STRATEGI PELAKSANAAN
PASIEN DENGAN RISIKO BUNUH DIRI
Disusun Guna Memenuhi Tugas Mata Kuliah
Keperawatan Jiwa II
Dosen Pengampu: Ns. Evin NoviAnto, [Link], [Link].J
Disusun oleh :
Tsilmi Adhari 1710711069
Clara Widya Marpaung 1710711070
Fenny Andriani 1710711077
Refiana Gunawan 1710711083
PROGRAM STUDI S1 KEPERAWATAN
FAKULTAS ILMU-ILMU KESEHATAN
UNIVERSITAS PEMBANGUNAN NASIONAL “VETERAN”
JAKARTA
2019
STRATEGI PELAKSANAAN I
RISIKO BUNUH DIRI
A. Proses Keperawatan
1. Kondisi Klien
Anto berusia 17 tahun. Tinggal daerah perbukitan. Ia selalu tampak
murung dan sedih. Setiap orang yang ingin mendekatinya akan selalu
dijauhi. Anto sering sekali mengatakan “Segala sesuatu akan lebih baik
jika tanpa saya. Saya adalah orang yang selalu membawa musibah sudah
sepantasnya saya pergi jauh dari sini”.
Kondisi ini mulai terjadi sejak tujuh hari yang lalu. Saat itu,
sahabatnya Ana jatuh dari tebing yang curam ketika sedang bermain
berdua sehingga sahabatnya meninggal dunia. Ia memiliki bekas luka
goresan pisau di tangan kanan akibat percobaan bunuh diri. Ibu dan
ayahnya mengatakan sangat cemas melihat kondisi Anto sekarang.
a. Data Subjektif :
Segala sesuatu akan lebih baik jika tanpa saya. Saya adalah
orang yang selalu membawa musibah sudah sepantasnya saya
pergi jauh dari sini”.
Ibu dan ayahnya mengatakan sangat cemas melihat
kondisi Anto sekarang.
b. Data Objektif :
Ia selalu tampak murung dan sedih.
Setiap orang yang ingin mendekatinya akan selalu dijauhi
Kondisi ini mulai terjadi sejak tujuh hari yang lalu karena
sahabatnya, Ana, meninggal dunia akibat jatuh dari tebing
yang curam ketika sedang bermain berdua
Ia memiliki bekas luka goresan pisau di tangan kanan akibat
percobaan bunuh diri
2. Diagnosa Keperawatan : Resiko Bunuh Diri
3. Tujuan : Klien tidak dapat melakukan percobaan bunuh diri
4. Tindakan Keperawatan :
a. Mengidentifikasi benda-benda yang dapat membahayakan pasien
b. Mengamankan benda-benda yang dapat membahayakan pasien
c. Melakukan kontrak treatment
d. Mengajarkan cara mengendalikan dorongan bunuh diri
e. Melatih cara mengendalikan dorongan bunuh diri
B. Stategi Komunikasi
1. Fase orientasi
a. Salam Terapeutik
“Assalamualaikum Anto, kenalkan saya perawat Beti yang akan
bertugas di ruang Mawar ini, saya dinas pagi dari jam 7 sampai jam 2
siang.
b. Evaluasi/Validasi
“Bagaimana perasaan Anto hari ini?
c. Kontrak
“Bagaimana kalau hari ini kita berbincang-bincang tentang benda-
benda apa saja yang dapat membahayakan diri Anto, serta bagaimana
cara mengendalikan dorongan bunuh diri?”
“Tujuannya agar Anto tahu benda-benda apa saja yang dapat
membahayakan diri Anto, serta Anto dapat mengetahui cara
mengendalikan dorongan bunuh diri.”
“Dimana kita akan bicara? Bagaimana kalau di taman? Berapa lama
kita akan berbincang-bincang?”
“Bagaimana kalau waktu berbimcang-bincang kita selama 15 menit?
Apakah Anto setuju?”
2. Fase Kerja
“Bagaimana perasaan Anto setelah bencana ini terjadi? Apakah dengan
bencana ini Anto merasa paling menderita di dunia ini?”
“Apakah Anto kehilangan kepercayaan diri?”
“Apakah merasa tak berharga atau bahkan lebih rendah dari pada orang
lain?”
“Apakah Anto merasa bersalah atau mempersalahkan diri?”
“Apakah Anto sering mengalami kesulitan berkonsentrasi?”
“Apakah Anto berniat untuk menyakiti diri, ingin bunuh diri atau berharap
bahwa Anto mati?”
“Apakah Anto pernah mencoba untuk bunuh diri?”
“Apa sebabnya Anto pernah mencoba untuk bunuh diri?”
“Bagaimana caranya? Apakah yang Anto rasakan?”
(Jika pasien telah menyampaikan ide bunuh dirinya, segera dilanjutkan
dengan tindakan keperawatan untuk melindungi pasien, misalnya dengan
mengatakan:
“Baiklah, tampaknya Anto membutuhkan pertolongan segera karena ada
keinginan untuk mengakhiri hidup. Saya perlu memeriksa seluruh isi
kamar Anto ini untuk memastikan tidak ada benda-benda yang
membahayakan Anto.)”
"Nah Anto, karena Anto tampaknya masih memiliki keinginan yang kuat
untuk mengakhiri hidup Anto, maka saya tidak akan membiarkan Anto
sendiri.”
“Apa yang Anto lakukan kalau keinginan bunuh diri muncul?”
“Kalau keinginan itu muncul, maka untuk mengatasinya Anto harus
langsung minta bantuan kepada perawat di ruangan ini dan juga keluarga
atau teman yang besuk.”
“Jadi Anto jangan sendirian ya, katakan pada perawat, keluarga, atau
teman jika ada dorongan untuk mengakhiri kehidupan.”
“Saya percaya Anto dapat mengatasi masalah, ok Anto!”
3. Fase terminasi :
a. Evaluasi Subjektif
“Bagaimana perasaan Anto sekarang setelah mengetahui cara
mengatasi perasaan ingin bunuh diri?”
b. Evaluasi Objektif
“Coba Anto sebutkan lagi cara tersebut”
Temani Anto terus sampai keinginan bunuh diri hilang. (Jangan
meninggalkan pasien)
c. RTL
“Anto, selama kita tidak bertemu, bila Anto melihat benda-benda yang
dapat membahayakan, segera jauhi, dan jika keinginan mengakhiri
hidup muncul kembali, Anto bisa panggil perawat ya.”
d. Kontrak yang akan datang
“Baiklah sekarang Anto saya tinggal dulu, kapan kita bisa bertemu
lagi? Bagaimana kalau besok?”
“Baiklah besok kita akan membahas tentang cara berfikir positif
tentang diri sendiri dan menghargai diri sebagai individu yang
berharga.”
“Tempatnya mau dimana? Bagaimana kalau di taman?”
“Jam berapa? Bagaimana kalau jam 09.00?”
“Apakah Anto setuju? Baiklah, selamat beristirahat”
STRATEGI PELAKSANAAN II
RISIKO BUNUH DIRI
A. Proses Keperawatan
1. Kondisi Klien
Anto berusia 17 tahun. Tinggal daerah perbukitan. Ia selalu tampak
murung dan sedih. Setiap orang yang ingin mendekatinya akan selalu
dijauhi. Anto sering sekali mengatakan “Segala sesuatu akan lebih baik
jika tanpa saya. Saya adalah orang yang selalu membawa musibah sudah
sepantasnya saya pergi jauh dari sini”.
Kondisi ini mulai terjadi sejak tujuh hari yang lalu. Saat itu,
sahabatnya Ana jatuh dari tebing yang curam ketika sedang bermain
berdua sehingga sahabatnya meninggal dunia. Ia memiliki bekas luka
goresan pisau di tangan kanan akibat percobaan bunuh diri. Ibu dan
ayahnya mengatakan sangat cemas melihat kondisi Anto sekarang.
a. Data Subjektif :
Segala sesuatu akan lebih baik jika tanpa saya. Saya adalah
orang yang selalu membawa musibah sudah sepantasnya saya
pergi jauh dari sini”.
Ibu dan ayahnya mengatakan sangat cemas melihat
kondisi Anto sekarang.
b. Data Objektif :
Ia selalu tampak murung dan sedih.
Setiap orang yang ingin mendekatinya akan selalu dijauhi
Kondisi ini mulai terjadi sejak tujuh hari yang lalu karena
sahabatnya, Ana, meninggal dunia akibat jatuh dari tebing
yang curam ketika sedang bermain berdua
Ia memiliki bekas luka goresan pisau di tangan kanan akibat
percobaan bunuh diri
2. Diagnosa Keperawatan : Resiko Bunuh Diri
3. Tujuan : Klien dapat berfikir positif terhadap dirinya sendiri
4. Tindakan Keperawatan
a. Mengidentifikasi aspek positif klien
b. Mendorong pasien untuk berfikir positif terhadap diri
c. Mendorong pasien untuk menghargai diri sebagai individu yang
berharga
B. Strategi Komunikasi
1. Fase Orientasi
a. Salam Terapeutik
“Assalamu’alaikum Anto! Masih ingat dengan saya? Iya betu, saya
perawat yang kemarin.”
b. Evaluasi/Validasi
“Bagaimana perasaan Anto saat ini? Anto, kemarin kita sudah
bercakap-cakap tentang cara mengendalikan dorongan bunuh diri
yang Anto rasakan. Apakah Anto sudah mempraktekkannya? Bagus”
c. Kontrak
“Seperti janji kita kemarin, hari ini kita akan bercakap-cakap tentang
aspek positif Anto, bagaimana cara berfikir positif dan menghargai
diri sebagai individu yang berharga”
“Dimana enaknya kita berbincang-bincang , anto?”
“Berapa lama anto mau kita berbincang-bincang? Bagaimana kalau
20 menit tentang hal tersebut?”
“Nah anto, nanti kita harapkan Anto bisa untuk berfikir positif
terhadap diri dan mampu menghargai diri sendiri.”
2. Fase Kerja
“Apa saja dalam hidup Anto yang perlu disyukuri, siapa saja kira-kira
yang sedih dan rugi kalau Anto meninggal. Coba Anto ceritakan hal-hal
yang baik dan positif dalam diri dan kehidupan Anto.”
“Keadaan yang bagaimana yang membuat Anto merasa puas?”
“Dulu Anto pekerjaannya apa? Apa Kegiatan sehari-hari Anto dahulu?
Keterampilan apa yang Anto miliki?”
“Wah. Rupanya Anto pandai menjahit ya, tidak semua orang bisa menjahit
loh. Bisa Anto ceritakan kepada saya kapan pertama kali Anto belajar
menjahit?”
“Oke, sekarang Anto bisa ceritakan bagaimana cara menjahit yang baik
itu?”
“Bagus, Anto. Ternyata di kehidupan Anto sekarang masih ada hal yang
baik dan positif yang patut Anto syukuri ya.”
“Bagaimana kalau kita mencoba melakukan kegiatan menjahit yang sudah
Anto sebutkan tadi, coba kita buatkan jadwal ya untuk kemampuan Anto
ya.”
“Kira-kira Anto mau berapa kali dalam seminggu?”
“Oke, jadi 3 kali dalam seminggu ya. Di hari Senin, Rabu dan Kamis.”
“Oh iya Anto, Apakah Anto tahu apa saja cara yang bisa kita lakukan agar
selalu berfikir positif? Saya punya tips nih agar kita dapat selalu berfikir
positif, Anto mau tau caranya ga?”
“Oke, Pertama Buat daftar ucapan syukur harian. Buatlah minimal 5 hal
yang Anto syukuri setiap hari. Kedua, Berbicara positif pada diri
sendiri. Jadikan diri Anto sendiri sebagai teman bukan musuh, lalu rangkul
dan berpikirlah positif kepada diri sendiri. Ketiga, Nyatakan kata-kata
positif kepada orang lain dan kepada diri sendiri seharian penuh. Buatlah
sebuah usaha untuk mengisi tiap-tiap hari dengan kata-kata dan pikiran
optimis. Keempat, Ketahui cita-cita, impian dan minat Anto. Fokus untuk
memperoleh hal-hal yang Anto minati dalam hidup. Impian Anto adalah
pemberi motivasi dan Anto menginginkan untuk mengejar sebuah masa
depan yang positif. Apa Anto ada yang ingin ditanyakan ? oke kalau tidak,
jadi tips ini bisa Anto gunakan ya untuk meningkatkan rasa menghargai
diri Anto.
3. Fase Terminasi
a. Evaluasi Subjektif
“Bagaimana perasaan Anto setelah kita bercakap-cakap?
b. Evaluasi Objektif
“Bisa sebutkan kembali apa-apa saja yang Anto patut syukuri
dalam hidup Anto dan bagaimana cara agar kita selalu berfikir
positif?”
“Wah, bagus Anto bisa menyebutkannya kembali.”
c. RTL
“ Nah nanti Anto harus selalu ingat dan ucapkan hal-hal yang
baik dalam kehidupan Anto jika terjadi dorongan mengakhiri
kehidupan (affirmasi) ya”
d. Kontrak yang akan datang
“Besok kita ketemu lagi ya Anto ? Anto mau kan ? oke, Anto
maunya jam berapa ? tempatnya dimana ? oke Anto, besok kita akan
bercakap-cakap tentang pola koping ya bu atau cara bagaimana Anto
mengatasi suatu masalah ya jam 10 pagi tempatnya disini aja. “
STRATEGI PELAKSANAAN III
RISIKO BUNUH DIRI
A. Proses Keperawatan
1. Kondisi Klien
Anto berusia 17 tahun. Tinggal daerah perbukitan. Ia selalu tampak
murung dan sedih. Setiap orang yang ingin mendekatinya akan selalu
dijauhi. Anto sering sekali mengatakan “Segala sesuatu akan lebih baik
jika tanpa saya. Saya adalah orang yang selalu membawa musibah sudah
sepantasnya saya pergi jauh dari sini”.
Kondisi ini mulai terjadi sejak tujuh hari yang lalu. Saat itu,
sahabatnya Ana jatuh dari tebing yang curam ketika sedang bermain
berdua sehingga sahabatnya meninggal dunia. Ia memiliki bekas luka
goresan pisau di tangan kanan akibat percobaan bunuh diri. Ibu dan
ayahnya mengatakan sangat cemas melihat kondisi Anto sekarang.
a. Data Subjektif :
Segala sesuatu akan lebih baik jika tanpa saya. Saya adalah
orang yang selalu membawa musibah sudah sepantasnya saya
pergi jauh dari sini”.
Ibu dan ayahnya mengatakan sangat cemas melihat
kondisi Anto sekarang.
b. Data Objektif :
Ia selalu tampak murung dan sedih.
Setiap orang yang ingin mendekatinya akan selalu dijauhi
Kondisi ini mulai terjadi sejak tujuh hari yang lalu karena
sahabatnya, Ana, meninggal dunia akibat jatuh dari tebing
yang curam ketika sedang bermain berdua
Ia memiliki bekas luka goresan pisau di tangan kanan akibat
percobaan bunuh diri
2. Diagnosa Keperawatan : Resiko Bunuh Diri
3. Tujuan : Mengidentifikasi pola koping pasien
4. Tindakan Keperawatan :
a. Mengidentifikasi pola koping yang biasa diterapkan pasien
b. Menilai pola koping yang biasa dilakukan
c. Mengidentifikasi pola koping yang konstruktif
d. Mendorong pasien memilih pola koping yang konstruktif
e. Menganjurkan pasien menerapkan pola koping konstruktif dalam
kegiatan harian
B. Strategi Komunikasi
1. Fase Orientasi
a. Salam Terapeutik
“Assalamu’alaikum Anto! Masih ingat dengan saya? Iya betu, saya
perawat yang kemarin.”
b. Evaluasi/Validasi
“Bagaimana perasaan Anto hari ini? Bagaimana dengan tidur Anto
semalam?”
c. Kontrak
“Anto masih ingat dengan kontrak kita kemarin? kita akan berbincang-
bincang tentang bagaimana cara Anto melakukan hal yang baik ketika
sedang mengalami masalah. Tujannya supaya Anto dapat melakukan
hal yang positif ketika Anto sedang mengalami masalah. Bagaimana
kalau kita berbincang-bincang ditaman sesuai dengan kontrak kita
kemarin? Apa Anto mau? Berapa lama kita akan berbicara?
Bagaimana kalau 15 menit sesuai kontrak kita kemarin? Apakah Anto
setuju?”
2. Fase Kerja
“Anto, ketika Anto sedang mangalami masalah, apa yang Anto lakukan?”
“Lalu apalagi? Bagus sekali Anto ini.”
“Jadi kalau Anto sedang mengalami masalah seperti itu, Anto bisa
melakukan hal-hal yang membuat Anto sibuk, tapi sibuk dengan hal-hal
yang positif, seperti apa yang Anto katakan tadi, misalnya : main bola,
menyapu halaman dan shalat.”
“Sekarang coba Anto sebutkan lagi kegiatan-kegiatannya!”
“Betul, bagus sekali”
3. Fase terminasi
a. Evaluasi Subjektif
“Bagaimana perasaan Anto setelah apa yang kita bicarakan tadi? Saya
senang jika Anto melakukan kegiatan-kegiatan yang tadi kita bicarakan.”
b. Evaluasi Objektif
“Sekarang coba Anto sebutkan kembali apa yang sudah kita bicarakan
tadi! Pintar sekali Anto ini….”
c. RTL
“Anto, selama kita tidak bertemu, Anto bisa melakukan kegiatan-kegiatan
tadi, seperti main bola, menyapu, dan shalat. Kemudian Anto masukan
kedalam jadwal kegiatan harian Anto ya”
d. Kontrak yang akan datang
“Baiklah sekarang Anto saya tinggal dulu, kapan kita bisa bertemu lagi?
Bagaimana kalau besok?”
“Baiklah besok kita akan membahas tentang membuat rencana untuk masa
depan.”
“Dimana kita akan berbicara? Bagaimana kalau di taman lagi?”
“Mau jam berapa? Bagaimana kalau jam 10 lagi?”
“Baik besok kita bertemu lagi jam 10 di taman ya Anto.”
“Apakah Anto setuju? Baiklah, selamat beristirahat.”
STRATEGI PELAKSANAAN IV
RISIKO BUNUH DIRI
A. Proses Keperawatan
1. Kondisi Klien
Anto berusia 17 tahun. Tinggal daerah perbukitan. Ia selalu tampak
murung dan sedih. Setiap orang yang ingin mendekatinya akan selalu
dijauhi. Anto sering sekali mengatakan “Segala sesuatu akan lebih baik
jika tanpa saya. Saya adalah orang yang selalu membawa musibah sudah
sepantasnya saya pergi jauh dari sini”.
Kondisi ini mulai terjadi sejak tujuh hari yang lalu. Saat itu,
sahabatnya Ana jatuh dari tebing yang curam ketika sedang bermain
berdua sehingga sahabatnya meninggal dunia. Ia memiliki bekas luka
goresan pisau di tangan kanan akibat percobaan bunuh diri. Ibu dan
ayahnya mengatakan sangat cemas melihat kondisi Anto sekarang.
a. Data Subjektif :
Segala sesuatu akan lebih baik jika tanpa saya. Saya adalah
orang yang selalu membawa musibah sudah sepantasnya saya
pergi jauh dari sini”.
Ibu dan ayahnya mengatakan sangat cemas melihat
kondisi Anto sekarang.
b. Data Objektif :
Ia selalu tampak murung dan sedih.
Setiap orang yang ingin mendekatinya akan selalu dijauhi
Kondisi ini mulai terjadi sejak tujuh hari yang lalu karena
sahabatnya, Ana, meninggal dunia akibat jatuh dari tebing
yang curam ketika sedang bermain berdua
Ia memiliki bekas luka goresan pisau di tangan kanan akibat
percobaan bunuh diri
2. Diagnosa Keperawatan : Resiko Bunuh Diri
3. Tujuan : Klien dapat mencapai masa dpan yang realistis
4. Tindakan Keperawatan :
a. Membuat rencana masa depan yang realistis bersama pasien
b. Mengidentifikasi cara mencapai rencana masa depan yang realistis
c. Memberi dorongan pasien melakukan kegiatan dalam rangka meraih
masa depan yang realistis
B. Stategi Komunikasi
1. Fase orientasi
a. Salam Terapeutik
“Assalamu’alaikum Anto! Masih ingat dengan saya? Iya betu, saya
perawat yang kemarin.”
b. Evaluasi/Validasi
“Bagaimana perasaan Anto hari ini? Bagaimana dengan tidur Anto
semalam?”
c. Kontrak
“Anto masih ingat dengan kontrak kita kemarin? Kita akan
berbincang-bincang tentang bagaimana cara Anto melakukan hal yang
baik ketika sedang mengalami masalah.”
“Tujuannya supaya Anto dapat merencanakan masa depan yang jauh
lebih baik dari sebelumnya dan Anto dapat mencapai masa depan yang
nyata.”
“Bagaimana kalau kita berbincang-bincang ditaman sesuai dengan
kontrak kita kemarin? Apa Anto mau?”
“Berapa lama kita akan berbicara? Bagaimana kalau 15 menit sesuai
kontrak kita kemarin juga yang telah di tentukan?”
“Mau dimana kita berbicara? Bagaimana kalau di taman seperti
kontrak kita kemarin?”
“Apakah Anto setuju?”
2. Fase Kerja
“Anto, apa keinginan Anto dari dulu sampai sekarang?”
“Apakah masih ada yang lain?”
“Sampai saat ini sudah ada keinginan Anto yang sudah tercapai?”
“Wah hebat…..”
“Kalau yang belum tercapai apa?”
“Harapan Anto sangat bagus sekali, Anto bisa berusaha semampu Anto
dengan cara yang sabar, lebih giat, ikhtiar dan berdoa. Kegagalan bukan
akhir dari sebuah harapan, namun cobaan yang nantinya akan membawa
Anto ke arah yang Anto harapkan selama ini.”
“Jadi, selalu berusaha menjadi yang terbaik ya, kejar cita-cita Anto sampai
dapat dan ingat, kejar harapan itu sesuai kemampuan Anto”.
3. Fase terminasi
a. Evaluasi Subjektif
“Bagaimana perasaan Anto setelah apa yang kita bicarakan tadi? Saya
senang jika Anto melakukan apa yang sudah tadi kita bicarakan.”
b. Evaluasi Objektif
“Coba Anto sebutkan kembali apa yang seharusnya kita lakukan ketika
kita menginginkan sesuatu!”
“Pintar sekali Anto ini”
c. RTL
“Anto, selama kita tidak bertemu, Anto bisa melakukan hal seperti tadi
untuk mencapai keinginan Anto yang nyata, Anto mesti lebih sabar,
lebih giat, ikhtiar dan berdoa. Jangan sampai menyerah ya Pak. Sukses
untuk Anto”