0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
738 tayangan10 halaman

Restorasi SSC dan PCC pada Gigi Anak

Restorasi gigi anak secara indirect meliputi stainless steel crown (SSC) dan polycarbonate crown (PCC). SSC terbuat dari logam yang dipasang untuk gigi rusak parah, sedangkan PCC terbuat dari resin yang lebih tipis dan baik untuk estetika. Kedua jenis restorasi memerlukan preparasi, pemilihan ukuran crown, kontur, dan sementasi untuk memulihkan fungsi dan struktur gigi.
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd
0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
738 tayangan10 halaman

Restorasi SSC dan PCC pada Gigi Anak

Restorasi gigi anak secara indirect meliputi stainless steel crown (SSC) dan polycarbonate crown (PCC). SSC terbuat dari logam yang dipasang untuk gigi rusak parah, sedangkan PCC terbuat dari resin yang lebih tipis dan baik untuk estetika. Kedua jenis restorasi memerlukan preparasi, pemilihan ukuran crown, kontur, dan sementasi untuk memulihkan fungsi dan struktur gigi.
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd

RESTORASI INDIRECT PADA GIGI ANAK

A. Restorasi Stainless Steel Crown (SSC)


Restorasi Stainless Steel Crown (SSC) mulai dikembangkan pada
awal tahun 1950. SSC dikembangkan untuk merestorasi gigi yang sudah
tidak dapat dilakukan perawatan restorasi secara direct. SSC terbukti
merupakan crown yg jauh lebih baik dibandingkan dengan restorasi gigi
desidui posterior lainnya dan menjadi yang mendekati mahkota
sesungguhnya. SSC merupakan crown metal prefabricated yang
diadaptasikan ke gigi dan disemenkan dengan bahan lutting yang
kompatibel (AAPD, 2014).
1. Indikasi SSC
Indikasi Restorasi dengan Stainless Steel Crown adalah sebagai
berikut (Cameron dan Widmer, 2013).
a. Gigi yang rusak parah
b. Gigi molar yang sudah dilakukan perawatan pulpa
c. Gigi desidui atau permanen yang hipoplasi
d. Anak-anak yang resiko kariesnya tinggi, terutama yang
membutuhkan anestesi general

2. Kontraindikasi SSC
Kontraindikasi pemakaian SSC menurut Kennedy (1993), adalah
sebagai berikut:
a. Alergi nikel dan hipersensitivitas.
b. Resorpsi akar lebih gigi desidui dari setengah pajang akar.
c. Gigi anterior karena estetik yang kurang baik.
d. Pasien tidak dapat bekerja sama dengan pengobatan.
e. Pada pemeriksaan radiografi ditemukan adanya kelainan
periapikal.

1
3. Klasifikasi
a. Berdasarkan bentuknya, SSC dikalsifikasikan sebagai berikut
(Rao, 2012):
1. Untrimmed, merupakan SSC yang panjang dan biasanya
membutuhkan trimming (contoh: Sankin, Unitek Crown).
2. Pretrimmed (prefestoned), crown ini biasanya pendek namun
belum dikontur sehingga mempunyai sisi-sisi yang sejajar
(contoh: 3M dan Denovo).
3. Precontoured, crown ini sudah dikontur dan memiliki bentuk
lonceng (contoh: 3M Ni-chromium ion., Unitek).
4. Prevented crown, crown ini memiliki ikatan resin berbasis
komposit di bagian bukal dan beberapa bagian di permukaan
oklusal (Nu Smile).
b. Berdasarkan logam pembentuknya, SSC diklasifikan sebagai
berikut (Rao, 2012):
1. Stainless Steel Crown (Unitek, Rocky Mountain). Crown ini
menurut Ramazani dkk., (2014) mengandung chromium (17-
19%), nikel (8-10%), silicon (1%), Mn (2%), dan molybdenum
(0,6%).
2. Crown berbasis nikel (Ion Ni-Chromium dari 3M), crown ini
dibentuk oleh alloy nikel kromium dan mengandung Nikel
(70%), chromium (15%), dan ferrous (10%). Tersedia dalam
bentuk pretrimmed dan precontoured, selain itu mudah
dibentuk dan disesuaikan sehingga meminimalkan crimping,
trimming dan contouring.

4. Keuntungan Pemakaian SSC (Cameron dan Widmer, 2013)


a. SSC merupakan restorasi yg baik untuk gigi desidui yang dapat
bertahan selama ± 40 bulan
b. Secara ekonomi tergolong murah
c. Memerlukan preparasi yg minimal

2
5. Tahap-tahap pemasangan restorasi indirect SSC adalah sebagai
berikut (Rao, 2012; Cameron dan Widmer, 2013)
a. Anestesi, diperlukan untuk mengurangi rasa ketidaknyamanan
pasien selama preparasi dan manipulasi crown
b. Isolasi dengan menggunakan rubber dam
c. Preparasi
1) Preparasi permukaan oklusal sebayak 1,5 mm menggunakan
diamond bur berbentuk flame atau tappered.
2) Preparasi interproksimal menggunakan bur tappered panjang
dan diletakan sedikit konvergen ke arah sumbu gigi,
pengurangan sampai probe bisa melewati daerah titik kontak.
3) Lakukan sedikit reduksi di bukal dan lingual, kecuali apabila
terdapat cup carabeli. Reduksi seminimal mungkin, karena
permukaan ini digunakan untuk retensi

Gambar. Bur yang digunakan


untuk preparasi

d. Pemilihan mahkota, didasarkan dari lebar mesio distal

3
Gambar. pengukuran lebar mesio distal
e. Lakukan try in sebelum sementasi, crown harus masuk tidak lebih
dari 1mm pada subgingiva. Apabila gingiva memucat maka
tinggi crown harus dikurangi.
f. Konturing crown dengan tang untuk mendapatkan margin yang
beradaptasi dengan baik. Tang yang digunakan yaitu crimping,
Johnson dan Gordon. Crimping plier digunakan untuk membuat
tanda dan kurva di daerah servikal. Tang Johnson digunakan
untuk konturing secara umum di area oklusal dan tengah. Tang
Gordon digunakan untuk konturing secara umum dan membentuk
crown.

Gambar tang yang digunakan (A) Crimping plier (B)


Johnson plier (C) Gordon plier

g. Polishing
Haluskan permukaan mahkota dan sisa pemotongan yang kasar
menggunakan stone bur dan rubber wheel polish.
h. Sebelum dilakukan sementasi pastikan tidak ada traumatik oklusi
menggunakan articulating paper. Lakukan sementasi crown
dengan GIC atau semen polikarbosilat. Bersihkan kelebihan
semen pada margin dengan sonde dan dental floss.

4
5
B. Restorasi Poly Carbonate Crown (PCC)
Policarbonate crown (PCC) merupakan mahkota prefebricated
yang dibuat dari resin akrilik atau policarbonate crown. Policarbonate
crown (PCC) memiliki bentuk yang lebih tipis dari pada resin akrilik
sehingga lebih mudah diadaptasikan pada gigi. Selain itu lebih baik secara
estetik, mudah di trim dan disesuaikan dengan tang (Yang dan Mani,
2016). Mahkota ini tersedia dalam berbagai ukuran dan dilapisi dengan
akrilik atau resin komposit (Shuman, 2016). PCC dapat memberikan
fungsi estetik dengan biaya yang relatif murah, namun, PCC memiliki
kelemahan terhadap resistensi abrasi (Mittal dkk., 2016).

1. Indikasi
Indikasi pemakaian PCC yaitu sebagai berikut (Mittal dkk., 2016).
a. Rampan karies yang melibatkan tiga permukaan gigi
b. Setelah dilakukan terapi pulpa
c. Malformasi gigi
d. Abutment untuk space maintainer

2. Kontraindikasi
Kontraindikasi pemakaian PCC yaitu pada kondisi-kondisi berikut
(Mittal dkk., 2016).
a. inadekuat ruang antar gigi
b. crowding anterior
c. deepbite
d. bruxism parah
e. terdapat tanda-tanda abrasi pada gigi anterior

3. Teknik pemasangan PCC yaitu sebagai berikut (Rao, 2012).


a. Anestesi dan rubber dam
b. Menghilangkan jaringan karies menggunakan round bur.

6
Gambar 11. Menghilangkan Jaringan Karies

c. Preparasi permukaan proksimal menggunakan fissure bur sejajar


dengan sumbu panjang gigi sampai subgingiva, preparasi permukaan
labial dan palatal, hingga subgingiva pengurangan insisal masing-
masing 1–1.5 mm.

Gambar 12. Preparasi


Proksimal

d. Pembuatan retensi berupa artifisial groove sedalam 0,25 mm


didaerah 1/3 gingiva mengelilingi karies menggunakan inverted bur.
Jika telah terdapat karies pada sisi mesial dan distal tidak
memerlukan artifisial groove (Duggal dkk., 2002).

7
Gambar 13. Pembuatan Artifisial Groove
e. Mencoba memasangkan mahkota pada gigi yang telah dipreparasi.
f. Pada margin mahkota perlu dikurangi agar sesuai. Bagian dalam
mahkota dibuat kasar agar meningkatkan retensi mekanik.
g. Sebelum dilakukan sementasi pastikan tidak ada traumatik oklusi
menggunakan articulating paper. Lakukan sementasi crown dengan
GIC atau policarbosilat semen, semen yang berlebih. Bersihkan
kelebihan semen pada margin dengan sonde dan dental floss.
h. Kontrol perdarahan

8
DAFTAR PUSTAKA

American Academy of Pediatric Dentistry, 2014, Guideline on Restorative


Dentistry, Reference Manual 37 (6) : 232-243
Cameron, A.C., Widmer, B.C., 2013, Handbook of Pediatric Dentistry, London,
Elsevier
Garg, V., Panda, A., Shah, J., Panchal, P., 2016, Crowns in Pediatric Dentistry: A
Review, Journal of Advanced Medical and Dental Sciences Research, Vol
4, Issue 2, p. 41-46.
Kennedy, D.B., 1993, Konservasi Gigi Anak, EGC, Jakarta.
Mittal, G.K., Verma, A., Pahuja, H., Agarwal, S., Tomar, H., 2016, Esthetic
Crowns In Pediatric Dentistry: A review, International Journal of
Contemporary Medical Research, Volume 3, Issue 5, p. 1280-1282.
Rao, A., 2012, Principle and Practice of Pedodontics, Third Edition, New Delhi,
Jaypee Brother Medical Publisher.
Ramazani, N., Ahmadi, R., Darijani, M., 2014, Assessment of Nickel Release
from Stainless Steel Crowns, Journal of Dentistry, Tehran University of
Medical Sciences, 11 (3): 328-334.
Shuman, I., 2016, Pediatric Crowns: From Stainless Steel to Zirconia, a Peer-
Reviewed Publication, Tulsa, Pennwell Publication

Yang, J, N, C., Mani, G., 2016, Crowns for Primary Anterior Teeth, International
Journal of Pedodontic Rehabilitation, 1 (2) : 75-78

9
RESUME SEMINAR PRAKOAS XI

RESTORASI INDIRECT PADA GIGI ANAK

Disusun Oleh:

Fitria Ayu Mutiarasari G4B017012


Rinda Dini Papista G4B017019
Dewi Sisma Putriasari G4B017041

KEMENTERIAN RISET TEKNOLOGI DAN PENDIDIKAN TINGGI

UNIVERSITAS JENDERAL SOEDIRMAN

FAKULTAS KEDOKTERAN

JURUSAN KEDOKTERAN GIGI

PURWOKERTO

2017

Anda mungkin juga menyukai