MAKALAH MANAJEMEN KONSTRUKSI
CRITICAL PATH METHOD
Disusun oleh :
DEPARTEMEN TEKNIK SIPIL
FAKULTAS TEKNIK
UNIVERSITAS DIPONEGORO
2020
KATA PENGANTAR
Puji dan syukur kehadirat Tuhan Yang Maha Esa atas segala limpahan rahmat dan karunia-Nya,
kami dapat menyusun makalah ini yang berjudul “Makalah Manajemen Konstruksi Critical Path
Method” dengan baik.
Adapun maksud dan tujuan kami menyusun makalah ini untuk memenuhi tugas Mata Kuliah
Manajemen Konstruksi. Penulis juga mengucapkan terima kasih kepada Bapak Ir. Arif Hidayat,
CES. MT. selaku dosen Mata Kuliah Manajemen Konstruksi, serta kepada semua pihak yang
telah mendukung dalam menyusun karya tulis ini.
Kami menyadari masih terdapat banyak kekurangan yang terdapat dalam makalah ini. Oleh
karena itu kami mengharapkan kritik dan saran kepada berbagai pihak untuk kami jadikan
sebagai bahan evaluasi guna meningkatkan kinerja untuk kedepannya.
Semarang, 15 Maret 2020
Penulis
DAFTAR ISI
KATA PENGANTAR.............................................................................................ii
DAFTAR ISI..........................................................................................................iii
DAFTAR GAMBAR..............................................................................................iv
DAFTAR TABEL....................................................................................................v
BAB I PENDAHULUAN........................................................................................1
1.1. Latar Belakang..........................................................................................1
1.2. Tujuan........................................................................................................1
1.3. Rumusan Masalah.....................................................................................2
BAB II PEMBAHASAN.........................................................................................3
2.1. Pengertian CPM (Critical Path Method)...................................................3
2.2. Manfaat CPM (Critical Path Method)......................................................4
2.3. Analisis Jaringan Kerja CPM (Critical Path Method)..............................4
2.3.1. Tahapan Analisis Jaringan Kerja.......................................................4
2.3.2. Diagram Jaringan CPM......................................................................4
2.3.3. Menentukan Waktu Penyelesaian......................................................6
2.3.4. Cara Perhitungan................................................................................7
BAB III PENUTUP...............................................................................................12
3.1. Kesimpulan..............................................................................................12
DAFTAR PUSTAKA............................................................................................13
DAFTAR GAMBAR
Gambar 2. 1. Anak Panah (Arrow)..........................................................................9
Gambar 2. 2. Simpul (Node)....................................................................................9
Gambar 2. 3. Anak Panah Putus-Putus....................................................................9
Gambar 2. 4. Contoh Diagram Jaringan CPM.......................................................10
Gambar 2. 5. Grafik Hitungan Maju CPM.............................................................12
Gambar 2. 6. Grafik Perhitungan Mundur CPM...................................................13
Gambar 2. 7. Posisi dan Hubungan Antara ES, LS, EF, LF, D serta Float Total. .15
DAFTAR TABEL
Tabel 2. [Link] Perhitungan Maju Untuk Mendapatkan EF.................................13
Tabel 2. 2. Hasil Perhitungan Mundur Untuk Mendapatkan LF...........................15
BAB I
PENDAHULUAN
1.1. Latar Belakang
Proyek dapat diartikan sebagai kegiatan yang berlangsung dalam jangka waktu yang
terbatas dengan mengalokasikan sumber daya tertentu dan dimaksudkan untuk
menghasilkan produk atau deliverable yang kriteria mutunya telah digariskan dengan jelas
(Soeharto, 2009). Proyek umumnya harus mempunyai batasan waktu (deadline) yang
bertujuan sebagai tolak ukur atau indikator tingkat ketepatan atau keterlambatan proyek itu
sendiri. Strategi penjadwalan (scheduling) menjadi kunci utama dalam menjalankan suatu
proyek, strategi yang tepat akan membuat proyek berhasil sebelum atau tepat pada waktu
yang ditentukan.
Perencanaan terhadap aktivitas proyek merupakan salah satu masalah yang sangat
penting karena merencanakan suatu kegiatan terhadap proyek merupakan dasar agar proyek
bisa terus berjalan dan tetap berlangsung dengan waktu yang optimal. Menurut Angelin
(2018) menyatakan bahwa pada perencanaan proyek, diperlukan adanya estimasi durasi
waktu pelaksanaan proyek. Realita di lapangan menunjukkan bahwa waktu penyelesaian
sebuah proyek bervariasi, akibatnya perkiraan waktu penyelesaian tidak bisa dipastikan akan
dapat ditepati.
Critical Path Method (CPM) yang bisa disebut juga jalur kritis, merupakan sebuah
metode yang dikembangkan oleh J. E. Kelly dari perusahaan Remington Rand dan M. R.
Walkerdari DuPoint dalam rangka mengembangkan suatu sistem kontrol manajemen. Sistem
ini bertujuan untuk merencanakan dan mengendalikan sejumlah besar kegiatan yang
memiliki ketergantungan yang kompleks dalam masalah desain dan konstruksi. Menurut
Handoko dalam Angelin A.(2018) dalam proses identifikasi jalur kritis ada beberapa istilah
atau pengertian yang digunakan, yaitu:
Earliest Start Time (ES)
Latest Start Time (LS)
Earliest Finish Time (EF)
Latest Finish Time (LF)
1.2. Rumusan Masalah
Adapun batasan masalah dalam kerja praktek ini adalah sebagai berikut:
1. Apa definisi dari CPM (Critical Path Method) ?
2. Apa saja manfaat CPM (Critical Path Method) pada suatu proyek ?
3. Mengapa CPM (Critical Path Method) penting pada suatu proyek?
4. Bagaimana cara membuat CPM (Critical Path Method) untuk suatu proyek?
1.3. Tujuan Penelitian
Penelitian ini memiliki tujuan:
1. Untuk mengetahui definisi CPM (Critical Path Method) dan manfaatnya pada suatu
proyek.
2. Mengetahui kegiatan yang dianggap memiliki jalur kritis pada proyek.
3. Mengetahui lama waktu yang dibutuhkan melalui metode CPM.
4. Untuk mengetahui cara membuat analisis CPM (Critical Path Method) pada suatu
proyek.
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
2.1. Penjadwalan Proyek
Menurut Murdifin dan Mahfud (2007), secara umum ada dua metode
penjadwalan proyek, yaitu:
Metode Gantt Chart
Metode Gantt Chart, merupakan metode yang relatif sederhana, mudah dimengerti,
mudah pembuatannya, dan mudah untuk digunakan dalam memantau
perkembangan proyek. Namun, metode Gantt Chart memiliki beberapa kelemahan,
antara lain tidak dapat menunjukkan kegiatan apa saja yang merupakan kegiatan
kritis dan tidak secara langsung dapat menunjukkan hubungan antar kegiatan,
sehingga apabila suatu kegiatan mengalami penundaan maka akan sulit untuk
mengetahui kegiatan berikut apa yang akan terpengaruh, dan bagaimana
dampaknya terhadap waktu selesainya proyek.
Metode Network planning
Metode Network planning, merupakan salah satu manajemen yang dapat
digunakkan untuk membantu manjemen dalam perencanaan dan pengendalian
proyek. Terdapat dua teknik dasar yang biasa digunakkan dalam network planning,
yaitu metode lintasan kritis/Critical Path Method (CPM) dan teknik menilai dan
meninjau kembali program/Program Evaluation Review and Technique (PERT).
CPM (Critical Path Method) adalah metode yang berorientasi pada waktu yang
mengarah pada penentuan jadwal dan estimasi waktunya bersifat
deterministik/pasti. Sedangkan PERT (Program Evaluation Review and Technique)
adalah metode berorientasi pada waktu mengarah pada penentuan jadwal dan
waktunya bersifat probabilistik/kemungkinan.
2.2. CPM (Critical Path Method)
2.2.1. Metode CPM
Critical Path Method (CPM) yang bisa disebut juga jalur kritis, merupakan
sebuah metode yang dikembangkan oleh J. E. Kelly dari perusahaan Remington
Rand dan M. R. Walkerdari DuPoint dalam rangka mengembangkan suatu sistem
kontrol manajemen. Sistem ini bertujuan untuk merencanakan dan mengendalikan
sejumlah besar kegiatan yang memiliki ketergantungan yang kompleks dalam
masalah desain dan konstruksi.
Dalam perhitungan penentuan waktu penyelesaian, Menurut Handoko
dalam Dimyati dan Nurjaman (2014), dalam proses identifikasi jalur kritis ada
beberapa istilah atau pengertian yang digunakan, yaitu sebagai berikut:
Earliest Start Time (ES)
Waktu paling awal (tercepat) suatu kegiatan dapat dimulai, dengan
memperhatikan waktu kegiatan yang diharapkan dan persyaratan urutan
pengerjaan
Latest Start Time (LS)
Waktu paling lambat untuk dapat memulai suatu kegiatan tanpa penundaan
keseluruhan proyek
Earliest Finish Time (EF)
Waktu paling awal kegiatan dapat diselesaikan, atau sama dengan ES +
Waktu kegiatan yang diharapkan
Latest Finish Time (LF)
Waktu paling lambat untuk dapat menyelesaikan suatu kegiatan tanpa
penundaan penyelesaian proyek secara keseluruhan, atau sama dengan LS
+Waktu kegiatan yang diharapkan.
Activity Duration Time (t)
Kurun waktu yang diperlukan untuk suatu kegiatan (hari, minggu, bulan).
Menurut Clara (2009) melalui jalur kritis ini, pelaksana dapat mengetahui
pekerjaan-pekerjaan yang rawan dan berpengaruh dalam keseluruhan proses
kerja.
Apabila terjadi keterlambatan dan dengan mengetahui letak keterlambatan, maka
dalam pelaksanaannya dapat dilakukan tindakan antisipasi atas ketidakefesienan
waktu yang terjadi sebelumnya, sehingga keterlambatan di satu bagian tidak
merambat ke pekerjaan lainnya.
Pada metode CPM terdapat dua buah perkiraan waktu dan biaya untuk
setiap kegiatan yang terdapat dalam jaringan. Kedua perkiraan tersebut adalah
perkiraan waktu penyelesaian dan biaya yang sifatnya normal (normal estimate)
dan perkiraan waktu dan biaya yang sifatnya dipercepat (crash estimate). Pada
proses penentuan perkiraan waktu penyelesaian akan dikenal istilah jalur kritis,
yaitu jalur yang memiliki rangkaian-rangkaian kegiatan dengan total jumlah
waktu terlama dan waktu penyelesaian proyek yang tercepat. Sehingga dapat
dikatakan bahwa jalur kritis berisikan kegiatan-kegiatan kritis dari awal sampai
akhir jalur. Seorang manajer proyek harus mampu mengidentifikasi jalur kritis
dengan baik, sebab pada jalur ini terdapat kegiatan yang jika pelaksanaannya
terlambat maka akan mengakibatkan keterlambatan seluruh proyek. Pada sebuah
jaringan kerja dapat saja terdiri dari beberapa jalur kritis (Murahartawaty,2011).
2.2.2. Langkah Metode CPM
Menurut Angelin (2018) menyatakan bahwa langkah-langkah dalam
perencanaan proyek menggunakan metode CPM adalah sebagai berikut:
Tentukan rincian kegiatan
Dari rincian kegiatan yang harus dilakukan dalam sebuah proyek, tambahkan
informasi durasi dan identifikasi prasyarat kegiatan sebelumnya yang harus
terselesaikan terlebih dahulu.
Tentukan urutan kegiatan dan gambarkan dalam bentuk jaringan
Beberapa kegiatan akan dapat dimulai dengan sangat tergantung pada
penyelesaian kegiatan lain. Relasi antar kegiatan ini harus diidentifikasi dan
digambarkan secara berurutan dalam bentuk titik dan busur.
Susun perkiraan waktu penyelesaian untuk masing-masing kegiatan
Waktu yang dibutuhkan untuk menyelesaikan setiap kegiatan dapat diestimasi
menggunakan pengalaman masa lalu atau perkiraan dari para praktisi. CPM
tidak memperhitungkan variasi waktu penyelesaian, sehingga hanya waktu
perkiraan yang akan digunakkan untuk memperhitungkan waktu setiap
kegiatan.
Identifikasi jalur kritis
Jalur kritis adalah jalur yang memiliki durasi terpanjang melalui jaringan. Arti
penting dari jalur kritis adalah bahwa jika kegiatan yang terletak pada jalu
kritis tersebut tertunda, maka waktu penyelesaian proyek secara keseluruhan
otomatis juga akan tertunda. Pada jalur selain jalur kritis, akan ditemui waktu
longgar/waktu toleransi (slack time) yaitu sejumlah waktu kegiatan dapat
ditunda tanpa menunda penyelesaian proyek secara keseluruhan.
Update Diagram CPM
Pada saat proyek berlangsung, waktu penyelesaian kegiatan dapt diperbarui
sesuai dengan diperolehnya informasi dan asumsi baru. Sebuah jalur kritis baru
mungkin akan muncul, dan perubahan bentuk jaringan sangat mungkin harus
dilakukan
2.2.3. Manfaat CPM
Adapun beberapa manfaat CPM bagi suatu proyek adalah:
Memberikan tampilan grafis dari alur kegiatan sebuah proyek
Memprediksi waktu yang dibutuhkan untuk menyelesaikan sebuah proyek
Menunjukkan alur kegiatan mana saja yang penting diperhatikan dalam
menjaga jadwal penyelesaian proyek,
Menyelesaikan proyek dengan cepat,
Mengkuantifisir kemajuan proyek,
Mengkomunikasikan proyek secara efektif
2.2.4. Lintasan Kritis
Heizer dan Render (2005) menjelaskan bahwa dalam dalam melakukan
analisis jalur kritis, digunakan dua proses two-pass, terdiri atas forward pass dan
backward pass. ES dan EF ditentukan selama forward pass, LS dan LF ditentukan
selama backward pass. ES (earliest start) adalah waktu terdahulu suatu kegiatan
dapat dimulai, dengan asumsi semua pendahulu sudah selesai. EF (earliest finish)
merupakan waktu terdahulu suatu kegiatan dapat selesai. LS (latest start) adalah
waktu terakhir suatu kegiatan dapat dimulai sehingga tidak menunda waktu
penyelesaian keseluruhan proyek. LF (latest finish) adalah waktu terakhir suatu
kegiatan dapat selesai sehingga tidak menunda waktu penyelesaian keseluruhan
proyek.
ES = Max {EF semua pendahulu langsung}…………………….……… (2.1)
EF = ES + Waktu kegiatan ……………………….…………………….. (2.2)
LF = Min {LS dari seluruh kegiatan yang langsung mengikutinya}…… (2.3)
LS = LF – Waktu kegiatan ………………………………….………….. (2.4)
Setelah waktu terdahulu dan waktu terakhir dari semua kegiatan dihitung,
kemudian jumlah waktu slack (slack time) dapat ditentukan. Slack adalah waktu
yang dimiliki oleh sebuah kegiatan untuk bisa diundur, tanpa menyebabkan
keterlambatan proyek keseluruhan (Heizer dan Render, 2005).
Slack = LS – ES ………………………………….…………………….. (2.5)
atau
Slack = LF – EF ………………………………….…………………….. (2.6)
Dalam metode CPM (Critical Path Method - Metode Jalur Kritis) dikenal
dengan adanya jalur kritis, yaitu jalur yang memiliki rangkaian komponen-
komponen kegiatan dengan total jumlah waktu terlama.
Jalur kritis terdiri dari rangkaian kegiatan kritis, dimulai dari kegiatan
pertama sampai pada kegiatan terakhir proyek (Soeharto, 1999). Lintasan kritis
(Critical Path) melalui aktivitas-aktivitas yang jumlah waktu pelaksanaannya
paling lama. Jadi, lintasan kritis adalah lintasan yang paling menentukan waktu
penyelesaian proyek secara keseluruhan, digambar dengan anak panah tebal
(Badri,1997).
Menurut Badri (1997), manfaat yang didapat jika mengetahui lintasan
kritis adalah sebagai berikut :
a. Penundaan pekerjaan pada lintasan kritis menyebabkan seluruh pekerjaan
proyek tertunda penyelesaiannya.
b. Proyek dapat dipercepat penyelesaiannya, bila pekerjaan-pekerjaan yang ada
pada lintasan kritis dapat dipercepat.
c. Pengawasan atau kontrol dapat dikontrol melalui penyelesaian jalur kritis
yang tepat dalam penyelesaiannya dan kemungkinan di trade off (pertukaran
waktu dengan biaya yang efisien) dan crash program (diselesaikan dengan
waktu yang optimum dipercepat dengan biaya yang bertambah pula) atau
dipersingkat waktunya dengan tambahan biaya lembur.
d. Time slack atau kelonggaran waktu terdapat pada pekerjaan yang tidak
melalui lintasan kritis. Ini memungkinkan bagi manajer/pimpro untuk
memindahkan tenaga kerja, alat, dan biaya ke pekerjaan-pekerjaan di lintasan
kritis agar efektif dan efisien
2.2.5. Analisis Optimasi
Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia, pengertian analisis optimasi
dipecah menjadi dua, yaitu analisis dan optimasi. Analisis (analisis data) diartikan
sebagai penelaahan dan penguraian atas data hingga menghasilkan simpulan-
simpulan, sedangkan optimasi (optimalisasi) diartikan sebagai pengoptimalan,
yaitu proses, cara, perbuatan untuk menghasilkan yang paling baik.
Maharany dan Fajarwati (2006) menjelaskan bahwa analisis optimasi
merupakan suatu proses penguraian data-data awal dengan menggunakan suatu
metode sebelumnya. Dalam penelitian ini, analisis optimasi diartikan sebagai
suatu proses penguraian durasi proyek untuk mendapatkan percepatan durasi yang
paling baik (optimal) dengan menggunakan berbagai alternatif ditinjau dari segi
biaya. Proses memperpendek waktu kegiatan dalam jaringan kerja untuk
mengurangi waktu pada jalur kritis, sehingga waktu penyelesaian total dapat
dikurangi disebut sebagai crashing proyek (Heizer dan Render, 2005).
Kondisi yang diobservasi model CPM antara lain kondisi penyelesaian
proyek secara normal dan kondisi penyelesaian proyek yang dipercepat. Menurut
Siswanto (2007), dari dua kondisi yang diobservasi, model CPM menurunkan
empat macam parameter, yaitu
a. Waktu penyelesaian normal atau waktu normal (Wn)
b. Biaya penyelesaian normal atau biaya normal (Bn)
c. Waktu penyelesaian yang dipercepat atau waktu cepat (Wc)
d. Biaya penyelesaian yang dipercepat atau biaya cepat (Bc)
Gambar 2.1 Empat Parameter Model CPM
Garis yang menghubungkan kedua titik ( ) disebut kurva waktu-biaya. Menurut
Soeharto (1995), jika diketahui bentuk kurva waktu-biaya suatu kegiatan, artinya dengan
mengetahui berapa slope atau sudut kemiringannya, maka bisa dihitung berapa besar
biaya untuk mempersingkat waktu satu hari.
2.3. Jaringan Kerja
Network planning (Jaringan Kerja) pada prinsipnya adalah hubungan
ketergantungan antara bagian-bagian pekerjaan yang digambarkan atau divisualisasikan
dalam diagram network. Dengan demikian dapat dikemukakan bagian-bagian pekerjaan
yang harus didahulukan, sehingga dapat dijadikan dasar untuk melakukan pekerjaan
selanjutnya dan dapat dilihat pula bahwa suatu pekerjaan belum dapat dimulai apabila
kegiatan sebelumnya belum selesai dikerjakan. Simbol-simbol yang digunakan dalam
menggambarkan suatu network adalah sebagai berikut (Hayun, 2005) :
a. (anak panah/busur), mewakili sebuah kegiatan atau aktivitas yaitu tugas
yang dibutuhkan oleh proyek. Kegiatan di sini didefinisikan sebagai hal yang emerlukan
durasi dalam pemakaian sejumlah resources (sumber tenaga, peralatan, material, biaya).
Kepala anak panah menunjukkan arah tiap kegiatan, yang menunjukkan bahwa suatu
kegiatan dimulai pada permulaan dan berjalan maju sampai akhir dengan arah dari kiri ke
kanan. Tidak perlu menggunakan skala.
b. (lingkaran kecil/simpul/node), mewakili sebuah kejadian atau peristiwa atau
event. Kejadian (event) didefinisikan sebagai ujung atau pertemuan dari satu atau
beberapa kegiatan. Sebuah kejadian mewakili satu titik dalam waktu yang menyatakan
penyelesaian beberapa kegiatan dan awal beberapa kegiatan baru. Titik awal dan akhir
dari sebuah kegiatan karena itu dijabarkan dengan dua kejadian yang biasanya dikenal
sebagai kejadian kepala dan ekor. Kegiatan-kegiatan yang berawal dari saat kejadian
tertentu tidak dapat dimulai sampai kegiatan-kegiatan yang berakhir pada kejadian yang
sama diselesaikan. Suatu kejadian harus mendahulukan kegiatan yang keluar dari
simpul/node tersebut.
c. (anak panah terputus-putus), menyatakan kegiatan semu atau dummy
activity. Setiap anak panah memiliki peranan ganda dalam mewakili kegiatan dan
membantu untuk menunjukkan hubungan utama antara berbagai kegiatan. Dummy di sini
berguna untuk membatasi mulainya kegiatan seperti halnya kegiatan biasa, panjang dan
kemiringan dummy ini juga tak berarti apa-apa sehingga tidak perlu berskala. Bedanya
dengan kegiatan biasa ialah bahwa kegiatan dummy tidak memakan waktu dan sumbar
daya, jadi waktu kegiatan dan biaya sama dengan nol.
d. (anak panah tebal), merupakan kegiatan pada lintasan kritis.
Dalam penggunaannya, simbol-simbol ini digunakan dengan mengikuti aturan-aturan
sebagai berikut (Hayun, 2005) :
a. Di antara dua kejadian (event) yang sama, hanya boleh digambarkan satu
anak panah.
b. Nama suatu aktivitas dinyatakan dengan huruf atau dengan nomor kejadian.
c. Aktivitas harus mengalir dari kejadian bernomor rendah ke kejadian
bernomor tinggi.
d. Diagram hanya memiliki sebuah saat paling cepat dimulainya kejadian (initial
event) dan sebuah saat paling cepat diselesaikannya kejadian (terminal event).
Adapun logika ketergantungan kegiatan-kegiatan itu dapat dinyatakan
sebagai berikut :
a. Jika kegiatan A harus diselesaikan dahulu sebelum kegiatan B dapat dimulai
dan kegiatan C dimulai setelah kegiatan B selesai, maka hubungan antara
kegiatan tersebut dapat di lihat pada gambar 2.2.
Gambar 2.2.
b. Jika kegiatan A dan B harus selesai sebelum kegiatan C dapat dimulai, maka
dapat di lihat pada gambar 2.3.
Gambar 2.3.
c. Jika kegiatan A dan B harus dimulai sebelum kegiatan C dan D maka dapat di lihat
pada gambar 2.4.
Gambar 2.4.
Kegiatan A dan B merupakan pendahulu kegiatan C dan D
d. Jika kegiatan A dan B harus selesai sebelum kegiatan C dapat dimulai, tetapi D sudah
dapat dimulai bila kegiatan B sudah selesai, maka dapat dilihat pada gambar 2.5.
Gambar 2.5.
Fungsi dummy di atas adalah memindahkan seketika itu juga (sesuai dengan arah panah)
keterangan tentang selesainya kegiatan B.
e. Jika kegiatan A,B, dan C mulai dan selesai pada lingkaran kejadian yang
sama, maka kita tidak boleh menggambarkannya seperti pada gambar 2.6
Gambar 2.6.
Untuk membedakan ketiga kegiatan itu, maka masing-masing harus digambarkan
dummy seperti pada gambar 2.7.
Gambar 2.7.
`
Menurut Heizer dan Render (2005), ada dua pendekatan untuk menggambarkan
jaringan proyek, yaitu kegiatan-pada-titik (activity-on-node – AON) dan kegiatan-pada-
panah (activity-on-arrow – AOA). Pada pendekatan AON, titik menunjukkan kegiatan,
sedangkan pada AOA, panah menunjukkan kegiatan. Gambar 2.8 mengilustrasikan
kedua pendekatan tersebut.
Gambar 2.8.
Perbandingan dua pendekatan menggambarkan jaringan kerja
BAB III
PEMBAHASAN
Buat contoh perhitungan
3.1 Metode Penelitian
1. Pendekatan Penelitian
Jenis penelitian yang digunakan adalah true experiment ( eksperimen sungguhan ).
2. Tempat Pelaksanaan
Eksperimen Penelitian dilakukan di Laboratorium Rekayasa Transportasi,Jurusan
Teknik Sipil Fakultas Teknik Universitas Diponegoro.
3. Cara Pengujian
a. Tahap Persiapan Pada tahap ini dilakukan persiapan bahan-bahan dan alat-alat
yang diperlukan. Bahan : - Sampah Plastik Jenis Poly Ethylene Terepththalate -
Aspal - Pasir - Minyak Tanah - Bensin
Alat-alat yang perlu dipersiapkan dapat dilihat di tabel 3.1
Tabel 3.1 Alat-alat yang perlu di siapkan
b. Tahap Proses Pembuatan Agregat Sampah Plastik
- Tahap Pembersihan Sampah plastik yang telah dikumpulkan kemudian dibersihkan
dengan cara dicuci dengan air sampai kotorannya hilang kemudian setelah bersih,
dikeringkan.
- Tahap Pelelehan Setelah bersih sampel sampah plastik tersebut dipanaskan dengan
disimpan dalam talam lalu dimasukkan ke dalam oven sampai meleleh.
- Tahap Pencetakan Setelah plastik meleleh kemudian dikeluarkan dari oven. Setelah
itu didinginkan, setelah dingin sampel plastik tersebut akan terbentuk dengan
sendirinya menyerupai wadah yang digunakan untuk melelehkannya , setelah itu
dikeluarkan dari dalam wadahnya.
- Tahap Pemotongan Setelah dikeluarkan, sampel dipotong. Potongan sampel
tersebut diusahakan sesuai dengan ukuran gradasi agregat. Setelah itu , agregat siap
digunakan.
c. Tahap Proses Pembuatan Campuran Aspal dengan Agregat Sampah Plastik
- Tahap Penyiapan Sampel Agregat dikeringkan sampai beratnya tetap dengan suhu
110±5 ℃ kemudian dipisahkan dengan cara penyaringan kering ke dalam fraksifraksi
yang ditentukan. Setelah dingin lalu ditimbang sesuai persentase komposisi agregat.
- Tahap Pencampuran Agregat dicampur sampai suhu pencampuran 110±5 ℃,
kemudian aspal dituang ke dalam panci pencampuran dan suhu dipertahankan
sebesar 120 ℃ selama pengadukan aspal homogen.
- Tahap Pencetakan Campuran aspal yang telah homogen dipindahkan ke dalam
cetakan lalu campuran ditusuk-tusuk di dalam cetakan 15 kali di pinggir 10 kali di
tengah. Campuran juga ditumbuk sebanyak 75 kali tiap bagian sisi atas dan bawah.
Kemudian didiamkan selama 15 menit. Setelah itu , campuran dikeluarkan dari
cetakan dengan menggunakan alat injector lalu dibiarkan selama 24 jam.
3.2 Metode Pengumpulan
Data Metode pengumpulan data yang digunakan dalam penelitian ini meliputi:
1. Uji kelekatan agregat terhadap aspal Uji kelekatan agregat terhadap aspal
merupakan pengujian untuk mendapatkan persentase luas permukaan agregat tertutup
aspal terhadap keseluruhan agregat.
2. Marshall test Marshall test dilakukan di Laboratorium Rekayasa
Transportasi,Jurusan Teknik Sipil Fakultas Teknik Universitas Diponegoro.
Pengujian ini bertujuan untuk menentukan jumlah pemakaian aspal yang tepat
sehingga dapat menghasilkan komposisi yang baik antara agregat dan aspal dengan
persyaratan teknis perkerasan jalan yang ditentukan.
3.3 Analisa Data
Data hasil penelitian akan dilakukan analisa data berupa seberapa besar kemampuan
agregat buatan hasil daur ulang sampah plastik yang melekat terhadap aspal, serta
menentukan komposisi agregat yang baik dalam campuran aspal beton dengan
menggunakan agregat buatan hasil daur ulang sampah plastik.
BAB 4
PENUTUP
4.1. Kesimpulan
Berdasarkan pembahasan diatas, dapat diambil beberapa kesimpulan
diantaranya :
1. CPM (Critical Path Method ) atau Metode Jalur Kritis merupakan model
kegiatan proyek yang digambarkan dalam bentuk jaringan. Kegiatan yang
digambarkan sebagai titik pada jaringan dan peristiwa yang menandakan awal
atau akhir dari kegiatan digambarkan sebagai busur atau garis antara titik.
2. Adapun beberapa manfaat CPM (Critical Path Method ) bagi suatu proyek
adalah :
• Memberikan tampilan grafis dari alur kegiatan sebuah proyek,
• Memprediksi waktu yang dibutuhkan untuk menyelesaikan sebuah proyek,
• Menunjukkan alur kegiatan mana saja yang penting diperhatikan dalam
menjaga jadwal penyelesaian proyek,
• Menyelesaikan proyek dengan cepat,
• Mengkuantifisir kemajuan proyek,
• Mengkomunikasikan proyek secara efektif
3. Membuat dan menentukan CPM dapat dilakukan dengan mengikuti
tahapan analisis jaringan kerja CPM, membuat diagram jaringan kerja dan
menentukan waktu penyelesaian proyek dengan beberapa metode perhitungan.
DAFTAR PUSTAKA
Komarudin. 2010. Metode Jalur Kritis (Critical Path Method) untuk Manajemen
Proyek. [Link]
manajemen-proyek-critical-path-method, diakses pada 15 Maret 2020 pukul 20.13.
Lenggogeni, I. W. (2013). Manajemen Konstruksi. Bandung: PT. Remaja
Rosdakarya.
Prawira, Bayu. 2014. Critical Path Method (CPM). [Link]
teknologi/[Link], diakses pada 14 Maret 2020 pukul 17.40.
Sekretariat Yayasan Penabulu. 2019. Apa itu CPM (Critical Path Method)?.
[Link] diakses pada 13 Maret 2020
pukul 18.00
LAPORAN KERJA PRAKTEK IMPLEMENTASI METODE CRITICAL PATH
METHOD(CPM) TERHADAP PENJADWALAN PROYEK VTV PADAPT.
TOYOTA MOTOR MANUFACTURING INDONESIA (TMMIN)
OPTIMALISASI PELAKSANAAN PROYEK DENGAN METODE PERT DAN
CPM (Studi Kasus Twin Tower Building Pasca Sarjana Undip)