0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
1K tayangan15 halaman

Pedoman PPDGJ dalam Keperawatan Jiwa

Dokumen tersebut membahas tentang Pedoman Penggolongan dan Diagnosis Gangguan Jiwa (PPDGJ). PPDGJ merupakan pedoman diagnosis gangguan jiwa yang digunakan oleh perawat dalam menentukan diagnosis dan merencanakan perawatan. PPDGJ memuat penjelasan tentang struktur, aturan, dan pengelompokan diagnosis gangguan jiwa sesuai dengan PPDGJ edisi ketiga.

Diunggah oleh

Anggun Septiani
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd
0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
1K tayangan15 halaman

Pedoman PPDGJ dalam Keperawatan Jiwa

Dokumen tersebut membahas tentang Pedoman Penggolongan dan Diagnosis Gangguan Jiwa (PPDGJ). PPDGJ merupakan pedoman diagnosis gangguan jiwa yang digunakan oleh perawat dalam menentukan diagnosis dan merencanakan perawatan. PPDGJ memuat penjelasan tentang struktur, aturan, dan pengelompokan diagnosis gangguan jiwa sesuai dengan PPDGJ edisi ketiga.

Diunggah oleh

Anggun Septiani
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd

Laporan Tugas Mandiri

“PEDOMAN PENGGOLONGAN DAN


DIAGNOSIS GANGGUAN JIWA”

Oleh :

Anggun Septiani

185070207111007

PROGRAM STUDI SARJANA ILMU KEPERAWATAN

FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS BRAWIJAYA

MALANG 2019
BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang


Keperawatan jiwa merupakan disiplin ilmu yang berdiri secara
mandiri dalam dunia keperawatan. Keperawatan jiwa memiliki pengertian dan
batasan-batasan khusus yang membedakannya dengan keperawatan secara
umum maupun keperawatan spesialis yang lainnya. Oleh karena itu, dalam
praktiknya keperawatan jiwa juga memiliki diagnosis tersendiri yang terpisah
dengan diagnosis keperawatan secara umum yang terdapat dalam Nanda atau
sejenisnya. Diagnosis keperawatan jiwa tersebut kemudian dikenal sebagai
PPDGJ atau Pedomana Penggolongan dan Diagnosis Gangguan Jiwa. Sama
halnya dengan buku diagnosis keperawatan yang lainnya, PPDGJ juga telah
mengalami perkembangan dari waktu ke waktu, mulai dari PPDGJ I, II,
hingga III. PPDGJ menjadi pedoman penatalaksanaan perawatan jiwa bagi
perawat. Di dalamnya terdapat berbagai penjelasan seperti struktur, aturam,
dan pengelompokan diagnosis.
1.2 Tujuan
1. Untuk mengetahui terkait Pedoman Penggolongan dan Diagnosis
Gangguan Jiwa (PPDGJ)
2. Untuk mengetahui pengertian PPDGJ
3. Untuk mengetahui aksis dalam diagnosis medis
4. Untuk mengetahui pengelompokan diagnosis gangguan jiwa sesuai dengan
PPDGJ III
1.3 Manfaat
1. Meningkatnya pengetahuan terkait Pedoman Penggolongan dan Diagnosis
Gangguan Jiwa (PPDGJ)
2. Mengetahui pengertian serta dasar-dasar lain dalam PPDGJ
3. Meningkatnya pengetahuan mengenai aksis dalam diagnosis medis
4. Meningkatnya pengetahuan mengenai pengelompokan diagnosis gangguan
jiwa sesuai dengan PPDGJ III
BAB II
ISI

2.1 Pedoman Penggolongan dan Diagnosis Gangguan Jiwa (PPDGJ)

Dalam Pedoman Penggolongan dan Diagnosis Gangguan Jiwa atau


PPDGJ, istilah yang digunakan ialah gangguan jiwa (mental disorder) bukan
penyakit jiwa (mental illness atau mental disease). Kriteria sebuah kondisi
dapat disebut sebagai gangguan jiwa diantaranya yaitu jika terdapat gejala
klinis yang meliputi sindrom pola perilaku atau pola psikologi, gejala klinis
tersebut menimbulkan distress (nyeri), serta gejala klinis juga menimbulkan
disability seperti defisit perawatan diri. Berawal dari banyaknya istilah
kedokteran dan psikiatri yang berasal dari dongeng atau kepercayaan sehingga
tidak terdapat kesepakatan arti, Linneacus memulai klasifikasi yang teratur.
Tahun 1853 dalam Kongres Statistik Internasional, William Farr menyusun
penyebab kematian (Clasification Bertillion). Setelah direvisi berulang-ulang
tahun 1965 WHO mengesahkan ICD 8 (International Clasification Desease 8).

PPDGJ menganut pendekatan ateoritik kecuali pada gangguan yang


telah secara jelas disepakati penyebabnya. Pengelompokan diagnosis gangguan
jiwa didasarkan pada gambaran kliniknya. PPDGJ tidak menganggap gangguan
jiwa adalah satu kesatuan yang tegas degan batas-batas yang jelas antara
gangguan jiwa yang satu dengan gangguan jiwa yang lainya. Anggapan salah
yang sering beredar yaitu bahwa semua orang yang menderita gangguan jiwa
yang sama akan memiliki kesamaan juga dalam segala hal yang penting.

Penyeragaman kode melalui adanya PPDGJ dapat membantu dalam


pencatatan, dokumentasi dan statistik kesehatan. Keseragaman diagnosa
merupakan acuan untuk tata laksana teerapi. Selain itu, adanya PPDGJ juga
memberi manfaat sebagai alat komunikasi tim kesehatan termasuk perawat.
Dalam ranah penelitian, PPDGJ juga mempunyai peran untuk memberikan
batasan operasional diagnosa gangguan jiwa. Perawat akan lebih cepat dalam
mengantisipasi respon klien berdasarkan diagnosa klien serta merencanakan
tindakan perawatan yang akan dilakukan. PPDGJ juga dapat digunakan oleh
perawat sebagai bahan untuk memberikan pendidikan kesehatan kepada
keluarga, ebagai bahan diskusi dengan tim medis, sehingga perawat dapat
mengumpulkan informasi gejala klien lebih banyak. Selain manfaat-manfaat
yang telah disebutkan di atas, PPDGJ juga dapat membantu managemen
perawatan dalam mendesign ruang perawatan. Misalnya, pengelompokan
ruang menjadi ruang UPIP dan ruang gangguan jiwa organik.

2.2 Pengertian

PPDGJ III adalah sebuah buku pedoman mengenai Penggolongan dan


Diagnosis Gangguan Jiwa di Indonesia. Pada edisi ke 3, isinya meliputi
perkembangan PPDGJ, perbandingan penggolongan diagnosis, struktur
klasifikasi PPDGJ III, beberapa konsep dasar yang berkaitan dengan diagnosis
gangguan jiwa dan penggolonganya, kategori diagnosis dan diagnosis
gangguan jiwa dengan mengacu pada pedoman diagnostiknya, serta
dilampirkan pula silsilah penegakan diagnosis banding dan tabel konversi
PPDGJ-I-II-III.

A. Struktur PPDGJ III :

1. Gangguan mental organik :

 Gangguan organik dan simtomatik F00 – F09


 Gangguan akibat alkohol dan obat atau zat F10 – F19
2. Gangguan mental psikotik :
 Skizofrenia dan gangguan yang terkait F20 – F29
 Gangguan afektif F30 – F39
3. Gangguan neurotik dan gangguan kepribadian :
 Gangguan neurotik F40 – F48
 Gangguan kepribadian dan perilaku masa dewasa F50 – F69
4. Gangguan masa kanak, remaja dan perkembangan :
 Returdasi mental F70 – F 79
 Gangguan masa kanak, remaja dan perkembangan F80 – F98

B. Aturan PPDGJ III


YDT : Yang ditentukan

YTT : Yang tidak digolongkan

YDK : Yang diklasifikasikan di tempat lain

YTK : Yang tidak diklasifikasikan di tempat lain

SSP : Susunan saraf pusat

Lir : Prefix untuk menyatakan sejenis

Nir : Prefix untuk menyatakan tidak

C. Isi PPDGJ III

Isi dalam PPDGJ III memuat sembilan blok dengan masing-masing


diagnosisnya sebagai berikut :

F00-F09 F10-F19
Gangguan organik dan simptomatik Gangguan akibat alkohol dan obat
• F00 demensia penyakit alzheimer atau zat
• F01 Dementia Vaskular • F10 Gangguan
• F02 Demensia pada penyakit lain mental dan perilaku akibat alkohol
• F03 Dementia YTT • F11 Akibat pengunaan Opioda
• F04 Sindrom amnesik organik bukan • F12 Akibat penggunaan kanabinoida
akibat alkohol dan zat psikoaktif • F13 Akibat penggunaan seativa atau
lainya hipnotika
• F05 delirium bukan akibat alkohol • F14 Akibat penggunaan kokain
dan zat psikoaktif lainya • F15 Akibat penggunaan stimulansia
• F06 Gangguan mental lainya akibat lain termasuk kafein
kerusakan dan disfungsi otak • F16 Akibat pe nggunaan halusinogen
• F07 Gangguan kepribadian dan • F17 Akibat Pengunaan tembakau
perilaku akibat penyakit, kerusakan,
dan disfungsi otak • F18 Akibat pengunaan pelarut yang
mudahmenguap
• F09 Gangguan mental organik atau
simtomatik YTT • F19 Akibat penggunaan zat multiple
dan penggunaan zat psikoaktif lainya
F20-F29
Skizofrenia dan gangguan yang terkait F30-F39
Gangguan afektif
• F20 Skizofrenia
• F30 Episode manik
• F21 Gangguan skizotipal
• F22 Gangguan waham menetap • F31 Gangguan afektif bipolar
• F23 Gangguan psikotik akut dan • F32 Episode depresif
sementara • F33 Gangguan depresif berulang
• F24 Gangguan waham induksi • F34 Gangguan suasana perasaan
• F25 Ganggan skizoafektiv menetap
• F28 Gangguan psikotik non organik • F38 Gangguan suasana perasaan
lainya lainya
• F29 Gangguan psikotik non organik • F39 Gangguan suasana perasan YTT
YTT
F40-F48 F50-F59
Gangguan kepribadian dan perilaku
Gangguan neurotik masa dewasa
• F40 Gangguan anxietas forik • F50 gangguan makan
• F41 Gangguan anxietas lainya • F51 Gangguan tidur non organik
• F42 Ganggua obsesif komplusif • F 52 Disfungsi seksual bukan
• F43 Reaksi terhadap stress berat dan disebabkan gangguan atau penyakit
gangguan penyesuaian organik
• F44 Gangguan disosiatif • F53 Gangguan meental dan perlaku
yang berhubungan dengan masa
• F45 Gangguan somatoform nifas YTK
• F48 Gngguan Neurotik lainya • F 54 Faktor psikologis dan perilaku
berhubungan dengan gangguan
F60-F69
dan penyakit
Gangguan kepribadian dan perilaku • F55 Penyalahgunaan zat yang tidak
masa dewasa menyebabkan ketergantungan
• F60 Gangguan kepribadian khas • F59 sindrom perilaku YTT yang
• F61 Gngguan kepribadian campuran berhubungan dengan gangguan
dan lainya fisiologis dan faktor fisik
• F62 perubahan kepribadian yang
berlangsung lama yang tidak
F70-F79
diakibatkan oleh kerusakan atau Retardasi mental
penyakit otak
• F70 Retardasi mental ringan
• F63 Gangguan kebiasaan dan implus
• F71 Retardasi mental sedang
• F64 GAngguan identitas jenis
kelamin • F72 Retardasi mental berat
• F65 Gangguan preferensi seksual • F73 Retardasi mental sangat berat
• F66 Gangguan psikologis dan • F78 Retardasi mental lainya
perlaku yang berhubungan dengan • F79 Retardasi mental YTT
perkembangan dan orientasi seksual
• F68 Gangguan kepribadian dan F80-F89
perilaku dewasa lainya
• F69 Gangguan kepribadian dan Gangguan perkembangan psikologis
perilaku dewasa YTT • Gngguan perkembangan khas
berbicara dan bahasa
• Gangguan perkembangan belajar
khas
• Gangguan perkembangan motorik
khas
• Gangguan perkembangan khas
campuran
• Gangguan perkembangan pervasif
• Gangguan perkembangan psikologis
lainya
• Gangguan perkembangan psikologis
YTT

2.3 Aksis dalam Diagnosis Medis

Diagnosis dalam ilmu kedokteran jiwa terdiri dari 5 aksis yang


selanjutnya dikenal sebagai diagnosis multiaksisal. Aksis I, II, III merupakan
aksis dari segi organobiologik dimana faktor-faktor ini berasal dari masing-
masing individu itu sendiri, yang berupa faktor internal. Sedangkan aksis IV
merupakan faktor lingkungan yang berada di luar individu tersebut atau disebut
juga faktor eksternal. Aksis V merupakan interaksi antara kedua faktor tersebut
yaitu bagaimana kemampuan adaptasi individu terhadap lingkungannya.

AKSIS I

Terdiri dari gangguan klinis dan kondisi lain yang


menjadi fokus pehatian klinis sebagai berikut :

Gangguan Klinis

Adalah sindrom klinik yang merupakan gabungan dari beberapa


gejala-gejala yang kemudian membentuk suatu diagnosis klinik. Jadi, bukan
hanya satu gejala saja kemudian dibuat menjadi satu diagnosis. Pada gangguan
klinis ini variasi diagnosis banyak sekali, tetapi penting untuk diingatbah&a
setidaknya kita harus dapat membedakan apakah kondisi tersebut bersifat
psikotik atau non psikotik, dimana hal ini terkait nantinya dengan terapi,karena
sangat berbeda. Tentunya kita harus dapat memastikan apakah ada kelainan
pada RTA-nya yang intinya adalah tidak adany adaya tilikan (discriminative
insight ) pada alam pikiran dengan mempunyai manifestasi yang banyakseperti
gangguan asosiasi, halusinasi, waham, dll., yang biasanya juga dapat diikuti
oleh gangguanaspek lain seperti pada alam perasaan dan alam perbuatan. Jelas
pada kondisi psikotik akan terdapat autisme yang merupakan gabungan antara
perilaku autistik yang dilandasi oleh cara pikir yang autistik. Cara penulisan
diagnosis ini menurut kaidah PPDGJ yang benar adalah dengan menuliskan
terlebih dahulu nomor kode dari diagnosis tersebut.

Contoh :
F 20.04 => Skizofrenia paranoid, remisi tidak sempurna
F :  merupakan kode untuk seluruh gangguan psikiatrik
20.0 : merupakan kode untuk skizofrenia (20) dan subtipe paranoid (8)
4 : merupakan kode untuk "enis per"alanan penyakit berupa Aemisi
tidaksempurna , kode terakhir ini bervariasi dari 8 sampai 6
Kondisi lain yang Menjadi Fokus Perhatian Klinis

Merupakan kondisi a&al dari proses konsultasi, misalnya ada kesulitan


belajar yang belum tentu dapat ditegakkan mennadi diagnosis dari
gangguan klinis atau mungkin diagnosis tertunda. Sebagai hasil akhir
mungkin akan cukup ke bagian psikologi saja atau bila ada gangguan klinis ke
psikiater.

AKSIS II

Terdiri dari gangguan kepribadian dan retardasi mental, sebagai berikut :

Gangguan Kepribadian

Diagnosis gangguan kepribadian ditegakkan apabila telah


memenuhi kriteria diagnosis yang sesuai. Apabila keadaan klinis tidak
memenuhi kriteria tersebut, namun sudah diputuskan mengarah ke
salah satu diagnosis kepribadian yang ada, maka hendaknya
ditetapkan sebagai c i r i atau gambaran kepribadian khas.
Penegakan diagnosis gangguan kepribadian juga harus
menyertakan nomor kode dari gangguan tersebut dan bila aksis ini
merupakan diagnosis utama maka harus ditambahkan lagi belakangnya
keterangan “(Diagnosis Utama)”. Bila masih merupakan ciri atau gambaran
kepribadian, maka tidak perlu disebutkan nomor kodenya.

Contoh :
Aksis II : F60.0 gangguan kepribadian paranoid
Aksis II : Gambaran kepribadian schizoid
Retardasi Mental

Diagnosis ini dibuat bila terdapat perkembangan intelegensi


subnormal dengan tetap menulis nomor kode dan bila memang merupakan
diagnosis utama juga harus disebutkan, seperti yang telah disebutkan di atas

AKSIS III

Kondisi Medik Umum

Di sini merupakan kondisi fisik yang kelainannya ada mulai


kode A sampai dengan Z (kecuali F) sesuai dengan pengkodean pada ICD-
10. Secara ringkas, rujukan kode ini ada di buku saku PPDGJ III. Contoh hal
yang penting adalah ada gangguan sistemik seperti masalah pada hati, jantung,
dan ginjal. Keterangan seperti ini diperlukan untuk pemilihan dan pemberian
obat, pertimbangan konsul ke bagian yang terkait, peringatan kepada
lingkungan sekitar (misalnya bila ada penyakit infeksi), dan lain sebagainya.

AKSIS IV

Faktor Stresor : Masalah Psikososial dan Lingkungan

Di sini biasanya yang dinilai adalah yang terjadi dalam kurun waktu
lebih kurang satu tahun terakhir, meskipun tidak menutup kemungkinan
terjadi beberapa tahun sebelumnya tetapi yang traumanya atau
akibatnya masih ada atau terasa sampai sekarang, atau mungkin juga
belum terjadi t e t a p i s u d a h m e m b a y a n g , m i s a l n y a P N S d e n g a n
k e m a m p u a n e k o n o m i p a s - p a s a n y a n g a k a n pensiun. Hendaknya juga
diberi spesifikasi mengenai derajat berat-ringannya stresor, serta apakahstresor
tersebut tergolong sebagai stresor pemberat ataukah sebagai stresor
pencetus.

Sesuai dengan penjelasan dalam DSM-IV (yang menjadi rujukan


diagnosis multiaksial dalam PPDGJ III), maka hendaknya didaftarkan semua
kemungkinan stresor yang ada. d e r a j a t berat-ringan stresor
secara umum didefinisikan sebagai seberapa besar
kemungkinan terjadinya gangguan kejiwaan akibat stresor tersebut
pada populasi umumnya. Derajat ini dikelompokkan menjadi 0 (tidak
jelas), 1 (tidak ada), 2 (hampir tidak ada), 3 (ringan), 4 ( sedang), 5
(berat), 6 (sangat berat), dan 7 (malapetaka).

AKSIS V

GAF Scale

Di sini akan dinilai gejala, fungsi, dan disabilitas dari individu yang
dapat bersifat ringan, sementara, sedang, berat, sangat berat atau persisten dan
serius terkait dengan lingkungan rumah, keluarga, di luar rumah termasuk
lingkungan dimana jdia berinteraksi seperti sekolah, pekerjaan, agama, dll
dimana dia ikut terlibat. Penilaian mengenai GAF Scale bersifat sangat subjektif
dan membutuhkan pengalaman untuk menentukan secara lebih tepat. Oleh
karena itu, pemberian nilai GAF Scale dianjurkan tidak dengan angka pasti, tapi
dalam rentang nilai.

Nilai GAF Scale sejatinya selalu berubah dalam waktu yang


singkat, namun yang dituliskan disini adalah rentang GAF Scale yang
dipertahankan selama setidaknya beberapa bulan. Perkiraan GAF Scale dapat
dilakukan dengan beberapa cara. Beberapa keluhan (yang
berhubungan dengan agresi, usaha bunuh diri, dll.) bisa dijadikan
patokan perkiraan GAF Scale pada waktu tersebut. Selain itu,
penentuan GAF Scale juga bisa dilakukan dengan menilai berat-
ringannya disabilitas yang dialami seseorang, pada fungsi kejiwaan,
akibat gangguan yang dialaminya. GAF Scale dinilai selama satu tahun
terakhir perkembangan gangguan kejiwaan yang dialami. Ada 3 nilai
yang bisa diidentifikasi pada rentang waktu tersebut, yaitu :

 Nilai tertinggi :
Nilai ini mempunyai makna prognostic bagi penderita. Semakin tinggi
nilai ini maka berarti semakin baik prognosisnya.
 Nilai terendah :
Nilai terendah biasanya saar MRS dan mempunyai nilai terapeutik.
Semakin rendah nilainya berarti akan memerlukan terapi yang lebih kuat
atau lebih tinggi dosisnya.
 Nilai terakhir :
Nilai terakhir juga memiliki makna terapeutik, yaitu semakin cepat
kenaikannya berarti terapi yang dilakukan berhasil, sedangkan jika
kenaikannya tidak ada berarti obat yang diberikan tidak mempan. Waktu
yang dipakai adalah waktu terakhir kali bertemu pasien, biasanya waktu
follow up baik pada pasien rawat inap maupun pasien rawat jalan.

2.4 Penggolongan Diagnosis Gangguan Jiwa (PPDGJ III)

Terdapat 10 penggolongan atau klasifikasi dalam PPDGJ III yaitu sebagai


berikut :

I II
Skizofrenia, gangguan psikopat, dan
Gangguan mental organik dan
gangguan waham (F20-F29)
simtomatik (F00-F09)
Ciri khas :
Gangguan mental dan perilaku akibat
Gejala psikiatrik, etiologi organik
zat psikoaktif (F10-F19)
tidak jelas
Ciri khas :
Etiologi organik atau fisik jelas,
primer atau sekunder
III IV
Gangguan suasana perasaan atau Gangguan neurotik, gangguan
mood dan afektif (F30-F39) somatoform, dan gangguan srress
Ciri khas : (F40-F49)
Gejala gangguan afek (psikotik dan Ciri khas :
non psikotik) Gejala non psikotik dan etiologi non
organik
V VI
Sindrom perilaku yang berhubungan Gangguan kepribadian dan perilaku
dengan gangguan fisiologis dan faktor masa dewasa (F60-F69)
fisik (F50-F59) Ciri khas :
Ciri khas : Gejala perilaku dan etiologi non
Gejala disfungsi fisiologis dan etiologi organik
non organik
VII VIII
Retardasi mental (F70-F79) Gangguan perkembangan psikologis
Ciri khas : (F80-F89)
Gejala pengembangan IQ dan onset Ciri khas :
masa kanak Gejala perkembangan khusus dan
onset masa kanak
IX X
Gangguan perilaku dan emosional Kondisi lain yang fokus menjadi
dengan onset masa kanak dan remaja perhatian klinis (kode Z)
(F90-F99) Ciri khas :
Ciri khas : Tidak tergolong gangguan jiwa
Gejala perilaku atau emosional dan
onset masa kanak
BAB III

PENUTUP

3.1 Kesimpulan

Pedoman Penggolongan dan Diagnosis Gangguan Jiwa atau PPDGJ


merupakan panduan bagi perawat dalam melakukan asuhan keperawatan
jiwa. PPDGJ merupakan sebuah buku diagnosis yang berdiri secara mandiri
dan berbeda dengan diagnosis keperawatan umum. Dalam PPDGJ telah
tedapat lengkap terkait dengan struktur PPDGJ, aturan PPDGJ, serta
penggolongan diagnosis gangguan jiwanya. Adanya PPDGJ sangat
membantu perawat untuk memudahkannya dalam melakukan
penatalaksanaan asuhan keperawatan jiwa serta juga dapa memudahkan
dalam manajemen pengklasifikasian ruang pada pelayanan kesehatan. Pada
PPDGJ III terdapat 10 penggolongan gangguan jiwa dan juga 5 aksis dalam
diagnosis medis.

3.2 Saran

Sebaiknya mahasiswa keperawatan mempelajari dengan betul terkait


dengan Pedoman dan Penggolongan Diagnosis Gangguan Jiwa (PPDGJ)
karena praktik keperawatan jiwa mempunyai dasar-dasar atau aturan yang
telah tersusun secara mandiri dan berbeda dengan keprawatan umum. Sangat
penting bagi mahasiswa calon tenaga keperawatan professional untuk
memahami dan menguasai PPDGJ dengan baik sehingga diharapkan nantinya
dapat memberikan asuhan keperawatan yang efektif dan optimal kepada
klien.
DAFTAR PUSTAKA

Andriyani, N. 2012. Diagnosis Multiaksial.


[Link] Diakses
tanggan 26 September 2019

Arkana, D. 2017. Macam-Macam Gangguan Jiwa.


[Link] diakses
tanggal 25 September 2019

Dalila, Lila. 2017. Panduan Status Psikiatrikus.


[Link] Diakses tanggal
26 September 2019

Falaq, Fazrul. 2018. PPDGJ KKPMT III. [Link]


iii-kkpmt-iii/. Diakses tanggal 26 September 2019

Hanum, Haniva. 2013. BAB II Tinjauan Pustaka.


[Link] diakses
tanggal 24 September 2019

Kurnia, VH. 2017. Pedoman Penggolongan Diagnosis Gangguan Jiwa.


[Link]
[Link]. diakses tanggal 26 September 2019

Oktaviani, F. 2017. PPDGJ Keperawatan Jiwa.


[Link] diakses
tanggal 26 September 2019

Rizq, Mariana. 2015. Pedoman Penggolongan Diagnosis Gangguan Jiwa.


[Link] Diakses tanggal 25 September 2019
Setiawan, Ari. 2017. Pedoman Diagnostik PPDGJ-III.
[Link] diakses
tanggal 25 September 2019

Zakiyah, FL. 2015. Bab II Kajian Pustaka. [Link]


%[Link]. diakses tanggal 25 September 2019

Anda mungkin juga menyukai