengan baik.
[Link]

[Link]

[Link]

[Link]

[Link]

Anda mungkin juga menyukai