0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
327 tayangan12 halaman

Tinjauan Metode REBA dalam Ergonomi

REBA adalah metode penilaian postur tubuh pekerja yang cepat untuk mendeteksi risiko cidera otot dan tulang akibat pekerjaan. Metode ini menilai berbagai bagian tubuh dan mempertimbangkan faktor beban kerja untuk memberikan skor resiko. Skor ini kemudian digunakan untuk menentukan tindakan perbaikan yang diperlukan guna mengurangi risiko kesehatan bagi pekerja.

Diunggah oleh

Ega Alisyah
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd
0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
327 tayangan12 halaman

Tinjauan Metode REBA dalam Ergonomi

REBA adalah metode penilaian postur tubuh pekerja yang cepat untuk mendeteksi risiko cidera otot dan tulang akibat pekerjaan. Metode ini menilai berbagai bagian tubuh dan mempertimbangkan faktor beban kerja untuk memberikan skor resiko. Skor ini kemudian digunakan untuk menentukan tindakan perbaikan yang diperlukan guna mengurangi risiko kesehatan bagi pekerja.

Diunggah oleh

Ega Alisyah
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd

C.

Tinjauan Umum Tentang Rapid Entire Body Assessment (REBA)

1. Sejarah Dan Perkembangan Rapid Entire Body Assessment (REBA)


REBA atau Rapid Entire Body Assessment dikembangkan oleh Dr. Sue Hignett dan Dr.
Lynn Mc Atamney yang merupakan ergonom dari universitas di Nottingham (University of
Nottingham’s Institute of Occuptaional Ergonomic). REBA adalah sebuah metode yang
dikembangkan dalam bidang ergonomi dan dapat digunakan secara cepat untuk menilai posisi
kerja atau postur leher, punggung, lengan pergelangan tangan dan kaki seorang pekerja.
REBA dikembangkan untuk mendeteksi postur kerja yang beresiko dan melakukan
perbaikan sesegera mungkin. REBA dikembangkan tanpa membutuhkan piranti khusus. Ini
memudahkan peneliti untuk dapat dilatih dalam melakukan pemeriksaan dan pengukuran tanpa
biaya peralatan tambahan. Pemeriksaan REBA dapat dilakukan di tempat yang terbatas tanpa
menggangu pekerja. Pengembangan REBA terjadi dalam empat tahap. Tahap pertama adalah
pengambilan data postur pekerja dengan menggunakan bantuan video atau foto, tahap kedua
adalah penentuan sudut–sudut dari bagian tubuh pekerja, tahap ketiga adalah penentuan berat
benda yang diangkat, penentuan coupling, dan penentuan aktivitas pekerja. Tahap keempat
adalah perhitungan nilai REBA untuk postur yang bersangkutan. Dengan didapatnya nilai REBA
tersebut dapat diketahui level resiko dan kebutuhan akan tindakan yang perlu dilakukan untuk
perbaikan kerja.

2. Pengertian REBA (Rapid Entire Body Assessment)


REBA (Highnett and McAtamney,2000) dikembangkan untuk mengkaji postur bekerja yang
ditemukan pada industri pelayanan kesehatan dan industry pelayanan lainnya. Data yang
dikumpulkan termasuk postur badan, kekuatan yang digunakan, tipe dari pergerakan, gerakan
berulang, dan gerakan berangkai. Skor akhir REBA diberikan untuk memberi sebuah indikasi
pada tingkat risiko mana dan pada bagian mana yang harus dilakukan tindakan penaggulangan.
Metode REBA digunakan untuk menilai postur pekerjaan berisiko yang berhubungan dengan
musculoskeletal disorders/work related musculoskeletal disorders (WRMSDs).
Kelebihan REBA antara lain:
a. Merupakan metode yang cepat untuk menganalisa postur tubuh pada suatu pekerjaan yang
dapat menyebabkan risiko ergonomi.
b. Mengidentifikasi faktor – faktor risiko dalam pekerjaan (kombinasi efek dari otot dan usaha,
postur tubuh dalam pekerjaan, genggaman atau grip, peralatan kerja, pekerjaan statis atau
berulang – ulang).
c. Dapat digunakan untuk postur tubuh yang stabil maupun yang tidak stabil.
d. Skor akhir dapat digunakan dalam menyelesaikan masalah, untuk menentukan
prioritas penyelidikan dan perubahan yang perlu dilakukan.
e. Fasilitas kerja dan metode kerja yang lebih baik dapat dilakukan ditinjau dari analisa yang
telah dilakukan.
Sedangkan kekurangan dan kelemahan metode REBA adalah:
a. Hanya menilai aspek postur dari pekerja.
b. Tidak mempertimbangkan kondisi yang dialami oleh pekerja terutama yang berkaitan dengan
faktor psikososial.
c. Tidak menilai kondisi lingkungan kerja terutama yang berkaitan dengan vibrasi temperatur
dan jarak pandang.
3. Standar dan Peraturan
REBA bukan merupakan desain spesifik untuk memenuhi standar khusus. Meskipun
demikian, ini telah digunakan di inggris untuk pengkajian yangberhubungan dengan Manual
Handling Operation Regulation (HSE, 1998). REBA ini juga digunakan secara luas di dunia
internasional termasuk dalam Ergonomi Program Standar (OSHA, 200).
a. Prosedur Penilaian REBA
1. Mengamati Tugas (Observasi pekerjaan)
Mengamati tugas untuk merumuskan sebuah penilaian tempat kerja ergonomi yang umum,
termasuk akibat dari tata letak dan lingkungan pekerjaan, penggunaan peralatan-peralatan
perilaku pekerja dengan menghitungkan risiko. Jika memungkinkan rekam data menggunakan
kamera atau video.
2. Memilih postur untuk penilaian Menentukan postur mana yang akan digunakan untuk
menganalisis pengamatan. (hasriyanti, 2016).
Metode ergonomi tersebut mengevaluasi postur, kekuatan, aktivitas dan faktor coupling
yang menimbulkan cidera akibat aktivitas yang berulang–ulang. Penilaian postur kerja dengan
metode ini dengan cara pemberian skor resiko antara satu sampai lima belas, yang mana skor
yang tertinggi menandakan level yang mengakibatkan risiko yang besar (bahaya) untuk
dilakukan dalam bekerja. Hal ini berarti bahwa skor terendah akan menjamin pekerjaan yang
diteliti bebas dari ergonomic hazard. Selain itu metode ini juga dipengaruhi faktor genggaman,
beban eksternal yang ditopang oleh tubuh serta aktifitas pekerja. Penilaian dengan menggunakan
REBA tidak membutuhkan waktu yang lama untuk melengkapi dan melakukan skoring general
pada daftar aktivitas yang mengindikasikan perlu adanya pengurangan risiko yang diakibatkan
postur kerja operator (Mc Atamney, 2000).
Analisa REBA dilakukan dengan membagi postur tubuh kedalam dua kategori, kategori
A dan B. Kategori A terdiri dari tubuh, leher dan kaki, sedangkan kategori B terdiri dari lengan
atas dan bawah serta pergelangan untuk gerakan ke kiri dan kanan. Masing-masing kategori
memiliki skala penilaian postur tubuh lengkap dengan catatan tambahan yang dapat digunakan
sebagai bahan pertimbangan dalam desain perbaikan. Setelah penilaian postur tubuh, yang
dilakukan kemudian adalah pemberian nilai pada beban atau tenaga yang digunakan serta faktor
terkait dengan kopling. Nilai untuk masing-masing postur tubuh dapat diperoleh dari tabel
penilaian yang telah ada. Total nilai pada kategori A merupakan nilai yang diperoleh dari
penjumlahan nilai postur tubuh yang terdapat pada tabel A dengan nilai beban atau tenaga.
Sedang total nilai pada kategori B merupakan nilai yang diperoleh dari penjumlahan nilai postur
tubuh yang terdapat pada tabel B dengan nilai kopling untuk kedua tangan (Sinaga, 2010).
Nilai REBA diperoleh dengan melihat nilai dari kategori A dan B pada tabel C untuk
memperoleh nilai C yang kemudian dijumlahkan dengan nilai aktivitas. Sedangkan tingkatan
risiko dari pekerjaan diperoleh dari tabel keputusan REBA (Hignett & McAtamney dalam Sinaga
2010).
Langkah-langkah yang diperlukan dalam menerapkan metode REBA ini antara lain:
a. Mengambil data gambar posisi tubuh ketika bekerja di tempat kerja.
b. Menentukan bagian-bagian tubuh yang akan diamati, antara lain Punggung, pergelangan
tangan, leher, kaki, lengan atas, dan lengan bawah.
c. Penentuan nilai untuk masing-masing postur tubuh dan penentuan activity score.
d. Penjumlahan nilai dari masing-masing kategori untuk memperoleh nilai REBA.
e. Penentuan level risiko dan pengambilan keputusan untuk perbaikan.
f. Implementasi dan evaluasi desain metode, fasilitas, dan lingkungan kerja.
g. Penilaian ulang dengan menggunakan metode REBA untuk desain baru yang
diimplementasikan.
h. Evaluasi perbandingan nilai REBA untuk kondisi sebelum dan setelah implementasi desain
perbaikan.
Beberapa keuntungan yang didapat dari metode REBA yang di diantaranya:
1) Metode ini dapat menganalisa pekerjaan berdasarkan posisi tubuh dengan cepat.
2) Menganalisa faktor-faktor resiko yang ada dalam melakukan pekerjaan.
3) Metode ini cukup peka untuk menganalisa pekerjaan dan beban kerja berdasarkan posisi tubuh
ketika bekerja.
4) Teknik penilaian membagi tubuh kedalam bagian-bagian tertentu yang kemudian diberi kode-
kode secara individual berdasarkan bidang-bidang geraknya untuk kemudian diberikan nilai.
5) Membuat desain metode, fasilitas dan lingkungan kerja

3. Metode Rapid Entire Body Assessment (REBA)


Metode REBA merupakan metode pengamatan, dimana peneliti atau pengguna metode ini
harus mengamati/melihat aktivitas yang dilakukan, dan
kemudian dianalisa lebih lanjut menggunakan metode REBA. Metode REBA telah mengikuti
karakteristik, yang telah dikembangkan untuk memberikan jawaban untuk keperluan
mendapatkan peralatan yang bisa digunakan untuk mengukur pada aspek pembebanan fisik para
pekerja. Analisa dapat dibuat sebelum atau setelah sebuah interferensi untuk mendemonstrasikan
risiko yang telah dihentikan dari sebuah cedera yang timbul. Hal ini memberikan sebuah
kecepatan pada penilaian sistematis dari risiko sikap tubuh dari seluruh tubuh yang bisa pekerja
dapatkan dari pekerjaannya (Wisanggeni, 2010).
Pelaksanaan pengukuran menggunakan Rapid Entire Body Assessment(REBA) melalui 6
langkah sebagai berikut:
a. Pengamatan terhadap aktivitas
b. Pemilihan sikap kerja yang akan diukur
c. Pemberian skor pada sikap kerja
d. Pengolahan skor
e. Penyusunan skor REBA
f. Penentuan level

Gambar 2.2. Proses Pengerjaan Metode REBA

(Laboratorium Sistem Kerja dan Ergonomi, 2016)

Dalam
mempermudah
penilaiannya maka pengukuran menggunakan REBA dibagi atas 2 segmen grup, yaitu :
a. Group A, terdiri atas leher (neck), punggung (trunk), kaki (legs) dan beban (force/load)
b. Group B, terdiri dari lengan atas (upper arm), lengan bawah (lower arm), pergelangan tangan
(wrist), aktivitas (activity) dan genggaman (coupling).
Metode REBA memberikan standar skor yang digunakan untuk mengukur sikap kerja,
beban dan aktivitas termasuk skor perubahan jika terjadi modifikasi pada sikap kerja, beban dan
aktivitas tersebut.
a. Group A
1. Leher (Neck), dengan ketentuan
gerakan dapat dilihat pada gambar
2.3.
Gambar 2.3. Pergerakan Leher
Pergerakan leher digolongkan kedalam skor REBA seperti yang tertera pada tabel 2.1

Sumber: Hignett, 2000

2. Punggung/Punggung (Trunk), dengan ketentuan gerakan pada gambar 2.4.

Gambar 2.4. Pergerakan Punggung


Pergerakan Punggung digolongkan ke dalam skor REBA seperti yang tertera pada tabel 2.2.
Sumber: Hignett, 2000

3. Kaki (Legs), dengan ketentuan gerakan dapat dilihat pada gambar 2.5

Gambar 2.5. Pergerakan Kaki


Pergerakan kaki digolongkan ke dalam skor REBA seperti tertulis pada tabel 2.3.

Sumber: Hignett, 2000


4. Beban (Load/Force)
Pada metode REBA, berat dari beban juga digolongkan ke dalam skor REBA berdasarkan
ukuran berat dari beban tersebut. Secara lebih detail skor REBA untuk beban dapat dilihat pada
tabel 2.4 di bawah ini:

Sumber: Hignett, 2000

b. Group B
1. Lengan Atas (Upper Arms), dengan ketentuan pergerakan dapat dilihat pada gambar 2.6.

Gambar 2.6. Pergerakan Lengan Atas


Pergerakan lengan atas digolongkan ke dalam skor REBA seperti yang tercantum pada tabel 2.5.

Sumber: Hignett, 2000


2. Lengan Bawah
(Lower Arms),
dengan ketentuan
pergerakan dapat dilihat pada gambar 2.7.

Gambar 2.7. Pergerakan Lengan Bawah


Pergerakan lengan bawah
digolongkan ke dalam skor
REBA seperti tertera pada
tabel 2.6.

Sumber: Hignett, 2000

c. Pergelangan Tangan (Wrists), dengan ketentuan pergerakan dapat dilihat pada gambar 2.8
Gambar 2.8. Pergerakan Pergelangan Tangan
Pergerakan pergelangan tangan digolongkan ke dalam skor REBA seperti tertera pada tabel 2.7

Sumber: Hignett, 2000

4. Genggaman (Coupling)Sikap kerja saat menggenggam (coupling) dikelompokkan ke dalam 4


kategori berdasarkan skor REBA seperti yang terlihat di Tabel 2.8.

Sumber: Hignett, 2000

5. Aktivitas (Activity)Aktivitas berdasarkan REBA digolongkan ke dalam 3 jenis yaitu sikap kerja
statis, perulangan dan tidak stabil seperti tertera pada tabel 2.8.
Sumber: Hignett, 2000

a. Perhitungan Rapid Entire Body Assessment (REBA)


Skor dari pengukuran sikap kerja, beban dan aktivitas yang sudah diperoleh akan
dikombinasikan menggunakan tabel 2.9 sampai tabel 2.10. Hasil akhir dari perhitungan ini akan
menghasilkan skor REBA (REBA score) yang memiliki nilai antara 1 dan 15 yang kemudian akan
dikonversikan ke dalam tingkatan tindakan (action level) sesuai dengan Tabel 2.12 dimana akan
dihubungkan dengan usulan tindakan.

a. Perhitungan Group A

Sumber: Hignett, 2000

Tabel A pada REBA menggabungkan skor dari leher (Neck) , Punggung(trunk), kaki (legs)
dan beban (load/force), yang dapat diperoleh dengan perhitungan sebagai beriku :
Skor tabel A = Neck + Trunk + Legs – 2
Skor beban (load/force) ditambahkan pada skor table A untuk menghasilkan skor A sebagai
berikut:
Skor A = Skor tabel A + Load/Force
Sehingga : Skor A = Neck + Trunk+ Legs + Load/Force – 2

b. Perhitungan Group B
Sumber: Hignett, 2000

Tabel B pada REBA menggabungkan skor lengan atas (upper arm), lengan bawah (lower
arm), pergelangan tangan (wrist), yang dapat juga diperhitungkan dengan persamaan sebagai
berikut :
Skor tabel B = Upper arm + Lower arm + Wrist - 2
Skor genggaman (coupling) ditambahkan pada skor table B untuk menghasilkan skor B sebagai
berikut :
Skor B = Skor tabel B + Coupling
Sehingga : Skor B = Upper arm + Lower arm + Wrist + Coupling – 2

c. Perhitungan Group C

Sumber: Hignett, 2000


Skor A dan skor B digabungkan dengan menggunakan tabel C, yang dapat dihitung dengan
menggunakan persamaan :
Skor C = INT ((Neck+Trunk+Legs+Load/Forc+Upper arm+Lower
arm+Wrist+ Coupling) 12)
d. Perhitungan REBA Action Level
Lebih lanjut skor REBA dipetakan ke dalam level tindakan (action level) seperti tertulis
pada Tabel 2.12. yang dapat juga dihitung dengan menggunakan persamaan:
REBA Action Level = INT (REBA Score/4 +1 )
REBA Action Level = INT (INT ((Neck + Trunk + Legs + Load/Force +
Upper arm + Lower arm + Wrist + Coupling) I 2) +Activity
Score)/4+1)

Sumber: Hignett, 2000


Dari tabel risiko di atas dapat diketahui dengan nilai REBA yang didapatkan dari hasil
perhitungan sebelumnya dapat diketahui level risiko yang terjadi dan perlu atau tidaknya
tindakan yang dilakukan untuk perbaikan. Perbaikan kerja yang mungkin dilakukan antara lain
berupa perancangan ulang peralatan kerja berdasarkan prinsip – prinsip ergonomi.

Common questions

Didukung oleh AI

REBA scoring influences decision-making by providing a quantifiable risk level for various postures, which highlights the urgency and extent of interventions needed. Scores are mapped to action levels, guiding the prioritization and redesigning of workplace tasks and environments to reduce ergonomic hazards .

The strengths of the REBA method include its speed and practicality for analyzing postures in both stable and unstable configurations, its ability to identify ergonomic risk factors, and the provision of easily understandable scores for intervention priorities. However, its limitations include a focus solely on postural assessment, neglecting psychosocial factors and workplace environmental conditions, such as vibration and temperature. These aspects influence the method's effectiveness in real-world applications by limiting comprehensive risk assessment .

Apart from postural assessment, REBA scoring includes factors such as the load/force handled by workers, coupling quality (grip adequacy), and activity types, such as static, repetitive, or unstable postures, which all affect the overall risk level and necessary interventions .

While REBA provides a detailed evaluation of physical postures, its comprehensiveness is limited as it does not account for psychosocial influences or environmental conditions like extreme temperatures or vibrations, affecting a full ergonomic hazard assessment .

The development of REBA, aimed at quick and cost-effective ergonomic assessment without specialized equipment, reflects its widespread usage across industries for immediate postural risk identification. Its structured, four-stage development—posture data collection, angle determination, weight and activity consideration, and risk scoring—demonstrates its effectiveness in diverse ergonomic applications .

The REBA assessment involves several steps: (1) observing the task to identify ergonomic risks, (2) selecting the postures for analysis, (3) assigning scores to each posture based on obtained data, (4) calculating the REBA score by combining scores for different body parts, (5) determining the level of risk, and (6) implementing and evaluating redesigns. Each step is essential to systematically identify and address ergonomic hazards in the workplace .

To implement REBA in a new workplace, the process begins with capturing images of work postures, identifying body parts for assessment, and scoring each posture. A total REBA score is calculated, determining risk levels and necessary redesign actions. After redesign implementation, a reevaluation using REBA assesses the effectiveness of changes and any remaining ergonomic issues .

The main purpose of the REBA method is to quickly assess working postures to detect risk postures and recommend immediate improvements, thus preventing work-related musculoskeletal disorders .

The REBA method divides the body into two groups: Group A, which includes the neck, trunk, legs, and force/load, and Group B, which consists of the upper arm, lower arm, wrist, activity, and coupling. This division allows for specific evaluation and scoring of distinct body areas based on their involvement in workplace tasks .

Dividing body segments into Group A (neck, trunk, legs) and Group B (arms, wrists, activity, coupling) assists in isolating and evaluating specific physical movements and their associated risks. This segmentation enables tailored interventions for varying body parts, improving analysis precision and ergonomic corrections .

Anda mungkin juga menyukai