0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
23 tayangan24 halaman

Identifikasi Permasalahan Pembangunan Ponorogo

Dokumen tersebut membahas identifikasi permasalahan pembangunan di Kabupaten Ponorogo. Secara umum, permasalahan utama yang dihadapi meliputi tingginya kemiskinan dan pengangguran, belum optimalnya sektor pertanian dan infrastruktur, serta belum meratanya akses pendidikan dan kesehatan. Dokumen ini juga menganalisis kekuatan dan kelemahan Kabupaten Ponorogo dalam menghadapi permasalahan tersebut.

Diunggah oleh

Ardi
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd
0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
23 tayangan24 halaman

Identifikasi Permasalahan Pembangunan Ponorogo

Dokumen tersebut membahas identifikasi permasalahan pembangunan di Kabupaten Ponorogo. Secara umum, permasalahan utama yang dihadapi meliputi tingginya kemiskinan dan pengangguran, belum optimalnya sektor pertanian dan infrastruktur, serta belum meratanya akses pendidikan dan kesehatan. Dokumen ini juga menganalisis kekuatan dan kelemahan Kabupaten Ponorogo dalam menghadapi permasalahan tersebut.

Diunggah oleh

Ardi
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd

IDENTIFIKASI PERMASALAHAN

Keberhasilan pembangunan suatu daerah salah satunya dapat diukur dari kemampuan
pemerintah daerah dalam menyelesaikan permasalahanpermasalahan publik yang ada.
Kemampuan pemerintah daerah menuntaskan permasalahan yang dikeluhkan publik, akan
memberikan dampak positif terhadap penilaian kinerja yang terwujud dalam apresiasi dan
kepuasan masyarakat. Oleh karenanya, menjadi sangat penting bagi pemerintah daerah untuk
memiliki kemampuan mengidentifikasi permasalahan-permasalahan publik, sehingga dapat
merumuskan dan melaksanakan kebijakan yang tepat serta akurat.

Salah satu yang dapat dilakukan untuk mengantisipasi dinamika di lingkungan kebijakan
yang melingkupi pemerintah daerah adalah dengan mengkaji dokumen-dokumen perencanaan
pembangunan terkait dan berpengaruh terhadap daerah tersebut. Untuk menjamin penyelerasan
pembangunan dan pencapaian tujuan nasional, daerah perlu mensinkronkan dengan perencanaan
pembangunan di tingkat nasional dan provinsi. Sedangkan di tingkatan lokal, pemerintah daerah
juga perlu mengkaji perencanaan pembangunan yang dilakukan oleh daerah sekitar, sehingga
dapat menjadi acuan dalam merumuskan strategi pembangunan ke depan.

Berdasarkan hasil survei dan pemetaan yang dilakukan selama tahun 2015, secara umum
permasalahan pembangunan yang dihadapi oleh Kabupaten Ponorogo adalah sebagai berikut:

a. Tingginya angka kemiskinan

b. Tingginya angka pengangguran

c. Belum maksimalnya kontribusi sektor pertanian

d. Kerusakan Infrastruktur

e. Belum meratanya akses dan kualitas pendidikan dan kesehatan

f. Permasalahan tata kelola pemerintahan

g. Belum optimalnya pengelolaan Sumber Daya Daerah

h. Belum Optimalnya Penataan kawasan yang berwawasan lingkungan

Isu-isu strategis dirumuskan dengan menggunakan analisis SWOT terhadap kondisi fisik
dan sarana prasarana, sosial budaya dan perekonomian Kabupaten Ponorogo, yang
disandingkan dengan isu-isu di tingkat provinsi, nasional dan internasional.

A. Kekuatan (Strength)

Kabupaten Ponorogo memiliki banyak potensi yang dapat dikembangkan menjadi


kekuatan daerah, meliputi beberapa aspek sebagai
berikut:

130 RPJMD KABUPATEN PONOROGO TAHUN 2016 – 2021

BAB IV

Kondisi Fisik dan Sarana Prasarana. Kabupaten Ponorogo


memiliki lokasi

yang cukup strategis, berada di wilayah SelatanJawa Timur dan


berbatasan

langsung Jawa Tengah. Lokasinya yang tidak jauh dari Kota


Madiun (pusat

Wilayah Pengembangan Madiun), Kabupaten Ponorogo


menjadi

penghubung utama dengan beberapa kabupaten di wilayah


Selatan Jawa

Timur, yaitu Pacitan, Trenggalek dan Tulungagung. Untuk menunjang


peran

tersebut, Kabupaten Ponorogo telah memiliki terminal utama


Seloaji yang

berada di Kecamatan Babadan. Terminal Seloaji mampu


menjadi

penghubung transportasi antar kota antar provinsi (Ponorogo-


Jawa Tengah,

Ponorogo-Jakarta-Bogor), antar kota dalam provinsi (Ponorogo-


MadiunSurabaya-Malang, Ponorogo-Pacitan, Ponorogo-Trenggalek-TulungagungBlitar,
Ponorogo-Madiun-Magetan).

Kondisi Sosial Budaya. Kabupaten Ponorogo memiliki sejarah


dan kekhasan

budaya yang dapat menjadi modal pembangunan. Sejarah


Kabupaten

Ponorogo sebagai salah satu daerah pusat pendidikan agama


(Pondok
Pesantren) sejak era Kerajaan Mataram Islam hingga saat ini
menjadi daya

tarik yang kuat bagi calon siswa/santri dari berbagai penjuru


daerah di

Indonesia bahkan dunia. Pondok pesantren yang berjumlah


ratusan di

Kabupaten Ponorogo dengan salah satu yang terkenal yaitu


Pondok

Pesantren Modern Darussalam Gontor menjadi kekuatan


yang dapat

dioptimalkan dalam menunjang pencapaian tujuan pembangunan di

Ponorogo.

Kabupaten Ponorogo juga memiliki kekayaan budaya yang sangat


khas

dan mendapat pengakuan dunia yaitu Reog Ponorogo. Reog


Ponorogo

menjadi salah satu warisan seni dan budaya dunia yang sudah
didaftarkan di

UNESCO. Kondisi ini tentunya menjadi sangat menguntungkan


bagi

Kabupaten Ponorogo, tidak hanya berkaitan dengan semakin


dikenalnya

Ponorogo di level dunia, tetapi juga dapat dilestarikan dan


dikembangkan

sehingga dapat menunjang peningkatan kesejahteraan masyarakat.

Tidak hanya tentang Ponpes dan reog, warisan budaya


kuliner

khas Ponorogo juga layak untuk dikembangkan dan bersaing dengan


kuliner-

131 RPJMD KABUPATEN PONOROGO TAHUN 2016 – 2021


BAB IV

kuliner yang ada di Indonesia. Beberapa kuliner khas Ponorogo


yang sudah

cukup terkenal adalah sate ayam dan dawet Jabung.

Kondisi Perekonomian. Kabupaten Ponorogo memiliki


potensi

perekonomian yang ditopang oleh beberapa sektor yang tergambar


pada

Produk Domestik Regional Bruto (PDRB). Dari tahun ke tahun


PDRB

Kabupaten Ponorogo mengalami tren kenaikan dengan komposisi


yang tidak

jauh berbeda dari beberapa sektor dan sub sektor yang ada.
Laju implisit

PDRB Kabupaten Ponorogo angka sementara pada tahun 2014


tercatat

sebesar 5,28 persen, dan tahun 2015 angka sangat sementara pada
angka

5,29 persen, dimana kontribusi Pertanian, Kehutanan dan


Perikanan

mencapai 31,80 persen. Hampir di seluruh wilayah


yang ada di Kabupaten

Ponorogo merupakan daerah penghasil produk pertanian,


kecuali ibukota

Kabupaten yang telah menjelma menjadi pusat perdagangan dan


jasa.

Produk dominan pertanian yang menjadi unggulan Kabupaten


Ponorogo

adalah komoditas tanaman pangan seperti padi dan palawija.


Kondisi
geografis wilayah yang subur dan iklim yang sesuai untuk
kegiatan pertanian

membuat sektor pertanian masih menjadi andalan dalam


perekonomian

Kabupaten Ponorogo. Data ini menunjukkan bahwa pertanian masih


menjadi

faktor penggerak utama perekonomian di Ponorogo. Dengan


struktur

masyarakat yang mayoritas adalah petani, sektor ini masih tetap


menjadi

kekuatan Ponorogo dalam beberapa tahun ke depan.

Sektor yang juga mengalami kenaikan tren cukup tinggi dari tahun
ke

tahun adalah perdagangan besar dan eceran, reparasi mobil dan


sepeda

motor, dari 14,97 persen pada tahun 2010 menjadi 15,85 persen pada
tahun

2014. Dengan tren kenaikan yang cukup tinggi, sektor perdagangan


besar

dan eceran, reparasi mobil dan sepeda motor juga dapat


menjadi sektor

potensial dalam memperkuat perekonomian Kabupaten Ponorogo.


Terlebih

jika terdapat upaya yang sistematis dalam mengembangkan


potensi-potensi

ekonomi di tingkat lokal berkaitan dengan


pengembangan wisata alam,

budaya dan sejarah yang juga menjadi kekuatan Ponorogo.

132 RPJMD KABUPATEN PONOROGO TAHUN 2016 – 2021

BAB IV
Kondisi Geografis. Kabupaten Ponorogo sebagian besar
pendudukanya

bermata pencaharian sebaga petani dan didukung dengan masih


luas dan

produktifnya lahan pertanian. Luas lahan sawah keseluruhan 34.801 hektar

dan sawah yang didukung dengan irigasi teknis seluas 30.092


hektar atau

86,47% lahan sawah didukung irigasi tenis yang bagus. Sisanya


merupakan

lahan sawah tadah hujan.

B. Kelemahan (Weaknesses)

Beberapa kelemahan yang perlu mendapat perhatian lebih di

Kabupaten Ponorogo adalah sebagai berikut:

Kondisi Fisik dan Sarana Prasarana. Kelemahan Kabupaten


Ponorogo yang

berhubungan dengan kondisi fisik dan sarana prasarana adalah keberadaan

infrastruktur jalan yang tidak memadai karena banyak jalan yang


rusak di

sebagian besar wilayah Kabupaten Ponorogo. Kerusakan jalan


di Kabupaten

Ponorogo ditemukan di semua level jalan, baik jalan nasional,


provinsi,

kabupaten hingga jalan lingkungan. Kondisi infrastruktur jalan yang


tidak

memadai berpengaruh besar terhadap kualitas kehidupan


masyarakat,

menghambat arus barang dan jasa untuk masuk dan keluar daerah,
serta
mobilitas penduduk. Tidak memadainya infrastruktur jalan pada
akhirnya

memunculkan ekonomi biaya tinggi bagi sebagian besar masyarakat.

Disamping kondisi jalan, kelemahan lain yang juga muncul


adalah

belum terkoneksinya antar wilayah kecamatan dan desa dengan


sistem

transportasi publik yang memadai, terutama wilayah-wilayah


kecamatan

yang ada di pinggiran dan pelosok. Sementara ini jalur


transportasi

terkoneksi melalui jalur bus antar kota dalam dan luar


provinsi. Sedangkan

wilayah-wilayah yang tidak dilewati jalur bus sangat terbatas


akses

transportasinya. Disamping transportasi penumpang, kelemahan yang


ada

juga berkaitan dengan transportasi barang. Di beberapa


wilayah pinggiran

dan pegunungan, dengan tidak adanya transportasi reguler


mengakibatkan

masyarakat/petani mengeluarkan biaya yang cukup tinggi untuk menjual

barang dan produk-produk ekonomi dari tempat tinggalnya


menuju kota

133 RPJMD KABUPATEN PONOROGO TAHUN 2016 – 2021

BAB IV

atau bahkan hingga ke daerah lain. Berkaitan dengan


kelemahan tersebut,
muncul kelemahan lain dengan belum tersedianya pasar yang
mampu

menampung produk-produk pertanian atau produk lain di


Ponorogo.

Keberadaan pasar agribisnis sebagai pusat promosi dan


transaksi akan

sangat membantu petani dan masyarakat Ponorogo secara keseluruhan.

Pada aspek yang lain, kondisi sarana dan prasarana di bidang

pendidikan dan kesehatan juga masih belum optimal di


Kabupaten

Ponorogo. Kelemahan yang muncul utamanya berkaitan dengan


pemerataan

terhadap akses dan kualitas pelayanan pendidikan dan


kesehatan. Di

beberapa kecamatan masih ditemukan ketersediaan sarana dan


prasarana

yang tidak seimbang jika dibandingkan dengan kecamatan yang


ada di

sekitar kota. Semakin jauh dari pusat kota, semakin banyak


ditemukan

ketidakseimbangan antara sarana dan prasarana dengan kebutuhan

pelayanan kepada masyarakat.

Kondisi Sosial Budaya. Kelemahan yang muncul di


Kabupaten Ponorogo

berkaitan dengan kondisisosial dan dan budaya masyarakat adalah


problem

klasik kemiskinan dan pengangguran. Sebagaimana uraian sebelumnya,


fenomena kemiskinan di Ponorogo meliputi beberapa faktor
dan dimensi

yang menuntut penanganan komprehensif melalui sinkronisasi


beberapa

program pengentasan kemiskinan. Meski sudah sangat banyak


program

pengentasan kemiskinan dijalankan, ternyata hanya memberikan


dampak

yang sangat kecil terhadap penurunan angka kemiskinan.

Sedangkan permasalahan pengangguran muncul dikarenakan

pertambahan angkatan kerja tidak diiringi dengan bertambahnya


lapangan

pekerjaan. Dengan struktur ekonomi yang didominasi oleh


pertanian,

pertambahan lapangan pekerjaan menjadi sulit untuk bertambah


secara

cepat jika tidak diiringi oleh pertumbuhan pada sektor-sektor riil


yang lain.

Di sisi yang lain, pertumbuhan sektor riil tanpa diimbangi


dengan

peningkatan kualitas sumberdaya manusia/tenaga kerja juga


berpotensi

memunculkan permasalahan tidak terserapnya tenaga kerja lokal karena

gagal bersaing dengan tenaga kerja dari luar daerah.


Kendala ini yang ke

134 RPJMD KABUPATEN PONOROGO TAHUN 2016 – 2021

BAB IV

depan harus direspon dengan berbagai kebijakan yang


simultan dan

komprehensif.
Kondisi Perekonomian. Keadaan perekonomian di Kabupaten
Ponorogo

mengalami peningkatan dari tahun ke tahun jika mengacu pada


PDRB. Pada

tahun 2015 pertumbuhan ekonomi Kabupaten Ponorogo sebesar


5,24%,

tahun 2014 mencapai angka 5,28 persen, sedangkan tahun 2013


terjadi

pertumbuhan ekonomi sebesar 5,17%. Pertumbuhan ekonomi


mengalami

perlambatan apabila dibandingkan dengan tahun sebelumnya yaitu


tahun

2014. Namun angka tersebut masih sedikit dibawah


Provinsi Jawa Timur

sebesar5,86 persen.

Jika dikaji secara makro angka tersebut menggambarkan

perekonomian yang berkembang positif, namun yang cukup

mengkhawatirkan adalah kontribusi pertanian yang trennya


cenderung

menurun jika dibandingkan dengan sektor perdagangan. Kontribusi

pertanian cenderung menurun dan beralih ke perdagangan,


salah satu

faktornya adalah menurunnya tingkat kesuburan lahan serta


perubahan

iklim yang kurang mendukung kegiatan pertanian. Meskipun


dari sisi

produksi tetap meningkat namun tingkat pertumbuhannya kalah


cepat

dengan pertumbuhan sektor lainnya.


Kondisi tersebut juga memberikan gambaran, bahwa sektor
pertanian

sudah mulai mengalami stagnasi dalam menyumbang pertumbuhan

perekonomian di Ponorogo. Jika tren ini terus berlanjut, bukan


tidak

mungkin secara makro akan terjadi penurunan pertumbuhan ekonomi


ketika

penurunan di sektor pertanian tidak diimbangi dengan


pertumbuhan di

sektor-sektor yang lain. Oleh karenanya ke depan diperlukan


terobosan

kebijakan yang dapat kembali memperkuat sektor pertanian. Pada


saat yang

sama pertumbuhan pertanian tersebut juga mampu mendongkrak


sektorsektor yang lain.

Di sisi yang lain, Kabupaten Ponorogo sebagaimana


kabupaten/kota

lain di Indonesia rentan dengan inflasi relative sedang sampai dengan


tinggi.

Inflasi adalah kenaikan harga barang-barang secara umum. Laju inflasi


yang

135 RPJMD KABUPATEN PONOROGO TAHUN 2016 – 2021

BAB IV

tidak terkendali dapat memicu penurunan daya beli masyarakat,


terutama

oleh masyarakat miskin yang tidak memiliki tabungan. Selain itu,


tingginya

laju inflasi juga memberikan dampak semakin melebarnya


tingkat distribusi
pendapatan di masyarakat. Inflasi yang tinggi juga berpotensi
menghambat

investasi produktif. Hal ini karena tingginya tingkat


ketidakpastian

(mendorong investasi jangka pendek) dan tingginya bunga. Dan


secara

makro, dalam jangka panjang inflasi yang tinggi dapat menyebabkan

pertumbuhan ekonomi terhambat bahkan dapat menjadikan


penurunan

tingkat pertumbuhan ekonomi daerah.

C. Peluang (Opportunity)

Di tengah kekuatan dan kelemahan yang dimiliki oleh


Kabupaten

Ponorogo, terdapat beberapa kondisi yang memberikan


kesempatan dan

peluang yaitu:

Kondisi Fisik dan Sarana Prasarana. Belum memadainya kondisi

infrastruktur terutama jalan dan jembatan menjadi salah satu


kelemahan

Kabupaten Ponorogo. Untuk dapat mengejar perbaikan jalan dan


jembatan

dibutuhkan pendanaan yang tidak sedikit. Dengan kapasitas


keuangan

daerah yang terbatas, pembangunan jalan tidak dimungkinkan


dilakukan

dalam waktu yang cepat. Oleh karenanya pemerintah daerah dapat


mencari

peluang dan kemungkinan agar pelaksanaannya dapat dilakukan


dengan
tuntas dan cepat.

Beberapa peluang dan situasi yang memungkinkan terjadinya

perbaikan kondisiinfrastruktur adalah sebagai berikut:

a. Berlakunya Undang-Undang Nomor 6 Tahun 2014 tentangDesa

Implementasi Undang-Undang Desa memberikan dampak positif

terhadap pembangunan di [Link] alokasi dana dari


pemerintah

pusat dan masuk dalam APBDes akan meringankan beban pemerintah

daerah dalam membangun desa khususnya infrastruktur di tingkat desa.

b. Rencana Pembangunan Jalan Lingkar Wilis

136 RPJMD KABUPATEN PONOROGO TAHUN 2016 – 2021

BAB IV

Rencana pemerintah pusat untuk membangun Jalan Lingkar Wilis

yang menghubungkan enam kabupaten di sekitar kaki Gunung


Wilis

(Nganjuk, Kediri, Tulungagung, Trenggalek, Madiun dan


Ponorogo) akan

memberi dampak positif terhadap pengembangan Kabupaten


Ponorogo,

khususnya terhadap perkembangan ekonomi. Meski dalam

pelaksanaannya masih belum optimal, ke depan rencana


pembangunan

ini tetap menjadi peluang yang harus ditangkap oleh


Kabupaten

Ponorogo.
Kondisi Sosial Budaya. Permasalahan kemiskinan dan pengangguran
yang

menjadi salah satu kelemahan yang harus ditangani dan


ditutup dengan

kemampuan Kabupaten Ponorogo memanfaatkan peluang yang


ada di

lingkungan kebijakannya. Beberapa kondisiyang dapat menjadi


peluang bagi

Kabupaten Ponorogo di bidang sosial dan budaya adalah sebagai


berikut:

a. Pelaksanaan Undang-Undang Nomor 24 Tahun 2011


tentang Badan

Penyelenggara Jaminan Sosial (BPJS)

Adanya Badan Penyelenggara Jaminan Sosial (BPJS)


merupakan

wujud nyata keinginan pemerintah pusat untuk mewujudkan jaminan

kesehatan bagi setiap warganya. Dengan adanya jaminan


sosial dan

jaminan kesehatan tentunya memberikan motivasi bagi warga


Negara

untuk mampu meningkatkan kualitas pembangunan manusia dan

berperan aktif dalam pembangunan daerah. Jaminan tersebut

memberikan keamanan untuk meningkatkan kualitas SDM serta derajat

kesehatan masyarakat. Penerapan BPJS juga membantu pemerintah

daerah dalam mengoptimalkan peningkatan kualitas kesehatan bagi

masyarakatnya.
Disisi lain optimalisasi penerapan BPJS ini perlu ditingkatkan terus

menerus, mengingat sebagian masyarakat kecenderungan


enggan

membayar premi dikala sehat, masyarakat hanya menjalankan

kewajibannya pada saat merasa oerlu atau sakit, terkait dengan

pembayaran premi ini untuk kalangan masyarakt yang tidak

mampu/miskin perlu mendapat subsidi/bantuan dari Pemerintah


Daerah,

137 RPJMD KABUPATEN PONOROGO TAHUN 2016 – 2021

BAB IV

sehungga layanan kesehatan utamanya bagi masyarakt miskin


betul –

betul gratis.

b. Masterplan Percepatan dan Penanggulangan Kemiskinan Indonesia

Dokumen MP3EI bertujuan mempercepat dan memperluas

pembangunan ekonomi Indonesia melalui peningkatan beragam


investasi

yang mendorong pertumbuhan ekonomi yang tinggi, sedangkan


MP3KI

bertujuan untuk memastikan terwujudnya pembangunan yang inklusif

dan berkeadilan, khususnya bagi masyarakat miskin dan marjinal


untuk

dapat terlibat secara langsung dan menerima manfaat


pertumbuhan

ekonomi yang tinggi. Kedua dokumen ini dirancang sebagai


dokumen
kebijakan afirmatif dalam rangka mewujudkan pembangunan ekonomi

yang pro-growth, pro-poor, pro-job dan pro-environment. MP3KI

merupakan dokumen perencanaan yang menjabarkan konsep dan desain,

arah kebijakan, strategi penanggulangan kemiskinan, Rencana


Kerja

Pemerintah dan sebagainya. MP3KI menitikberatkan pada


pengembangan

livelihood melalui berbagai kebijakan peningkatan kapasitas


masyarakat

untuk mewujudkan taraf hidup masyarakat yang lebih baik. Transformasi

program-program penanggulangan kemiskinan yang ada saat ini

dilakukan dengan tiga strategi utama, yaitu: pengembangan


sistem

perlindungan social secara menyeluruh, peningkatan pelayanan dasar

kepada masyarakat miskin dan rentan, dan pengembangan penghidupan

(sustainable livelihood) masyarakat miskin dan rentan.

c. Komitmen terhadap pelaksanaan Sustanaible Development Goals


(SDGs)

Pelaksanaan Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (SDGs) untuk

meneruskan Tujuan Pembangunan Milenium (MDGs) menjadi komitmen

pemerintah Indonesia. Indonesia adalah salah satu negara yang

mengesahkan SDG’s sebagai kesepakatan pembangunan global. Wakil

Presiden Yusuf Kalla ikut hadir dalam Sidang umum Perserikatan


Bangsa–
Bangsa(PBB) pada 25 September 2015 lalu di New York,
Amerika Serikat

bersama dengan 193 perwakilan negara-negara di dunia. Dalam


konteks

138 RPJMD KABUPATEN PONOROGO TAHUN 2016 – 2021

BAB IV

Indonesia, tujuan yang termuat dalam agenda SDG’s memiliki


kesesuaian

dengan nawacita dan dokumen Rencana Pembangunan Jangka


Menengah

Nasional 2015-2019. Upaya pemerintah untuk melaksanakan SDGs

menjadi peluang positif bagi pemerintah daerah, tidak


terkecuali

Kabupaten Ponorogo.

Kondisi Perekonomian. Peluang dan kesempatan yang dapat


menunjang

pembangunan perekonomian di Kabupaten Ponrogo meliputi


beberapa hal

berikut:

a. Pelaksanaan Masterplan Percepatan dan Perluasan Pembangunan

Ekonomi Indonesia (MP3EI)

Masterplan percepatan dan perluasan pembangunan ekonomi

Indonesia (MP3EI) diluncurkan oleh Presiden Susilo Bambang


Yudhoyono

pada 27 Mei 2011. MP3EI merupakan langkah awal untuk


mendorong

Indonesia menjadi Negara maju dan termasuk sepuluh


besar Negara di
dunia pada tahun 2025. Selain itu, MP3EI merupakan perwujudan

transformasi ekonomi nasional dengan orientasi berbasis


pada

pertumbuhan ekonomi yang tinggi, inklusif, berkeadilan, berkualitas


dan

berkelanjutan. Pelaksanaan MP3EI diharapkan mampu menjadi


mesin

penggerak pertumbuhan ekonomi dan penciptaan lapangan kerja,

sekaligus mendorong pemerataan pembangunan wilayah di


seluruh

wilayah tanah air termasuk Kabupaten Ponorogo.

b. Berlakunya Undang-Undang Nomor 6 Tahun 2014 tentangDesa

Penerapan Undang-Undang Desa bukan saja berdampak terhadap

pembangunan infrastruktur di tingkat desa, tetapi juga dapat

berkontribusi terhadap perekonomian lokal. Salah satu klausul yang

berkaitan dengan pembentukan Badan Usaha Milik Desa akan dapat

menjadi penggerak perekonomian di tingkat desa. Hal ini


tentu saja

menjadi peluang positif bagi pemerintah daerah, khususnya


Kabupaten

Ponorogo yang memiliki potensi perekonomian yang khas di


masingmasing wilayahnya.

139 RPJMD KABUPATEN PONOROGO TAHUN 2016 – 2021

BAB IV

Peluang pasar untuk hasil pertanian organic. Dengan


meningkatnya
kesadaran masyarakat terhadap penggunaan barang dan bahan yang

sifatnya alami atau tanpa proses kimiawi, maka pengelolaan


pertanian yang

tidak menggunakan pupuk dan obat-obatan kimia sintetis menjadi


alternatif.

Penggunaan pupuk dan obat-obatan kimia sintetis dalam pertanian


dianggap

sebagai pemicu kerusakan lingkungan dan kesehatan


manusia. Terkait hal

tersebut pertanian organic ini merupakan peluang atau


pilihan dalam

pengelolaan pertanian.

Peluang pasar untuk produk pertanian organic masih sangat


besar

serta petani organic di Indonesia belum banyak. Dengan


jumlah penduduk

yang sebagian besar mata pencahariannya petani dan memliki


lahan

pertanian yang luas maka pengembangan pertanian organic


merupakan

peluang bagi Kabupaten Ponorogo.

D. Ancaman (Threat)

Situasi dan kondisi yang menjadi ancaman Kabupaten


Ponorogo di

masa yang akan datang adalah sebagai berikut:

Kondisi Fisik dan Sarana Prasarana. Pembangunan infrastruktur di

Kabupaten Ponorogo, terutama kondisi jalan, menghadapi


tantangan dan
ancaman berkaitan dengan pemeliharaan kondisi jalan.
Beberapa ancaman

terhadap perawatan kondisijalan yaitu:

a. Kepadatan lalu lintas angkutan barang yang melewati Ponorogo

Pembangunan infrastruktur jalan menjadi faktor penting dalam

meningkatkan geliat perekonomian masyarakat. Akses jalan yang

memadai akan memperlancar transportasi dan hubungan antar


wilayah

kecamatan dan antar kabupaten. Situasi ini menjadi positif


terhadap

pembangunan ekonomi, namun menjadi ancaman terhadap kondisi


jalan.

Semakin padatnya transportasi dan perhubungan, mengancam


kerusakan

jalan ketika tidak mampu mengontrol bobot/tonase kendaraan barang

yang melintasi Kabupaten Ponorogo, sedangkan kewenangan

penanganan jalan para ruas utama pada umumnya adalah kewenangan

140 RPJMD KABUPATEN PONOROGO TAHUN 2016 – 2021

BAB IV

Provinsi Jawa Timur karena merupakan status jalan Provinsi dan

kewenangan Balai Jalan Provinsi Jawa Timur kareana statusnya


Jalan

Nasional.

b. Ancaman bencana alam

Situasi lain yang juga menjadi ancaman terhadap kondisi


infrastruktur
adalah ancaman bencana alam. Kondisi topografi Kabupaten
Ponorogo

yang sebagian terdiri dari wilayah Pegunungan kerap menghadapi

ancaman tanah longsor, terutama pada saat musim penghujan.


Beberapa

area datarantinggi yang meliputi Kecamatan Ngrayun, Sooko, Pulung,


dan

Ngebel sangat rentan dengan bencana longsor. Sebaliknya


beberapa

kawasan yang masuk dalam topografi dataranrendah juga kerap dilanda

banjir. Kondisi iklim dan cuaca yang semakin tidak dapat


diprediksi

menuntut pemerintah daerah memiliki skenario dalam


mengantisipasi

bencana tidak terduga.

Kondisi Sosial Budaya dan Perekonomian. Ancaman yang


muncul dalam

konteks sosial dan budaya berhubungan langsung dengan


isu-isu strategis

yang melingkupi Kabupaten Ponorogo. Beberapa ancaman


tersebut antara

lain:

a. Persaingan perekonomian global

Pelaksanaan Masyarakat Ekonomi ASEAN (MEA) menjadi


peluang

sekaligus ancaman. MEA telah berjalan sejak tahun 2015


dicirikan dengan

kondisisebagai beriku:
1. Pasar tunggal dan produksi dasar,

2. Sebuah ekonomi yang sangat kompetitif wilayah,

3. Sebuah wilayah pembangunan ekonomi yang merata, dan

4. Sebuah wilayah sepenuhnya terintegrasi ke dalam perekonomian

global.

Dengan situasi regional dan global tersebut, mau tidak mau

mendorong daerah mempersiapkan diri agar tidak tergerus


dengan

persaingan global. Terintegrasinya pasar dengan perekonomian


yang

141 RPJMD KABUPATEN PONOROGO TAHUN 2016 – 2021

BAB IV

lebih kuat, kerap memangsa wilayah atau daerah yang lemah secara

ekonomi. Oleh karenanya, dalam konteks Ponorogo, tuntutan


untuk

mewujudkan kualitas Sumber Daya Manusia yang berkualitas


dan

berdaya saing menjadi sesuatuyang tidak dapat ditolak.

b. Persaingan dengan daerah sekitar dalam mengembangkan pertanian dan

industri pertanian

Dalam perencanaan pembangunan kewilayahan Provinsi Jawa Timur,

Kabupaten Ponorogo masuk dalam kawasan agropolitan regional


yang

terdiri atas Sistem Agropolitan Wilis (meliputi Kabupaten Madiun,


Kabupaten Magetan, Kabupaten Ngawi, Kabupaten Pacitan,
Kabupaten

Ponorogo, dan Kota Madiun). Kabupaten/kota sekitar Ponorogo juga

memiliki perencanaan pengembangan pertanian dan industri


pertanian

(agrobisnis) yang sama dengan Kabupaten Ponorogo. Oleh


karenanya

kedepan perlu ada diferensiasi yang dikembangkan oleh


Kabupaten

Ponorogo dalam hal pertanian.

Berdasarkan analisis SWOT di atas, maka dirumuskan isu-isu


strategis

Kabupaten Ponorogo sebagai berikut:

a. Peningkatan kuantitas dan kualitas infrastruktur jalan, jembatan, irigasi

dan infrastruktur pertanian.

b. Peningkatan produktifitas pertanian yang kompetitif dan berdaya


saing

dengan mengembangkan industri pertanian berbasis organic, serta

industri kecil kreatif yang berdaya saing.

c. Peningkatan kualitas sumberdaya manusia dengan meningkatkan

pelayanan bidang kesehatan dan pendidikan.

d. Penurunan angka kemiskinan dengan mengembangan ekonomi

kerakyatan melalui pengembangan koperasi dan

pembentukan/pengembangan BUMDes

e. Penurunan angka pengangguran dengan memperbaiki iklim usaha dalam


rangka penciptaan wirausaha baru dan pemberdayaan masyarakat
pada

wilayah sesuai potensi wilayah;

142 RPJMD KABUPATEN PONOROGO TAHUN 2016 – 2021

BAB IV

f. Peningkatan perekonomian daerah dengan mengembangkan sektorsektor


unggulan berbasis wilayah.

g. Peningkatan akses dan sarana transportasi penduduk dan barang antar

wilayah di Kabupaten Ponorogo

h. Peningkatan tata kelola pemerintahan untuk mendukung pelayanan

prima kepada masyarakat.

i. Peningkatan penataan kawasan berwawasan lingkungan;

j. Peningkatan akses masyarakat terhadap layanan air minum


, layanan

sanitasi dan penataan kawasan kumuh.

k. Peningkatankerjasama antar wilayah perbatasan.

Anda mungkin juga menyukai