Statistical process control (SPC)
Statistik proses kontrol (statistical process control, SPC) adalah penerapan teknik-teknik
statistik untuk mengendalikan berbagai proses. Sampling keberterimaan digunakan untuk
menentukan apakah suatu bahan yang diperiksa akan diterima atau ditolak dengan menggunakan
contoh (sampel). Selain itu statistik proses kontrol (SPC) juga didefinisikan sebagai suatu teknik
statistik umum yang digunakan untuk memastikan serangkaian proses memenuhi standar (Heizer
& Render, 2009). Walter Shewhart dari Bell Laboratories mempelajari data proses pada tahun
1920-an dengan membuat pembedaan antara sebab-sebab variasi yang umum dan khusus. Pada
dasarnya, semua proses dipengaruhi oleh berbagai variabilitas. Sekarang banyak orang
menamakan variasi variasi tersebut sebagai sebab-sebab alamiah (natural) dan sebab-sebab
khusus atau terusut (assignable). Ia mengembangkan alat bantu yang sederhana, tetapi sangat
efektif untuk membedakan keduanya, yaitu diagram kendali (control chart). Suatu proses
dikatakan bekerja dalam kendali statistik apabila sumber variasinya hanya berasal dari sebeb-
sebab umum (alamiah). Proses tersebut harus dimasukan ke kendali statistik terlebih dahulu
dengan menemukan dan menyingkirkan sebab-sebab variasi khusus (assignable). Dengan
demikian, kinerja dapat di prediksi dan kemampuannya memenuhi ekspektasi pelanggan. Tujuan
statistik proses kontrol adalah memberikan sinyal statistik apabila terdapat sebab-sebab variasi
khusus.
Tujuan Statistical Process Control (SPC)
Statistical Process Control (SPC) mempunyai tujuan-tujuan dalam memperbaiki kinerja proses
menggunakan metode statistik. Tujuan dari metode SPC adalah sebagai berikut(Binus, 2013):
1. Meminimasi biaya produksi.
2. Memperoleh kekonsistenan terhadap produk dan servis yang memenuhi spesifikasi
produk dan keinginan konsumen.
3. Menciptakan peluang-peluang untuk semua anggota dari organisasi untuk memberkan
konstribusi terhadap peningkatan kualitas.
4. Membantu manajemen dan karyawan produksi untuk membuat keputusan yang ekonomis
mengenai tindakan yang diambil yang dapat mempengaruhi proses.
Manfaat Statistical Process Control (SPC)
Pengendalian proses statistik dikatan dalam batas pengendalian apabila hanya terdapat kesalahan
yang disebabkan oleh sebab umum. Hal ini memberikan manfaat penting, yaitu (Gryana, 2001):
1. Proses memiliki stabilitas yang akan memungkinkan organisasi dapat memprediksikan
perilaku paling tidak untuk jangka pendek.
2. Proses memiliki identitas dalam menyusun seperangkat kondisi yang penting untuk
membuat prediksi masa mendatang.
3. Proses yang berada dalam kondisi berada dalam batas pengendalian statistik yang
beroperasi dengan variabilitas yang lebih kecil daripada proses yang memiliki penyebab
khusus. Variabilitas yang rendah penting untuk memenangkan persingan.
4. Proses yang mempunyai penyebab khusus merupakan proses yang tidak stabil dan
memiliki kesalahan yang berlebihan yang harus ditutup dengan mengadakan perubahan
untuk mencapai perbaikan.
5. Mengetahui bahwa proses berada dalam batas pengendali statistik akan membantu
karyawan dalam menjalankan proses tersebut. Atau dapat dikatakan, apabila data berada
dalam batas pengendali, maka tidak perlu lagi dibuat penyesuaian atau perubahan. Hal ini
disebabkan penyesuaian atau perubahan kembali yang tidak diperlukan justru akan
menambah kesalahan, bukan mengurangi.
6. Dengan mengetahui bahwa proses berada dalam batas pengendali statistik, akan
memberikan petunjuk untuk mengadakan pengurangan variabilitas proses jangka
panjang. Untuk mengurangi variabilitas proses tersebut, sistem pemrosesan harus
dianalisis dan diubah oleh manajer sehingga karyawan dapat menjalankan proses.
7. Analisis untuk pengendalian statistik mencakup penggambaran data produksi akan
memudahkan dalam mengidentifikasi kecendrungan yang terjadi dari waktu ke waktu.
8. Proses yang stabil atau yang berada dalam batas pengendali statistik juga dapat
memenuhi spesifikasi produk, sehingga dapat dikatakan proses dalam kondisi terawat
dengan baik dan dapat menghasilkan produk yang baik. Kondisi ini dibutuhkan sebelum
proses diubah dari tahap perencanaan ke tahap produksi secara penuh.
Variasi
Penyebab utama munculnya masalah kualitas adalah karena adanya variasi. Variasi terjadi di
dalam proses, baik proses manufaktur maupun non-manufaktur. Variasi-variasi ini dapat terjadi
dikarenakan adanya variasi dalam elemen-elemen proses, yaitu manusia, mesin, metode, material
dan lingkungan. Kondisi ini menunjukan variasi yang minimum, ada beberapa keuntungan
apabila pengurangan proses tersebut dapat dilakukan, yaitu (Ariani, 2004):
1. Variabilitas menjadi lebih kecil yang dihasilkan dari adanya perbaikan kinerja yang dapat
dilihat oleh pelanggan.
2. Mengurangi variabilitas pada karakteristik komponen yang merupakan cara mengimbangi
variabilitas yang tinggi pada komponen lain untuk memenuhi persyaratan kinerja pada
sistem atau perakitan.
3. Pada beberapa karakteristik seperti berat, pengurangan variabilitas juga akan memberikan
manfaat pada perubahan rata-rata proses yang dapat menyebabkan pengurangan biaya.
4. Berkurangnya variabilitas akan mengurangi banyaknya inspeksi dan besarnya biaya
inspeksi.
5. Berkurangnya variabilitas merupakan faktor yang penting dalam meningkatkan
kemampuan bersaing suatu produk dan memperbesar pangsa pasar.
Variasi Penyebab Umum
Menurut Gerald Smith (1996), variasi penyebab umum diturunkan dari proses. Ketika variasi
penyebab khusus telah dieliminasi, proses dapat berjalan sebaik mungkin tanpa memerlukan
adanya perubahan. Sekitar 85% dari semua masalah berkaitan dengan variasi penyebab umum.
Hanya ada satu cara untuk mengurangi variasi penyebab umum, yaitu dengan membuat
peningkatan pada proses manufacturing (Binus, 2013).
Perluasan dari variasi penyebab-penyebab umum dapat diukur secara statistic dan dibandingkan
dengan spesifikasinya, jika perbaikan dibutuhkan, tindakan pada proses perlu dilakukan.
Tindakan manajemen diperlukan untuk semua perubahan dari proses(Binus, 2013).
Variasi Penyebab Khusus
Menurut Gerald Smith (1996), variasi ini mempengaruhi proses dalam cara yang tidak terduga
dan dapat dideteksi dengan teknik-teknik statistic yang sederhana. Variasi ini dapat dihilangkan
dari proses oleh operator atau tim pengendali proses yang bertanggung jawab pada tahap tertentu
dari proses, dengan melakukan tindakan langsung, dimana hamper 15% dari semua
permasalahan proses dapat diatasi dengan tindakan ini. Ketika semua variasi dari penyebab
khusus telah dieliminasi, proses dapat dikatakan berada dalam pengendalian statistik(Binus,
2013).
Daftar pustaka:
Ariani, Dorothea Wahyu. 2004. Pengendalian Kualitas Statistik: Pendekatan Kuantitatif Dalam
Manajemen Kualitas. Yogyakarta: Penerbit Andi.
Gryana, F. M. 2001. Quality Planning and Analysis: From Product Development Through Use
(4th edition). Singapore: Mc-Graw Hill Int. Edition.
Lind, Marchal dan Wathen. 2007. Teknik-Teknik Statistika dalam Bisnis dan Ekonomi. Jakarta:
Salemba Empat.
Supriyadi, Edi. Maret 2018, “Analisis Pengendalian Kualitas Produk dengan Statistical Process
Control (SPC) DI PT. SURYA TOTO INDONESIA, Tbk”. Jurnal Ilmiah Teknik Manajemen
Industri. Vol. 1 Nomor 1.