0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
402 tayangan15 halaman

Terapi Realitas: Metode dan Tujuan

Terapi realitas memberikan fokus pada perilaku nyata klien dan solusi masa depan. Tujuannya adalah membantu klien bertanggung jawab atas diri sendiri dan merencanakan tindakan nyata untuk mencapai tujuan. Tekniknya meliputi bermain peran, konfrontasi, membantu merencanakan tindakan, dan menjadi model. Inti terapinya adalah mengevaluasi keinginan, tindakan masa lalu, dan merencanakan t

Diunggah oleh

Fajar
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd
0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
402 tayangan15 halaman

Terapi Realitas: Metode dan Tujuan

Terapi realitas memberikan fokus pada perilaku nyata klien dan solusi masa depan. Tujuannya adalah membantu klien bertanggung jawab atas diri sendiri dan merencanakan tindakan nyata untuk mencapai tujuan. Tekniknya meliputi bermain peran, konfrontasi, membantu merencanakan tindakan, dan menjadi model. Inti terapinya adalah mengevaluasi keinginan, tindakan masa lalu, dan merencanakan t

Diunggah oleh

Fajar
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd

TERAPI REALITA

Dosen Pengampu:

Meiti Subardhani, [Link], Ph.D

Disusun Oleh:

Fajar Septianto 17.04.001

Vicensia Sherly Novita Lase 17.04.012

Kartika Aji Nugraha 17.04.084

Eghasti Hamdani Jayaningrat 17.04.140

Nur Ilaahi 17.04.271

Dara Rizkia Septriani 17.04.319

PROGRAM PENDIDIKAN SARJANA TERAPAN PEKERJAAN SOSIAL

POLITEKNIK KESEJAHTERAAN SOSIAL

BANDUNG 2019
TERAPI

A. Pengertian Terapi
Kata terapi sering kali digunakan dalam bidang medis dan dalam
konseling. Sedangkan psikososial adalah dimensi sosial dari perkembangan
kepribadian menurut E. Erikson. (1990) Psychosocial therapy atau terapi
psikososial dan Turner (1978) adalah bentuk penyembuhan dimana
pengetahuan-pengetahuan tentang biopsiko-sosial manusia dan perilaku
masyarakat; keterampilan dalam berelasi dengan individu, keluarga,
kelompok dan masyarakat; serta kompetensi dalam memobilisasi
sumberdaya-sumberdaya yang tersedia dipadukan (combined)
dalam medium relasi-relasi individual, keluarga dan kelompok untuk
membantu orang mengubah kepribadiannya, perilakunya, atau situasinya,
yang dapat memberikan kontribusi pada pencapaian kepuasan, pemenuhan
keberfungsian manusia dalam kerangka nilai-nilai pribadi, tujuan-tujuan
mereka dan sumber-sumber yang tersedia dalam masyarakat.
Terapi Psikososial merupakan bentuk penyembuhan untuk membantu
orang (individu, keluarga dan kelompok) dalam mengubah perilaku dan
situasinya. Beberapa perubahan yang dapat dicapai melalui terapi
psikososial ; perubahan dalam aspek kognitif, emotif, lingkungan.

B. Tujuan Terapi
1. Tujuan utama dari orientasi psikososial dalam pekerjaan sosial adalah
perubahan.
2. Perubahan dalam diri individu, kelompok, keluarga maupun situasi.
3. Pencapaian keberfungsian klien sesuai dengan potensi klien.
4. Penghargaan terhadap sistem-sistem nilai klien.

C. Ruang lingkup terapi


1. Untuk dapat memahami komponen proses terapeutik perlu dipahami dulu
tujuan dari terapi.
2. Tujuan dari terapi psikososial adalah pencapaian keberfungsian psikososial
yang optimal dalam potensi klien dan dalam situasi yang mengakui dan
menghargai sistem nilai klien.
3. Tujuan tersebut diupayakan melalui tiga konteks yaitu : medium relasi
manusia, sumber-sumber materi dan pelayanan yang tersedia, dan sumber-
sumber yang dimiliki oleh klien dan lingkungan pentingnya.
4. Dalam parameter tersebut terdapat lima tipe perubahan yang dapat
dihasilkan dari terapi psikososial yaitu : kognitif, emotif, perilaku,
material/enviromental dan menghilangkan penderitaan (relief from
suffering).
Lima tipe perubahan dalam terapi psikososial, yaitu:
1. Perubahan Kognitif
a. Penting untuk memahami apa yang terjadi pada kita dan seputar kita;
penting pula untuk menyadari bahwa pengetahuan tentang informasi
dapat memperluas pandangan kita, membuka kesempatan baru, dan
meningkatkan potensi kita untuk memiliki otonomi; kita mengalami
kecemasan, kebingungan dan frustrasi ketika kita tidak memiliki
informasi dan pemahaman tentang pilihan, sumber dan prosedur.
b. Dalam praktek psikososial, bagian penting dari perubahan yang terjadi
dalam keberfungsian klien akan dihasilkan dari perubahan kognitif.
Klien akan memperoleh pengetahuan baru tentang diri mereka sendiri,
motif, perasaan, reaksi dan sikap mereka. Klien juga akan
meningkatkan pemahaman terhadap perilaku dan dampaknya untuk
orang lain.
2. Perubahan Emotif
a. Kehidupan emosional merupakan basis bagi motivasi dan
pertumbuhan personal klien tetapi juga dapat menghambat.
b. Semua terapis menyadari bahwa banyak klien terhambat karena
adanya distorsi, citra diri yang buruk atau menghancurkan. Hal ini
akan membawa klien pada merendahkan potensi diri,
ketidakmampuan untuk menggunakan pelayanan yang tersedia dan
distorsi terhadap aspek lingkungan yang penting.
c. Lebih lanjut, kemampuan untuk menggunakan dirinya kemungkinan
juga akan terganggu karena adanya perasaan marah, takut, cemas,
ketidakpastian dan perasaan terluka.
d. Setiap orang mengembangkan pola mekanisme mental baik sadar
maupun tidak sadar untuk mengatasi kehidupan emosionalnya.
Penting sekali bagi terapis untuk memahami pola tersebut, juga pola
komprominya, keterbatasan terkait pola perilaku yang dimiliki
individu dalam perkembangannya.
e. Banyak perubahan perasaan yang dilakukan terkait sense klien tentang
dirinya dimulai dengan pengalaman merasa diterima, dipahami, dan
didukung dalam relasi terapis dengan klien. Seringkali perubahan ini
kemudian membebaskan klien untuk mengalami perubahan yang sama
dalam diri dan pihak lainnya baik dalam kehidupan saat ini maupun di
masa lalu.
3. Perubahan Perilaku
a. Pengaruh intersistem (teori sistem), seperti perubahan perasaan yang
menghasilkan perubahan perilaku, demikian pula perubahan perilaku
dapat membawa perubahan sikap dan pemahaman terhadap diri
sendiri.
b. Terdapat dua cara untuk melakukan perbahan perilaku :
a) Perubahan langsung
b) Perubahan tidak langsung melaui medium relasi. Klien dapat
mempelajari pola respon yang baru, keterampilan dalam
berkomunikasi dan pendekatan baru terhadap pemecahan masalah
melalui relasinya dengan terapis.
4. Perubahan lingkungan
Dua area dimana perubahan dapat dilakukan yaitu :
a. Aktivitas yang ditujukan untuk meningkatkan akses klien terhadap
sumber-sumber material.
b. menyediakan pelayanan
5. Relief from suffering
Upaya ini lebih merupakan alat dari pada tujuan
D. Sumber-sumber Penyembuhan
1. Relasi
2. Terapis
3. Jaringan pelayanan
4. Lokasi terapi
5. Waktu
6. Sumber-sumber lingkungan mencakup informasi, pelayanan, sumber-
sumber material, teknologi

TERAPI REALITAS

A. Pengertian Terapi Realita


Terapi realitas adalah sebuah metode konseling dan psikoterapi
perilaku kognitif yang sangat berfokus pada klien dan interaktif. Merupakan
terapi pengubahan perilaku agar dapat memenuhi kebutuhannya dan tidak
merugikan diri sendiri. Glasser mengembangkan Terapi Realitas dari
keyakinannya bahwa psikiatri konvensional sebagian besar berlandaskan
asumsi-asumsi yang keliru.
Terapi Realitas yang menguraikan prinsip-prinsip dan prosedur-
prosedur yang dirancang untuk membantu orang-orang dalam mencapai suatu
“identitas keberhasilan“, dapat diterapkan psikoterapi, konseling, pengajaran,
kerja kelompok, konseling perkawinan, pengelolaan lembaga, perkembangan
masyarakat. Menurut pandangan Terapi Realitas, individu adalah agen yang
menentukan dirinya sendiri.

B. Ciri-ciri terapi realitas :


1. Jangka pendek dan penanganan masalah krisis.
2. Menekankan pada kebutuhan masa kini dalam pemberian bantuan.
3. Menolak tentang konsep penyakit mental.
4. Berorientasi pada keadaan yang akan datang dengan fokus pada perilaku
yang sekarang yang mungkin diubah, diperbaiki , dianalisis dan
ditafsirkan.
5. Berfokus pada perilaku yang nyata guna mencapai tujuan yang akan
datang dengan penuh optimisme.
6. Tidak menekankan transferensi (pengalihan sikap/khayalan/perasaan dan
keinginan seseorang. Muncul jika ada ganjalan pada permasalahan masa
lalu).
7. Menekankan aspek-aspek kesadaran , bukan aspek-aspek ketidaksadaran.
8. Menghapus hukuman yang diberikan kepada individu yang mengalamai
kegagalan.
9. Menekankan tanggung jawab individu.

C. Tujuan terapi realitas:


1. Menolong individu agar mampu mengurus diri sendiri, supaya dapat
menentukan dan melaksanakan perilaku dalam bentuk nyata.
2. Mendorong klien agar berani bertanggung jawab serta memikul segala
resiko yang ada, sesuai dengan kemampuan dan keinginannya dalam
perkembangan dan pertumbuhannya.
3. Mengembangkan rencana – rencana nyata dan realistik dalam mencapai
tujuan yang telah ditetapkan.
4. Perilaku yang sukses dapat dihubungkan dengan pencapaian kepribadian
yang sukses, yang dicapai dengan menanamkan nilai- nilai adanya
keinginan individu untuk mengubahnya sendiri.
5. Terapi ditekankan pada disiplin dan tanggung jawab atas kesadaran
sendiri.

D. Teknik terapi realitas:


1. Terlibat dalam permainan peran dengan klien (role playing).
2. Menggunakan humor agar suasana segar dan rileks.
3. Mengonfrontasikan klien dan menolak dalih apapun.
4. Membantu klien dalam merumuskan rencana2 yang spesifik bagi
tindakannya.
5. Bertindak sebagai model dan guru.
6. Memasang batas- batas tegas dari struktur dan situasi terapinya.
7. Melibatkan diri dengan klien dalam upaya mencari kehidupan yang
efektif.

E. Inti 4 kunci terapi realitas adalah WDEPC :


1. W (want) : tentang apa yang diinginkan (tujuan hidup),
harapan, cita-cita, renungkan dan ungkapkan secara spesifik.
2. D (doing) : apa yang selama ini mereka perbuat,
renungkan dan ungkapkan secara spesifik.
3. E (evaluation) : hal-hal apa yang telah diperbuat selama
ini, bisa hal-hal yang merugikan, ataupun yang mendukung perwujudan
(cita-cita).
4. P (planning) : setelah sesi ini selesai, apa yang akan
dilakukan untuk menuju sesuatu yang diinginkan.
5. C (commitment) : berjanji kepada kelompok dan terapist
tentang semua hal yang pernah diungkapkan (secara spesifik).

F. Dalam proses konseling, konselor berperan sebagai:


1. Motivator, yang mendorong konseli untuk: (a) menerima dan memperoleh
keadaan nyata, baik dalam perbuatan maupun harapan yang ingin
dicapainya; dan (b) merangsang klien untuk mampu mengambil keputusan
sendiri, sehingga klien tidak menjadi individu yang hidup selalu dalam
ketergantungan yang dapat menyulitkandirinya sendiri.
2. Penyalur tanggung jawab, sehingga: (a) keputusan terakhir berada di
tangan konseli; (b) konseli sadar bertanggung jawab dan objektif serta
realistik dalam menilai perilakunya sendiri.
3. Moralist; yang memegang peranan untuk menetukan kedudukan nilai dari
tingkah laku yang dinyatakan kliennya. Konselor akan memberi pujian
apabila konseli bertanggung jawab atas perilakunya, sebaliknya akan
memberi celaan bila tidak dapat bertanggung jawab terhadap perilakunya.
4. Guru; yang berusaha mendidik konseli agar memperoleh berbagai
pengalaman dalam mencapai harapannya.
5. Pengikat janji (contractor); artinya peranan konselor punya batas-batas
kewenangan, baik berupa limit waktu, ruang lingkup kehidupan konseli
yang dapat dijajagi maupun akibat yang ditimbulkannya.

Naskah Cerita Terapi Realitas

Lani adalah seorang anak korban broken home. Ia memiliki dua ayah dan
dua ibu. Lani merupakan anak orang kaya yang tercukupi segala kebutuhan nya.
Namun, selama 16 tahun Lani tidak pernah mendapatkan perhatian dan kasih
sayang dari orang tuanya. Lani tinggal dengan pembantu di sebuah rumah besar.
Orang tua Lani jarang sekali menjenguk atau menanyakan kabar Lani lewat
telpon. Oleh sebab itu, di sekolah Lani membentuk sebuah geng agar rasa
kesepian itu bisa menghilang. Sebagai ketua geng, Lani sering mentraktrir teman-
teman nya.
Pada suatu waktu, Lani berkenalan dengan seorang bernama Rio,
tetangga barunya. Rio menawarkan kepada Lani sebuah bubuk, yang diduga
ternyata adalah narkoba. Sejak itu, sikap Lani berubah, cenderung berprilaku mal-
adaptif. Rio menyuruh Lani, agar mengajak teman-teman nya juga untuk memakai
narkoba. Dan ketika Rio, Lani dan gengnya sedang berpesta narkoba, polisi
datang menggerebek mereka.

Tahap-Tahap Pelaksanaan Teknis Terapi Realitas

Proses Terapi dalam pendekatan realitas berpedoman pada dua unsur


utama, yaitu penciptaan kondisi lingkungan yang kondusif dan beberapa prosedur
yang menjadi pedoman untuk mendorong terjadinya perubahan pada klien. Secara
praktis, Thompson,et. al. (2004:115-120) mengemukakan delapan tahap dalam
Terapi Realita.

Tahap 1 : Terapis Menunjukkan Keterlibatan dengan Klien(Be Friend)


Pada tahap ini, Terapis mengawali pertemuan dengan sikap otentik,
hangat, dan menaruh perhatian pada hubungan yang sedang di bangun. Terapis
harus dapat melibatkan diri kepada klien dengan memperlihatkan sikap hangat
dan ramah. Hubungan yang terbangun antara Terapis dan klien sangat penting,
sebab klien akan terbuka dan bersedia menjalani proses Terapi jika dia merasa
bahwa konselrnya terlibat, bersahabat, dan dapat dipercaya. Oleh karena itu,
penerimaan yang positif adalah sangat esensial agar proses Terapi berjalan efektif.
Menunjukan keterlibatan dengan klien dapat ditunjukan dengan perilaku
attending. Perilaku ini tampak dalam kontak mata (menatap klien), ekspresi wajah
(menunjukkan minatnya tanpa dibuat-buat), duduk dengan sikapterbuka (agak
maju kedepan dengan tidak bersandar), poros tubuh agak condong dan diarahkan
ke klien, melakukan respon refleksi, memperhatikan perilaku nonverbal klien, dan
melakukan respon parafase.
Tahap 2 : Fokus pada Perilaku Sekarang
Setelah klien dapat melibatkan diri pada Terapis, maka Terapis
menanyakan kepada klien apa yang akan dilakukannya sekarang. Tahap ini
merupakan eksplorasi diri bagi klien. klien mengungkapkan ketidaknyamanan
yang ia rasakan dalam menghadapi permasalahannya.
Lalu Terapis meminta klien mendeskripsikan hal-hal apa saja yang telah
dilakukannya dalam menghadapi kondisi tersebut. Secara rinci, tahap ini meliputi:
1. Eksplorasi “picture album” (keinginan), kebutuhan, dan persepsi
2. Menanyakan keinginan-keinginan klien
3. Menanyakan apa yang benar-benar diinginkan klien
4. Menanyakan apa yang terakhir oleh klien tentang yang diinginkan orang lain
dari dirinya dan menanyakan bagaimana klien melihat hal tersebut
Tahap 3 : Mengeksplorasi Total Behavior Klien
Menanyakan apa yang dilakukan klien (doing), yaitu: Terapis
menanyakan secara spesifik apa saja yang dilakukan klien; cara pandang dalam
Terapi Realita, akar permasalahan klien bersumber pada perilakunya (doing),
bukan pada perasaannya. Misal, klien mengungkapkan setiap kali menghadapi
ujian ia mengalami kecemasan yang luar biasa. Dalam pandangan Terapi Realita,
yang harus diatasi bukan kecemasannya klien, tetapi ha-hal apa saja yang telah
dilakukannya untuk menghadapi ujian.

Tahap 4 : Klien Menilai Diri Sendiri atau Melakukan Evaluasi

Memasuki tahap keempat, Terapis menanyakan kepada klien apakah


pilihan perilakunya itu didasari oleh keyakinan bahwa hal itu baik baginya. Fungsi
Terapis tidak untuk menilai benar atau salahnya perilaku klien, tetapi
membimbing klien untuk menilai perilakunya saat ini. Beri kesempatan kepada
klien untuk mengevaluasi, apakah ia cukup terbantu dengan pilihannya tersebut.
Pada tahap ini, respon-respon Terapis di antaranya menanyakan apakah
yang dilakukan klien dapat membantunya keluar dari permasalahan atau
sebaliknya. Terapis menanyakan kepada klien apakah pilihan perilakunya itu
didasari oleh keyakinan bahwa hal tersebut baik baginya. Fungsi Terapis tidak
untuk menilai benar atau salah perilaku klien, tetapi membimbing klien untuk
menilai perilakunya saat ini. Beri kesempatan kepada klien untuk mengevaluasi,
apakah ia cukup terbantu dengan pilihannya [Link] bertanya kepada
klien apakah pilihan perilakunya dapat memenuhi apa yang menjadi kebutuhan
klien saat ini, menanyakan apakah klien akan tetap pada pilihannya, apakah hal
tersebut merupakan perilaku yang dapat diterima, apakah realistis, apakah benar-
benar dapat mengatasi masalahnya, apakah keinginan klien realistis atau dapat
terjadi/dicapai, bagaimana klien memandang pilihan perilakunya, dan
menanyakan komitmen klien untuk mengikuti proses klien.

Tahap 5 : Merencanakan Tindakan yang Bertanggungjawab


Tahap ketika klien mulai menyadari bahwa perilakunya tidak
menyelesaikan masalah, dan tidak cukup menolong keadaan dirinya, dilanjutkan
dengan membuat perencanaan tindakan yang lebih bertangung jawab. Rencana
yang disusun sifatnya spesifik dan kongkret. Hal-hal apa yang akan dilakukan
klien untuk keluar dari permasalahan yang sedang dihadapinya.

Tahap 6 : Membuat Komitmen


Terapis mendorong klien untuk merealisasikan rencana yang telah
disusunnya bersama Terapis sesuai dengan jangka waktu yang ditetapkan.

Tahap 7 : Tidak Menerima Permintaan Maaf atau Alasan Klien


Klien akan bertemu kembali dengan Terapis pada batas waktu yang telah
disepakati bersama. Pada tahap ini Terapis menanyakan perkembangan perubahan
perilaku klien. Apabila klien tidak atau belum berhasil melakukan apa yang telah
direncanakannya, permintaan maaf klien atas kegagalannya tidak untuk dipenuhi
Terapis. Sebaliknya, konselr mengajak klien untuk melihat kembali rencana
tersebut dan mengevaluasinya mengapa klien tidak berhasil. Terapis selanjutnya
membantu klien merencanakan kembali hal-hal yang belum berhasil ia lakukan.
Pada tahap ini sebaiknya Terapis menghindari pertanyaan “Mengapa” sebab
kecenderungannya klien akan bersikap defensive dan mencari-cari alasan.

Tahap 8 : Tindak Lanjut


Merupakan tahap terakhir dalam Terapi. Terapis dan klien mengevaluasi
perkembangan yang dicapai, Terapi dapat berakhir atau dilanjutkan jika tujuan
yang telah ditetapkan belum tercapai.

Roleplay

Pada suatu hari, diruang BK SMA 1 Bandung dilaksanakan pertemuan


antara pekerja sosial dan Lima orang siswa yang dilaporkan oleh guru Bknya
sebagai siswa yang menggunakan narkoba di Gudang sekolah, sebulan yang lalu
guru bk telah melakukan penanganan kepada siswa tersebut, tetapi tidak ada
perubahan yang signifikan, oleh karena itu guru bk menghubungi pekerja sosial
pendidikan guna mengambil alih masalah tersebut.
Pekerja Sosial mengenalkan dirinya, profesinya, tugasnya sebagai
seorang terapis.
Peksos : Selamat pagi teman-teman, saya dara sebagai pekerja sosial. Disini saya
berperan sebagai seorang terapis, mungkin kita selama 3 jam kedepam melakukan
kegiatan sharing-sharing yuk.
Kelima anak tersebut hanya mengangguk, acuh tak acuh.
Peksos : Nah sebelum itu, kita berkenalan dengan bermain game yu. (Pekerja
sosial dan kelima anak tersebut bermain game selama 15 menit. Game dilakukan
untuk mencairkan susasana dan membentuk trust building).
Setelah itu, tiap-tiap anak menceritakan masalah nya selama 20 menit.
Dalam proses tersebut peksos menggali cerita dengan pertanyaan dan penyataan
yang berdasarkan point WDPEC. Sehingga, tiap anak-anak dapat merenungi dan
mengetahui perilaku yang telah mereka perbuat dan rencana atau perubahan yang
akan mereka laksanakan. Selain itu, pekerja sosial menyediakan katarsis agar tiap
anak dapat meluapkan segala kerasahan dan beban atau tekanan yang selama ini
dirasakan atau dipendam. Kemudian, pekerja sosial memberikan dukungan
emosional berupa verbal maupun non-verbal untuk menguatkan tiap anak agar
bisa menerima segala hal yang telah terjadi. Kemudian pekerja sosial bersama
dengan lima anak tersebut membuat rencana yang diingankan dan proses
perubahan perilaku yang diinginkan, dan anak- anak tersebut tidak mengkonsumsi
narkoba, dan mengubah perilaku buruk menjadi perilaku yang produktif, pekerja
sosial memberikan gambaran tentang situasi-situasi yang telah terjadi, sehingga
semua anak dapat mengevaluasi, dan sadar hal hal yang telah terjadi bisam
menjadi pembelajaran.
Kemudian pekerja sosial melakukan proses relaksasi bersama anak-
anak seperti berpelukan bersama, mengatur pernapasan, setelah itu pekerja sosial
mengingatkan kembali bahwa setiap anak harus berkomitmen untuk melakukan
perubahan. Pekerja sosial menutup konseling dengan terapi realitas, dua minggu
kemudian, pekerja sosial mengadakan pertemuan kembali untuk mengetahui
sejauhmana progres itu berjalan.

Gambaran WDPEC Setiap Kasus

Inti tema kasus secara garis besar :


“Sekelompok siswa yang tergabung dalam sebuah gang, menggunakan narkoba di
Sekolah. Setiap siswa gang tersebut, ternyata memiliki masalah individu yang
berbeda dan kompleks.”
1. Eghas (Remaja korban kekerasan orangtua)
W: Ingin bebas, ingin seperti anak anak lainnya yg mendapatkan kasih
sayang orgtua.
D: Lari dari rumah, tidak betah dengan lingkungan rumah, tidak melakukan
hal hal yg menuju ke arah memperbaiki hubungan dengan ortu, tetapi
menghindar
E: Akibat dari selalu menghindar, sekalinya bertemu orgtua selalu mendapat
tindak kekerasan
P: Kan berusaha mencoba menjelaskan perasaan2 kepada kedua orgtua agar
sikap mereka kedepan lebih baik
C: Dilakukan bersama kelompok
2. Nun (Anak Korban Broken Home)
W : Ingin orang tua lebih perhatian dan menunjukkan kasih sayang, ingin
orang tua tidak berganti-ganti pasangan atau cerai.
D : Sering bolos, sering menghaburkan-hambur kan uang, memakai narkoba,
sering menindas siswa-siswi lain, membentuk geng elit.
E : Akibat kurang nya kasih sayang, klien berperilaku tidak baik dan
mengajak anggota gang nya untuk berprilaku tidak baik juga
P : Klien akan mengubah geng nya menjadi geng yang bermanfaat dan
melakukan aktivitas yang positif, mencoba menerima kondisi orang tua
dan meningkatkan hubungan emosional dengan orang tua
C: Dilakukan bersama kelompok

3. Inu (Kehilangan Orang Tua)


W : Ingin bertemu orang tua kembali, ingin membahagiakan dan berbakti
kepada orang tua khususnya kepada Almarhumah Ibunda, ingin
melunasi hutang orang tua, ingin hidup mandiri tidak malas dan tidak
patah semangat
D : Sering berbicara kasar, sering membentak, sering berbohong, sering
mendoakan orang tua yang tidak baik, menyesali terhadap takdir yang
lahir dari kondisi tersebut
E: Akibat sering membangkang pada orang tua dan tidak berprilaku tidak
baik, anak menyesal dan bersedih hati ketika ibunya meninggal
P: Ingin menjadi anak yang berguna bagi orang tua, ingin menjadi anak
yang sopan santun kepada orang dewasa, maupun orang tua lainnya.
Ingin merealisasikan impian terakhir Almarhumah yaitu mengenyang
pendidikan
C: Dilakukan bersama kelompok
4. Fajar (Anak yang dipekerjakan)
W : Ingin berkehidupan secara layak seperti keluarga yang berkecukupan bisa
menjalankan peran sebagai anak sebagaimana mestinya dan mendapatkan
kasih sayang dari kedua keluarga.
D : Bekerja keras untuk mencukupi kebutuhan sehari-hari dan membantu
kedua orang tua keluar dari garis kemiskinan yang dihadapi dan tidak
menyusahan kedua orang tua
E : Bekerja di pabrik tektil untuk mendapatkan penghasilan yang kemudian
diberikan kepada orang tua untuk pemenuhan sehari-hari.
P : Bekerja dan belajar yang rajin untuk mendapatkan beasiswa perguruan
tinggi agar tidak menyusahkan kedua orang tua dalam hal pendidikan.
C : Dilakukan bersama kelompok.
5. Vicensia (Anak yang ditelantarkan orang tua)
W : Ingin kedua orang tua kembali rujuk dan mempedulikan dirinya baik dari
aspek berbagai aspek kehidupan, sehingga bisa merasakan arti keluarga
yang sesungguhnya.
D : Malas untuk belajar dan kadang bolos sekolah, berperilaku
menjengkelkan bagi teman-temannya dikelas, benci kepada orang tuanya
serta bekerja untuk membantu kebutuhannya
E : Prestasi disekolah buruk, dianggap sebagai anak yang nakal oleh guru
dan teman-temannya, tidak mau berkomunikasi dengan orang tuanya
serta bekerja di suatu restoran.
P : Ingin mengubah perilaku yang menjengkelkan, mengikuti peraturan
sekolah dan berusaha untuk berkomunikasi dengan orang tua.
D : Dilakukan secara bersama kelompok.

Anda mungkin juga menyukai