Penerapan Dangerous Goods di Udara
Dalam Transportasi Udara, Penerapan Dangerous Goods menggunakan IATA Dangerous
Goods Regulations (DGR) sebagai pedoman sumber tepercaya untuk membantu
mempersiapkan, menangani, atau menerima pengiriman barang berbahaya melalui udara.
Diakui oleh industri penerbangan global selama lebih dari 60 tahun, DGR adalah referensi
paling lengkap, terkini, dan mudah digunakan yang memungkinkan untuk memastikan
pengiriman mematuhi peraturan terbaru. Beberapa barang dapat membahayakan keselamatan
pesawat terbang atau orang, dan transportasi udara dari bahan berbahaya ini dapat dilarang
atau dibatasi. Sebagai hasilnya, IATA bekerja erat dengan pemerintah daerah dan ICAO
untuk mengembangkan peraturan yang efektif dan efisien, dan yang memastikan
pengangkutan barang berbahaya yang aman melalui udara.
Manual IATA DGR adalah referensi global untuk pengiriman barang berbahaya melalui
udara, dan satu-satunya standar yang diakui oleh maskapai penerbangan. Konten tersebut
berisi informasi terkini tentang peraturan yang efektif dan efisien, yang menjamin
pengangkutan barang berbahaya yang aman melalui udara. Manual ini adalah hasil dari IATA
yang bekerja erat dengan anggota maskapai, pemerintah daerah, dan ICAO. Semua pihak
yang terlibat dalam pengiriman barang berbahaya melalui udara dapat mengambil manfaat
dari penggunaan DGR termasuk airlines, pengirim barang, pengangkut darat, produsen, dan
pengirim.
Terkait dengan keamanan penerbangan, ada tempat-tempat tertentu di bandara dan area
terkait penerbangan lainnya yang tidak boleh dimasuki seseorang atau benda tertentu.
Kalaupun boleh masuk, orang atau benda tersebut harus melalui pemeriksaan dan
penanganan khusus. Misalnya proses masuknya manusia atau barang ke dalam pesawat, ada
prosedur tertentu yang harus dilalui. Prosedur tersebut mengacu pada ketentuan internasional
yaitu annex dari Organisasi Penerbangan Sipil Internasional (ICAO) serta UU no. 1 tahun
2009 tentang Penerbangan.
Prinsipnya adalah setiap orang, barang, kargo dan pos yang diangkut melalui pesawat udara
sipil harus diperiksa. Hanya empat orang yang tidak akan diperiksa yaitu Presiden, Wakil
Presiden, Panglima TNI dan Kepala Negara dari negara lain. Semua itu dilakukan untuk
keamanan dan keselamatan penerbangan
Pemeriksaan kargo udara dilakukan oleh suatu regulated agent (RA) yang tugasnya
melakukan kegiatan independen tanpa campur tangan pihak lain untuk pemeriksaan kargo
non bagasi di luar bandara.
RA bertugas untuk menyortir barang-barang berbahaya dan terlarang sehingga tidak masuk
ke dalam pesawat. Untuk barang-barang berbahaya (dangerous goods), akan ada penanganan
khusus yang dilakukan oleh badan, maskapai, pesawat dan personil tertentu yang sudah
punya sertifikat terkait dangerous goods sehingga tetap bisa dibawa dalam penerbangan.
Penerapan Dangerous Goods Di Laut
Dalam Transportasi Laut, Penerapan Dangerous Goods menggunakan IMDG (International
Maritime Dangerous Goods) code yaitu sebuah kode International yang di gunakan oleh
pengangkutan pelayaran dan juga semua pihak yang berkaitan dengan dunia “Shipping”, di
mana kapal tersebut memuat barang-barang berbahaya atau yang bisa menimbulkan bencana.
International Maritime Dangerous Goods Code, ditujukan untuk memberi perlindungan pada
crew kapal dan juga memberikan peringatan pada yang lainya bahwa kapal mereka
mengangkut barang berbahaya, agar tidak menimbulkan polusi di laut dan juga agar
memudahkan kapal dalam melakukan pelayaran sampai ke tujuan.
IMDG Code meliputi peraturan dan penjelasan tentang:
Detail muatan barang
Packaging,
Labeling,
Placarding
Marking,
Stowage
Segregation,
Handling dan
Emergency response.
Sedangkan muatan yang termasuk dalam katagori “Dangerous” antara lain: Bahan Peledak,
Gas, Racun, Radio Aktif, Korosive, Limbah, dan lain-lain. Semua keterangan ini terdapat
pada “Document of Compliance for the Carriage of Dangerous Goods”
Dalam Konvensi Internasional SOLAS 1974. Bab. VII perihal ” Pengangkutan barang-barang
berbahaya”.
Barang-barang tersebut diklasifikasikan kedalam 9 kelas sebagai berikut :
Kelas 1 - Bahan-bahan peledak
Kelas 2 - Gas yang dikompres dicairkan atau dilarutkan dibawah tekanan
Kelas 3 - Cairan-cairan yang mudah menyala
Kelas 4.1 - Bahan padat yang mudah menyala
Kelas 4.2 - Bahan-bahan yang dapat terbakar secara spontan
Kelas 4.3 - Bahan-bahan yang kalau tersentuh air, mengeluarkan gas yang mudah
menyala
Kelas 5.1 - Bahan-bahan yang mengoksida
Kelas 5.2 - Peroxida organik
Kelas 6.1 - Bahan / zat-zat beracun
Kelas 6.2 - Bahan / zat-zat yang menimbulkan infeksi
Kelas 7 - Bahan / zat radio aktif
Kelas 8 - Bahan / zat yang mengakibatkan korosi
Kelas 9 - Bahan/ zat berbahaya lainnya yang menurut pengalaman terbukti atau
dapat terbukti mempunyai sifat berbahaya sehingga ketentuan ini berlaku
baginya
Pelaut yang profesional harus paham akan sifat atau karakteristik setiap produk tersebut.
Kesalahan dalam penangan muatan berbahaya dapat berakibat fatal bagi personil kapal, harta
benda dan lingkungan. Kode ini di keluarkan oleh IMO (International Maritime
Organization) dan diupdate setiap 2 tahun sekali. Dan IMDG Code yang di gunakan saat ini
masih mengacu pada edisi 2010.
Pada pelaksanaan pemuatan dikapal dibutuhkan seorang perwira jaga dan seorang Awak
Buah Kapal (ABK) untuk mengawasi kegiatan tersebut. Selain mengawasi kegiatan
pemuatan perwira jaga dituntut dalam hal mengetahui klasifikasi muatan berbahaya sesuai
dengan IMDG CODE, mengetahui sifat-sifat dan karakteristik, bentuk fisik bahan substansi
yang berbeda dari 9 kelas IMDG CODE, mampu mengidentifikasi atau mengenali tanda-
tanda pelabelan dan placarding muatan berbahaya seperti yang diisyaratkan oleh IMDG
CODE, tahu tindakan-tindakan yang harus diambil bila terjadi insiden atau kecelakaan dan
peralatan yang digunakan harus bias dioperasikan sebagaimana fungsinya. Selanjutnya cara
pelaporannya kepada pihak bertanggung jawab untuk operasi tersebut.
Hal utama yang perlu diperhatikan pada saat pemuatan di kapal yaitu bagaimana
menempatkan muatan pada tempatnya sesuai dengan yang telah ditetapkan oleh IMDG
CODE seperti:
a) Muatan berbahaya yang khusus ditempatkan di deck.
b) Muatan yang ditempatkan di dalam palka
c) Pisahkan muatan dari muatan yang lain
d) Pemisahan muatan antara palka satu dengan yang lain
e) Pemisahan muatan secara melintang
Penerapan Dangerous Goods Di Darat
Dalam Transportasi Darat, Penerapan Dangerous Goods menggunakan ADR (secara
resmi, Perjanjian Eropa tentang Pengangkutan Internasional Barang Berbahaya
melalui Jalan Darat (ADR) ) yaitu perjanjian PBB tahun 1957 yang mengatur pengangkutan
bahan berbahaya lintas negara lintas negara.
Perjanjian itu sendiri singkat dan sederhana, dan artikel yang paling penting adalah artikel 2.
Artikel ini menyatakan bahwa dengan pengecualian bahan berbahaya tertentu, bahan
berbahaya secara umum dapat diangkut secara internasional dengan transportasi darat,
asalkan dua kondisi dipenuhi :
1. Lampiran A mengatur barang dagangan yang terlibat, terutama pengemasan dan
labelnya.
2. Lampiran B mengatur konstruksi, peralatan, dan penggunaan kendaraan untuk
pengangkutan bahan berbahaya.
Lampiran terdiri dari sembilan bab, dengan konten berikut
1. Ketentuan umum: terminologi, persyaratan umum
2. Klasifikasi: klasifikasi barang berbahaya
3. Daftar Barang Berbahaya diurutkan berdasarkan nomor PBB, dengan referensi
persyaratan spesifik yang diatur dalam bab 3 hingga 9; ketentuan dan pengecualian
khusus terkait barang berbahaya dikemas dalam jumlah terbatas
4. Pengemasan dan ketentuan tangki
5. Prosedur pengiriman, pelabelan, dan penandaan kontainer dan kendaraan.
6. Konstruksi dan pengujian kemasan, wadah curah menengah (IBC), kemasan besar,
dan tangki
7. Kondisi pengangkutan, pemuatan, pembongkaran, dan penanganan
8. Kru kendaraan, peralatan, operasi, dan dokumentasi
9. Konstruksi dan persetujuan kendaraan
Kelas bahaya
Kelas barang berbahaya menurut ADR adalah sebagai berikut:
Bahan dan artikel bahan peledak Kelas 1
Gas Kelas 2, termasuk terkompresi, dicairkan, dan dilarutkan di bawah gas bertekanan
dan uap
o Gas yang mudah terbakar (mis. Butana, propana, asetilena)
o Tidak mudah terbakar dan tidak beracun, kemungkinan menyebabkan sesak
napas (misalnya nitrogen, CO 2 ) atau oksidator (misalnya oksigen)
o Beracun (mis. Klorin, Fosgen)
Cairan Kelas 3 yang mudah terbakar
Kelas 4.1 Padatan yang mudah terbakar, zat self-reaktif, dan bahan peledak peka
terhadap padatan
Kelas 4.2 Bahan yang dapat terbakar secara spontan
Kelas 4.3 Bahan yang, jika kena air, mengeluarkan gas yang mudah terbakar
Kelas 5.1 Zat pengoksidasi
Kelas 5.2 Peroksida organik
Kelas 6.1 Zat Beracun
Kelas 6.2 Substansi infeksi
Bahan radioaktif Kelas 7
Zat korosif kelas 8
Kelas 9 Aneka zat berbahaya dan artikel
Setiap entri di kelas yang berbeda telah diberi nomor UN 4 digit. Biasanya tidak mungkin
menyimpulkan kelas bahaya suatu zat dari nomor UN-nya: bahan tersebut harus dilihat dalam
tabel. Pengecualian untuk ini adalah zat Kelas 1 yang nomor UN-nya akan selalu dimulai
dengan 0.
Klasifikasi terowongan
Sekretariat ADR telah menetapkan sistem klasifikasi untuk terowongan utama di
Eropa. "Kategorisasi didasarkan pada asumsi bahwa di dalam terowongan ada tiga bahaya
besar yang dapat menyebabkan banyak korban atau kerusakan serius pada struktur
terowongan." Merupakan tanggung jawab masing-masing otoritas nasional untuk
mengkategorikan terowongannya. Kelas berkisar dari A (paling tidak terbatas), hingga E
(paling ketat). Pada 2010 , di Inggris Raya misalnya, yang paling tidak membatasi adalah
terowongan yang membawa A299 ke Pelabuhan Ramsgate , sementara yang paling ketat
adalah beberapa terowongan di London Timur, termasuk Limehouse Link
Tunnel , Rotherhithe Tunnel , Terowongan Blackwall dan Terowongan Tautan India Timur .
Contoh Penerapan Dangerous Goods di Berbagai Negara
Australia
Australian Dangerous Goods Code , edisi ketujuh (2008) memenuhi standar internasional
untuk impor dan ekspor barang berbahaya sesuai dengan Rekomendasi PBB tentang
Pengangkutan Barang Berbahaya. Australia menggunakan nomor standar internasional PBB
dengan beberapa tanda yang sedikit berbeda di bagian belakang, depan dan samping
kendaraan yang membawa bahan berbahaya. Negara ini menggunakan sistem kode
" Hazchem " yang sama dengan Inggris untuk memberikan informasi nasihat kepada personel
layanan darurat jika terjadi keadaan darurat.
Selandia Baru
Aturan Transportasi Darat Selandia Baru: Barang Berbahaya 2005 dan Amandemen Barang
Berbahaya 2010 menggambarkan aturan yang diterapkan untuk pengangkutan barang
berbahaya dan berbahaya di Selandia Baru. Sistem ini dengan ketat mengikuti Rekomendasi
PBB tentang Pengangkutan Barang Berbahaya dan menggunakan plakat dengan kode
Hazchem dan nomor UN pada kemasan dan eksterior kendaraan pengangkut untuk
menyampaikan informasi kepada personel layanan darurat.
Pengemudi yang membawa barang berbahaya secara komersial, atau membawa jumlah yang
melebihi pedoman peraturan harus mendapatkan persetujuan D (barang berbahaya)
pada SIM mereka. Pengemudi yang membawa jumlah barang berdasarkan pedoman
peraturan dan untuk tujuan rekreasi atau domestik tidak memerlukan pengesahan khusus.
Kanada
Transportasi barang berbahaya (bahan berbahaya) di Kanada melalui jalan darat biasanya
merupakan yurisdiksi provinsi. Pemerintah federal memiliki yurisdiksi atas transportasi
udara, sebagian besar laut, dan sebagian besar kereta api. Pemerintah federal yang bertindak
secara terpusat menciptakan transportasi federal atas undang-undang dan peraturan tentang
barang-barang berbahaya, yang diadopsi provinsi secara keseluruhan atau sebagian melalui
transportasi provinsi dari undang-undang barang berbahaya. Hasilnya adalah bahwa semua
provinsi menggunakan peraturan federal sebagai standar mereka di dalam provinsi
mereka; beberapa varian kecil bisa ada karena undang-undang provinsi. Pembuatan peraturan
federal dikoordinasikan oleh Transport Canada . Klasifikasi bahaya didasarkan pada model
UN.
Di luar fasilitas federal, standar tenaga kerja umumnya di bawah yurisdiksi masing-masing
provinsi dan wilayah. Namun, komunikasi tentang bahan berbahaya di tempat kerja telah
distandarisasi di seluruh negeri melalui Sistem Informasi Bahan Berbahaya Kesehatan
Kanada (WHMIS) .
Eropa
Uni Eropa telah mengeluarkan banyak arahan dan peraturan untuk menghindari penyebaran
dan membatasi penggunaan zat berbahaya, yang penting adalah Pembatasan Arahan Zat
Berbahaya dan peraturan REACH . Ada juga perjanjian Eropa lama seperti ADR , ADN dan
RID yang mengatur pengangkutan bahan berbahaya melalui jalan, rel, sungai dan saluran air
pedalaman, mengikuti panduan regulasi model UN.
Hukum Eropa membedakan dengan jelas antara hukum barang berbahaya dan hukum bahan
berbahaya. Yang pertama merujuk terutama pada pengangkutan barang masing-masing
termasuk penyimpanan sementara, jika disebabkan oleh pengangkutan. Yang terakhir
menjelaskan persyaratan penyimpanan (termasuk pergudangan) dan penggunaan bahan
berbahaya. Perbedaan ini penting, karena arahan dan perintah hukum Eropa yang berbeda
diterapkan.
Inggris Raya
Inggris (dan juga Australia, Malaysia, dan Selandia Baru) menggunakan sistem pelat
peringatan Hazchem yang membawa informasi tentang bagaimana layanan darurat harus
menangani suatu insiden. Daftar Kode Tindakan Darurat Barang Berbahaya (EAC)
mencantumkan barang berbahaya; itu ditinjau setiap dua tahun dan merupakan dokumen
kepatuhan yang penting untuk semua layanan darurat, pemerintah daerah dan bagi mereka
yang dapat mengendalikan perencanaan untuk, dan pencegahan, keadaan darurat yang
melibatkan barang berbahaya. Versi terbaru 2015 tersedia dari situs web National Chemical
Emergency Center (NCEC).
Amerika Serikat
Gambar kelas US DOT yang digunakan
Karena peningkatan ancaman terorisme pada awal abad ke-21 setelah serangan 11 September
2001 , pendanaan untuk kemampuan penanganan bahaya lebih besar meningkat di seluruh
Amerika Serikat, mengakui bahwa zat yang mudah terbakar, beracun, meledak, atau
radioaktif pada khususnya dapat digunakan untuk serangan teroris.
Administrasi Keselamatan Pipa dan Bahan Berbahaya mengatur transportasi hazmat di dalam
wilayah AS dengan Judul 49 dari Kode Peraturan Federal .
Administrasi Keselamatan dan Kesehatan Kerja AS (OSHA) mengatur penanganan bahan
berbahaya di tempat kerja serta menanggapi insiden terkait bahan berbahaya, terutama
melalui Operasi Limbah Berbahaya dan Tanggap Darurat ( HAZWOPER ). peraturan
ditemukan di 29 CFR 1910.120.
Pada tahun 1984 agensi OSHA, EPA, USCG, dan NIOSH bersama-sama menerbitkan Buku
Pedoman Operasi Limbah Berbahaya dan Tanggap Darurat yang tersedia untuk diunduh.
Badan Perlindungan Lingkungan (EPA) mengatur bahan berbahaya karena dapat berdampak
pada masyarakat dan lingkungan, termasuk peraturan khusus untuk pembersihan lingkungan
dan untuk penanganan dan pembuangan bahan berbahaya limbah. Misalnya, pengangkutan
bahan berbahaya diatur oleh Undang-Undang Pengangkutan Bahan
Berbahaya . Undang - undang Konservasi Sumber Daya dan Pemulihan juga disahkan untuk
lebih melindungi kesehatan manusia dan lingkungan.
Komisi Keamanan Produk Konsumen mengatur bahan berbahaya yang dapat digunakan
dalam produk yang dijual untuk keperluan rumah tangga dan konsumen lainnya.
Langkah Pemeriksaan Barang Berbahaya
Dalam rangka pemeriksaan suatu barang berbahaya diperlukan petunjuk atau pedoman yaitu
pada daftar barang berbahaya (list of Dangerous Goods) yang sudah baku sesuai dari IATA
Dangerous Goods Regulation. Adapun langkah-langkah sebagai berikut:
1. Lihat nama jenis barang berbahaya (Power shipping name and UN number).
2. Pastikan kelas atau devisi atau subsidiary apakah sesuai dengan daftar barang berbahaya.
3. Catat dan perhatikan harzad label, cocok atau tidak.
4. Lihat dan perhatikan packing group.
5. Perhatikan dengan cermat berat paket barang berbahaya, baik yang dapat
diangkutdengan pesawat penumpang atau pesawat kargo atau pesawat kargo saja.
6. Periksa catatan pada (kolom M), apakah ada special provisions atau tidak.
Tanggung Jawab dalam Penanganan Dangerous Goods
a. Tanggung jawab Pengirim/Shipper
1. Diharuskan memberi informasi dengan jelas pada Shipper Declaration for
Dangerous Good (DGD) berdasarkan Material Safety Data Sheet (MSDS).
2. Memastikan bahwa barang Dangerous Goods yang dikirim melalui pesawat udara
adalah tidak di larang untuk di angkut pesawat udara.
3. Harus mengidentifikasi isi kiriman tersebut, mengklasifikasikan, membungkus atau
packing, label dan keterangan dan mendokumentasikannya sesuai dengan IATA
Dangerous Good Regulation book.
4. Pembuat Shipper Declaration harus sudah mendapatkan pengetahuan atau training
Dangerous Goods Regulation sebelum menyerahkan pengiriman ataupun membuat
keterangan tentang kiriman Dangerous Goods tersebut.
Berikut adalah tata cara pengiriman Dangerous Goods
1. Pengirim atau shipper memohon pembukuan terlebih dahulu melalui airlines
customer service dengan memberikanMSDS, pemberitahuan tentang isi, tujuan dan
tanggal pengiriman.
2. Customer service menginformasikan dan meminta klarifikasi persetujuan angkut
atas lampiran MSDS dari pengirim kepada station ramp atau traffic yang
bersertifikat Dangerous Goods Regulation.
3. Station ramp atau traffic akan meneliti MSDS serta peralatan yang ada apakah sudah
sesuai ketentuan minimum Dangerous Goods Regulation.
4. Apabila data MSDS sesuai dengan ketentuan Dangerous Goods Regulation, station
ramp atau traffic menkonfirmasikan kepada customer service barang Dangerous
Goods tersebut dapat di angkut.
5. Bila data belum lengkap, station ramp atau traffic meminta kepada pengirim atau
shipper untuk melengkapi persyaratannya disampaikan melalui customer service.
b. Tanggung jawab operator atau airlines
Acceptance adalah kegiatan awal yang harus melakukan pengontrolan Dangerous Goods
shipment, sebagai berikut:
a. Check MSDS dari shipper
b. Check pengisian shipper declaration sudah benar apa belum
c. Check packing atau kemasannya.
d. Check labeling dan markingnya
e. Melaporkan ke station ramp atau traffic
c. Tugas station ramp atau traffic:
a. Check MSDS dari shipper.
b. Check pengisian shipper declaration of dangerous Goods (DGD).
c. Check packing atau kemasannya.
d. Check labeling dan markingnya.
e. Melakukan pemeriksaan fisik barang dan dokumentasinya dengan menggunakan
check list yang ada (Dangerous Goods check list for anon- radioactive shippment).
f. Membuat NOTOC (Notifikasi to Captain) apabila kiriman tersebut bisa diterima
untuk di berangkatkan.
g. Membuat pre alert ke transit dan destination station.
Kasus Penerapan Dangerous Goods
a. Pengiriman Bahan Cairan Kimia
Perlu untuk diketahui, penyedia layanan Jasa Pengiriman Cairan Kimia tidak semudah
layanan pengiriman barang jenis lainnya. Alasannya, barang dalam bentuk cairan adalah jenis
barang yang cukup berbahaya. Seperti yang diketahui, ada beberapa jenis bahan cairan yang
mengandung gas, rawan membasahi barang lainnya, bersifat mudah terbakar, dan bahkan
menimbulkan bau yang menyengat. Hal inilah yang membuat banyak perusahaan jasa
pengiriman barang menghindari menerima kiriman barang cair.
Dalam melayani jasa ekspedisi cargo cairan kimia, harus melakukan packing yang tepat
sesuai prosedur dan ketentuan yang berlaku. Dengan packing atau pengemasan yang tepat,
barang cair yang dikirimkan bisa sampai ke tempat tujuan secara aman. Adapun teknik
packing yang dapt dilakukan meliputi packing plastik, packing kardus, dan packing kayu.
Dengan packing plastik, jika barang cair tumpah, maka cairan tak bisa langsung keluar. Akan
tetapi tertahan di plastik tersebut. Untuk packing kardus, pengemasan ini bertujuan agar saat
barang bersentuhan ataupun ditumpuk dengan barang lainnya, maka barang cairan tersebut
akan tetap terlindungi oleh kardus. Lain halnya untuk packing kayu. Perlu untuk anda
ketahui, barang yang ada di gudang jasa pengiriman kami ditumpuk-tumpuk dengan barang
cargo lain. Maka dari itu, jika tidak di packing dengan kayu tentu saja bisa sangat berbahaya.
Dengan teknik packing jasa pengiriman barang cepat yang tepat, maka barang cair yang
dikirimkan bisa terjaga secara baik.
b. Soal Baterai Lithium Di Pesawat Belum Seragam
Beberapa bandara di Indonesia, ada yang menerapkan pembatasan baterai lithium dalam
pesawat, ada juga yang masih memberikan kelonggaran. Seperti diketahui, Perserikatan
Bangsa-Bangsa (PBB) menyetujui larangan sementara pengiriman kargo dengan muatan
baterai lithium isi ulang pada pesawat penumpang. Saat ini, baterai lithium banyak digunakan
dalam perangkat produk seperti ponsel, laptop, dan mobil listrik.
Lanjut dijelaskannya baterai lithium yang sekarang banyak digunakan memang bisa meledak
jika terkena panas berlebih atau short curcuit. Sekarang ini tidak hanya smartphone ataupun
laptop, perangkat powerbank dan drone juga menggunakan baterai dan sering dibawa
berpergian.
Tidak semua powerbank dibuat dengan kualitas yang sama. Banyak juga yang abal-abal dan
mengabaikan tingkat keamanan. Semakin besar kapasitasnya baterainya, risikonya semakin
tinggi jika meledak
Dalam aturan penganan Dangerous Goods ini, maskapai domestik dan asing diinstruksikan
untuk menanyakan kepada setiap penumpang pada saat proses lapor diri (check-in) terkait
kepemilikan powerbank atau baterai lithium cadangan.
Maskapai juga harus memastikan bahwa powerbank atau baterai lithium cadangan yang
dibawa penumpang dan personel pesawat udara harus memenuhi beberapa ketentuan.
Diantaranya bahwa powerbank atau baterai lithium cadangan yang dibawa di pesawat udara
tidak terhubung dengan perangkat elektronik lain. Maskapai harus melarang penumpang dan
personel pesawat udara melakukan pengisian daya ulang dengan menggunakan powerbank
pada saat penerbangan.
Powerbank atau baterai lithium cadangan tersebut harus ditempatkan pada bagasi kabin dan
dilarang pada bagasi tercatat. Peralatan yang boleh dibawa hanya yang mempunyai daya per
jam (watt-hour) tidak lebih dari 100 Wh. Sedangkan peralatan yang mempunyai daya per jam
(watt-hour) lebih dari 100 Wh (Wh < 100) tapi tidak lebih dari 160 Wh (100 ≤ Wh ≤ 160)
harus mendapatkan persetujuan dari maskapai dan diperbolehkan untuk dibawa maksimal dua
unit per penumpang.
c. Penanganan Barang Berbahaya di Pelabuhan Masih Lemah
Direktur Kesatuan Penjagaan Laut dan Pantai (KPLP) Kemenhub, Capt. Jhonny R. Silalahi
mengatakan para Syahbandar sebagai pengawas pelabuhan kurang mengetahui ketentuan
yang diatur dalam prosedur bongkar muat barang berbahaya atau Internasional Maritime
Dangerous Goods Code (IMDG Code)
Beberapa aspek regulasi penanganan barang berbahaya yang perlu diketahui menurut Jhonny
antara lain terkait dengan persyaratan pengemasan (packaging), penandaan (marking),
pelabelan (labelling), dan juga penempatan (stowage). Selanjutnya aspek bila terjadi
permasalahan pada pengemasan (packaging), penandaan (marking), pelabelan (labelling),
dan juga penempatan (stowage).
Penerapaan Dangerous Goods ini seharusnya dilakukan oleh PT Pelabuhan Indonesia II
(Persero) atau lebih dikenal dengan IPC, sebagai operator pelabuhan, karena merekalah
menangani bongkar muat barang-barang yang diklasifikasikan sebagai Dangerous Goods.
Dengan begitu banyaknya jenis barang berbahaya yang ditangani maka pekerja IPC perlu
memiliki pengetahuan yang baik mengenai jenis-jenis barang berbahaya tersebut dan cara
menanganinya.