0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
76 tayangan16 halaman

Peran Apoteker dalam Pelayanan Kefarmasian

Makalah ini membahas peran apoteker dalam mengembangkan inovasi pelayanan farmasi (pharmaceutical care) di apotek, terutama dalam memberikan informasi obat kepada pasien secara optimal agar dapat mencegah kesalahan penggunaan obat. Apoteker perlu meningkatkan perannya sebagai penyedia layanan kesehatan dengan mengembangkan strategi baru pelayanan farmasi yang sesuai dengan kondisi apotek untuk meningkatkan mutu hidup pasien.

Diunggah oleh

Helma Malini
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd
0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
76 tayangan16 halaman

Peran Apoteker dalam Pelayanan Kefarmasian

Makalah ini membahas peran apoteker dalam mengembangkan inovasi pelayanan farmasi (pharmaceutical care) di apotek, terutama dalam memberikan informasi obat kepada pasien secara optimal agar dapat mencegah kesalahan penggunaan obat. Apoteker perlu meningkatkan perannya sebagai penyedia layanan kesehatan dengan mengembangkan strategi baru pelayanan farmasi yang sesuai dengan kondisi apotek untuk meningkatkan mutu hidup pasien.

Diunggah oleh

Helma Malini
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd

MAKALAH

PHARMACEUTICAL CARE

Oleh:
KP. A (MINAT KLINIS)
Mahandrini Putri Chajar (114219039)
Arfina Zuraidah Arifin (114219068)
Helma Malini Marol Tupak (114219069)
Septiany Agasta (114219070)
Maylani Lois Christina (114219117)
Efriolin Fransiska Nova (114219170)
Waldetrudis Dewinta Kartini Abut (114219171)
Anggreyni Pratiwi Danduru (114219172)
Merdila Putri Respita Martins (114219173)
Maria Claudia Dwiyanti Tuga (114219174)

PROGRAM STUDI PROFESI APOTEKER


UNIVERSITAS SURABAYA
SURABAYA
2019
BAB I
PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang


Tenaga kefarmasian sebagai salah satu tenaga kesehatan pemberi pelayanan kesehatan
kepada masyarakat mempunyai peranan penting karena terkait langsung dengan pemberian
pelayanan, khususnya pelayanan kefarmasian. Sejalan dengan perkembangan ilmu pengetahuan
dan teknologi di bidang kefarmasian dan tuntutan pasien dan masyarakat akan mutu pelayanan
kefarmasian mengharuskan adanya perubahan paradigma pelayanan kefarmasian dari
pengelolaan obat sebagai komoditi kepada pelayanan yang komprehensif (pharmaceutical care),
tidak saja sebagai pengelola obat namun dalam pengertian yang lebih luas mencakup
pelaksanaan pemberian informasi untuk mendukung penggunaan obat yang benar dan rasional,
monitoring penggunaan obat untuk mengetahui tujuan akhir serta kemungkinan terjadinya
kesalahan pengobatan (medication error). Pelayanan kefarmasian adalah suatu pelayanan
langsung dan bertanggung jawab kepada pasien yang berkaitan dengan sediaan farmasi dengan
maksud mencapai hasil yang pasti untuk meningkatkan mutu kehidupan pasien (Permenkes,
2009). Pelayanan kefarmasian yang baik adalah pelayanan yang berorientasi langsung dalam
proses penggunaan obat, bertujuan menjamin keamanan, efektifitas dan kerasionalan
penggunaan obat dengan menerapkan ilmu pengetahuan dan fungsi dalam perawatan pasien.
Apoteker memiliki tanggung jawab untuk mewujudkan mutu pelayanan yang baik sesuai dengan
harapan konsumen (Harianto, 2005). Sejalan dengan perkembangan ilmu pengetahuan dan
teknologi yang makin maju dibidang kefarmasian, maka telah terjadi pergeseran orientasi
pelayanan kefarmasian dari awalnya hanya pengelolaan obat sebagai menjadi pelayanan ke
pasien yang komprehensif (Pharmaceutical Care). Hal ini juga diakibatkan tuntutan pasien dan
mayarakat semakin beragam akan mutu pelayanan sehingga mengharuskan adanya perubahan
paradigma pelayanan dari paradigma awal yang berorientasi pada produk obat menjadi
paradigma baru yang berorientasi pada pasien.
Beberapa masalah yang sering terjadi di pelayanan kefarmasian yaitu mengenai informasi
cara pemakaian obat, nama obat, dosis obat serta indikasi obat. Selama ini masih belum
dilakukan secara optimal oleh apoteker di apotek, begitu juga pada kegiatan skrining farmasetis
(skrining bentuk sediaan) dan skrining klinis (skrining dosis, jumlah, dan durasi obat) hanya

2
memperoleh kategori cukup. Hal tersebut menunjukkan bahwa peran apoteker dalam mencegah
medication error melalui skrining resep belum optimal. Peran apoteker sebagai care giver dan
communicator telah digantikan oleh asisten apoteker dan bahkan oleh tenaga non kefarmasian
(Monita, 2009). Munculnya permasalahan tentang pelayanan kefarmasian tersebut dikarenakan
kurangnya peran apoteker dalam pekerjaan kefarmasian di apotek. Menurut Baroroh (2011)
banyak masyarakat yang belum mendapatkan informasi obat yang memadai saat melakukan
pengobatan sehingga akibatnya kesalahan dalam pengobatan (medication error) dan
penyalahgunaan obat sering terjadi pada masyarakat.
Apoteker sebagai care giver, manager, dan leader di apotek perlu membekali diri
dengan keilmuan yang selalu up to date serta mampu mengoptimalkan semua sumber daya yang
ada dalam menciptakan terobosan-terobosan baru dalam hal model atau strategi
pelaksanaan pharmaceutical  care yang efektif dan efisien. Sarana dan prasarana sebagai
model  pharmaceutical care yang tercipta dari gagasan brilliant apoteker ini diharapkan dapat
menjadi media yang dapat memberi kemudahan bagi masyarakatuntuk memperoleh akses secara
langsung dalam memperoleh informasi dan konseling tentang layanan kefarmasian yang
diperolehnya. Dengan demikian, terobosan ini dapat memberi kontribusi positif dalam upaya
pencapaian tujuan pharmaceutical care itu sendiri, yaitu meningkatnya kualitas hidup pasien
atas dasar penggunaan obat yang rasional. Apoteker harus memahami dan menyadari
kemungkinan terjadinya kesalahan pengobatan (medication error) dalam proses pelayanan dan
mengidentifikasi, mencegah, serta mengatasi masalah terkait obat (drug related problems).
Untuk menghindari hal tersebut, apoteker harus menjalankan praktik sesuai standar pelayanan.
Dalam melakukan praktik tersebut, apoteker juga dituntut untuk melakukan monitoring
penggunaan obat, melakukan evaluasi serta mendokumentasikan segala aktivitas kegiatannya.
Untuk melaksanakan semua kegiatan itu, diperlukan standar pelayanan kefarmasian. Salah satu
contohnya adalah penyampaian atau pemberian informasi tentang bagaimana penggunaan obat
yang benar kepada pasien melalui TV atau pamflet agar pasien lebih memahami bagaimana cara
menggunakan obat yang benar dan baik.

1.2 Rumusan Masalah


Bagaimana peran apoteker dalam mengembangkan inovasi dalam pharmaceutical care di
apotek?

3
1.3. Tujuan
1. Terbentuknya metode strategi baru yang dapat disesuaikan dengan kondisi, SDM, dan
fasilitas yang tersedia di apotek guna tercapainya pelaksanaan pharmaceutical care yang
efektif serta efisien.
2. Meningkatkan kualitas hidup dari pasien atas pemberiaan obat yang digunakan secara
rasional sehingga tidak terjadi adverse drug reaction.
3. Meningkatkan peran apoteker sebagai Seven-Star Pharmacist sebagai care giver dan
teacher yang dapat mengedukasi guna meningkatkan kualitas pemberian informasi obat
sehingga kepuasan pasien dapat tercapai.

1.4 Manfaat
1. Dapat menjaga serta memelihara loyalitas dan hubungan baik terhadap pelanggan di
apotek.
2. Mempertahankan kualitas pelayanan atau bahkan meningkatkan penjualan omset di
apotek.
3. Mencegah kemungkinan terjadinya masalah yang berhubungan dengan obat.
4. Melindungi pasien dari kesalahan penggunaan obat.

4
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Definisi dan Peran Apoteker


Berdasarkan Peraturan Menteri Kesehatan Republik Indonesia (Permenkes RI) nomor 73
tahun 2016 dan Peraturan Pemerintah (PP) nomor 51 tahun 2009, tentang standar pelayanan
kefarmasian di apotek, Apoteker adalah sarjana farmasi yang telah lulus sebagai apoteker dan
telah mengucapkan sumpah jabatan apoteker. Apoteker memiliki tugas untuk melakukan
pelayanan kefarmasian. Pelayanan Kefarmasian adalah suatu pelayanan langsung dan
bertanggung jawab kepada pasien yang berkaitan dengan Sediaan Farmasi dengan maksud
mencapai hasil yang pasti untuk meningkatkan mutu kehidupan pasien. Terdapat beberapa
fasilitas pelayanan kefarmasian, yaitu apotek, instalasi farmasi rumah sakit, puskesmas, klinik,
toko obat, atau praktek bersama. Dalam menjalankan pelayanan kefarmasian, apoteker harus
menerapkan standar pelayanan kefarmasian.

2.2 Apotek
Menurut permenkes RI nomor 9 tahun 2017, tentang apotek, apotek adalah sarana
pelayanan kefarmasian tempat dilakukan praktek kefarmasian oleh apoteker. Bangunan apotek
harus memiliki sarana ruang yang berfungsi untuk penerimaan resep, pelayanan resep dan
peracikan (produksi sediaan secara terbatas), penyerahan sediaan farmasi dan alat kesehatan,
konseling, penyimpanan sediaan farmasi dan alat kesehatan, dan arsip.
Terdapat standar yang berlaku pada pelayanan di apotek. Standar ini bertujuan untuk
meningkatkan mutu pelayanan kefarmasian, menjamin kepastian hukum bagi tenaga
kefarmasian, dan melindungi pasien dari penggunaan obat yang tidak rasional dalam rangka
keselamatan pasien (patient safety). Standar pelayanan kefarmasian di apotek meliputi 2 hal,
yaitu pengelolaan sediaan farmasi, alat kesehatan, dan bahan medis habis pakai dan pelayanan
farmasi klinik. Pelayanan farmasi klinik terdiri dari pengkajian resep, dispensing, pelayanan
informasi obat (PIO), konseling, pelayanan kefarmasian di rumah (home pharmacy care),
pemantauan terapi obat (PTO), dan Monitoring Efek Samping Obat (MESO). (Permenkes 73,
2016).

5
2.2.1 Pelayanan Informasi Obat (PIO)
Berdasarkan Permenkes RI nomor 73 tahun 2016, Pelayanan Informasi Obat (PIO)
merupakan kegiatan yang dilakukan oleh Apoteker dalam pemberian informasi mengenai Obat
yang tidak memihak, dievaluasi dengan kritis dan dengan bukti terbaik dalam segala aspek
penggunaan Obat kepada profesi kesehatan lain, pasien atau masyarakat. Informasi mengenai
Obat termasuk Obat Resep, Obat bebas dan herbal. Informasi meliputi dosis, bentuk sediaan,
formulasi khusus, rute dan metoda pemberian, farmakokinetik, farmakologi, terapeutik dan
alternatif, efikasi, keamanan penggunaan pada ibu hamil dan menyusui, efek samping, interaksi,
stabilitas, ketersediaan, harga, sifat fisika atau kimia dari Obat dan lain-lain. Kegiatan Pelayanan
Informasi Obat di Apotek meliputi:
1. Menjawab pertanyaan baik lisan maupun tulisan;
2. Membuat dan menyebarkan buletin/brosur/leaflet, pemberdayaan masyarakat (penyuluhan)
3. Memberikan informasi dan edukasi kepada pasien;
4. Memberikan pengetahuan dan keterampilan kepada mahasiswa farmasi yang sedang praktik
profesi;
5. Melakukan penelitian penggunaan Obat;
6. Membuat atau menyampaikan makalah dalam forum ilmiah;
7. Melakukan program jaminan mutu.
2.2.2 Konseling
Konseling merupakan proses interaktif antara Apoteker dengan pasien/keluarga untuk
meningkatkan pengetahuan, pemahaman, kesadaran dan kepatuhan sehingga terjadi perubahan
perilaku dalam penggunaan Obat dan menyelesaikan masalah yang dihadapi pasien. Untuk
mengawali konseling, Apoteker menggunakan three prime questions. Apabila tingkat kepatuhan
pasien dinilai rendah, perlu dilanjutkan dengan metode Health Belief Model. Apoteker harus
melakukan verifikasi bahwa pasien atau keluarga pasien sudah memahami Obat yang digunakan.
Kriteria pasien/keluarga pasien yang perlu diberi konseling:
1. Pasien kondisi khusus (pediatri, geriatri, gangguan fungsi hati dan/atau ginjal, ibu hamil dan
menyusui).
2. Pasien dengan terapi jangka panjang/penyakit kronis (misalnya: TB, DM, AIDS, epilepsi).
3. Pasien yang menggunakan Obat dengan instruksi khusus (penggunaan kortikosteroid dengan
tappering down/off).

6
4. Pasien yang menggunakan obat dengan indeks terapi sempit (digoksin, fenitoin, teofilin).
5. Pasien dengan polifarmasi; pasien menerima beberapa obat untuk indikasi penyakit yang
sama. dalam kelompok ini juga termasuk pemberian lebih dari satu obat untuk penyakit yang
diketahui dapat disembuhkan dengan satu jenis obat.
6. Pasien dengan tingkat kepatuhan rendah.
7. Terdapat beberapa tahap dalam melakukan kegiatan konseling, tahapan tersebut antara lain
yaitu :
a. Membuka komunikasi antara Apoteker dengan pasien
b. Menilai pemahaman pasien tentang penggunaan obat melalui Three Prime Questions, yaitu:
c. Apa yang disampaikan dokter tentang obat Anda?
d. Apa yang dijelaskan oleh dokter tentang cara pemakaian obat Anda?
e. Apa yang dijelaskan oleh dokter tentang hasil yang diharapkan setelah Anda menerima
terapi obat tersebut?
f. Menggali informasi lebih lanjut dengan memberi kesempatan kepada pasien untuk
mengeksplorasi masalah penggunaan obat.
g. Memberikan penjelasan kepada pasien untuk menyelesaikan masalah penggunaan obat.
[Link] verifikasi akhir untuk memastikan pemahaman pasien Apoteker
mendokumentasikan konseling dengan meminta tanda tangan pasien sebagai bukti bahwa
pasien memahami informasi yang diberikan dalam konseling dengan menggunakan
Formulir sebagaimana terlampir.

2.3 Inovasi di Apotek


Menurut Van de Ven, Andrew H., pengertian inovasi adalah pengembangan dan
implementasi gagasan-gagasan baru oleh orang dalam jangka waktu tertentu yang dilakukan
dengan berbagai aktivitas transaksi di dalam tatanan organisasi tertentu. Menurut Kuniyoshi
Urabe, inovasi merupakan setiap kegiatan yang tidak bisa dihasilkan dengan satu kali pukul,
melainkan suatu proses yang panjang dan kumulatif, meliputi banyak proses pengambilan
keputusan, mulai dari penemuan gagasan hingga ke implementasian nya di pasar. Menurut
Everett M. Rogers, inovasi merupakan sebuah ide, gagasan, ojek, dan praktik yang dilandasi dan
diterima sebagai suatu hal yang baru oleh seseorang atau pun kelompok tertentu untuk
diaplikasikan atau pun diadopsi. Berdasarkan undang-undang nomor 19 tahun 2002, inovasi

7
adalah kegiatan penelitian, pengembangan, dan atau pun rekayasa yang dilakukan dengan tujuan
melakukan pengembangan penerapan praktis nilai dan konteks ilmu pengetahuan yang baru, atau
pun cara baru untuk menerapkan ilmu pengetahuan dan teknologi yang sudah ada ke dalam
produk atau proses produksinya.

Gambar 1. Inovasi di Apotek

Inovasi dapat dilakukan dengan berbagai cara, misalnya dengan pengetahuan baru, cara
baru, objek baru, teknologi baru, atau penemuan baru. Seiring perkembangan zaman, teknologi
informasi dan komunikasi menjadi semakin canggih. Oleh karena itu, dibutuhkan inovasi atau
perubahan dalam pelayanan di apotek. Inovasi di apotek bertujuan untuk meningkatkan
pengetahuan pasien mengenai penggunaan obat-obatan yang tepat dan aman. Selain itu inovasi
yang dilakukan di apotek diharapkan dapat membawa perubahan perilaku pasien seperti
kepatuhan pasien dalam meminum atau menggunakan obat.
Menurut Mohamad Dani Pratomo, sudah lebih dari 50 tahun ini peran apoteker telah
mengalami revolusi seiring dengan kebutuhan perawatan kesehatan masyarakat. Selain
memberikan obat dan memastikan keamanan pasien, apoteker saat ini mengambil peran lebih
sebagai konselor medis, pendidikan, dan pendukung kesehatan pasien. Terdapat beberapa alasan
mengenai hal tersebut.
Kemajuan teknologi telah berkembang dalam pencegahan dan pengobatan untuk berbagai
kondisi penyakit, dan memungkinkan koordinasi dan kolaborasi antara penyedia layanan
kesehatan dan institusi.

8
Seiring perkembangan teknologi, pasien lebih terlibat dalam proses perawatan kesehatan
diri mereka sendiri, menetapkan harapan yang jelas untuk perawatan yang transparan dan
berpusat pada pasien, dan meningkatkan akses terhadap informasi perawatan kesehatan. Pasien
maupun pihak asuransi berfokus pada pengurangan biaya dan perbaikan hasil perawatan
kesehatan yang telah mendorong munculnya strategi manajemen penggunaan obat.

2.4 Antibiotik
Antibiotik merupakan bahan kimiawi yang dihasilkan oleh organisme seperti bakteri dan
jamur, yang dapat mengganggu mikroorganisme lain. Biasanya bahan ini dapat membunuh
bakteri (bakterisidal) atau menghambat pertumbuhan bakteri (bakteriostatik) atau
mikroorganisme lain. Beberapa antibiotik bersifat aktif terhadap beberapa spesies bakteri
(berspektrum luas) sedangkan antibiotik lain bersifat lebih spesifik terhadap spesies bakteri
tertentu (berspektrum sempit) (Bezoen dkk, 2001). Pemberian antibiotika merupakan pengobatan
utama dalam penatalaksanaan penyakit infeksi. Adapun manfaat penggunaan antibiotik tidak
perlu diragukan lagi, akan tetapi penggunaannya yang berlebihan akan segera diikuti dengan
munculnya kuman kebal antibiotik, sehingga manfaatnya akan berkurang. Resistensi terhadap
antibiotik, terlebih lagi multi drug resistance merupakan masalah yang sulit diatasi dalam
pengobatan pasien. Hal ini muncul sebagai akibat pemakaian antibiotik yang kurang tepat dosis,
macam dan lama pemberian sehingga kuman berubah menjadi resisten (Agustino, 2008).
2.4.1 Resistensi Antibiotik
Berdasarkan Peraturan Menteri Kesehatan Republik Indonesia (Permenkes RI) nomor 8
tahun 2015, tentang program pengendalian resistensi antimikroba di rumah sakit, Resistensi
antimikroba adalah kemampuan mikroba untuk bertahan hidup terhadap efek antimikroba
sehingga tidak efektif dalam penggunaan klinis. Pengendalian resistensi antimikroba adalah
aktivitas yang ditujukan untuk mencegah dan atau menurunkan adanya kejadian mikroba
resisten. Komite Pengendalian Resistensi Antimikroba yang selanjutnya disingkat (KPRA)
adalah komite yang dibentuk oleh Kementerian Kesehatan dalam rangka mengendalikan
penggunaan antimikroba secara luas baik di fasilitas pelayanan kesehatan dan di masyarakat.
Penerapan penggunaan antibiotik secara bijak sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dilakukan
melalui tahapan:

9
1. Meningkatkan pemahaman dan ketaatan staf medis fungsional dan tenaga kesehatan dalam
penggunaan antibiotik secara bijak;
2. Meningkatkan peranan pemangku kepentingan di bidang penanganan penyakit infeksi dan
penggunaan antibiotik;
3. Mengembangkan dan meningkatkan fungsi laboratorium mikrobiologi klinik dan laboratorium
penunjang lainnya yang berkaitan dengan penanganan penyakit infeksi;
4. Meningkatkan pelayanan farmasi klinik dalam memantau penggunaan antibiotik;
5. Meningkatkan pelayanan farmakologi klinik dalam memandu penggunaan antibiotik;
6. Meningkatkan penanganan kasus infeksi secara multidisiplin dan terpadu;
7. Melaksanakan surveilans pola penggunaan antibiotik, serta melaporkannya secara berkala; dan
8. Melaksanakan surveilans pola mikroba penyebab infeksi dan kepekaannya terhadap antibiotik,
serta melaporkannya secara berkala.
Hal ini mengakibatkan pengobatan yang diberikan menjadi tidak efektif, peningkatan
morbiditas maupun mortalitas pasien, serta meningkatnya biaya perawatan kesehatan (Hadi,
2008; Marilyn, 2012).
2.4.2 Penggunaan Antibiotik
Penggunaan antibiotika secara bijaksana erat kaitannya dengan penggunaan antibiotika
berspektrum sempit dengan indikasi yang tepat, dosis yang adekuat, serta tidak lebih lama dari
yang dibutuhkan. WHO menyatakan bahwa lebih dari setengah peresepan obat diberikan secara
tidak rasional. Menurut WHO, 2002 kriteria pemakaian obat yang rasional, antara lain:
1. Sesuai dengan indikasi penyakit
2. Pengobatan didasarkan atas keluhan individual dan hasil pemeriksaan fisik yang akurat
3. Diberikan dengan dosis yang tepat melalui perhitungan usia, berat badan dan kronologis
penyakit
4. Cara pemberian dengan interval waktu pemberian yang tepat
5. Jarak minum obat sesuai dengan aturan pemakaian yang telah ditentukan
6. Lama pemberian yang tepat
7. Pada kasus tertentu memerlukan pemberian obat dalam jangka waktu tertentu
8. Obat yang diberikan harus efektif dengan mutu terjamin
9. Hindari pemberian obat yang kedaluarsa dan tidak sesuai dengan jenis keluhan penyakit
10. Tersedia setiap saat dengan harga yang terjangkau

10
11. Jenis obat mudah didapatkan dengan harganya relatif murah
12. Meminimalkan efek samping dan alergi obat Dampak negatif paling berbahaya akibat
penggunaan antibiotika secara tidak rasional adalah muncul dan berkembangnya kuman-
kuman kebal antibiotik atau dengan kata lain terjadinya resistensi antibiotika.

11
BAB III
PEMBAHASAN

Pelayanan informasi obat merupakan kegiatan yang dilakukan oleh Apoteker dalam
pemberian informasi mengenai obat yang tidak memihak, dievaluasi dengan kritis dan dengan
bukti terbaik dalam segala aspek penggunaan obat kepada profesi kesehatan lain, pasien atau
masyarakat. Informasi mengenai obat termasuk obat resep, obat bebas dan herbal. Informasi
meliputi dosis, bentuk sediaan, formulasi khusus, rute dan metoda pemberian, farmakokinetik,
farmakologi, terapeutik dan alternatif, efikasi, keamanan penggunaan pada ibu hamil dan
menyusui, efek samping, interaksi, stabilitas, ketersediaan, harga, sifat fisika atau kimia dari obat
dan lain-lain (Permenkes, 2014). Informasi obat secara nasional dilakukan oleh Badan POM dan
beberapa Pusat Informasi Obat (PIO) swasta. Informasi obat dan obat tradisional disampaikan
oleh apoteker di Dinkes Provinsi, Dinkes Kabupaten atau Kota di wilayah kerjanya, serta
informasi obat dan obat tradisional di rumah sakit, apotek dan puskesmas disampaikan oleh
apoteker kepada pasien.
Berdasarkan Keputusan Menteri Kesehatan RI Nomor 1027/Menkes/SK/IX/2004 tentang
Standar Pelayanan Kefarmasian di Apotek, apoteker harus memberikan informasi yang benar,
jelas dan mudah dimengerti, akurat, tidak bias, etis, bijaksana, dan terkini kepada pasien di
apotek. Informasi obat terhadap pasien sekurang-kurangnya meliputi: cara pemakaian obat, cara
penyimpanan obat, jangka waktu pengobatan, aktivitas serta makanan dan minuman yang harus
dihindari selama terapi. Apoteker harus memberikan konseling mengenai penggunaan obat dan
obat tradisional, sehingga dapat memperbaiki kualitas hidup pasien atau yang bersangkutan
terhindar dari bahaya penyalahgunaan atau penggunaan obat yang salah. Salah satu inovasi baru
yang dapat dilakukan oleh apoteker di apotek untuk memberikan informasi penggunaan obat
yang benar pada pasien dapat dilakukan dengan menggunakan media elektronik yaitu
[Link] media elektronik sebagai penyalur informasi cara penggunaan obat yang
baik dan benar harus dilakukan. Hal ini mengingat bahwa kurangnya informasi tentang
penggunaan obat yang baik dan benar, salah satunya penggunaan antibiotik.
Antibiotik adalah obat yang digunakan untuk mencegah dan mengobati infeksi bakteri.
Persoalannya, sampai saat ini masih ada kesalahan pemahaman dan kekeliruan terhadap
penggunaan antibiotik. Secara umum, antibiotik digunakan pada infeksi selain bakteri, misalnya

12
virus, jamur, atau penyakit lain yang non infeksi. Penggunaan antibiotik yang tidak tepat selain
menjadi pemborosan secara ekonomi juga berbahaya secara klinis, yaitu resistensi bakteri
terhadap antibiotik. Resistensi terjadi saat bakteri mengalami kekebalan dalam merespons
antibiotik yang awalnya sensitif dalam pengobatan. Bakteri resisten ini dapat menginfeksi
manusia dan hewan. Hal yang sama menyebabkan infeksi lebih sulit diobati. Resistensi antibiotik
menyebabkan biaya pengobatan lebih tinggi, pasien lebih lama tinggal di rumah sakit, serta
meningkatkan angka kematian.
Penggunaan antiobitik pada masyarakat umumnya dianggap sebagai penggunaan obat
biasa. Hal ini membuat masyarakat untuk membeli antibiotik tanpa resep dokter dan
menggunakannya tidak sesuai dengan resep dokter. Hal ini dapat menyebabkan resistensi pada
pasien semakin meningkat. Sehingga dari penggunaan televisi sebagai media pemberi informasi
mengenai penggunaan obat yang baik dapat dilakukan di apotek.
Media televisi dapat digunakan di apotek-apotek untuk memberi informasi cara
penggunaan antibiotik yang baik dan benar. Hal ini dapat dilakukan saat pasien mengantri untuk
membeli obat atau saat menunggu waktu untuk pemeriksaan oleh dokter. Diharapkan dengan
menonton atau melihat informasi penggunaan antibiotik melalui televisi dapat memberikan
pengetahuan bagi pasien saat menggunakan antibiotik bahwa antibiotik harus dibeli dengan resep
dokter, digunakan dengan waktu yang ditentukan, dan tidak semua penyakit harus diobati dengan
antibiotik. Selain penggunaan antibiotik tanpa resep dokter yang menyebabkan resistensi pada
pasien meningkat, penggunaan yang tidak baik dan benar pada obat insulin pun terjadi akibat
dari kurangnya informasi obat yang disampaikan apoteker kepada pasien.
Seperti antibiotik, tidak mudah juga untuk menawarkan insulin pada penderita diabetes
karena sebagian besar dari penderita kurang mendapatkan informasi yang baik dan benar tentang
insulin. Dari penelitian sebelumnya, diketahui sekitar 54,5% pasien diabetes tanpa insulin
menyatakan khawatir memakai insulin, dan 27% menolak saat ditawarkan insulin. Banyak
penderita diabetes mendapat informasi yang salah mengenai insulin. Kebanyakan informasi yang
salah itu diperoleh dari kalangan nonmedis. Oleh karena itu, perlu ada klarifikasi dan diseminasi
informasi yang benar tentang insulin sehingga diharapkan masyarakat lebih mudah menerima
insulin jika memang diperlukan untuk pengobatan diabetes. Sehingga dari penggunaan televisi
sebagai media pemberi informasi mengenai penggunaan insulin yang baik dan benar dapat
dilakukan di apotek.

13
Sama halnya dengan pemberian informasi antibiotik, informasi mengenai pengobatan
menggunakan insulin juga dapat dilakukan melalui televisi sehingga memberikan pengetahuan
bagi pasien terutama pasien-pasien dengan indikasi yang mengharuskan menggunakan insulin.

14
BAB IV
KESIMPULAN

Berdasarkan data dan uraian yang telah dipaparkan diatas, peran apoteker dalam
mengembangkan inovasi dalam pharmaceutical care di apotek berupa pemberian informasi
tentang penggunaan antibiotik yang tepat serta resiko-resiko yang ditimbulkan jika tidak
menggunakan antibiotik dengan tepat dan penggunaan insulin yang benar kepada pasien selama
menunggu proses pembuatan obat di apotek. Informasi yang diberikan berupa video yang diputar
di ruang tunggu obat dan dengan diadakannya pemberian informasi ini, diharapkan dapat
meningkatkan pengetahuan pasien.

15
DAFTAR PUSTAKA

Agustino, L. 2008. Dasar-Dasar Kebijakan Publik Cetakan Kedua. Bandung: Alfabeta


Bezoen, A., Van Haren, W., Hanekamp, J.C. 2001. Antibiotics: Use and Resistance Mechanisms.
Human Health and Antibiotic Growth Promoters (AGPs): Geidelberg Appeal Nederland.
Depkes RI. 2009. Peraturan Pemerintah No. 51 Tahun 2009 Tentang Pekerjaan Kefarmasian,
Departemen Kesehatan RI: Jakarta.
Hadi, U. 2008. Antibiotic Usage and Antimicrobial Resistance in Indonesia. Surabaya: Airlangga
University Press.
Malone, B. 2005. Methicillin-Resistant Staphylococcus Aureus (MRSA), Guidance for Nursing
Staff. London: Royal College of Nursing (RCN).
Mohamad, Dani Pratomo. 2019. Inovasi Digital untuk Peningkatan Peran Apoteker.
Putri, D. R. 2017. Pengaruh Kualitas Pelayanan Kefarmasian terhadap Kepuasan, Kepercayaan,
& Loyalitas Konsumen Apotek Dianita. Indonesian Journal For Health Sciences, 1(1),
23–29.
Republik Indonesia. 2016. Peraturan Menteri Kesehatan Republik Indonesia Nomor 73 Tahun
2016 Tentang Standar Pelayanan Kefarmasian di Apotek, Jakarta.
Republik Indonesia. 2017. Peraturan Menteri Kesehatan Republik Indonesia Nomor 9 Tahun
2017 tentang Apotek, Jakarta.
World Health Organization. 2002. Promoting Rational Use of Medicine. Geneva: Core
Components

16

Anda mungkin juga menyukai