0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
11 tayangan107 halaman

Depresi dan Kualitas Hidup DM Tipe 2

Proposal ini membahas hubungan antara tingkat depresi dengan kualitas hidup pada penderita diabetes melitus tipe 2 di Puskesmas Kelir tahun 2020. Penelitian ini akan menggunakan desain korelasional untuk mengetahui ada tidaknya hubungan dan arah hubungan antara tingkat depresi dan kualitas hidup penderita diabetes melitus tipe 2.

Diunggah oleh

Uki Sandi
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOC, PDF, TXT atau baca online di Scribd
0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
11 tayangan107 halaman

Depresi dan Kualitas Hidup DM Tipe 2

Proposal ini membahas hubungan antara tingkat depresi dengan kualitas hidup pada penderita diabetes melitus tipe 2 di Puskesmas Kelir tahun 2020. Penelitian ini akan menggunakan desain korelasional untuk mengetahui ada tidaknya hubungan dan arah hubungan antara tingkat depresi dan kualitas hidup penderita diabetes melitus tipe 2.

Diunggah oleh

Uki Sandi
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOC, PDF, TXT atau baca online di Scribd

PROPOSAL

HUBUNGAN TINGKAT DEPRESI DENGAN KUALITAS HIDUP

PADA PENDERITA DIABETES MELITUS TIPE 2

DI PUSKESMAS KELIR

TAHUN 2020

OLEH :

Nama : AHMAD SAIFUDDIN


NIM : 2016.02.002

PROGRAM STUDI S1 KEPERAWATAN

SEKOLAH TINGGI ILMU KESEHATAN BANYUWANGI

BANYUWANGI

2020

PROPOSAL
HUBUNGAN TINGKAT DEPRESI DENGAN KUALITAS HIDUP

PADA PENDERITA DIABETES MELITUS TIPE 2

DI PUSKESMAS KELIR

TAHUN 2020

OLEH :

Nama : AHMAD SAIFUDDIN


NIM : 2016.02.002

PROGRAM STUDI S1 KEPERAWATAN

SEKOLAH TINGGI ILMU KESEHATAN BANYUWANGI

BANYUWANGI

2020
PERNYATAAN TENTANG ORISINALITAS

Proposal skripsi ini adalah hasil karya tulis ilmiah saya sendiri, dan saya tidak

melakukan kegiatan plagiat dalam penulisan proposal skripsi saya yang berjudul

HUBUNGAN TINGKAT DEPRESI DENGAN KUALITAS HIDUP PADA

PENDERITA DM TIPE II DI PUSKESMAS KELIR TAHUN 2020

Apabila saat saya nanti terbukti melakukan tindakan plagiat, maka saya akan

menerima sanksi yang telah ditetapkan.

Demikian surat pernyataan ini saya buat dengan sebenar benarnya.

Banyuwangi, Januari 2020


Yang membuat pernyataan

Ahmad saifuddin
Nim. 2016.02.002

ii
LEMBAR PERSETUJUAN

Proposal Skripsi Dengan Judul :


Hubungan Tingkat Depresi Dengan Kualitas Hidup Pada Penderita DM Tipe
2 Di Puskesmas Kelir Tahun 2020
Diajukan Oleh :
Ahmad Saifuddin
NIM: 2016.02.002

Proposal skripsi telah disetujui


pada tanggal, Januari 2020

Oleh
Pembimbing I

DR. H. Soekardjo
NUP. 9907159603
Pembimbing II

Ns. Achmad Efendi. S,Kep


NIK:06.082.0913

Mengetahui,
Ketua Program Studi S1 Keperawatan

Ns. Anita Dwi Ariyani, S. Kep., M. Kep.


NIK: 0725118502

iii
LEMBAR PENGESAHAN PENGUJI PROPOSAL SKRIPSI

Proposal Skripsi Dengan Judul

Hubungan Tingkat Depresi Dengan Kualitas Hidup pada Penderita DM tipe2 di


Puskesmas Kelir Kabupaten Banyuwangi Tahun 2020

Diajukan Oleh :

Nama : Ahmad saifuddin

Nim : 201602002

Telah Diuji Dihadapan Tim Penguji pada

Program Studi S1 Keperawatan Sekolah Tinggi Ilmu Kesehatan Banyuwangi

Pada Tanggal :………………………

TIM PENGUJI
(……………..)
Penguji I : Ns. Ninis Indriani, [Link].,[Link].,[Link].

Penguji II : Ns. Annisa Nur Nazmi,[Link].,[Link] (……………..)

Penguji III : Dr. H. Soekardjo (………..……)

Mengetahui,

Ketua

Sekolah Tinggi Ilmu Kesehatan Banyuwangi

DR. H. Soekardjo

NUPN. 9907159603

iv
KATA PENGANTAR

Assalamualaikum [Link].

Puji syukur kehadirat Allah SWT atas segala rahmat taufiq dan hidayah-

Nya, sehingga penulis dapat menyelesaikan proposal yang berjudul “Hubungan

Tingkat Depresi Dengan Kualitas Hidup Penderita Diabetes Mellitus Tipe

2”. Proposal ini merupakan salah satu syarat untuk memperoleh gelar Sarjana

Keperawatan ([Link]) pada program studi S1 Keperawatan STIKes Banyuwangi.

Bersama ini perkenankanlah saya mengucapkan terimakasih yang sebesar-

besarnya dengan hati yang tulus kepada :

1. Ns. Anita Dwi Ariyani, [Link]., [Link], selaku Ketua Program Studi S1

Keperawatan yang telah memberikan kesempatan dan dorongan kepada

saya untuk menyelesaikan Program Studi S1 Keperawatan.

2. Ns. Masroni, [Link].,Ns.,M.S.(in Nursing) , selaku PJMK Proposal dan

Skripsi.

3. DR. H. Soekardjo selaku dosen pembimbing I dalam Penelitian dan

Penyusunan Proposal yang telah memberikan bimbingan kepada penulis

sehingga dapat menyelesaikan proposal ini.

4. Ns. Achmad efendi , [Link]. selaku dosen pembimbing II dalam Penelitian

dan Penyusunan Proposal yang telah memberikan bimbingan kepada

penulis sehingga dapat menyelesaikan proposal ini.

5. Kepada kedua orang tua saya yaitu Bp. Suwito dan Ibu fatimah dan ketiga

kakak saya serta keluarga yang telah memberikan dukungan baik segi

moril maupun materil.

v
6. Kepada rekan-rekan S1 Keperawatan 4A yang turut memberikan semangat

dan dukungan dalam menyelesaikan tugas proposal ini.

Semoga Allah SWT membalas budi baik pihak yang telah memberikan

kesempatan, dukungan, dan bantuan dalam menyelesaikan proposal ini, saya

penulis menyadari bahwa proposal ini jauh dari sempurna, tetapi saya berharap

proposal ini dapat bermanfaat bagi pembaca dan bagi keperawatan

Banyuwangi, November 2019

Penulis

vi
DAFTAR ISI

Halaman Judul................................................................................................ i
Lembar Pernyataan tentang orisinilitas....................................................... ii
Lembar Persetujuan....................................................................................... iii
Lembar Pengesahan Panitia Penguji............................................................ iv
Kata pengantar............................................................................................... v
Daftar Isi.......................................................................................................... vii
Daftar Tabel..................................................................................................... x
Daftar Bagan................................................................................................... xi
Daftar Lampiran............................................................................................. xii
Daftar Singkatan............................................................................................. xiii
Daftar lambang............................................................................................... xiv
BAB 1 PENDAHULUAN............................................................................
1.1 Latar Belakang............................................................................ 1
1.2 Rumusan Masalah....................................................................... 6
1.3 Tujuan Penelitian........................................................................ 6
1.4 Manfaat Penelitian...................................................................... 6
BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA...................................................................
2.1 Konsep Dasar Diabetes Mellitus............................................. 8
2.1.1 Definisi Diabetes Mellitus.............................................. 8
2.1.2 Klasifikasi Diabetes Mellitus......................................... 9
2.1.3 Etiologi........................................................................... 10
2.1.4 Manifestasi Klinis........................................................... 13
2.1.5 Faktor Risiko.................................................................. 15
2.1.6 Patofisiologi.................................................................... 17
2.1.7 Diagnosis........................................................................ 18
2.1.8 Dampak Diabetes Mellitus Tipe 2.................................. 21
2.1.9 Penatalaksanaan.............................................................. 22
2.1.10 Pemeriksaan penunjang.................................................. 24
2.2 Konsep Depresi........................................................................ 25
2.2.1 Definisi Depresi.............................................................. 25
vii
2.2.2 Klasifikasi Depresi......................................................... 27
2.2.3 Etiologi Depresi.............................................................. 29
2.2.4 Faktor Faktor yang mempengeruhi Depresi................... 31
2.2.5 Gejala Gejala Depresi..................................................... 32
2.2.6 Tingkatan Depresi.......................................................... 33
2.2.7 Pencegahan Depresi....................................................... 35
2.2.8 Upaya penanggulangan Depresi..................................... 37
2.2.9 Pengukuran Tingkat Depresi ......................................... 38
2.3 Konsep Kualitas Hidup........................................................... 42
2.3.1 Definisi Kualitas Hidup.................................................. 42
2.3.2 FaktorYang Mempengaruhi Kualitas Hidup................... 43
2.3.3 Aspek Aspek Kualitas Hidup.......................................... 45
2.3.4 Indikator Kualitas Hidup................................................ 46
2.4 Hubungan Tingkat Depresi Dengan Kualitas Hidup....... 47
2.5 Analisa sintesis jurnal ..................................................... 49
BAB 3 KERANGKA KONSEPTUAL DAN HIPOTESIS PENELITIAN.
3.1 Kerangka Konseptual................................................................. 59
3.2 Hipotesis Penelitian................................................................... 60
BAB 4 METODE PENELITIAN................................................................ 61
4.1 Jenis dan Desain Penelitian..................................................... 61
4.1.1 Jenis Penelitian................................................................ 61
4.1.2 Desain Penelitian............................................................. 61
4.2 Kerangka Kerja....................................................................... 63
4.3 Populasi, Teknik sampling Dan Sampel................................ 64
4.3.1 Populasi Penelitian......................................................... 64
4.3.2 Tekhnik sampling........................................................... 64
4.3.3 Sampel............................................................................ 64
4.4 Identifikasi Variabel................................................................ 67
4.4.1 Variabel Independen....................................................... 67
4.4.2 Variabel Dependen.......................................................... 67
4.5 Definisi Operasional................................................................ 68

viii
4.6 Instrumen Penelitian............................................................... 69
4.6.1 Instrumen Tingkat depresi.............................................. 69
4.6.2 Insrtumen Kualitas Hidup............................................... 69
4.7 Lokasi Dan Waktu Penelitian................................................. 70
4.7.1 Lokasi Penelitian............................................................ 70
4.7.2 Waktu Penelitian............................................................. 70
4.8 Pengumpulan atau Proses Pengambilan Data...................... 70
4.8.1 Pengumpulan Data.......................................................... 70
4.8.2 Proses Pengambilan Data............................................... 70
4.9 Analisa Data ............................................................................ 71
4.9.1 Analisa Data.................................................................... 71
4.10 Etika Penelitian....................................................................... 73
4.8.1 Informed Consent (Lembar persetujuan)......................... 73
4.8.2 Anonimity ( Tanpa Nama )................................................ 74
4.8.3 Confidentiality ( Kerahasiaan)......................................... 74
4.8.4 Justice ( Keadilan )........................................................... 74
4.8.5 Non Malefisience ( Tidak merugikan )............................. 75
4.8.6 Respect For respon .......................................................... 75
4.8.7 Beneficience ( memanfaatkan manfaat ).......................... 75
DAFTAR PUSTAKA
LAMPIRAN

ix
DAFTAR TABEL

Tabel 2.1 Diagnose diabetes mellitus


Tabel 2.2 Kadar gula normal
Tabel 2.3 Skor Depression Anxiety Stress Scale 42 (DASS 42)
Tabel 2.4 Analisis Tabel sintesis
Tabel 4.1 Definisi Operasional : Hubungan Tingkat Depresi dengan Kualitas
Hidup Pada Penderita Diabetes Mellitus Tipe 2 Di Wilayah Kerja
Puskesmas Kelir Tahun 2019

DAFTAR BAGAN

Bagan 3.1 Kerangka Konseptual : Hubungan Tingkat Depresi Dengan Kualitas Hidup

x
Pada Penderita Diabetes Mellitus Tipe 2 Di Wilayah Kerja Puskesmas
Kelir Tahun 2020....................................................................................
Bagan 4.1 Kerangka Kerja : Hubungan Tingkat Depresi Dengan Kualitas Hidup
Pada Penderita Diabetes Mellitus Tipe 2 Di Wilayah Kerja Puskesmas
Kelir Tahun 2020...................................................................................

DAFTAR LAMPIRAN

Lampiran 1 Matriks Rencana Kegiatan


xi
Lampiran 2 Persetujuan Pengajuan Judul Skripsi PPPM STIKes Banyuwangi

Lampiran 3 Surat Permohonan Data Awal Puskesmas Kelir Banyuwangi

Lampiran 4 Surat Permohonan Data Awal DINKES Banyuwangi

Lampiran 5 Surat Pemberian Ijin Pengambilan Data Awal Puskesmas Kelir,

Kepala Puskesmas

Lampiran 6 Surat Balasan Data Awal Dinkes Banyuwangi

Lampiran 7 Surat Permohonan Menjadi Responden

Lampiran 8 Lembar Persetujuan Menjadi Responden (informed consent)

Lampiran 9 kuesioner Data demografi

Lampiran 10 Kuesioner Depresi dan kualitas hidup

Lampiran 11 Lembar Konsultasi

xii
DAFTAR SINGKATAN

ADA = American Diabetes Association

IDF = International Diabetes Federation

WHO = World Health Organization

DASS = Depression Anxiety Stress Scale

DM = Diabetes Mellitus

KAD = Ketoasidosis Diabetik

OAD = Obat Anti Diabetik

PERKENI = Perkumpulan Endokrinologi Indonesia

SPSS = Statistic Programme for Social Scient

xiii
DAFTAR LAMBANG

≤ = Kurang dari sama dengan

≥ = Lebih dari sama dengan

< = Kurang dari

> = Lebih dari

± = Kurang lebih

x = Kali

= = Sama dengan

- = Kurang atau hingga

() = Dalam Kurung

α = Alfa

xiv
xv
1

BAB 1

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang


Diabetes mellitus adalah salah satu penyakit tidak menular (PTM) yang

merupakan masalah kesehatan masyarakat yang cukup besar di indonesia

pada saat ini (Prihatin & M, 2015). DM terbagi menjadi DM tipe 1 dan tipe

2 , DM tipe 2 dipengaruhi oleh faktor genetik dan lingkungan seperti

makanan dengan kadar glukosa tinggi yang di konsumsi secara berlebihan

dan terus menerus sehingga terjadi gangguan metabolisme glukosa dalam

tubuh, dan didukung dengan adanya riwayat keluarga yang menderita DM

tipe 2 ini terjadi pada usia dewasa dan usia lanjut dan dapat mengakibatkan

komplikasi berbagai penyakit sehingga menimbulkan keparahan ataupun

dampak psikologis (Guyton& Hall,2007). Penelitian menunjukkan pasien

penderita diabetes melitus tipe 2 memiliki resiko lebih besar untuk depresi di

bandingkan dengan individu tanpa DM (ADA, 2014). Rumitnya pengobatan

dan mahalnya biaya perawatan menjadikan stresor tersendiri bagi pasien DM,

selain itu, adanya berbagai komplikasi yang dapat mempengaruhi kondisi

pasien seperti neuropati, hipertensi, jantung koroner, retinopati, nefropati

(Perkeni,2015). sehingga hal ini dapat mengakibatkan reaksi psikologis yang

negatif, sehingga menyebabkan penderita merasa putus asa dan tidak dapat

menerima keadaanya sehingga akan mempengaruhi kualitas hidup penderita

(Rehman & Kazmi,2015).


Menurut world organization (WHO), apabila tidak ditangani dengan baik,

angka kejadian diabetes melitus di indonesia akan meningkat menjadi 21,3

juta jiwa pada 2030 (Depkes RI,2018). American diabetes association 2017

(ADA) pada tahun 2017 prevalensi DM di dunia mencapai 424,9 juta jiwa
2

pada orang dewasa (20-79 th) dan diperkirakan akan mencapai 628,6 juta

jiwa pada tahun 2045 (American Diabetes Association,2017). Tahun 2017

menunjukkan bahwa negara indonesia menduduki peringkat ke-6 dunia

dengan jumlah diabetes melitus sebanyak 10,3 juta jiwa (Depkes RI, 2018).

Prevalensi DM di indonesia pada 2013 yakni sebanyak 6,9% sedangkan pada

tahun 2018 mengalami kenaikan sebanyak 8,5% (Riset kesehatan

Dasar(RISKESDAS), 2018). Data dinas kesehatan provinsi jawa timur 2015,

berdasarkan urutan lima penyakit terbanyak pada pasien rawat jalan yang

berada dirumah sakit tipe B, diabetes melitus menduduki peringkat kedua

yaitu sebanyak 102.399 dan pasien rawat inap diabetes melitus menduduki

peringkat pertama untuk penyakit tidak menular yang dirawat di instalasi

rawat jalan yaitu sebesar 8.370 (Aquarius,2017). Berdasarkan data dinas

kesehatan banyuwangi tahun 2018 didapatkan jumlah penderita DM berada di

wilayah kerja puskesmas kelir sebesar 1300 penderita (Dinkes

Banyuwangi,2018). Berdasarkan data puskesmas kelir bulan November 2019

di dapatkan penderita DM tipe 2 sebanyak 54 orang yang terdiri dari 14 laki-

laki (30%) dan 40 perempuan (70%) (Data puskesmas kelir,2019).

Berdasarkan studi pendahuluan yang di lakukan diwilayah kerja puskesmas

kelir di dapatkan data dari 10 responden 6 (60%) responden memiliki tingkat

depresi ringan dan kualitas hidupnya sedang, sedangkan 3 (30%) responden

lainya depresi sedang dan memliki kualitas hidup buruk sedangkan untuk 1

(10%) responden tidak mengalami depresi dan memiliki kualitas hidup baik.

Menurut piette American Journal of Managed Care (2010), depresi pada

penderita diabetes dua kali lebih banyak di antara penduduk umumnya,

dengan 15% sampai 30% dari pasien diabetes yang memenuhi kriteria
3

depresi, depresi di temukan pada kelompok diabetes , dalam studi terbaru

oleh Khuwaja et al,(2013) menunjukkan bahwa 43,5% pasien yang

mengunjungi klinik diabetes menderita depresi. Penelitian akhir-akhir ini

menemukan bahwa penderita diabetes terutama yang mengalami komplikasi,

mempunyai resiko depresi 3 kali lipat di bandingkan masyarakat umum.

Komplikasi diabetes bisa menyebabkan Kualitas hidup menjadi lebih buruk

sehingga menimbulkan kesedihan yang berkepenjangan (Soegondo,2009).


Diabetes Mellitus yang tidak ditangani dengan baik dan tepat dapat

menyebabkan berbagai macam komplikasi pada organ tubuh seperti mata,

jantung, ginjal, pembuluh darah dan saraf yang akan membahayakan jiwa dari

penderita diabetes. Banyaknya komplikasi yang mengiringi penyakit DM

telah memberikan kontribusi terjadinya perubahan fisik psikologis maupun

sosial, salah satu perubahan psikologis yang paling sering terjadi adalah

kejadian depresi pada pasien DM (Rhami,2016). Komplikasi yang didapat

pada seseorang karena lamanya diabetes mellitus yang diderita menimbulkan

sifat akut maupun kronis. Komplikasi akut timbul saat terjadi penurunan atau

peningkatan kadar glukosa darah secara tiba-tiba sedangkan komplikasi

kronis muncul dengan efek peningkatan kadar glukosa darah dalam jangka

waktu lama (Schteingart, 2015). Penyakit diabetes memiliki dampak negatif

terhadap fisik maupun psikologis, gangguan fisik yang terjadi seperti poliuria,

polidipsia, polifagia, mengeluh lelah dan mengantuk (Price & Wilson, 2015).
Dampak psikologis yang terjadi pada pasien dengan Diabetes seperti

kecemasan, kemarahan, berduka, malu, depresi, hilang harapan. (Potter &

Perry, 2014). Depresi merupakan salah satu masalah terbesar gangguan

psikologis pada pasien DM tipe 2 dengan prevalensi 24% hingga 30%.

Depresi pada DM tipe 2 juga sangat berhubungan dengan ketidakmampuan


4

mengontrol glikemik, meningkatkan komplikasi, menurunkan fungsi fisik dan

fungsi fikiran, serta meningkatkan biaya kesehatan (Starkstein, 2014).

Penyebab terjadinya depresi dapat di karenakan misalnya kurangnya motivasi

yang di berikan keluarga dan bisa juga di sebabkan rasa khawatir yang

berlebihan akan terjadinya komplikasi sehingga lama kelamaan akan

mengakibatkan terjadinya depresi. Pasien diabetes mellitus yang terkena

depresi pasti akan terganggu dengan diit yang telah diberikan, sehingga akan

menimbulkan kadar gula darah meningkat dan tidak terkontrol kalau terjadi

kadar gula tidak terkontrol dan ini akan mempengaruhi kualitas hidupnya

(Shahab,2010). Pasien yang menderita penyakit DM yang menjalani terapi

pengobatan dapat mempengaruhi kapasitas fungsional, psikologis dan

kesehatan sosial serta mempengaruhi kesejahteraannya yang didefinisikan

sebagai kualitas hidup atau quality of life (QoL) (Wimpie, 2007). Quality of

Life adalah kondisi dimana pasien yang menderita penyakit yang sedang

dideritanya dapat tetap merasa nyaman secara fisik, psikologis, sosial maupun

spiritual serta secara optimal memanfaatkan hidupnya untuk kebahagiaan

dirinya maupun orang lain. setiap penyandang DM umumnya akan

mengalami perasaan cemas yang berkepanjangan dan perasaan cemas

tersebut akan berdampak muncunya gangguan psikologis ,gangguan ini akan

berlanjut menjadi depresi yang akan memperberat keadaan sakitnya (Suhud,

2009).
Depresi dapat dengan cara mengubah cara kita bereaksi pada suatu

keadaan. Mengurangi depresi dapat di lakukan dengan berbagai macam cara

seperti olahraga secara teratur dan melakukan relaksasi dan melakukan

manajemen depresi dalam bentuk tindakan nyata untuk mencegah


5

kekambuhan Diabetes mellitus. Manajemen depresi sendiri berfungsi untuk

membuka pikiran yang positif dan mengurangi tingkat depresi yang di alami

oleh seseorang (Prabowo, 2013). Manajemen depresi dapat dilakukan dengan

perubahan pola makan seperti mengurangi jumlah gula pada makanan untuk

menghindari lonjakan kadar gula darah yang menyebabkan perubahan mood

yang cepat dan memperburuk gejala depresi. Manajemen depresi yang lain

yaitu dengan melakukan meminum obat secara teratur, olahraga, dan

beristirahat yang cukup sehingga kualitas hidup mereka bisa tergolong baik

dan tidak memperburuk kualitas hidup mereka (Shilpi, 2014).


Berdasarkan uraian di atas maka peneliti tertarik untuk mengambil judul

“Hubungan Tingkat Depresi Dengan Kualitas Hidup Pada Penderita Diabetes

Mellitus Tipe 2 Di Wilayah Kerja Puskesmas kelir Tahum 2020”


1.2 Rumusan Masalah
Berdasarkan uraian pada latar belakang yang telah di paparkan maka

masalah yang dapat di rumuskan “Adakah hubungan tingkat depresi dengan

kualitas hidup penderita dengan diabetes mellitus tipe 2 di puskesmas kelir

tahun 2020” ?
1.3 Tujuan
1.3.1 Tujuan Umum
Diketahuinya hubungan tingkat depresi dengan kualitas hidup

penderita dengan diabetes mellitus tipe 2 di puskesmas kelir

banyuwangi tahun 2020 ?


1.3.2 Tujuan Khusus
1. Teridentifikasinya tingkat depresi pasien di puskesmas kelir

banyuwangi tahun 2020.


2. Teridentifikasinya kualitas hidup pasien di puskesmas kelir banyuwangi

tahun 2020.
3. Teranalisisnya hubungan tingkat depresi dengan kualitas hidup pasien

di puskesmas kelir banyuwangi 2020.


1.4 Manfaat
1.4.1 Manfaat Teoritis
6

Hasil penelitian ini diharapkan dapat memberikan

wawasan/informasi yang menyangkut tentang “Hubungan Tingkat

depresi dengan kualitas hidup penderita diabetes mellitus di puskesmas

kelir .
1.4.2 Manfaat Praktis
1. Manfaat Bagi Responden
Hasil penelitian ini diharapkan dapat digunakan oleh

responden sebagai sumber informasi bagi penderita diabetes

mellitus tipe 2 supaya menghindari depresi sebagai upaya

pengontrolan gula darah dan tidak memperburuk kualitas hidup

mereka .
2. Manfaat Bagi Peneliti Selanjutnya
Hasil penelitian ini dapat di kembangkan dan dianalisa lebih

jauh oleh peneliti selanjutnya. Selain itu dapat digunakan sebagai

masukan dan informasi dalam pengendalian depresi dan kualitas

hidup pada pasien diabetes mellitus untuk di jadikan pertimbangan

dalam penelitian selanjutnya.


3. Manfaat Bagi institusi pendidikan
Sebagai acuan dalam pembelajaran penyakit diabetes mellitus

khususnya tentang hubungan tingkat depresi dengan kualitas hidup

pada pasien diabetes mellitus.


4. Manfaat Bagi Tempat Penelitian
Dapat memperoleh informasi dan mengidentifikasi masalah

yang mempengaruhi tingkat depresi pasien DM khusunya pada

kualitas hidup mereka dan meningkatkan pelayanan kesehatan pada

pasien DM .
7

BAB 2
TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Konsep Dasar Diabetes Melitus


2.1.1 Definisi Diabetes Melitus
Diabetes Melitus adalah penyakit yang ditandai dengan

terjadinya hiperglikemia dan gangguan metabolisme karbohidrat,

lemak, dan protein yang dihubungkan dengan kekurangan secara

absolut atau relatif dari kerja dan atau sekresi insulin (Rizky, Rozalina,

& Handini, 2019). Diabetes Melitus adalah suatu penyakit metabolik

dengan karakteristik yaitu tingginya kadar gula dalam darah yang

umumnya terjadi karena kelainan sekresi insulin yang di sebabkan

hormon insulin tidak mencukupi sehingga tidak dapat bekerja secara

optimal dalam mengatur kadar glukosa dalam darah (Fatimah, 2015).


Menurut American Diabetes Association (ADA) tahun

2010, Diabetes mellitus merupakan suatu kelompok penyakit

metabolik dengan karakteristik hiperglikemia yang terjadi karena

kelainan sekresi insulin, kerja insulin , atau kedua-duanya. Lebih dari

90% semua populasi Diabetes Mellitus adalah Diabetes Mellitus tipe 2

yang di tandai dengan penurunan sekresi insulin karena berkurangnya

fungsi sel beta pankreas secara progesif yang di sebabkan oleh

resistensi insulin.

2.1.2 Klasifikasi
8

Menurut American Diabetes Association (ADA, 2017)

diabetes mellitus di klasifikasikan sebagai berikut:


1. Diabetes mellitus tipe 1
Diabetes tipe 1 terjadi karena adanya destruksi atau kerusakan

sel beta pankreas karena sebab auto imun. pada DM tipe ini

terdapat sedikit atau tidak sama sekali sekresi insulin (defisiensi

insulin absolute).
2. Diabetes mellitus tipe 2
Hasil dari gangguan sekresi insulin yang progresif atau

bertahap yang menjadi latar belakang terjadinya resistensi insulin.


3. Diabetes mellitus gestasional
Diabetes tipe ini terjadi selama masa kehamilan, dimana

intoleransi glukosa di dapati pertama kali pada masa kehamilan

biasanya pada trimester kedua dan ketiga. DM gestasional

merupakan klasifiaksi yang tidak jelas nyata sebagai diabetes.


4. Diabetes mellitus tipe spesifik lain
DM tipe ini terjadi karena etiologi lain ,misalnya sindrom

diabetes monogenic (seperti diabetes neonatal dan diabetes awitan

dewasa muda), penyakit eksokrin pancreas (seperti cystic fibrosis),

dan yang di picu oleh obat atau bahan kimia (seperti penggunaan

glukortikoid, dalam pengobatan HIV/AIDS atau setelah

transplantasi organ).

2.1.3 Etiologi
Penyebab penyakit diabetes tergantung pada jenis diabetes

yang di derita. ada 2 jenis diabetes yang umum di derita banyak orang

yaitu diabetes tipe 1 dan diabetes tipe 2. Perbedaanya adalah jika

diabetes tipe 1 karena masalah fungsi organ pancreas tidak dapat

menghasilkan insulin, sedangkan diabetes tipe 2 karena masalah

insulin yang kurang bukan karena pancreas tidak berfungsi dengan


9

baik dan juga ada diabetes gestasional atau diabetes kehamilan

penyebab diabetes ini berhubungan dengan kebutuhan energi dan

kadar estrogen yang meningkat serta tingginya hormon pertumbuhan

yang terjadi selama kehamilan.


1. Penyebab diabetes tipe 1
Pada diabetes tipe1 pancreas tidak dapat menghasilkan

cukup [Link] adalah penyebab pancreas tidak dapat

menghasilkan cukup insulin pada penderita diabetes tipe 1 :


1. Faktor keturunan
Jika salah satu orang tua atau keduanya menderita diabetes,

maka anak akan beresiko terkena diabetes.


2. Auto imunitas
Merupakan tubuh alergi terhadap salah satu jaringan atau

jenis selnya sendiri (yang ada di dalam pancreas). Tubuh

kehilangan kemampuan untuk membentuk insulin karena

system kekebalan tubuh menghancurkan sel-sel yang

memproduksi insulin.

3. Virus atau zat kimia


Adanya virus atau zat kimia yang menyebabkan kerusakan

pada kelompok- kelompok sel dalam pancreas tempat insulindi

buat, semakin banyak kelompok sel yang rusak , semakin besar

kemungkinan seseorang menderita diabetes.


2. Penyebab diabetes tipe 2
Terjadinya diabetes tipe 2 ini di karenakan insulin yang

dihasilkan oleh pancreas tidak mencukupi untuk mengikat gula

yang ada dalam darah akibat pola makan atau gaya hidup yang

tidak sehat. Berikut adalah beberapa penyebab utama diabetes

mellitus tipe 2.
1. Faktor keturunan, apabila orang tua atau adanya saudara

sekandung yang mengalaminya.


10

2. Kurang berolahraga
3. Kegemukan atau obesitas, serta menumpuknya lemak dalam

tubuh.
4. Kurangnya aktivitas yang dapat berakibat lemak dalam tubuh

tidak terpakai sebagai energi.


5. Usia yang semakin bertambah sehingga mengakibatkan

berkurangnya aktivitas.
6. Gaya hidup yang tidak sehat.
7. Pola makan, asupan nutrisi dalam makanan yang tidak

terkontrol dapat menimbulkan kegemukan dan penumpukan

lemak dalam tubuh, selain itu, makanan yang banyak

mengandung gula,minuman soda dan makanan instan cepat saji

adalah penyebab utama penyakit diabetes.


8. Adanya virus dan bakteri human coxsackievirus b4 dan rubella

dapat menyebabkan kerusakan sel.


9. Adanya penyakit lain seperti hipertensi,dan kolesterol tinggi.
10. Merokok dan sering stress
11. Jarang terkena panas matahari yang merupakan sumber vitamin

D ini membantu proses metabolism tubuh termasuk dalam hal

glukosa.
Pada umumnya penyebab diabetes mellitus tipe 2 karena gaya

hidup yang tidak sehat. Hal ini membuat metabolisme dalam tubuh

yang tidak sempurna sehingga membuat insulin dalam tubuh tidak

dapat berfungsi dengan baik. Hormon insulin dapat di serap oleh

lemak yang ada di dalam tubuh. Sehingga pola makan dan gaya

hidup yang tidak sehat bisa membuat tubuh kekurangan insulin

(Saptani, 2014).
2.1.4 Manifestasi klinis
Gejala yang umum terjadi pada diabetes mellitus menurut

Saptarini (2014), diantaranya adalah sebagi berikut :


1. Sering buang air kecil (poliuria)
11

Biasanya pada malam hari dan dengan volume yang

banyak. Hal ini dikarenakan, bila kadar gula yang terkandung

dalam darah melebihi batas normal (180mg/dl), maka gula akan

dikeluarkan tubuh melalui urine. Tubuh menarik banyak air

kedalam urine untuk membuat urine yang mengandung gula

tersebut bisa keluar dalam keadaan tidak terlalu pekat. Gejala

diabetes yang ini akan sangat sering terjadi pada malam hari

sehingga sangat mengganggu ketenangan tidur.


2. Sering lapar (polifagia)
Sering lapar karena tidak mendapat cukup energi sehingga

tubuh memberi sinyal lapar, timbul nafsu makan yang berlebih, dan

ingin selalu makan tetapi merasa tenaga kurang atau merasa lemas.

Pada penderita diabetes, terjadi masalah dengan insulin yang

berakibat asupan gula ke dalam sel-sel tubuh menjadi kurang. Hal

ini mengakibatkan kurangnya energi, dan selalu merasa lemas.

Dalam keadaan ini tubuh bereaksi dengan meningkatnya nafsu

makan, dan timbul rasa lapar yang tidak biasa.


3. Timbulnya rasa haus dan sering (polidipsi)
Ini terjadi karena banyaknya cairan tubuh yang keluar

terlalu sering melalui urine. Sehingga tubuh akan kekurangan

cairan, dan dengan begitu timbullah rasa haus. Pada gejala diabetes

ini, pada umumnya penderita ingin selalu minum yang manis,

dingin, segar, sekaligus banyak. Hal ini semakin memperparah

kandungan gula dalam darah yang juga akan semakin naik.


4. Timbul rasa pusing atau mual, merasa mudah lelah, gerakan tubuh

sedikit terganggu.
12

5. Timbulnya rasa gatal disertai kesemutan pada kaki dan tangan.

Apabila ada luka, tidak seperti biasa, butuh waktu lama untuk

kering dan sembuh.


6. Penurunan berat badan secara tiba-tiba meski tidak ada usaha

menurunkan berat badan. Hal ini karena sewaktu tubuh tidak dapat

menyalurkan gula ke dalam sel-selnya, tubuh membakar lemak dan

proteinnya sendiri untuk mendapatkan energi


7. Sering kesemutan pada kaki dan tangan
8. Mengalami masalah pada kulit seperti gatal atau borok.
9. Jika mengalami luka, butuh waktu lama untuk dapat sembuh.
10. Mudah merasa lelah
2.1.5 Faktor resiko

Berikut faktor-faktor yang berisiko terkena diabtes mellitus :

1. Keturunan : bila ada anggota keluarga terkena diabetes, maka juga

beresiko menjadi pasien diabetes.


2. Ras atau etnis : orang kulit hitam lebih beresiko terkena diabtes

daripada kulit putih. Orang asia juga memiliki resiko lebih tinggi

mengidap diabetes.
3. Usia : resiko terkena diabetes akan meningkat dengan

bertambahnya usia, terutama pada usia diatas 40 tahun.


4. Obesitas : semakin banyak lemak tertimbun di perut, semakin sulit

pula insulin bekerja sehingga gula darah mudah naik.


5. Kurang aktivitas : semakin kurang aktivitas seseorang maka

semakin mudah terkena diabetes.


6. Kehamilan : diabetes dapat terjadi pada 2-5% dari wanita hamil.
7. Infeksi : infeksi virus dapat menyerang pankreas, merusak sel

pankreas, dan menimbulkan diabetes.


8. Depresi : Depresi ataupun stress menyebabkan hormon counter-

insulin (yang kerjanya berlawanan dengan insulin) lebih aktif

sehingga glukosa darah akan meningkat.


13

9. Obat-obatan : beberapa jenis obat dapat meningkatkan kadar gula

darah. Contohnya adalah hormon steroid, beberapa obat anti-

hipertensi (penyekat beta dan diuretik), obat yang menurunkan

kolesterol (niasin), obat tuberkulosis (INH), obat asma (salbutamol

dan terbutalin), obat untuk HIV (pentamidin, protease inhibitor),

dan hormon tiroid (levotiroksin).

Dari sembilan faktor resiko diatas didapatkan bahwa tiga

faktor pertama (keturunan, ras dan usia) memang tidak bisa diubah.

Meskipun demikian, enam faktor-faktor lainnya seperti obesitas,

kurang aktivitas, Depresi ataupun stress, dan sebagainya dapat

dikendalikan (Tandra, 2013).

2.1.6 Patofisiologi

Makanan sehari-hari seperti nasi, mie, roti, semua yang

berasal dari padi-padian, buah-buahan, umbi-umbian, gula pasir,

dan minuman soda, semuanya mengandung karbohidrat.

Karbohidrat ini diserap tubuh lewat usus, kemudian menjadi

glukosa. Glukosa merupakan sumber energi utama bagi sel tubuh

di otot dan jaringan. Agar glukosa dapat melakukan fungsinya,

butuh “teman” yang disebut insulin. Hormon insulin ini diproduksi

oleh sel beta dalam kelenjar pankreas. Setiap kali makan, pankreas

memberi respon dengan mengeluarkan insulin ke dalam aliran

darah. Ibarat kunci, insulin membuka pintu sel agar glukosa masuk

sehingga kadar glukosa dalam darah menjadi turun.


14

Hati merupakan tempat penyimpanan sekaligus pusat

pengolahan glukosa. Pada saat kadar insulin meningkat seiring

dengan makanan yang masuk ke dalam tubuh, hati akan menimbun

glukosa, yang nantinya akan dialirkan menuju sel-sel tubuh

bilamana dibutuhkan. Ketika dalam kondisi lapar atau tidak makan,

insulin dalam darah menjadi rendah, timbunan gula dan hati

(glikogen) akan diubah menjadi glukosa kembali dan dikeluarkan

ke aliran darah menuju sel-sel tubuh. Dalam pankreas juga ada sel

alfa yang memproduksi hormon glukagon. Bila kadar glukosa

darah rendah, glukagon akan bekerja merangsang sel hati memecah

glikogen menjadi glukosa. Tubuh masih mempunyai hormon-

hormon lain yang fungsinya berlawanan dengan insulin, yaitu

glukagon, epinefrin atau adrenalin, dan kortisol atau hormon

steroid. Hormon-hormon ini mamacu hati mengeluarkan glukosa

sehingga glukosa darah dapat naik.

Keseimbangan hormon-hormon dalam tubuh akan

mempertahankan gula darah tetap dalam batas normal. Pada

penderita diabetes, ada gangguan keseimbangan antara transportasi

glukosa ke dalam sel, glukosa yang disimpan dihati, dan glukosa

yang dikeluarkan dari hati. Akibatnya, kadar glukosa dalam darah

meningkat dan kelebihan ini akan keluar melalui urine sehingga

jumlah urine banyak dan mengandung gula. Penyebab keadaan ini

ada dua. Pertama, pankreas tidak mampu lagi memproduksi

insulin. Kedua, sel tubuh tidak memberi respon pada kerja insulin
15

sebagai kunci membuka pintu sel sehingga glukosa darah tidak

dapat masuk sel (Tandra, 2013).

2.1.7 Diagnosis

1. Melakukan diagnosa
Berikut ini merupakan tabel diagnosa untuk mengetahui apakah

menderita diabetes atau tidak.


Tabel 2.1 Diagnose diabetes mellitus
Kadar glukosa darah sewaktu
dan puasa dengan metode
Bukan Belum
enzimatik sebagai patokan DM
DM DM
penyaring dan diagnosis DM
(mg/dl)

Kadar Glukosa darah sewaktu :

Plasma vena <110 110-199 >200

Darah kapiler <90 90-199 >200

Kadar glukosa darah puasa :

Plasma vena <110 110-125 >126

Darah kapiler <90 90-109 >110

Tabel 2.2 Kadar gula normal :

Kondisi Kadar gula Kadar gula darah 2


darah setelah puasa
jam setelah makan
16

Normal <100 mg/dl <140 mg/dl


Pradiabetes 100-126 mg/dl <140-200 mg/dl
Diabetes >126 mg/dl >200 mg/dl

2. Tes darah
Sampel darah yang dites adalah darah saat puasa dan

postprandial. Sebelum melakukan tes, harus berpuasa selama 12

jam. Kadar gula normal selama berpuasa yaitu di bawah 100 mg/dl.

Setelah itu, pengambilan darah dilakukan kembali 2 jam setelah

makan, bila hasilnya diatas 140 mg/dl berarti anda menderita

diabetes.
3. Tes urine
Tes urin dilakukan dengan memeriksa urine sebagai sampel.

Sampel urine tersebut diperiksa kadar albumin, gula darah mikro

albuminurea untuk mengetahui seseorang menderita diabetes atau

tidak. Tes ini juga dilakukan di laboratorium atau klinik.


4. Tes glukometer
Tes glikometer dapat dilakukan sendiri di rumah bila

memiliki alatnya. Caranya adalah dengan menusukkan jarum pada

jari untuk mengambil sampel darah. Kemudian sampel darah

diletakkan ke dalam celah yang tersedia pada mesin glukometer,

hasilnya tidak terlalu akurat, tetapi dapat digunakan untuk

memantau gula bagi penderita agar apabila ada indikasi gula tinggi

dapat segera melakukan pengecekan di laboratorium dan

menghubungi dokter (Saptarini, 2014).


2.1.8 Dampak Diabetes Mellitus Tipe 2
17

Terdapat dampak fisik dan psikologis pada diabetes mellitus tipe

2. Dampak fisik digolongkan sebagai akut atau kronik menurut Tarwoto

(2012), yaitu :
1. Komplikasi akut
Komplikasi akut terjadi sebagai akibat dari ketidakseimbangan

jangka pendek dari glukosa darah :


1) Hipoglikemia
Hipoglikemia adalah keadaan dimana kadar gula

darah dibawah 60mg/dl, yang merupakan komplikasi

potensial tetap insulin atau obat hipoglikemik oral.

Penyebab hipoglikemi pada pasien yang sedang menerima

pengobatan insulin eksogen atau hipoglikemik oral antara

lain : regimen insulin yang tidak fisiologis, overdosis

insulin atau sulfonilurea, tidak makan, tidak mengkonsumsi

kudapan yang telah direncanakan, gerak badan tanpa

kompensasi makanan, penyakit ginjal stadium akhir,

penyakit hati stadium akhir, konsumsi alkohol (Baradero,

2009).

2) Hiperglikemia Non-Ketonik
Hiperglikemia non-ketonik ditandai dengan

hiperglikemia berat non-ketonik atau ketonik dan asidosis

ringan. Pada keadaan lanjut dapat mengalami koa, koma

hiper osmolar hiperglikemik berat, hiperosmolar, dehidrasi

berat tanpa keto asidosis disertai dengan menurunnya

kesadaran. Sindrom ini merupakan salah satu dari jenis

koma non-ketoasidosis (Boedisantoso, 2009).


3) Hiperglikemia Ketoasidosis Diabetik
18

Ketoasidosis diabetik (KAD) merupakan defisiensi

insulin berat dan akut dari suatu perjalanan penyakit

diabetes mellitus. Timbulnya KAD merupakan ancaman

kematian bagi penderita diabetes mellitus (Boedisantoso,

2009).
4) Komplikasi kronik
(1) Mikronagiopati (kerusakan pada saraf-saraf perifer)

pada organ-organ yang mempunyai pembuluh darah

kecil seperti pada : retinopati dibetika (kerusakan saraf

retina di mata) sehingga mengakibatkan kebutaan,

neuropati diabetika (kerusakan saraf-saraf perifer)

mengakibatkan gangguan sensoris pada organ tubuh,

dan nefropati diabetika organ tubuh, dan nefropati

diabetika (kelainan/kerusakan pada ginjal) dapat

mengakibatkan gagal ginjal (Tarwoto, 2012).


(2) Makrongiopati meliputi kelainan pada jantung dan

pembuluh darah seperti miokard infark maupun

gangguan fungsi jantung karena arteri sklerosis,

penyakit vaskuler perifer, gangguan sistem pembuluh

darah otak atau stroke (Tarwoto, 2012).


(3) Gangren diabetika karena adanya neuropati dan terjadi

luka yang tidak sembuh-sembuh.


(4) Disfungsi erektil diabetika.

Sedangkan dampak psikologis pada diabetes mellitus tipe 2

yaitu :

1) Cemas
19

Penderita DM mengalami banyak perubahan dalam

hidupnya, mulai dari pengaturan pola makan, olah raga,

kontrol gula darah, dan lain-lain yang harus dilakukan

sepanjang hidupnya. Perubahan dalam hidup yang

mendadak membuat penderita DM mengalami kecemasan

(Shahab, 2006).
2) Stress
Stress merupakan tanggapan (penilaian) yang

menyeluruh dari tubuh seorang individu terhadap setiap

tuntutan yang datang kepadanya. Stress berkaitan dengan

kenyataan yang tidak sesuai dengan harapan atau situasi

yang menekan

3) Depresi
Diabetes melitus sebagai penyakit kronis yang sulit

disembuhkan dan diderita seumur hidup menyebabkan

sebagian besar penderitanya berisiko mengalami depresi.

Penderita diabetes melitus tipe 2 rentan mengalami depresi

yang dipengaruhi oleh keadaan sosiodemografi,

karakteristik klinis, dan ekonomi (Sweileh et al., 2014).


4) Harga diri rendah
Penderita DM tipe 2 mengalami perubahan fisik,

hambatan dalam melakukan aktivitas sehari-hari, merasa

gagal dalam manajemen diri penyakit, serta dihadapkan

pada tuntutan rutinitas sehari-hari sebagai penyandang

diabetes sehingga berdampak pada harga dirinya.


2.1.9 Penatalaksanaan Diabetes mellitus
1. Medis
Menurut Soegondo (2006), penatalaksanaan medis

pada pasien dengan Diabetes Mellitus meliputi:


20

1. Obat hiperglikemik oral


Berdasarkan cara kerjanya obat ini dibagi menjadi 4

golongan:
a. pemicu sekresi insulin
b. penambah sensitivitas terhadap insulin.
c. penghambat gluconeogenesis.
d. penghambat glukosidase alfa.

2. Insulin
Insulin di perlukan pada keadaan penurunan berat

badan yang cepat, hiperglikemia berat yang disertai

ketoasidosis, ketoasidosis diabetik, gangguan fungsi

ginjal atau hati yang berat.


3. Terapi kombinasi
Pemberian obat hiperglikemik oral maupun insulin

selalu di mulai dengan dosis rendah, untuk kemudian

dinaikkan secara bertahap sesuai dengan respon

kadar glukosa darah.


2. Keperawatan
Usaha keperawatan dan pengobatan yang di tujukan

terhadap ulkus antara lain dengan antibiotika atau

kemoterapi. Perawatan luka dengan menggoreskan ulkus

dengan larutan klorida atau karutan antiseptic ringan.

Misalnya rivanol dan larutan kalium permangate 1:500

mg dan penutupan ulkus dengan kassa steri. Alat alat

ortopedi yang secara mekanik yang dapat merata

tekanan tubuh terhadap kaki yang luka amputasi

mungkin di perlukan untuk kasus DM.


Menurut Smeltzer dan Bare(2001:1226), tujuan

utama penatalaksannaan terapi pada diabetes mellitus

adalah menormalkan aktifitas insulin dan kadar glukosa


21

darah, sedangkan tujuan jangka panjangnya adalah

untuk menghindari terjadinya komplikasi.


2.1.10 Pemeriksaan Penunjang Diabetes Melitus
Menurut Arora (2007: 15), pemeriksaan yang dapat

dilakukan meliputi 4hal yaitu:


1. Postprandial
Dilakukan 2 jam setelah makan atau setelah minum

Angka diatas 130 mg/dl mengindikasikan diabetes.


2. Hemoglobin glikosilat
Hb1C adalah sebuah pengukuran untuk menilai

kadar gula darah selama 140 hari terakhir. Angka Hb1C

yang melebihi 6,1% menunjukkan diabetes.


3. Tes toleransi glukosa oral
Selama berpuasa semalaman kemudian pasien

diberi air dengan 75 gr gula, dan akan diuji selama

periode 24 jam. Angka gula darah yang normal dua jam

setelah meminum cairan tersebut harus <dari 140mg/dl.


5. Tes glukosa darah dengan finger stick
Tes ini yaitu jari ditusuk dengan sebuah jarum,

sample darah di letakkan pada sebuah strip yang

dimasukkan kedalam celah pada mesin glucometer,

pemeriksaan ini digunakan hanya untuk memantau

kadar glukosa yang dapat dilakukan dirumah.

2.2 Konsep Depresi


2.2.1 Definisi Depresi
Depresi adalah suatu gangguan perasaan hati (afek) yang

ditandai dengan afek distorik atau kehilangan minat atau

kegembiraan dalam aktivitas sehari-hari di sertai dengan temuan-

temuan lain seperti gangguan tidur dan perubahan selera makan


22

(Mengel & schwiebert,2004). Depresi merupakan gangguan mental

yang sering terjadi di tengah masyarakat, berawal dari stress yang

tidak diatasi ,maka seseorang dapat jatuh ke fase depresi. Menurut

Rathus (dalam Lubis,2009) orang yang mengalami depresi

umumnya mengalami gangguan yang meliputi keadaan emosi,

motivasi, fungsional dan gerakan tingkah laku serta kognisi.


Depresi adalah gangguan mood di mana seseorang merasa

tidak bahagia, tidak bersemangat, memandang rendah diri sendiri,

dan merasa sangat bosan. Individu merasa selalu tidak enak badan,

gampang kehilangan stamina, selera makan yang buruk, tidak

bersemangat, dan tidak memiliki motivasi (Santrock,2008). DI

dalam skala klinis dan validitas pada Minnesota Multiphasic

Personality Inventory, menyatakan depresi merupakan penolakan

terhadap kebahagiaan dan perasaan berharga, keterlambatan

psikomotor dan penarikan diri, kehilangan minat terhadap

lingkungan sekitar ,keluhan somatic,khawatir atau tegang,

penolakan terhadap kemarahan,kesulitan mengendalikan proses

berfikir (Halgin &Whitbourne, 2010).


Depresi terkait dengan situasi yang meliputi diantaranya

perasaan sedih, murung, putus asa, tidak percaya diri, dan

menyalahkan diri sendiri secara berlebihan. Seseorang yang

mengalami depresi akan cenderung menginterpretasikan pemikiran

negative dari apa yang terjadi dalam keadaan kondisi yang tertekan

pada saat seseorang mengalami depresi.


Menurut Beck (Nevid, 2007) seseorang yang mengalami

depresi perasaan dan perilakunya diakibatkan oleh persepsi


23

negatife mereka dan verbalisme mereka. Penelusuran literature

yang dilakukan oleh Beck menentukan konsistensi yang menarik

perhatian mengenai depresi, seperti adanya penurunan mood,

kesedihan,pesismisme tentang masa depan, retardasi dan agitasi,

sulit berkonsentrasi, menyalahkan diri sendiri, lamban dalam

berfikir serta serangkaian tanda vegetative seperti gangguan dalam

nafsu makan maupun gangguan dalam hal tidur.


Depresi merupakan perasaan murung, kehilangan gairah untuk

melakukan hal-hal yang biasa di lakukanya dan tidak dapat

mengekspresikan kegembiraan. Biasanya terjadi pada awal sampai

pertengahan usia dewasa. Dapat terjadi sekali, dapat terjadi sering

kali, dapat sebentar, dapat selama hidup, dapat bertahap, dan dapat

mendadak berat (Saryono, 2010).


Berdasarkan uraian yang dipaparkan sebelumnya maka

disimpulkan bahwa depresi yang merupakan gangguan suasana hati

di tandai dengan kehilangan minat atau tidak percaya diri dalam

menjalani aktifitas sehari-hari yang disertai perasaan sedih, putus

asa, menyalahkan diri sendiri,dan memandang rendah diri sendiri,

serta melihat lingkungan secara negative


2.2.2 Klasifikasi depresi
Gangguan depresi terdiri dari berbagai jenis, yaitu :
1. Gangguan depresi mayor
Gejala – gejala dari gangguan depresi mayor berupa

perubahan dari nafsu makan dan berat badan, perubahan pola

tidur dan aktivitas, kekurangan energi, perasaan bersalah (Kaplan,

et al,2010).
Adanya beberapa tingkatan depresi menurut (Kusumanto, 2010)
di antaranya :
a. Depresi ringan,
24

Sementara, alamiah, adanya rasa pedih perubahan proses piker

komunikasi social dan rasa tidak nyaman.


b. Depresi sedang
1. Afek : murung,cemas,kesal,marah,menangis
2. Proses fikir: perasaan sempit, berfikir lambat, kurang

komunikasi verbal komunikasi non verbal meningkat.


3. Pola komunikasi: bicara lambat , kurang komunikasi

verbal, komunikasi non verbal meningkat.


c. Depresi berat
1. Gangguan Afek: pandangan kosong, perasaan hampa,

murung, inisiatif berkurang.


a) Gangguan proses pikir
b) Sensasi somatic dan aktifitas motorik : diam dalam

waktu lama, tiba-tiba hiper aktif, kurang merawat

diri ,tidak mau makan dan minum, dan minum,

menarik diri, tidak peduli dengan lingkungan .


2. Gangguan Dysthmic
Dysthmia bersifat ringan tetapi kronis (berlangsung lama ).

Gejala – gejala dysthymia berlangsung lama dari gangguan

depresi mayor yaitu selama 2 tahun atau lebih. Dysthmia

bersifat lebih berat di bandingkan dengan gangguan depresi

mayor, tetapi individu dengan gangguan ini masih dapat

berinteraksi dengan aktivitas sehari-harinya (National

Institute of Mental Health, 2010).


3. Gangguan depresi psikotik
Gangguan depresi berat yang ditandai dengan gejala gejala,

seperti :halusinasi dan delusi (National Institute of Mental

Health,2010).
4. Gangguan depresi musiman
Gangguan depresi yang muncul pada saat musim dingin

dan menghilang pada musim semi dan musim panas

(National Institute of Mental Health,2010).


25

2.2.3 Etiologi Depresi


(Kaplan & saddock, 2010) menyatakan bahwa sebab

depresi dapat di tinjau dari beberapa aspek, antaraa lain: aspek

biologi,aspek genetic,aspek psikologi dan aspek lingkungan social.


1. Aspek Biologi
Penyebabnya adalah gangguan neurotransmitter di

otak dan gangguan hormonal. Neurotransmitter antara lain

noradrenalin dopamine dan histamine. Dopamin dan

nonepinefrin. Keduanya berasal dari asam amino tirsin yang

terdapat pada sirkulasi darah. Pada neurondopaminergik,

tirosin menjadi dopamine melalui 2 tahap: perubahan tirosin

menjadi DOPA oleh tirosin hidroksilase .DOPA tersebut akan

diubah lagi menjadi dopamine oleh enzim dopamine beta

hidroksilase (DBH-OH).
2. Aspek Genetik
Pola genetik penting dalam perkembangan

gangguan mood, akan tetapi pola pewarisan genetik melalui

mekanisme yang sangat kompleks, didukung dengan

penelitian-penelitian sebagai berikut: Dari penelitian keluarga

secara berulang ditemukan bahwa sanak keluarga turunan

pertama dari penderita gangguan bipolar1 kemungkinan 8-18

kali lebih besar dari sanak keluarga turunan pertama subjek

control untuk menderita gangguan bipolar 1 dan 2-10 kali

lebih mungkin untuk menderita gangguan depresi berat. Sanak

keluarga turunan pertama dari seseorang penderita berat


26

berkemungkinan 1,5-2,5 kali lebih besar daripada sanak

keluarga turunan pertama subjek kontrol untuk menderita

gangguan bipolar1 dan 2-3 kali lebih mungkin menderita

depresi berat.
3. Aspek psikologi
Sampai saat ini tidak ada sifat atau kepribadian

tunggal yang secara unik mempredisposisikan seseorang

kepada depresi. Semua manusia dapat dan memang menjadi

depresi dalam keadaan tetentu. Tetapi tipe kepribadian

dependen-oral, obsesif komplusif, histterikal, mungkin berada

dalam resiko yang lebih besar untuk mengalam depresi

daripada tipe kepribadian antisosial, paranoid, dan lainya

dengan menggunakan proyeksi dan mekanisme pertahanan

mengeksterbalisasikan yang lainya. Tidak ada bukti hubungan

gangguan kepribadian tertentu dengan gangguan bipolar pada

kemudian hari. tetapi gangguan distimik dan gangguan

siklotimik berhubungan dengan perkembangan gangguan

bipolar1 dikemudian harinya.


4. Aspek lingkungan sosial
Berdasarkan penelitian, depresi dapat membaik jika

klinisi mengis pada pasien yang terkena depresi suatu rasa

pengendalian dan penguasaan lingkungan.


5. Faktor usia
Pada usia dewasa terdapat penurunan kecenderungan depresi

seiring dengan bertambahnya usia.


6. Gaya hidup
Kebiasaan gaya hidup yang tidak sehat misalnya tidur tidak

teratur, makan mengkonsumsi makanan yang mengandung

bahan perasa, pengawet, dan pewarna buatan, kurang olahraga,


27

merokok, an minum minuman keras, kekurangan nutrisi

terutama vitamin B dapat menjadi faktor terjadinya depresi.


7. Penyakit fisik
a. Diabetes mellitus
b. Penyakit jantung
c. Parkinsons
d. Demensia
e. Trauma kepala
f. Gagal ginjal kronik
g. TBC
h. Meningitis
2.2.4 Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Depresi
1. Faktor usia
semakin bertambahnya usia khususnya pada lansia semakin bisa

menerima kondisi penyakitnya hal tersebut di sebabkan karena

adanya dukungan keluarga yang baik bagi para lansia seperti

dukungan emosional , dukungan psikologis , dukungan sosial

sehingga penekanan terhadap stress yang akan berkembang

menjadi depresi (Widya A,2018).

2. Jenis kelamin
Depresi umumnya lebih sering menyerang pada perempuan.

Perempuan lebih sering terpajan dengan stressor lingkungan dan

batas ambangnya lebih rendah jika dibandingkan laki-laki. Depresi

pada perempuan juga berkaitan dengan ketidakseimbangan

hormone sehingga perempuan berada pada resiko yang lebih besar

gangguan depresi dan kecemasan pada usia lebih awal daripada

laki-laki (Cristina W, DKK.2016).


3. Pekerjaan
Bekerja merupakan bentuk perilaku hidup aktif yang dapat

mencegah terjadinya depresi. pekerjaan yang dimiliki penderita

perlu di sesuaikan dengan kemampuan fisik dan psikisnya.


28

Aktivitas sebagai bentuk upaya nyata untuk mencegah depresi (Pei

dan Hui, 2009).


4. Pendidikan
Semakin tinggi pengetahuan seseorang akan semakin luas wawasan

yang dimiliki. Tingkat pengetahuan yang baik mengenai depresi

akan membantu individu dalam menekan gejala depresi yang

muncul (Cristina W, dkk,2016).


2.2.5 Gejala depresi
[Link] Gejala Fisik
a. Gangguan pola tidur
Sulit tidur, terlalu banyak atau sedikit

b. Menurunya tingkat aktifitas


Pada umumnya orang yang mengalami depresi

menunjukkan perilaku yang pasif, menyukai kegiatan yang

tidak melibatkan orang lain seperti menonton tv, makan,

tidur.
c. Menurunya efisiensi kerja
Orang yang terkena depresi akan sulit memfokuskan

perhatian atau pemikiran pada suatu hal, sehingga mereka

juga akan sulit memfokuskan energy pada hal prioritas .


d. Menurunya produktivitas kerja
Orang yang mengalami depresi akan kehilangan sebagian

motivasi kerjanya. Sebabnya ia tidak lagi bisa menikmati

dan merasakan kepuasan atas apa yang dilakukanya.

Kehilangan sebagian minatnya.


2.2.6 Tingkatan Depresi
Menurut PPDGJ-III (Ma’rifatul lilik, 2011) tingkatan depresi

ada 3 berdasarkan gejala-gejalanya yaitu :


1. Ringan
a. Kehilangan minat dan kegembiraan.
29

b. Berkurangnya energi yang menuju meningkatnya

keadaan mudah lelah( rasa lelah yang nyata sesudah

kerja sedikit saja) dan menurunya aktivitas .


c. Proses berfikirnya menjadi lambat dan gangguan memori

juga di sertai disorientasi ringan.


d. Harga diri rendah dan kehilangan rasa percaya diri.
e. Lamanya gejala tersebut berlangsung sekurang-

kurangnya 2 minggu.
2. Sedang
a. Kehilangan minat kegembiraan.
b. Berkurangnya energi yang menuju meningkatnya

keaadaan mudah lelah (rasa lelah yang nyata sesudah

kerja sedikit saja ) dan menurunya aktivitas .


c. Proses berfikirnya menjadi lambat dan gangguan memori

juga disertai disorientasi ringan.


d. Harga diri rendah dan kehilangan rasa percaya diri.
e. Pandangan masa depan yang suram dan pesimistis.
f. Perasaan bersalah dan merasa tidak berguna .
g. Lamanya gejala tersebut berlangsung minimum sekitar 2

minggu.
h. Mengadaptasi kesulitan untuk meneruskan kegiatan

sosial pekerjaan dan urusan rumah tangga.


3. Berat
a. Mood depresif
b. Kehilangan minat dan kegembiraan
c. Berkurangnya energy yang menuju meningkatnya

keadaan
d. Mudah lelah dan menurunya aktivitas .
e. Proses berpikirnya menjadi lambat dan gangguan

memori juga disertai disorientasi ringan.


f. Gagasan tentang rasa bersalah dan tidak berguna.
g. Pandangan masadepan yang suramdan pesimistis.
h. Perbuatan yang membahayakan diri sendiri atau bunuh

diri
i. Tidur terganggu
j. Lamanya gejala tersebut berlangsung selama 2 minggu.
2.2.7 Pencegahan Depresi.
30

1. Pencegahan primer
a. Mendidik klien dan keluarga tentang terapi menggunakan

strategi-strategi interaktif, seperti mengungkapkan

kenangandan tinjauan hidup yang menyenangkan serta

kontribusi dan pencapaian yang positif.


b. Rujuk kekelompok pendukung setempat
c. Memastikan tingkat ketepatan dan tingkat asuhan yang

paling tidak membatasi kliendengan membuat rujukan

kerumah perawatan.
d. Mengkondisikan modifikasi lingkungan misalnya , jalur

landas, pencahayaan yang adekuat guna mempertahankan

tingkat kemandirian.
e. Membantu mereka mengahindari depresi dengan

mengarahkan kembali minat-minat mereka.


f. Mendorong aktivitas-aktivitas dan hubungan baru yang

penuh makna.
g. Mendukung jaringan sosial mereka.
2. Pencegahan sekunder
a. Meninjau ulang tanda dan gejala dari trial depresif dan

pastikan melalui wawancara langsung dengan klien apa

gejala-gejala yang dialami, berapa lama gejala ini sudah

berlangsung, dari apakah gejala-gejala tersebut pernah

terjadi sebelumnya. Hal yang sangatpenting untuk di

perhatikan adalah lingkungan yang jelas ataukehilangan.


b. Jika dicurigai depresi, perawat atau tim kesehatan

harusmelakukan pengkajian dengan alat pengkajian yang

standart dan dapat dipercaya serta valid.


c. Memberikan rasa nyaman dan aman dengan mendukung

dan mendorong klien untuk mencoba hal-hal baru dengan


31

menganjurkan interaksi dan keterlibatan yang menambah

makna dan tujuan hidup.


d. Memvalidasi arti klien sebagai manusia dengan cara ia

perlukan.
e. Mengkomunikasikan perhatian.
f. Perawat atautim kesehatan harus mendorong partisipasi

klien depresi dalam perawatan diri dan aktivitas-aktivitas

lainserta meningkatkan kualitas hidupnya dengan

memberikan kesempatan pada klien untuk melakukan

sesuatu (sekalipun kecil) dan melakukanya dengan benar.


g. Memberikan informasi tentang depresi.
h. Memodifikasi lingkungan fisik dan sosial.
3. Pencegahan tersier
a. Mendorong ingatan atau tinjauan hidup dan olehsebab itu

membantu penyelesaian masalah-masalah lama dan

meningkatkan identifikasi dengan pencapaian di masa lalu.


b. Mengajarkan tentang penatalaksanaan kesehatan dan stress

menstimulasi rasa perbaikan respon terhadap lingkungan.


c. Membantu memenuhi kebutuhan akan mencitai dan

dicintai (Mickey Stanley dan Patricia Goutlett,2010).


2.2.8 Upaya Penanggulangan Depresi
1. Farmakologi
Ada beberapa obat anti depresan yaitu :
a. Lithium
Lithium adalah obat yang digunakan untuk mengobati
gangguan bipolar
b. MAOIs (Monoamine oxidase inhibitors)
Obat ini menghalangi aktivitas monoamine axidase,
enzim yang menghancurkan monoamine
neurotransmittermor epinephrine, serotonin,dan
dopamine.
c. Trisklik
Obat ini meningkatkan aktivitas neurotransmitter

monoamine, norepinephrine dan serotinin dengan

menghambat reuptake kedalam neuron. Pilihan


32

pengobatan anti depresan trisiklik mencakup

antitriptilin dengan dosis 50-250mg/hari,imipramine

dengan dosis 30-300mg/hari.


d. SSRI (selective serotonin reuptake inhibitors )
Obat ini hanya menghambat reuptake serotonin

namun tidak menghalangi neurotransmitter lain.

Pengobatan dengan SSRI meliputi jenis fluoxetine

dengan dosis 20-60mg/hari, setralin dengan dosis 50-

200mg/hari.
2. Non farmakologi
Ada beberapa penanggulangan depresi secara

nonfarmakologis antara lain :


a) Pendekatan CBT (cognitive behavior therapy )
1. Mengurangi kecemasan saat berada dalam

keadaan benar-benar rilek.


2. Menghilangakn pikiran-pikiran negative dan tidak

rasional yang menganggu saat dalam keadaan

bimbang.
3. Mengubah pikiran –pikiran negative dengan

pikiran positif.
b) Menjadi aseritf adalah mengurangi stress dan

komunikasi yang lebih baik.


c) Memebrikan dukungan sosial.
d) Berolahraga
e) Mengatur pola makan (Namora Lumongga, 2009).
2.2.9 Pengukuran Tingkat Depresi
Tingkat depresi adalah penilaian dari berat ringanya stress

yang dialami seseorang. Tingkatan stress, depresi, kecemasan ini diukur

dengan menggunakan Depresion Anxiety Stres Scale 42(DASS 42) oleh

lovibond (1995). Psychometric properties of the depression anxiety

stress scale 42(DASS 42) terdiri dari 42 item. DASS adalah seperangkat

skala subjektif yang di bentuk untuk mengukur status emosional


33

negative dan depresi ,kecemasan dan steress. DASS 42 di bentuk tidak

hanya untuk mengukur secara konvesional mengenai status emosional,

tetapi untuk proses lebih lanjut untuk pemahaman, pengertian, dan

pengukuran yang berlaku di manapun dari status emosional, secara

signifikan biasanya di gambarkan sebagai depresi, stress, cemas.


Tingkatan depresi pada instrumen ini berupa normal, ringan,

sedang, berat, dan sangat berat. Psychometric Properties of The

Depression Anxiety Stress Scale 42 (DASS 42) terdiri dari 42 item

mencakup :
1. Skala depresi terdapat pada pertanyaan nomor : 3, 5, 10, 13, 16,

17, 21, 24, 26, 31, 32, 37, 38, 42


2. Skala kecemasan terdapat pada pertanyaan nomor : 2, 4, 7, 9, 15, 19,

20, 23, 25, 28, 30, 36, 40, 41


3. Skala stress terdapat pada pertanyaan nomor : 1, 6, 8, 11, 12, 14, 18,

22, 27, 29, 32, 33, 35, 39


Penelitian ini hanya memilih kuesioner yang mengukur tentang

stress yaitu sejumlah 14 pertanyaan. Dan item stress dari

pertanyaan Depression Anxiety Stress Scale 42 (DASS 42) yaitu :


1) Sering marah-marah karena hal kecil/sepele
2) Mulut terasa kering.
3) Berfikiran buruk terhadap suatu kejadian
4) Nafas menjadi lebih cepat atau bahkan sulit untuk bernaafas
5) Merasa pesimis/tidak bisa lagi dalam suatu kegiatan
6) Bereaksi berlebihan pada suatu kondisi
7) Kelemahan pada anggota tubuh
8) Merasa sulit untuk relaksasi atau santai
9) Cemas berlebihan dalam mengatasi masalah, namun bisa lega jika

hal/masalah itu berakhir


10) Pesimis
11) Mudah merasa kesal
12) Merasa lemah karena banyak menghabiskan energi akibat cemas
13) Merasa sedih dan murung diri
14) Tidak sabaran
15) Kelelahan
34

16) Kehilangan minat dalam banyak hal, misal: makan ambulasi,

sosialisasi dll.
17) Merasa harga diri rendah
18) Mudah tersinggung
19) Berkeringat, misal: yangan berkeringat tanpa stimulasi oleh cuaca

maupun latihan fisik


20) Ketakutan tanpa alasan yang jelas
21) Merasa hidup tidak berharga
22) Sulit untuk beristirahat
23) Kesulitan dalam menelan
24) Tidak dapat menikmati hal-hal yang dilakukan
25) Perubahan kegiatan jantung dan denyut nadi lebih cepat tanpa

stimulasi oleh latihan fisik.


26) Merasa hilang harapan dan putus asa
27) Mudah marah
28) Mudah panik
29) Kesulitan untuk tenang setelah sesuatu mengganggu
30) Takut diri terhambat oleh tugas-tugas yang tidak bisa dilakukan
31) Sulit untuk antusias dalam banyak hal
32) Sulit untuk mentoleransi gangguan-gangguan terhadap yang sedang

dilakukan
33) Berada dalam keadaan tegang
34) Merasa tidak berharga
35) Tidak dapat memaklumi hal apapun yang menghalangi anda untuk

menyelesaikan hal yang dilakukan


36) Merasa takut
37) Tidak ada harapan untuk masa depan
38) Merasa hidup tidak berarti
39) Mudah gelisah, khawatir
40) Mudah gelisah
41) Badan gemetaran
42) Sulit untuk menuangkan ide dalam melakukan sesuatu
Tabel 2.3 Skor Depression Anxiety Stress Scale 42 (DASS 42):

Depresi Ansietas Stress

Normal 0-9 0-7 0-14

Ringan 10-13 8-9 15-18

Sedang 14-20 10-14 19-25

Berat 21-27 15-19 26-33

Sangat berat >28 >20 >34


35

2.3 Kualitas hidup


2.3.1 Definisi kualitas hidup
Menurut polonsky (2000, dalam yusra, 2010) kualitas hidup

adalah persepsi individu mengenai kesehatan dan kesejateraannya

yang meliputi fungsi fisik, fungsi psikologis dan fungsi sosial.

Sedangkan Yusra, (2011) berpendapat bahwa kualitas hidup adalah

persepsi individu terhadap posisi mereka dalam kehidupan dan nilai

dimana mereka hidup dan dalam tujuan tujuan hidup, harapan,

standar, dan perhatian. Kualitas hidup menurut WHO adalah persepsi

individu tentang keberadaanya di kehidupan dalam konteks budaya

dan sistem nilai tempat ia tinggal. Jadi dalam skala yang luas

meliputi berbagai sisi kehidupan seseorang baik dari segi fisik,

psikologis, kepercayaan pribadi, dan hubungan sosial untuk

berinteraksi dengan lingkunganya. Kualitas hidup tidak dapat di

sederhanakan dan di samakan dengan status kesehatan, gaya hidup,

kenyamanan hidup, status mental,dan rasa aman (Minamakta, 2018).


Kinghron (2006) dalam Mardiyaningsih (2014) mengatakan

bahwa kualitas hidup memiliki dua komponen dasar yaitu

subjektifitas dan multidimensi, subjektifitas mengandung arti bahwa

kualitas hidup hanya dapat ditentukan dari salah satu sudut pandang

klien itu sendiri dan ini hanya dapat diketahui dengan bertanya

langsung pada klien dan multidimensi yang bermakna kualitas hidup

dipandang dari seluruh aspek kehidupan seseorang secara holistik

meliputi aspek biologi, fisik, psikologis, sosial dan lingkungan.


36

Kualitas hidup yang berkaitan dengan kesehatan Health-

related Quality of Life (HQL) mencakup keterbatasan fungsional

yang bersifat fisik maupun mental, dan ekspresi positif kesejahtraan

fisik, mental, serta spiritual. (Micheal [Link], 2009). Berdasarkan

berbagai definisi diatas, maka dapat disimpulkan bahwa kualitas

hidup adalah pandangan individu mengenai posisi mereka dalam

kehidupan yang berkaitan dengan tujuan, harapan, dan perhatian

mereka.

2.3.2 Faktor yang mempengaruhi kualitas hidup


Faktor yang mempengaruhi kualitas hidup pasien DM tipe 2 meliputi :
a. Usia
Sebagian besar pasien DM dalah dewasa dengan usia lebih

dari 40 tahun. Hal tersebut di sebabkan resistensi insulin pada

DM tipe 2 akan cenderung meningkat pada usia 40-65 tahun

(Smeltzer &bare,2001:Yusra,2010).
b. Jenis kelamin
Penelitian Gautam et al.(2009) menunjukkan bahwa

terdapat perbedaan kualitas hidup wanita dan laki-laki. Wanita

memiliki kualitas hidup yang lebih rendah daripada laki-laki.


c. Tingkat pendidikan
Tingkat pendidikan berkaitan dengan pengolahan

pengetahuan serta pengolahan informasi yang di dapatkan.

Berdasarkan penelitian stipanovic(2010 dalam Yusra, 2012) di

dapatkan bahwa pendidikan merupakan factor penting pada

pasien DM untuk bisa memahami dan melakukan pengelolaan

secara mandiri.
d. Status sosial ekonomi
Status sosial ekonomi berkaitan dengan pendapatan yang

diterima oleh responden. Berdasarkan penelitian Rubin (2000)


37

dalam Yusra (2010) membuktikan bahwa sosial ekonomi yang

rendah dapat menjadi predictor rendahnya kualitas hidup pada

pasien DM tipe 2.
e. Lama menderita DM
Lama menderita DM menjadi salah satu faktor yang

mempengaruhi kualitas hidup pasien DM. Reid & Walker

(2009) dalam Yusra (2010) menyatakan bahwa lama menderita

DM berhubungan dengan tingkat depresi atau stress yang akan

berakibat terhadap penurunan kualitas hidup pasien DM.


f. Komplikasi akibat DM
Komplikasi akut ataupun kronis yang di alami oleh pasien

DM akan merupakan masalah yang serius. Komplikasi tersebut

dapat meningkatkan ketidakmampuan pasien secara fisik,

pskilogis, da [Link] fungsi dan perubahan tersebut

dapat mempengaruhi kualitas hidup pada pasien DM tipe 2

(Yusra, 2010).

2.3.3 Aspek-Aspek Kualitas Hidup


Menurut WHO (1996) terdapat empat aspek mengenai kualitas

hidup, diantaranya sebagai berikut :


1. Kesehatan fisik, diantaranya aktivitas sehari-hari,

ketergantungan pada zat obat dan alat bantu medis, energi

dan kelelahan, mobilitas, rasa sakit dan ketidaknyamanan,

tidur dan istirahat, kapasitas kerja.


2. Kesejahteraan psikologi, diantaranya image tubuh dan

penampilan,perasaan negative, perasaan positif, harga

diri,spiritualitas/agama/keyakinanpribadi,berpikir,belajar,me

mori dan konsentrasi.


38

3. Hubungan sosial, diantaranya hubungan pribadi,dukungan

sosial,aktivitas sexsual.
4. Hubungan dengan lingkungan, diantaranya sumber

keuangan,kebebasan,keaamanan fisik dan keamanan

kesehatan dan perawatan sosial:aksebilitas dan

kualitas,lingkungan rumah, peluang untuk memperoleh

informasi dan keterampilan baru,partisipasi dalam dan

peluang untuk kegiatan rekreasi/olahraga,lingkungan fisik

(polusi/suara/lalulintas/iklim), mengangkut.
(minamakkata, 2018).

2.3.4 Indikator Kualitas Hidup


Indikator kualitas hidup menurut (Jacob et all, 1988) dibagi

menjad empat domain utama untuk spesifikasi DMT2. Empat domain

tersebut terdiri dari :


1) Satisfaction
Domain yang digunakan untuk menjelaskan tingkat kepuasan

penderita DMT2 berdasarkan persepsi individu.

2) Impact

Domain yang digunakan untuk mengetahui pengaruh atau

dampak penyakit DMT2 terhadap kesehatan diri sendiri, domain

ini fokus terhadap kesehatan fisik penderita.

3) Worry Social and Vocational Issues

Domain yang digunakan untuk mengetahui tingkat

kekhawatiran terhadap kehidupan pekerjaan dan sosial.

4) Worry About the Future Effect of Diabetes


39

Domain yang digunakan untuk mengetahui tingkat

kekhawatiran terhadap kehidupan di masa depan.

2.4 Hubungan Tingkat Depresi dengan Kualitas hidup Pada pasien DM

Tipe I
Penyakit DM merupakan masalah yang cukup besar sehingga

memerlukan penanganan secara serius. Hal ini di karenakan banyak

perubahan dalam kebiasaan hidup penderita DM mulai dari kontrol gula

darah,aktifitas fisik, konsumsi obat, dan diet yang harus dilakukan secara

rutin. Kontrol DM yang buruk dapat mengakibatkan hiperglikemia dalam

jangka panjang yang menjadi pemicu beberapa komplikasiyang serius baik

makrovaskular maupun mikrovaskular seperti penyakit jantung, gagal ginjal,

kerusakan saraf dan penyakit vaskuler perifer. Banyaknya komplikasi yang

mengiringi penyakit DM telah memberikan kontribusi terjadinya perubahan

fisik, pskilogis maupun sosial. Salah satu perubahan psikologis yang paling

sering terjadi adalah kejadian depresi pada pasien DM. studi melaporkan

bahwa pasien DM dua kali lebih besar mengalami gejala depresi

(Anderson,etal.2001;Egede,Zheng,& simpson, 2002).


Depresi pada diabetes memberikan kontribusi untuk neurohormonal dan

neurotransmitter perubahan yang dapat mempengaruhi metabolism glukosa

(Melved, 2009). Neurotransmitter adalah bahan kimia dalam tubuh membawa

pesan ke dan dari saraf dari kelenjar adrenal, medula. Medulla adrenal

mengeluarkan dua jenis neurotransmitter,yaitu epinefrinatau disebut sebagai


40

adrenalin dan norepinefrin (noradrenalin), dalam respon terhadap stress

(Nasution I.K.,2007).
Secara fisiologis, situasi stress ataupun depresi mengaktivasi hipotalamus

yang selanjutnya mengendalikan dua system neuroendokrin, yaitu system

simpatis dan system korteks adrenal. System saraf simpatik berespons

terhadap impuls saraf dari hipotalamus yaitu dengan mengaktivasi berbagai

organ dan otot polos yang berada di bawah pengendalianya, sebagai

contohnya, ia meningkatkan kecepatan denyut jantung dan mendilatasi pupil.

Sistem saraf simpatis juga memberi sinyal ke medula adrenal untuk

melepaskan epinefrin dan norepinefrin ke aliran darah. System korteks

adrenal diaktivasi jika hipotalamus mensekresikan CRF, suatu zat kimia yang

bekerja pada kelenjar hipofisis yang terletaktepat di bawah hipotalamus.

Kelenjar hipofisis selanjutnya mensekresikan hormone ACTH, yang dibawa

melalui aliran darah ke kortek adrenal. Dimana ia menstimulasi pelepasan

sekelompok hormon, termasuk kortisol, yang meregulasi kadar gula darah.

Pada keadaan Depresi ataupun Stress Sekresi ACTH juga akan memberi

sinyal ke kelenjar endokrin lain untuk melepaskan beberapa hormon seperti

katekolamin, glukokortikoid, sehingga efek dari berbagai hormon tersebut

akan dibawa melalui aliran darah dan neural saraf simpatik akan memberikan

berbagai respon seperti meningkatnya kecepatan denyut jantung, cemas,

mudah tersinggung sehingga penderita diabetes mellitus tipe 2 yang berada

dalam keadaan ini akan menimbulkan keterbatasan terhadap fungsi sosialnya

yang menyebabkan individu merasa kurang sejahtera dan dapat mengurangi

kualitas hidup (NasutionI.K., 2007).


Penderita DM dengan masalah depresi yang tidak di tangani dengan baik

akan menimbulkan efek pada kualitas hidup (Shahab,2006). Pada penderita


41

diabetes kualitas hidup merupakan tujuan utama perawatan sebisa mungkin

kualitas hidup yang baik harus di pertahankan karena kualitas hidup yang

rendah serta masalah psikologis dapat memperburuk gangguan metabolik,

baik secara langsung melalui stress hormonal ataupun secara tidak langsung

melalui komplikasi (Mandagi, 2010).


42

Tabel Sintesis
Tabel 2.5 Tabel Sitasi Hubungan Tingkat depresi dengan kualitas hidup pasien DM tipe 2

Desain Penelitian
No. Penulis Analisa Data Variabel dan Alat Ukur Hasil Kesimpulan
dan Sampel
1. Livana 1. Desain yang Analisis 1. Variabel independent 1. Usia dapat Mayoritas pasien DM

PH, Indah digunakan dalam univariat dalam penelitian ini mempengaruhi atau berusia 25-60 tahun,

Permata penelitian ini menggunakan adalah tingkat depresi. meningkatkan kejadian berjenis kelamin
2. Variabel dependent
Sari, adalah studi distribusi penyakit DM . perempuan, pendidikan
dalam penelitian ini
Hermanto, korelational / frekuensi. 2. Perempuan lebih terakhir SLTA, tidak
adalah Diabetes
2018. cross sectional beresiko terkena DM bekerja, memiliki
mellitus.
dan 3. Alat ukur dalam karena perempuan penghasilan kurang

menggunakan penelitian ini adalah memiliki beberapa faktor dari UMR Kabupaten

Teknik purposive menggunakan kuesioner. yang dapat mempengaruhi Kendal, menikah, dan

sampling dengan toleransi terhadap gula lama menderita DM

menggunakan darah yang dapat lebih dari lima tahun,

lembar kuesioner. meningkatkan resiko dan tidak mengalami

2. N = 54 pasien kejadian DM. depresi dan normal.

DM tipe 2 3. Tingkat pendidikan tidak


43

mempengaruhi terhadap

resiko terjadinya DM,

tetapi pasien DM yang

memiliki tingkat

pendidikan yang tinggi

akan lebih matang dalam

proses perubahan dirinya

sehingga akan lebih mudah

menerima pengaruh dari

luar yang bersifat positif,

obyektif dan terbuka

terhadap berbagai

informasi terkait

pemahaman tentang

penyakit DM, perawatan

diri, dan pelaksanakan

manajemen perawatan DM
44

termasuk pelaksanaan

kontrol kadar gula darah .

4. Aktivitas fisik yang

ringan, yang dialami oleh

orang yang tidak bekerja

dapat meningkatkan resiko

kejadian DM.

5. Tingkat ekonomi dari

pasien DM dapat

mempengaruhi kondisi DM

yang dialaminya.

6. Pasien DM yang

memiliki depresi tetap

memiliki kepercayaan diri

dan harga diri yang baik


2. Elina 1. Desain yang Uji one way 1. Variabel independent [Link] mayoritas Penelitian hubungan

Chrisniati digunakan dalam anova dan uji T dalam penelitian ini responden wanita sebanyak depresi dengan kualitas
45

, Carla penelitian ini adalah depresi 83 orang (54,6%), hidup

Raymonda adalah studi 2. Variabel dependent kelompok umur 40-65 pada penderita diabetes

lexas korelational dalam penelitian ini tahun sebanyak 125 orang mellitus tipe 2 di rumah

Marchira , /cross sectional adalah kualitas hidup (82,2%), lama sakit > 10 sakit

Hari pasien diabetes mellitus tahun sebanyak 79 orang Sardjito. Responden


2.N = 152 pasien
Kusnanto tipe 2. (52,0%), diabetes mellitus tanpa depresi
diabetes mellitus
3. Alat ukur ini dengan komplikasi mempunyai kualitas
tipe 2 .
menggunakan kuesioner. sebanyak 107 orang hidup lebih baik

(70,4%), daripada yang

pendidikan SMA 52 orang mengalami depresi.

(34,2%), pekerjaan non Rumah sakit harus

PNS memberikan layanan

sebanyak 87 orang komprehensif

(57,2%), diabetes mellitus untuk meningkatkan

tanpa kualitas hidup

depresi sebanyak 79 orang penderita diabetes

(52,0%). Rerata nilai mellitus tipe 2.


46

kualitas hidup adalah

67,37.

2. Hubungan tingkat

depresi dengan rata-rata

kualitas

hidup didapatkan nilai

72.04 dengan standar

deviasi

8.08, sedangkan yang

mengalami depresi mean

62.31

dan standar deviasi 9.83.

Secara klinis pasien yang

tidak depresi memiliki

kualitas hidup sebesar 9.73

lebih baik dibandingkan

penderita diabetes mellitus


47

tipe 2 yang mengalami

1. Variable dependen dari depresi.

3. Dian 1. Desain penelitian ini

Tri Pagita, penelitian ini gangguan depresi. 1. Komplikasi DM 2 pada Kualitas hidup pasien

R. Irawati menggunakan 2. Variable independen subjek penelitian DM 2 yang mengalami

Ismail M., penelitian cross dari penelitian ini yang terbanyak adalah gangguan depresi

Petrin sectional. adalah kualitas hidup adanya gangguan secara keseluruhan

Redayani 2. N= 64 orang pasien yang penglihatan(20,3%) serta lebih buruk

L. yang mengalami DM tipe 2. adanya penyakit jantung dibandingkan yang

mengalami 3. Alat ukur dalam iskemik tidak mengalami

penyakit penelitian ini adalah (18,8%). gangguan depresi.

diabetes tipe 2 menggunakan 2. Pasien DM 2 dengan Pasien DM 2 yang

kuesioner. gangguan depresi tidak mengalami gangguan

dapat dianalisis dengan depresi berhubungan

kualitas hidup secara dengan

umum, karena terdapat ketidakpuasannya

nilai nol pada salah salah terhadap kesehatan


48

variabelnya. secara umum. Pasien

3. Pasien DM 2 yang DM 2 yang mengalami

mengalami gangguan gangguan depresi

depresi berhubungan memiliki hubungan

dengan ketidak puasannya sosial dan pribadi yang

terhadap kesehatan secara lebih buruk namun

umum dengan nilai p<0,00. tidak terlalu

4. Pasien DM 2 yang bermaknadibandingkan

mengalami gangguan dengan pasien DM 2

depresi\memiliki aktivitas yang tidak mengalami

kesehatan fisik yang lebih gangguan depresi

buruk(nilai median 31)

dibandingkan dengan

pasien DM 2

yang tidak mengalami

gangguan depresi (nilai

median63). Hubungan ini


49

bermakna dengan nilai p

0,000.

5. Pasien DM 2 yang

mengalami gangguan

depresi memiliki

penampilan dan citra tubuh

secara psikologis yang

lebih buruk (nilai median

34,5) dibandingkan dengan

pasien DM 2 yang tidak

mengalami gangguan

depresi (nilai median 75).\

6. Pasien DM 2 yang

mengalami gangguan

depresi memiliki hubungan

sosial dan pribadi yang

lebih buruk(nilai rerata 48)


50

dibandingkan dengan

pasien DM 2 yang tidak

mengalami gangguan

depresi (nilai rerata62).

Hubungan ini tidak

bermakna dengan nilai p

0,077.

7. Pasien DM 2 yang

mengalami gangguan

depresimemiliki kondisi

keuangan dan lingkungan

yang lebihburuk (nilai

median 50) dibandingkan

dengan pasienDM 2 yang

tidak mengalami gangguan

depresi (nilaimedian 69).

Hubungan ini bermakna


51

dengan nilaip<0,00.
52

BAB 3
KERANGKA KONSEP DAN HIPOTESIS
3.1 Kerangka Konseptual

Tingkat Depresi
Penyebab Diabetes Mellitus Dampak yg ditimbulkan
DM Tipe
- Normal
2 DM tipe 2 :
Tipe 2 :
1. Psikologis - Ringan
1. Faktor keturunan Faktor – faktor yang - Sedang
- Cemas
2. Kurang berolahraga mempengaruhi Depresi Depresi
3. Kegemukan atau obesitas - Depresi - Berat
4. Pola makan 1. Biologi
5. Gaya hidup tidak sehat 2. Genetik - Tidak percaya diri - Sangat berat
3. Psikologis
- Stress Kualitas hidup
- Harga diri rendah
Keterangan :
2. Fisik Tingkat Kualitas hidup
- hipoglikemi
- 1. Buruk
: Variabel yang diteliti - hiperglikemi
- 2. Sedang
: Variabel yang tidak diteliti - mikronagiopati
- 3. Baik
Bagan 3.1 : Kerangka Konseptual : Hubungan Tingkat Depresi Dengan Kualitas Hidup Pada
Penderita Diabetes Mellitus Tipe 2 Di Wilayah Kerja Puskesmas Kelir Tahun 2020 - 4. Sangat
Baik
53

3.2 Hipotesis Penelitian


Hipotesis adalah suatu pertanyaan asumsi tentang hubungan antara dua

atau lebih variabel yang diharapkan bisa menjawab suatu pertanyaan dalam

penelitian. Setiap hipotesis terdiri atas suatu unit atau bagian dari permasalahan

(Nursalam, 2013).

Hipotesis dalam penelitian ini adalah ada hubungan antara tingkat

Depresi dengan kualitas hidup pada penderita diabetes mellitus tipe 2 di Wilayah

Kerja Puskesmas Kelir tahun 2020.


54

BAB 4

METODE PENELITIAN

4.1 Jenis - jenis Dan Desain penelitian

4.1.1 Jenis penelitian

Jenis penelitian merupakan bagian yang sangat penting dalam

penelitian, karena jenis penelitian adalah strategi seorang peneliti

dalam mencapai tujuan penelitian dan jenis penelitian ini juga sebagai

pedoman dalam proses penelitian (Nursalam, 2013).

Jenis penelitian yang digunakan peneliti adalah “studi korelasi

(correlation study), Nursalam (2013) menyatakan studi korelasi yaitu

penelitian yang mengkaji hubungan antara variable, dengan tujuan

mengungkapkan hubungan korelatif antar variabel.

4.1.2 Desain penelitian

Desain penelitian merupakan rancangan penelitian untuk

menuntun peneliti mendapatkan jawaban dari pertanyaan penelitian.

Desain penelitian dalam pengertian yang luas telah mencakup berbagai

hal yang dilakukan peneliti yaitu mulai dari identifikasi masalah,

rumusan hipotesis, operasional hipotesis, cara pengumpulan data

sampai akhirnya analisis data, sedangkan desain penelitian dalam

pengertian yang lebih sempit,mengacu pada jenis penelitian, oleh

karena itu desain berguna sebagai pedoman untuk mencapai tujuan

penelitian (Sugiyono, 2014).


55

Desain penelitian dalam penelitian ini menggunakan rancangan

penelitian cross sectional yang mana diungkapkan oleh Nursalam

(2016) yaitu jenis penelitian yang mana waktu pengukuran/observasi

hanya satu kali pada satu saat data variable independen dan variable

dependen.
56

4.2 Kerangka Kerja

Kerangka kerja merupakan sebuah bagan yang menunjukkan suatu

rancangan kegiatan penelitian yang akan dilakukan, meliputi subjek penelitian

yaitu variabel yang akan diteliti dan variabel yang mempengaruhi dalam

penelitian (Hidayat, 2011)

Populasi
Semua penderita DM tipe II di wilayah kerja puskesmas kelir sebanyak 54
orang

Teknik Sampling: Purposive sampling

Sampel
Sebagian penderita DM tipe II di wilayah kerja puskesmas kelir sebanyak 48
orang.

Desain penelitian : Cross Sectional

Informed Consent

Pengumpulan data: kuisioner

Pengolahan data dan Analisis data : Coding, scoring, tabulating, dan


Uji Rank spearman dengan SPSS 25 for windows

Hasil penelitian

Laporan Penelitian

Bagan 4.1 kerangka kerja : Hubungan Tingkat Depresi dengan kualitas hidup pada
penderita DM tipe II diwilayah kerja puskesmas kelir tahun 2020.
57

4.3 Populasi, Teknik Sampling dan Sampel

4.3.1 Populasi

Populasi dalam penelitian adalah subjek yang telah ditentukan

oleh peneliti yang sesuai dengan kriteria masalah yang diambil

(Nursalam, 2016).

Populasi yang digunakan adalah semua penderita DM tipe II di

wilayah kerja puskesmas kelir pada sebanyak 54 orang.

4.3.2 Teknik Sampling

Sampling adalah proses menyeleksi porsi dari populasi yang

dapat mewakili populasi yang ada, jadi sampling adalah cara yang

ditempuh untuk pengambilan sampel yang sesuai dari kebenaran

keseluruhan subjek penelitian (Nursalam, 2016).

Teknik pengambilan sampel dalam penelitian ini adalah teknik

purposive sampling. Nursalam (2016) menyebutkan purposive sampling

disebut juga judgement sampling yaitu suatu teknik penetapan sampel

dengan cara memilih sampel diantara populasi sesuai dengan yang

dikehendaki peneliti (tujuan / masalah dalam penelitian). Sehingga

sampel tersebut dapat mewakili karakteristik populasi yang telah

dikenal sebelumnya.

4.3.3 Sampel

Sampel adalah bagian populasi terjangkau yang dapat menjadi

subjek penelitian melalui sampling (Nursalam, 2016). Sampel yang


58

digunakan adalah sebagian penderita DM tipe II di wilayah kerja

puskesmas kelir pada sebanyak 48 orang.

Untuk menentukan besar sampel, dengan cara menggunakan

rumus sebagai berikut :

n= N
1 + N (d)2

Keterangan :

n: Jumlah sampel

N: Jumlah populasi

d: Tingkat kesalahan yang dipilih (0,05) (Nursalam, 2011)

jumlah sampel yang diambil adalah :

diketahui:

populasi atau N = 54 orang

n = 54
1+54 (0, 05)2

n= 54
1+54 (0, 0025)

n= 54 = 47, 57 ≈ 48
1,135
59

Sampel dalam penelitian ini harus memenuhi kriteria inklusi.

Kriteria inklusi adalah karakteristik umum subyek penelitian dari suatu

populasi target yang terjangkau yang akan diteliti (Nursalam, 2011).

1. Kriteria Inklusi

Kriteria inklusi adalah karakteristik umum subyek penelitian

dari suatu populasi target yang terjangkau dan akan diteliti

(Nursalam, 2016).

Kriteria inklusi dalam penelitian ini adalah :

a. Penderita Diabetes Mellitus Tipe 2 yang tercatat di

wilayah kerja puskesmas kelir

b. Penderita Diabetes Mellitus Tipe 2 yang bersedia menjadi

responden

2. Kriteria Eksklusi

Kriteria ekslusi adalah menghilangkan atau mengeluarkan

subjek yang tidak memenuhi kriteria inklusi dari studi karena berbagai

sebab (Nursalam, 2016).

a. Penderita Diabetes Mellitus Tipe 2 yang tidak bisa

membaca dan menulis

b. Penderita diabetes mellitus tipe 2 dengan riwayat penyakit

neurodegeneratif, asma, dan rematik sebelumnya.


60

4.4 Identifikasi variable

4.4.1 Variabel Independent (Bebas)

Variabel independent merupakan variabel yang menyebabkan

timbulnya variabel terikat (Nursalam, 2016). Variabel independent

dalam penelitian ini yaitu Tingkat depresi.

4.4.2 Variabel Dependent (Terikat)

Variabel dependent merupakan variabel yang dipengaruhi atau

berposisi sebagai akibat karena kemunculan variabel independen dan

merupakan faktor yang dapat diamati dan diukur dengan melihat ada

tidaknya korelasi atau pengaruh dari variabel independent (Nursalam,

2016). Variabel dependent dalam penelitian ini yaitu kualitas hidup.


61

4.5 Definisi operasional

Definisi Operasional merupakan definisi berdasarkan karakterisitik

yang dapat diukur dan diamati dari suatu variabel yang akan didefinisikan

(Nursalam, 2016).

Tabel 4.1 Definisi Operasional : Hubungan tingkat depresi dengan


kualitas hidup penderita DMT2 di wilayah kerja puskesmas kelir
Variabel Definisi Indikator Alat ukur Skala Skor
Variabel Suatu tingkatan The depression Kuesioner Ordinal Normal:0-9
independen : kondisi psikologis anxiety scale DASS 42 Ringan: 10-
Tingkat dimana penderita 1. Fisik 13
Depresi DM mengalami 2. Emosi /
kemurungan yang Sedang : 14 –
di tandai dengan Psikologi prilaku 20
perasaan tidak 2.
Berat : 21-
puas serta pesimis. 27
Sangat
berat : >28

Variabel Kualitas hidup 1. Satisfaction kuesioner Ordinal 2%-23% :


2. Impact
dependen: adalah pandangan Buruk
3. Worry Social and
Kualitas individu mengenai Vocational Issues 24%-48% :
hidup posisi mereka 4. Worry About the Sedang
dalam kehidupan Future Effect of 49%-72% :
berkaitan dengan diabetes Baik
tujuan, harapan, 73%-100%:
dan perhatian Sangat baik
mereka.

4.6 Instrumen Penelitian


62

Instrumen penelitian adalah suatu alat yang digunakan untuk

mengumpulkan data sesuai dengan macam dan tujuan peneliti (Notoadmodjo,

2010).
4.6.1 Instrumen Tingkat Depresi
Dalam penelitian ini instrumen yang digunakan untuk mengukur

tingkat stress adalah lembar kuesioner Depression Anxiety Stress Scale 42

(DASS 42) yang terdiri dari 42 item , mencakup 3 subvariabel, yaitu fisik,

emosi / psikologi, dan perilaku.


4.6.2 Instrumen Kualitas Hidup
Untuk mengukur kualitas hidup peneliti mengadopsi kuisioner

Diabetes Quality Of Life(DQOL)(Jacobson, 1994). Kuisioner DQOL terdiri

dari domain-domain kualitas hidup yaitu berupa domain Satisfaction, Impact,

Worry Social and Vocational Issues, Worry About The Future Effect of

Diabetes. Kuisioner DQOL terdiri dari 13 pertanyaan dan disusun berdasarkan

pertanyaan favorable. Seluruh pertanyaan di dasarkan pada Skala Likert lima

poin (1-5). Kuisioner DQOL merupakan kuisioner yang digunakan untuk

mengukur kualitas hidup pada penderita DM tipe II. Kuisioner ini telah

dilakukan uji validitas dan reliabilitas oleh peneliti dengan nilai koefisien

validasi item yang valid pada angket kualitas hidup berkisar 0,465-797 dan uji

reabilitas dilakukan pada 10 responden di wilayah kerja puskesmas kelir serta

dinyatakan telah reliabel dengan nilai alfa cronchbach yakni 0,693 sehingga

hasil kuesioner ini telah dinyatakan reliabel.

4.7 Lokasi dan Waktu Penelitian

4.7.2 Lokasi Penelitian


63

Penelitian ini akan dilakukan di puskesmas kelir banyuwangi

4.7.3 Waktu penelitian : Maret 2020 – Juni 2020

4.8 Pengumpulan Data dan Analisa Data

Pengumpulan data adalah suatu proses pendekatan kepada subjek dan

proses pengumpulan karakteristik subjek yang diperlukan dalam suatu

penelitian (Nursalam, 2013).

Teknik pengumpulan data pada penelitian ini meliputi:

1) Peneliti mengajukan permohonan melakukan studi pendahuluan di LPPM

STIKes banyuwangi

2) Peneliti mengajukan surat permohonan data awal ke Dinas Kesehatan

Banyuwangi dan Puskesmas Kelir Banyuwangi.

3) Peneliti melakukan koordinasi dengan kepala puskesmas kelir

Banyuwangi.

4) Peneliti memberikan lembar informed consent kepada responden


5) Peneliti memberikan lembar kuisioner dengan mengunjungi rumah

responden satu-persatu (door to door), kuisioner yang akan diberikan

kepada penderita DM tipe II di wilayah kerja Puskesmas Kelir meliputi

kuisioner The depression anxiety scale 42 dan kuisioner DQOL untuk

megetahui Kualitas Hidup, kemudian kuisioner akan diisi oleh

responden.

6) Peneliti merekap hasil penelitian dan mengolah hasil penelitian

4.8.1 Analisa Data


64

a. Analisa Deskriptif
1. Editing

Proses penyuntingan hasil wawancara atau angket yang

telah di dapat oleh peneliti selama proses penelitian.

2. Coding

Pemberian kode pada data yang didapat selama penelitian

yaitu dengan mengubah data dari bentuk kalimat menjadi angka.

Coding variabel Tingkat Depresi:

- Normal: 0

- Depresi Ringan: 1

- Depresi Sedang: 2

- Depresi Berat :3

- Depresi Sangat Berat: 4

Coding variabel Kualitas Hidup :

a) Sangat Puas :5
b) Puas :4
c) Biasa-biasa saja :3
d) Tidak puas :2
e) Sangat tidak puas :1

3. Scoring

Penentuan nilai atau skor pada setiap item pertanyaan

untuk menentukan hasil skor dari tingkat tertinggi hingga yang

paling rendah.

Tingkat depresi

a. Normal : 0-9
65

b. Depresi ringan : 10-13

c. Depresi sedang: 14-20

d. Depresi berat : 21-27

Kualitas hidup :

a) Buruk : 2% - 23%
b) Sedang : 24% - 48%
c) Baik : 49% - 72%
d) Sangat Baik : 73% - 100%
4. Tabulating

Tabulating merupakan langkah menghitung lebih detail

dengan tampilan tabel dan pengelompokkan status nilai dari

masing-masing variabel hasil survey dan observasi yang telah

dilakukan sebelumnya (Jonathan Sarwono, 2015)

b. Analisa satatistik

Berdasarkan data yang terkumpul untuk tingkat depresi menggunakan

skala ordinal dan kualitas hidup menggunakan skala ordinal. Setelah

data terkumpul selanjutnya akan diolah menggunakan uji statistik

yang relevan adalah dengan uji rank spearman ) untuk mengetahui

hubungan antara variabel bebas dan variabel terikat dengan skala data

ordinal dan ordinal menggunakan tabel kontingensi menggunakan


66

SPSS 25 for windows. Jika nilai yang di dapat pada pengujian statistik

menunjukkan nilai 0,05 maka terdapat hubungan signifikan antara

Tingkat depresi dengan kualitas hidup pada penderita diabetes melitus

tipe II dengan kata lain Ho di tolak. Sedangkan jika 0,05 berarti

Ho diterima atau tidak ada hubungan yang signifikan antara

tingkatdepresi dan kualitas hidup pada penderita diabetes melitus tipe

II.

4.9 Etika Dalam Penelitian

Dalam pelaksanaan penelitian ini, sebelum terjun langsung ke lapangan

peneliti meminta permohonan izin dari Kepala Puskesmas Kelir tempat

penelitian untuk mendapatkan persetujuan, setelah mendapatkan persetujuan

peneliti langsung melakukan oberservasi terhadap subjek yang diteliti dan

mengikut sertakan poin-poin yang akan ditekankan kepada subjek yaitu

meliputi :

4.9.1 Informed Consent

Informed consent merupakan pemberian informasi detail yang

berkaitan dengan dilakukannya proses penelitian yaitu dengan bentuk

hak subjek untuk menolak atau menerima tawaran dalam berpartisipasi

sebagai responden (Nursalam, 2016)

4.9.2 Anonimity
67

Dalam menjaga kerahasiaan identitas asli subjek, maka subjek

tidak diperkenankan menulis nama lengkap sehingga cukup

menggunakan kode dalam pengisian identitas. Tetapi jika dalam proses

penelitian terjadi hal yang tidak diinginkan dan menuntut peneliti untuk

menuliskan detail identitas subjek maka peneliti wajib mengambil

langkah untuk meminta izin terlebih dahulu sebagai bentuk perlindungan

dalam menjaga kerahasiaan subjek (wasis, 2015).

4.9.3 Confidentiality

Etika dalam melakukan penelitian yaitu menjamin sebuah

kerahasiaan hasil penelitian, baik berupa informasi atau data yang

lainnya. Kerahasiaan subjek telah dijamin kerahasiaannya oleh peneliti

dan hanya ditampilkan dalam forum yang akan dijadikan tempat sebagai

laporan hasil riset (Aziz, Alimahul A, 2016)

4.9.4 Justice (Keadilan)

Justice adalah suatu bentuk terapi adil terhadap orang lain yang

mengunjunjung tinggi prinsip moral, legal dan kemanusiaan, prinsip

keadilan juga di terapkan pada Pancasila Negara Indonesia pada sila ke

5 yakni keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia. Dengan ini

menunjukan bahwa prinsip keadilan merupakan suatu bentuk prinsip

yang dapat menyeimbangkan dunia.

4.9.5 Non Malefisience (Tidak Merugikan)


68

Non Malefisience adalah sebuah prinsip yang mempunyai arti

bahwa setiap tindakan yang dilakukan pada seseorang tidak

menimbulkan kerugian secara fisik maupun mental.

4.9.6 Respect for respon ( menghormati harkat dan martabat

manusia)

Juice adalah suatu bentuk terapi adil terhadap orang lain yang

menjunjung tinggi prinsip moral, legal, dan kemanusiaan. Prinsip

keadilan juga di tetapkan pada pancasila Negara Indonesia pada

sila ke-5 yakni keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia.

Dengan ini menunjukkan bahwa prinsip yang dapat

menyeimbangkan dunia (Abrori,2016).

4.9.7 Beneficience ( memanfaatkan manfaat dan meminimalkan

resiko )

Keharusan secara etika untuk mengusahakan manfaat sebesar-

besarnya dan memperkecil kerugian atau resiko bagi subjek dan

memperkecill kesalahan peneliti. Dalam hal inipenelitian harus

dilakukan dengan tepat dan akurat, serta responden terjaga

keselamatan dan kesehatan.


69

DAFTAR PUSTAKA

Fatimah, R. N. (2015). DIABETES MELITUS TIPE 2. J MAJORITY, 94.


GAMBARAN TINGKAT DEPRESI PASIEN DIABETES MELLITUS. (n.d.).
Jurnal Kesehatan Poltekkes Ternate.
Misnadiarly, 2. (2017). FAKTOR-FAKTOR YANG BERHUBUNGAN DENGAN
KEPATUHAN DALAM PENGELOLAAN DIET PADA PASIEN RAWAT
JALAN DIABETES MELLITUS TIPE 2 DI KOTA SEMARANG. Jurnal of
Health Education.
PH, L., Sari, I. P., & Hermanto. (2018). GAMBARAN TINGKAT DEPRESI PASIEN
DIABETES MELLITUS. Jurnal Kesehatan Poltekkes Ternate, 48-57.
70

Potter, & Perry. (2014). Fundamental Of Nursing: Consep, Proses and Practice.
EGC.
Price, S., & Wilson, L. (2015). Patofisiologi, Konsep Klinis Proses-.
Rizky, D., Rozalina, & Handini, M. (2019). Gambaran Tingkat Depresi Penderita
Diabetes Melitus Tipe 2. Jurnal Cerebellum.
Safitri, D., sudaryanto, A., & ambarwati, R. (2012). HUBUNGAN ANTARA
TINGKAT DEPRESI DENGAN KUALITAS HIDUP.
Schteingart. (2015). Pankreas: Metabolisme Glukosa dan Diabetes Melitus dalam
Pathophysiology: Clinical Concepts of Disease Process.
Perry & Potter. (2005). Fundamental of nursing. Jakarta: Penerbit
American Diabetes Association (2014). Diagnosis and Clasification of Diabetes,
Diabetes Care 1 januari 2014 vol: 27
American Diabetes Association(ADA).2013. Standards of medical care in diabetes
2013. Diabetes Care (36):13
Perkeni (2015). Konsessus Pengelolaan dan Pencegahan Diabetes Mellitus tipe 2 di
Indonesia. Jakarta. PB PERKENI.
Lanywati. (2011). Diabetes Mellitus Penyakit Kencing Manis. Yogyakarta: Kanisius.
Prabowo. 2013. Modifikasi pola hidup. [Link]
07/01/2020
Rehman,U.A & Kazmi,S.F (2015).”Prevalence and Levelof Depression,Anxiety, and
Stress among Patients withType-2 Diabetes Mellitus”. Department of
psychology. 11(2):81-86.
Soegondo S., 2009. Buku Ajar Penyakit Dalam: Insulin : Farmakoterapi pada
pengendalian Glikemia Diabetes Mellitus Tipe 2, jilid III, edisi4, Jakarta:FKUI
pp.1884.
Soegondo S.2006, Penyuluhan sebagai Komponen Terapi Diabetes dan
Penatalaksanaan Terpadu, Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia, Jakarta.
Global report on diabetes mellitus. (2018). WHO Library Cataloguing-in-Pulication
Data. World Health Organization.
Riset Kesehatan Dasar Riskesdas 2018. [Link] (Diakses pada
tanggal 17 januari 2020).
National Institute of Mental Health. [Link] and college Students. NIMH: 1-
8.
Lumongga Lubis, Namora. 2009. Depresi Tinjauan Psikologi. Jakarta:Kencana.
Saryono. 2010. Kumpulan Instrumen Penelitian Kesehatan. Yogyakarta. Nuha
Medika.
Lovibond, S.H & Lovibond, P.F. 1995. Manual for the Depression Anxiety Stress
Scales. The Psychology Foundation of Australia inc.
Dinkes banyuwangi. (2018). Prevalensi diabetes mellitus di banyuwangi.
71

Depkes RI. (2018). Pusat datadan informasi profil kesehetan Indonesia. Jakarta :
departemen Kesehatan RI.
Nursalam. (2011). Konsep dan penerapan metodologi penelitian ilmu keperawatan .
Jakarta : Salemba Medika.
Nursalam. (2016). Konsep dan Penerapan Metodologi Penelitian Ilmu Keperawatan
Pedoman Skripsi, Tesis dan Instrument Penelitian Keperawatan. Jakarta:
Salemba Medika.
Nursalam. 2013. Metodologi penelitian ilmu keperawatan : Pendekatan Praktis :
Jakarta: Salemba Medika
Nasution , I.K, 2007. Stress Pada Remaja. USU Repository. Medan : Program Studi
Psikologi, Universitas Sumetera Utara
PPDGJ III. (2011). Departemen Kesehatan RI Direktorat Jenderal Pelayanan Medis.
Shahab, A 2006. Buku ajar ilmu penyakit dalam. Jilid 3. Edisi IV. Jakarta:
Departemen Ilmu Penyakit Dalam FKUI
Kaplan, HI 2010. Ilmu keperawatan jiwa darurat. Widya Medika.
Ramdani.2016. Gambaran Tingkat Depresi pada pasien diabetes mellitus tipe 2 di
rumah sakit umum kota tegal. Program studi ilmu keperawatan. Fakultas
kedokteran dan ilmu kesehatan. Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatulloh
Jakarta.
Sadock BJ, Sadock VA. Kaplan & Sadock. 2010. Comprehensive textbook of
psychiatry. 9 ed.
Guyton, Hall. 2007. Buku Ajar Fisiologi Kedokteran. Edisi 15. Jakarta: EGC
Degmecic, dkk.2014. Depression, Anxiety And Cognitive Dysfunction In patients
With Type 2 Diabetes Mellitus – A StudyOf Adult Patient with Type 2 Diabetes
Mellitus in osijak, Croatia :2:711-716. Di akses pada tanggal 20 februari 2020.
Puskesmas Kelir. (2019). Demografis dan Profil Puskesmas Kelir Tahun 2019.
Banyuwangi : Puskesmas Kelir
Saptarini, Sri Kunthi. (2014). Menu 30 Hari Untuk Diabetes. Yogyakarta: Cable Book
Tandra. (2015). Life Healthy with Diabetes Mengapa dan Bagaimana. Yogyakarta:
CV Andi Offset
Tandra. (2013). Segala Sesuatu yang Terus Anda Ketahui tentang Diabetes. Jakarta:
PT Gramedia Pustaka Umum
WHO. (2016). The World Health Organization Quality Of Life Assesment
(WHOQOL): Development and General Psychometric Properties. [Link]. Med.
Vol 46, No.12, pp.1569-1585. Great Britain
72
Lampiran 2
110

Lampiran 3
111

Lampiran 4
112

Lampiran 5
113

Lampiran 6
114

Lampiran 7
SURAT PERMOHONAN MENJADI RESPONDEN
Kepada Yth :
Responden
Di Tempat
Saya Ahmad saifuddin Antara mahasiswa program studi S1
Keperawatan STIKES Banyuwangi, maksud dan tujuan penelitian ini
untuk mengetahui “Hubungan Tingkat Depresi Dengan Kualitas Hidup
Pada Penderita Diabetes Mellitus Tipe 2 Di Puskesmas Kelir Tahun 2020”.
Untuk keperluan penelitian saya, saya mohon kesediaan Bapak/Ibu
untuk menjadi responden dalam penelitian ini. Adapun segala informasi
yang Bapak/Ibu berikan akan dijamin kerahasiaannya.
Sehubungan dengan hal tersebut, peneliti meminta kesediaan
Bapak/Ibu untuk menjadi responden dengan mengisi Kuesioner yang telah
disediakan dengan kejujuran.
Adapun penjelasan dari penelitian ini diantaranya adalah :

1. Tujuan
Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui hubungan antara

tingkat Depresi dengan kualitas hidup penderita diabetes mellitus tipe

2 di wilayah kerja puskesmas kelir tahun 2020.


2. Manfaat
responden dapat mengetahui informasi mengenai Depresi pada

penderita diabetes mellitus dan penanganannya, sehingga memotivasi

kepada individu (responden) untuk memiliki kualitas hidup yang lebih

baik
3. Kerugian
Tidak ada kerugian yang diakibatkan oleh penelitian ini karena hanya
memberikan kuesioner.

4. Kerahasiaan Data
Hasil pengisian lembar observasi akan ditulis dengan menggunakan
inisial dan disimpan dilokasi yang aman dan disimpan selama 3 tahun
setelah penelitian selesai.
115

5. Kompensasi
Tidak ada intensif berupa uang yang akan diberikan kepada responden
karena keikutsertaan subjek bersifat sukarela. Tetapi aka nada
bingkisan bagi responden yang bersedia ikut dalam penelitian ini.
6. Hak Untuk Diri
Keikutsertaan responden dalam penelitian ini bersifat sukarela dan
berhak mengundurkan diri kapanpun, tanpa menimbulkan
konsekuensi yang merugikan.

Demikian surat permohonan menjadi responden saya buat,


atas kesediaan dan kerjasamanya saya ucapkan terima kasih.

Banyuwangi, 2020

AHMAD SAIFUDDIN
2016.02.002

Lampiran 8

SURAT PERSETUJUAN MENJADI RESPONDEN

(INFORMED CONSENT)

Judul : Hubungan Tingkat Depresi Dengan Kualitas Hidup Pada

Penderita Diabetes tipe 2 Di Puskesmas Kelir 2020.

Nama Peneliti : Ahmad Saifuddin


116

NIM : 2016.02.002

Saya yang bertanda tangan di bawah ini :

Nama :

Umur :

Setelah mendapat penjelasan serta mengetahui tujuan dari manfaat

penelitian yang berjudul “Hubungan Tingkat Depresi Dengan Kualitas Hidup

Pada Penderita Diabetes Mellitus Tipe 2 Di Puskesmas Kelir Banyuwangi Tahun

2020”

Kami mengharapkan tanggapan dan kesediaan Bapak/Ibu menjadi

responden untuk keperluan diatas. Kami menjamin kerahasiaan informasi dan

identitas Bapak/Ibu. Informasi yang Bapak/Ibu berikan hanya akan dipergunakan

untuk pengembangan ilmu keperawatan.

Banyuwangi, 2020

Responden

Lampiran 9

KUESIONER DATA DEMOGRAFI

Petunjuk pengisian
Jawablah pertanyaan di bawah ini dan berilah tanda (√) pada salah satu jawaban
yang sesuai dengan jawaban yang menurut Anda benar. Bila ada yang kurang
dimengerti Bapak/Ibu, dapat bertanya kepada peneliti

1. Inisial responden (di isi peneliti) :


2. Tanggal Lahir :
117

3. Usia :
4. Jenis Kelamin : 1. Laki-laki 2. Perempuan
5. BB/TB :……………….kg / ……………cm
6. Pendidikan : 1. Tidak sekolah 2. SD 3. SMP
4. SMA 5. Diploma 6. Sarjana/strata 1
7. Lain-lain.......................
7. Pekerjaan :
8. Suku : 1. Jawa 2. Madura 3. Lain-lain………………
9. Agama : 1. Islam 2. Kristen 3. Hindu
4. Budha 5. Katholik 6. Konghucu
10. Status Hubungan dengan Keluarga :

Lampiran 10

INSTRUMEN PENELITIAN TINGKAT DEPRESI


PETUNJUK PENGISIAN INSTRUMEN
Bacalah setiap pertanyaan dengan cermat dan teliti. Pilihlah jawaban yang
menurut anda paling tepat dan sesuai dengan kondisi yang ada dan terjadi pada
anda ketika anda sedang menghadapi masalah atau situasi stress atau depresi.
Berilah tanda (√) pada salah satu dari empat alternative jawaban yang sesuai.
Pilihlah jawaban yang tersedia :

Keterangan
0 : Tidak ada atau tidak pernah
1 : sesuai dengan yang di alami sampai tingkat tertentu, atau kadang –
kadang
2 : sering
3 : sangat sesuai dengan yang di alami, atau hampir setiap saat.
Kuesioner ini terdiri dari berbagai pertanyaan yang mungkin sesuai dengan
pengalaman saudara dalam menghadapi situasi hidup sehari-har,yaitu :
118

0 1 3
2
No PERTANYAAN
Tidak Kadang- Sering
sering
pernah kadang sekali

1. Tidak dapat melihat hal yang positif

dari suatu kejadian


2. Merasa seepertinya tidak kuat lagi

untuk melakukan suatu kegiatan


3. Tidak percaya diri

4. Merasa sedih atau depresi

5. Kehilangan minat pada banyak hal


(misal : makan,sosialisasi)
6. Merasa diri tidak layak

7. Merasa diri tidak berharga

8. Tidak dapat menikmati hal-hal yang


saya lakukan
9. Merasa hilang harapan dan putus asa
10. Sulit antusias pada banyak hal

11. Sulit mentoleransi gangguan-gangguan


terhadap hal yang sedang di lakukan
12. Tidak ada harapan untuk masa depan
13. Merasa hidup kurang berarti

14. Sulit untuk meningkatkan inisiatif


dalam melakukan sesuatu

INDIKATOR PENILAIAN

TINGKAT DEPERSI
119

Normal 0–9
Ringan 10 – 13
Sedang 14 – 20
Berat 21 – 27
Sangat Berat >28
120

KUESIONER KUALITAS HIDUP


Nama (inisial) :
Umur :
Jenis Kelamin :
Pendidikan :
Alamat :
Lama menderita DM :

Bagian III

Bacalah setiap pernyataan dengan teliti. Berilah tanda silang (X) pada jawaban
yang Saudara anggap paling menggambarkan diri Saudara.

Adapun pilihan jawabannya adalah sebagai berikut:


 Sangat Puas
 Puas
 Biasa-biasa saja
 Tidak Puas
 Sangat Tidak Puas

Contoh:

Sangat
Seberapa puas saya mengenai beberapa Sanga Biasa- Tidak
No. Puas Tidak
hal di bawah ini: t biasa saja Puas
Puas
Puas
1. Kondisi kesehatan saya saat ini. X

Artinya: Saya sangat puas dengan kondisi kesehatan saya saat ini.
121

San
Seberapa puas saya mengenai beberapa Sangat Biasa- Tida
No. Puas Ti
hal di bawah ini: Puas biasa saja k
Pu
Puas
1 Waktu untuk mengelola diabetes saya.

2 Waktu untuk mengecek kesehatan saya.

3 Kadar gula dalam tubuh saya.

4 Pengobatan diabetes saya saat ini.

5 Pengetahuan saya tentang diabetes.

6 Kehidupan saya secara keseluruhan.


122

Pilihan jawaban disesuaikan dengan jumlah hari dalam satu minggu (7 hari).
Adapun pilihan jawabannya adalah sebagai berikut :
 Tidak pernah
 Sangat jarang
 Kadang-kadang
 Sering
 Selalu

Contoh:

Tidak
No. Pernyataan Sangat Kadang- Serin Selalu
Pernah
jarang kadang g
Saya tidak manghadiri jamuan makan
1 X
karena diabetes saya.

Artinya: Saya sering tidak menghadiri jamuan makan karena diabetes saya.

Tidak
No Pernyataan Sangat Kadang- Sering Selalu
Perna
Jarang kadang
h
Saya merasa sakit berkaitan dengan
1
perawatan untuk diabetes saya.
2 Saya merasa sakit secara fisik.

3 Diabetes mengganggu kehidupan keluarga


saya.
Diabetes membatasi saya dalam hubungan
4
sosial dan pertemanan.
123

Pilihan jawaban disesuaikan dengan jumlah hari dalam satu minggu (7 hari).
Adapun pilihan jawabannya adalah sebagai berikut :
 Tidak pernah
 Sangat Jarang
 Kadang-kadang
 Sering
 Selalu

Contoh:

Saya merasa khawatir Tidak


No. Sangat Kadang- Sering Selalu
mengenai beberapa hal di Pernah
Jarang kadang
bawah ini:
1 Akan kondisi kesehatan saya. X

Artinya : Saya sering merasa khawatir akan kondisi kesehatan saya.

Saya merasa khawatir Tidak


No. Sangat Kadang- Sering Selalu
mengenai beberapa hal di Pernah
Jarang kadang
bawah ini:
1 Akan pingsan di tempat umum.

Tubuh saya terlihat berbeda karena


2
diabetes yang saya miliki.
Akan mengalami komplikasi akibat
3
diabetes yang saya miliki.
124

Lampiran 11
125
126
127

Anda mungkin juga menyukai