MANAGEMENT GAP
Makalah ini disusun dan dibuat untuk memenuhi tugas mata kuliah : ALMA
Dosen Pengampu : Siti Ahdina Saadatirahmi, ME
Disusun Oleh Kelompok 3 :
1. Sagipul Ahyar : 170502201
2. Rangga Ramdani : 170502185
3. Gunawan Hapit : 170502
4. Ibnu Nasa’I : 170502200
MAHASISWA SEMESTER VI/E
PROGRAM STUDI PERBANKAN SYARIAH
FAKULTAS EKONOMI DAN BISNIS ISLAM
UNIVERSITAS ISLAM NEGERI MATARAM
TAHUN 2020
BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Dalam dunia perbankan Management Gap merupakan faktor yang menjadi salah satu
sentral dalam pengaturan operasional di dalam perbankan itu sendiri, karna management Gap ini
akan mengatur sedemikian rupa terkait dengan Aktiva dan Pasiva perbankan yang dimana
berkaitan langsung dengan profit dan risiko yang akan dihadapi oleh perbankan. Hal ini menjadi
penting untuk menjadi bahan bahasan karna aktiva dan pasiva yang diatur dalam manajemn Gap
ini adalah aktiva dan pasiva yang sensitive terhadap suku bunga yang ditentukan oleh bank sentral
suatu Negara. Sebagaimana yang kita ketahui tingkat volatilitas suku bunga sangat peka sekali
terhadap perubahan, sehingga perbankan harus memiliki system yang dapat memonitoring dan
controlling pergerakan tingkat suku bunga yang sensitive ini.
Gap Management merupakan salah satu bagian yang penting dalam ALMA. Gap
Management adalah strategi untuk memaksimalkan net income margin (NIM) melalui siklus
margin/bagi hasil. Strategi ini pada dasarnya meliputi komponen-komponen yang variable dan yang
fixed sesuai dengan fase dan siklus margin/bagi hasil untuk mencapai profitabilitas yang optimal.
Terjadinya risiko atau diraihnya keuntungan dikaitkan langsung dengan terjadinya perubahan-
perubahan dinamis tingkat margin/bagi hasil. Keuntungan diperoleh jika bank berhasil meraih
kinerja dan kondisi keuangan yang bagus, sehingga menghasilkan tingkat profitabilitas yang tinggi.
Sedangkan risiko yang dihadapi bank terjadi bila kurang berhati-hati, bank mengalami kondisi yang
buruk sehingga menghadapi kemungkinan insolvensy. Equity atau net aset merupakan selisih
antara asets dan liabilities. Apabila harga pasar dari asets dan liabilities berubah, perubahan itu
dapat memengaruhi besaran modal. Bank dapat terlindung dari risiko tersebut bila dapat dicapai
kombinasi dan komposisi yang paling tepat sesuai fluktuasi yang terjadi pada tingkat margin/bagi
hasil antara asets dan liablities yang dalam perbankan konvensional dikenal dengan rate sensitive
asets (RSA) dan rate sensitive liabilities (RSL). Istilah spread sering disamakan penggunaannya
dengan “margin” meskipun kedua istilah ini sebenarnya memiliki pengertian yang lebih spesifik.
Spread dalam pengertian umum adalah selisih anatar biaya dana (Borrowing Rate) dengan tingkat
bunga kredit (Lending Rate) atau selisih antara Bidding Rate dan Offering Rate yang sering
digunakan dalam transaksi pasar uang. Sementara istilah margin sering dikaitkan dengan
perbedaan tingkat risiko antara kedua jenis suatu investasi atau surat berharga. Meskipun pada
bank syariah tidak menetapkan rate, tetapi margin atau bagi hasil yang ditetapkan akan
memperhatikan pricing di pasar yang akan berpengaruh terhadap tingkat margin atau nisbah yang
ditetapkan. Oleh karena dengan latar belakang singkat tersebut dapat dikatakan bahwa manajemen
gap ini merupakan suatu system yang harus ada dalam manajemen perbankan, baik itu perbankan
konvensional maupun perbankan syariah.
BAB II
PEMBAHASAN
A. Konsep Dasar Management GAP
Bagi perbankan dewasa ini, Gap management adalah sangat penting, hal ini disebabkan
oleh tingkat volatilitas suku bunga yang sangat pea sekali terhadap perubahan. Dengan kondisi
pekanya tingkat perubahan suku bunga ini, dunia perbankan terutama dalam melakukan
pengelolaan sumber dan penggunaan dananya atau assets and liabilities management sangat
membutuhkan adanya suatu sistem yang dapat berfungsi dan berperan untuk melakukan mentoring
dan controling pergerakan tingkat bunga yang sensitif.
Berfluktuasinya tingkat bunga merupakan suatu risiko yang dapat dihindari oleh perbankan,
tetapi sebaliknya merupakan suatu masalah dan tantangan yang harus di atasi, sehingga dapat
menemukan solusi yang paling tepat bagi perbanikan untuk menghindari atau setidaknya untuk
meminimalkan risiko kerugian yang diakibatkan oleh adanya fluktuasi turun naiknya tingkat bunga
yang berlaku di pasar.
Bagi perbankan yang tidak memberikan perhatian sepenuhnya terhadap pengelolaan
interest risk, maka sebagai konsekuensi logisnya bank yang bersangkutan tidak akan dapat
menghindari dari kemungkinan adanya kerugian yang diderita karena disebabkan terjadinya gap
assets dan liabilities yang besar.
Mengelola korelasi antara tingkat suku bunga dan perbedaan karakteristik maturity (jangka
waktu jatuh tempo), struktur assets bank dengan tingkat bunga dan karakteristik maturity (jatuh
tempo) struktur liabilities gap terjadi oleh karena adanya perbedaan antara interest rate sensitive
assets dengan interest rate sensitive liabilities. Jika terajadi gap yang lebar antara rate sensitive
assets dengan rate sensitive liabilities, maka hal ini akan berdampak pada net interest margin untuk
menghindari hal ini, maka bank sangat perlu untuk melakukan usaha dalam rangka mempersempit
gap tersebut, dengan menggunakan gap management.
Gap adalah perbedaan (mismatch) antara Rate Sensitive Assets (RSA) dan Rate Sensitive
Liabilities (RSL). Atau Gap dapat diartikan sebagai perbedaan atau selisih antara aset yang sensitif
terhadap suku bunga (Rate Sensitive Aset/RSA) dengan liability yang sensitif terhadap suku bunga
(Rate Sensitive Liability/RSL ).
Beberapa istilah dalam Gap Management:
1) Gap sama artinya dengan Mismatch, yakni perbedaan antara sensitivitas asset dan Liability.
2) Interest Margin Sensitivity, yaitu perubahan di dalam yield dan cost rate yang ditentukan oleh
naik turunnya perubahan tingkat bunga yang berjangka pendek.
3) Rate Sensitive Asset (RSA) adalah seluruh aset bank yang menghasilkan, yang sensitif
terhadap perubahan tingkat bunga.
4) Rate sensitive liability (RSL) adalah seluruh liabilities bank yang sensitif terhadap perubahan
tingkat bunga.
Gap management bertujuan untuk mempersempit lebarnya kesenjangan antara Rate
Sensitive Asset (RSA) dengan Rate Sensitive Liability (RSL). Dengan demikian Gap management
merupakan:
1) Manajemen pengaturan Gap yang disebabkan naik turunnya asset yield dan liability cost rates
yang dipengaruhi oleh naik turunnya market rates yang pada gilirannya dapat memengaruhi
pendapatan.
2) Manajemen penngaturan Gap yang disebabkan tingkat ( degree of) sensitivitas daari masing-
masing pos assets maupun masing-masing pos liabilities yang berbeda-beda.
a) RSA adalah aktiva yang dapat berubah setelah:
1) Tanggal jatuh waktu aktiva yang bersangkutan, contoh: surat-surat berharga dan
pinjaman yang tingkat bagi hasil tertentu/tetap, seperti suku ijarah.
2) Tanggal jatuh waktu peninjauan bagi hasilnya ( re-pricing date), contoh surat-surat
berharga yang tingkat bagi hasil yang mengambang.
b) RSL adalah pasiva yang imbal hasilnya dapat berubah setelah:
1) Tanggal jatuh waktu pasivanya yang bersangkutan, contoh: deposito berjangka.
2) Tanggal tertenu sesuai perjanjian, contoh: dana yang interest nya dikaitkan dengan
SIBOR/LIBOR.
3) Tanggal tertentu sesuai keinginan bank, contoh: jasa giro
c) Gap=RSA-RSL
Positif Gap terjadi apabila RSA lebih banyak dari RSL dalam suatu periode tertentu,
sebaliknya negatif Gap apabila RSA dan RSL tidak dikelola dengan baik, maka dapat
mengakibatkan turunnya pendapatan bank ( Net Interest Income). Oleh karena itu,
manajemen Gap mengusahakan peraturan struktur RSA dan RSL berdasarkan jatuh waktu
bagi hasilnya dengan tujuan:
1) Menghindari kerugian dari gejolak tingkat bagi hasil yang berlaku di pasar.
2) Mengusahakan pendapatan dalam batas risiko terntentu.
3) Menunjang kebutuhan manajemen liquiditas.
B. Penggolongan Assets dan Liabilities
1. Assets
a. Sensitive Asset
Penggolongan atas jangka waktu penempatan yang relatif pendek, perubahan suku
bunga akan berpengaruh langsung pada aset yang termasuk dalam kelompok ini. Jika
penempatan tersebut jangka waktunya melebihi satu tahun dan menggunakan fixed rate,
dikelompokkan ke dalam Fixed Rate Asset. Rate Sensitive Asset di antaranya adalah
sebagai berikut :
1) Secondary reserve
1) Call money placement
2) Surat berharga pasar uang
3) Sertifikat bank Indonesia
4) Saham/obligasi
2) Short term loan, yaitu kredit yang diberikan yang berjangka waktu kurang dari 1 tahun,
seperti Kredit Modal Kerja (KMK), atau kredit cerukan untuk menutup kekurangan saldo
rekening nasabah karena salah kliring.
b. Fixed Rate Asset
1) Long term loan, yaitu kredit yang diberikan berjangka waktu lebih dari satu tahun,
biasanya berupa kredit Investasi (KI).
2) Investment/Participation, yaitu penyertaan baik langsung maupun tidak langsung, di
mana surat berharga dalam investasi ini tidak untuk diperdagangkan, tetapi digunakan
untuk tujuan investasi jangka panjang.
2. Liabilities
a. Sensitive Liabilities
Penggolongan didasarkan atas kriteria penarikan dan jangka waktu (jangka waktu
pendek, biasanya maksimal adalah 1 tahun). Yang tergolong dalam kelompok ini adalah :
1) Giro
2) DOC
3) Tabungan
4) Simpanan berjangka sampai 12 bulan
5) Kewajiban segera lainnya
6) Call Money atau SBPU
b. Fixed Rate Liabiities
1) Simpanan berjangka lebih 12 bulan
2) Kredit Likuiditas Bank Indonesia (KLBI)
3) Dana sendiri
C. Posisis GAP dan Dampaknya Terhadap Pendapatan Bunga
1. Posisi Zero GAP
Apabila jumlah (dalam uang) aktiva yang mengandung unsur-unsur sensitif terhadap
perubahan tingkat suku bunga sama dengan ( equal) pasiva yang sensitif terhadap perubahan
tingkat suku bunga. Hal ini dapat diilustrasikan sebagai berikut : RSA : RSL = 1
2. Posisi Positive GAP
Apabila jumlah aktiva yang sensitif terhadap perubahan tingkat suku bunga lebih besar dari
jumlah pasiva yang sensitif terhadap perubahan tingkat suku bunga. Hal ini dapat diilustrasikan
sebagai berikut : RSA : RSL > 1
3. Posisi Negative GAP
Apabila jumlah yang sensitif terhadap perubahan tingkat suku bunga lebih kecil daripada
jumlah pasiva yang sensitif terhadap perubahan suku bunga. Hal ini dapat diilustrasikan
sebagai berikut : RSA : RSL < 1
Setelah mengetahui apakah dimana posisi gap, maka nantinya akan mudah dalam
menetukan pendapatan dari gap tersebut, hal ini dapat diilustrasikan sebagai berikut :
Posisi Trend Tingkat Bunga Pendapatan
Zero Gap Naik Tetap
Turun Tetap
Positive Gap Naik Naik
Turun Turun
Negative Gap Naik Turun
Turun Naik
D. Strategi Menghindari GAP
Biasanya gap yang diambil oleh manajemen bank serta arahnya, apakah positif gap atau
negative gap tergantung pada 3 hal, yaitu :
a) Prakiraan arah perkembangan tingkat bagi hasil
b) Tingkat keyakinan manajemen terhadap perkiraan tersebut
c) Hasrat bank untuk mengambil risiko jika tindakan yang diambil salah
Adapun strategi dalam menghindari atau mengatasi gap ini adalah dengan dua cara yaitu
sebagai berikut :
1) Duration Analysis
Yaitu melakukan analisis terhadap periode jangka waktu (masa) antara rate sensitive
assets dengan rate sensitive liabilities.
2) Melakukan hedging transaksi Swap,
a) Transaksi Interest Rate Swap
b) Transaksi Options
c) Future Financial Market atau Kontrak Berjangka
d) Forward menggunakan Future Rate Agreement
E. Case GAP
Gap management dan pengaruh Interest Rate Sensitivity terhadap Performance Bank.
Untuk memudahkan pemahamannya berikut beberapa contoh case atas gap.
Diketahui neraca bank “Budi Luhur” sebagai berikut :
Aktiva (Pos-Pos) Jumlah Rate Share (%)
1. RSA (Call Money, SBI, SBPU,dll) 600.000 14% 60
2. Fixed Rate Assets\ 300.000 19% 30
3. Non Earning Assets 100.000 0% 10
Total 1.000.000 14,1% 100
1. RSL (Giro, DOC, Tab, CD, TD, dll) 700.000 11% 70
2. Fixed Rate Liabilities 120.000 13% 12
3. Non interest Bearing Liability 100.000 0% 10
4. Capital 80.000 0% 8
Total 1.000.000 9,26% 100
Note :
1. Weigthed Average Cost/Return
Berdasarkan data-data tersebut di atas, hitunglah :
2. Net Interest Income
3. Net Interest Margin
4. Tentukan Posisi Gap
Jawaban :
Net Interest Income : Total Interest Income :
Interets income : 14% X 600.000 = 84.000 Interest Cost : 11% X 700.000 = 77.000
19% X 300.000 = 57.000 13% X 120.000 = 15.600
0% X 80.000 =0
Hasil = 141.000 Hasil = 92.600
Net Interest Income = 141.000 – 92.600 = 48.400
Net Interest Margin = 48.400 : 900.000 X 100% = 5,38%
Gap = RSA – RSL
=600.000 – 700.000
= - 100.000
Dari hasil perhitungan di atas, ternyata RSA lebih kecil disbanding RSL (-100.000), ini berarti posisi
Gap dalam kondisi Negatif Gap.
BAB III
PENUTUP
A. Kesimpulan
Gap adalah perbedaan (mismatch) antara Rate Sensitive Assets (RSA) dan Rate Sensitive
Liabilities (RSL). Atau Gap dapat diartikan sebagai perbedaan atau selisih antara aset yang sensitif
terhadap suku bunga (Rate Sensitive Aset/RSA) dengan liability yang sensitif terhadap suku bunga
(Rate Sensitive Liability/RSL ). Positif Gap terjadi apabila RSA lebih banyak dari RSL dalam suatu
periode tertentu, sebaliknya negatif Gap apabila RSA dan RSL tidak dikelola dengan baik, maka
dapat mengakibatkan turunnya pendapatan bank ( Net Interest Income). Oleh karena itu,
manajemen Gap mengusahakan peraturan struktur RSA dan RSL berdasarkan jatuh waktu bagi
hasilnya dengan tujuan:
1) Menghindari kerugian dari gejolak tingkat bagi hasil yang berlaku di pasar.
2) Mengusahakan pendapatan dalam batas risiko terntentu.
3) Menunjang kebutuhan manajemen liquiditas.
Daftar Pustaka
Riyadi, Selamet, Banking Assets And Liability Management, LPFE UI, Jakarta: 2006.
Veithzal, dkk, Islamic Banking, Bumi Akasara, Jakarta : 2010.