0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
755 tayangan4 halaman

Identifikasi Adeps Lanae dalam Praktikum

1. Praktikum ini bertujuan untuk mengidentifikasi adeps lanae dengan melakukan uji kelarutan, uji ammonia, uji identifikasi, dan uji homogenitas. 2. Hasil praktikum akan membahas hasil uji-uji tersebut. 3. Kesimpulan akan menyimpulkan hasil identifikasi adeps lanae.

Diunggah oleh

Marinus Kawe14
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd
0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
755 tayangan4 halaman

Identifikasi Adeps Lanae dalam Praktikum

1. Praktikum ini bertujuan untuk mengidentifikasi adeps lanae dengan melakukan uji kelarutan, uji ammonia, uji identifikasi, dan uji homogenitas. 2. Hasil praktikum akan membahas hasil uji-uji tersebut. 3. Kesimpulan akan menyimpulkan hasil identifikasi adeps lanae.

Diunggah oleh

Marinus Kawe14
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd

LAPORAN PRAKTIKUM KIMIA ANALISIS KUALITATIF

IDENTIFIKASI ADEPS LANAE

Dosen Pengampu :

RIKA REVINA, [Link], [Link]


VIA RIFKIA, [Link], [Link]

DISUSUN OLEH :

AGNESVIA WALUYANING PUTRI


1910212011

PROGRAM STUDI FARMASI PROGRAM SARJANA


FAKULTAS KEDOKTERAN
UNIVERSITAS PEMBANGUNAN NASIONAL “VETERAN” JAKARTA
2020
BAB I PENDAHULUAN
1.1 Tujuan Praktikum
Mengidentifikasi Lemak Bulu Domba (Adeps Lanae)

1.2 Tinjauan Pustaka


Dasar salep harus cocok artinya salep harus dapat bercampur secara fisika dan kimia
dengan bahan obat. Dasar salep tidak boleh merusak atau menghambat aksi terapi dari
obat dan dipilih sedemikian rupa sehingga mampu melepaskan obat pada area kulit yang
diobati. Terdistribusi merata artinya bahan obat harus terdistribusi secara merata dalam
basis salep yang cocok (Anief, 2006).

Basis salep
1. Basis salep hidrokarbon Basis salep hidrokarbon atau basis berlemak
merupakan basis bebas air. Sediaan larut air dan mengandung air dapat ditambahkan
dalam jumlah kecil dengan beberapa kesulitan. Basis ini memberikan efek melembutkan,
efektif sebagai penutup yang oklusif, mencegah hilangnya kelembapan, bertahan dalam
waktu yang lama pada kulit, dan sulit dicuci dengan air karena ketidaklarutannya dalam
air (Ansel, 1989). Basis hidrokarbon bersifat melunakkan kulit (emolien) dengan
meninggalkan lapisan dipermukaan kulit akibatnya hidrasi kulit akan meningkat karena
penguapan air pada lapisan kulit [Link] hidrasi basis hidrokarbon dapat
meningkatkan absorpsi obat, selain itu penempelan basis pada kulit dalam waktu lama
juga akan meningkatkan absorpsi obat. Basis yang mudah menyebar dipermukaan kulit
akan meningkatkan absorpsi obat (Ansel, 1989). Daya sebar dari salep hidrokarbon lebih
besar dibandingakan dengan basis lainnya, hal tersebut menunjukkan kemampuan
sediaan untuk menyebar pada kulit sehingga absorpsi obat akan meningkat (Naibaho et
al., 2013). Contoh dari basis hidrokarbon adalah vaselin album, vaselin flavum, cera
alba, cera flavum (Syamsuni, 2006).
2. Basis salep absorpsi, dibagi menjadi 2 tipe yaitu:
a. Basis yang memungkinkan dicampurkan dengan larutan berair
menghasilkan bentuk emulsi air dalam minyak.
b. Salep yang sudah dalam bentuk emulsi air dalam minyak yang
memungkinkan bercampur dengan sedikit larutan berair. Basis ini tidak
memiliki derajat oklusif seperti basis hidrokarbon namun dapat digunakan
sebagai pelembut (emolien). Fase eksternal pada basis ini berupa minyak
sehingga tidak akan hilang karena pencucian dengan air. Dalam bidang
farmasi basis absorpsi digunakan sebagai bahan tambahan untuk
mencampurkan larutan berair ke dalam basis hidrokarbon (Ansel, 1989).
Salah satu contoh dari basis absorpsi yaitu adaps lanae (Syamsuni, 2006).
3. Basis salep tercuci
Mirip dengan krim merupakan emulsi minyak dalam air. Basis ini hilang bila
dicuci dengan air sehingga disebut basis tercuci. Basis tercuci bisa diencerkan dengan air
atau larutan yang mengandung air (Ansel, 1989).
4. Basis salep larut air, hanya mengandung komponen yang larut dengan air.
Seperti halnya basis tercuci basis ini juga hilang bila dicuci dengan air. Basis ini tidak
mengandung bahan berlemak dan mudah melunak dengan penambahan air sehingga
tidak efektif jika dicampur dengan larutan berair. Sangat cocok jika jika dicampurkan
dengan bahan padat (Ansel, 1989).
Lemak bulu domba adalah zat berupa lemak yang dimurnikan, diperoleh dari bulu
domba Ovis aries Linne (Familia Bovidae) yang dibersihkan dan dihilangkan warna dan
baunya. Mengandung air tidak lebih dari 0,25%. Boleh mengandung antioksidan yang
sesuai tidak lebih dari 0,02% ( Farmakope Indonesia V, 2014).
Pemerian adeps lanae yaitu berbentuk setengah padat, seperti lemak diperolah dari
bulu domba (Ovis aries) merupakan emulsi air dalam minyak yang mengandung air
antara 25% sampai 30%. Berwarna kuning dengan bau yang khas. Kelarutan dari lanolin
tidak larut dalam air, larut dalam kloroform atau eter dengan pemisahan bagian airnya
akibat hidrasi. Lanolin digunakan sebagai pelumas dan penutup kulit dan lebih mudah
dipakai (Anief, 1997).

BAB II METODE PRAKTIKUM


2.1 Alat dan Bahan
Alat :

1. Pipet tetes
2. Tabung reaksi
3. Rak tabung reaksi
4. Beaker glass
5. Water bath
6. Penjepit tabung reaksi
7. Kapas

Bahan :
1. Adaps Lanae
2. Air
3. Etanol Panas
4. Etanol Dingin
5. Eter
6. Kloroform
7. NaOH 1 N
8. Anhidrida Asetat(p)
9. Asam Sulfat (p)

1.2 Cara Kerja


a. Kelarutan :
Zat + Etanol dingin
Zat + Etanol panas
Zat + Eter
Zat + kloroform
Zat + air

2. Ammonia (FI V, 2014. Hal. 761)


Zat + 1 ml Natrium Hidroksida 1N dalam 10 ml lapisan air yang diperoleh
dari penetapan asam dan basa larut air.

3. Identifikasi (FI III, 1979. Hal.61)


Zat + 5 ml Kloroform(p) + 1 ml Anhidrida Asetat(P) +2 tetes Asam Sulfat(p) 
Warna hijau tua
Zat + kloroform(p) + Aasam Sulfat(p), kocok  Lapisan bawah berwarna coklat
merah dan berflourensi hijau tua.

4. Uji Homogenitas (FI III, 1979)


Alat : Objek Glass/ kertas perkamen
Jika dioleskan pada sekeping kaca atau bahan transparan lain yang cocok
harus menunjukkan susunan yang homogen.

BAB III HASIL PRAKTIKUM

BAB IV PEMBAHASAN

BAB V KESIMPULAN

DAFTAR PUSTAKA
1. Anief. 1997. Ilmu Meracik Obat. Yogyakarta : UGM Press.
2. Anonim. 1979. Farmakope Indonesia edisi Ketiga. Jakarta : Depkes RI
3. Anonim. 2014. Farmakope Indonesia edisi Kelima. Jakarta : Depkes RI
4. Ansel C Howard. 1989. Pengantar Bentuk Sediaan Farmasi. Jakarta : UI Press.
5. Syamsuni. 2006. Farmasetika Dasar dan Hitungan Farmasi. Jakarta :
Penerbit Buku Kedokteran EGC.

LAMPIRAN

Anda mungkin juga menyukai