Penerapan K3 di Pabrik Teh Sosro
Penerapan K3 di Pabrik Teh Sosro
PENDAHULUAN
1
Berdasarkan teori di atas, dinyatakan bahwa untuk menjamin
keselamatan dan kesehatan tenaga kerja sangat dibutuhkan sistem
manajemen K3 di setiap perusahaan, terutama di perusahaan besar, seperti
Pabrik Teh Sosro. Oleh sebab itu, salah satu strategi pembelajaran di
Fakultas Kedokteran Universitas Muhammadiyah Palembang yaitu adanya
tugas pengenalan profesi (TPP) dengan judul Meninjau Sistem K3 di Pabrik
Teh Sosro.
1.3 Tujuan
1.3.1 Tujuan Umum:
Untuk mengetahui tentang Keselamatan dan Kesehatan Kerja
(K3) di Pabrik Teh Sosro.
1.3.2 Tujuan Khusus:
1. Mengetahui pelaksanaan Sistem Keselamatan dan Kesehatan
Kerja (K3) di Pabrik Teh Sosro.
2. Mengetahui tujuan dan sasaran dari Sistem Keselamatan dan
Kesehatan Kerja (SMK3) di Pabrik Teh Sosro
3. Mengetahui aspek-aspek pengawasan Keselamatan dan
Kesehatan Kerja (K3) di Pabrik Teh Sosro.
4. Mengetahui Faktor-Faktor yang mempengaruhi Keselamatan dan
Kesehatan Kerja (K3) di Pabrik Teh Sosro.
1.4 Manfaat
Adapun manfaat yang didapatkan dari pelaksanaan Tugas Pengenalan
Profesi kali ini adalah:
1. Untuk mahasiswa
a. Dapat menambah ilmu pengetahuan tentang sistem Keselamatan
dan Kesehatan Kerja (K3).
b. Dapat menambah pengalaman dalam meninjau Sistem Manajemen
Keselamatan dan Kesehatan Kerja (K3).
2. Untuk staff pengajar & profesi khususnya bidang kesehatan
2
a. Dapat menambah ilmu pengetahuan tentang sistem Keselamatan
dan Kesehatan Kerja (K3).
b. Dapat dijadikan sebagai literatur dalam pembelajaran mengenai
Keselamatan dan Kesehatan Kerja (K3).
3. Untuk masyarakat
a. Dapat menambah wawasan terhadap manajemen Keselamatan dan
Kesehatan Kerja (K3).
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
3
manusia pada umumnya, hasil karya dan budayanya menuju
masyarakat makmur dan sejahtera. Sedangkan pengertian secara
keilmuan adalah suatu ilmu pengetahuan dan penerapannya dalam
usaha mencegah kemungkinan terjadinya kecelakaan dan penyakit
akibat kerja. Kesehatan dan keselamatan Kerja (K3) tidak dapat
dipisahkan dengan proses produksi baik jasa maupun industri
(Redjeki, 2016).
1. Keselamatan Kerja
Keselamatan Kerja adalah keselamatan yang bertalian dengan
mesin, pesawat, alat kerja, bahan, dan proses pengolahannya,
landasan tempat kerja dan lingkungannya serta cara-cara
melakukan pekerjaan. Keselamatan Kerja memiliki sifat sebagai
berikut (Redjeki, 2016).
a. Sasarannya adalah lingkungan kerja.
b. Bersifat teknik.
Pengistilahan Keselamatan dan Kesehatan Kerja bermacam-
macam, ada yang menyebutnya Hygene Perusahaan dan Kesehatan
Kerja (Hyperkes) dan ada yang hanya disingkat K3, dan dalam
istilah asing dikenal Occupational Safety and Health (Redjeki,
2016).
2. Kesehatan Kerja
Pengertian sehat senantiasa digambarkan sebagai suatu
kondisi fisik, mental dan sosial seseorang yang tidak saja bebas
dari penyakit atau gangguan kesehatan melainkan juga
menunjukkan kemampuan untuk berinteraksi dengan lingkungan
dan pekerjaannya. Paradigma baru dalam aspek kesehatan
mengupayakan agar yang sehat tetap sehat dan bukan sekadar
mengobati, merawat, atau menyembuhkan gangguan kesehatan
atau penyakit. Oleh karenanya, perhatian utama di bidang
kesehatan lebih ditujukan ke arah pencegahan terhadap
kemungkinan timbulnya penyakit serta pemeliharaan kesehatan
seoptimal mungkin.
Status kesehatan seseorang menurut Blum (1981) ditentukan
oleh empat faktor sebagai berikut.
4
a. Lingkungan, berupa lingkungan fisik (alami, buatan), kimia
(organik/anorganik, logam berat, debu), biologik (virus,
bakteri, mikroorganisme), dan sosial budaya (ekonomi,
pendidikan, pekerjaan).
b. Perilaku yang meliputi sikap, kebiasaan, tingkah laku.
c. Pelayanan kesehatan: promotif, perawatan, pengobatan,
pencegahan kecacatan, rehabilitasi.
d. Genetik, yang merupakan faktor bawaan setiap manusia.
Definisi kesehatan kerja adalah spesialisasi dalam ilmu
kesehatan/kedokteran beserta praktiknya yang bertujuan agar
pekerja/masyarakat pekerja beserta memperoleh derajat kesehatan
yang setinggi-tingginya, baik fisik atau mental, maupun sosial
dengan usaha-usaha preventif dan kuratif, terhadap penyakit-
penyakit/gangguan-gangguan kesehatan yang diakibatkan faktor-
faktor pekerjaan dan lingkungan kerja, serta terhadap penyakit-
penyakit umum. Konsep kesehatan kerja dewasa ini semakin
berubah, bukan sekadar “kesehatan pada sektor industri” saja
melainkan juga mengarah kepada upaya kesehatan untuk semua
orang dalam melakukan pekerjaannya (total health of all at work)
(Redjeki, 2016).
Menurut Keputusan Menteri Tenaga Kerja R.I. Nomor: KEP.
372/MEN/XI/2009 Filosofi dasar Keselamatan dan Kesehatan
Kerja (K3) adalah melindungi keselamatan dan kesehatan para
pekerja dalam menjalankan pekerjaannya, melalui upaya-upaya
pengendalian semua bentuk potensi bahaya yang ada di
lingkungan tempat kerjanya. Bila semua potensi bahaya telah
dikendalikan dan memenuhi batas standar aman, maka akan
memberikan kontribusi terciptanya kondisi lingkungan kerja yang
aman, sehat dan proses produksi menjadi lancar, yang pada
akhirnya akan dapat menekan risiko kerugian dan berdampak
terhadap peningkatan produktivitas.
5
Kerja. Di dalamnya terdapat 3 (tiga) tujuan utama dalam Penerapan
K3 berdasarkan Undang-Undang No 1 Tahun 1970 mengenai
Keselamatan Kerja yaitu diantaranya:
1. Melindungi dan menanggung keselamatan setiap tenaga kerja dan
orang lain ditempat kerja.
2. Menanggung setiap sumber produksi dapat dipakai dengan cara
aman dan efektif.
3. Tingkatkan kesejahteraan dan produktivitas Nasional.
Berdasar pada Undang-Undang nomor 1 Th. 1970 mengenai
Keselamatan Kerja diatas terdapat serasi tentang aplikasi K3 ditempat
kerja pada Entrepreneur, Tenaga Kerja dan Pemerintah/Negara.
Hingga di saat mendatang, baik kurun waktu dekat maupun kelak,
aplikasi K3 (Keselamatan dan Kesehatan Kerja) di Indonesia dapat
dikerjakan dengan cara nasional menyeluruh dari Sabang sampai
Merauke. Mengenai maksud yang telah di simpulkan dari Undang-
Undang nomor 1 th. 1970 yakni sebagai berikut:
1. Menghindar dan kurangi dan memadamkan kebakaran
2. Menghindar dan kurangi kecelakaan
3. Menghindar dan kurangi bahaya peledakan
4. Berikan peluang atau jalan menyelamatkan daripada waktu
kebakaran atau peristiwa - peristiwa lain yang beresiko
5. Berikan pertolongan pada kecelakan.
6
2.1.4 Indikator dalam Keselamatan dan Kesehatan Kerja
Menurut Ilfani (2013), adapun indikator - indikator keselamatan
dan kesehatan kerja meliputi:
1. Tempat Kerja
Tempat kerja merupakan lokasi dimana para karyawan
melaksanakan aktifitas kerjanya.
2. Mesin dan Peralatan
Mesin dan Peralatan adalah bagian dari kegiatan operasional
dalam proses produksi yang biasanya berupa alat – alat berat dan
ringan.
3. Keadaan dan Kondisi Karyawan
Keadaan dan kondisi karyawan adalah keadaan yang dialami oleh
karyawan pada saat bekerja yang mendukung aktivitas dalam
bekerja.
4. Lingkungan Kerja
Lingkungan kerja adalah lingkungan yang lebih luas dari tempat
kerja yang mendukung aktivitas karyawan dalam bekerja.
5. Perlindungan Karyawan
Perlindungan karyawan merupakan fasilitas yang diberikan untuk
menunjang kesejahteraan karyawan.
Menurut Sunyoto (2013) menyebutkan bahwa indikator dari
kesehatan dan keselamatan kerja adalah sebagai berikut:
a. Pembiayaan kesehatan
b. Pelayanan kesehatan.
c. Perlengkapan.
d. Prosedur.
e. Tempat penyimpanan barang.
f. Wewenang pekerjaan.
g. Kelalaian.
7
b. Alat kerja dan bahan
Alat kerja dan bahan merupakan suatu hal yang pokok dibutuhkan
oleh perusahaan untuk memproduksi barang. Dalam memproduksi
barang, alat-alat kerja sangatlah vital yang digunakan oleh para
pekerja dalam melakukan kegiatan proses produksi dan disamping
itu adalah bahan-bahan utama yang akan dijadikan barang.
c. Cara melakukan pekerjaan
Setiap bagian-bagian produksi memiliki cara-cara melakukan
pekerjaan yang berbeda-beda yang dimiliki oleh karyawan. Cara-
cara yang biasanya dilakukan oleh karyawan dalam melakukan
semua aktifitas pekerjaan, misalnya menggunakan peralatan yang
sudah tersedia dan pelindung diri secara tepat dan mematuhi
peraturan penggunaan peralatan tersebut dan memahami cara
mengoperasionalkan mesin.
Menurut Budiono dkk (2016), faktor-faktor yang mempengaruhi
Keselamatan dan Kesehatan Kerja (K3) antara lain:
a. Beban kerja
Beban kerja berupa beban fisik, mental dan sosial, sehingga upaya
penempatan pekerja yang sesuai dengan kemampuannya perlu
diperhatikan.
b. Kapasitas kerja
Kapasitas kerja yang banyak tergantung pada pendidikan,
keterampilan, kesegaran jasmani, ukuran tubuh, keadaan gizi dan
sebagainya.
c. Lingkungan kerja
Lingkungan kerja yang berupa faktor fisik, kimia, biologik,
ergonomik, maupun psikososial.
Pasal 3 Undang-undang No.1 Tahun 1970 tentang Keselamatan
Kerja menentukan bahwa syarat-syarat keselamatan kerja yang harus
diperhatikan oleh pengusaha akan diatur lebih lanjut. Namun,
peraturan perundangan yang dimaksudkan sampai sekarang belum
ada. Peraturan perundangan warisan Hindia Belanda masih dapat
dijadikan pedoman syarat-syarat keselamatan kerja, yaitu:
a. Mencegah dan mengurangi kecelakaan
Untuk mencegah atau mengurangi kecelakaan ini banyak sekali
upaya yang dapat dilakukan oleh pengusaha. Dalam
8
Veiligheidregelement (Peraturan Keamanan Kerja), antara lain
dinyatakan bahwa agar peralatan pabrik tidak atau kurang
menimbulkan bahaya, maka:
1. Ban penggerak, rantai, dan tali yang berat harus diberikan alat
penadah, jika putus tidak akan menimbulkan bahaya.
2. Mesin-mesin harus terpelihara dengan baik, mesin yang
berputar harus diberikan penutup agar jangan saampai
beterbangan jika kurang tahan dalam putaran yang keras.
3. Ban penggerak, rantai, atau tali yang dilepaskan harus
tergantung, maka gantungan itu harus dibuat sedemikian rupa
agar tidak menyentuh ban penggerak.
4. Harus tersedia alat pertolongan pertama pada kecelakaan
(P3K).
b. Mencegah, mengurangi dan memadamkan kebakaran, yang dapat
dilakukan dengan menyediakan alat-alat pemadam kebakaran,
memberikan kesempatan atau jalan menyelamatkan diri bagi
pekerja/buruh jika terjadi kebakaran, dan memberikan alat
perlindungan lainnya untuk mengantisipasi kemungkinan
terjadinya kebakaran.
c. Mencegah atau mengurangi bahaya peledakan. Peledakan
biasanya sering terjadi pada perusahaan-perusahaan yang
mengerjakan bahan-bahan yang mudah meledak. Perusahaan-
perusahaan yang demikian pada setiap ruangan kerja haruslah
disediakan sekurang-kurangnya satu pintu yang cepat terbuka
untuk keluar. Bahan-bahan yang akan dikerjakan di ruang kerja
tidak boleh melebihi jumlah yang seharusnya dikerjakan. Harus
pula dipasang alat-alat kerja yang menjamin pemakaiannya akan
aman dari bahaya peledakan.
d. Memperoleh penerangan yang cukup dan sesuai,
menyelenggarakan suhu udara yang baik, memelihara ketertiban
dan kebersihan, mengamankan dan memelihara bangunan.
e. Mencegah agar jangan sampai terkena aliran listrik yang
berbahaya. Hal ini dapat dilakukan dengan cara sebagai berikut:
9
1. Bagian alat listrik yang mempunyai tegangan minimal 250 volt
haruslah tertutup.
2. Sambungan-sambungan kabel listrik harus diberikan
pengaman.
3. Bangunan-bangunan yang diatasnya terbentang kawat listrik
harus diperiksa sewaktu-waktu dan jika perlu diberikan
pembungkus (isolasi) agar terhindar dari tegangan.
10
Pemerintah mengajak pengusaha dan serikat pekerja untuk
menyusun kebijaksanaan dan program yang melindungi pekerja,
masyarakat dan lingkungan dari kecelakaan kerja. Pengusaha
diwajibkan menyusun sistem pencegahan kecelakaan kerja termasuk
identifikasi dan analisis sumber kecelakaan, cara mengurangi akibat
kecelakaan, perencanaan dan pemasangan instalasi pengaman,
penugasan tenaga khusus dan ahli di bidang keselamatan kerja,
melaksanakan inspeksi secara regular, serta menyusun program
penyelamatan darurat bila terjadi bencana atau kecelakaan kerja. Oleh
karena itu, pemerintah mengeluarkan Undang-Undang No. 1 Tahun
1970 tentang Keselamatan Kerja.
Berdasarkan Peraturan Menteri Tenaga Kerja: PER.
05/MEN/1996, penerapan keselamatan dan kesehatan kerja (K3)
dibagi menjadi tiga tingkatan yang kemudian akan digunakan sebagai
dasar audit internal perusahaan yaitu:
a. Tingkat awal adalah perusahaan kecil atau perusahaan dengan
tingkat resiko rendah harus menetapkan sebanyak 64 kriteria.
b. Tingkat transisi adalah perusahaan sedang atau perusahaan dengan
tingkat resiko menengah harus menetapkan sebanyak 122 kriteria .
c. Tingkat lanjutan adalah perusahaan besar atau perusahaan dengan
tingkat resiko tinggi harus menetapkan sebanyak 166 kriteria.
Penggunaan alat pelindung diri (APD) yaitu penggunaan
seperangkat alat yang digunakan tenaga kerja untuk melindungi
sebagian atau seluruh tubuhnya dari adanya potensi bahaya atau
kecelakaan kerja sebagai tindakan manajemen keselamatan dan
kesehatan kerja. APD tidak secara sempurna dapat melindungi
tubuhnya, tetapi akan dapat mengurangi tingkat keparahan yang
mungkin terjadi (Budiono, 2016). Penggunaan alat pelindung diri
dapat mencegah kecelakaan kerja sangat dipengaruhi oleh
pengetahuan, sikap dan praktek pekerja dalam penggunaan alat
pelindung diri.
Tenaga kerja berhak menolak untuk memakainya jika APD yang
disediakan tidak memenuhi syarat. Dari ketiga pemenuhan syarat
tersebut, harus diperhatikan faktor pertimbangan dimana APD harus:
11
enak dan nyaman dipakai, tidak mengganggu ketenangan pekerja dan
tidak membatasi ruang gerak pekerja, memberikan perlindungan yang
efektif terhadap segala jenis bahaya atau potensi bahaya, memenuhi
syarat estetika, memperhatikan efek samping penggunaan APD dan
mudah dalam pemeliharaan, tepat ukuran, tepat penyediaan, dan harga
terjangkau (Anizar, 2012). APD sebagaimana dimaksud dalam Pasal 2
meliputi: pelindung kepala, pelindung mata dan muka, pelindung
telinga, pelindung pernapasan beserta perlengkapannya, pelindung
tangan, dan atau pelindung kaki. Adapun alat pelindung diri, yaitu:
1. Alat pelindung kepala
Fungsi alat pelindung kepala adalah alat pelindung yang berfungsi
untuk melindungi kepala dari benturan, terantuk, kejatuhan atau
terpukul benda tajam atau benda keras yang melayang atau
meluncur di udara, terpapar oleh radiasi panas, api, percikan bahan
kimia, jasad renik (mikro organisme) dan suhu yang ekstrim. Jenis
alat pelindung kepala terdiri dari helm pengaman (safety helmet),
topi atau tudung kepala, penutup atau pengaman rambut, dan alat
pelindung kepala yang lain.
12
4. Alat pelindung tangan
Fungsi pelindung tangan (sarung tangan) adalah alat pelindung
yang berfungsi untuk melindungi tangan dan jari tangan dari
pajanan api, suhu panas, suhu dingin, radiasi elektromagnetik,
radiasi mengion, arus listrik, bahan kimia, benturan, pukulan dan
tergores, terinfeksi zat patogen (virus, bakteri) dan jasad renik.
Jenis pelindung tangan terdiri dari sarung tangan yang terbuat dari
logam, kulit, kain kanvas, kain atau kain berpelapis, karet, dan
sarung tangan yang tahan bahan kimia.
5. Alat pelindung kaki
Fungsi Alat pelindung kaki berfungsi untuk melindungi kaki dari
tertimpa atau berbenturan dengan benda berat, tertusuk benda
tajam, terkena cairan panas atau dingin, uap panas, terpajan suhu
yang ekstrim, terkena bahan kimia berbahaya dan jasad renik,
tergelincir. Sepatu pengaman harus dapat melindungi tenaga kerja
terhadap berbagai macam kecelakaan yang disebabkan oleh beban
berat yang menimpa kaki. Jenis pelindung kaki berupa sepatu
keselamatan pada pekerjaan peleburan, pengecoran logam,
industri, kontruksi bangunan, pekerjaan yang berpotensi bahaya
peledakan, bahaya listrik, tempat kerja yang basah atau licin,
bahan kimia dan jasad renik, dan atau bahaya binatang dan
lainnya.
6. Pakaian Pelindung
Fungsi pakaian pelindung berfungsi untuk melindungi badan
sebagian atau seluruh bagian badan dari bahaya temperatur panas
atau dingin yang ekstrim, pajanan api dan benda panas, percikan
bahan kimia, cairan dan logam panas, uap panas, benturan
(impact) dengan mesin, peralatan dan radiasi, mikroorganisme
patogen dari manusia dan lingkungan seperti virus, bakteri dan
jamur. Jenis pakaian pelindung terdiri dari rompi (vests), celemek
(apron atau coveralls), Jacket, dan pakaian pelindung yang
menutupi sebagian atau seluruh bagian badan.
7. Alat Pelindung Jatuh Perorangan
Fungsi alat pelindung jatuh perorangan berfungsi membatasi gerak
pekerja agar tidak masuk ke tempat yang mempunyai potensi jatuh
13
atau menjaga pekerja berada pada posisi kerja yang diinginkan
dalam keadaan miring maupun tergantung dan menahan serta
membatasi pekerja jatuh sehingga tidak membentur lantai dasar.
jenis alat pelindung jatuh perorangan terdiri dari sabuk pengaman
tubuh (harness), karabiner, tali koneksi (lanyard), tali pengaman
(safety rope), alat penjepit tali (rope clamp), alat penurun
(decender), alat penahan jatuh bergerak (mobile fall arrester), dan
lainnya.
14
Kesalahan-kesalahan yang disebabkan oleh pekerja dan karena
sikap yang tidak wajar seperti terlalu berani, sembrono, tidak
mengindahkan instruksi, kelalaian, melamun, tidak mau bekerja
sama, dan kurang sabar. Kekurangan kecakapan untuk
mengerjakan sesuatu karena tidak mendapat pelajaran mengenai
pekerjaan. Kurang sehat fisik dan mental seperti adanya cacat,
kelelahan dan penyakit. Diperkirakan 85% dari kecelakaan kerja
yang terjadi disebabkan oleh faktor manusia. Hal ini dikarenakan
pekerja itu sendiri (manusia) yang tidak memenuhi keselamatan
seperti lengah, ceroboh, mengantuk, lelah dan sebagainya.
2. Faktor mekanik dan lingkungan, letak mesin, tidak dilengkapi
dengan alat pelindung, alat pelindung tidak pakai, alat-alat kerja
yang telah rusak. Faktor mekanis dan lingkungan dapat pula
dikelompokkan menurut keperluan dengan suatu maksud tertentu.
Misalnya di perusahaan penyebab kecelakaan dapat disusun
menurut kelompok pengolahan bahan, mesin penggerak dab
pengangkat, terjatuh di lantai dan tertimpa benda jatuh, pemakaian
alat atau perkakas yang dipegang dengan manual (tangan),
menginjak atau terbentur barang, luka bakar oleh benda pijar dan
transportasi. Kira-kira sepertiga dari kecelakaan yang
menyebabkan kematian dikarenakan terjatuh, baik dari tempat
yang tinggi maupun di tempat datar. Lingkungan kerja
berpengaruh besar terhadap moral pekerja. Faktor-faktor keadaan
lingkungan kerja yang penting dalam kecelakaan kerja terdiri dari
pemeliharaan rumah tangga (house keeping), kesalahan disini
terletak pada rencana tempat kerja, cara menyimpan bahan baku
dan alat kerja tidak pada tempatnya, lantai yang kotor dan licin.
Ventilasi yang tidak sempurna sehingga ruangan kerja terdapat
debu, keadaan lembab yang tinggi sehingga orang merasa tidak
enak kerja. Pencahayaan yang tidak sempurna misalnya ruangan
gelap, terdapat kesilauan dan tidak ada pencahayaan setempat.
15
Menurut Jeyaratnam (2010), dalam ruang atau ditempat kerja
biasanya terdapat faktor-faktor yang menjadi sebab penyakit akibat
kerja, antara lain:
1. Golongan fisik, seperti:
a. Kebisingan
Bising adalah suara/bunyi yang tidak diinginkan (Budiono,
2016). Kebisingan pada tenaga kerja dapat mengurangi
kenyamanan dalam bekerja, mengganggu
komunikasi/percakapan antar pekerja, mengurangi konsentrasi,
menurunkan daya dengar dan tuli akibat kebisingan. Sesuai
dengan Peraturan Menteri Tenaga Kerjadan Transmigrasi
Republik Indonesia Nomor PER.13/MEN/X/2011 tentang Nilai
Ambang Batas Faktor Fisika dan Faktor Kimia di Tempat Kerja,
Intensitas kebisingan yang dianjurkan adalah 85 dBA untuk 8
jam kerja.
b. Radiasi sinar-sinar radioaktif dapat menyebabkan penyakit
susunan darah dan kelainan kulit.
c. Suhu
Dari suatu penyelidikan diperoleh hasil bahwa
produktivitas kerja manusia akan mencapai tingkat yang paling
tinggi pada temperatur sekitar 24°C- 27°C. Suhu dingin
mengurangi efisiensi dengan keluhan kaku dan kurangnya
koordinasi otot. Suhu panas terutama berakibat menurunkan
prestasi kerja pekerja, mengurangi kelincahan, memperpanjang
waktu reaksi dan waktu pengambilan keputusan, mengganggu
kecermatan kerja otak, mengganggu koordinasi syaraf perasa
dan motoris, serta memudahkan untuk dirangsang (Suma’mur
2009).
Suhu yang terlalu tinggi dapat menyebabkan heat stroke,
heat cramps, atau hyperpyrexia. Sedangkan suhu-suhu yang
rendah dapat menimbulkan frostbite, trenchfoot, dan
hypothermia.
d. Tekanan tinggi dapat menyebabkan caisson disease.
16
e. Penerangan lampu yang kurang baik misalnya dapat
menyebabkan kelainan pada indera penglihatan atau kesilauan
yang memudahkan terjadinya kecelakaan.
f. Lantai dalam tempat kerja harus terbuat dari bahan yang keras,
tahan air dan bahan kimia yang merusak. Karena lantai licin
akibat tumpahan air, minyak atau oli berpotensi besar terhadap
terjadinya kecelakaan, seperti terpeleset.
17
tersebut bukan semata-mata beban suatu perusahaan melainkan juga
beban masyarakat dan negara secara keseluruhan. Biaya ini dapat
dibagi menjadi biaya langsung meliputi biaya atas P3K, pengobatan,
perawatan, biaya angkutan, upah selama tidak mampu bekerja,
kompensasi cacat, biaya atas kerusakan bahan, perlengkapan,
peralatan, mesin dan biaya tersembunyi meliputi segala sesuatu yang
tidak terlihat pada waktu dan beberapa waktu pasca kecelakaan
terjadi, seperti berhentinya operasi perusahaan oleh karena pekerja
lainnya menolong korban, biaya yang harus diperhitungkan untuk
mengganti orang yang ditimpa kecelakaan dan sedang sakit serta
berada dalam perawatan dengan orang baru yang belum biasa bekerja
pada pekerjaan di tempat terjadinya kecelakaan (Suma’mur, 2009).
18
BAB III
METODE PELAKSANAAN
19
a. Melakukan wawancara dengan pengurus Pabrik Teh Sosro.
3. Tahap Penyelesaian
a. Mengumpulkan semua data, mengolah, menganalisa dan
menyimpulkan.
b. Menyusun laporan hasil pengamatan dan pemeriksaan.
c. Mendapatkan ACC laporan hasil pengamatan dan pemeriksaan dari
pembimbing tugas pengenalan profesi.
20
BAB IV
HASIL DAN PEMBAHASAN
4.1 Hasil
Pada Tugas Pengenalan Profesi (TPP) Blok XXII tentang meninjau
sistem K3 (Keselamatan dan Kesehatan Kerja) di Pabrik Teh Sosro yang
dilaksanakan pada hari jumat, 19 Oktober 2018 di Pabrik Teh Botol Sosro
PT Sinar Sosro. PT Sinar Sosro telah memiliki 14 pabrik yang tersebar di
seluruh Indonesia, salah satunya yaitu Palembang yang hanya memproduksi
Fruitea dan teh botol sosro. Pabrik Teh Botol Sosro memiliki 76 karyawan.
Pada saat TPP, kelompok 1 berkesempatan untuk melihat langsung proses
produksi teh botol sosro botol kaca (RGB).
Pada PT. Sinar Sosro telah mengimplementasikan sistem K3 meskipun
tidak melakukan sertifikasi SMK3 (Sistem Manajemen K3). Pelaksanaan
sistem K3 bertujuan untuk meminimalisir kecelakaan kerja dan penyakit
akibat kerja pada karyawan pabrik. PT Sinar Sosro selalu mengutamakan
Keselamatan dan Kesehatan Kerja (K3) bagi karyawan maupun masyarakat
dilingkungan sekitar pabrik, sesuai dengan filosofi dari PT Sinar Sosro yaitu
niat baik yang dijabarkan dalam 3K dan RL. Arti dari 3K dan RL adalah
Peduli terhadap Kualitas, Keamanan, Kesehatan Produk serta Ramah
Lingkungan. Untuk memelihara sumber daya manusia, PT Sinar Sosro
selalu mewajibkan seluruh karyawannya untuk menggunakan alat pelindung
diri ketika melaksanakan pekerjaannya khususnya dibagian pabrik. Sistem
K3 di Pabrik Teh Botol Sosro dievaluasi tiap bulan. Pelaksanaan K3 diawasi
langsung oleh kepala dan supervisor tiap departemen.
PT Sinar Sosro juga memberikan pelatihan bagi karyawannya tentang
tanggap darurat ketika terjadi bencana atau kecelakaan saat sedang bekerja.
Pelatihan yang dilakukan yaitu tanggap darurat terhadap kebakaran, banjir dan
sabotase. Selain pelatihan, dilakukan juga simulasi tanggap darurat. Pelatihan
ini rutin dilaksanakan satu tahun sekali.
Untuk kesehatan karyawan, dilakukan, medical checkup secara periodik
untuk memastikan apakah ada karyawan yang sakit akibat penyakit kerja. PT
Sinar Sosro juga memberikan fasilitas lain, yaitu BPJS Kesehatan dan tenaga
21
kerja, seragam, kantin, musholla, ruang istirahat dan saranan olahraga.
pemberian para karyawan diberikan suplemen vitamin A tiap bulan. Para
karyawan PT Sinar Sosro bekerja selama 5 hari kerja yaitu senin hingga jumat
pada pukul 08.00 hingga 17.00, dengan waktu istirahat selama 1 jam.
Proses pembuatan teh botol sosro hanya menggunakan tiga bahan utama
yaitu air, jasmine tea dan gula. Air diambil dari kedalaman 150 m dibawah
tanah dan diolah di Water Treatment Plant (WTP). Terdapat 3 tangki
pencampuran, yaitu pencampuran air dan gula, pencampuran air dan jasmine
tea, dan pencamuran akhir yang terletak di satu ruangan. Pada ruangan ini
tingkat kebisingan hampir sama dengan ruangan pencucian dan pengisian teh
berkisar 60-70 dB, dengan suhu ruangan 35oC, ruangan juga dilengkapi
ventilasi udara dan penerangan yang mencukupi. Untuk bahaya radiasi, di area
pabrik PT. Sinar Sosro dapat dipastikan memiliki tingkat radiasi yang kecil
dan untuk ergonomi menyesuaikan kenyamanan masing-masing karyawan.
Proses pembuatan teh botol sosro dimulai dari pengumpulan botol-botol
kosong yang tersebar di beberapa kantor penjualan di area Sumbagsel Babel,
nantinya botol beserta crate akan disterilisasi, namun sebelumnya diletakkan
di mesin depalletizer kemudian botol-botol akan masuk ke area pabrik. Botol
dan crate akan dipisahkan dengan mesin de crater dan akan terjadi dua proses
pencucian yaitu crate akan dibersihkan di mesin crate washer dan botol akan
disterilisasi di mesin bottle washer. Sterilisasi botol dengan menggunakan
cairan caustic soda (NaOH) dengan air panas mengalir dengan suhu mulai dari
950C. kemudian botol akan berjalan ke mesin empty bottle inspection untuk
mensortir botol yang tidak layak digunakan lagi atau botol yang dibawah
standar. Kemudian ke mesin code printer untuk mencetak tanggal kadaluarsa
dan tutup botol yang telah disterilisasi kembali dengan UV Light. Setelah
botol siap dipakai akan menuju mesin filler, mesin ini dapat mengisi teh panas
ke dalam botol yang masih panas lalu langsung ditutup dalam hitungan detik
di mesin crowner. Dimana, dalam satu jam mesin ini dapat mengisi kurang
lebih 40000 botol. Saat keluar dari mesin kondisi teh masih sangat panas
dengan suhu sekitar 950C. Kemudian masuk lagi ke crate dengan mesin crater
dan berjalan secara otomatis ke mesin depalletizer. Teh yang telah siap akan
diinkubasi selama 3-4 hari di lab quality control untuk melihat kualitas mutu
22
secara fisika, kimia, microbiology test dan organoleptic. Jika pihak
laboratorium telah menyatakan aman untuk dikonsumsi, maka petugas akan
menempelkan stiker pass yang artinya produk sudah siap dipasarkan. Apabila
produk tidak lolos uji tes maka semua produk ditarik dan tidak akan
diperjualbelikan.
Pada proses pencucian hingga pengisian teh ke dalam botol dilakukan
dalam suatu ruangan besar. Untuk tingkat kebisingan berkisar 60-70 dB,
dengan suhu ruangan antara 30-35oC, bangunan dilengkapi dengan ventilasi
udara dibagian atap, dan penerangan pada bangunan mencukupi. Setiap 6
bulan sekali dilakukan pengecekan kondisi ruangan kerja, yaitu suhu,
kebisingan dan kualitas udara di dalam pabrik. Seluruh karyawan yang bekerja
ditempat ini dilengkapi dengan APD berupa sarung tangan, masker, hair cap,
dan sepatu. Khusus karyawan yang bekerja di wilayah dengan tingkat
kebisingan di atas ambang batas, yaitu setelah botol keluar dari mesin cuci,
diharuskan memakai earplug. Untuk sarung tangan dikhususkan kepada
karyawan yang ada aktivitasnya bersentuhan dengan panas. Para pekerja yang
berada diruangan melakukan pertukaran pekerjaan setiap 1 jam sekali untuk
menghindari kelelahan, terkhusus untuk petugas yang melakukan pengecekan
kelayakan teh botol yang harus melakukan pemilahan botol didepan layar
putih yang diberi penerangan lampu LED. Para karyawan yang bertugas juga
disediakan air minum pada setiap ruangan.
Untuk limbah terdapat dua jenis, yaitu limbah padat dan limbah cair.
Limbah padat dihasilkan dari ampas teh, kemudian ampas teh dikelola
kembali untuk dijadikan pupuk. Limbah cair diolah sendiri pada kolam
penampungan yang terletak dibelakang pabrik. Salah satunya yaitu kolam
oxidation, menggunakan mesin aerator dan menggunakan lumpur aktif. Air
limbah 75% dihasilkan dari pencucian botol di mesin bottle washer yang satu
jamnya bisa mencapai 5000 L. Air nantinya diproses secara anaerob
menggunakan mikrobia dengan lumpur aktif di bak kontrol yang satu bulan
sekali dilakukan pengecekan internal maupun eksternal. Hasil dari pengolahan
limbah cair akan digunakan untuk menyiram tanaman. Dan air yang berlebih
akan ditampung di tiga kolam retensi.
23
Di area pabrik PT Sinar Sosro telah dilengkapi dengan petunjuk jalur
evakuasi, kotak P3K dan tanda peringatan bahan mudah terbakar, reaktif dan
bahan berbahaya.
Program Keselamatan dan Kesehatan Kerja (K3) yang diterapkan oleh PT
Sinar Sosro sudah baik, hal ini dibuktikan dengan tidak adanya kecelakaan
kerja dan penyakit akibat kerja selama 5 (lima) tahun terakhir.
4.2 Pembahasan
4.2.1 Pelaksanaan Sistem Keselamatan dan Kesehatan Kerja (K3) di
Pabrik Teh Sosro.
PT. Sinar Sosro telah mengimplementasikan sistem K3
meskipun tidak melakukan sertifikasi SMK3 (Sistem Manajemen
K3). Dalam Permenaker RI. No. 05 tahun 1996 Pasal 3 Ayat 1 dan 2
tentang Sistem Manajemen Keselamatan dan Kesehatan Kerja
(SMK3) bahwa setiap perusahaan yang mempekerjakan tenaga kerja
sebanyak 100 orang atau lebih dan atau mengandung potensi bahaya
yang ditimbulkan oleh karakteristik proses atau bahan produksi yang
dapat mengakibatkan kecelakaan kerja seperti peledakan, kebakaran,
pencemaran lingkungan dan penyakit akibat kerja wajib menerapkan
SMK3.
Pelaksanaan sistem K3 bertujuan untuk meminimalisir
kecelakaan kerja dan penyakit akibat kerja pada karyawan pabrik.
PT Sinar Sosro selalu mengutamakan Keselamatan dan Kesehatan
Kerja (K3) bagi karyawan maupun masyarakat dilingkungan sekitar
pabrik, sesuai dengan filosofi dari PT Sinar Sosro yaitu niat baik
yang dijabarkan dalam 3K dan RL. Arti dari 3K dan RL adalah
Peduli terhadap Kualitas, Keamanan, Kesehatan Produk serta Ramah
Lingkungan. Untuk memelihara sumber daya manusia, PT Sinar
Sosro selalu mewajibkan seluruh karyawannya untuk menggunakan
alat pelindung diri ketika melaksanakan pekerjaannya khususnya
dibagian pabrik. Program Keselamatan dan Kesehatan Kerja (K3)
yang diterapkan oleh PT Sinar Sosro sudah baik, hal ini dibuktikan
dengan tidak adanya kecelakaan kerja dan penyakit akibat kerja
selama 5 (lima) tahun terakhir.
24
4.2.2 Tujuan dan sasaran dari Sistem Keselamatan dan Kesehatan
Kerja (SMK3) di Pabrik Teh Sosro
Tujuan dari pelaksanaan K3 pada PT. Sinar sosro adalah untuk
meminimalisir kecelakaan kerja dan penyakit akibat kerja. Hal ini
sesuai dengan tujuan utama penerapan sistem K3 menurut Undang-
Undang Nomor 1 Tahun 1970 yaitu melindungi dan menanggung
keselamatan setiap tenaga kerja dan orang lain ditempat kerja,
menanggung setiap sumber produksi dapat dipakai dengan cara aman
dan efektif dan tingkatkan kesejahteraan dan produktivitas Nasional.
25
kerja. Telah dilakukan tindakan pencegahan berupa menggunakan
alat pelindung diri berupa ear plug, meskipun hanya diberikan
kepada beberapa pekerja yang bekerja didekat mesin.
Pencahayaan pada pabrik menyesuaikan dengan kenyamanan
pekerja.
Untuk faktor lain seperti radiasi pada pabrik PT. Sinar sosro
sangat kecil.
b. Alat kerja dan bahan
Pada proses pembuatan teh botol sosro, tiga bahan utama
yang digunakan yaitu air, jasmine tea dan gula. Alat yang
digunakan pada proses produksi yaitu tangki untuk pembuatan teh,
de crater, crater washer, bottle washer, light inspection, filler dan
crowner.
Alat kerja dan bahan merupakan suatu hal yang pokok
dibutuhkan oleh perusahaan untuk memproduksi barang. Dalam
memproduksi barang, alat-alat kerja sangatlah vital yang
digunakan oleh para pekerja dalam melakukan kegiatan proses
produksi dan disamping itu adalah bahan-bahan utama yang akan
dijadikan barang.
26
4.2.4 Faktor-Faktor yang mempengaruhi Keselamatan dan Kesehatan
Kerja (K3) di Pabrik Teh Sosro.
Faktor- faktor yang paling mempengruhi pada pelaksanaan K3
di parik PT. Sinar sosro palembang adalah faktor mental psikologis.
Dimana, sebelum bekerja seluruh tenaga kerja sudah dilakukan
pelatihan tentang K3. Setiap tahunnya diadakan pelatihan dan simulasi
tanggap darurat jika terjadi bencana atau kecelakaan kerja. Sehingga,
para karyawan dapat mengikuti sistem K3 tersebut. Pelaksanaan K3
diawasi langsung oleh kepala dan supervisor tiap departemen.
Menurut Budiono dkk (2016), faktor-faktor yang mempengaruhi
Keselamatan dan Kesehatan Kerja (K3) antara lain Beban kerja berupa
beban fisik, mental dan sosial, sehingga upaya penempatan pekerja
yang sesuai dengan kemampuannya perlu diperhatikan; Kapasitas
kerja tergantung pada pendidikan, keterampilan, kesegaran jasmani,
ukuran tubuh, keadaan gizi dan sebagainya; dan Lingkungan kerja
berupa faktor fisik, kimia, biologik, ergonomik, maupun psikososial.
BAB V
KESIMPULAN DAN SARAN
5.1 Kesimpulan
1. PT Sinar Sosro telah mengimplementasikan sistem K3 meskipun tidak
melakukan sertifikasi SMK3 (Sistem Manajemen K3). Program
Keselamatan dan Kesehatan Kerja (K3) yang diterapkan oleh PT Sinar
Sosro sudah baik, hal ini dibuktikan dengan tidak adanya kecelakaan
kerja dan penyakit akibat kerja selama 5 (lima) tahun terakhir.
2. Tujuan dari K3 dan SMK3 di PT. Sinar Sosro adalah untuk
meminimalisir tenaga kerja dari kecelakaan kerja dan penyakit akibat
kerja.
3. Aspek-aspek Keselamatan dan Kesehatan Kerja (K3) meliputi
lingkungan kerja, alat kerja dan bahan dan cara melakukan pekerjaan.
4. Faktor- faktor yang paling mempengruhi pada pelaksanaan K3 di parik
PT. Sinar sosro palembang adalah faktor mental psikologis. Dimana
27
seluruh tenaga kerja sudah dilakukan pelatihan tentang K3 sehingga
mereka mengerti akan pentingnya K3.
5.2 Saran
Saran yang dapat diberikan adalah sebagai berikut:
1. Bagi PT. Sinar Sosro Palembang
Untuk lebih meningkatkan lagi sistem Keselamatan dan Kesehatan
Kerja (K3) sehingga karyawan yang terjamin Kesehatan dan
Keselamatan Kerja (K3) akan bekerja lebih optimal karena aktivitas
pekerjaan mereka yang cukup lancar, dan ini akan berdampak pada
produk yang dihasilkan. Sehingga hal ini akan dapat meningkatkan
kualitas produk dan jasa yang dihasilkan.
2. Bagi Mahasiswa
Harus memaksimalkan sarana dan alat dalam memperoleh
pengetahuan dan pengalaman khususnya segala hal yang berkaitan
tentang sistem Keselamatan dan Kesehatan Kerja (K3).
28
DAFTAR PUSTAKA
Budiono, dkk. 2016. Bunga Rampai Hiperkes & KK. Semarang: Badan Penerbit
Universitas Diponegoro.
Geotsch, D.L. 2011. Occupational and Heallth for Technologist, Engineers, and
Manager. New Jersey: Person Prentice Hill.
Jeyaratnam, J. 2010. Buku Ajar Praktik Kedokteran Kerja. Jakarta: EGC. Hal 84.
29
Simanjuntak, P.J. 2011. Manajemen Evaluasi Kinerja. Jakarta: UI.
Suma’mur P.K. 2009. Hygene perusahaan dan kesehatan kerja. Jakarta: Gunung
Agung.
30
LAMPIRAN
31
32
Gambar 2. Foto Bersama
33