Pengaruh Kekasaran Pipa terhadap Koefisien Gesek
Pengaruh Kekasaran Pipa terhadap Koefisien Gesek
ABSTRAK
Pipa merupakan salah satu alat transportasi yang paling efektif untuk memindahkan fluida. Aliran fluida
dalam pipa dapat laminar atau turbulen bergantung dari faktor-faktor yang mempengaruhinya, diantara
nya kekasaran permukaan pipa, kecepatan aliran fluida dan kekentalan fluida. Penelitian ini bertujuan
untuk mengkaji pengaruh jenis lapisan permukaan pipa dan kecepatan aliran fluda terhadap nilai
koefisien gesek. Kecepatan aliran fluida dilakukan dengan mengatur bukaan katub. Pengujian ini
dilakukan dengan menggunakan pipa PVC berdiameter ∅ 22 mm dengan panjang pipa 1 m , fluida yang
digunakan air pada suhu 30 oC. Kekasaran permukaan pipa divariasi yaitu, pipa tanpa lapisan tambahan,
pipa dilapisi pasir halus, dilapisi pasir kasar, pipa dibintik lubang, dilapisi daun talas, pecahan batu bata,
dan pipa dilapisi serat kayu, Hasil penelitian menunjukkan bahwa jenis material lapisan mempengaruhi
kekasaran permukaan pipa, semakin tinggi nilai kekasaran permukaan pipa maka koefisien geseknya
cenderung meningkat. Dari ketujuh jenis lapisan permukaan, pipa uji yang dilapisi pecahan batu bata
memiliki nilai kekasaran relatifnya paling tinggi (ϵ) 2,2 mm, 𝜀 /D 2,2/22 = 01 dan memiliki nilai
koefisien gesek paling tinggi dibanding dengan ke enam lapisan lainya yaitu rata-rata sebesar 0,1638.
Dan yang paling kecil nilai kekasaran pipa adalah yang dilapisi daun talas dengan kekasaran relatih (ϵ)
0,1 , 𝜀/D = 0,1/22 = 0,0045 mempunyai nila koefisien gesek rata-rata 0,0582, dan semakin besar bilangan
Reynold, koefisien geseknya cenderung turun.
1. PENDAHULUAN
181
Fakultas Teknik Universitas IBA
website: [Link]
email: ftuiba@[Link]
Jurnal Ilmiah “ TEKNIKA “
ISSN: 2355-3553 VOL. 5 NO. 2
2. TINJAUAN PUSTAKA
Pipa adalah saluran tertutup yang berpenampang lingkaran digunakan untuk mengalirkan
fluida dengan aliran penuh. Fluida yang dialirkan dapat berupa zat cair atau gas. Tekanan di
dalam pipa bisa lebih kecil atau lebih besar dari tekanan atmosfer.
Fluida adalah zat yang bisa mengalami perubahan bentuk secara kontinyu / terus-menerus
bila terkena tekanan atau gaya geser walaupun relatif kecil atau bisa juga dikatakan suatu zat
yang mengalir, fluida mencakup zat cair dan [Link] kondisinya fluida terbagi menjadi
2, yaitu :
1. Fluida statis
fluida statis adalah fluida yang berada kondisi diam dan tidak bergerak. Contohnya air
sumur, air dalam gelas, air laut dan lain-lain.
2. Fluida dinamis
Fluida dinamis adalah fluida yang berada dalam kondisi bergerak atau mengalir.
Contohnya adalah aliran air, angin, dan lain-lain
Aliran fluida digolongkan banyak cara seperti turbulen, laminar, nyata, ideal,
mampubalik, tak mampubalik, stedi, tak stedi, seragam, tak seragam, rotasional, tak rotasional
(Victor [Link], 1996).
2.1. Viskositas
Viskositas merupakan sifat zat cair yang menyebabkan terjadinya tegangan geser pada
saat zat cair mengalir. Terjadinya tegangan geser menyebabkan kehilangan sebagian energi
karena sebagian energi aliran berubah menjadi energi lain, di antaranya energi panas dan energi
bunyi.
Hukum viskositas Newton menyatakan bahwa tegangan geser antara dua partikel
berbanding lurus dengan viskositas dan perbedaan kecepatan antara dua partikel tersebut.
Hukum viskositas Newton dinyatakan :
𝜏
µ= 𝑑𝑢/𝑑𝑦......................................................................................(1)
dimana :
τ = tegangan geser (N/𝑚2 )
du/dy = laju sebuah lapisan yang bergerak relatif terhadap lapisan berdekatan
182
Fakultas Teknik Universitas IBA
website: [Link]
email: ftuiba@[Link]
Jurnal Ilmiah “TEKNIKA“
VOL. 5 NO. 2 ISSN: 2355-3553
1. Head mayor
Kerugian head mayor merupakan kerugian yang dialami oleh fluida yang mengalir
karena adanya gesekan antara fluida dengan permukaan bagian dalam pipa. Kerugian gesekan
didalam pipa dapat dihitung dengan menggunakan rumus
𝐿 𝑣2
ℎ𝑓(𝑚𝑎𝑦𝑜𝑟) = f 𝐷2𝑔 ....................................................(3)
dimana :
ℎ𝑓 = Kerugian head di dalam pipa (m).
f = Koefisien kerugian gesekan.
D = Diameter pipa (m).
v = Kecepatan rata-rata aliran dalam pipa (m/s).
g = Percepatan gravitasi (m/s 2 ).
L = Panjang pipa (m).
ℎ𝑓.𝑠.𝐷.𝑔
f= 𝐿.𝑉 2
. ...............................................................(4)
Rumus Hazen-williams
Rumus ini pada umumnya dipakai untuk menghitung kerugian head dalam pipa yang
relatif sangat panjang seperti jalur pipa menyalurkan air minum
10,666 𝑄1,85
ℎ𝑓 = ×L .............................................................(5)
𝐶 1,85 𝐷 4.85
a. Aliran laminer
Koefisien kerugian gesek dalam pipa (𝜆) pada aliran laminer dinyatakan dalam persamaan :
64
𝜆 = 𝑅𝑒..............................................................................(7)
b. Aliran Turbulen
Untuk menghitung kerugian gesek dalam pipa pada aliran turbulen dinyatakan dalam
persamaan :
183
Fakultas Teknik Universitas IBA
website: [Link]
email: ftuiba@[Link]
Jurnal Ilmiah “ TEKNIKA “
ISSN: 2355-3553 VOL. 5 NO. 2
0,0005
𝜆 = 0,020 + .......................................................(8)
𝐷
dimana D adalah diameter dalam pipa, Rumus ini berlaku untuk pipa baru dan besi cor.
Jika pipa telah dipakai selama bertahun-tahun, harga 𝜆 akan menjadi 1,5 sampai 2,0 kali
harga barunya.
2. Head minor
Kerugian head minor adalah kerugian yang dialami oleh fluida selama fluida tersebut
mengalir melalui pipa yang penampangnya berubah, terjadi belokan, percabangan dan lain
sebagainya. Kerugian head minor dapat dihitung dengan menggunakan rumus :
𝑣2
ℎ𝑓(𝑚𝑖𝑛𝑜𝑟) =f ...................................................(9)
2𝑔
dimana :
ℎ𝑓 = Kerugian head (m).
f = Koefisien rugi gesekan.
v = Kecepatan rata-rata didalam pipa (m/s).
g = Percepatan gravitasi (m/s²).
(𝑣1 − 𝑣2 )2
ℎ𝑓 = f 2𝑔
..........................................................(11)
Dimana :
v1 = Kecepatan rata rata di penampang kecil (m/s).
v2 = Kecepatan rata rata di penampang besar (m/s).
dimana :
z = head elevasi
𝑃1
𝜌 .𝑔
= head tekanan
184
Fakultas Teknik Universitas IBA
website: [Link]
email: ftuiba@[Link]
Jurnal Ilmiah “TEKNIKA“
VOL. 5 NO. 2 ISSN: 2355-3553
𝑣2
2 .𝑔
= head kecepatan
Dimana :
𝜀 = Kekasaran
D = Diameter Pipa
Dimana :
𝜀 = Kekasaran
D = Diameter Pipa
185
Fakultas Teknik Universitas IBA
website: [Link]
email: ftuiba@[Link]
Jurnal Ilmiah “ TEKNIKA “
ISSN: 2355-3553 VOL. 5 NO. 2
3. METODE PENELITIAN
Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode eksperimen dan studi literatur
dengan merancang sebuah instalasi alat percobaan yang digunakan dalam pengambilan data.
Data yang diperoleh dianalisa untuk mendapatkan hubungan hubungan antara bilangan
Reynolds dengan koefisien gesek serta kekasaran permukaan dalam pipa dengan nilai koefisien
gesek yang terjadi dalam aliran fluida di dalam pipa. Tahap-tahap penelitian yang dilakukan
disajikan pada Gambar 1
Mulai
Studi Literatur
Pengolahan data
Analisa data
Selesai
186
Fakultas Teknik Universitas IBA
website: [Link]
email: ftuiba@[Link]
Jurnal Ilmiah “TEKNIKA“
VOL. 5 NO. 2 ISSN: 2355-3553
Keterangan Gambar
1. Bak Penampung
2. Pompa
3. Katub
4. Manomater
5. Pipa Uji L= 80 cm
Alat uji ini menggunakan pipa PVC ¾ inchi dengan diameter dalam 22 mm, panjang
pipa 1 m. Permukaan pipa tersebut dikasarkan dengan 7 variasi lapisan yang berbeda . Pipa ini
dihubungkan dengan satu buah pompa sentrifugal yang digunakan untuk menyedot air yang ada
didalam tangki untuk dialirkan dalam pipa. Fluida yang dipakai air. Debit aliran diatur dengan
menggunakan katup. Bukaan katup diatur sedikit demi sedikit mulai dari Re rendah menuju
tinggi. Pada alat uji dipasang dua buah manometer, jarak antara tap 80 cm untuk mengukur
kerugian
- Prosedur Percobaan
Tahap-tahap pengujian yang dilakukan pada saat pengambilan data adalah sebagai berikut:
1) Pastikan tidak ada kebocoran
2) Memasang pipa pengujian
3) Mengisi air ke Bak Penampung
4) Memasang thermometer kedalam Bak Penampung untuk mengetahui temperatur
fluida.
5) Memasang selang manometer
6) Mengatur bukaan katup
7) Menghidupkan pompa sehingga fluida dapat mengalir melalui instalasi pipa sehingga
terjadi sirkulasi aliran fluida
187
Fakultas Teknik Universitas IBA
website: [Link]
email: ftuiba@[Link]
Jurnal Ilmiah “ TEKNIKA “
ISSN: 2355-3553 VOL. 5 NO. 2
8) Menampung air yang keluar dengan menggunakan gelas ukur dan mencatat waktu.
9) Mencatat selisih head yang terjadi pada manometer air.
10) Mengulangi pengambilan data dengan mengatur bukaan katup sehingga 6 kali bukaan
katup.
11) untuk pengambilan data pada pipa pengujian berikutnya adalah dengan mematikan
pompa dan mengganti pipa pengujian sebelumnya dengan pipa pengujian yang lain,
proses pengambilan data sama dengan pengambilan awal.
12) Pengujian dilakukan berulang-ulang untuk mendapatkan hasil yang benar dan kerja
alat pengujian dicek agar tidak terjadi penyimpangan.
b. Pipa uji di lapisan pasir halus e. Pipa Uji dilapisi daun talas
c. . Pipa uji di lapisan pasir kasar f. Pipa uji dilapisi pecahan batu bata
d. Pipa uji dengan dibintik g. Pipa Uji dengan Lapisan Serat Kayu
Hasil pengambilan data untuk pipa uji dengan lapisan permukaan yang berbeda disajikan
pada Tabel 1 sampai dengan Tabel 7
188
Fakultas Teknik Universitas IBA
website: [Link]
email: ftuiba@[Link]
Jurnal Ilmiah “TEKNIKA“
VOL. 5 NO. 2 ISSN: 2355-3553
Tabel 2 : Data hasil pengujian pipa dengan permukaan dalam lapisan pasir
halus.
NO Bukaan Waktu Volume 𝐓𝐢𝐧𝐠𝐠𝐢 𝐡𝟏 𝐓𝐢𝐧𝐠𝐠𝐢 𝐡𝟐 ∆h
Keran (detik) (Liter) (mm) (mm) (m)
1 1 4,11 1,994 40,2 16,8 0,234
2 2 3,47 2,110 63,3 26,6 0,367
3 3 3,25 2,006 78,5 41,6 0,369
4 4 3,12 2,122 82,3 37,8 0,445
5 5 3,95 1,984 84,5 42,5 0,420
6 6 3,02 2,024 85,1 43,5 0,416
189
Fakultas Teknik Universitas IBA
website: [Link]
email: ftuiba@[Link]
Jurnal Ilmiah “ TEKNIKA “
ISSN: 2355-3553 VOL. 5 NO. 2
Q=V.A
A= 𝜋𝐷 2 /4
𝑉𝑜𝑙𝑢𝑚𝑒 (𝑙)
Q=
𝑤𝑎𝑘𝑡𝑢 (𝑠)
𝑘𝑔
995.2 ⁄ 3 .1,245 𝑚⁄𝑠 . 0,022 𝑚
𝑚
Re = 𝑘𝑔 = 33948,5 = 3,3948 x 104
8,03𝑥10−4 ⁄𝑚.𝑠
∆ℎ𝑓 .2.𝐷.𝑔
f= 𝐿.𝑉 2
190
Fakultas Teknik Universitas IBA
website: [Link]
email: ftuiba@[Link]
Jurnal Ilmiah “TEKNIKA“
VOL. 5 NO. 2 ISSN: 2355-3553
Hasil perhitungan secara lengkap disajikan pada Tabel 8 sampai dengan Tabel 11
Tabel 10 : Data Bilangan Reynold pada Berbagai Kekasaran Permukaan Pipa Uji
No Bukaan Re (x 104)
keran Polos Pasir Pasir Dibintik Daun Batu Serat
Halua Kasar Lubang Talas Bata Kayu
1 1 3,3949 3,4897 3,6331 3,8565 3,5623 3,7520 3,8221
2 2 4,0675 4,3740 4,3464 4,3860 4,2404 4,6826 4,0869
3 3 4,3164 4,4400 4,5796 4,6774 4,6431 4,6175 4,4312
4 4 4,5171 4,8926 4,7227 4,6743 4,5570 4,5539 4,5376
5 5 4,7595 4,8380 4,7715 4,7723 4,7685 4,6562 4,6177
6 6 4,8315 4,8206 4,8342 5,3239 5,2623 4,9651 4,7881
Tabel 11 : Data Koefisien Gesek pada berbagai Kekasaran Permukaan Pipa Uji
No Bukaan Koefisien Gesek f
keran Polos Pasir Pasir Dibintik Daun Batu Serat
Halus Kasar Lubang Talas Bata Kayu
1 1 0,0247 0,0770 0,1439 0,0790 0,0619 0,1678 0,1674
2 2 0,0232 0,0769 0,1416 0,0788 0,0591 0,1666 0,1454
3 3 0,0226 0,0751 0,1397 0,0779 0,0586 0,1656 0,1434
4 4 0,0218 0,0746 0,1374 0,0762 0,0579 0,1644 0,1426
5 5 0.0200 0,0720 0,1365 0,0755 0,0566 0,1631 0,1411
6 6 0,019 0,0718 0,1340 0,0786 0,0551 0,1618 0,1391
Rata-rata 0,019 0,0744 0,1385 0,0777 0,0582 0,1638 0,1465
191
Fakultas Teknik Universitas IBA
website: [Link]
email: ftuiba@[Link]
Jurnal Ilmiah “ TEKNIKA “
ISSN: 2355-3553 VOL. 5 NO. 2
5. PEMBAHASAN
Tingkat kekasaran permukaan untuk 7 jenis lapisan permukaan pipa uji yang digunakan
dalam penelitian ini adalah :
1. Pipa pengujian dengan permukaan dalam tanpa lapisan tambahan (polos),
2. Pipa pengujian dengan permukaan dalam yang dilapisi pasir halus dengan kekasaran
nya 𝜀/D = 0,2/22 = 0,0091
3. Pipa pengujian dengan permukaan dalam yang dilapisi pasir kasar dengan kekasaran
relatifnya 𝜀/D = 1/22 = 0,0454.
4. Pipa pengujian dengan permukaan dalam dibintik lubang dengan kekasaran relatifnya
𝜀/D = 2/22 = 0,0909
5. Pipa pengujian dengan permukaan dalam yang dilapisi daun talas dengan kekasaran 𝜀/D =
0,1/22 = 0,0045
6. Pipa pengujian dengan permukaan dalam yang dilapisi pecahan batu bata dengan
kekasaran relatifnya 𝜀/D = 2,2/22 = 01.
7. Pipa pengujian dengan permukaan dalam yang dilapisi serat kayu dengan kekasaran
relatifnya 𝜀/D = 0,5/22 = 0,0227.
Dari data pada Tabel 11 dibuat kurva Nilai koefisien Gesek terhadap Bilangan Reynold
dan hasil pengaluran disajikan pada Gambar 5
Gambar 5 : Kurva Koefisien Gesek terhadap Bilangan Reynold pada 7 jenis Kekasaran
PipaUji yang Berbeda
Dari Tabel 11 dan Gambar 5 kurva nilai koefisien gesek terhadap bilangan Reynold
menunjukkan bahwa pada pengujian dengan lapisan pecahan batubata menghasilkan koefisien
gesek yang lebih besar dibanding dengan jenis lapisan yang lain, kemudian dengan lapisan
serat kayu, lapisan pasir kasar, dibintik lubang, lapisan pasir halus dan lapisan daun talas. Nilai
koefisien gesek rata-rata untuk ke tujuh lapisan sebesar 0,019; 0,0582; 0,0744; 0,0777; 0,1385;
192
Fakultas Teknik Universitas IBA
website: [Link]
email: ftuiba@[Link]
Jurnal Ilmiah “TEKNIKA“
VOL. 5 NO. 2 ISSN: 2355-3553
0,1465; 0,1638 masing-masing untuk pipa dengan lapisan daun talas, pasir halus, dibintik
lubang, pasir kasar, serat kayu dan pecahan batu bata
Nilai koefisien gesek (f) dipengaruhi oleh kecepatan aliran fluida (v), panjang pipa (L),
kerugian head (hf) dan diameter pipa (d). Semakin besar diameter, maka semakin besar nilai
koefisien gesek. Hal ini terjadi pada permukaan pipa dengan lapisan batubata yang mempunyai
diamater yang paling besar dibanding pipa dengan lapisan material lain yaitu sebesar 2,2 mm
dengan nilai kekasaran relatifnya 𝜀/D = 2,2/22 = 01.
Jika dibandingkan dengan pipa tanpa lapisan (polos), jenis lapisan dengan pecahan
batubata bata menghasilkan perbedaan nilai koefisien gesek rata-rata sebesar 647,95 % atau 6
kali lebih besar. Posisi kedua dan ketiga yang menghasilkan perbedaan nilai koefisien gesek
hampir sama untuk lapisan dengan serta kayu dan lapisan dengan pasir kasar masing-masing
sebesar 568, 95 % dan 534,02 % . Pada pipa yang dibintik lubang dengan pipa dilapisi pasir
halus juga menghasilkan perbedaan nilai koeifisien gesek rata-rata yang hampir sama yaitu
masing-msing sebesar 254,80 % dan 239,726 % dan yang terakhir adalah lapisan dengan daun
talas menghasilkan perbedaan sebesar 165,75 %.
Pada ke tujuh pipa uji dengan lapisan material yang berbeda menunjukkan kecenderungan
nilai koefisien gesek terlihat menurun dengan kenaikan bilangan [Link] ini menunjukkan
bahwa bilangan Reynold dipengaruhi oleh kecepatan aliran fluida (v), diameter pipa (d).
Semakin besar kecepatan aliran flida, maka nilai Reynold semakin besar pula.
6. KESIMPULAN
Berdasrkan hasil penelitian, bahwa jenis material lapisan pipa mempengaruhi kekasaran
pipa. Semakin kasar permukaan pipa, maka nilai koefisien gesek semakin besar. Pada pipa
pengujian dengan lapisan batu bata mempunyai nilai kekasaran relatifnya yang paling besar
(ϵ) 2,2 mm, 𝜀 /D = 2,2/22 = 01. menghasilkan koefisien gesek yang lebih besar dibandingkan
dengan koefisien gesek pada pipa uji dengan lapisan material lainnya, yaitu rata-rata sebesar
0,1638 atau 647,95 % dibandingkan dengan pipa tanpa lapisan. Koefisien gesek menurun
seiring dengan kenaikan Bilangan Reynold.
DAFTAR PUSTAKA
Antoni, Dachry; 2012; Efek Kekasaran Pipa Terhadap Koefisien Gesek, Skripsi Teknik Mesin,
Universitas Indonesia, Depok.
Arhanudin, 2003; Efek Kekasaran Permukaan Terhadap Koefisien Gesek Pada pipa Silinder ∅
28 mm, Skripsi Teknik Mesin, Universitas IBA Palembang.
Ruben M, Oison. Dan Steven [Link]; 1993, Dasar-dasar Mekanika Flui Teknik, Edisi Ke-5,
Gramedia Pustaka Utama, Jakarta.
Sularso dan Tahara, Haruo; 2000, Pompa dan Kompresor, Jakarta. PT Pradnya Paramita.
193
Fakultas Teknik Universitas IBA
website: [Link]
email: ftuiba@[Link]
Jurnal Ilmiah “ TEKNIKA “
ISSN: 2355-3553 VOL. 5 NO. 2
Utomo, Agung Aprianto, 2017, Analisa Aliran Laminer Dan Turbulen Pada Alat Pratikum
Fenomena Dasar Dengan Variasi Debit Aliran, Teknik Mesin Universitas IBA,
Palembang
Victor [Link], alih bahasa, [Link] Wylie, 1996; Arko Prijono, Mekanika Fluida,
Erlangga, Jakarta.
194
Fakultas Teknik Universitas IBA
website: [Link]
email: ftuiba@[Link]