Tekanan adalah salah satu Ilmu fisika yang diterapkan untuk menyatakan besaran gaya yang
bekerja pada satuan luas yang tertentu, untuk besarnya tekanan yang dihasilkan dari sebuah gaya,
maka hasilnya akan berbanding lurus dengan besaran gaya serta berbanding terbalik dengan luas
bidang tekanan.
Dari penyataan tersebut bisa juga kita ketahui bahwa semakin besar gaya yang diberikan maka
semakin besar juga tekanan yang dihasilkan, selain itu semakin kecil gaya maka akan semakin
kecil pula tekanannya.
Namun sebaliknya jika semakin besar luas bidang tekanan maka semakin kecil pula tekanan
yang dihasilkan.
Untuk itu rumus tekanan bisa juga diartikan sebagai berikut :
Dari rumus tekanan tersebut terdapat beberapa poin yang penting maka sebaiknya perlu kita
perhatikan yaitu penentuan luas bidang tekanan. Bidang tekanan merupakan bidang yang
memperoleh tekanan atau yang bersentuhan langsung dengan bidang gaya.
Berdasarkan rumus di atas maka luas bidang sentuh memang sangatlah mempengaruhi besaran
tekanan yang dihasilkan. Semakin kecil nilai dari luas bidang tekanan maka akan semakin besar
nilai tekanan yang dihasilkan.
Misalnya saja saat kita memasang paku yang runcing dibandingkan paku yang tumpul. Hal
tersebut bisa juga disebabkan karena paku yang runcing mempunyai luas bidang tekanan yang
lebih kecil.
Dengan demikian gaya yang sama bisa dihasilkan tekanan yang lebih besar.
Jenis – Jenis Tekanan
Secara umum terdapat dua jenis tekanan, jika tekanan itu berhubungan dengan zat cair disebut
dengan Tekanan Hidrostatis, sedangkan tekanan yang berhubungan dengan zat gas
disebut Tekanan Udara.
Tekanan Hidrostatis
Sesuai dengan namanya, kata hidrostatis berasal dari dua kata, yaitu “hidro“yang di
artikan air dan “statis” yang diartikan tetap, jadi tekanan hidrostatis merupakan tekanan pada zat
cair dalam keadaan diam.
Tekanan hidrostatis ini ada pada keseimbangan zat yang cair dalam posisi diam karena
dipengaruhi oleh gaya gravitasi. Tekanan Hidrostatis tidak dipengaruhi oleh volume dari zat cair
tersebut.
Tiga hal utama yang mempengaruhi tekanan hidrostatis pada suatu tempat adalah :
Gaya gravitasi pada tempat itu
Kedalaman
Massa jenis zat cair tersebut
Tekanan Udara
Tekanan udara ialah tekanan yang menggerakkan massa udara dalam setiap satuan luas tertentu,
alat ukur yang digunakan untuk mengukur tekanan udara disebut barometer. Satuan dari tekanan
udara adalah milibar (mb).
Besarnya tekanan udara mampu membandingkan suatu hal yang terbalik dengan ketinggian
suatu tempat, semakin tinggi tempat tersebut, maka semakin rendah tekanan udara yang di
hasilkan, demikian pula sebaliknya.
Contoh Rumus Tekanan
Berikut contoh dari rumus tekanan :
Rumus Tekanan
Ilmu Fisaka Yang Berhubungan Dengan Rumus
Tekanan
Besaran Gaya
Besaran Gaya adalah segala bentuk interaksi yang dapat menyebabkan sebuah benda mengalami
perubahan gerak dari berbagai sisi, yang dinilai dari arah nya, gaya merupakan besaran vektor
fisika karena gaya memiliki nilai dan arah tertentu.
Sedangkan dari sudut pandang jenis nya, gaya juga termasuk besaran turunan karena nilainya
didapatkan bukan dari pengukuran langsung melainkan dengan menghubungkan dari besaran-
besaran pokok yang mempengaruhi.
Satuan Internasional (SI) yang bisa dipakai untuk gaya adalah Newton (N), simbol yang
digunakan untuk melambangkan gaya adalah F (huruf kapital).
Alat ukur yang bisa digunakan untuk mengukur gaya adalah Dinamometer atau Neraca pegas,
untuk mempengaruhi benda, gaya dapat mengubah posisi benda tersebut, mengubah pergerakan
nya, atau pun mengubah bentuk benda.
Untuk melakukan sebuah gaya harus diperlukan usaha, semakin besar gaya yang diinginkan
maka semakin besar pula gaya yang harus dilakukan.
Besaran Luas
Besaran Luas adalah besaran turunan fisika yang menyatakan sebuah ukuran dua dimensi dari
suatu bagian permukaan. Nilainya didapatkan dari perkalian dua satuan panjang sebuah objek.
Satuan Internasional (SI) untuk luas adalah meter persegi (m2). Simbol yang digunakan untuk
melambangkan luas adalah A (huruf kapital), beberapa bentuk objek tersebut akan
mempengaruhi bentuk luasnya.
Contohnya :
Jika bentuk objek bujur sangkar maka luas yang didapatkan dari perkalian kedua sisinya,
Jika bentuk objek persegi panjang, maka luas didapatkan dari perkalian panjang dan
lebarnya,
Jika bentuk objek lingkaran, maka luas didapatkan dari perkalian PHI dengan jari-jari
pangkat dua,
Jika bentuknya segitiga, luas objek didapatkan dari perkalian alas dengan tingginya.
Hukum – Hukum Tekanan
Hukum Pascal
Blaise Pascal mengemukakan hukum Pascal yang berbunyi: “ Tekanan yang diberikan zat cair di
dalam ruang tertutup diteruskan oleh zat cair itu ke segala arah dengan sama besar”
Keterangan:
F1= gaya pada penampang A1 (N)
A1=luas penampang 1 (m2)
F2= gaya pada penampang A2 (N)
A2=luas penampang 2 (m2)
Hukum Archimedes
Jika sebuah benda dicelupkan ke dalam zat cair, maka benda tersebut akan mendapat gaya yang
disebut gaya apung sebesar berat zat cair yang dipindahkannya. Akibat adanya gaya apung, berat
benda dalam zat cair akan berkurang. Benda yang diangkat dalam zat cair akan terasa lebih
ringan dibandingkan diangkat di darat. Berat ini disebabkan berat semu dan dirumuskan sebagai
berikut:
Wsemu = Wbenda – Fa
Dengan :
Wsemu = berat benda dalam zat cair (kgm/s2)
Wbenda = berat benda sebenarnya (kgm/s2)
Fa = Gaya Apung (N)
Besarnya gaya apung dirumuskan sebagai berikut :
Fa = ρcair. Vbenda. g
Dengan:
Fa = gaya Apung (N)
ρcair = massa jenis zat cair (kg/m3)
Vbenda = Volume benda (m3)
g = gaya gravitasi (9,8 m/s2)
Hukum Boyle
Robert Boyle (1627-1691) telah melakukan penelitian untuk mengetahui hubungan antara
tekanan dan volume gas pada suhu yang konstan. Dari hasil penelitiannya, ia menyatakan bahwa:
“Hasil kali tekanan dan volume gas dalam ruangan tertutup adalah tetap/konstan”. Secara
matematis dapat ditulis:
P.V = konstan atau P1.V1=P2.V2
Penerapan Hukum Boyle terdapat pada prinsip kerja pompa. Pompa adalah alat yang digunakan
untuk memindahkan gas atau zat cair. Berdasarkan prinsip kerja ini, pompa dikelompokkan
menjadi dua jenis, yaitu pompa hisap dan pompa tekan.
Macam – Macam Contoh Soal Menghitung Rumus
Tekanan
Untuk memudahkan kita agar lebih muda untuk memahami penggunaan rumus tekanan, maka
kita perhatika contoh soal di bawah ini.
Perhatikan contoh soal berikut ini:
Contoh Soal 1
Sebuah kotak memiliki massa 15kg dengan panjang alasnya 7m dan 3m. Bila kota tersebut
diletakkan di atas meja yang luas permukan nya 100m2 , maka hitunglah nilai dari tekanan yang
dihasilkan oleh kota tersebut.
m = 15 kg
p = 7m
l = 3m
Luas bidang tekanan
A= p xl
A=7x3
A = 15 m2
P= F/A
P= M.g/A
P=15 x 10 /15
P= 160/15
P = 10 N/m2
Jadi besarnya tekanan yang dihasilkan oleh kotak tersebut yaitu 10 N/m2.
Contoh Soal 2
Beberapa tekanan yang dialami benda yang dikenakan gaya 130 N pada bidang seluas 2 m2 ?
Jawab:
Gaya, F = 130 N
Luas, A = 2 m2
P = F/A
P = 130/2 = 65 N/m2
Jadi tekanan yang dialami benda tersebut adalah 65 N/m2 atau 65 Pa
Contoh Soal 3
Gaya sebesar 44 N mampu bekerja pada permukaan suatu benda seluas 1.000 cm2. Hitunglah
sebuah tekanan yang diberikan pada benda tersebut.
Jawab:
Gaya, F = 44 N
Luas, A = 1.000 cm2 = 1.000/10.000 m2 = 0,1 m2
P = F/A
P = 44/0,1 = 440 N/m2
Jadi tekanan yang diberikan benda tersebut adalah 440 N/m2 atau 440 Pa
Volume
Dalam termodinamika, volume dari sebuah sistem termodinamika adalah suatu parameter
ekstensif untuk menjelaskan keadaan termodinamika. Volume spesifik, adalah properti intensif,
adalah volume per satuan massa. Volume merupakan fungsi keadaan dan interdependen dengan
properti termodinamika lainnya seperti tekanan dan suhu. Contohnya, volume berhubungan tekanan
dan suhu gas ideal melalui hukum gas ideal.
Volume fisik dari sebuah sistem dapat sama atau berbeda dari volume kontrol yang digunakan untuk
menganalisis sistem.
Rumus volume
Nama Bangun Rumus Volume Bangun Ruang
Kubus
Volume Kubus = pangkat 3 dari sisi
V = s x s x s = s3
Balok
Volume Balok = panjang x lebar x tiggi
V=pxlxt
Tabung
Volume Tabung = Luas Alas x Tinggi
V = Π r2 t
*alas tabung berbentuk lingkaran
Volume Kerucut = 1/3 x Luas Alas x Tinggi
V = 1/3 Πr2 t
*alas tabung berbentuk lingkaran
Kerucut
Bola
Volume Bola = 4/3 Π r3r = jari-jari
Limas
Volume Limas = 1/3 x Luas Alas* x Tinggi
*Tergantung Jenis Alasnya, sama seperti pada
volume prisma
Prisma Volume Prisma = Luas Alas* x Tinggi
*Tergantung Jenis Alasnya
Jika Prisma segitiga (alas segitiga)
V = 1/2 at x Tinggi PrismaJika Segi Empat
(alas persegi)
V= s2 x Tinggi Prisma
Alat ukur dan cara pengukurannya
Alat Ukur Volume
Volume atau isi merupakan besaran turunan dari panjang, panjang, dan panjang. Satuan volume
menurut SI adalah meter kubik (m3).
Mengukur volume dapat menggunakan rumus seperti pada gambar di samping ini. Sedangkan
untuk benda yang tidak beraturan seperti batu, untuk mengukur volumenya menggunakan alat
ukur yang berupa gelas ukur dan gelas pancuran disertai gelas ukur.
1) Gelas Ukur
Gambar: Gelas Ukur
Masukkan sejumlah air ke dalam gelas ukur, kemudian catat volume airnya sebagai V1.
Masukkan batu ke dalam gelas ukur itu, kemudian catat volume airnya sebagai V2. Maka hitung
kenaikan airnya dengan rumus V2 – V1 sebagai volume batu itu.
2) Gelas Pancuran
Gambar: Gelas Pancuran
Masukkan sejumlah air ke dalam gelas pancuran sampai air ke tepi pancurannya. Letakkan gelas
ukur tepat di bagian bawah pancurannya. Masukkan batu yang akan diukurnya.
Air yang ada di dalam gelas pancuran terdesak ke luar yang akan ditampung oleh gelas ukur.
Volume air yang ada di gelas ukur sama dengan volume batu.
Temperature
Suhu (temperatur) merupakan ukuran mengenai panas atau dinginnya suatu zat atau benda. Oven yang
panas dikatakan bersuhu tinggi, sedangkan es yang membeku dikatakan memiliki suhu rendah.
Suhu dapat mengubah sifat zat, contohnya sebagian besar zat akan memuai ketika dipanaskan.
Sebatang besi lebih panjang ketika dipanaskan daripada dalam keadaan dingin. Jalan dan trotoar beton
memuai dan menyusut terhadap perubahan suhu. Hambatan listrik dan materi zat juga berubah terhadap
suhu. Demikian juga warna yang dipancarkan benda, paling tidak pada suhu tinggi. Kalau kita perhatikan,
elemen pemanas kompor listrik memancarkan warna merah ketika panas. Pada suhu yang lebih tinggi,
zat padat seperti besi bersinar jingga atau bahkan putih. Cahaya putih dari bola lampu pijar berasal dari
kawat tungsten yang sangat panas.
Alat Ukur Suhu (Temperatur)
Alat yang dirancang untuk mengukur suhu suatu zat disebut termometer. Ada beberapa jenis termometer,
yang prinsip kerjanya bergantung pada beberapa sifat materi yang berubah terhadap suhu. Sebagian
besar termometer umumnya bergantung pada pemuaian materi terhadap naiknya suhu. Ide pertama
penggunaan termometer adalah oleh Galileo, yang menggunakan pemuaian gas, tampak seperti pada
gambar berikut.
termometer umum saat ini terdiri dari tabung kaca dengan ruang di tengahnya yang diisi air raksa atau
alkohol yang diberi warna merah.
Termometer yang saat ini banyak digunakan adalah termometer raksa karena di dalam termometer ini
terdapat air raksa. Raksa berfungsi untuk menunjukkan suhu jika termometer menunyentuh benda yang
lebih hangat dari raksa maka raksa akan mengembang.
Raksa mempunyai beberapa keunggulan yaitu:
• Peka terhadap perubahan suhu
• Dapat digunakan untuk mengukur suhu tinggi dan rendah.
• Tidak membasahi dinding kaca
• Mengkilap seperti perak sehingga mudah dilihat.
• Mengembang dan memuai secara teratur.
Termometer dibedakan menjadi 4 jenis menurut bahan yang digunakan dalam termometer tersebut
yaitu:
1. Termometer dengan bahan zat cair
Bahan yang paling sering dipakai untuk membuat termometer adalah zat zair.
Berikut adalah jenis termometer:
• Termometer Laboratrium
Alat ini biasanya digunakan untuk mengukur suhu air dingin atau suhu air yang sedang dipanaskan.
Termometer laboraturium menggunakan raksa atau alkohol sebagai petunjuk suhu.
• Termometer Ruang
Termometer ruang bisanya di pasang pada dinding rumah atau kantor. Terometer ruang mengukur suhu
keadaan suatu saat. Skala termometer ini adalah dari -50 °C sampai 50 °C.
• Termometer klinis
Termometer klinis disebut juga termometer demam. Biasanya dokter memakai termometer ini untuk
mengukur suhu tubuh pasien. Pada keadaan sehat, suhu tubuh manusia 37 °C. Tetapi jika pada saat
demam suhu akan naik melebihi angka tersebut, bahkan bisa mencapai angka 40 °C. Skala pada
termometer klinis hanya dari 35 °C hingga 43 °C. Hal ini sesuai dengan suhu tubuh manusia, suhu tubuh
tidak mungkin di bawah 35 °C dan melebihi 43 °C.
Termometer Six-Bellani
Termometer Six-Bellani disebut juga sebagai termometer maksimum-minimum. Termometer ini dapat
mencatat suhu tertinggi dan suhu terendah dalam jangka waktu tertentu. Termometer ini mempunyai 2
cairan, yaitu alkohol dan raksa dalam satu termometer.
2. Termometer dengan bahan zat padat
• Termometer Bimetal
Termometer Bimetal menggunakan logam untuk mengukur adanya suhu dengan prinsip logam akan
memuai jika dipanaskan dan menyusut jika didinginkan.
• Termometer Hambatan
Terometer hambatan merupakan termometer yang paling tepat digunakan dalam industri untuk
mengukur suhu lebih dari 100°C. Termometer ini dibuat berdasarkan perubahan hambatan logam.
• Termometer Termokopel
Termometer temokopel adalah jenis sensor suhu yang digunakan untuk mengukur atau mendeteksi
suhu melalui dua jenis logam konduktorberbeda yang digabungkan pada ujungnya sehingga
menimbukan efek “Termo – electric”. Termokopel adalah salah satu jenis sensor suhu yang paling
populer dan sering digunakan dalam bebagai rangkaian ataupun peralatan listrik dan macam – macam
elektronika yang berkaitan dengan suhu.
3. Termometer dengan bahan gas
Termometer gas adalah jenis termometer yang memanfaatkan sifat pemuaian gas apabila terjadi
perubahan suhu. gas Hidrogen dan gas Helium merupakan gas yang umum digunakan sebagai bahan
termometer ini.
4. Termometer Optis
• Pirometer
Intensitas radiasi yang dipancarkan oleh benda yang sangat panas yang termometer pirometer ini
berfungsi untuk menunjukkan suhu. Sifat termometrik ini dimanfaatkan untuk mengukur suhu pada
pirometer.
• Termometer Inframerah.
Termometer Inframerah berfungsi untuk mengetahui suhu benda dengan menyinarkan inframerah ke
benda tersebut.
Mengukur Suhu (Temperatur)
Untuk mengukur suhu secara kuantitatif, perlu didefinisikan semacam skala numerik. Skala yang paling
banyak dipakai sekarang adalah skala Celsius, kadang disebut skala Centigrade. Di Amerika Serikat,
skala Fahrenheit juga umum digunakan. Skala yang paling penting dalam sains adalah skala absolut atau
Kelvin.
Satu cara untuk mendefinisikan skala suhu adalah dengan memberikan nilai sembarang untuk dua suhu
yang bisa langsung dihasilkan. Untuk skala Celsius dan Fahrenheit, kedua titik tetap ini dipilih sebagai
titik beku dan titik didih dari air, keduanya diambil pada tekanan atmosfer. Titik beku zat didefinisikan
sebagai suhu di mana fase padat dan cair ada bersama dalam kesetimbangan, yaitu tanpa adanya zat
cair total yang berubah menjadi padat atau sebaliknya. Secara eksperimen, hal ini hanya terjadi pada
suhu tertentu, untuk tekanan tertentu. Dengan cara yang sama, titik didih didefinisikan sebagai suhu di
mana zat cair dan gas ada bersama dalam kesetimbangan. Karena titik-titik ini berubah terhadap
tekanan, tekanan harus ditentukan (biasanya sebesar 1 atm).
Pada skala Celsius, titik beku dipilih 0 oC (“nol derajat Celsius”) dan titik didih 100 oC. Pada skala
Fahrenheit, titik beku ditetapkan 32 oF dan titik didih 212 oF. Termometer praktis dikalibrasi dengan
menempatkannya di lingkungan yang telah diatur dengan teliti untuk masing-masing dari kedua suhu
tersebut dan menkitai posisi air raksa atau penunjuk skala. Untuk skala Celsius, jarak antara kedua tanda
tersebut dibagi menjadi seratus bagian yang sama dan menyatakan setiap derajat antara 0 oC dan
100 oC. Untuk skala Fahrenheit, kedua titik diberi angka 32 oF dan 212 oF, jarak antara keduanya dibagi
menjadi 180 bagian yang sama. Untuk suhu di bawah titik beku air dan di atas titik didih air, skala dapat
dilanjutkan dengan menggunakan selang yang memiliki jarak sama. Bagaimana pun, termometer biasa
hanya dapat digunakan pada jangkauan suhu yang terbatas karena keterbatasannya sendiri.
Konversi skala termometer Fahrenheit, Celcius dan Kelvin
Setiap suhu pada skala Celsius berhubungan dengan suatu suhu tertentu pada skala Fahrenheit.
Gambar diatas menunjukkan konversi suhu suatu zat dalam skala Celsius dan Fahrenheit. Tentunya
sangat mudah untuk mengonversikannya, mengingat bahwa 0 oC sama dengan 32 oF, dan jangkauan
100o pada skala Celsius sama dengan jangkauan 180o pada skala Fahrenheit. Hal ini berarti
1 oF = oC = oC.
Perbandingan beberapa skala termometer adalah sebagai berikut:
TC : (TF – 32) : TR = 5 : 9 : 4
Konversi antara skala Celsius dan skala Fahrenheit dapat dituliskan:
TC = (TF – 32) atau TF = TC + 32
Konversi antara skala Celsius dan skala Reamur dapat dituliskan:
TC = TR atau TR = TC
Konversi antara skala Fahrenheit dan skala Reamur dapat dituliskan:
TR = (TF – 32) atau TF = TR + 32
Persamaan-persamaan diatas merupakan rumus untuk konversi suhu (temperatur) termometer.
TINGGAL CARII BAB 1
MATERI DAH KELAR