Mata Ajar : Keperawatan Kegawatdaruratan
Pembimbing :
LAPORAN PENDAHULUAN
RESUSITASI JANTUNG PARU DAN AED
Disusun Oleh:
NUR HAINI
14220170017
PROGRAM STUDI S1 ILMU KEPERAWATAN
FAKULTAS KESEHATAN MASYARAKAT
UNIVERSITAS MUSLIM INDONESIA
MAKASSAR
2020
A. Definisi
Resusitasi merupakan usaha untuk mengembalikan fungsi sistem
pernapasan, peredaran darah dan saraf yang terganggu ke fungsi yang
optimal sehingga muncul istilah resusitasi jantung paru (RJP). Resusitasi
jantung paru dibagi dalam 3 tahap, yaitu (1) bantuan hidup dasar (BHD);
(2) bantuan hidup lanjut; (3) bantuan hidup jangka panjang.3 Bantuan
hidup dasar adalah usaha untuk memperbaiki dan / atau memelihara jalan
napas, pernapasan dan sirkulasi serta kondisi darurat yang terkait. Bantuan
hidup dasar terdiri dari penilaian awal, penguasaan jalan napas, ventilasi
pernapasan dan kompresi dada (Putri dan Sidemen, 2017).
Automated external defibrillator (AED) aman dan efektif bila
digunakan oleh orang awam dengan pelatihan minimal atau tidak terlatih.
Disarankan bahwa program AED untuk korban dengan OHCA diterapkan
di lokasi umum tempat adanya kemungkinan korban serangan jantung
terlihat relatif tinggi (misalnya, bandara dan fasilitas olahraga) (Putri dan
Sidemen, 2017).
B. Tujuan
Tujuan RJP
1. Mengembalikan fungsi jantung
2. Mengembalikan fungsi paru-paru
3. Mempertahankan fungsi sirkulasi
C. Indikasi
1. Henti Jantung
Pengenalan terhadap henti jantung bergantung pada
ditemukannya tanda-tanda tidak adanya sirkulasi seperti henti jantung
paru (HJP) ditandai dengan dispnea, kulit pucat abu-abu, pupil lebar
dan tidak relaktif pulsasi arteri karotis tidak teraba, adalah gejala-
gejala utama kegagalan kardiosirkular akut. Bila henti sirkulasi
mendadak terjadi, gejala-gejala muncul dalam waktu singkat adalah
sebagai berikut (Arif Muttaqin, 2009):
a. Tidak terabanya nadi segera
b. Ketidaksadaran 10-20 detik
c. Dispnea, henti napas 15-30 detik
d. Dilatasi pupil dan tidak reaktif 60-90 detik
e. Keadaan penurunan mental dalam
Penanganan yang paling diperlukanadalah kompresi dada
(CPR) yang dikombinasikan dengan AED.
1. Henti Nafas
Evaluasi jalan napas korban. Ingat, jika korban waspada
dan berbicara, berarti jalan napas terbuka. Begitu korban tidak
responsif, cari bantuan dan menilai jalan napas korban. Hal ini
memerlukan posisi telentang pada permukaan datar dan keras
dengan lengan di sepanjang sisi tubuh, diikuti dengan membuka
saluran napas korban tersebut. Penyebab umum penyumbatan
jalan nafas pada korban yang tidak sadar adalah oklusi orofaring
oleh lidah dan kelemahan epiglotis. Dengan hilangnya tonus otot,
lidah atau epiglotis dapat dipaksakan kembali ke orofaring pada
inspirasi. Hal ini dapat menciptakan efek katup satu arah di pintu
masuk trakea, yang menyebabkan tersumbatnya obstruksi jalan
napas sebagai stridor. Setelah memposisikan korban, mulut dan
orofaring harus diperiksa untuk sekresi atau benda asing (Putri
dan Sidemen, 2017).
(AHA, 2015)
D. Persiapan
a. Alat
1) Alat pelindung diri (masker, handscoon)
2) Troli emergenci yang berisi:
Parameter Alat dan Obat Jumlah Penempatan
Monitor dan defibrillator 1 Paling atas
APD (handscoon) 4 set Paling atas
Gunting 1 Paling atas
Oropharyngeal airway No 0, 1, 2, 3,
@1 Laci pertama
4
Nasopharyngeal airway No 6, 7, 8,
@1 Laci pertama
Airway 9
Lharingeak mask airway No 1-5 @1 Laci pertama
Spuit 20 cc 1 Laci pertama
Selang suction 2 Laci pertama
Instilla Gel 2 Laci pertama
Bag-vabe mask utk dewasa, anak,
@1 Laci kedua
bayi
Face mask ukuran 1, 2, 3, 4, 5 @1 Laci kedua
Non-rebreathing mask utk dewasa
@2 Laci kedua
dan anak
Set intubasi:
i. Handlelaringoskop yang terisi
Breathing baterai
ii. 2 baterai cadangan
iii. 1 blade lengkung
1 Laci kedua
iv. ETT tanpa cuff No. 2-6 @1 buah
v. 2 gel pelumas (instilla gel)
vi. 1 stylet
vii. 1 spuit 20cc
viii. Plaster untuk fiksasi ETT
Circulation Box obat emergency berisi obat- 1 Laci ketiga
obatn:
ix.15 ampul Adrenalin 1 mg (1:1000)
x.2 ampul Amiodarone 300 mg
xi.4 tablet aspirin
xii.4 ampul Atropine Sulphate
xiii.2 vial Bicarbonat 25 mEq
xiv.4 tablet Cbpidogrel
xv.4 vial Dextrose 40%
xvi.4 ampul furosemide
xvii.10 tablet ISDN
xviii.2 vial KCI 25 mEq
xix.4 ampul midazlam
xx.10 tablet paracetamol 500 mg
xxi.5 salbutamol nebule
xxii.5 vial WFI
@5
[Link] 1 cc, 3 cc, 5 cc, 10 cc, 20 cc
@5
[Link] No. 19, 21, 23, 25
2
[Link]
@5
[Link] No. 14, 16, 18, 20, 22, 24
10
[Link] alcohol
2
[Link] 5 cmm dan 7,5 cm
2
[Link]
6
[Link] NaCl 0,9% 500 cc
6
[Link] NaCl 0,9% 100 cc
Peralatan Pen light 1
pendukung Clipboard dan pulpen untuk
1
domentasi
NGT No. 16, 18 @1 Paling bawah
Catether No. 18 1
Urine bag 1
Stetoskop 1
b. Pasien
1) Jelaskan tujuan prosedur tindakan pada keluarga pasien dan minta
persetujuan tindakan secara cepat (sesuaikan dengan kondisi)
2) Posisi pasien diatur terlentang di tempat datar dan alas keras
E. Prosedur Tindakan
Seperti semua aspek kegawat daruratan medis, penting untuk
mempelajaricdasar RJP secara sistematis. Setelah ditemukannya korban
yang kolaps, tindakan medis pertama harus dilakukan adalah menilai
korban dan menentukan apakah korban tersebut sebenarnya responsif atau
tidak. Bila seseorang ditemukan tidak responsif, hal berikutharus
dilakukan dengan cepat dan berurutan (Putri dan Sidemen, 2017).:
1. Pakai alat pelindung diri (masker, handscon/sarung tangan,
celemek,dan lain-lain)
2. Pastikan bahwa semua aman untuk memberikan pertolongan (aman
penolong, korban dan lingkungan)
3. Untuk memastikan korban dalam keadaan sadar atau tidak penolong
harus melakukan upaya agar dapat memastikan kesadaran
korban/pasien, dapat dengan cara menyentuh atau menggoyangkan
bahu korban/pasien dengan lembut dan mantap untuk mencegah
pergerakan yang berlebihan, sambil memanggil namanya atau
Pak !!! / Bu!!! / Mas!!! /Mbak !!!.
4. Meminta pertolongan.
5. Jika ternyata korban/pasien tidak memberikan respon terhadap
panggilan, segera minta bantuan dengan cara berteriak “Tolong !!!”
atau segera menghubungi pelayanan medis yang lebih lanjut.
6. Memperbaiki posisi korban/pasien.
7. Untuk melakukan tindakan RJP yang efektif, korban/pasien harus
dalam posisi terlentang dan berada pada permukaan yang rata dan
keras. jika korban ditemukan dalam posisi miring atau tengkurap,
ubahlah posisi korban ke posisi terlentang. Ingat! penolong harus
membalikkan korban sebagai satu kesatuan antara kepala, leher dan
bahu digerakkan secara bersama-sama. Jika posisi sudah terlentang,
korban harus dipertahankan pada posisi horisontal dengan alas tidur
yang keras dan kedua tangan diletakkan di samping tubuh.
8. Mengatur posisi penolong.
9. Segera berlutut sejajar dengan bahu korban agar saat memberikan
bantuan napas dan sirkulasi, penolong tidak perlu mengubah posisi
atau menggerakkan lutut (Putri dan Sedimen, 2017).
Circulation
1. Periksa nadi pasien dengan cara mempalpasi arteri karotis pasien dan
bersamaan cek nafas pasien: Arteri dapat ditemukan dengan
menempatkan dua jari pada trakea dan kemudian menggesernya ke
alur antara trakea dan otot sternokleidomastoid.
2. Jika tidak ada denyut nadi setelah 5 sampai 10 detik, kompresi dada
harus dimulai.
3. Penolong tidak terlatih harus memberikan RJP hanya kompresi
(Hands-Only) dengan atau tanpa panduan operator untuk korban
serangan jantung dewasa.
4. Penolong harus melanjutkan RJP hanya kompresi hingga AED atau
penolong dengan pelatihan tambahan tiba. Selain itu, jika penolong
terlatih mampu melakukan napas buatan, ia harus menambahkan
napas buatan dalam rasio 30 kompresi berbanding 2 napas buatan.
5. Penolong harus melanjutkan RJP hingga AED tiba dan siap
digunakan, penyedia
6. EMS mengambil alih perawatan korban, atau korban mulai bergerak.
(Putri dan Sidemen, 2017).
Teknik Kompresi
1. Setelah konfirmasi bahwa seseorang tanpa denyut nadi, kompresi
ritmik dada tertutup harus dilakukan.
2. Korban ditempatkan telentang di permukaan yang keras dengan
penolong di sampingnya.
3. Penolong menempatkan tumit pada satu garis tengah, tangan di
bagian bawah sternum, kira-kira 2 jari diatas prosesus xiphoid.
4. Tumit tangan harus sejajar dengan tubuh korban. Tangan kedua
kemudian diletakkan di atas tangan pertama sehingga kedua tangan
sejajar satu sama lain. Jari-jari kedua tangan saling terjalin. Lengan
harus lurus dan siku terkunci.
(Putri dan Sidemen, 2017).
5. Kecepatan kompresi 100-120/min
6. Kedalaman kompresi dada adalah minimun 2 inci (5cm) untuk
dewasa rata-rata, dan dengan tetap menghindari kompresi dada yang
berlebihan lebih dari 2,4 inci (6 cm)
7. Penting bagi penolong untuk tidak bertumpu di atas dada diantara
kompresi untuk mendukung rekoil penuh dinding dada pada pasien
dewasa saat mengalami serangan jantung
(AHA, 2015).
(AHA, 2015)
Airway
Anda harus membuka jalan nafas dengan manuver tengadah kepala
topang dagu (headtilt-chin lift maneuver) untuk korban cedera dan tidak
cedera. Jaw Thrust tidak direkomendasikan untuk penolong awam. Anda
menggunakan headtilt-chin lift maneuver untuk membuka jalan nafas pada
korban yang tidak mengalami cedera kepala dan, dengan cara ekstensikan
kepala dengan membuka rahang bawah dan menahan dahi. Apabila Anda
menemukan korban yang mengalami cedera kepala dan leher
menggunakan teknik Jaw Thrust tanpa ekstensi kepaladengan cara posisi
Anda berada di atas korban/pasien kemudian gunakan kedua ibu jari utk
membuka rahang bawah dan jari-jari tangan yang lain menarik tulang
mandibular (Mariah Diah Ciptaining Tyas, 2016).
Breathing
1. BantuanNafas dariMulut Ke Mulut Pada saat Anda memberikan
bantuan nafas dari mulut ke mulut, buka jalan nafas korban, tutup
kuping hidung korban dan mulut penolong menutup seluruh mulut
korban. Berikan 1 kali pernafasan dalam waktu 1 detik dan berikan
bantuan pernafasan kedua dalam waktu 1 detik.
2. Bantuan Nafas dari Mulut ke Alat Pelindung Pernafasan Walaupun
aman, beberapa petugas kesehatan dan penolong awam ragu-ragu
untuk melakukan bantuan pernafasan dari mulut ke mulut dan lebih
suka menggunakan alat pelindung. Alat pelindung ada dua tipe, yaitu
alat pelindung wajah dan sungkup wajah. Pelindung wajah berbentuk
selembar plastik bening atau lembaran silikon yang dapat mengurangi
sentuhan antara korban dan penolong tetapi tidak dapat mencegah
terjadinya kontaminasi bagi penolong. Sungkup wajah ada yang telah
dilengkapi dengan lubang untuk memasukkan oksigen.
3. Bantuan Nafas dari Mulut ke Hidung Bantuan nafas dari mulut ke
hidung direkomendasikan jika pemberian nafas melalui mulut korban
tidak dapat dilakukan (misalnya luka yang sangat berat pada mulut,
mulut tidak dapat dibuka, atau menutup mulut korban tidak dapat
dilakukan).
4. Ventilasi Bagging-Sungkup Ventilasi bagging-sungkup memerlukan
ketrampilan untuk dapat melakukannya. Apabila Anda seorang diri
menggunakan alat bagging-sungkup harus dapat mempertahankan
terbukanya jalan nafas dengan mengangkat rahang bawah, tekan
sungkup ke muka korban dengan kuat dan memompa udara dengan
memeras bagging. Anda harus dapat melihat dengan jelas pergerakan
dada korban pada setiap pernafasan. Bagging sungkup sangat efektif
bila dilakukan oleh dua penolong dan berpengalaman. Salah satu
penolong membuka jalan nafas dan menempelkan sungkup ke wajah
korban sambil penolong lain memeras bagging. Keduanya harus
memperhatikan pengembangan dada korban. Petugas kesehatan dapat
mempergunakan tambahan oksigen (10-12 liter/menit) jika tersedia
(Mariah Diah Ciptaining Tyas, 2016).
F. AED
Pelatih AED memiliki fitur umum bagian luar yang sama dengan
AED penyelamatan. Catatan: Pelatih AED menggunakan bantalan
pelatihan khusus yang hanya digunakan untuk memperagakan penempatan
bantalan yang benar. Bantalan pelatihan tidak dapat melakukan kejut atau
memberikan umpan-balik (Cardiac Science, 2013).
Tombol Remote
Pelatih AED Penggunaan
Tombol
1. Kejut Tekan sewaktu mengisi untuk menampilkan prompt,
Dibatalkan “Rhythm changed [Ritme berubah]. Shock cancelled [Kejut
Skenario 1 dibatalkan].”
Konfirmasi Tekan selama prompt Place Pads [Letakkan Bantalan]
Bahasa ditampilkan untuk beralih ke prompt Analysis [Analisis].
Urutan berikutnya (Shock [Kejut] atau CPR) ditentukan oleh
skenario yang dipilih.
Tekan selama urutan CPR untuk melanjutkan ke prompt
Analysis [Analisis], diikuti oleh urutan CPR yang lain.
Tekan # kemudian 1 untuk memulai Skenario 1.
Tekan untuk mengonfirmasi pilihan bahasa (lihat
Pengaturan Bahasa di halaman 7).
2. Kejut Tekan selama prompt Place Pads [Letakkan Bantalan]
Disarankan ditampilkan untuk beralih ke prompt Analysis [Analisis].
Skenario 2 Urutan berikutnya (Shock [Kejut] atau CPR) ditentukan oleh
skenario yang dipilih.
Tekan selama urutan CPR untuk melanjutkan ke prompt
Analysis [Analisis] diikuti oleh urutan Shock [Kejut] yang
lain. Tekan # kemudian 2 untuk memulai skenario 2.
3. Periksa Tekan selama analisis untuk menampilkan prompt, “Check
Bantalan Pads [Periksa Bantalan].” Tekan lagi untuk melanjutkan
Skenario 3 skenario. Tekan # kemudian 3 untuk memulai Scenario 3
[Skenario 3].
4. Letakkan Setelah prompt, “Tear open package and remove pads [Buka
Bantalan kemasan lalu keluarkan bantalan],” tekan untuk
Skenario 4 menampilkan prompt:
•“Peel one pad from plastic liner [Lepaskan satu bantalan
dari kantung plastik]”
•“Place one pad on bare upper chest [Letakkan satu bantalan
di dada atas yang telanjang]”
•“Peel second pad and place on bare lower chest as shown
[Lepaskan bantalan kedua dan letakkan di dada bawah yang
telanjang seperti ditunjukkan]”
Catatan: Gunakan bila perlu untuk beralih dengan cepat di
antara prompt.
Tekan lagi untuk menunjukkan penempatan bantalan.
Tekan # kemudian 4 untuk memulai Scenario 4 [Skenario 4].
5. Analisis Tekan sewaktu prompt Analysis [Analisis] untuk
Terputus menampilkan prompt, “Analysis interrupted [Analisis
Scenario 5 terputus]. Stop patient motion [Hentikan gerakan pasien].”
Tekan lagi untuk melanjutkan.
Tekan # lalu 5 untuk memulai Scenario 5 [Skenario 5]
6. Baterai Tekan selama skenario penyelamatan untuk menampilkan
Lemah prompt, “Battery Low [Baterai lemah]” (LED baterai juga
akan menunjukkan baterai lemah).
Tekan lagi untuk mematikan LED baterai lemah dan
menyalakan dua LED baterai hijau (level baterai 50%).
7. Perlu Tekan untuk menampilkan prompt, “Service Required [Perlu
Diservis Diservis].”
Mengecilkan Tekan lagi untuk melanjutkan.
Volume Tekan # kemudian 7 untuk mengecilkan volume speaker.
8. Jeda Tekan kapan saja untuk Pause [Jeda] (Pelatih AED berbunyi
Mengeraskan bip sewaktu dihentikan sementara). Tekan lagi untuk
Volume melanjutkan.
Tekan # kemudian 8 untuk menambah volume speaker.
9. Ubah Tekan # lalu 1, 2, 3, 4, atau 5 untuk mengubah skenario
Skenario kejut.
Mengubah Tekan # kemudian 7 atau 8 untuk mengurangi atau
Volume mengeraskan volume speaker.
(Cardiac Science, 2013)
DAFTAR PUSTAKA
Cristi Lontoh, 2013, Pengaruh Pelatihan Teori Bantuan Hidup Dasar Terhadap
Pengetahuan Resusitasi Jantung Paruh Siswa – Siswi SMA
Negeri 1 Toili, e-jurnal keperawatan, Vol 1 No 1