0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
39 tayangan22 halaman

Pengantar Frequency Division Multiplexing

Dokumen tersebut membahas tentang frekuency devission multiplexing, yaitu teknik multiplexing berdasarkan pembagian bidang frekuensi dimana beberapa kanal informasi ditumpangkan pada sinyal pembawa yang memiliki frekuensi berbeda-beda."

Diunggah oleh

Maheru Rama
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai PDF, TXT atau baca online di Scribd
0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
39 tayangan22 halaman

Pengantar Frequency Division Multiplexing

Dokumen tersebut membahas tentang frekuency devission multiplexing, yaitu teknik multiplexing berdasarkan pembagian bidang frekuensi dimana beberapa kanal informasi ditumpangkan pada sinyal pembawa yang memiliki frekuensi berbeda-beda."

Diunggah oleh

Maheru Rama
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai PDF, TXT atau baca online di Scribd

BPKM Teknik Transmisi

BAB II Frequency Devission Multiplexing


Tujuan Khusus
Setelah mengikuti, mempelajari dan mengerjakan soal/latihan-latihan dalam bab ini
mahasiswa dapat :
a. Memahami dan menjelaskan macam macam multiplexing.
b. Memahami dan menjelaskan pengertian frequency devission multiplexing;
c. Menjelaskan hierarkhy frequency devission multiplexing standar CCITT.
d. Menjelaskan aplikasi frequency devission multiplexing dalam teknik transmisi.

2.1. Macam-macam Multiplexing


Multiplexing adalah penggabungan beberapa kanal informasi kedalam sebuah kanal
transmisi. Dengan adanya multiplexing ini maka dalam satu kanal transmisi dapat dikirimkan
beberapa kanal informasi dalam waktu yang bersamaan (gambar 2-1). Jumlah kanal
informasi yang digabungkan dalam kanal transmisi telah dibuat standar baku oleh badan
telekomunikasi dunia ITU ( International Telecommunication Union) (CCITT “Comitee
Consultative International Telephone and Telegraph” sekarang ITU-T), dan (CCIR menjadi
ITU-R)

Gambar 2-1. Blok diagram konsep multiplexing


Secara garis besar terdapat dua jenis multiplexing, yaitu multiplexing yang berdasarkan pada
pembagian bidang frekuensi yang disebut FDM “Frequency Devision Multiplexing” dan
multiplexing yang berdasarkan pada pembagian bidang waktu yang disebut TDM “Time
Devision Multiplexing”.
Konsep dasar FDM adalah penggabungan beberapa kanal informasi kedalam kanal transmisi
dengan cara masing masing frekuensi kanal informasi ditumpangkan ke dalam sinyal
pembawa yang mempunyai frekuensi berbeda beda (lebih besar). Penumpangan sinyal
informasi kedalam sinyal pembawa dilakukan dalam sebuah modulator amplitudo (Modulator
AM), kemudian dilakukan pemilihan frekuensi sisi atas atau sisi bawah, selanjutnya
digabungkan menjadi satu untuk dikirimkan melalui satu kanal transmisi. Jumlah kanal

15
BPKM Teknik Transmisi

informasi yang digabung telah dibuat standar oleh CCITT, mulai dari yang terkecil 12 kanal
voice sampai yang terbesar sebanyak 1800 kanal voice. Lihat gambar 2-2.

Gambar 2-2. Konsep dasar FDM


Konsep dasar TDM adalah penggabungan tiap tiap kanal informasi dilakukan dengan cara
pengambilan sampel secara serentak, kemudian dikirimkan kedalam kanal transmisi secara
bergantian (gambar 2-3). Untuk mengenali kanal pertama, maka disisipkan sinyal
sinkronisasi, yaitu sinyal yang berfungsi sebagai penunjuk bahwa setelah sinyal ini adalah
kanal pertama diikuti kanal kedua danseterusnya sampai kanal terakhir, kemudian muncul lagi
sinyal sinkronisasi, kanal 1 dari sampel berikutnya, kanal 2 dan seterusnya berulang seperti itu
terus menerus.

Gambar 2-3. Konsep dasar TDM

16
BPKM Teknik Transmisi

Gambar 2-4. Perbedaan konsep FDM dengan TDM


Perbedaan lain antara FDM dengan TDM adalah, jika FDM adalah teknik transmisi analog,
sedang TDM merupakan teknik transmisi digital, sehingga ada proses perubahan sinyal
analog menjadi sinyal digital (lihat gambar 2-4 dan gambar 2-5).

Gambar 2-5. Transmisi analog dan transmisi digital

2.1.1. STDM (Statistical Time Division Multiplexing)


STDM diperkenalkan untuk mengatasi keterbatasan TDM standar, di mana stasiun tidak dapat
menggunakan setiap time slot lain secara bergantian. STDM kadang-kadang disebut statistik
muxes atau stat muxes, secara dinamis mengalokasikan time slot antara terminal aktif, artinya
tersedia lebih dari satu time slot pada terminal yang telah ada (lihat Gambar 2-6).
Stat mux adalah multiplexing yang lebih cerdas dari mux lainnya, mux ini memiliki memori
lebih besar dari pada muxes lain, jadi jika semua time slot sibuk, maka kelebihan data akan
disimpan di buffer. Jika buffer penuh, data akses yang ditambahkan hilang, jadi penting
untuk berpikir tentang berapa besar lalu lintas yang dapat ditempatkan melalui stat mux
untuk mempertahankan variabel kinerja. Secara dinamis mengalokasikan time slot
memungkinkan Anda untuk membuat yang paling efisien penggunaan bandwidth. Lebih jauh,
karena ini adalah intellegent muxes, mereka memiliki kecerdasan tambahan disebutkan
sebelumnya dalam hal kompresi dan kendali kesalahan fitur. Karena alokasi time slot
dinamis, sebuah stat mux bisa membawa dua sampai lima kali lebih banyak lalu lintas dari

17
BPKM Teknik Transmisi

mux time division tradisional. Tapi, sekali lagi, jika trafik yang dimuat stat mux besar, bisa
terjadi risiko penundaan dan kehilangan data (gambar 2-6).

Gambar 2-6. Konsep dasar STDM


Stat muxes sangat penting karena merupakan dasar dari teknologi packet switching (misalnya,
X.25, IP, Frame Relay, ATM) yang dibangun. Manfaat utama dari sebuah stat mux adalah
penggunaan bandwidth yang efisien, yang mengarah pada efisiensi transmisi.

2.1.2. Intelligent Multiplexing (Multiplexing cerdas)


Multiplekser cerdas sering disebut sebagai konsentrator, terutama di dunia telekomunikasi.
Mux ini adalah perangkat pembagi saluran (line-sharing device) yang tujuannya adalah untuk
menggabungkan lebih banyak kanal kecepatan rendah agar bisa dibawa melalui jalur
kecepatan tinggi ke tujuan terminal berikutnya dalam jaringan.
Sebuah contoh dari sebuah concentrator adalah alat yang disebut digital loop carrier (DLC),
yang juga disebut sebagai remote concentrator atau remote terminal. Dalam Gambar 2-7,
digunakan twisted-pair yang menghubungkan local exchange dengan pelanggan. Sebelum
kedatangan DLC, setiap rumah tangga membutuhkan twisted-pair. Jika permintaan meningkat
melampaui kapasitas satuan sambungan yang tersedia di local exchange, maka pelanggan
belum bisa dilayani oleh lokal exchange sampai local exchange baru ditambahkan.
Disamping itu dengan kabel pair mempunyai keterbatasan jarak jangkauan antara local
exchange dengan pelanggan.

18
BPKM Teknik Transmisi

Teknologi digital membuat penggunaan kabel multipair yang ada lebih baik dari pada
teknologi analog. Dengan menggunakan kabel pair yg telah terpasang masing-masing secara
individual per pelanggan ke sentral lokal, dapat ditempatkan sebuah DLC di tengah (antara
sentral dengan pelanggan). Hubungan DLC ke sentral lokal dapat digunakan serat optik atau
microwave, dan kemudian dilakukan multiplexing. Ketika sinyal sampai ke DLC, kemudian
dilakukan demultiplexing untuk menghasilkan kanal individu untuk twisted-pair ke rumah
tangga. Hal ini juga memungkinkan Anda untuk memberikan layanan kepada pelanggan yang
berada di luar spesifikasi jarak antara pelanggan dan sentral lokal. Jadi, pada dasarnya, DLC
dapat digunakan untuk mengatasi masalah yang berhubungan dengan loop panjang.

Gambar 2-7. Konsep dasar intelligent multiplexing

2.1.3. Inverse Multiplexing


Inverse Multiplexing dikembangkan sekitar tahun 1990. Mutiplexing ini kebalikan dari
multiplexing yang telah kita bicarakan sebelumnya sejauh ini. Multiplexing ini membagi bagi
sinyal dengan bandwidth tinggi menjadi beberapa grup sinyal data dengan bitrate kecil untuk
kemudian dilewatkan melalui jaringan yang terpisah pisah tersebar di berbagai saluran.
Aplikasi utama dari invers multiplexer adalah untuk mendukung aplikasi pengiriman data
yang memerlukan bandwidth tinggi seperti video conference.
Dalam Gambar 2-8, suatu sistem video conference menggunakan bitrate 1.5 Mbps. Hal ini
karena untuk menghasilkan kualitas gambar baik, menjaga full-motion, memenuhi kebutuhan
untuk mencapai video durasi panjang. Misalkan suatu perusahaan mengatakan bahwa akan

19
BPKM Teknik Transmisi

dilakukan dua jam pertemuan video conferenced dua kali setiap bulan. Sangat sedikit
pelanggan bersedia membayar untuk sebuah 1,5 Mbps atau 2 Mbps untuk sebuah aplikasi
yang mereka gunakan hanya empat jam setiap bulan. Sebaliknya, mereka ingin ada fasilitas
digital untuk membawa lalu lintas yang diperlukan tersebut. Inverse Mux memungkinkan
melakukan hal ini. Dalam Gambar 2-8, streaming video sebesar 1.5 Mbps dimasukkan ke
multiplekser invers, kemudian invers mux menjadi 24 bagian saluran masing masing 64 Kbps
dan masing-masing dari 24 kanal menempati saluran terpisah pada fasilitas yang sudah ada yg
berupa T-1/E-1, ISDN-PRI. Kemudian pengiriman sinyal data 64 kbps dilakukan di seluruh
jaringan secara terpisah tetapi telah masuk sistem teknik transmisi masing masing. Di titik
tujuan, dilakukan pengambilan kembali sinyal sinyal video semula dan mereproduksi sinyal
bandwidth yang tinggi sehingga dapat ditampilkan pada monitor video tujuan.

Gambar 2-8. Inverse multiplexing


Oleh karena itu inverse multiplexing memungkinkan Anda untuk mengalami sedikit elastis
bandwidth. Anda dapat mengalokasikan kapasitas yang ada untuk sebuah aplikasi bandwidth
yang tinggi tanpa harus berlangganan ke link terpisah hanya untuk tujuan itu.

2.1.4. WDM (wavelength-division multiplexing).


WDM secara khusus dikembangkan untuk digunakan pada sistem komunikasi serat optik.
Sebelum kedatangan WDM, pengiriman sinyal dalam fiber optik hanya menggunakan satu
panjang gelombang cahaya dalam setiap serat, meskipun spektrum cahaya tampak
mempunyai sejumlah besar panjang gelombang yang berbeda (gambar 2-9). Hal ini terutama

20
BPKM Teknik Transmisi

karena keterbatasan keterbatasan akibat redaman di serat optik yang menyerap kekuatan
sinyal. Karena itu, di suatu tempat sebelum sinyal asli menjadi tidak jelas, sinyal optik harus
diregenerasi (yaitu, diberikan kekuatan baru) sehingga akan tetap mempertahankan informasi
sampai mencapai tujuannya atau setidaknya sampai diperkuat lagi. Pada tahun 1994, sesuatu
yang sangat penting terjadi yaitu dengan ditemukannya Optical amplifier yang disebut
Erbium-doped Fiber Amplifier (EDFAs). Erbium adalah bahan kimia yang disuntikkan ke
dalam serat. Pulsa cahaya yang melewati erbium, akan diperkuat sambil terus berjalan, tanpa
harus dihentikan dan diproses sebagaimana penguatan sinyal listrik. Pengenalan teknologi
EDFAs telah memperbaiki unjuk kerja sistem serat optik sehingga mampu beroperasi
menyalurkan bitrate 10 Gbps.

EDFAs juga membuka jalan untuk mengembangkan wavelength devision multiplexer. WDM
adalah suatu methode pengiriman sinyal dengan mengambil keuntungan dari fakta bahwa
beberapa warna, atau frekuensi, cahaya dapat ditransmisikan secara simultan melalui satu
serat optik. Kecepatan data yang dibawa oleh masing masing panjang gelombang tergantung
pada jenis sumber cahaya. Satu hal untuk menjelaskan tentang penggunaan WDM pertama
adalah bahwa tidak seperti jenis multiplexing lain, dalam hal ini tujuannya adalah untuk
memasukkan beberapa saluran kecil ke dalam satu saluran yang lebih besar, WDM
dimaksudkan untuk memberikan saluran terpisah untuk setiap layanan, pada tingkat data
tinggi. Semakin banyak perusahaan-perusahaan memanfaatkan switch kapasitas tinggi dan
router yang dilengkapi dengan interface 2.5 Gbps, jadi keinginan besar komunitas pengguna
untuk plug-in ke saluran yang cukup besar untuk membawa sinyal bandwidth tinggi dari
ujung ke ujung, tanpa harus memecahnya menjadi bitrate lebih kecil.

2.1.5. DWDM (Dense wavelength-division multiplexing).


DWDM adalah sistem WDM yang mampu melewatkan cahaya lebih dari 8 panjang
gelombang lihat Gambar 2-9. Dengan sistem ini maka jumlah kanal bitrate tinggi yang dapat
dilewatkan dalam satu core lebih dari 8 kanal. Sistem ini dapat bekerja dengan baik pada OC-
48 (2.5Gbps) dan OC-192 (10Gbps). Dalam perkembangannya sistem yang baru dengan
bitrate 40 Gbps (OC-768) sekarang juga tersedia, dan Bell Laboratorium telah menghasilkan
suatu teknik yang bisa memungkinkan kita untuk menyalurkan lebih dari 15.000 saluran atau
panjang gelombang pada satu serat optik atau satu core. Salah satu faktor yang
memungkinkan terjadinya DWDM ini adalah bahwa fiber optik menggunakan cahaya sebagai

21
BPKM Teknik Transmisi

sinyal pembawa, dengan frekuensi [Link].000 Hz, yaitu cayaha yang berada
diantara infrared dan ultravioled.

Gambar 2-9a. Prinsip dasar Dense Wavelenght Devision Multiplexing


The Cisco EWDM product line provides the ability to overlay up to 8 DWDM wavelengths
with the 8 CWDM channels (1470, 1490, 1510, 1530, 1550, 1570, 1590, and 1610 nm). The
principle is very simple, yet it is a unique approach in that the 8 DWDM wavelengths are
inserted in between CWDM channels. EWDM allows 5 DWDM channels to be multiplexed
between the 1530-nm and 1550-nm CWDM wavelengths and 3 DWDM channels between the
1550-nm and 1570-nm CWDM wavelengths. A total of 8 CWDM plus 8 DWDM
wavelengths can be supported on the same fiber infrastructure (See Figure 2-9b).

Gambar 2-9b. DWDM dan CDWDM

22
BPKM Teknik Transmisi

Gambar 2-9c. Teknik WDM

Gambar 2-9d. Transmisi dengan DWDM


Karena sistem DWDM menangani informasi optik daripada elektrik, sangat penting bahwa
aplikasi jarak jauh tidak menderita efek dari dispersi dan atenuasi. Amplifier fiber erbium-
doped (EDFAs) melawan masalah ini. EDFAs adalah serat optik silika berbasis yang diolah
dengan erbium. Elemen ini tanah jarang memiliki tingkat energi yang sesuai dalam struktur
atom untuk memperkuat cahaya pada 1550 nm. A 980 nm "pompa" laser digunakan untuk
menyuntikkan energi ke dalam serat doped. Ketika sinyal lemah pada 1310 nm atau 1550 nm
memasuki serat, cahaya merangsang atom tanah jarang untuk melepaskan energi mereka
disimpan sebagai tambahan 1310 nm atau 1550 nm cahaya. Proses ini berlanjut sebagai sinyal
melewati bawah serat, terus bertambah kuat. Gambar 4 mengilustrasikan serat erbium-doped.

2.2. FDM (Frequency Devission Multiplexing)

Teknik transmisi FDM ini memungkinkan untuk mengirimkan beberapa kanal secara simultan
melalui kanal yang sama tanpa tercampurnya informasi kanal satu dengan kanal lainnya

23
BPKM Teknik Transmisi

karena masing masing kanal informasi dalam kanal transmisi frekuensinya telah
ditranslasikan ke frekuensi pembawa yang berbeda beda dengan proses modulasi amplitudo
(AM). Tiap tiap kanal informasi dibawa oleh sinyal pembawa dengan frekuensi berbeda beda.
Pengubahan frekuensi informasi kedalam frekuensi pembawa disebut proses pencampuran
(mixing) atau modulasi dalam modulator AM. Penggabungan dalam sistem FDM dilakukan
pada intertoll trunk dan toll connecting trunk, yaitu saluran yang menghubungkan antar
exchange di satu kota dengan exchange kota lain. Perangkat FDM dipasang setelah exchange
yaitu pada saluran 4 kawat (4-wire transmission) lihat gambar 2-10.

Gambar 2-10. Terjadinya FDM dalam sistem telepon


Dalam proses ini tiap kanal informasi yang mempunyai bandwidth sandar CCITT 4 kHz,
dengan frekuensi voice standar CCITT 300 Hz – 3400 Hz, ditumpangkan dalam frekuensi
pembawa, sehingga yang terlihat adalah frekuensi pembawanya, sedangkan sinyal
informasinya menentukan atau mempengaruhi lebar bandwidth hasil modulasi amplitudo
terhadap tiap sinyal pembawa, sehingga menentukan bandwitdh kanal transmisinya. Jika
jumlah kanal yang dimultiplex sebanyak 6 buah, maka lebar bandwidth adalah sebesar 4 kHz
x 6 = 24 kHz. Sedang jumlah sinyal pembawa yang diperlukan juga 6 buah dengan frekuensi
pembawa 1 dengan frekuensi pembawa lainnya berbeda minimal sebesar 4 kHz (lihat gambar
2-11).

24
BPKM Teknik Transmisi

Gambar 2-11. Channel spacing carrier

Dalam proses pencampuran (mixing) dua buah sinyal dengan frekuensi A dan B, maka hasil
mixing adalah A+B dan A-B. Untuk sinyal informasi voice dengan frekuensi 300 Hz sampai
3400 Hz yang dibawa oleh sinyal dengan frekuensi 20 kHz akan menghasilkan output sebesar
20.300 s/d 23.400 Hz (lihat gambar 2-12),

20.000 Hz 20.000 Hz
+ 300 Hz + 3.400 Hz
20.300 Hz 23.400 Hz

Gambar 2-12. Proses mixing dan output sisi Upper


Sedangkan pada sisi LSB sinyal informasi dengan frekuensi 300 Hz s/d 3400 Hz berubah
menjadi 16.600 Hz s/d 19.700 Hz (gambar 2-13).

Mixer
300 Hz 3.400 Hz 16.600 Hz 19.700 Hz

20 kHz

Gambar 2-13. Proses Mixing sisi Lower

25
BPKM Teknik Transmisi

Berdasarkan rekomendasi CCITT G.233 hierarkhy FDM dikelompokan berdasarkan jumlah


kanal yang dimultiplex mulai terendah sampai tertinggi adalah sebagai berikut :
 Standar Group menggabungkan 12 kanal voice (60 – 108 KHz)
 Super Group menggabungkan 60 kanal voice (312 – 552 KHz)
 Master Group-600 menggabungkan 600 kanal voice (564 – 3084 KHz)
 Master Group-900 menggabungkan 900 kanal voice (312 – 4028 KHz)
 Super Master Group menggabungkan 1800 kanal voice (564 – 8284 KHz)

2.2.1. Standar Group


Standar group dibentuk dengan menggabungkan 12 kanal voice 300-3400 Hz kedalam kanal
transmisi. Ke 12 ch voice ditranslasikan ke dalam frekuensi pembawa kemudian outputnya
digabungkan sehingga menghasilkan bandwidth 60 KHz s/d 108 KHz (gambar 2-14).
Terdapat dua methode dalam pembentukan standar group ini, pertama dengan melalui pre
group yaitu menggabungkan 3 ch voice dengan frekuensi pembawa masing masing 12 KHz,
16 KHz, dan 20 KHz, membentuk pregroup 12 KHz s/d 24 KHz, kemudian 4 buah pre group
digabung dengan masing masing ditraslasikan oleh frekuensi pembawa 84 KHz, 96 KHz, 108
KHz, dan 120 KHz, diambil sisi LSB (Lower Side Band) menghasilkan output 60 KHz s/d
108 KHz (gambar 2-15). Methode kedua dengan secara langsung yaitu ke 12 ch voice masing
masing ditranslasikan kedalam frekuensi pembawa sebesar 64 KHz, 68 KHz, 72 KHz, 76
KHz, 80 KHz, 84 KHz, 88 KHz, 92 KHz, 96 KHz, 100 KHz, 104 KHz, diambil LSB dengan
hasil sebagai berikut :
 Ch1 ditranslasikan ke frekuensi pembawa 64 KHz, menjadi 60-64 KHz,
 Ch2 ditranslasikan ke frekuensi pembawa 68 KHz, menjadi 64-68 KHz,
 Ch3 ditranslasikan ke frekuensi pembawa 72 KHz, menjadi 68-72 KHz,
 Ch4 ditranslasikan ke frekuensi pembawa 76 KHz, menjadi 72-76 KHz,
 Ch5 ditranslasikan ke frekuensi pembawa 80 KHz, menjadi 76-80 KHz,

26
BPKM Teknik Transmisi

Gambar 2-14. Formasi standar group CCITT methode langsung(1)


 Ch6 ditranslasikan ke frekuensi pembawa 84 KHz, menjadi 80-84 KHz,
 Ch7 ditranslasikan ke frekuensi pembawa 88 KHz, menjadi 84-88 KHz,
 Ch8 ditranslasikan ke frekuensi pembawa 92 KHz, menjadi 88-92 KHz,
 Ch8 ditranslasikan ke frekuensi pembawa 96 KHz, menjadi 92-96 KHz,
 Ch10 ditranslasikan ke frekuensi pembawa 100 KHz, menjadi 96-100 KHz,
 Ch11 ditranslasikan ke frekuensi pembawa 104 KHz, menjadi 100-104 KHz,
 Ch12 ditranslasikan ke frekuensi pembawa 108 KHz, menjadi 104-108 KHz.

27
BPKM Teknik Transmisi

Output masing masing mixer digabungkan dengan rangkaian combiner sehingga


menghasilkan frekuensi 60 KHz s/d 108 KHz (lihat gambar 2-14).
Pada gambar 2-14, tidak ditampilkan keluaran lengkap dari masing masing modulator (M),
yang sebenarnya keluaran masing masing modulator terdiri atas LSB (Lower Side Band),
USB (Upper Side Band) dan frekuensi pembawanya sendiri. Misal untuk ch 1 yang
dimodulasi dengan frekuensi pembawa 64 KHz akan menghasilkan LSB (60 KHz s/d 64
KHz), USB (64 KHz s/d 64 KHz) dan frekuensi pembawa 64 KHz. Kemudian dilakukan
proses penekanan frekuensi pembawa dan penekanan frekuensi USB dengan band pass filter.
Methode kedua adalah dengan melalui pregroup, yaitu dilakukan secara bertingkat, mula mula
3 channel digabung jadi satu membentuk pregroup (lihat gambar 2-15), kemudian 4 buah
pregroup digabung menghasilkan stadar group (12 channel).

u
Mixer
Channel 1 12 KHz u 16 KHz
0 Hz s/d 4000 Hz u
12 kHz

Channel 2
Mixer
16 KHz 20 KHz  Pregroup
0 Hz s/d 4000 Hz 12 KHz - 24 KHz
16 kHz 3 Channel

Mixer
Channel 3 20 KHz 24 KHz
0 Hz s/d 4000 Hz
20 kHz

Gambar 2-15. Pembentukan pregroup(1)


Selanjutnya 4 buah pregroup dengan frekuensi masing masing (12 KHz s/d 24 KHz)
dimodulasi dengan sinyal pembawa dengan frekuensi 120 KHz, 108 KHz, 96 KHz dan 84
KHz, dipilih sisi LSB kemudian digabungkan dengan rangkaian combiner.
Pregroup 1 ditranslasi dengan frekuensi 120 KHz menghasilkan (96 KHz – 108 KHZ)
Pregroup 2 ditranslasi dengan frekuensi 108 KHz menghasilkan (84 KHz – 96 KHZ)
Pregroup 3 ditranslasi dengan frekuensi 96 KHz menghasilkan (72 KHz – 84 KHZ)
Pregroup 4 ditranslasi dengan frekuensi 84 KHz menghasilkan (60 KHz – 72 KHZ)

28
BPKM Teknik Transmisi

u
Mixer
Pregroup 1 u
96 KHz – 108 KHZ
12 KHz s/d 24 KHz u
120 kHz

Mixer
Pregroup 2 84 KHz – 96 KHZ
12 KHz s/d 24 KHz
108 kHz
 Standar Group
60 KHz 108 KHz
Mixer
12 Channel
Pregroup 3 72 KHz – 84 KHZ
12 KHz s/d 24 KHz
96 kHz

Mixer
Pregroup 4 60 KHz – 72 KHZ
12 KHz s/d 24 KHz
84 kHz

Gambar 2-16. Pembentukan standar group melalui pregroup

2.2.2. Super Group


Supergroup berisi 60 channel voice, menempati range frekuensi 312 KHz s/d 552 KHz.
Supergroup dibentuk dengan menggabungkan 5 buah standar group (60 KHz – 108 KHz)
yang dimodulasi dengan frekuensi pembawa masing masing 420 KHz, 468 KHz, 516 KHz,
564 KHz, 612 KHz (gambar 2-17). Keluaran modulator diambil sisi lowernya (LSB) sesuai
rekomendasi CCITT nomor G.241, sehingga keluaran masing masing modulator untuk
standar group 1 sampai standar group 5 adalah sebagai berikut :
 Standar Group 1 dengan frekuensi carrier 420 KHz menghasilkan (312 – 360) KHz
 Standar Group 2 dengan frekuensi carrier 468 KHz menghasilkan (369 – 408) KHz
 Standar Group 3 dengan frekuensi carrier 516 KHz menghasilkan (408 – 456) KHz
 Standar Group 4 dengan frekuensi carrier 564 KHz menghasilkan (456 – 504) KHz
 Standar Group 5 dengan frekuensi carrier 612 KHz menghasilkan (504 – 552) KHz
Jarak antara frekuensi pembawa untuk standar group satu ke frekuensi pembawa untuk
standar group berikutnya adalah sebesar 48 KHz, sama dengan bandwidth standar group.
29
BPKM Teknik Transmisi

Gambar 2-17. Formasi super group standar CCITT G.233(1)


Bandwidth super group adalah sebesar 552 KHz – 312 KHz = 240 KHz, yaitu sama dengan 5
kali bandwidth standar group (5 x 48 KHz = 240 KHz).

2.2.3. Master Group 600


Master Group adalah group yang berisi 600 channel voice, menempati range frekuensi (564
KHz – 3084 KHz). Master group dibentuk dengan menggabungkan 10 buah super group (312
KHz – 552 KHz) yang dimodulasi dengan frekuensi pembawa masing masing 1116 KHz,
1364 KHz, 1612 KHz, 1860 KHz, 2108 KHz, 2356 KHz, 2652 KHz, 2900 KHz, 3148 KHz,
3396 KHz, sehingga master group ini menampung kanal voice sebesar 600 kanal. Tiap tiap
super group ditumpangkan kedalam sinyal pembawa masing-masing dengan modulator
balance, keluaran modulator diambil sisi lowernya (LSB) sesuai rekomendasi CCITT dengan
menggunakan band pass filter, sehingga keluaran masing masing modulator untuk super
group 1 sampai super group 10 adalah sebagai berikut :
 Super Group 1 dengan frekuensi carrier 1116 KHz menghasilkan (564 – 804) KHz
 Super Group 2 dengan frekuensi carrier 1364 KHz menghasilkan (812 – 1052) KHz
 Super Group 3 dengan frekuensi carrier 1612 KHz menghasilkan (1060 – 1300) KHz
 Super Group 4 dengan frekuensi carrier 1860 KHz menghasilkan (1308 – 1548) KHz
 Super Group 5 dengan frekuensi carrier 2108 KHz menghasilkan (1556 – 1796) KHz
 Super Group 6 dengan frekuensi carrier 2356 KHz menghasilkan (1804 – 2044) KHz
 Super Group 7 dengan frekuensi carrier 2652 KHz menghasilkan (2100 – 2340) KHz

30
BPKM Teknik Transmisi

 Super Group 8 dengan frekuensi carrier 2900 KHz menghasilkan (2348 – 2588) KHz
 Super Group 9 dengan frekuensi carrier 3148 KHz menghasilkan (2596 – 2836) KHz
 Super Group 10 dengan frekuensi carrier 3396 KHz menghasilkan (2844 – 3084) KHz
Dalam master group 600 ini terdapat guard band antar super group, hal ini diperlukan untuk
memudahkan dalam penerimaan. Guard band antar super group adalah sebesar 8 KHz,
kecuali untuk super group 6 ke super group 7 terdapat guard band sebesar 56 KHz, sehingga
mengakibatkan meningkatnya bandwidth master group ini menjadi (4x600) + (8x8) + 56 =
2400 + 64 + 56 = 2520 KHz, lebih besar dari bandwidth yang diperlukan minimal, yaitu 4
KHz/ch x 600 ch = 2400 KHz. Heirarkhi master group 600 standar CCITT dapat dilihat pada
Gambar 2-18.

Mixer
Super group 1 564 – 804 KHZ
312 - 552 KHz
1116 kHz

Mixer
Super group 2 812 – 1052 KHZ
312 - 552 KHz
1364 kHz

1612 kHz
1860 kHz


2108 kHz Master Group 600
564 – 3084 KHz
2356 kHz
600 channel
2652 kHz
2900 kHz

Mixer
Super group 9 2596 – 2836 KHZ
312 - 552 KHz
3148 kHz

Mixer
Super group 10 2844 – 3084 KHZ
312 - 552 KHz
3396 kHz
Gambar 2-18. Formasi Master Group 600
2.2.4. Master Group-900

31
BPKM Teknik Transmisi

Master Group 900 berisi 900 channel voice, menempati range frekuensi (312 – 4028) KHz.
Master group 900 ini dibentuk dengan menggabungkan 15 buah super group yang mempunyai
frekuensi masing-masing (312 – 552) KHz dan dimodulasi amplitudo dengan 15 balance
modulator. Tiap super group menjadi input balance modulator dengan frekuensi pembawa
masing masing balance modulator adalah : 1116 KHz, 1364 KHz, 1612 KHz, 1860 KHz,
2108 KHz, 2356 KHz, 2604 KHz, 2852 KHz, 3100 KHz, 3348 KHz, 3596 KHz, 3844 KHz,
4092 KHz, 4340 KHz. Keluaran balance modulator diambil sisi lowernya (LSB) sesuai
rekomendasi CCITT dengan band pass filter yang mempunyai frekuensi cut off pada sisi
upper side band keluaran masing-masing balance modulator.
Keluaran masing masing modulator setelah melalui filter untuk super group 1 sampai super
group 15 adalah sebagai berikut :
 Super group 1 langsung (direct) dimasukkan combiner (312 – 552) KHz.
 Super Group 2 dengan frekuensi carrier 1116 KHz menghasilkan (554 – 804) KHz
 Super Group 3 dengan frekuensi carrier 1364 KHz menghasilkan (812 – 1052) KHz
 Super Group 4 dengan frekuensi carrier 1612 KHz menghasilkan (1060 – 1300) KHz
 Super Group 5 dengan frekuensi carrier 1860 KHz menghasilkan (1308 – 1548) KHz
 Super Group 6 dengan frekuensi carrier 2108 KHz menghasilkan (1556 – 1796) KHz
 Super Group 7 dengan frekuensi carrier 2356 KHz menghasilkan (1804 – 2044) KHz
 Super Group 8 dengan frekuensi carrier 2604 KHz menghasilkan (2052 – 2292) KHz
 Super Group 8 dengan frekuensi carrier 2852 KHz menghasilkan (2300 – 2540) KHz
 Super Group 10 dengan frekuensi carrier 3100 KHz menghasilkan (2548 – 2788) KHz
 Super Group 11dengan frekuensi carrier 3348 KHz menghasilkan (2796 – 3036) KHz
 Super Group 12 dengan frekuensi carrier 3596 KHz menghasilkan (3044 – 3284) KHz
 Super Group 13 dengan frekuensi carrier 3844 KHz menghasilkan (3292 – 3532) KHz
 Super Group 14 dengan frekuensi carrier 4092 KHz menghasilkan (3540 – 3780) KHz
 Super Group 15 dengan frekuensi carrier 4340 KHz menghasilkan (3788 – 4028) KHz
Untuk mengontrol level FDM digunakan pilot tone yang juga digunakan untuk mengaktifkan
alarm perawatan. Dalam gambar 2-17 dan gambar 2-19 pilot tone ditunjukkan dengan garis
vertikal dengan segitiga kecil ujung atas.

32
BPKM Teknik Transmisi

Gambar 2-19. Master Group 900 channel


Sebagai contoh dalam master group 900 yang dibentuk dari 15 super group dalam gambar 2-
19, pilot tone terletak pada frekuensi 1552 KHz.
Pilot tone memberikan sebuah amplitudo konstan sebagai referensi rangkaian gain control
(AGC). Perangkat FDM telah didesain untuk membawa sinyal voice telepon, yang secara
alamiah mempunyai amplitudo yang sangat bervariasi sehingga sangat sulit mencari level
referensinya, karena itu digunakan gelombang sinus yang mempunyai amplitudo konstan dan
duty cycles 100 % akan memudahkan rangkaian untuk mengontrol level yang diperlukan.

33
BPKM Teknik Transmisi

2.2.5. Super Master Group


Super Master Group ini berisi 1800 channel voice, menempati range frekuensi (564 – 8284)
KHz (lihat gambar 2-20).

Master group 1
564- 3084 KHz


Super Master Group
Mixer
Master group 2 3164 – 5684 KHZ 564 – 8284 KHZ
564-3084 KHz 1800 channel
6248 kHz

Mixer
Master group 3 5764 – 8284 KHZ
564-3084 KHz
8848 kHz

Bandwidth 7720 kHz

80 kHz 80 kHz
Guard band Guard band

Master Group 1 Master Group 2 Master Group 3

564 3084 3164 5684 5764 8284 KHz

Gambar 2-20. Super Master Group 1800 channel


Master group ini dibentuk dengan menggabungkan 3 buah master group 600 (564 – 3084)
KHz, yang pertama langsung digabungkan ke rangkaian combiner dan yang ke dua serta yang
ketiga ditranslasi dengan cara dimodulasi amplitudo oleh frekuensi pembawa masing masing
6248 KHz, dan 8848 KHz. Keluaran modulator diambil sisi lowernya (LSB) sesuai
rekomendasi CCITT menggunakan band pass filter, sehingga keluaran masing masing
modulator untuk master group 1 sampai master group 3 adalah sebagai berikut :
 Master group 1 langsung (direct) dimasukkan combiner (564 – 3084) KHz.
 Master Group 2 dengan frekuensi carrier 6248 KHz menghasilkan (3164 – 5684) KHz

34
BPKM Teknik Transmisi

 Master Group 3 dengan frekuensi carrier 8848 KHz menghasilkan (5764– 8284) KHz

2.3. Contoh soal


Suatu sentral telepon lokal A (local exchange) mempunyai kapasitas 10.000 satuan
sambungan. Sentral tersebut berhubungan dengan 3 sentral lokal lain (B, C, D) dengan
kapasitas traffik :
- ke sental B sebesar 1500 channel vioce,
- ke sentral C sebesar 890 channel
- ke sentral D sebesar 670 channel
Tentukan perangkat teknik transmisi yang digunakan.
Penyelesaian :
Kapasitas channel yang dapat ditampung dalam FDM adalah seperti ditunjukkan pada
halaman 24, sehingga :
- hubungan sentral A ke sentral B menggunakan Supermaster group
- hubungan sentral A ke sentral C menggunakan Master group 900
- hubungan sentral A ke sentral D menggunakan Master group 900

2.4. Rangkuman
Multiplexing merupakan teknologi yang penting dalam teknik transmisi. Dengan
multiplexing dapat dilakukan penghematan biaya pembangunan jaringan transmisi trunk,
karena dengan multiplexing dapat menghemat jumlah saluran trunk. Terdapat 5 macam jenis
multiplexing yaitu, FDM, TDM, STDM, Intellegent Multiplexing, Inverse Multiplexing dan
WDW, DWDM.
FDM merupakan multiplexing analog, proses translasi kanal kepadatan rendah ke kanal
kepadatan tinggi dilakukan dengan teknik modulasi amplitudo. Untuk menghemat bandwidth
hanya digunakan pada sisi lower atau upper dengan band pass filter.
TDM merupakan multiplexing digital, sehingga semua sinyal analog akan diubah ke dalam
bentuk sinyal digital.
Intellegent multiplexing telah memungkinkan perluasan akses jaringan lokal akses tembaga
bisa menjangkau pelanggan yang jauh dari sentral yaitu dengan diaplikasikannya teknologi
Digital Loop Carrier yang dipasang antara sentral lokal dengan jaringan kabel tembaga.
Inverse multiplexing merupakan kebalikan dari multiplexing yang selama ini dikenal,
multiplexing ini membagi kanal bitrate tinggi menjadi beberapa data bitrate kecil kecil
kemudian dilewatkan pada beberapa kanal transmisi bitrate tinggi, disisi penerima

35
BPKM Teknik Transmisi

dikembalikan lagi ke kanal semula. Inverse multiplexing sesuai untuk mengirimkan


streaming sinyal video.

2.5. Latihan
1. Jelaskan perbedaan mendasar antara FDM dengan TDM.
2. Jelaskan bagaimana dasar yang digunakan untuk menghitung kebutuhan lebar bandwidth
dalam suatu sistem FDM.
3. Jelaskan apakah dimungkinkan dilakukan pemakaian sistem multiplexing secara
bersamaan dalam suatu sistem, misalnya FDM diginakan bersama dengan DWDM ?.
4. Jelaskan manfaat yang penting dengan diaplikasikannya intellegent multiplexing.

Daftar Pustaka.
1. Roger L. Freeman, 1980, Telecommunication Transmission Handbook, Mc Graw Hill,
New York.

36

Anda mungkin juga menyukai