IDENTIFIKASI PERMASALAHAN
Keberhasilan pembangunan suatu daerah salah satunya dapat diukur dari kemampuan
pemerintah daerah dalam menyelesaikan permasalahanpermasalahan publik yang ada.
Kemampuan pemerintah daerah menuntaskan permasalahan yang dikeluhkan publik, akan
memberikan dampak positif terhadap penilaian kinerja yang terwujud dalam apresiasi dan
kepuasan masyarakat. Oleh karenanya, menjadi sangat penting bagi pemerintah daerah untuk
memiliki kemampuan mengidentifikasi permasalahan-permasalahan publik, sehingga dapat
merumuskan dan melaksanakan kebijakan yang tepat serta akurat.
Salah satu yang dapat dilakukan untuk mengantisipasi dinamika di lingkungan kebijakan
yang melingkupi pemerintah daerah adalah dengan mengkaji dokumen-dokumen perencanaan
pembangunan terkait dan berpengaruh terhadap daerah tersebut. Untuk menjamin penyelerasan
pembangunan dan pencapaian tujuan nasional, daerah perlu mensinkronkan dengan perencanaan
pembangunan di tingkat nasional dan provinsi. Sedangkan di tingkatan lokal, pemerintah daerah
juga perlu mengkaji perencanaan pembangunan yang dilakukan oleh daerah sekitar, sehingga
dapat menjadi acuan dalam merumuskan strategi pembangunan ke depan.
Berdasarkan hasil survei dan pemetaan yang dilakukan selama tahun 2015, secara umum
permasalahan pembangunan yang dihadapi oleh Kabupaten Ponorogo adalah sebagai berikut:
a. Tingginya angka kemiskinan
b. Tingginya angka pengangguran
c. Belum maksimalnya kontribusi sektor pertanian
d. Kerusakan Infrastruktur
e. Belum meratanya akses dan kualitas pendidikan dan kesehatan
f. Permasalahan tata kelola pemerintahan
g. Belum optimalnya pengelolaan Sumber Daya Daerah
h. Belum Optimalnya Penataan kawasan yang berwawasan lingkungan
Isu-isu strategis dirumuskan dengan menggunakan analisis SWOT terhadap kondisi fisik
dan sarana prasarana, sosial budaya dan perekonomian Kabupaten Ponorogo, yang
disandingkan dengan isu-isu di tingkat provinsi, nasional dan internasional.
A. Kekuatan (Strength)
Kabupaten Ponorogo memiliki banyak potensi yang dapat dikembangkan menjadi
kekuatan daerah, meliputi beberapa aspek sebagai
berikut:
130 RPJMD KABUPATEN PONOROGO TAHUN 2016 – 2021
BAB IV
Kondisi Fisik dan Sarana Prasarana. Kabupaten Ponorogo
memiliki lokasi
yang cukup strategis, berada di wilayah SelatanJawa Timur dan
berbatasan
langsung Jawa Tengah. Lokasinya yang tidak jauh dari Kota
Madiun (pusat
Wilayah Pengembangan Madiun), Kabupaten Ponorogo
menjadi
penghubung utama dengan beberapa kabupaten di wilayah
Selatan Jawa
Timur, yaitu Pacitan, Trenggalek dan Tulungagung. Untuk menunjang
peran
tersebut, Kabupaten Ponorogo telah memiliki terminal utama
Seloaji yang
berada di Kecamatan Babadan. Terminal Seloaji mampu
menjadi
penghubung transportasi antar kota antar provinsi (Ponorogo-
Jawa Tengah,
Ponorogo-Jakarta-Bogor), antar kota dalam provinsi (Ponorogo-
MadiunSurabaya-Malang, Ponorogo-Pacitan, Ponorogo-Trenggalek-TulungagungBlitar,
Ponorogo-Madiun-Magetan).
Kondisi Sosial Budaya. Kabupaten Ponorogo memiliki sejarah
dan kekhasan
budaya yang dapat menjadi modal pembangunan. Sejarah
Kabupaten
Ponorogo sebagai salah satu daerah pusat pendidikan agama
(Pondok
Pesantren) sejak era Kerajaan Mataram Islam hingga saat ini
menjadi daya
tarik yang kuat bagi calon siswa/santri dari berbagai penjuru
daerah di
Indonesia bahkan dunia. Pondok pesantren yang berjumlah
ratusan di
Kabupaten Ponorogo dengan salah satu yang terkenal yaitu
Pondok
Pesantren Modern Darussalam Gontor menjadi kekuatan
yang dapat
dioptimalkan dalam menunjang pencapaian tujuan pembangunan di
Ponorogo.
Kabupaten Ponorogo juga memiliki kekayaan budaya yang sangat
khas
dan mendapat pengakuan dunia yaitu Reog Ponorogo. Reog
Ponorogo
menjadi salah satu warisan seni dan budaya dunia yang sudah
didaftarkan di
UNESCO. Kondisi ini tentunya menjadi sangat menguntungkan
bagi
Kabupaten Ponorogo, tidak hanya berkaitan dengan semakin
dikenalnya
Ponorogo di level dunia, tetapi juga dapat dilestarikan dan
dikembangkan
sehingga dapat menunjang peningkatan kesejahteraan masyarakat.
Tidak hanya tentang Ponpes dan reog, warisan budaya
kuliner
khas Ponorogo juga layak untuk dikembangkan dan bersaing dengan
kuliner-
131 RPJMD KABUPATEN PONOROGO TAHUN 2016 – 2021
BAB IV
kuliner yang ada di Indonesia. Beberapa kuliner khas Ponorogo
yang sudah
cukup terkenal adalah sate ayam dan dawet Jabung.
Kondisi Perekonomian. Kabupaten Ponorogo memiliki
potensi
perekonomian yang ditopang oleh beberapa sektor yang tergambar
pada
Produk Domestik Regional Bruto (PDRB). Dari tahun ke tahun
PDRB
Kabupaten Ponorogo mengalami tren kenaikan dengan komposisi
yang tidak
jauh berbeda dari beberapa sektor dan sub sektor yang ada.
Laju implisit
PDRB Kabupaten Ponorogo angka sementara pada tahun 2014
tercatat
sebesar 5,28 persen, dan tahun 2015 angka sangat sementara pada
angka
5,29 persen, dimana kontribusi Pertanian, Kehutanan dan
Perikanan
mencapai 31,80 persen. Hampir di seluruh wilayah
yang ada di Kabupaten
Ponorogo merupakan daerah penghasil produk pertanian,
kecuali ibukota
Kabupaten yang telah menjelma menjadi pusat perdagangan dan
jasa.
Produk dominan pertanian yang menjadi unggulan Kabupaten
Ponorogo
adalah komoditas tanaman pangan seperti padi dan palawija.
Kondisi
geografis wilayah yang subur dan iklim yang sesuai untuk
kegiatan pertanian
membuat sektor pertanian masih menjadi andalan dalam
perekonomian
Kabupaten Ponorogo. Data ini menunjukkan bahwa pertanian masih
menjadi
faktor penggerak utama perekonomian di Ponorogo. Dengan
struktur
masyarakat yang mayoritas adalah petani, sektor ini masih tetap
menjadi
kekuatan Ponorogo dalam beberapa tahun ke depan.
Sektor yang juga mengalami kenaikan tren cukup tinggi dari tahun
ke
tahun adalah perdagangan besar dan eceran, reparasi mobil dan
sepeda
motor, dari 14,97 persen pada tahun 2010 menjadi 15,85 persen pada
tahun
2014. Dengan tren kenaikan yang cukup tinggi, sektor perdagangan
besar
dan eceran, reparasi mobil dan sepeda motor juga dapat
menjadi sektor
potensial dalam memperkuat perekonomian Kabupaten Ponorogo.
Terlebih
jika terdapat upaya yang sistematis dalam mengembangkan
potensi-potensi
ekonomi di tingkat lokal berkaitan dengan
pengembangan wisata alam,
budaya dan sejarah yang juga menjadi kekuatan Ponorogo.
132 RPJMD KABUPATEN PONOROGO TAHUN 2016 – 2021
BAB IV
Kondisi Geografis. Kabupaten Ponorogo sebagian besar
pendudukanya
bermata pencaharian sebaga petani dan didukung dengan masih
luas dan
produktifnya lahan pertanian. Luas lahan sawah keseluruhan 34.801 hektar
dan sawah yang didukung dengan irigasi teknis seluas 30.092
hektar atau
86,47% lahan sawah didukung irigasi tenis yang bagus. Sisanya
merupakan
lahan sawah tadah hujan.
B. Kelemahan (Weaknesses)
Beberapa kelemahan yang perlu mendapat perhatian lebih di
Kabupaten Ponorogo adalah sebagai berikut:
Kondisi Fisik dan Sarana Prasarana. Kelemahan Kabupaten
Ponorogo yang
berhubungan dengan kondisi fisik dan sarana prasarana adalah keberadaan
infrastruktur jalan yang tidak memadai karena banyak jalan yang
rusak di
sebagian besar wilayah Kabupaten Ponorogo. Kerusakan jalan
di Kabupaten
Ponorogo ditemukan di semua level jalan, baik jalan nasional,
provinsi,
kabupaten hingga jalan lingkungan. Kondisi infrastruktur jalan yang
tidak
memadai berpengaruh besar terhadap kualitas kehidupan
masyarakat,
menghambat arus barang dan jasa untuk masuk dan keluar daerah,
serta
mobilitas penduduk. Tidak memadainya infrastruktur jalan pada
akhirnya
memunculkan ekonomi biaya tinggi bagi sebagian besar masyarakat.
Disamping kondisi jalan, kelemahan lain yang juga muncul
adalah
belum terkoneksinya antar wilayah kecamatan dan desa dengan
sistem
transportasi publik yang memadai, terutama wilayah-wilayah
kecamatan
yang ada di pinggiran dan pelosok. Sementara ini jalur
transportasi
terkoneksi melalui jalur bus antar kota dalam dan luar
provinsi. Sedangkan
wilayah-wilayah yang tidak dilewati jalur bus sangat terbatas
akses
transportasinya. Disamping transportasi penumpang, kelemahan yang
ada
juga berkaitan dengan transportasi barang. Di beberapa
wilayah pinggiran
dan pegunungan, dengan tidak adanya transportasi reguler
mengakibatkan
masyarakat/petani mengeluarkan biaya yang cukup tinggi untuk menjual
barang dan produk-produk ekonomi dari tempat tinggalnya
menuju kota
133 RPJMD KABUPATEN PONOROGO TAHUN 2016 – 2021
BAB IV
atau bahkan hingga ke daerah lain. Berkaitan dengan
kelemahan tersebut,
muncul kelemahan lain dengan belum tersedianya pasar yang
mampu
menampung produk-produk pertanian atau produk lain di
Ponorogo.
Keberadaan pasar agribisnis sebagai pusat promosi dan
transaksi akan
sangat membantu petani dan masyarakat Ponorogo secara keseluruhan.
Pada aspek yang lain, kondisi sarana dan prasarana di bidang
pendidikan dan kesehatan juga masih belum optimal di
Kabupaten
Ponorogo. Kelemahan yang muncul utamanya berkaitan dengan
pemerataan
terhadap akses dan kualitas pelayanan pendidikan dan
kesehatan. Di
beberapa kecamatan masih ditemukan ketersediaan sarana dan
prasarana
yang tidak seimbang jika dibandingkan dengan kecamatan yang
ada di
sekitar kota. Semakin jauh dari pusat kota, semakin banyak
ditemukan
ketidakseimbangan antara sarana dan prasarana dengan kebutuhan
pelayanan kepada masyarakat.
Kondisi Sosial Budaya. Kelemahan yang muncul di
Kabupaten Ponorogo
berkaitan dengan kondisisosial dan dan budaya masyarakat adalah
problem
klasik kemiskinan dan pengangguran. Sebagaimana uraian sebelumnya,
fenomena kemiskinan di Ponorogo meliputi beberapa faktor
dan dimensi
yang menuntut penanganan komprehensif melalui sinkronisasi
beberapa
program pengentasan kemiskinan. Meski sudah sangat banyak
program
pengentasan kemiskinan dijalankan, ternyata hanya memberikan
dampak
yang sangat kecil terhadap penurunan angka kemiskinan.
Sedangkan permasalahan pengangguran muncul dikarenakan
pertambahan angkatan kerja tidak diiringi dengan bertambahnya
lapangan
pekerjaan. Dengan struktur ekonomi yang didominasi oleh
pertanian,
pertambahan lapangan pekerjaan menjadi sulit untuk bertambah
secara
cepat jika tidak diiringi oleh pertumbuhan pada sektor-sektor riil
yang lain.
Di sisi yang lain, pertumbuhan sektor riil tanpa diimbangi
dengan
peningkatan kualitas sumberdaya manusia/tenaga kerja juga
berpotensi
memunculkan permasalahan tidak terserapnya tenaga kerja lokal karena
gagal bersaing dengan tenaga kerja dari luar daerah.
Kendala ini yang ke
134 RPJMD KABUPATEN PONOROGO TAHUN 2016 – 2021
BAB IV
depan harus direspon dengan berbagai kebijakan yang
simultan dan
komprehensif.
Kondisi Perekonomian. Keadaan perekonomian di Kabupaten
Ponorogo
mengalami peningkatan dari tahun ke tahun jika mengacu pada
PDRB. Pada
tahun 2015 pertumbuhan ekonomi Kabupaten Ponorogo sebesar
5,24%,
tahun 2014 mencapai angka 5,28 persen, sedangkan tahun 2013
terjadi
pertumbuhan ekonomi sebesar 5,17%. Pertumbuhan ekonomi
mengalami
perlambatan apabila dibandingkan dengan tahun sebelumnya yaitu
tahun
2014. Namun angka tersebut masih sedikit dibawah
Provinsi Jawa Timur
sebesar5,86 persen.
Jika dikaji secara makro angka tersebut menggambarkan
perekonomian yang berkembang positif, namun yang cukup
mengkhawatirkan adalah kontribusi pertanian yang trennya
cenderung
menurun jika dibandingkan dengan sektor perdagangan. Kontribusi
pertanian cenderung menurun dan beralih ke perdagangan,
salah satu
faktornya adalah menurunnya tingkat kesuburan lahan serta
perubahan
iklim yang kurang mendukung kegiatan pertanian. Meskipun
dari sisi
produksi tetap meningkat namun tingkat pertumbuhannya kalah
cepat
dengan pertumbuhan sektor lainnya.
Kondisi tersebut juga memberikan gambaran, bahwa sektor
pertanian
sudah mulai mengalami stagnasi dalam menyumbang pertumbuhan
perekonomian di Ponorogo. Jika tren ini terus berlanjut, bukan
tidak
mungkin secara makro akan terjadi penurunan pertumbuhan ekonomi
ketika
penurunan di sektor pertanian tidak diimbangi dengan
pertumbuhan di
sektor-sektor yang lain. Oleh karenanya ke depan diperlukan
terobosan
kebijakan yang dapat kembali memperkuat sektor pertanian. Pada
saat yang
sama pertumbuhan pertanian tersebut juga mampu mendongkrak
sektorsektor yang lain.
Di sisi yang lain, Kabupaten Ponorogo sebagaimana
kabupaten/kota
lain di Indonesia rentan dengan inflasi relative sedang sampai dengan
tinggi.
Inflasi adalah kenaikan harga barang-barang secara umum. Laju inflasi
yang
135 RPJMD KABUPATEN PONOROGO TAHUN 2016 – 2021
BAB IV
tidak terkendali dapat memicu penurunan daya beli masyarakat,
terutama
oleh masyarakat miskin yang tidak memiliki tabungan. Selain itu,
tingginya
laju inflasi juga memberikan dampak semakin melebarnya
tingkat distribusi
pendapatan di masyarakat. Inflasi yang tinggi juga berpotensi
menghambat
investasi produktif. Hal ini karena tingginya tingkat
ketidakpastian
(mendorong investasi jangka pendek) dan tingginya bunga. Dan
secara
makro, dalam jangka panjang inflasi yang tinggi dapat menyebabkan
pertumbuhan ekonomi terhambat bahkan dapat menjadikan
penurunan
tingkat pertumbuhan ekonomi daerah.
C. Peluang (Opportunity)
Di tengah kekuatan dan kelemahan yang dimiliki oleh
Kabupaten
Ponorogo, terdapat beberapa kondisi yang memberikan
kesempatan dan
peluang yaitu:
Kondisi Fisik dan Sarana Prasarana. Belum memadainya kondisi
infrastruktur terutama jalan dan jembatan menjadi salah satu
kelemahan
Kabupaten Ponorogo. Untuk dapat mengejar perbaikan jalan dan
jembatan
dibutuhkan pendanaan yang tidak sedikit. Dengan kapasitas
keuangan
daerah yang terbatas, pembangunan jalan tidak dimungkinkan
dilakukan
dalam waktu yang cepat. Oleh karenanya pemerintah daerah dapat
mencari
peluang dan kemungkinan agar pelaksanaannya dapat dilakukan
dengan
tuntas dan cepat.
Beberapa peluang dan situasi yang memungkinkan terjadinya
perbaikan kondisiinfrastruktur adalah sebagai berikut:
a. Berlakunya Undang-Undang Nomor 6 Tahun 2014 tentangDesa
Implementasi Undang-Undang Desa memberikan dampak positif
terhadap pembangunan di [Link] alokasi dana dari
pemerintah
pusat dan masuk dalam APBDes akan meringankan beban pemerintah
daerah dalam membangun desa khususnya infrastruktur di tingkat desa.
b. Rencana Pembangunan Jalan Lingkar Wilis
136 RPJMD KABUPATEN PONOROGO TAHUN 2016 – 2021
BAB IV
Rencana pemerintah pusat untuk membangun Jalan Lingkar Wilis
yang menghubungkan enam kabupaten di sekitar kaki Gunung
Wilis
(Nganjuk, Kediri, Tulungagung, Trenggalek, Madiun dan
Ponorogo) akan
memberi dampak positif terhadap pengembangan Kabupaten
Ponorogo,
khususnya terhadap perkembangan ekonomi. Meski dalam
pelaksanaannya masih belum optimal, ke depan rencana
pembangunan
ini tetap menjadi peluang yang harus ditangkap oleh
Kabupaten
Ponorogo.
Kondisi Sosial Budaya. Permasalahan kemiskinan dan pengangguran
yang
menjadi salah satu kelemahan yang harus ditangani dan
ditutup dengan
kemampuan Kabupaten Ponorogo memanfaatkan peluang yang
ada di
lingkungan kebijakannya. Beberapa kondisiyang dapat menjadi
peluang bagi
Kabupaten Ponorogo di bidang sosial dan budaya adalah sebagai
berikut:
a. Pelaksanaan Undang-Undang Nomor 24 Tahun 2011
tentang Badan
Penyelenggara Jaminan Sosial (BPJS)
Adanya Badan Penyelenggara Jaminan Sosial (BPJS)
merupakan
wujud nyata keinginan pemerintah pusat untuk mewujudkan jaminan
kesehatan bagi setiap warganya. Dengan adanya jaminan
sosial dan
jaminan kesehatan tentunya memberikan motivasi bagi warga
Negara
untuk mampu meningkatkan kualitas pembangunan manusia dan
berperan aktif dalam pembangunan daerah. Jaminan tersebut
memberikan keamanan untuk meningkatkan kualitas SDM serta derajat
kesehatan masyarakat. Penerapan BPJS juga membantu pemerintah
daerah dalam mengoptimalkan peningkatan kualitas kesehatan bagi
masyarakatnya.
Disisi lain optimalisasi penerapan BPJS ini perlu ditingkatkan terus
menerus, mengingat sebagian masyarakat kecenderungan
enggan
membayar premi dikala sehat, masyarakat hanya menjalankan
kewajibannya pada saat merasa oerlu atau sakit, terkait dengan
pembayaran premi ini untuk kalangan masyarakt yang tidak
mampu/miskin perlu mendapat subsidi/bantuan dari Pemerintah
Daerah,
137 RPJMD KABUPATEN PONOROGO TAHUN 2016 – 2021
BAB IV
sehungga layanan kesehatan utamanya bagi masyarakt miskin
betul –
betul gratis.
b. Masterplan Percepatan dan Penanggulangan Kemiskinan Indonesia
Dokumen MP3EI bertujuan mempercepat dan memperluas
pembangunan ekonomi Indonesia melalui peningkatan beragam
investasi
yang mendorong pertumbuhan ekonomi yang tinggi, sedangkan
MP3KI
bertujuan untuk memastikan terwujudnya pembangunan yang inklusif
dan berkeadilan, khususnya bagi masyarakat miskin dan marjinal
untuk
dapat terlibat secara langsung dan menerima manfaat
pertumbuhan
ekonomi yang tinggi. Kedua dokumen ini dirancang sebagai
dokumen
kebijakan afirmatif dalam rangka mewujudkan pembangunan ekonomi
yang pro-growth, pro-poor, pro-job dan pro-environment. MP3KI
merupakan dokumen perencanaan yang menjabarkan konsep dan desain,
arah kebijakan, strategi penanggulangan kemiskinan, Rencana
Kerja
Pemerintah dan sebagainya. MP3KI menitikberatkan pada
pengembangan
livelihood melalui berbagai kebijakan peningkatan kapasitas
masyarakat
untuk mewujudkan taraf hidup masyarakat yang lebih baik. Transformasi
program-program penanggulangan kemiskinan yang ada saat ini
dilakukan dengan tiga strategi utama, yaitu: pengembangan
sistem
perlindungan social secara menyeluruh, peningkatan pelayanan dasar
kepada masyarakat miskin dan rentan, dan pengembangan penghidupan
(sustainable livelihood) masyarakat miskin dan rentan.
c. Komitmen terhadap pelaksanaan Sustanaible Development Goals
(SDGs)
Pelaksanaan Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (SDGs) untuk
meneruskan Tujuan Pembangunan Milenium (MDGs) menjadi komitmen
pemerintah Indonesia. Indonesia adalah salah satu negara yang
mengesahkan SDG’s sebagai kesepakatan pembangunan global. Wakil
Presiden Yusuf Kalla ikut hadir dalam Sidang umum Perserikatan
Bangsa–
Bangsa(PBB) pada 25 September 2015 lalu di New York,
Amerika Serikat
bersama dengan 193 perwakilan negara-negara di dunia. Dalam
konteks
138 RPJMD KABUPATEN PONOROGO TAHUN 2016 – 2021
BAB IV
Indonesia, tujuan yang termuat dalam agenda SDG’s memiliki
kesesuaian
dengan nawacita dan dokumen Rencana Pembangunan Jangka
Menengah
Nasional 2015-2019. Upaya pemerintah untuk melaksanakan SDGs
menjadi peluang positif bagi pemerintah daerah, tidak
terkecuali
Kabupaten Ponorogo.
Kondisi Perekonomian. Peluang dan kesempatan yang dapat
menunjang
pembangunan perekonomian di Kabupaten Ponrogo meliputi
beberapa hal
berikut:
a. Pelaksanaan Masterplan Percepatan dan Perluasan Pembangunan
Ekonomi Indonesia (MP3EI)
Masterplan percepatan dan perluasan pembangunan ekonomi
Indonesia (MP3EI) diluncurkan oleh Presiden Susilo Bambang
Yudhoyono
pada 27 Mei 2011. MP3EI merupakan langkah awal untuk
mendorong
Indonesia menjadi Negara maju dan termasuk sepuluh
besar Negara di
dunia pada tahun 2025. Selain itu, MP3EI merupakan perwujudan
transformasi ekonomi nasional dengan orientasi berbasis
pada
pertumbuhan ekonomi yang tinggi, inklusif, berkeadilan, berkualitas
dan
berkelanjutan. Pelaksanaan MP3EI diharapkan mampu menjadi
mesin
penggerak pertumbuhan ekonomi dan penciptaan lapangan kerja,
sekaligus mendorong pemerataan pembangunan wilayah di
seluruh
wilayah tanah air termasuk Kabupaten Ponorogo.
b. Berlakunya Undang-Undang Nomor 6 Tahun 2014 tentangDesa
Penerapan Undang-Undang Desa bukan saja berdampak terhadap
pembangunan infrastruktur di tingkat desa, tetapi juga dapat
berkontribusi terhadap perekonomian lokal. Salah satu klausul yang
berkaitan dengan pembentukan Badan Usaha Milik Desa akan dapat
menjadi penggerak perekonomian di tingkat desa. Hal ini
tentu saja
menjadi peluang positif bagi pemerintah daerah, khususnya
Kabupaten
Ponorogo yang memiliki potensi perekonomian yang khas di
masingmasing wilayahnya.
139 RPJMD KABUPATEN PONOROGO TAHUN 2016 – 2021
BAB IV
Peluang pasar untuk hasil pertanian organic. Dengan
meningkatnya
kesadaran masyarakat terhadap penggunaan barang dan bahan yang
sifatnya alami atau tanpa proses kimiawi, maka pengelolaan
pertanian yang
tidak menggunakan pupuk dan obat-obatan kimia sintetis menjadi
alternatif.
Penggunaan pupuk dan obat-obatan kimia sintetis dalam pertanian
dianggap
sebagai pemicu kerusakan lingkungan dan kesehatan
manusia. Terkait hal
tersebut pertanian organic ini merupakan peluang atau
pilihan dalam
pengelolaan pertanian.
Peluang pasar untuk produk pertanian organic masih sangat
besar
serta petani organic di Indonesia belum banyak. Dengan
jumlah penduduk
yang sebagian besar mata pencahariannya petani dan memliki
lahan
pertanian yang luas maka pengembangan pertanian organic
merupakan
peluang bagi Kabupaten Ponorogo.
D. Ancaman (Threat)
Situasi dan kondisi yang menjadi ancaman Kabupaten
Ponorogo di
masa yang akan datang adalah sebagai berikut:
Kondisi Fisik dan Sarana Prasarana. Pembangunan infrastruktur di
Kabupaten Ponorogo, terutama kondisi jalan, menghadapi
tantangan dan
ancaman berkaitan dengan pemeliharaan kondisi jalan.
Beberapa ancaman
terhadap perawatan kondisijalan yaitu:
a. Kepadatan lalu lintas angkutan barang yang melewati Ponorogo
Pembangunan infrastruktur jalan menjadi faktor penting dalam
meningkatkan geliat perekonomian masyarakat. Akses jalan yang
memadai akan memperlancar transportasi dan hubungan antar
wilayah
kecamatan dan antar kabupaten. Situasi ini menjadi positif
terhadap
pembangunan ekonomi, namun menjadi ancaman terhadap kondisi
jalan.
Semakin padatnya transportasi dan perhubungan, mengancam
kerusakan
jalan ketika tidak mampu mengontrol bobot/tonase kendaraan barang
yang melintasi Kabupaten Ponorogo, sedangkan kewenangan
penanganan jalan para ruas utama pada umumnya adalah kewenangan
140 RPJMD KABUPATEN PONOROGO TAHUN 2016 – 2021
BAB IV
Provinsi Jawa Timur karena merupakan status jalan Provinsi dan
kewenangan Balai Jalan Provinsi Jawa Timur kareana statusnya
Jalan
Nasional.
b. Ancaman bencana alam
Situasi lain yang juga menjadi ancaman terhadap kondisi
infrastruktur
adalah ancaman bencana alam. Kondisi topografi Kabupaten
Ponorogo
yang sebagian terdiri dari wilayah Pegunungan kerap menghadapi
ancaman tanah longsor, terutama pada saat musim penghujan.
Beberapa
area datarantinggi yang meliputi Kecamatan Ngrayun, Sooko, Pulung,
dan
Ngebel sangat rentan dengan bencana longsor. Sebaliknya
beberapa
kawasan yang masuk dalam topografi dataranrendah juga kerap dilanda
banjir. Kondisi iklim dan cuaca yang semakin tidak dapat
diprediksi
menuntut pemerintah daerah memiliki skenario dalam
mengantisipasi
bencana tidak terduga.
Kondisi Sosial Budaya dan Perekonomian. Ancaman yang
muncul dalam
konteks sosial dan budaya berhubungan langsung dengan
isu-isu strategis
yang melingkupi Kabupaten Ponorogo. Beberapa ancaman
tersebut antara
lain:
a. Persaingan perekonomian global
Pelaksanaan Masyarakat Ekonomi ASEAN (MEA) menjadi
peluang
sekaligus ancaman. MEA telah berjalan sejak tahun 2015
dicirikan dengan
kondisisebagai beriku:
1. Pasar tunggal dan produksi dasar,
2. Sebuah ekonomi yang sangat kompetitif wilayah,
3. Sebuah wilayah pembangunan ekonomi yang merata, dan
4. Sebuah wilayah sepenuhnya terintegrasi ke dalam perekonomian
global.
Dengan situasi regional dan global tersebut, mau tidak mau
mendorong daerah mempersiapkan diri agar tidak tergerus
dengan
persaingan global. Terintegrasinya pasar dengan perekonomian
yang
141 RPJMD KABUPATEN PONOROGO TAHUN 2016 – 2021
BAB IV
lebih kuat, kerap memangsa wilayah atau daerah yang lemah secara
ekonomi. Oleh karenanya, dalam konteks Ponorogo, tuntutan
untuk
mewujudkan kualitas Sumber Daya Manusia yang berkualitas
dan
berdaya saing menjadi sesuatuyang tidak dapat ditolak.
b. Persaingan dengan daerah sekitar dalam mengembangkan pertanian dan
industri pertanian
Dalam perencanaan pembangunan kewilayahan Provinsi Jawa Timur,
Kabupaten Ponorogo masuk dalam kawasan agropolitan regional
yang
terdiri atas Sistem Agropolitan Wilis (meliputi Kabupaten Madiun,
Kabupaten Magetan, Kabupaten Ngawi, Kabupaten Pacitan,
Kabupaten
Ponorogo, dan Kota Madiun). Kabupaten/kota sekitar Ponorogo juga
memiliki perencanaan pengembangan pertanian dan industri
pertanian
(agrobisnis) yang sama dengan Kabupaten Ponorogo. Oleh
karenanya
kedepan perlu ada diferensiasi yang dikembangkan oleh
Kabupaten
Ponorogo dalam hal pertanian.
Berdasarkan analisis SWOT di atas, maka dirumuskan isu-isu
strategis
Kabupaten Ponorogo sebagai berikut:
a. Peningkatan kuantitas dan kualitas infrastruktur jalan, jembatan, irigasi
dan infrastruktur pertanian.
b. Peningkatan produktifitas pertanian yang kompetitif dan berdaya
saing
dengan mengembangkan industri pertanian berbasis organic, serta
industri kecil kreatif yang berdaya saing.
c. Peningkatan kualitas sumberdaya manusia dengan meningkatkan
pelayanan bidang kesehatan dan pendidikan.
d. Penurunan angka kemiskinan dengan mengembangan ekonomi
kerakyatan melalui pengembangan koperasi dan
pembentukan/pengembangan BUMDes
e. Penurunan angka pengangguran dengan memperbaiki iklim usaha dalam
rangka penciptaan wirausaha baru dan pemberdayaan masyarakat
pada
wilayah sesuai potensi wilayah;
142 RPJMD KABUPATEN PONOROGO TAHUN 2016 – 2021
BAB IV
f. Peningkatan perekonomian daerah dengan mengembangkan sektorsektor
unggulan berbasis wilayah.
g. Peningkatan akses dan sarana transportasi penduduk dan barang antar
wilayah di Kabupaten Ponorogo
h. Peningkatan tata kelola pemerintahan untuk mendukung pelayanan
prima kepada masyarakat.
i. Peningkatan penataan kawasan berwawasan lingkungan;
j. Peningkatan akses masyarakat terhadap layanan air minum
, layanan
sanitasi dan penataan kawasan kumuh.
k. Peningkatankerjasama antar wilayah perbatasan.