SAP ASMA
Diajukan Untuk Memenuhi Tugas
Tugas Mata Kuliah : Eletif
Disusun Oleh : Kelompok 4
1. Andri Yanto (19142010090)
2. Lutfi (19142010094)
3. Ulfa Vebiola (19142010099)
PROGRAM STUDI ILMU KEPERAWATAN
SEKOLAH TINGGI ILMU KESEHATAN
NGUDIA HUSADA MADURA
BANGKALAN 2019
SATUAN ACARA PENYULUHAN
Topik : Penatalaksanaan dan pencegahan ASMA
Sasaran : Lansia
Tempat : Rumah Kader, dusun pengodongan
Hari /tanggal :
Waktu : 25 menit
I. Tujuan Intruksional Umum (TIU)
Setelah diberikan penyuluhan, Lansia mampu memahami tentang penyakit asma,
baik penatalaksanaan maupun pencegahannya.
II. Tujuan Intruksional Khusus (TIK)
Setelah diberikan penyuluhan selama 25 menit diharapkan sasaran dapat :
1. Menyebutkan pengertian dari asma
2. Menyebutkan penyebab terjadinya asma
3. Menyebutkan tanda dan gejala asma
4. Menyebutkan komplikasi asma
5. Menjelaskan cara penatalaksanaan atau penanganan asma
6. Menyebutkan cara pencegahan dari asma
III. Materi Penyuluhan (terlampir)
1. Pengertian dari asma
2. Penyebab terjadinya penyakit asma
3. Perjalanan penyakit (patofisiologi) asma
4. Tanda dan gejala asma
5. Komplikasi dari asma
6. Penatalaksanaan atau penanganan dari asma
7. Pencegahan dari asma
IV. Metode
- Ceramah
- Tanya jawab
V. Media
- LCD (Power point)
VI. Kegiatan Penyuluhan
No Tahapan waktu Kegiatan penyuluhan Kegiatan peserta
1. Pembukaan 5 menit 1. Membuka kegiatan 1. Menjawab salam.
dengan mengucapkan
salam.
2. Memperkenalkan diri. 2. Memperhatikan dan
mendengarkan.
3. Menjelaskan latar 3. Memperhatikan dan
belakang dan tujuan mendengarkan.
dari penyuluhan.
4. Menanyakan kepada
4. Menjawab
audiens mengenai
pertanyaan.
pemahaman mereka
seputar asma
5. Menerima
5. Memberikan
reinforcement positif
reinforcement positif
yang diberikan.
dari jawaban peserta
penyuluhan.
6. Membagikan leflet
6. Menerima
2. Tahap 15 1. Menyebutkan 1. Memperhatikan dan
pelaksanaan menit pengertian asma mendengarkan.
2. Menyebutkan faktor 2. Idem
penyebab dari asma
3. Menyebutkan tanda 3. Idem
dan gejala asma
4. Menyebutkan 4. Idem
komplikasi penyakit
asma
5. Menjelaskan 5. Idem
perjalanan penyakit
asma
6. Menjelaskan 6. Idem
penanganan asma
7. Menjelaskan cara 7. Idem
pencegahan penyakit
asma.
8. Peserta kesempatan 8. Peserta aktif untuk
untuk bertanya. bertanya
9. Memberikan 9. Menerima
reinforcement positif reinforcement positif
atas pertanyaan yang yang diberikan.
diajukan dan
menjawab pertanyaan
peserta.
3. Tahap 10 1. Menanyakan kembali 1. Menjawab
evaluasi menit pada peserta tentang pertanyaan.
materi yang telah
diberikan,
2. Berikan 2. Menerima
reinforcement kepada reinforcement
peserta penyuluhan positif yang
yang dapat menjawab diberikan.
pertanyaan. 3. Memberikan
3. Meminta salah satu simpulan.
peserta untuk
menyimpulkan hasil
penyuluhan yang
telah disampaikan.
4. Mengucapkan terima 4. Menjawab salam.
kasih dan memberi
salam.
VII. Evaluasi
1 Evaluasi Struktur.
- 90% lansia hadir di tempat penyuluhan.
- Penyelenggaraan penyuluhan dilaksanakan dirumah kader dusun
pengodongan
2 Evaluasi Proses.
- Lansia antusias terhadap materi penyuluhan.
- lansia mengajukan pertanyaan dan menjawab pertanyaan secara benar.
3 Evaluasi Hasil.
- Lansia memahami tentang materi yang telah diberikan dan mengetahui
tentang penyakit asma
- Lansia mampu menyebutkan kembali pengertian asma dengan benar.
Lansia mampu menyebutkan trias gejala dari asma dengan benar
- Bp.A dan keluarga mampu menyebutkan 2 faktor utama dan 5 dari 6
penyebab utama dari asma dengan benar
- Bp.A dan keluarga mampu menyebutkan komplikasi penyakit asma
dengan benar.
- Lansia mampu menjelaskan penatalaksanaan atau penanganan asma
dengan benar
- lansia mampu menyebutkan 8 dari 12 cara pencegahan dari asma dengan
benar.
VIII. Daftar Pustaka
Mansjoer, Arif m. 20011. Kapita Selekta Kedokteran. Jakarta: Media Aesculapius
Smeltzer, Suzanne C dan Bare , Brenda. G.2010. Keperawatan Medikal
Bedah. Edisi 8. Vol.2. Jakarta :EGC
Muttaqin, Arif. 2008. Buku Ajar Asuhan Keperawatan Klien dengan Gangguan Sistem
Pernapasan. Jakarta: Salemba Medika
LAMPIRAN MATERI
Masalah kesehatan yang berpengaruh terhadap system pernapasan (respiratori)
yang menuntut asuhan keperawatan dapat dialami oleh orang pada berbagai tingkat usia.
Salah satu masalah kesehatan tersebut adalah asma.
Asma merupakan suatu masalah kesehatan terhadap system pernapasan, dimana
factor yang berhubungan dengan hal tersebut, antara lain: lingkungan (misalnya merokok,
menghirup asap rokok, dan infeksi), fisiologis (misalnya asma, alergi jalan napas), serta
obstruksi jalan napas (misalnya sekresi tertahan ataupun spasme jalan napas). Masalah
yang sering muncul pada klien yang mengalami asmatikus ini biasanya yaitu bersihan
jalan napasnya yang tidak efektif, adanya gangguan pertukaran gas, dan terjadinya
kebutuhan akan nutrisi yang kurang dari kebutuhan tubuh.
Kita ketahui bahwa peran perawat yang paling utama adalah melakukan promosi
dan pencegahan terjadinya gangguan pada system pernapasan, sehingga dalam hal ini
masyarakat perlu diberikan pendidikan kesehatan yang efektif guna meningkatkan
kualitas kesehatan masyarakat. Oleh karena itu, penyuluhan tentang asma ini merupakan
cara yang tepat untuk mengubah perilaku hidup yang tidak sehat. Disamping sebagai
upaya promotif dan preventif bagi masyarakat yang terkena maupun yang belum.
A. Pengertian
1. Pengertian
Asma adalah suatu inflamasi kronis saluran nafas yang melibatkan sel
eosinofil, sel mast, sel netrofil, limfosit dan makrofag yang ditandai dengan
wheezing, sesak nafas kumat-kumatan, batuk, dada terasa tertekan dapat pulih
kembali dengan atau tanpa pengobatan. (Cris Sinclair, 1990 : 94)
Asma Bronchial adalah suatu gangguan pada saluran bronchial dengan ciri
bronkospasme periodik (kontraksi spasme pada saluran nafas). Asma merupakan
penyakit kompleks yang diakibatkan oleh faktor biokimia, endokrin, infeksi,
otonomik dan psikologi. (Irman Somantri, 2008 : 43)
Kesimpulan dari beberapa pengertian diatas yaitu Asma Bronchial adalah
gangguan atau kerusakan pada saluran bronkus yang merupakan inflamasi kronis
saluran nafas dengan ciri bronkospasme periodik yang reversible (dapat kembali),
adanya wheezing, sesak nafas dan batuk dengan atau tanpa adanya sekret.
2. Penyebab (Etiologi)
Sampai saat ini etiologi asma belum diketahui dengan pasti, suatu hal yang
menonjol pada semua penderita asma adalah fenomena hiperaktivitas bronkus.
Bronkus penderita asma sangat peka terhadap rangsangan imunologi maupun non
imunologi. Karena sifat inilah maka serangan asma mudah terjadi akibat berbagai
rangsangan baik fisis, metabolik, kimia, alergen, infeksi.
a. Faktor Ekstrinsik (asma imunologik / asma alergi)
- Reaksi antigen-antibodi
- Inhalasi alergen (debu, serbuk-serbuk, bulu-bulu binatang)
b. Faktor Intrinsik (asma non imunologi / asma non alergi)
- Infeksi : parainfluenza virus, pneumonia, mycoplasmal
- Fisik : cuaca dingin, perubahan temperatur
- Iritan : kimia
- Polusi udara : CO, asap rokok, parfum
- Emosional : takut, cemas dan tegang
- Aktivitas yang berlebihan juga dapat menjadi faktor pencetus.
Rangsangan atau pencetus yang sering menimbulkan asma perlu diketahui dan
sedapat mungkin dihindarkan. Faktor-faktor tersebut adalah:
a. Alergen utama debu rumah, spora jamur dan tepung sari rerumputan. Karena
tubuh sangat responsive terhadap allergen ini sehingga terjadi pembengkakkan
pada membran yang melapisi bronkus yang menyebabkan sesak nafas. Sama
halnya dengan iritan seperti asap, bau-bauan, polutan yang mengiritasi
membran bronkus sehingga terjadi produksi sekret yang berlebih oleh reaksi
imunitas yang memfagosit bakteri-bakteri atau virus yang masuk kedalam
saluran pernafasan (Cris Sinclair, 1990 : 94)
b. Perubahan cuaca yang ekstrim seperti udara yang dingin, emosi dan olahraga
yang berlebihan memicu terlepasnya histamine dan leukotrien sehingga terjadi
kontraksi otot polos yang menyebabkan penyempitan saluran udara.
c. Lingkungan kerja mempunyai hubungan langsung dengan sebab terjadinya
serangan asma. Hal ini berkaitan dengan dimana dia bekerja. Misalnya orang
yang bekerja dilaboratorium hewan, industri tekstil, pabrik asbes, polisi lalu
lintas karena bulu binatang, serat kain, serbuk dan debu jalanan merupakan
faktor pencetus serangan asma
3. Manifestasi Klinik
TRIAS gejala asma terdiri atas :
a. Dispnea (sesak nafas), terjadi karena pelepasan histamine dan leukotrien yang
menyebabkan kontraksi otot polos sehingga saluran nafas menjadi sempit.
b. Batuk, adalah reaksi tubuh untuk mengeluarkan hasil dari inflamasi atau benda
asing yang masuk ke saluran nafas.
c. Mengi (bengek), suara nafas tambahan yang terjadi akibat penyempitan bronkus.
Gambaran klinis pasien yang menderita asma :
Gambaran objektif.
a. Sesak nafas parah dengan ekspirasi memanjang disertai
wheezing.
b. Dapat disertai dengan sputum kental dan sulit dikeluarkan.
c. Bernafas dengan menggunakan otot-otot nafas tambahan.
d. Sianosis, takikardia, gelisah dan pulsus paradoksus.
e. Fase ekspirasi memanjang dengan disertai wheezing (di afek
dan hilus)
Gambaran subjektif adalah pasien mengeluhkan sukar bernafas, sesak dan
anoreksia.
Gambaran psikososial adalah cemas, takut, mudah tersinggung dan kurang
pengetahuan pasien terhadap situasi penyakitnya.
4. Patofisiologi
Proses perjalanan penyakit asma dipengaruhi oleh 2 faktor yaitu alergi dan
psikologis, kedua faktor tersebut dapat meningkatkan terjadinya kontraksi otot-otot
polos, meningkatnya sekret abnormal mukus pada bronkiolus dan adanya kontraksi
pada trakea serta meningkatnya produksi mukus jalan nafas, sehingga terjadi
penyempitan pada jalan nafas dan penumpukan udara di terminal oleh berbagai
macam sebab maka akan menimbulkan gangguan seperti gangguan ventilasi
(hipoventilasi), distribusi ventilasi yang tidak merata dengan sirkulasi darah paru,
gangguan difusi gas di tingkat alveoli.
Tiga kategori asma alergi (asma ekstrinsik) ditemukan pada klien dewasa
yaitu yang disebabkan alergi tertentu, selain itu terdapat pula adanya riwayat penyakit
atopik seperti eksim, dermatitis, demam tinggi dan klien dengan riwayat asma.
Sebaliknya pada klien dengan asma intrinsik (idiopatik) sering ditemukan adanya
faktor-faktor pencetus yang tidak jelas, faktor yang spesifik seperti flu, latihan fisik,
dan emosi (stress) dapat memacu serangan asma.
5. Penatalaksanaan
Pengobatan asma secara garis besar dibagi dalam pengobatan non
farmakologik dan pengobatan farmakologik.
Pengobatan non farmakologik
a. Penyuluhan
Penyuluhan ini ditujukan pada peningkatan pengetahuan klien
tentang penyakit asma sehinggan klien secara sadar menghindari faktor-
faktor pencetus, serta menggunakan obat secara benar dan berkonsultasi
pada tim kesehatan.
b. Menghindari faktor pencetus
Klien perlu dibantu mengidentifikasi pencetus serangan asma yang
ada pada lingkungannya, serta diajarkan cara menghindari dan
mengurangi faktor pencetus, termasuk pemasukan cairan yang cukup bagi
klien.
c. Fisioterapi
Fisioterapi dapat digunakan untuk mempermudah pengeluaran
mukus. Ini dapat dilakukan dengan drainage postural, perkusi dan fibrasi
dada.
Pengobatan farmakologik
a. Agonis beta
Bentuk aerosol bekerja sangat cepat diberikan 3-4 kali semprot dan
jarak antara semprotan pertama dan kedua adalan 10 menit. Yang
termasuk obat ini adalah metaproterenol ( Alupent, metrapel ).
b. Metil Xantin
Golongan metil xantin adalan aminophilin dan teopilin, obat ini
diberikan bila golongan beta agonis tidak memberikan hasil yang
memuaskan. Pada orang dewasa diberikan 4 x 125-200 mg sehari.
c. Kortikosteroid
Jika agonis beta dan metil xantin tidak memberikan respon yang
baik, harus diberikan kortikosteroid. Steroid dalam bentuk aerosol
( beclometason dipropinate ) dengan dosis 4 x 800 mg semprot tiap hari.
Karena pemberian steroid yang lama mempunyai efek samping maka yang
mendapat steroid jangka lama harus diawasi dengan ketat.
d. Kromolin
Kromolin merupakan obat pencegah asma, khususnya anak-anak .
Dosisnya berkisar 4 x 1-2 kapsul sehari.
e. Ketotifen
Efek kerja sama dengan kromolin dengan dosis 2 x 1 mg perhari.
Keuntungannya dapat diberikan secara oral.
f. Iprutropioum bromide (Atroven)
Atroven adalah antikolenergik, diberikan dalam bentuk aerosol dan
bersifat bronkodilator. (Evelin dan joyce L. kee, 1994 ; Karnen
baratawijaja, 1994 ).
6. Pencegahan
a. Menghindari faktor pencetus atau allergen.
b. Tidak beraktivitas terlalu berat
c. Minum air hangat untuk melancarkan dahak atau mucus
d. Latihan napsa dalam
e. Kurangi konsumsi makanan berminyak yang dapat merangsang dahak
f. Hindari stress berlebihan
g. Menghindari makanan yang diketahui menjadi penyebab serangan (bersifat
individual).
h. Menghindari minum es atau makanan yang dicampur dengan es.
i. Berhenti merokok dan penggunaan narkoba atau napza.
j. Berusaha menghindari polusi udara (memakai masker, udara dingin dan
lembab).
k. Segera berobat bila sakit panas (infeksi), apabila disertai dengan batuk dan
pilek.
l. Fisioterapi dapat digunakan untuk mempermudah pengeluaran mukus atau
dahak.
7. Komplikasi
Komplikasi yang dapat terjadi pada klien dengan asma adalah pneumotoraks,
atelektasis, gagal nafas, bronkhitis dan fraktur iga.
8. Pemeriksaan Penunjang
a) Spirometri
b) Uji provokasi bronkus
c) Pemeriksaan sputum
d) Pemeriksaan cosinofit total
e) Uji kulit
f) Pemeriksaan kadar IgE total dan IgE spesifik dalam sputum
g) Foto dada
h) Analisis gas darah