Definisi
Apa itu asma?
Asma adalah penyakit kronis yang disebabkan oleh peradangan dalam saluran pernapasan.
Peradangan membuat saluran pernapasan bengkak dan sangat sensitif. Akibatnya, saluran
pernapasan menyempit sehingga udara yang masuk ke paru-paru jadi terbatas.
Peradangan juga membuat sel di saluran pernapasan membuat lebih banyak lendir dari
biasanya. Lendir ini dapat makin mempersempit saluran pernapasan dan menyulitkan Anda
untuk bernapas lega.
Tergantung faktor pemicunya, asma terdiri dari banyak jenis. Namun, jenis yang paling
umum meliputi:
Asma olahraga
Asma nokturnal (kambuh hanya di malam hari)
Asma karena pekerjaan tertentu
Asma batuk
Asma alergi
Seberapa umumkah kondisi ini?
Penyakit pernapasan ini lebih sering menyerang anak-anak. Namun, orang dewasa yang
berusia di bawah 40 tahun juga bisa mengalaminya.
Asma adalah salah satu penyakit tidak menular paling umum di seluruh dunia, dengan tingkat
kematian yang relatif rendah. Namun, kebanyakan kasus kematiannya ditemukan di negara
berpenghasilan rendah dan menengah ke bawah, termasuk Indonesia.
Anda bisa mencegah terkena penyakit asma dengan menghindari hal-hal yang memicu asma.
Silakan berkonsultasi ke dokter untuk informasi lebih lanjut.
Tanda-tanda & gejala
Apa saja ciri dan gejala asma?
Setiap pengidap asma mungkin merasakan gejala yang berbeda dengan intensitas nyeri yang
berbeda pula. Bahkan, pemicu dan waktu kekambuhan gejala juga dapat berbeda-beda. Anda
mungkin dapat mengalami serangan secara berkala setiap hari, hanya di malam hari, atau
hanya setelah beraktivitas.
Secara umum, berikut beberapa tanda dan gejala asma paling khas yang perlu Anda
waspadai.
1. Batuk
Batuk dapat berupa batuk kering maupun berdahak (berlendir). Umumnya batuk cenderung
akan semakin parah pada malam hari dan membuat Anda sulit tidur.
2. Mengi
Mengi adalah suara berbunyi lirih seperti “ngik-ngik” yang terdengar setiap kali Anda
bernapas. Bunyi ini terjadi karena udara dipaksa keluar melalui saluran pernapasan yang
tersumbat.
3. Dada sesak
Saluran udara yang tengah meradang dan tersumbat menyebabkan dada terasa sesak atau
sakit. Dada Anda mungkin terasa seperti ditekan atau ditindih dengan benda yang sangat
berat.
4. Sesak napas
Saluran udara yang meradang dan tersumbat akan membuat sulit bernapas. Sulit bernapas
lega kemudian dapat menyebabkan perasaan gelisah, yang mungkin makin memperburuk
gejala ini.
5. Gejala lain
Selain yang sudah disebutkan di atas, orang dengan kondisi ini juga bisa memunculkan
gejala, seperti:
Badan lemas, lesu, dan tidak bertenaga
Suara sengau
Menghela napas terus-terusan
Rasa gelisah yang tidak biasa
Bila Anda mencurigai satu atau beberapa gejala yang sudah disebutkan, jangan ragu segera
periksa ke dokter.
Penyebab
Apa penyebab asma?
Penyebab pasti dari penyakit ini belum diketahui. Namun, saluran pernapasan dapat
meradang dan menyempit ketika terpapar dengan faktor
prinsipnya begini; ketika saluran udara bersentuhan dengan faktor pemicu, maka saluran
tersebut akan meradang, menyempit, dan dipenuhi lendir.
Berikut berbagai pemicu asma yang paling umum:
1. Alergi
Alergi dan asma saling berkaitan satu sama lain. Sekitar 80 persen orang dengan kondisi ini
mengalami alergi seperti alergi debu, bulu binatang, kecoa, hingga serbuk sari. Dalam kasus
yang kurang umum, alergi makanan juga bisa jadi penyebab seseorang mengalami gejala dari
penyakit pernapasan kronis ini.
2. Batuk
Batuk terus-terusan karena flu, rhintis kronis, sinusitis atau bronkitis sering kali berujung
pada serangan asma. Oleh karena itu, bila Anda mengalami batuk berkepanjangan, ada
baiknya segera periksa ke dokter spesialis paru-paru.
3. Olahraga terlalu berat
Aktivitas berat, termasuk olahraga, dapat memicu serangan asma bagi beberapa orang.
Biasanya kondisi ini lebih mudah dialami oleh orang yang memang sebelumnya sudah punya
riwayat penyakit ini. Meski begitu, tak menutup kemungkinan kalau orang yang tidak punya
riwayat penyakit ini (termasuk atlet) justru mengalaminya hanya ketika mereka olahraga.
4. Paparan iritan
Paparan iritan seperti asap rokok, polusi udara, bahan kimia, atau debu di tempat kerja dapat
membuat saluran pernapasan Anda lebih reaktif terhadap zat di udara. Akibatnya, Anda akan
lebih mudah untuk mengalami penyakit peradangan saluran napas.
5. Obat-obatan tertentu
Sejumlah obat-obatan seperti obat NSAID hingga obat penyakit jantung beta blocker dapat
memicu serangan asma. Bahkan tak jarang, efek samping obat-obatan tersebut dapat
berakibat fatal bagi orang dengan kondisi ini.
6. GERD
Data menyebutkan bahwa orang dengan penyakit penyakit ini dua kali lebih rentan terkena
GERD ketimbang mereka yang sehat. Mayo Clinic, mengungkapkan GERD dapat membuat
gejala asma memburuk dan asma dapat memperburuk gejala GERD.
7. Malam hari
Meningkatnya suhu udara, paparan alergen, posisi tidur berbaring, hingga produksi hormon
tertentu pada malam hari dapat memicu serangan asma. Bahkan, penelitian menunjukkan
bahwa kasus kematian akibat penyakit ini paling banyak terjadi di malam hari.
8. Penyebab lainnya
Bau-bauan yang kuat, udara dingin, serta stres psikologis ternyata juga dapat menjadi
penyebab asma. Bahkan, berteriak dan tertawa terlalu keras pun dapat memicu hal serupa.
Faktor risiko
Siapa yang berisiko terkena asma?
Penyakit pernapasan ini dapat mempengaruhi semua orang dari segala usia. Namun menurut
WHO, asma adalah penyakit pernapasan kronis yang paling umum menyerang anak-anak.
Penyakit ini paling sering dimulai pada masa kanak-kanak karena:
Anak lahir prematur.
Anak lahir dengan berat badan rendah.
Mengalami alergi tertentu, misalnya alergi makanan atau eksim.
Mengalami infeksi pernapasan atas, seperti pneumonia, bronkitis, dan lain
sebagainya.
Genetik. Risiko anak akan lebih tinggi jika orangtuanya memiliki riwayat penyakit
asma.
Anak laki-laki dan wanita dewasa adalah dua kelompok usia yang paling berisiko mengalami
penyakit pernapasan ini. Sayangnya, sampai saat ini tidak diketahui pasti bagaimana jenis
kelamin dan hormon seks memainkan peran sebagai faktor risiko penyakit asma.
Diagnosis
Bagaimana cara dokter mendiagnosis asma?
Penyakit pernapasan ini hanya bisa didiagnosis oleh dokter. Dokter akan menanyakan riwayat
kesehatan Anda (termasuk jenis dan frekuensi gejala), riwayat medis keluarga, serta
menjalani pemeriksaan fisik dan tes fungsi paru-paru.
Beri tahu dokter bila keluarga terdekat Anda, seperti orangtua, saudara kandung, serta kakek
dan nenek ada yang mengalami kondisi ini. Beri tahu dokter juga soal gejala yang Anda
keluhkan selama ini. Mulai dari kapan dan seberapa sering Anda mengalaminya.
Selama pemeriksaan fisik, dokter akan mendengarkan pernapasan Anda dan mencari tanda-
tanda penyakit pernapasan atau alergi.
Dokter kemudian akan menggunakan tes yang disebut spirometri untuk memeriksa cara kerja
paru-paru Anda. Tes ini mengukur seberapa cepat dan banyak udara yang dapat Anda hirup
serta embuskan.
Bila diperlukan, dokter juga dapat melakukan sejumlah tes lain, seperti:
Tes alergi untuk mengetahui alergen yang mempengaruhi Anda, jika ada.
Tes bronkus untuk mengukur sensitivitas saluran pernapasan Anda.
Tes untuk menunjukkan apakah Anda memiliki kondisi lain dengan gejala yang sama
seperti asma (misalnya refluks asam lambung, kelainan pita suara, atau sleep apnea)
Rontgen dada atau EKG (electrocardiogram). Tes ini akan membantu mengetahui
apakah benda asing atau penyakit lainnya menyebabkan gejala Anda.
Obat & Pengobatan
Apa saja pengobatan untuk asma?
Asma adalah penyakit yang tak bisa disembuhkan, tapi bisa dikontrol.
Pengobatan dapat membantu meringankan gejala dan mencegah kekambuhan serangan
asma di kemudian hari.
Pengobatan penyakit ini ada dua jenis, yaitu obat kontrol jangka panjang dan jangka pendek.
Obat kontrol jangka panjang
Kebanyakan pengidapnya harus minum obat kontrol jangka panjang setiap hari untuk
membantu mencegah kekambuhan gejala. Obat kontrol jangka panjang memiliki beberapa
jenis, yang meliputi:
Leukotriene modifiers; montelukast, zafirlukast, dan zileuton. Obat ini efektif untuk
meringankan gejala hingga 24 jam. Sayangnya, obat ini dapat menyebabkan reaksi
psikologis, seperti rasa gelisah berlebih, halusinasi, hingga depresi. Maka dari itu, pastikan
Anda segera periksa ke dokter bila mengalami gejala yang tidak biasa.
Kortikosteroid hirup; budesonide, fluticasone, ciclesonide, beclomethasone,
fluticasone furoate, flunisolide, fluticasone furoate, dan mometasone. Anda mungkin perlu
menggunakan obat-obatan jenis ini selama beberapa hari hingga minggu untuk mencapai
hasil yang optimal. Efek samping obat ini relatif rendah meski digunakan untuk jangka
panjang.
Long-acting beta agonists; formoterol dan salmeterol. Biasanya obat ini
dikombinasikan dengan kortikosteroid hirup. Penelitian menunjukkan bahwa penggunaan
obat ini secara tunggal dapat meningkatkan risiko serangan asma yang parah. Jadi, gunakan
obat ini sesuai anjuran yang diberikan dokter.
Obat kombinasi; obat kortikosteroid hirup dengan long-acting beta agonists.
Misalnya, fluticasone-salmeterol, budesonide-formoterol, dan formoterol-mometasone.
Theophylline; seperti Theo-24 dan Elixophyllin. Obat ini biasanya digunakan setiap
hari untuk membantu melemaskan otot-otot di sekitar saluran udara. Dengan begitu, Anda
dapat bernapas lebih lega.
Obat kontrol jangka pendek
Semua orang yang mengalami kondisi ini memerlukan obat kontrol jangka pendek. Fungsi
obat ini adalah membantu meringankan gejala asma yang baru muncul dan kambuh sewaktu-
waktu. Namun, obat ini tidak boleh diminum lebih dari 2 minggu.
Berikut beragam jenis obat kontrol jangka pendek yang paling umum:
Short-acting beta agonists; albuterol, levalbuterol, pirbuterol, dan bitolterol. Obat ini
bertindak sebagai bronkodilator yang bekerja cepat untuk meredakan gejala ketika serangan
kambuh. Obat jenis ini dapat digunakan lewat inhaler genggang atau nebulizer.
Ipratropium. Obat ini bekerja seperti bronkodilator yang secara cepat akan
melemaskan saluran udara Anda ketika serangan kambuh. Alhasil, Anda dapat bernapas lebih
mudah. Selain untuk penyakit pernapasan kronis, obat ini juga dapat digunakan untuk
mengobati penyakit emfisema dan bronkitis akut.
Kortikosteroid oral atau suntik; predisone dan methylpredisolone. Obat-obatan ini
dapat meredakan peradangan di saluran napas yang memicu gejala. Obat ini dapat
menyebabkan efek samping yang serius bila digunakan dalam jangka panjang. Oleh karena
itu, pastikan Anda hanya menggunakan obat ini sesuai yang diresepkan dokter.
Jika Anda menggunakan obat-obatan ini lebih dari 2 minggu, segera laporan ke dokter.
Dokter dapat membuat perubahan rencana aksi yang disesuaikan dengan kondisi Anda.
Komplikasi
Apa saja komplikasi yang mungkin terjadi akibat asma?
Asma yang tidak dikendalikan dengan baik dapat memengaruhi kesehatan Anda secara
keseluruhan. Bahkan, penyakit ini dapat berdampak langsung pada fungsi tubuh Anda. Begitu
pula jika pengobatannya tidak tepat.
Berikut beberapa komplikasi yang bisa terjadi akibat asma:
Pneumonia (infeksi paru-paru)
Rusaknya paru-paru sebagian atau keseluruhan
Kegagalan pernapasan, di mana kadar oksigen dalam darah menjadi sangat rendah,
atau kadar karbon dioksida menjadi sangat tinggi
Status asmatikus (serangan asma berat yang tidak merespon pengobatan)
Berbagai komplikasi ini membutuhkan bantuan medis darurat karena dapat berisiko fatal.
Pencegahan
Bagaimana cara mencegah kekambuhan serangan asma?
Meski tak bisa disembuhkan, serangan asma dapat Anda cegah supaya tidak kambuh. Berikut
beberapa hal yang bisa Anda lakukan untuk mencegah kekambuhan gejala penyakit ini.
1. Buat rencana aksi asma
Setiap pasien dengan kondisi ini dianjurkan untuk menentukan rencana perawatan asma
bersama dokter dan tim kesehatan lainnya. Dokter akan membantu dalam menentukan jenis
obat dan perawatan yang sesuai dengan kondisi Anda. Pastikan Anda mengikuti rancangan
perawatan tersebut supaya kekambuhan gejala dapat dicegah.
2. Menghindari faktor pemicunya
Seseorang akan mengalami serangan gejala bila terpapar pemicunya. Maka dari itu, kenali
hal-hal ap saja yang dapat memicu kekambuhan gejala Anda. Beberapa faktor pemicu yang
paling umum adalah paparan zat iritan dari asap rokok, polusi udara, bahan kimia dalam
produk rumah tangga hingga bulu binatang dan serbuk sari.
3. Rutin cek fungsi paru-paru
Rutin mengecek fungsi paru-paru dengan peak flow meter juga bisa jadi cara mencegah
kekambuhan serangan. Peak flow meter membantu mengukur jumlah aliran udara dalam
napas penderita sehingga akan memudahkan penanganan sebelum gejalanya memburuk. Di
sisi lain ini alat ini pun dapat membantu mengenali pemicu atau penyebab asma, sehingga
penderita dapat menghindarinya.
4. Minum obat sesuai yang dianjurkan dokter
Ketika gejala asma muncul, segera minum obat yang dianjurkan dokter dan hentikan aktivitas
yang memicu kekambuhan gejala. Bila gejala yang Anda alami tidak juga membaik, jangan
ragu untuk segera periksa ke dokter.
Jangan menghentikan pengobatan tanpa sepengetahuan dokter meski Anda merasa sudah
lebih baik.
Pastikan Anda juga selalu membawa obat-obatan asma ke mana pun Anda pergi, dan setiap
kali akan berkonsultasi ke dokter. Hal ini akan memudahkan dokter untuk melihat efek
pengobatan yang sedang Anda jalani.
6. Vaksin flu
Gejala dapat kambuh dipicu oleh batuk berkepanjangan akibat flu. Maka itu, tidak ada
salahnya untuk melakukan vaksin flu. Namun pastikan Anda berkonsultasi terlebih dulu
dengan dokter.