0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
243 tayangan33 halaman

Penerapan K3 di Pabrik Teh Sosro

Ringkasan dokumen tersebut adalah: 1. Dokumen tersebut membahas tentang latar belakang, rumusan masalah, tujuan, dan manfaat dari peninjauan sistem Keselamatan dan Kesehatan Kerja di Pabrik Teh Sosro. 2. Tujuan peninjauan tersebut antara lain untuk mengetahui pelaksanaan sistem K3, tujuan dan sasaran SMK3, aspek pengawasan K3, serta faktor yang mempengaruhi K3 di pab

Diunggah oleh

Dorratun Rezky
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOC, PDF, TXT atau baca online di Scribd
0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
243 tayangan33 halaman

Penerapan K3 di Pabrik Teh Sosro

Ringkasan dokumen tersebut adalah: 1. Dokumen tersebut membahas tentang latar belakang, rumusan masalah, tujuan, dan manfaat dari peninjauan sistem Keselamatan dan Kesehatan Kerja di Pabrik Teh Sosro. 2. Tujuan peninjauan tersebut antara lain untuk mengetahui pelaksanaan sistem K3, tujuan dan sasaran SMK3, aspek pengawasan K3, serta faktor yang mempengaruhi K3 di pab

Diunggah oleh

Dorratun Rezky
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOC, PDF, TXT atau baca online di Scribd

BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang


Menurut Undang-undang No.1 Tahun 1970 tentang Keselamatan
Kerja pasal 1 ayat 1, keselamatan dan kesehatan kerja dari segi keilmuan
adalah ilmu pengetahuan dan penerapannya dalam usaha mencegah
kemungkinan terjadinya kecelakaan dan penyakit akibat kerja (Soekidjo,
2007).
Menurut ILO, setiap tahun ada lebih dari 250 juta kecelakaan di
tempat kerja dan lebih dari 160 juta pekerja menjadi sakit karena bahaya di
tempat kerja. Terlebih lagi, 1,2 juta pekerja meninggal akibat kecelakaan
dan sakit di tempat kerja. diperkirakan bahwa kerugian tahunan akibat
kecelakaan kerja dan penyakit yang berhubungan dengan pekerjaan di
beberapa negara dapat mencapai 4 persen dari produk nasional bruto (PNB)
(ILO, 2013).
Berdasarkan Undang-undang Nomor I tahun 1970 setiap tenaga kerja
berhak mendapat perlindungan atas keselamatannya dalam melakukan
pekerjaan untuk kesejahteraan hidup dan meningkatkan produksi serta
produktivitas Nasional. Keselamatan dan kesehatan kerja difilosofikan
sebagai suatu pemikiran dan upaya untuk menjamin keutuhan dan
kesempurnaan baik jasmani maupun rohani tenaga kerja pada khususnya
dan manusia pada umumnya, hasil karya dan budayanya menuju masyarakat
makmur dan sejahtera. Sedangkan pengertian secara keilmuan adalah suatu
ilmu pengetahuan dan penerapannya dalam usaha mencegah kemungkinan
terjadinya kecelakaan dan penyakit akibat kerja. Kesehatan dan keselamatan
Kerja (K3) tidak dapat dipisahkan dengan proses produksi baik jasa maupun
industri (Redjeki, 2016).
Upaya keselamatan dan kesehatan kerja bertujuan untuk menjamin
keselamatan dan kesehatan tenaga kerja maupun orang lain yang berada di
tempat kerja, serta sumber produksi, proses produksi dan lingkungan kerja
dalam keadaan aman, maka perlu penerapan Sistem Manajeman
Keselamatan dan Kesehatan Kerja (K3) (Permenaker, 1996).

1
Berdasarkan teori di atas, dinyatakan bahwa untuk menjamin
keselamatan dan kesehatan tenaga kerja sangat dibutuhkan sistem
manajemen K3 di setiap perusahaan, terutama di perusahaan besar, seperti
Pabrik Teh Sosro. Oleh sebab itu, salah satu strategi pembelajaran di
Fakultas Kedokteran Universitas Muhammadiyah Palembang yaitu adanya
tugas pengenalan profesi (TPP) dengan judul Meninjau Sistem K3 di Pabrik
Teh Sosro.

1.2 Rumusan Masalah


Berdasarkan latar belakang tersebut, maka kelompok TPP 1 dapat
merumuskan masalah sebagai berikut:
“Bagaimana Penerapan Sistem Keselamatan dan Kesehatan Kerja (K3) di
Pabrik Teh Sosro?”

1.3 Tujuan
1.3.1 Tujuan Umum:
Untuk mengetahui tentang Keselamatan dan Kesehatan Kerja
(K3) di Pabrik Teh Sosro.
1.3.2 Tujuan Khusus:
1. Mengetahui pelaksanaan Sistem Keselamatan dan Kesehatan
Kerja (K3) di Pabrik Teh Sosro.
2. Mengetahui tujuan dan sasaran dari Sistem Keselamatan dan
Kesehatan Kerja (SMK3) di Pabrik Teh Sosro
3. Mengetahui aspek-aspek pengawasan Keselamatan dan
Kesehatan Kerja (K3) di Pabrik Teh Sosro.
4. Mengetahui Faktor-Faktor yang mempengaruhi Keselamatan dan
Kesehatan Kerja (K3) di Pabrik Teh Sosro.

1.4 Manfaat
Adapun manfaat yang didapatkan dari pelaksanaan Tugas Pengenalan
Profesi kali ini adalah:
1. Untuk mahasiswa
a. Dapat menambah ilmu pengetahuan tentang sistem Keselamatan
dan Kesehatan Kerja (K3).
b. Dapat menambah pengalaman dalam meninjau Sistem Manajemen
Keselamatan dan Kesehatan Kerja (K3).
2. Untuk staff pengajar & profesi khususnya bidang kesehatan

2
a. Dapat menambah ilmu pengetahuan tentang sistem Keselamatan
dan Kesehatan Kerja (K3).
b. Dapat dijadikan sebagai literatur dalam pembelajaran mengenai
Keselamatan dan Kesehatan Kerja (K3).
3. Untuk masyarakat
a. Dapat menambah wawasan terhadap manajemen Keselamatan dan
Kesehatan Kerja (K3).

BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Keselamatan dan Kesehatan Kerja


2.1.1 Definisi
Keselamatan dalam bahasa Inggris disebut safety yang berarti
keadaan terbebas dari celaka dan hampir celaka. Sedangkan kesehatan
adalah dalam bahasa Inggris disebut health, kesehatan menurut UU RI
No. 36 tahun 2009 ialah keadaan sehat, baik secara fisik, mental,
spritual maupun sosial yang memungkinkan setiap orang untuk hidup
produktif secara sosial dan ekonomis. Sedangkan, kerja dalam bahasa
Inggris disebut work atau occupation yang berarti kegiatan atau usaha
untuk mencapai tujuan (pengahasilan dan lain-lain) (Geotsch, 2011).
Keselamatan dan kesehatan kerja difilosofikan sebagai suatu
pemikiran dan upaya untuk menjamin keutuhan dan kesempurnaan
baik jasmani maupun rohani tenaga kerja pada khususnya dan

3
manusia pada umumnya, hasil karya dan budayanya menuju
masyarakat makmur dan sejahtera. Sedangkan pengertian secara
keilmuan adalah suatu ilmu pengetahuan dan penerapannya dalam
usaha mencegah kemungkinan terjadinya kecelakaan dan penyakit
akibat kerja. Kesehatan dan keselamatan Kerja (K3) tidak dapat
dipisahkan dengan proses produksi baik jasa maupun industri
(Redjeki, 2016).
1. Keselamatan Kerja
Keselamatan Kerja adalah keselamatan yang bertalian dengan
mesin, pesawat, alat kerja, bahan, dan proses pengolahannya,
landasan tempat kerja dan lingkungannya serta cara-cara
melakukan pekerjaan. Keselamatan Kerja memiliki sifat sebagai
berikut (Redjeki, 2016).
a. Sasarannya adalah lingkungan kerja.
b. Bersifat teknik.
Pengistilahan Keselamatan dan Kesehatan Kerja bermacam-
macam, ada yang menyebutnya Hygene Perusahaan dan Kesehatan
Kerja (Hyperkes) dan ada yang hanya disingkat K3, dan dalam
istilah asing dikenal Occupational Safety and Health (Redjeki,
2016).

2. Kesehatan Kerja
Pengertian sehat senantiasa digambarkan sebagai suatu
kondisi fisik, mental dan sosial seseorang yang tidak saja bebas
dari penyakit atau gangguan kesehatan melainkan juga
menunjukkan kemampuan untuk berinteraksi dengan lingkungan
dan pekerjaannya. Paradigma baru dalam aspek kesehatan
mengupayakan agar yang sehat tetap sehat dan bukan sekadar
mengobati, merawat, atau menyembuhkan gangguan kesehatan
atau penyakit. Oleh karenanya, perhatian utama di bidang
kesehatan lebih ditujukan ke arah pencegahan terhadap
kemungkinan timbulnya penyakit serta pemeliharaan kesehatan
seoptimal mungkin.
Status kesehatan seseorang menurut Blum (1981) ditentukan
oleh empat faktor sebagai berikut.

4
a. Lingkungan, berupa lingkungan fisik (alami, buatan), kimia
(organik/anorganik, logam berat, debu), biologik (virus,
bakteri, mikroorganisme), dan sosial budaya (ekonomi,
pendidikan, pekerjaan).
b. Perilaku yang meliputi sikap, kebiasaan, tingkah laku.
c. Pelayanan kesehatan: promotif, perawatan, pengobatan,
pencegahan kecacatan, rehabilitasi.
d. Genetik, yang merupakan faktor bawaan setiap manusia.
Definisi kesehatan kerja adalah spesialisasi dalam ilmu
kesehatan/kedokteran beserta praktiknya yang bertujuan agar
pekerja/masyarakat pekerja beserta memperoleh derajat kesehatan
yang setinggi-tingginya, baik fisik atau mental, maupun sosial
dengan usaha-usaha preventif dan kuratif, terhadap penyakit-
penyakit/gangguan-gangguan kesehatan yang diakibatkan faktor-
faktor pekerjaan dan lingkungan kerja, serta terhadap penyakit-
penyakit umum. Konsep kesehatan kerja dewasa ini semakin
berubah, bukan sekadar “kesehatan pada sektor industri” saja
melainkan juga mengarah kepada upaya kesehatan untuk semua
orang dalam melakukan pekerjaannya (total health of all at work)
(Redjeki, 2016).
Menurut Keputusan Menteri Tenaga Kerja R.I. Nomor: KEP.
372/MEN/XI/2009 Filosofi dasar Keselamatan dan Kesehatan
Kerja (K3) adalah melindungi keselamatan dan kesehatan para
pekerja dalam menjalankan pekerjaannya, melalui upaya-upaya
pengendalian semua bentuk potensi bahaya yang ada di
lingkungan tempat kerjanya. Bila semua potensi bahaya telah
dikendalikan dan memenuhi batas standar aman, maka akan
memberikan kontribusi terciptanya kondisi lingkungan kerja yang
aman, sehat dan proses produksi menjadi lancar, yang pada
akhirnya akan dapat menekan risiko kerugian dan berdampak
terhadap peningkatan produktivitas.

2.1.2 Tujuan Keselamatan dan Kesehatan Kerja


Tujuan utama K3 adalah mencegah terjadinya kecelakaan kerja
terhadap para pekerja agar tidak mengalami cedera. Keselamatan

5
Kerja. Di dalamnya terdapat 3 (tiga) tujuan utama dalam Penerapan
K3 berdasarkan Undang-Undang No 1 Tahun 1970 mengenai
Keselamatan Kerja yaitu diantaranya:
1. Melindungi dan menanggung keselamatan setiap tenaga kerja dan
orang lain ditempat kerja.
2. Menanggung setiap sumber produksi dapat dipakai dengan cara
aman dan efektif.
3. Tingkatkan kesejahteraan dan produktivitas Nasional.
Berdasar pada Undang-Undang nomor 1 Th. 1970 mengenai
Keselamatan Kerja diatas terdapat serasi tentang aplikasi K3 ditempat
kerja pada Entrepreneur, Tenaga Kerja dan Pemerintah/Negara.
Hingga di saat mendatang, baik kurun waktu dekat maupun kelak,
aplikasi K3 (Keselamatan dan Kesehatan Kerja) di Indonesia dapat
dikerjakan dengan cara nasional menyeluruh dari Sabang sampai
Merauke. Mengenai maksud yang telah di simpulkan dari Undang-
Undang nomor 1 th. 1970 yakni sebagai berikut:
1. Menghindar dan kurangi dan memadamkan kebakaran
2. Menghindar dan kurangi kecelakaan
3. Menghindar dan kurangi bahaya peledakan
4. Berikan peluang atau jalan menyelamatkan daripada waktu
kebakaran atau peristiwa - peristiwa lain yang beresiko
5. Berikan pertolongan pada kecelakan.

2.1.3 Manfaat Keselamatan dan Kesehatan Kerja


Menurut Kemenkes (2016), manfaat dari penerapan Sistem
Manajemen Keselamatan dan Kesehatan Kerja, yaitu:
1. Menghindari kerugian material dan jiwa akibat kecelakaan kerja.
2. Mengurangi jam kerja yang hilang akibat kecelakaan kerja
3. Menciptakan tempat kerja yang efisien dan produktif karena
tenaga kerja merasa aman dalam bekerja.
4. Meningkatkan image market terhadap perusahaan.
5. Menciptakan hubungan yang harmonis bagi pekerja dan
perusahaan.
6. Perawatan terhadap mesin dan peralatan semakin baik sehingga
membuat umur semakin lama dan tahan lama.

6
2.1.4 Indikator dalam Keselamatan dan Kesehatan Kerja
Menurut Ilfani (2013), adapun indikator - indikator keselamatan
dan kesehatan kerja meliputi:
1. Tempat Kerja
Tempat kerja merupakan lokasi dimana para karyawan
melaksanakan aktifitas kerjanya.
2. Mesin dan Peralatan
Mesin dan Peralatan adalah bagian dari kegiatan operasional
dalam proses produksi yang biasanya berupa alat – alat berat dan
ringan.
3. Keadaan dan Kondisi Karyawan
Keadaan dan kondisi karyawan adalah keadaan yang dialami oleh
karyawan pada saat bekerja yang mendukung aktivitas dalam
bekerja.
4. Lingkungan Kerja
Lingkungan kerja adalah lingkungan yang lebih luas dari tempat
kerja yang mendukung aktivitas karyawan dalam bekerja.
5. Perlindungan Karyawan
Perlindungan karyawan merupakan fasilitas yang diberikan untuk
menunjang kesejahteraan karyawan.
Menurut Sunyoto (2013) menyebutkan bahwa indikator dari
kesehatan dan keselamatan kerja adalah sebagai berikut:
a. Pembiayaan kesehatan
b. Pelayanan kesehatan.
c. Perlengkapan.
d. Prosedur.
e. Tempat penyimpanan barang.
f. Wewenang pekerjaan.
g. Kelalaian.

2.1.5 Aspek-Aspek dan Faktor-Faktor yang Mempengaruhi


Keselamatan dan Kesehatan Kerja (K3)
Menurut Anoraga (2009) mengemukakan aspek-aspek
Keselamatan dan Kesehatan Kerja (K3) meliputi:
a. Lingkungan kerja
Lingkungan kerja merupakan tempat dimana seseorang atau
karyawan dalam beraktifitas bekerja. Lingkungan kerja dalam hal
ini menyangkut kondisi kerja, seperti ventilasi, suhu, penerangan
dan situasinya.

7
b. Alat kerja dan bahan
Alat kerja dan bahan merupakan suatu hal yang pokok dibutuhkan
oleh perusahaan untuk memproduksi barang. Dalam memproduksi
barang, alat-alat kerja sangatlah vital yang digunakan oleh para
pekerja dalam melakukan kegiatan proses produksi dan disamping
itu adalah bahan-bahan utama yang akan dijadikan barang.
c. Cara melakukan pekerjaan
Setiap bagian-bagian produksi memiliki cara-cara melakukan
pekerjaan yang berbeda-beda yang dimiliki oleh karyawan. Cara-
cara yang biasanya dilakukan oleh karyawan dalam melakukan
semua aktifitas pekerjaan, misalnya menggunakan peralatan yang
sudah tersedia dan pelindung diri secara tepat dan mematuhi
peraturan penggunaan peralatan tersebut dan memahami cara
mengoperasionalkan mesin.
Menurut Budiono dkk (2016), faktor-faktor yang mempengaruhi
Keselamatan dan Kesehatan Kerja (K3) antara lain:
a. Beban kerja
Beban kerja berupa beban fisik, mental dan sosial, sehingga upaya
penempatan pekerja yang sesuai dengan kemampuannya perlu
diperhatikan.
b. Kapasitas kerja
Kapasitas kerja yang banyak tergantung pada pendidikan,
keterampilan, kesegaran jasmani, ukuran tubuh, keadaan gizi dan
sebagainya.
c. Lingkungan kerja
Lingkungan kerja yang berupa faktor fisik, kimia, biologik,
ergonomik, maupun psikososial.
Pasal 3 Undang-undang No.1 Tahun 1970 tentang Keselamatan
Kerja menentukan bahwa syarat-syarat keselamatan kerja yang harus
diperhatikan oleh pengusaha akan diatur lebih lanjut. Namun,
peraturan perundangan yang dimaksudkan sampai sekarang belum
ada. Peraturan perundangan warisan Hindia Belanda masih dapat
dijadikan pedoman syarat-syarat keselamatan kerja, yaitu:
a. Mencegah dan mengurangi kecelakaan
Untuk mencegah atau mengurangi kecelakaan ini banyak sekali
upaya yang dapat dilakukan oleh pengusaha. Dalam

8
Veiligheidregelement (Peraturan Keamanan Kerja), antara lain
dinyatakan bahwa agar peralatan pabrik tidak atau kurang
menimbulkan bahaya, maka:
1. Ban penggerak, rantai, dan tali yang berat harus diberikan alat
penadah, jika putus tidak akan menimbulkan bahaya.
2. Mesin-mesin harus terpelihara dengan baik, mesin yang
berputar harus diberikan penutup agar jangan saampai
beterbangan jika kurang tahan dalam putaran yang keras.
3. Ban penggerak, rantai, atau tali yang dilepaskan harus
tergantung, maka gantungan itu harus dibuat sedemikian rupa
agar tidak menyentuh ban penggerak.
4. Harus tersedia alat pertolongan pertama pada kecelakaan
(P3K).
b. Mencegah, mengurangi dan memadamkan kebakaran, yang dapat
dilakukan dengan menyediakan alat-alat pemadam kebakaran,
memberikan kesempatan atau jalan menyelamatkan diri bagi
pekerja/buruh jika terjadi kebakaran, dan memberikan alat
perlindungan lainnya untuk mengantisipasi kemungkinan
terjadinya kebakaran.
c. Mencegah atau mengurangi bahaya peledakan. Peledakan
biasanya sering terjadi pada perusahaan-perusahaan yang
mengerjakan bahan-bahan yang mudah meledak. Perusahaan-
perusahaan yang demikian pada setiap ruangan kerja haruslah
disediakan sekurang-kurangnya satu pintu yang cepat terbuka
untuk keluar. Bahan-bahan yang akan dikerjakan di ruang kerja
tidak boleh melebihi jumlah yang seharusnya dikerjakan. Harus
pula dipasang alat-alat kerja yang menjamin pemakaiannya akan
aman dari bahaya peledakan.
d. Memperoleh penerangan yang cukup dan sesuai,
menyelenggarakan suhu udara yang baik, memelihara ketertiban
dan kebersihan, mengamankan dan memelihara bangunan.
e. Mencegah agar jangan sampai terkena aliran listrik yang
berbahaya. Hal ini dapat dilakukan dengan cara sebagai berikut:

9
1. Bagian alat listrik yang mempunyai tegangan minimal 250 volt
haruslah tertutup.
2. Sambungan-sambungan kabel listrik harus diberikan
pengaman.
3. Bangunan-bangunan yang diatasnya terbentang kawat listrik
harus diperiksa sewaktu-waktu dan jika perlu diberikan
pembungkus (isolasi) agar terhindar dari tegangan.

2.1.6 Manajemen Keselamatan dan Kesehatan Kerja


Manajemen sebagai satu ilmu perilaku yang mencakup aspek
sosial dan eksak tidak terlepas dari tanggung jawab keselamatan dan
kesehatan kerja, baik dari segi perencanaan maupun pengambilan
keputusan dan organisasi (Simanjuntak, 2011).
Keselamatan dan kesehatan kerja merupakan suatu masalah
penting dalam setiap masalah operasional, baik di sektor tradisional
maupun sektor modern. Masalah yang terjadi khususnya dalam
masyarakat yang sedang beralih dari satu kebiasaan kepada kebiasaan
lain, perubahan-perubahan pada umumnya menimbulkan beberapa
permasalahan yang jika tidak ditanggulangi secara cermat dapat
membawa berbagai akibat buruk bahkan fatal (Simanjuntak, 2011).
Permasalahan yang dapat menimbulkan kecelakaan kerja
memerlukan manajemen keselamatan dan kesehatan kerja
komprehensif antara lain dengan (Simanjuntak, 2011):
a. Menghimpun informasi dan data kasus kecelakaan secara periodik
b. Mengidentifikasi sebab-sebab kasus kecelakaan kerja
c. Menganalisa dampak kecelakaan kerja bagi pekerja sendiri, bagi
pengusaha dan bagi masyarakat pada umumnya.
d. Merumuskan saran-saran bagi pemerintah, pengusaha dan pekerja
untuk menghindari kecelakaan kerja.
e. Memberikan saran mengenai sistem kompensasi atau santunan
bagi mereka yang menderita kecelakaan kerja.
f. Merumuskan sistem dan sarana pengawasan, pengaman
lingkungan kerja, pengukuran tingkat bahaya, serta kampanye
menumbuhkan kesadaran dan penyuluhan keselamatan dan
kesehatan kerja.

10
Pemerintah mengajak pengusaha dan serikat pekerja untuk
menyusun kebijaksanaan dan program yang melindungi pekerja,
masyarakat dan lingkungan dari kecelakaan kerja. Pengusaha
diwajibkan menyusun sistem pencegahan kecelakaan kerja termasuk
identifikasi dan analisis sumber kecelakaan, cara mengurangi akibat
kecelakaan, perencanaan dan pemasangan instalasi pengaman,
penugasan tenaga khusus dan ahli di bidang keselamatan kerja,
melaksanakan inspeksi secara regular, serta menyusun program
penyelamatan darurat bila terjadi bencana atau kecelakaan kerja. Oleh
karena itu, pemerintah mengeluarkan Undang-Undang No. 1 Tahun
1970 tentang Keselamatan Kerja.
Berdasarkan Peraturan Menteri Tenaga Kerja: PER.
05/MEN/1996, penerapan keselamatan dan kesehatan kerja (K3)
dibagi menjadi tiga tingkatan yang kemudian akan digunakan sebagai
dasar audit internal perusahaan yaitu:
a. Tingkat awal adalah perusahaan kecil atau perusahaan dengan
tingkat resiko rendah harus menetapkan sebanyak 64 kriteria.
b. Tingkat transisi adalah perusahaan sedang atau perusahaan dengan
tingkat resiko menengah harus menetapkan sebanyak 122 kriteria .
c. Tingkat lanjutan adalah perusahaan besar atau perusahaan dengan
tingkat resiko tinggi harus menetapkan sebanyak 166 kriteria.
Penggunaan alat pelindung diri (APD) yaitu penggunaan
seperangkat alat yang digunakan tenaga kerja untuk melindungi
sebagian atau seluruh tubuhnya dari adanya potensi bahaya atau
kecelakaan kerja sebagai tindakan manajemen keselamatan dan
kesehatan kerja. APD tidak secara sempurna dapat melindungi
tubuhnya, tetapi akan dapat mengurangi tingkat keparahan yang
mungkin terjadi (Budiono, 2016). Penggunaan alat pelindung diri
dapat mencegah kecelakaan kerja sangat dipengaruhi oleh
pengetahuan, sikap dan praktek pekerja dalam penggunaan alat
pelindung diri.
Tenaga kerja berhak menolak untuk memakainya jika APD yang
disediakan tidak memenuhi syarat. Dari ketiga pemenuhan syarat
tersebut, harus diperhatikan faktor pertimbangan dimana APD harus:

11
enak dan nyaman dipakai, tidak mengganggu ketenangan pekerja dan
tidak membatasi ruang gerak pekerja, memberikan perlindungan yang
efektif terhadap segala jenis bahaya atau potensi bahaya, memenuhi
syarat estetika, memperhatikan efek samping penggunaan APD dan
mudah dalam pemeliharaan, tepat ukuran, tepat penyediaan, dan harga
terjangkau (Anizar, 2012). APD sebagaimana dimaksud dalam Pasal 2
meliputi: pelindung kepala, pelindung mata dan muka, pelindung
telinga, pelindung pernapasan beserta perlengkapannya, pelindung
tangan, dan atau pelindung kaki. Adapun alat pelindung diri, yaitu:
1. Alat pelindung kepala
Fungsi alat pelindung kepala adalah alat pelindung yang berfungsi
untuk melindungi kepala dari benturan, terantuk, kejatuhan atau
terpukul benda tajam atau benda keras yang melayang atau
meluncur di udara, terpapar oleh radiasi panas, api, percikan bahan
kimia, jasad renik (mikro organisme) dan suhu yang ekstrim. Jenis
alat pelindung kepala terdiri dari helm pengaman (safety helmet),
topi atau tudung kepala, penutup atau pengaman rambut, dan alat
pelindung kepala yang lain.

2. Alat pelindung mata dan muka


Fungsi alat pelindung mata dan muka adalah alat pelindung yang
berfungsi untuk melindungi mata dan muka dari paparan bahan
kimia berbahaya, paparan partikel yang melayang di udara dan di
badan air, percikan benda kecil, panas, atau uap panas, radiasi
gelombang elektromagnetik yang mengion maupun yang tidak
mengion, pancaran cahaya, benturan atau pukulan benda keras
atau benda tajam. Jenis alat pelindung mata dan muka terdiri dari
kacamata pengaman (spectacles), goggles, tameng muka (face
shield), dan kacamata pengaman dalam kesatuan (full face
masker)
3. Alat pelindung telinga
Fungsi alat pelindung telinga adalah alat pelindung yang berfungsi
untuk melindungi alat pendengaran terhadap kebisingan atau
tekanan. Jenis alat pelindung telinga terdiri dari sumbat telinga
(ear plug) dan penutup telinga (ear muff).

12
4. Alat pelindung tangan
Fungsi pelindung tangan (sarung tangan) adalah alat pelindung
yang berfungsi untuk melindungi tangan dan jari tangan dari
pajanan api, suhu panas, suhu dingin, radiasi elektromagnetik,
radiasi mengion, arus listrik, bahan kimia, benturan, pukulan dan
tergores, terinfeksi zat patogen (virus, bakteri) dan jasad renik.
Jenis pelindung tangan terdiri dari sarung tangan yang terbuat dari
logam, kulit, kain kanvas, kain atau kain berpelapis, karet, dan
sarung tangan yang tahan bahan kimia.
5. Alat pelindung kaki
Fungsi Alat pelindung kaki berfungsi untuk melindungi kaki dari
tertimpa atau berbenturan dengan benda berat, tertusuk benda
tajam, terkena cairan panas atau dingin, uap panas, terpajan suhu
yang ekstrim, terkena bahan kimia berbahaya dan jasad renik,
tergelincir. Sepatu pengaman harus dapat melindungi tenaga kerja
terhadap berbagai macam kecelakaan yang disebabkan oleh beban
berat yang menimpa kaki. Jenis pelindung kaki berupa sepatu
keselamatan pada pekerjaan peleburan, pengecoran logam,
industri, kontruksi bangunan, pekerjaan yang berpotensi bahaya
peledakan, bahaya listrik, tempat kerja yang basah atau licin,
bahan kimia dan jasad renik, dan atau bahaya binatang dan
lainnya.
6. Pakaian Pelindung
Fungsi pakaian pelindung berfungsi untuk melindungi badan
sebagian atau seluruh bagian badan dari bahaya temperatur panas
atau dingin yang ekstrim, pajanan api dan benda panas, percikan
bahan kimia, cairan dan logam panas, uap panas, benturan
(impact) dengan mesin, peralatan dan radiasi, mikroorganisme
patogen dari manusia dan lingkungan seperti virus, bakteri dan
jamur. Jenis pakaian pelindung terdiri dari rompi (vests), celemek
(apron atau coveralls), Jacket, dan pakaian pelindung yang
menutupi sebagian atau seluruh bagian badan.
7. Alat Pelindung Jatuh Perorangan
Fungsi alat pelindung jatuh perorangan berfungsi membatasi gerak
pekerja agar tidak masuk ke tempat yang mempunyai potensi jatuh

13
atau menjaga pekerja berada pada posisi kerja yang diinginkan
dalam keadaan miring maupun tergantung dan menahan serta
membatasi pekerja jatuh sehingga tidak membentur lantai dasar.
jenis alat pelindung jatuh perorangan terdiri dari sabuk pengaman
tubuh (harness), karabiner, tali koneksi (lanyard), tali pengaman
(safety rope), alat penjepit tali (rope clamp), alat penurun
(decender), alat penahan jatuh bergerak (mobile fall arrester), dan
lainnya.

2.2 Kecelakaan Kerja


2.2.1 Definisi
Kecelakaan kerja adalah kecelakaan yang terjadi di tempat kerja
pada saat melakukan suatu pekerjaan. Kecelakaan adalah suatu
kejadian yang tidak diinginkan dan tidak diduga semula yang dapat
menimbulkan korban manusia dan atau harta benda. Sedangkan
tempat kerja merupakan ruangan atau lapangan tertutup atau terbuka,
bergerak atau tetap di mana tenaga kerja bekerja, atau yang sering
dimasuki tenaga kerja untuk keperluan suatu usaha dan di mana
terdapat sumber bahaya (Permenaker, 2011).
Kecelakaan menurut M. Sulaksmono dalam Ahmad (2012)
adalah suatu kejadian tidak diduga dan tidak dikehendaki yang
mengacaukan proses suatu aktivitas yang telah diatur. Kecelakaan
akibat kerja adalah berhubungan dengan hubungan kerja pada
perusahaan. Hubungan kerja disini dapat berarti bahwa kecelakaan
terjadi dikarenakan pekerjaan atau pada waktu pekerjaan berlangsung
(Permenaker, 2011).

2.2.2 Faktor-faktor Timbulnya Kecelakaan Kerja


Kecelakaan kerja yang terjadi menurut Suma’mur (2009)
disebabkan oleh dua faktor, yaitu:
1. Faktor manusia itu sendiri yang merupakan penyebab kecelakaan
meliputi aturan kerja, kemampuan pekerja (usia, masa
kerja/pengalaman, kurangnya kecakapan dan lambatnya
mengambil keputusan), disiplin kerja, perbuatan-perbuatan yang
mendatangkan kecelakaan, ketidakcocokan fisik dan mental.

14
Kesalahan-kesalahan yang disebabkan oleh pekerja dan karena
sikap yang tidak wajar seperti terlalu berani, sembrono, tidak
mengindahkan instruksi, kelalaian, melamun, tidak mau bekerja
sama, dan kurang sabar. Kekurangan kecakapan untuk
mengerjakan sesuatu karena tidak mendapat pelajaran mengenai
pekerjaan. Kurang sehat fisik dan mental seperti adanya cacat,
kelelahan dan penyakit. Diperkirakan 85% dari kecelakaan kerja
yang terjadi disebabkan oleh faktor manusia. Hal ini dikarenakan
pekerja itu sendiri (manusia) yang tidak memenuhi keselamatan
seperti lengah, ceroboh, mengantuk, lelah dan sebagainya.
2. Faktor mekanik dan lingkungan, letak mesin, tidak dilengkapi
dengan alat pelindung, alat pelindung tidak pakai, alat-alat kerja
yang telah rusak. Faktor mekanis dan lingkungan dapat pula
dikelompokkan menurut keperluan dengan suatu maksud tertentu.
Misalnya di perusahaan penyebab kecelakaan dapat disusun
menurut kelompok pengolahan bahan, mesin penggerak dab
pengangkat, terjatuh di lantai dan tertimpa benda jatuh, pemakaian
alat atau perkakas yang dipegang dengan manual (tangan),
menginjak atau terbentur barang, luka bakar oleh benda pijar dan
transportasi. Kira-kira sepertiga dari kecelakaan yang
menyebabkan kematian dikarenakan terjatuh, baik dari tempat
yang tinggi maupun di tempat datar. Lingkungan kerja
berpengaruh besar terhadap moral pekerja. Faktor-faktor keadaan
lingkungan kerja yang penting dalam kecelakaan kerja terdiri dari
pemeliharaan rumah tangga (house keeping), kesalahan disini
terletak pada rencana tempat kerja, cara menyimpan bahan baku
dan alat kerja tidak pada tempatnya, lantai yang kotor dan licin.
Ventilasi yang tidak sempurna sehingga ruangan kerja terdapat
debu, keadaan lembab yang tinggi sehingga orang merasa tidak
enak kerja. Pencahayaan yang tidak sempurna misalnya ruangan
gelap, terdapat kesilauan dan tidak ada pencahayaan setempat.

2.2.3 Penyebab Penyakit Akibat Kerja

15
Menurut Jeyaratnam (2010), dalam ruang atau ditempat kerja
biasanya terdapat faktor-faktor yang menjadi sebab penyakit akibat
kerja, antara lain:
1. Golongan fisik, seperti:
a. Kebisingan
Bising adalah suara/bunyi yang tidak diinginkan (Budiono,
2016). Kebisingan pada tenaga kerja dapat mengurangi
kenyamanan dalam bekerja, mengganggu
komunikasi/percakapan antar pekerja, mengurangi konsentrasi,
menurunkan daya dengar dan tuli akibat kebisingan. Sesuai
dengan Peraturan Menteri Tenaga Kerjadan Transmigrasi
Republik Indonesia Nomor PER.13/MEN/X/2011 tentang Nilai
Ambang Batas Faktor Fisika dan Faktor Kimia di Tempat Kerja,
Intensitas kebisingan yang dianjurkan adalah 85 dBA untuk 8
jam kerja.
b. Radiasi sinar-sinar radioaktif dapat menyebabkan penyakit
susunan darah dan kelainan kulit.
c. Suhu
Dari suatu penyelidikan diperoleh hasil bahwa
produktivitas kerja manusia akan mencapai tingkat yang paling
tinggi pada temperatur sekitar 24°C- 27°C. Suhu dingin
mengurangi efisiensi dengan keluhan kaku dan kurangnya
koordinasi otot. Suhu panas terutama berakibat menurunkan
prestasi kerja pekerja, mengurangi kelincahan, memperpanjang
waktu reaksi dan waktu pengambilan keputusan, mengganggu
kecermatan kerja otak, mengganggu koordinasi syaraf perasa
dan motoris, serta memudahkan untuk dirangsang (Suma’mur
2009).
Suhu yang terlalu tinggi dapat menyebabkan heat stroke,
heat cramps, atau hyperpyrexia. Sedangkan suhu-suhu yang
rendah dapat menimbulkan frostbite, trenchfoot, dan
hypothermia.
d. Tekanan tinggi dapat menyebabkan caisson disease.

16
e. Penerangan lampu yang kurang baik misalnya dapat
menyebabkan kelainan pada indera penglihatan atau kesilauan
yang memudahkan terjadinya kecelakaan.
f. Lantai dalam tempat kerja harus terbuat dari bahan yang keras,
tahan air dan bahan kimia yang merusak. Karena lantai licin
akibat tumpahan air, minyak atau oli berpotensi besar terhadap
terjadinya kecelakaan, seperti terpeleset.

2. Golongan kimia (chemis), yaitu:


a. Debu yang menyebabkan pneumoconioses, diantaranya
silicosis, asbestosis, dan lainnya.
b. Uap yang diantaranya menyebabkan metal fume fever,
dermatitis atau keracunan.
c. Gas, misalnya keracunan oleh CO dan H2S.
d. Larutan yang dapat menyebabkan dermatitis.
e. Awan atau kabut, misalnya racun serangga, racun jamur dan
lainnya yang dapat menimbulkan keracunan.
3. Golongan fisiologis, yang disebabkan oleh keselahan-kesalahan
konstruksi mesin, sikap badan yang kurang baik, salah cara
melakukan suatu pekerjaan dan lain-lain yang kesemuanya
menimbulkan kelelahan fisik, bahkan lambat laun dapat
menyebabkan perubahan fisik pada tubuh pekerja.
4. Golongan mental-psikologis, yang terlihat misalnya pada hubungan
kerja yang tidak baik, atau keadaan pekerjaan yang monoton yang
menyebabkan kebosanan.

2.2.4 Dampak Kecelakaan Kerja


Dampak kecelakaan kerja adalah korban kecelakaan kerja
mengeluh dan menderita, sedangkan sesama pekerja ikut bersedih dan
berduka cita. Kecelakaan seringkali disertai terjadinya luka, kelainan
tubuh, cacat bahkan juga kematian. Gangguan terhadap pekerja
demikian adalah suatu kerugian besar bagi pekerja dan juga
keluarganya serta perusahaan tempat ia bekerja. Tiap kecelakaan
merupakan suatu kerugian yang antara lain tergambar dari
pengeluaran dan besarnya biaya kecelakaan. Biaya yang dikeluarkan
akibat terjadinya kecelakaan seringkali sangat besar, padahal biaya

17
tersebut bukan semata-mata beban suatu perusahaan melainkan juga
beban masyarakat dan negara secara keseluruhan. Biaya ini dapat
dibagi menjadi biaya langsung meliputi biaya atas P3K, pengobatan,
perawatan, biaya angkutan, upah selama tidak mampu bekerja,
kompensasi cacat, biaya atas kerusakan bahan, perlengkapan,
peralatan, mesin dan biaya tersembunyi meliputi segala sesuatu yang
tidak terlihat pada waktu dan beberapa waktu pasca kecelakaan
terjadi, seperti berhentinya operasi perusahaan oleh karena pekerja
lainnya menolong korban, biaya yang harus diperhitungkan untuk
mengganti orang yang ditimpa kecelakaan dan sedang sakit serta
berada dalam perawatan dengan orang baru yang belum biasa bekerja
pada pekerjaan di tempat terjadinya kecelakaan (Suma’mur, 2009).

18
BAB III
METODE PELAKSANAAN

3.1 Tempat Pelaksanaan


PT Sinar Sosro Palembang bertempat di Jl. Camat I Km 17 Sukajadi II
Talang Kelapa Banyuasin Palembang Sumatera Selatan.

3.2 Waktu Pelaksanaan


Hari dan Tanggal : Jum’at, 19 Oktober 2018
Waktu : 09.00-11.00 WIB

3.3 Alat-Alat yang Digunakan


Adapun alat-alat yang digunakan dalam Tugas Pengenalan Profesi
antara lain
1. Daftar pertanyaan
2. Pena
3. Buku tulis
4. Kamera

3.4 Subjek Tugas Mandiri


Adapun subjek pada Tugas Pengenalan Profesi ini adalah pengurus
Pabrik Teh Sosro.

3.5 Langkah Kerja


Tahapan kegiatan meliputi tahap-tahap sebagai berikut:
1. Tahap persiapan
a. Membuat proposal.
b. Melakukan konsultasi kepada pembimbing tugas pengenalan profesi.
c. Mendapatkan izin dari pembimbing tugas pengenalan profesi.
2. Tahap pelaksanaan
Mahasiswa:

19
a. Melakukan wawancara dengan pengurus Pabrik Teh Sosro.
3. Tahap Penyelesaian
a. Mengumpulkan semua data, mengolah, menganalisa dan
menyimpulkan.
b. Menyusun laporan hasil pengamatan dan pemeriksaan.
c. Mendapatkan ACC laporan hasil pengamatan dan pemeriksaan dari
pembimbing tugas pengenalan profesi.

20
BAB IV
HASIL DAN PEMBAHASAN

4.1 Hasil
Pada Tugas Pengenalan Profesi (TPP) Blok XXII tentang meninjau
sistem K3 (Keselamatan dan Kesehatan Kerja) di Pabrik Teh Sosro yang
dilaksanakan pada hari jumat, 19 Oktober 2018 di Pabrik Teh Botol Sosro
PT Sinar Sosro. PT Sinar Sosro telah memiliki 14 pabrik yang tersebar di
seluruh Indonesia, salah satunya yaitu Palembang yang hanya memproduksi
Fruitea dan teh botol sosro. Pabrik Teh Botol Sosro memiliki 76 karyawan.
Pada saat TPP, kelompok 1 berkesempatan untuk melihat langsung proses
produksi teh botol sosro botol kaca (RGB).
Pada PT. Sinar Sosro telah mengimplementasikan sistem K3 meskipun
tidak melakukan sertifikasi SMK3 (Sistem Manajemen K3). Pelaksanaan
sistem K3 bertujuan untuk meminimalisir kecelakaan kerja dan penyakit
akibat kerja pada karyawan pabrik. PT Sinar Sosro selalu mengutamakan
Keselamatan dan Kesehatan Kerja (K3) bagi karyawan maupun masyarakat
dilingkungan sekitar pabrik, sesuai dengan filosofi dari PT Sinar Sosro yaitu
niat baik yang dijabarkan dalam 3K dan RL. Arti dari 3K dan RL adalah
Peduli terhadap Kualitas, Keamanan, Kesehatan Produk serta Ramah
Lingkungan. Untuk memelihara sumber daya manusia, PT Sinar Sosro
selalu mewajibkan seluruh karyawannya untuk menggunakan alat pelindung
diri ketika melaksanakan pekerjaannya khususnya dibagian pabrik. Sistem
K3 di Pabrik Teh Botol Sosro dievaluasi tiap bulan. Pelaksanaan K3 diawasi
langsung oleh kepala dan supervisor tiap departemen.
PT Sinar Sosro juga memberikan pelatihan bagi karyawannya tentang
tanggap darurat ketika terjadi bencana atau kecelakaan saat sedang bekerja.
Pelatihan yang dilakukan yaitu tanggap darurat terhadap kebakaran, banjir dan
sabotase. Selain pelatihan, dilakukan juga simulasi tanggap darurat. Pelatihan
ini rutin dilaksanakan satu tahun sekali.
Untuk kesehatan karyawan, dilakukan, medical checkup secara periodik
untuk memastikan apakah ada karyawan yang sakit akibat penyakit kerja. PT
Sinar Sosro juga memberikan fasilitas lain, yaitu BPJS Kesehatan dan tenaga

21
kerja, seragam, kantin, musholla, ruang istirahat dan saranan olahraga.
pemberian para karyawan diberikan suplemen vitamin A tiap bulan. Para
karyawan PT Sinar Sosro bekerja selama 5 hari kerja yaitu senin hingga jumat
pada pukul 08.00 hingga 17.00, dengan waktu istirahat selama 1 jam.
Proses pembuatan teh botol sosro hanya menggunakan tiga bahan utama
yaitu air, jasmine tea dan gula. Air diambil dari kedalaman 150 m dibawah
tanah dan diolah di Water Treatment Plant (WTP). Terdapat 3 tangki
pencampuran, yaitu pencampuran air dan gula, pencampuran air dan jasmine
tea, dan pencamuran akhir yang terletak di satu ruangan. Pada ruangan ini
tingkat kebisingan hampir sama dengan ruangan pencucian dan pengisian teh
berkisar 60-70 dB, dengan suhu ruangan 35oC, ruangan juga dilengkapi
ventilasi udara dan penerangan yang mencukupi. Untuk bahaya radiasi, di area
pabrik PT. Sinar Sosro dapat dipastikan memiliki tingkat radiasi yang kecil
dan untuk ergonomi menyesuaikan kenyamanan masing-masing karyawan.
Proses pembuatan teh botol sosro dimulai dari pengumpulan botol-botol
kosong yang tersebar di beberapa kantor penjualan di area Sumbagsel Babel,
nantinya botol beserta crate akan disterilisasi, namun sebelumnya diletakkan
di mesin depalletizer kemudian botol-botol akan masuk ke area pabrik. Botol
dan crate akan dipisahkan dengan mesin de crater dan akan terjadi dua proses
pencucian yaitu crate akan dibersihkan di mesin crate washer dan botol akan
disterilisasi di mesin bottle washer. Sterilisasi botol dengan menggunakan
cairan caustic soda (NaOH) dengan air panas mengalir dengan suhu mulai dari
950C. kemudian botol akan berjalan ke mesin empty bottle inspection untuk
mensortir botol yang tidak layak digunakan lagi atau botol yang dibawah
standar. Kemudian ke mesin code printer untuk mencetak tanggal kadaluarsa
dan tutup botol yang telah disterilisasi kembali dengan UV Light. Setelah
botol siap dipakai akan menuju mesin filler, mesin ini dapat mengisi teh panas
ke dalam botol yang masih panas lalu langsung ditutup dalam hitungan detik
di mesin crowner. Dimana, dalam satu jam mesin ini dapat mengisi kurang
lebih 40000 botol. Saat keluar dari mesin kondisi teh masih sangat panas
dengan suhu sekitar 950C. Kemudian masuk lagi ke crate dengan mesin crater
dan berjalan secara otomatis ke mesin depalletizer. Teh yang telah siap akan
diinkubasi selama 3-4 hari di lab quality control untuk melihat kualitas mutu

22
secara fisika, kimia, microbiology test dan organoleptic. Jika pihak
laboratorium telah menyatakan aman untuk dikonsumsi, maka petugas akan
menempelkan stiker pass yang artinya produk sudah siap dipasarkan. Apabila
produk tidak lolos uji tes maka semua produk ditarik dan tidak akan
diperjualbelikan.
Pada proses pencucian hingga pengisian teh ke dalam botol dilakukan
dalam suatu ruangan besar. Untuk tingkat kebisingan berkisar 60-70 dB,
dengan suhu ruangan antara 30-35oC, bangunan dilengkapi dengan ventilasi
udara dibagian atap, dan penerangan pada bangunan mencukupi. Setiap 6
bulan sekali dilakukan pengecekan kondisi ruangan kerja, yaitu suhu,
kebisingan dan kualitas udara di dalam pabrik. Seluruh karyawan yang bekerja
ditempat ini dilengkapi dengan APD berupa sarung tangan, masker, hair cap,
dan sepatu. Khusus karyawan yang bekerja di wilayah dengan tingkat
kebisingan di atas ambang batas, yaitu setelah botol keluar dari mesin cuci,
diharuskan memakai earplug. Untuk sarung tangan dikhususkan kepada
karyawan yang ada aktivitasnya bersentuhan dengan panas. Para pekerja yang
berada diruangan melakukan pertukaran pekerjaan setiap 1 jam sekali untuk
menghindari kelelahan, terkhusus untuk petugas yang melakukan pengecekan
kelayakan teh botol yang harus melakukan pemilahan botol didepan layar
putih yang diberi penerangan lampu LED. Para karyawan yang bertugas juga
disediakan air minum pada setiap ruangan.
Untuk limbah terdapat dua jenis, yaitu limbah padat dan limbah cair.
Limbah padat dihasilkan dari ampas teh, kemudian ampas teh dikelola
kembali untuk dijadikan pupuk. Limbah cair diolah sendiri pada kolam
penampungan yang terletak dibelakang pabrik. Salah satunya yaitu kolam
oxidation, menggunakan mesin aerator dan menggunakan lumpur aktif. Air
limbah 75% dihasilkan dari pencucian botol di mesin bottle washer yang satu
jamnya bisa mencapai 5000 L. Air nantinya diproses secara anaerob
menggunakan mikrobia dengan lumpur aktif di bak kontrol yang satu bulan
sekali dilakukan pengecekan internal maupun eksternal. Hasil dari pengolahan
limbah cair akan digunakan untuk menyiram tanaman. Dan air yang berlebih
akan ditampung di tiga kolam retensi.

23
Di area pabrik PT Sinar Sosro telah dilengkapi dengan petunjuk jalur
evakuasi, kotak P3K dan tanda peringatan bahan mudah terbakar, reaktif dan
bahan berbahaya.
Program Keselamatan dan Kesehatan Kerja (K3) yang diterapkan oleh PT
Sinar Sosro sudah baik, hal ini dibuktikan dengan tidak adanya kecelakaan
kerja dan penyakit akibat kerja selama 5 (lima) tahun terakhir.

4.2 Pembahasan
4.2.1 Pelaksanaan Sistem Keselamatan dan Kesehatan Kerja (K3) di
Pabrik Teh Sosro.
PT. Sinar Sosro telah mengimplementasikan sistem K3
meskipun tidak melakukan sertifikasi SMK3 (Sistem Manajemen
K3). Dalam Permenaker RI. No. 05 tahun 1996 Pasal 3 Ayat 1 dan 2
tentang Sistem Manajemen Keselamatan dan Kesehatan Kerja
(SMK3) bahwa setiap perusahaan yang mempekerjakan tenaga kerja
sebanyak 100 orang atau lebih dan atau mengandung potensi bahaya
yang ditimbulkan oleh karakteristik proses atau bahan produksi yang
dapat mengakibatkan kecelakaan kerja seperti peledakan, kebakaran,
pencemaran lingkungan dan penyakit akibat kerja wajib menerapkan
SMK3.
Pelaksanaan sistem K3 bertujuan untuk meminimalisir
kecelakaan kerja dan penyakit akibat kerja pada karyawan pabrik.
PT Sinar Sosro selalu mengutamakan Keselamatan dan Kesehatan
Kerja (K3) bagi karyawan maupun masyarakat dilingkungan sekitar
pabrik, sesuai dengan filosofi dari PT Sinar Sosro yaitu niat baik
yang dijabarkan dalam 3K dan RL. Arti dari 3K dan RL adalah
Peduli terhadap Kualitas, Keamanan, Kesehatan Produk serta Ramah
Lingkungan. Untuk memelihara sumber daya manusia, PT Sinar
Sosro selalu mewajibkan seluruh karyawannya untuk menggunakan
alat pelindung diri ketika melaksanakan pekerjaannya khususnya
dibagian pabrik. Program Keselamatan dan Kesehatan Kerja (K3)
yang diterapkan oleh PT Sinar Sosro sudah baik, hal ini dibuktikan
dengan tidak adanya kecelakaan kerja dan penyakit akibat kerja
selama 5 (lima) tahun terakhir.

24
4.2.2 Tujuan dan sasaran dari Sistem Keselamatan dan Kesehatan
Kerja (SMK3) di Pabrik Teh Sosro
Tujuan dari pelaksanaan K3 pada PT. Sinar sosro adalah untuk
meminimalisir kecelakaan kerja dan penyakit akibat kerja. Hal ini
sesuai dengan tujuan utama penerapan sistem K3 menurut Undang-
Undang Nomor 1 Tahun 1970 yaitu melindungi dan menanggung
keselamatan setiap tenaga kerja dan orang lain ditempat kerja,
menanggung setiap sumber produksi dapat dipakai dengan cara aman
dan efektif dan tingkatkan kesejahteraan dan produktivitas Nasional.

4.2.3 Aspek-aspek pengawasan Keselamatan dan Kesehatan Kerja (K3)


di Pabrik Teh Sosro
Menurut Anoraga (2009) mengemukakan aspek-aspek
Keselamatan dan Kesehatan Kerja (K3) meliputi lingkungan kerja,
alat kerja dan bahan dan cara melakukan pekerjaan. Pada PT Sinar
sosro aspek Keselamatan dan Kesehatan Kerja (K3) diuraikan sebagai
berikut:
a. Lingkungan kerja
Suhu ruangan pabrik PT Sinar sosro antara 30-35 oC.
Produktivitas kerja manusia akan mencapai tingkat yang paling
tinggi pada temperatur sekitar 24°C- 27°C. Suhu dingin
mengurangi efisiensi dengan keluhan kaku dan kurangnya
koordinasi otot. Suhu panas terutama berakibat menurunkan
prestasi kerja pekerja, mengurangi kelincahan, memperpanjang
waktu reaksi dan waktu pengambilan keputusan, mengganggu
kecermatan kerja otak, mengganggu koordinasi syaraf perasa dan
motoris, serta memudahkan untuk dirangsang (Suma’mur 2009).
Hal ini telah dikendalikan dengan baik yaitu dengan penyediaan
sistem ventilasi, dan penyediaan air minum.
Tingkat kebisingan berkisar 60-70 dB, berada dibawah
ambang batas kebisingan yaitu 85 dB dengan waktu kerja 8 jam
perhari. Menurut Peraturan Menteri Tenaga Kerjadan Transmigrasi
Republik Indonesia Nomor PER.13/MEN/X/2011 tentang Nilai
Ambang Batas Faktor Fisika dan Faktor Kimia di Tempat Kerja,
Intensitas kebisingan yang dianjurkan adalah 85 dBA untuk 8 jam

25
kerja. Telah dilakukan tindakan pencegahan berupa menggunakan
alat pelindung diri berupa ear plug, meskipun hanya diberikan
kepada beberapa pekerja yang bekerja didekat mesin.
Pencahayaan pada pabrik menyesuaikan dengan kenyamanan
pekerja.
Untuk faktor lain seperti radiasi pada pabrik PT. Sinar sosro
sangat kecil.
b. Alat kerja dan bahan
Pada proses pembuatan teh botol sosro, tiga bahan utama
yang digunakan yaitu air, jasmine tea dan gula. Alat yang
digunakan pada proses produksi yaitu tangki untuk pembuatan teh,
de crater, crater washer, bottle washer, light inspection, filler dan
crowner.
Alat kerja dan bahan merupakan suatu hal yang pokok
dibutuhkan oleh perusahaan untuk memproduksi barang. Dalam
memproduksi barang, alat-alat kerja sangatlah vital yang
digunakan oleh para pekerja dalam melakukan kegiatan proses
produksi dan disamping itu adalah bahan-bahan utama yang akan
dijadikan barang.

c. Cara melakukan pekerjaan


Seluruh karyawan yang bekerja ditempat ini dilengkapi
dengan APD berupa sarung tangan, masker, hair cap, dan sepatu.
Khusus karyawan yang bekerja di wilayah dengan tingkat
kebisingan di atas ambang batas, yaitu setelah botol keluar dari
mesin cuci, diharuskan memakai earplug. Untuk sarung tangan
dikhususkan kepada karyawan yang ada aktivitasnya bersentuhan
dengan panas.
Menurut Undang-Undang No. 1 Tahun 1970 tentang
Keselamatan Kerja Pasal 2, Alat Pelindung Diri (APD) meliputi:
pelindung kepala, pelindung mata dan muka, pelindung telinga,
pelindung pernapasan beserta perlengkapannya, pelindung tangan,
dan atau pelindung kaki.

26
4.2.4 Faktor-Faktor yang mempengaruhi Keselamatan dan Kesehatan
Kerja (K3) di Pabrik Teh Sosro.
Faktor- faktor yang paling mempengruhi pada pelaksanaan K3
di parik PT. Sinar sosro palembang adalah faktor mental psikologis.
Dimana, sebelum bekerja seluruh tenaga kerja sudah dilakukan
pelatihan tentang K3. Setiap tahunnya diadakan pelatihan dan simulasi
tanggap darurat jika terjadi bencana atau kecelakaan kerja. Sehingga,
para karyawan dapat mengikuti sistem K3 tersebut. Pelaksanaan K3
diawasi langsung oleh kepala dan supervisor tiap departemen.
Menurut Budiono dkk (2016), faktor-faktor yang mempengaruhi
Keselamatan dan Kesehatan Kerja (K3) antara lain Beban kerja berupa
beban fisik, mental dan sosial, sehingga upaya penempatan pekerja
yang sesuai dengan kemampuannya perlu diperhatikan; Kapasitas
kerja tergantung pada pendidikan, keterampilan, kesegaran jasmani,
ukuran tubuh, keadaan gizi dan sebagainya; dan Lingkungan kerja
berupa faktor fisik, kimia, biologik, ergonomik, maupun psikososial.

BAB V
KESIMPULAN DAN SARAN

5.1 Kesimpulan
1. PT Sinar Sosro telah mengimplementasikan sistem K3 meskipun tidak
melakukan sertifikasi SMK3 (Sistem Manajemen K3). Program
Keselamatan dan Kesehatan Kerja (K3) yang diterapkan oleh PT Sinar
Sosro sudah baik, hal ini dibuktikan dengan tidak adanya kecelakaan
kerja dan penyakit akibat kerja selama 5 (lima) tahun terakhir.
2. Tujuan dari K3 dan SMK3 di PT. Sinar Sosro adalah untuk
meminimalisir tenaga kerja dari kecelakaan kerja dan penyakit akibat
kerja.
3. Aspek-aspek Keselamatan dan Kesehatan Kerja (K3) meliputi
lingkungan kerja, alat kerja dan bahan dan cara melakukan pekerjaan.
4. Faktor- faktor yang paling mempengruhi pada pelaksanaan K3 di parik
PT. Sinar sosro palembang adalah faktor mental psikologis. Dimana

27
seluruh tenaga kerja sudah dilakukan pelatihan tentang K3 sehingga
mereka mengerti akan pentingnya K3.
5.2 Saran
Saran yang dapat diberikan adalah sebagai berikut:
1. Bagi PT. Sinar Sosro Palembang
Untuk lebih meningkatkan lagi sistem Keselamatan dan Kesehatan
Kerja (K3) sehingga karyawan yang terjamin Kesehatan dan
Keselamatan Kerja (K3) akan bekerja lebih optimal karena aktivitas
pekerjaan mereka yang cukup lancar, dan ini akan berdampak pada
produk yang dihasilkan. Sehingga hal ini akan dapat meningkatkan
kualitas produk dan jasa yang dihasilkan.
2. Bagi Mahasiswa
Harus memaksimalkan sarana dan alat dalam memperoleh
pengetahuan dan pengalaman khususnya segala hal yang berkaitan
tentang sistem Keselamatan dan Kesehatan Kerja (K3).

28
DAFTAR PUSTAKA

Anizar. 2012. Teknik Keselamatan dan kesehatan kerja di Industri. Yogyakarta:


Graha Ilmu.

Anoraga, P. 2009. Psikologi Kerja. Jakarta: PT. Rineka Cipta.

Budiono, dkk. 2016. Bunga Rampai Hiperkes & KK. Semarang: Badan Penerbit
Universitas Diponegoro.
Geotsch, D.L. 2011. Occupational and Heallth for Technologist, Engineers, and
Manager. New Jersey: Person Prentice Hill.

Ilfani, G. 2013. Analisis Pengaruh Keselamatan Dan Kesehatan Kerja Terhadap


Kinerja Karyawan. Jurnal Studi Manajemen Organisasi, 10(2), 160-166.

ILO. 2013. Keselamatan dan Kesehatan Kerja. Jakarta: International Labour


Organitation. Hal 35.

Jeyaratnam, J. 2010. Buku Ajar Praktik Kedokteran Kerja. Jakarta: EGC. Hal 84.

Kemenkes, RI. 2016. Kesehatan dan Keselamatan Kerja. Jakarta: Kementrian


Kesehatan Republik Indonesia. Terdapat dalam
[Link]
content/uploads/2017/08/Kesehatan-dan-Keselamatan-Kerja-
[Link]. Diakses 17 Oktober 2018. Hal 73.

Peraturan Menteri Tenaga Kerja dan Transmigrasi Republik Indonesia Nomor


PER.13/MEN/X/2011 tentang Nilai Ambang Batas Faktor Fisika dan Faktor
Kimia di Tempat Kerja.

Menteri Tenaga Kerja dan Trasmigrasi Republik Indonesia. (2009). Keputusan


Menteri Tenaga Kerja dan Transmigrasi Republik Indonesia Nomor: KEP.
372/MEN/XI/2009 tentang Petunjuk Pelaksanaan Bulan Keselamatan dan
Kesehatan Kerja Nasional Tahun 2010 – 2014.

Permenaker No. PER.05/MEN/1996: Tentang Sistem Manajemen Keselamatan


dan Kesehatan Kerja. Permenkes, Jakarta.

Redjeki, S. 2016. Kesehatan dan Keselamatan Kerja. Kementerian Kesehatan


Republik Indonesia Pusat Pendidikan Sumber Daya Manusia Kesehatan
Badan Pengembangan dan Pemberdayaan Sumber Daya Manusia
Kesehatan, 235. Tersedia Pada:
[Link]
[Link]

29
Simanjuntak, P.J. 2011. Manajemen Evaluasi Kinerja. Jakarta: UI.
Suma’mur P.K. 2009. Hygene perusahaan dan kesehatan kerja. Jakarta: Gunung
Agung.

Sunyoto, D. 2013. Manajemen Sumber Daya Manusia. Yogyakarta: Penerbit


CAPS.

Undang-undang Republik Indonesia nomor 36 tahun 2009 tentang Kesehatan.

Undang-Undang No. 1 Tahun 1970 tentang Keselamatan Kerja.

30
LAMPIRAN

Gambar 1. Tempat Pengolahan Limbah di Pabrik Teh Sosro

31
32
Gambar 2. Foto Bersama

33

Anda mungkin juga menyukai