MAKALAH E-COMMERCE
BAB 1
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Perkembangan internet menyebabkan terbentuknya dunia baru yang
disebut dunia maya. Di dunia maya, setiap individu memiliki hak dan
kemampuan untuk berinteraksi dengan individu lain tanpa batasan
apapun yang dapat menghalanginya. Globalisasi yang sempurna
sebenarnya telah berjalan di dunia maya yang menghubungkan seluruh
komunitas digital. Dari seluruh aspek kehidupan manusia yang terkena
dampak kehadiran internet, sektor bisnis merupakan sektor yang paling
terkena dampak dari perkembangan teknologi informasi dan
telekomunikasi serta paling cepat tumbuh.
Mobilitas manusia yang tinggi menuntut dunia perdagangan mampu
menyediakan layanan jasa dan barang dengan cepat sesuai permintaan
konsumen. Untuk mengatasi masalah tersebut, kini muncul transaksi
yang menggunakan media internet untuk menghubungkan produsen dan
konsumen. Transaksi bisnis melalui internet lebih dikenal dengan nama
e-business dan e-commerce. Melalui e-commerce, seluruh manusia
dimukabumi memiliki kesempatan dan peluang yang sama untuk
bersaing dan berhasil berbisnis di dunia maya.
1.2 Rumusan Masalah
1. Pengertian e-commerce
2. Perkembangan e-commerce
3. Keuntungan dan kekurangan e-commerce
4. Hubungan hukum antar pelaku e-commerce
5. Contoh-contoh permasalahan e-commerce
6. E-commerce dalam perspektif hukum
7. Perlindungan konsumen terhadap transaksi e-commerce
1.3 Tujuan
1. Mengetahui pengertian e-commerce
2. Mengetahui perkembangan e-commerce
3. Mengetahui keuntungan dan kekurangan e-commerce
4. Mengetahui hubungan hukum antar pelaku dan e-commerce
5. Mengetahui contoh permasalahan e-commerce
6. Mengetahui E-commerce dalam perspektif hukum
7. Mengetahui Perlindungan konsumen terhadap transaksi e-commerce
BAB 2
PEMBAHASAN
2.1 Pengertian e-commerce
E-Commerce adalah aktivitas penyebaran, penjualan, pembelian,
pemasaran produk (barang dan jasa), dengan memanfaatkan jaringan
telekomunikasi seperti internet dan jaringan komputer. Arti E-
commerce (E L E C T RO NIC C O MM E RCE ) dapat juga didefinisikan
sebagai aktivitas penggunaan teknologi informasi dan komunikasi
pengolahan digital dalam melakukan transaksi bisnis untuk menciptakan,
mengubah, dan mendefenisikan kembali hubungan antara penjual dan
pembeli. Secara sederhana pengertian E-commerce dapat diartikan
sebagai aktivitas transaksi jual-beli barang, servis atau transmisi dana
atau data dengan menggunakan elektronik yang terhubung dengan
internet. Transaksi e-commerce ini bukan lagi hal baru di tanah air,
bahkan perkembangannya terbilang sangat pesat.
Adapun pengertian e-commerce menurut para ahli, yaitu sebagai
berikut:
1. Loudon (1998)
Menurut Loudon pengertian E-Commerce adalah suatu proses
transaksi yang dilakukan oleh pembeli dan penjual dalam membeli
dan menjual berbagai produk secara elektronik dari perusahaan ke
perusahaan lain dengan menggunakan komputer sebagai perantara
transaksi bisnis yang dilakukan.
2. Kalakota dan Whinston (1997)
Menurut Kalakota dan Whinston pengertian E-commerce adalah
aktivitas belanja online dengan menggunakan jaringan internet serta
cara transaksinya melalui transfer uang secara digital. Keduanya
meninjau pengertian E-Commerce dari empat perspektif, yaitu:
Perspektif Komunikasi; Pengertian E-Commerce adalah sebuah
proses pengiriman barang, layanan, informasi, atau pembayaran
melalui jaringan komputer ataupun peralatan elektronik lainnya.
Perspektif Proses Bisnis; Defenisi E-Commerce adalah aplikasi
dari sebuah teknologi menuju otomatisasi dari transaksi bisnis dan
aliran kerja.
Perspektif Layanan; E-Commerce adalah alat yang dapat
memenuhi keinginan perusahaan, manajemen, dan konsumen untuk
mengurangi biaya layanan (service cost) ketika meningkatkan
kualitas barang dan meningkatkan kecepatan layanan pengiriman.
Perspektif Online; E-Commerce menyediakan kemudahan untuk
menjual dan membeli produk serta informasi melalui layanan
internet maupun sarana online yang lainnya
3. Jony Wong
Menurut Jony Wong Pengertian E-Commerce (Perdagangan
Elektronik) adalah pembelian, penjualan, dan pemasaran barang serta
jasa melalui sistem elektronik.
4. Vermaat
Menurut Vermaat pengertian E-Commerce adalah transaksi bisnis
yang terjadi dalam jaringan elektronik seperti internet. Dengan kata
lain, siapapun yang memiliki jaringan internet dapat berpartisipasi
dalam kegiatan E-Commerce.
2.2 Perkembangan e-commerce
Perkembangan e-commerce tidak terlepas dari laju pertumbuhan
internet, karena e-commerce berjalan melalui jaringan dan koneksi
internet. Pertumbuhan pengguna internet yang sedemikian pesatnya
membuat internet menjadi salah satu media yang efektif bagi perusahaan
maupun perseorangan untuk memperkenalkan dan menjual barang atau
jasa kepada konsumen dari seluruh dunia. Sebagai perdagangan yang
berbasis teknologi canggih, e-commerce telah mereformasi perdagangan
konvensional di mana interaksi antara konsumen dan perusahaan
dilakukan secara langsung menjadi interaksi yang tidak langsung. E-
commerce telah merubah paradigma bisnis klasik dengan menumbukan
model-model interaksi antara produsen dan konsumen di dunia virtual.
Industri teknologi informasi melihat kegiatan e-dagang sebagai aplikasi
dan penerapan dari ebusiness yang berkaitan dengan transaksi komersial,
seperti: transfer dana secara elektronik, SCM (supply chain
management), e-marketing, pemrosesan transaksi online (online
transaction processing), serta pertukaran data elektronik (electronic data
interchange /EDI), dll. E-commerce merupakan model bisnis modern
non-fice (tidak menghadirkan pelaku bisnis secara fisik), dan non-sign
(tidak memakai tanda tangan asli). Sistem perdagangan yang dipakai
dalam ecommerce dirancang untuk menandatangani secara elektronik.
Penandatanganan tersebut dirancang mulai dari pembelian, pemeriksaan,
dan pengiriman. Dalam bisnis e-commerce, ketersediaan informasi yang
benar dan akurat mengenai konsumen dan perusahaan merupakan suatu
persyaratan mutlak.
2.3 Keuntungan dan kerugian e-commerce
Banyak keuntungan yang dapat diterima e-commerce dan tidak dapat
diperoleh melalui transaksi konvensional. Keuntungan penggunaan e-
commerce dapat dibagi menjadi dua bagian, yaitu keuntungan bagi
pedagang dan keuntungan bagi pembeli.
Adapun keuntungan bagi pedagang diantaranya :
1. Aliran pendapatan baru yang mungkin lebih menjanjikan, sehingga
tidak bisa ditemui di sistem transaksi tradisional.
2. Melebarkan jangkauan (global reach). Jika sebelumnya pedagang
hanya memiliki toko fisik, maka transaksi penjualan dibatasi oleh
wilayah geografis yang dapat [Link] munculnya
mCommerce, yaitu, e-commerce pada perangkat mobile, telah
memutuskan segala keterbatasan geografis yang tersisa.
3. Menurunkan biaya operasional. Berhubungan langsung dengan
pelanggan melalui internet dapat menghemat kertas dan biaya telepon,
tidak perlu menyiapkan tempat ruang pamer (outlet), staf operasional
yang banyak, gudang yang besar dan sebagainya;
4. Memperpendek product cycle dan management supplier. Perusahaan
dapat memesan bahan baku atau produk supplier langsung ketika ada
pemesanan sehingga perputaran barang lebih cepat dan tidak perlu
gudang besar untuk menyimpan produk – produk tersebut;
5. Waktu operasi tidak terbatas. Bisnis melalui internet dapat dilakukan
selama 24 jam per hari, 7 hari per minggu;
6. Pelayanan ke pelanggan lebih baik. Melalui internet pelanggan bisa
menyampaikan kebutuhan maupun keluahan secara langsung sehingga
perusahaan dapat meningkatkan pelayanannya.
7. Mengurangi penggunaan paper/kertas di berbagai aktifitas mulai dari
tahapan desain, produksi, pengepakan, pengiriman, distribusi, hingga
marketing.
Bisnis e-commerce juga mendatangkan keuntungan bagi pembeli,
antara lain :
1. Home Shopping. Pembeli dapat melakukan transaksi dari rumah
sehingga dapat menghemat waktu, menghindari kemacetan, dan
menjangkau toko-toko yang jauh dari lokasi;
2. Mudah dilakukan. Tidak perlu pelatihan khusus untuk bisa belanja
atau melakukan transaksi melalui internet;
3. Pembeli memiliki pilihan yang sangat luas dan dapat membandingkan
produk maupun jasa yang ingin dibelinya;
4. Tidak dibatasi waktu. Pembeli dapat melakukan transaksi kapan saja
selama 24 jam per hari, 7 hari per minggu;
5. Pembeli dapat mencari produk yang tidak tersedia atau sulit diperoleh
di outletoutlet/pasar tradisional.
E-Commerce juga memiliki beberapa kerugian yaitu :
1. Segala jenis penipuan masih banyak tersebar
2. Pembeli tidak dapat melihat kondisi fisik pada barang
3. Tidak adanya jaminan kualitas produk
4. Kehilangan kesempatan bisnis karena ganguan pelayanan seperti
listrik yang tiba-tiba padam
5. Hacking atau peretasan pada sebuah situs
Bisa disimpulkan bahwa dengan menggunakan E-Commerce kita bisa
dengan mudahnya mencari barang yang kita inginkan dengan cepat dan
praktis akan tetapi dengan E-Commerce ini kita tidak akan tahu
mengenai kondisi barang secara nyata, hanya dengan tulisan tidak akan
cukup membuat orang percaya sehingga timbul beberapa jenis penipuan
yang ada di E-Commerce ini.
2.4 E-commerce dalam perspektif hukum
Permasalahan hukum dalam e-commerce ini juga memerlukan sebuah
solusi sehingga nantinya mampu memberikan sebuah kepastian hukum
(legal certainity) dan melahirkan kepercayaan diri (self confidence) pada
para pelaku bisnis e-commerce khususnya, dan pada semua lapisan
masyarakat umumnya.
Dan akhirnya permasalahan e-commerce melalui internet juga sangat
mungkin muncul dalam kaitannya dengan kebijakan-kebijakan (policies)
pemerintah baik yang berkenaan dengan ekonomi, politik maupun social.
Permasalahan seperti ini dimungkinkan untuk muncul di permukaan
karena masalah internet bukan hanya masalah tehnologi, melainkan juga
masalah gaya hidup, budaya dan ideology, behkan juga masalah lainnya.
Ketika diadakan identifikasi permasalahan e – commerce, permasalahan-
permasalahan tersebut dapat dikategorikan di dalam dua kelompok.
Kelompok pertama kelompok permasalahan yang bersifat substantif, dan
kelompok kedua merupakan kelompok yang bersifat prosedural.
Kelompok yang bersifat substantif meliputi permasalahan keaslian data
massage dan tanda tangan elektronik (authenticity), keabsahan (validity),
kerahasiaan (privacy), keamanan (security), dan availabilitas
(availability). Sedangkan permasalahan yang bersifat prosedural adalah
masalah yurisdiksi atau forum(jurisdiction ), hukum yang diterapkan
(applicable law) dan pembuktian (evidence).
Dalam menetapkan hukum yang berlaku diketahui dari kehendak para
pihak yang mengadakan perjanjian. Disini pengadilan pertama-tama
melihat isi kontrak apakah ada klausal tentang pilihan hukum yang
dinyatakan secara tegas, dan kalau ternyata ada maka pengadilan
kemudian mengadakan dugaan hukum dengan melibatkan istilah-istilah
yang digunakan dalam perjanjian dan keadaan sekitarnya dengan
memperhatikan petunjuk dan semua unsur-unsur obyektif dan subyektif
dalam kontrak yang bersangkutan guna mengetahui untuk menentukan
pilihan yang akan esensi kehendak dan pilihan hukum yang tepat dan adil
diterapkan oleh pengadilan. Contoh seperti berikut ini : Pihak A berada
di New York dan Pihak B berada di California sedangkan kontraknya
terjadi di Virginia. Lalu terjadilah sebuah sengketa hukum dan Pihak A
menggugat Pihak B di New York. Pengadilan New York mengemukakan
yurisdiksi hukum yang tepat untuk diterapkan yaitu Virginia atau,
sebagai alternatif California. Jadi yurisdiksi yang layak dan pilihan
hukum yang bias diterapkan dapat lebih dari satu yurisdiksi. Contoh
tersebut menggambarkan betapa sulitnya menemukan suatu yurisdiksi
ketika banyak hal yang layak dipertimbangkan berkenaan dengan hal
tersebut. Bahkan lebih jauh lagi, contoh tersebut menyiratkan adanya
suatu ambivalensi yang terlahir dari kompleksitas permasalahan tersebut.
2.5 Hubungan hukum antar pelaku e-commerce
Perbincangan mengenai electronic commerce, yang biasa disebut e-
Commerce, tampaknya tidak ada hentinya di Indonesia. Perkembangan
bisnis via internet ini semakin diminati. Tuntutan semakin besar untuk
segera mengatur e-Commerce dalam suatu peraturan perundang-
undangan. Berbagai permasalahan hukum ditemui dalam e-Commerce,
termasuk mengenai hubungan hukum antar para pelakunya. Hukum harus
dapat menegaskan secara pasti hubungan-hubungan hukum dari para
pihak yang melakukan transaksi e-Commerce. Namun sayangnya, dalam
konteks hukum Indonesia, ketegasan hubungan hukum itu belumlah
diatur. Oleh karenanya penulis mencoba untuk menganalisis apakah
ketentuan hukum yang ada dalam KUHPerd dan KUHD sudah cukup
relevan dan akomodatif dengan hakekat e-Commerce atau perlu regulasi
khusus yang mengatur tentang e-Commerce.
Beberapa permasalahan hukum yang muncul dalam bidang hukum
dalam aktivitas e-Commerce, antara lain:
1. Otentikasi subyek hukum yang membuat transaksi melalui internet.
2. Saat perjanjian berlaku dan memiliki kekuatan mengikat secara
hukum.
3. Obyek transaksi yang diperjualbelikan.
4. Mekanisme peralihan hak.
5. Hubungan hukum dan pertanggungjawaban para pihak yang terlibat
dalam transaksi baik penjual, pembeli, maupun para pendukung
seperti perbankan, internet service provider (ISP), dan lain-lain.
6. Legalitas dokumen catatan elektronik serta tanda tangan digital
sebagai alat bukti.
7. Mekanisme penyelesaian sengketa.
8. Pilihan hukum dan forum peradilan yang berwenang dalam
penyelesaian sengketa.
Beberapa permasalahan terhadap konsumen yang dapat disoroti akibat
tidak jelasnya hubungan hukum dalam transaksi e-Commerce. Pertama
adalah mengenai penggunaan klausul baku. Sebagaimana diketahui,
dalam kebanyakan transaksi di cyberspace, konsumen tidak memiliki
pilihan lain selain tinggal meng-click icon yang menandakan
persetujuannya atas apa yang dikemukakan produsen di website-nya,
tanpa adanya posisi yang cukup fair bagi konsumen untuk menentukan
isi klausul.
Kedua, bagaimana penyelesaian sengketa yang timbul. Para pihak
dapat saja berada pada yurisdiksi peradilan di negara yang berbeda.
Sementara perdebatan mengenai yurisdiksi penyelesaian sengketa e-
Commerce ini tampaknya masih akan cukup panjang, selama masa
penentuan saat terjadi dan di mana terjadinya perjanjian e-Commerce
masih terus menjadi perdebatan pula.
Selain itu, diperlukan pula suatu sistem dan mekanisme penyelesaian
sengketa khusus untuk transaksi-transaksi e-Commerce yang efektif dan
murah. Hal lainnya adalah masalah keamanan dan kerahasiaan data si
konsumen serta privasi dari kalangan konsumen.
Dari uraian yang telah disampaikan oleh penulis di atas, tentunya
dapat terlihat demikian rendahnya perlindungan terhadap kepentingan
konsumen. Ketidakjelasan hubungan hukum antar pelaku e-commerce,
yang tentu salah satunya bertindak sebagai konsumen, bermuara pada
kondisi tidak terlindunginya konsumen. Sudah sepatutnya apabila
konsumen, terutama konsumen terakhir sebagai sasaran terbesar dalam
transaksi e-Commerce, mendapat perlindungan dari berbagai perilaku
usaha produsen yang merugikan.
Di Indonesia, perlindungan hak-hak konsumen dalam e-Commerce
masih rentan. Undang-undang Perlindungan Konsumen yang berlaku
sejak tahun 2000 memang telah mengatur hak dan kewajiban bagi
produsen dan konsumen, namun kurang tepat untuk diterapkan dalam e-
Commerce. Karakteristik yang berbeda dalam sistem perdagangan
melalui internet tidak cukup tercover dalam UUPK tersebut. Untuk itu
perlu dibuat peraturan hukum mengenai cyberlaw termasuk didalamnya
tentang e-Commerce agar hak-hak konsumen sebagai pengguna internet
khususnya dalam melakukan transaksi e-Commerce dapat terjamin.
2.6 Beberapa permasalahan e-commerce
Di dalam e-commerce terdapat beberapa permasalahan yang terjadi
antar pelaku e-commerce, berikut beberapa permasalahan yang terjadi:
a. KREDIT ONLINE ILEGAL
Pada tanggal 7-Desember-2018, Lembaga Bantuan Hukum (LBH)
menerima 1.330 laporan terkait layanan kredit online. Mulai dari bunga
yang terlalu tinggi sampai penagihan yang kasar. LBH Jakarta juga akan
mengingatkan OJK untuk serius dalam menanggapi hal ini.
Dalam hal ini Otoritas Jasa Keuangan (OJK) meminta kepada
masyarakat untuk berhati-hati menggunakan layanan financial
technology (fintech) kredit online. OJK juga akan menindak fintech peer
to peer lending atau kredit online yang sudah terdaftar atau berizin jika
melakukan pelanggaran.
Cara OJK terkait hal ini mengirim surat kepada perbankan nasional
untuk mencegah perusahaan yang mengajukan pembuatan rekening
dengan jenis usaha fintech peer to peer lending. Jadi, bank harus
meminta surat keterangan legal dari OJK untuk pembukaan rekening.
Jika tidak bisa maka bank berhak menolak permohonan tersebut.
Direktur Pengaturan, Perizinan, dan Pengawasan Fintech OJK
Hendriskus Passagi menjelaskan untuk Fintech illegal OJK sudah bekerja
sam a dengan Satuan Tugas Waspada Investasi untuk memutus mata
rantai aliran dana. Dia juga menyampaikan keberadaan P2P merupakan
alternative pendanaan yang merupakan akses keuangan masyarakat.
‘’Selain manfaat yang didapat, masyarakat harus memahami risiko,
kewajiban, dan biaya saat berinteraksi dengan P2P , sehingga terhindar
dari hal-hal yang bisa merugikan,’’ ujar Hendriskus Passagi Hingga 12
Desember 2018 sudah ada 78 Penyelenggarafintech yang terdaftar sesuai
dengan POJK 77/2016 Tentang Layanan Pinjam Meminjam Uang
Berbasis Teknologi Informasi.
b. I-phone 6 malah jadi sabun mandi
Seorang pelanggan bernama Danis Darusman mengaku hanya
mendapatkan sebuah sabun dari pemesanan iPhone 6 Plus di situs belanja
Lazada. Pihak Lazada Indonesia telah mengkonfirmasi pemesanan
iPhone 6 Plus yang dilakukan Danis. Untuk membuktikan bahwa paket
itu tak berisi iPhone 6 Plus, Danis pun merekam video pembongkaran isi
paket dan mengunggahnya ke akun Path. Benar saja, yang didapat Danis
malah sabun batang sebuah merek. Sejauh ini Lazada belum bisa
menemukan celah yang menyebabkan kesalahan pengiriman barang ke
Danis. "Harus berkomunikasi dengan beberapa pihak dulu," katanya.
Tania menambahkan, barang yang dipesan Danis bukan barang retail dari
Lazada, melainkan barang dari toko rekanan.
Kemudian Pengelola layanan e-commerce Lazada Indonesia
mengatakan telah mengirim ponsel pintar Apple iPhone 6 Plus kepada
Danis Darusman yang sebelumnya dikecewakan karena paket yang
diterimanya berisi sabun mandi padat. Chief Marketing Officer Lazada
Indonesia, Sebastian Sieber bersama PR Manager Tania Amalia,
mengatakan mereka telah bertemu langsung dengan Danis hari ini pukul
11 siang di kedai kopi ternama di kawasan Setia Budi, Kuningan, Jakarta.
Ponsel yang diberikan adalah iPhone 6 Plus kapasitas memori 64 GB,
sesuai pesanan Danis sebelumnya.
c. Penipuan
Namun jual beli di dunia mayapun mengandung resiko. Salah satunya
adalah tertipu penjual [Link] [Link] pernah menjadi
korban penipuan belanja online senilai jutaan rupiah. Ceritanya waktu
itu saya mendambakan kamera mirrorless. Ketika saya punya uang yang
cukup untuk membeli kamera baru, saya malah terjebak nafsu untuk
membeli kamera bekas dengan harga yang lebih murah.
Saya menemukan iklan di internet yang menjual kamera dengan tipe
yang saya inginkan dan harganya murah. Saya sempat memintanya
mengirimkan foto kamera tersebut dari berbagai sisi, meminta foto
kartu identitas dan akun Instagram pribadinya. Dia pun mengirimkannya
ke saya sehingga saya percaya.
Kesalahan saya adalah tidak memeriksa kredibilitas penjual dari
testimoni pembeli di toko onlinenya, dan tidak transaksi menggunakan
rekening bersama. Alhasil ketika saya sudah transfer, kontak saya
diblokir oleh si penjual. Tentu saja barang tidak dikirimkan.
Saya sempat mengadukan kasus penipuan itu ke bagian Cyber Crime
Polres disini. Polisinya bilang untuk penyidikan butuh data dari Bank.
Saya dan suami ditemani Polisinya ke Bank. Tapi orang Bank sendiri
punya aturan untuk tidak membocorkan data nasabah.
Polisinya jadi nggak bisa bantu banyak karena nggak dapat datanya.
Jadi saya cuma disuruh masukin surat pengaduan aja. Tapi sampai
sekarang kasus itu nggak ada kelanjutan lagi. Uang segitu banyak bagi
saya, tapi kalau mau ngotot untuk difollow up terus-terusan malah
menghabiskan banyak waktu dan tenaga.
Akhirnya kasus ini ditutup dengan keikhlasan.
d. Adanya cybercrime dengan pola phising/pengelabuhan
Phising merupakan salah satu bentuk cybercrime berupa penipuan
untuk mendapatkan informasi, seperti kata sandi atau password kartu
[Link] dalam konteks cybercrime,diartikan sebagai memancing
informasi keuangan seseorang. Hal ini terjadi karna pelaku seringkali
berada diluar kawasan Indonesia sehingga keberadaannya sulit terdeteksi.
Solusi: Gunakan security software yang up to date,melindungi
computer,membuat password yang sangat sulit,membuat salinan,tidak
sembarangan mengklik link yang muncul di social network,dan
mengganti password secara berkala.
2.7 Perlindungan konsumen terhadap transaksi e-commerce
Perlindungan hukum merupakan cara untuk melindungi konsumen
yang diberikan oleh hukum atau Undang-undang untuk mencegah adanya
pelanggaran atau hal-hal yang dapat merugikan kepentingan konsumen.
Dalam penelitian ini, konsumen pengguna transaksi E-commerce
mendapatkan perlindungan hukum berdasarkan ketentuan Peraturan
Perundang-undangan yaitu Undang-undang Perlindungan Konsumen
(UUPK), Undang-Undang Informasi dan Transaksi Elektronik(UUITE).
Dengan demikian berikut ini akan diuraikan perlindungan hukum kepada
konsumen berdasarkan Peraturan PerUndang-undangan tersebut diatas,
yaitu :
1. Perlindungan Hukum Ditinjau dari UUPK. Rumusan pengertian
perlindungan konsumen yang terdapat dalam pasal 1 angka 1 Undang-
Undang No.8 Tahun 1999 Tentang Perlindungan Konsumen
(selanjutnya disebut Undang-Undang Perlindungan
Konsumen/UUPK) tersebut cukup memadai. Kalimat yang
menyatakan segala upaya yang menjamin adanya kepastian hukum,
diharapkan sebagai benteng untuk meniadakan tindakan sewenang-
wenang yang merugikan pelaku usaha hanya demi untuk kepentingan
perlindungan konsumen. Meskipun undang-undang ini disebut sebagai
undang-undang perlindungan konsumen/UUPK namun bukan berarti
kepentingan pelaku usaha tidak ikut menjadi perhatian, teristimewa
karena keberadaan perekonomian nasional banyak ditentukan oleh
para pelaku usaha.
Berdasarkan ketentuan Pasal 4 UUPK tersebut, maka dalam
hubungannnya dengan konsumen pengguna transaksi E-commerce
yang dilanggar oleh pelaku usaha atau penjual adalah sebagai berikut:
a. Pasal 4 huruf b Hak untuk memilih barang dan atau jasa serta
mendapatkan barang barang dan/atau jasa tersebut sesuai dengan
nilai tukar dan kondisi serta jaminan yang dijanjikan.
Berdasarkan pasal 4 huruf b tersebut, dalam kaitannya dengan
konsumen pengguna transaksi E-Commerce maka pihak pelaku
usaha atau penjual harus menyediakan barang sesuai dengan nilai
tukar dan kondisi serta jaminan yang dijanjikan.
b. Pasal 4 huruf c Pasal 4 huruf c menentukan bahwa konsumen
berhak atas informasi yang benar, jelas, dan jujur mengenai
kondisi dan jaminan barang dan/atau jasa. Pelaku usaha atau
penjual dalam transaksi E-Commerce sebaiknya memberikan
keterangan secara jelas mengenai kondisi barang atau spesifikasi
barang dan keterangan- keterangan lain yang berkaitan dengan
barang yang dijual/ diperdagangkannya. Hal ini penting dilakukan
supaya konsumen mengetahui secara jelas kondisi dari barang
yang diperdagangkan untuk akhirnya dapat memutuskan apakah
membeli atau tidak barang tersebut berdasarkan keterangan-
keterangan yang tersedia Dalam UUPK, di samping mengatur
hak-hak konsumen, diatur pula kewajiban pelaku usaha
sebagaimana ditentukan dalam Pasal 7 UUPK antara lain yang
berkenaan dengan perlindungan hukum bagi konsumen pengguna
transaksi E-Commerce, yaitu :
Aspek hukum perlindungan konsumen dalam ketentuan Pasal 7
huruf b menyebutkan bahwa pelaku usaha berkewajiban
memberikan informasi yang benar, jelas dan jujur mengenai
kondisi dan jaminan barang dan/atau jasa serta memberikan
penjelasan penggunaan, perbaikan dan pemeliharan. Dalam hal ini
penjual wajib memberikan keterangan secara jelas mengenai
kondisi barang atau spesifikasi barang dan keterangan-keterangan
lain yang berkaitan dengan barang yang
dijual/diperdagangkannya. Hal ini penting dilakukan supaya
konsumen mengetahui secara jelas kondisi dari barang yang
diperdagangkan untuk akhirnya dapat memutuskan apakah
membeli atau tidak barang tersebut berdasarkan
keteranganketerangan yang tersedia.
Pasal 7 huruf d menyatakan bahwa pelaku usaha berkewajiban
untuk menjamin mutu barang dan/atau jasa yang diproduksi dan
atau diperdagangkan berdasarkan ketentuan standar mutu barang
dan/ atau jasa yang berlaku. Berkaitan dengan konsumen
pengguna transaksi E-commerce maka pelaku usaha atau penjual
wajib menjamin mutu barang dan atau jasa yang diproduksi
sesuai dengan standar mutu barang dan atau jasa yang berlaku
serta sesuai degan kondisi barang yang ditawarkan.
2. Perlindungan Hukum Ditinjau dari Undang- Undang Informasi dan
Transaksi Elektronik Undang-Undang No 11 Tahun2008 Tentang
Informasi danTransaksi Elektronik mengatur bebrapa ketentuan yang
merupakanbentuk perlindungan hukum kepada konsumen pengguna
transaksi E-Commerce.
Bentuk perlindungan hukum tersebut adalah sebagai berikut :
a. Pasal 2 UUITE
Undang-undang ini berlaku untuk setiap orang yang melakukan
perbuatan hukum sebagaimana diatur dalam Undang-undang ini,
baik yang berada di wilayah hukum Indonesia maupun di luar
wilayah hukum Indonesia yang memiliki akibat hukum di
Indonesia atau di luar wilayah hukum Indonesia yang merugikan
kepentingan Indonesia.
b. Pasal 9 UU ITE
Dalam pasal ini pelaku usaha yang menawarkan produk melalui
system elektronik harus menyediakan informasi yang lengkap dan
benar berkaitan dengan syarat kontrak, produsen dan produk yang
ditawarkan. Yang dimaksud dengan informasi yang lengkap dan
benar adalah :
Informasi yag memuat identitas serta status subjek hukum dan
kompetensinya baik sebagai produsen, pemasok, penyelenggara
ataupun perantara.
Informasi lain yang menjelaskan hal tertentu yang menjadi syarat
sahnya perjanjian serta menjelaskan barang dan atau jasa dalam
yang ditawarkan seperti nama, alamat dan deskripsi barang/jasa.
Adapun perlindungan hukum bagi kedua belah pihak adalah :
Perlindungan hukum untuk merchant terutama ditekankan dalam
hal pembayaran, merchant mengharuskan customer untuk
melakukan pelunasan pembayaran dan kemudian melakukan
konfirmasi pembayaran, baru setelah itu akan dilakukan
pengiriman barang yang dipesan.
Perlindungan hukum untuk customer terletak pada garansi berupa
pengembalian atau penukaran barang jika barang yang diterima
tidak sesuai dengan yang dipesan.
Privacy Data pribadi pengguna media elektronik harus dilindungi
secara hukum. Pemberian informasinya harus disertai oleh
persetujuan dari pemilik data pribadi. Hal ini merupakan bentuk
perlindungan hukum bagi para pihak yang melakukan transaksi
ecommerce, yang termuat dalam Pasal 25 UU ITE “Informasi
elektronik dan/atau dokumen elektronik yang disusun menjadi
karya intelektual, situs internet, dan karya intelektual yang ada di
dalamnya dilindungi sebagai hak kekayaan intelektual
berdasarkan ketentuan peraturan perundang-undangan”.
BAB 3
PENUTUP
3.1 Kesimpulan
Arti E-commerce (E L E CT RO NIC C OM M E RCE ) dapat juga
didefinisikan sebagai aktivitas penggunaan teknologi informasi dan
komunikasi pengolahan digital dalam melakukan transaksi bisnis untuk
menciptakan, mengubah, dan mendefenisikan kembali hubungan antara
penjual dan pembeli. Secara sederhana pengertian E-commerce dapat
diartikan sebagai aktivitas transaksi jual-beli barang, servis atau transmisi
dana atau data dengan menggunakan elektronik yang terhubung dengan
internet. Transaksi e-commerce ini bukan lagi hal baru di tanah air,
bahkan perkembangannya terbilang sangat pesat.
Perlindungan hukum merupakan cara untuk melindungi konsumen
yang diberikan oleh hukum atau Undang-undang untuk mencegah adanya
pelanggaran atau hal-hal yang dapat merugikan kepentingan konsumen.
Dalam penelitian ini, konsumen pengguna transaksi E-commerce
mendapatkan perlindungan hukum berdasarkan ketentuan Peraturan
Perundang-undangan yaitu Undang-undang Perlindungan Konsumen
(UUPK), Undang-Undang Informasi dan Transaksi Elektronik(UUITE).
3.2 Saran
Dengan canggihnya teknologi, kita nggak bisa menghindari bahwa ada
banyak oknum yang memanfaatkannya untuk kejahatan. Tapi kita bisa
melakukan berbagai cara untuk mencegah agar terhindar dari kejahatan jual
beli daring (online).
Berikut cara-cara menjadi konsumen yang cerdas :
1. Transaksilah Menggunakan Rekening Bersama
Mau penjualnya bilang butuh uang cepat kek, mau bilang dia lagi
sekarat dan butuh berobat kek, mau dia bilang kalau nggak cepat
bayar, barangnya dijual ke orang lain kek, cuekin aja. Kita yang harus
ngotot minta transaksi lewat pihak ketiga (rekening bersama). Kalau
dia nggak mau ya sudah, penjual online bukan cuma satu saja, kan.
Dengan menggunakan rekening bersama, transaksi menjadi lebih
aman karena uang yang kita kirimkan baru akan ditransfer ke penjual
jika barangnya sudah kita terima dan periksa dengan baik. Sebaliknya
jika barang yang dikirimkan cacat atau tidak sesuai maka kita bisa
meminta kembali uang tersebut kepada pihak ketiga, tentunya
dengan bukti-bukti yang mendukung.
2. Telitilah Sebelum Membeli
Apalagi untuk produk makanan dan kecantikan, jangan asal beli saja.
Karena apa yang masuk ke dalam tubuh kita tentu akan memicu
reaksi yang bisa berdampak jangka pendek maupun jangka panjang.
Sebelum membeli kita harus teliti apakah produk sudah ada izin
edar? nomor BPOM? mengandung komposisi yang halal dan haram
(khusus muslim)? apakah ada ahli medis yang mengawasi pembuatan
produk tersebut?
Jangan sampai keinginan kita untuk tampil cantik dan sehat malah
berdampak buruk pada kesehatan kita.
3. Jangan Mudah Terlena Harga Murah
Khususnya untuk barang-barang eletronik, meskipun bekas biasanya
dijual 70-80% dari harga baru. Kalau sampai setengah harga patut
curiga. Apalagi jualnya banting harga banget tapi ngakunya barang
baru, itu sih kelihatan jelas ingin menipu.
4. Lihat Testimoni kepuasan pembeli
Lebih bagus lagi belanja online di toko yang sudah banyak
testimoninya. Tapi kalau bisa bukan testimoni yang penjualnya
upload, melainkan yang dikirimkan dari pembelinya langsung.
Soalnya banyak juga toko onlineyang upload testimoni sendiri tapi
kolom komentarnya malah dimatikan. Itu justru Mencurigakan.
5. Beli di Toko Online yang Kita Kenali Pemiliknya
Kalau kita kenal penjualnya setidaknya kalau ada masalah kita bisa
minta pertanggungjawabannya dengan menghubungi kontak pribadi
atau datang ke rumahnya. Tapi jangan sampai saja ternyata kita
berteman dengan orang yang memang menipu temannya sendiri.
6. Lakukan Riset Kecil-kecilan
Jangan senang dulu saat menemukan iklan handphone dengan
teknologi terbaru tapi harganya sangat murah. Kita harus periksa di
situs resmi brand handphone tersebut untuk membandingkan
harganya. Selain itu jangan malas untuk browsing spesifikasi barang
yang ingin kita beli dan membaca review di blog-blog orang lain.
Sehingga kita bisa menilai apakah penjual jujur atau tidak.
7. Beli Produk yang Lulus Uji SNI
Sebagai konsumen kita wajib mencintai produk lokal . Pilihlah produk
yang sudah lulus uji Standar Nasional Indonesia (SNI). Dengan begitu
kita menjadi lebih tenang karena memang produknya sudah layak
untuk dipakai konsumen.
8. Pelajari Undang-Undang Perlindungan Konsumen
Undang-undang khusus yang mengatur perlindungan konsumen,
yaitu Undang-Undang nomor 8 tahun 1999. Di dalam Undang-
Undang tersebut dalam pasal 4 dan 5 tercakup hak dan kewajiban
konsumen sebagai berikut :
1) Hak Konsumen
c. Hak atas kenyamanan, keamanan dan keselamatan dalam
mengkonsumsi barang dan/atau jasa.
d. Hak untuk memilih barang dan/atau jasa serta
mendapatkan barang dan/atau jasa tersebut sesuai
dengan nilai tukar dan kondisi serta jaminan yang
dijanjikan.
e. Hak atas informasi yang benar, jelas, dan jujur mengenai
kondisi dan jaminan barang dan/atau jasa.
f. Hak untuk didengar pendapat dan keluhannya atas barang
dan/atau jasa yang digunakan.
g. Hak untuk mendapatkan advokasi, perlindungan
konsumen, dan upaya penyelesaian sengketa perlindungan
konsumen secara patut.
h. Hak untuk mendapat pembinaan dan pendidikan
konsumen.
i. Hak untuk diperlakukan atau dilayani secara benar dan
jujur serta tidak diskriminatif
j. Hak untuk mendapat kompensasi, ganti rugi, dan/atau
penggantian jika barang dan/atau jasa yang diterima tidak
sesuai dengan perjanjian dan tidak sebagaimana mestinya
2) Kewajiban Konsumen
a. Membaca atau mengikuti petunjuk informasi dan prosedur
pemakaian atau pemanfaatan barang dan/atau jasa, demi
keamanan dan keselamatan.
b. Beritikad baik dalam melakukan transaksi pembelian
barang dan/atau jasa.
c. Membayar sesuai dengan nilai tukar yang disepakati.
d. Mengikuti upaya penyelesaian hukum sengketa
perlindungan konsumen secara patut.
9. Berani berbicara dan melaporkan jika tertipu.
DAFTAR PUSTAKA
[Link]
[Link]
[Link]
pelaku-e-commerce/
[Link]
[Link]