PENDAHULUAN
Dalam fisika, radiasi mendeskripsikan setiap proses di mana energi bergerak
melalui media atau melalui ruang, dan akhirnya diserap oleh benda lain. Orang awam
sering menghubungkan kata radiasi ionisasi (misalnya, sebagaimana terjadi pada senjata
nuklir, reaktor nuklir, dan zat radioaktif), tetapi juga dapat merujuk kepada radiasi
elektromagnetik (yaitu, gelombang radio, cahaya inframerah, cahaya tampak, sinar ultra
violet, dan X-ray), radiasi akustik, atau untuk proses lain yang lebih jelas. Apa yang
membuat radiasi adalah bahwa energi memancarkan (yaitu, bergerak ke luar dalam garis
lurus ke segala arah) dari suatu sumber. geometri ini secara alami mengarah pada sistem
pengukuran dan unit fisik yang sama berlaku untuk semua jenis radiasi. Setiap aktivitas
yang kita lakukan atau suatu alat yang kita gunakan membutuhkan energy. Energy yang
ditimbulkan dari sebuah alat mengandung unsur-unsur radiasi. Beberapa radiasi dapat
berbahaya.
Perkembangan rumah sakit sebagai fasilitas pelayanan kesehatan rujukan di
Indonesia sangat pesat, baik dari jumlah maupun peman-faatan teknologi kedokteran.
Rumah sakit se-bagai fasilitas pelayanan kesehatan tetap harus mengupayakan
Keselamatan dan Kesehatan Ker-ja (K3) bagi seluruh pekerja rumah sakit (Kemen-kes,
2010; Ristiono dan Nizwardi, 2010).Upaya Kesehatan dan Keselamatan Kerja harus
diselenggarakan untuk mewujudkan pro-duktivitas kerja yang optimal di semua tempat
kerja, khususnya tempat yang mempunyai risiko bahaya kesehatan, mudah terjangkit
penyakit. Se-jalan dengan itu, maka rumah sakit termasuk ke dalam kriteria tempat kerja
dengan berbagai po-tensi bahaya yang dapat menimbulkan dampak kesehatan seperti
potensi bahaya radiasi (Kemen-kes, 2010). Salah satu pelayanan medik spesialis pe-
nunjang di rumah sakit ialah radiologi yang menggunakan pesawat sinar X. Pemanfaatan
pe-sawat sinar X radiologi diagnostik di Indonesia terus berkembang. Radiologi ini
memanfaatkan sinar X untuk keperluan diagnosis baik radiologi diagnostik maupun
radiologi intervensional (Per-ka BAPETEN Nomor 8, 2011). Kegiatan radiolo-gi harus
memperhatikan aspek keselamatan kerja radiasi. Sinar X merupakan jenis radiasi pengion
yang dapat memberikan manfaat (diagnosa) den-gan radiasi suatu penyakit atau kelainan
organ tubuh dapat lebih awal dan lebih teliti dideteksi (Suyatno, 2008). Untuk memastikan
pesawat sinar X memenuhi persyaratan keselamatan ra-diasi dan memberikan informasi
diagnosis maka diperlukan uji fungsi atau uji kesesuaian seba-gai bentuk penerapan
proteksi radiasi agar dosis yang diterima serendah mungkin. Kesesuaian ini kesesuaian
terhadap peraturan perundangan ke-selamatan radiasi dan peraturan pelaksanaannya untuk
peralatan pesawat sinar X (Hastuti, dkk, 2009).
Pasal 16 Undang-undang Nomor 10 Tahun 1997 tentang Ketenaganukliran
menyebutkan bahwa setiap kegiatan yang berkaitan dengan pemanfaatan tenaga nuklir
wajib memperhatikan keselamatan, keamanan, ketentraman, kesehatan pekerja dan anggota
masyarakat, serta perlindungan terhadap lingkungan hidup.(2) Sebagai salah satu bentuk
perlindungan lain terhadap Keselamatan dan Kesehatan Kerja (K3) bidang radiasi, Badan
Pengawas Tenaga Nuklir (BAPETEN) mengeluarkan peraturan yang menyatakan bahwa
Nilai Batas Dosis (NBD) pekerja radiasi rata-rata sebesar 20 mSv pertahun.(3)Peraturan
tersebut diberlakukan guna menghindari adanya pekerja yang menerima dosis radiasi
berlebih sehingga berisiko terkena efek paparan radiasi yang membahayakan kesehatan
tubuh.
Salah satu pelayanan medik spesialis pe-nunjang di rumah sakit ialah radiologi
yang menggunakan pesawat sinar X. Pemanfaatan pe-sawat sinar X radiologi diagnostik di
Indonesia terus berkembang. Radiologi ini memanfaatkan sinar X untuk keperluan
diagnosis baik radiologi diagnostik maupun radiologi intervensional (Per-ka BAPETEN
Nomor 8, 2011). Kegiatan radiolo-gi harus memperhatikan aspek keselamatan kerja
radiasi. Sinar X merupakan jenis radiasi pengion yang dapat memberikan manfaat
(diagnosa) den-gan radiasi suatu penyakit atau kelainan organ tubuh dapat lebih awal dan
lebih teliti dideteksi (Suyatno, 2008).
Dian Angraeni Widiastuti-18/435670/PKU/17674-10 Januari 2020
TINJAUAN PUSTAKA
Perkembangan rumah sakit sebagai fasilitas pelayanan kesehatan rujukan di
Indonesia sangat pesat, baik dari jumlah maupun pemanfaatan teknologi kedokteran.
Rumah sakit sebagai fasilitas pelayanan kesehatan tetap harus mengupayakan
Keselamatan dan Kesehatan Kerja (K3) bagi seluruh pekerja rumah sakit (Kemenkes,
2010; Ristiono dan Nizwardi, 2010). Upaya Kesehatan dan Keselamatan Kerja harus
diselenggarakan untuk mewujudkan produktivitas kerja yang optimal di semua tempat
kerja, khususnya tempat yang mempunyai risiko bahaya kesehatan, mudah terjangkit
penyakit. Sejalan dengan itu, maka rumah sakit termasuk ke dalam kriteria tempat
kerja dengan berbagai potensi bahaya yang dapat menimbulkan dampak kesehatan
seperti potensi bahaya radiasi (Kemenkes, 2010). Salah satu pelayanan medik spesialis
penunjang di rumah sakit ialah radiologi yang menggunakan pesawat sinar X.
Pemanfaatan pesawat sinar X radiologi diagnostik di Indonesia terus berkembang.
Radiologi ini memanfaatkan sinar X untuk keperluan diagnosis baik radiologi
diagnostik maupun radiologi intervensional (Perka BAPETEN Nomor 8, 2011).
Kegiatan radiologi harus memperhatikan aspek keselamatan kerja radiasi. Sinar X
merupakan jenis radiasi pengion yang dapat memberikan manfaat (diagnosa) dengan
radiasi suatu penyakit atau kelainan organ tubuh dapat lebih awal dan lebih teliti
dideteksi (Suyatno, 2008). Untuk memastikan pesawat sinar X memenuhi persyaratan
keselamatan radiasi dan memberikan informasi diagnosis maka diperlukan uji fungsi
atau uji kesesuaian sebagai bentuk penerapan proteksi radiasi agar dosis yang diterima
serendah mungkin. Kesesuaian ini kesesuaian terhadap peraturan perundangan
keselamatan radiasi dan peraturan pelaksanaannya untuk peralatan pesawat sinar X
(Hastuti, dkk, 2009). Pada era maju sekarang ini, umumnya layanan radiologi telah
dikelompokkan menjadi 2 (dua) prosedur, yaitu radiologi diagnostik dan
intervensional. Radiologi diagnostik adalah cabang ilmu radiologi yang berhubungan
Dian Angraeni Widiastuti-18/435670/PKU/17674-10 Januari 2020
dengan penggunaan pesawat sinar-X untuk prosedur diagnosis, sedangkan radiologi
intervensional adalah cabang ilmu radiologi yang berhubungan dengan penggunaan
pesawat sinar-X untuk memandu prosedur perkutaneus seperti pelaksanaan biopsi,
pengeluaran cairan, pemasukan kateter, atau pelebaran terhadap saluran atau pembuluh
darah yang menyempit (Togap, 2006).
Radiodiagnostik merupakan salah satu cabang ilmu yang dikembangkan setelah
ditemukannya sinar-X oleh Wilhem Conrad Rontgen pada tahun 1895. Pemanfaatan
sinar-X di radiodiagnostik adalah sebagai penegak diagnosa suatu kelainan atau
penyakit. Dan sejak itu radiodiagnostik menjadi salah satu pemeriksaan dalam dunia
kedokteran (Tris, 2011).
Radiasi elektromagnetik dalam bidang medik adalah radiasi yang dikeluarkan
peralatan seperti pesawat sinar-X, sinar gamma, gelombang micro, inframerah,
ultraviolet, maupun pesawat ultrasonografi (Taspirin, 2009).
Radiasi di Instalasi radiodiagnostik rumah sakit digunakan untuk sumber
pelayanan kepada pasien yang membutuhkan radiasi untuk membantu menegakkan
diagnose penyakit, komponen lainnya yaitu pekerja radiasi, masyarakat umum yang
terdiri dari keluarga pasien dan tenaga medis lainnya (Taspirin, 2009).
Risiko bahaya yang mungkin terjadi pada pekerja radiasi yaitu efek deterministik
dan efek stokastik. Pengaruh sinar X dapat menyebab-kan kerusakan haemopoetik
(kelainan darah) seperti: anemia, leukimia, dan leukopeni yaitu menurunnya jumlah
leukosit (dibawah normal atau <6.000 m3). Pada manusia dewasa, leuko-sit dapat
dijumpai sekitar 7.000 sel per mikroliter darah (Mayerni dkk, 2013). Selain itu, efek
de-terminisitik yang dapat ditimbulkan pada organ reproduksi atau gonad adalah
strerilitas atau ke-mandulan serta menyebabkan menopause dini sebagai akibat dari
gangguan hormonal sistem reproduksi (Dwipayana, 2015).
Namun demikian, pada tahun 2013 dari 42.450 pekerja radiasi yang melakukan
anali-sis masih terdapat pekerja radiasi yang menda-patkan dosis melebihi NBD (Nilai
Batas Dosis) sebanyak 17 pekerja. Hal ini dapat dibuktikan dengan adanya nilai dosis
tertinggi sebesar 21,85 mSv pada pekerja radiasi. Sedangkan pada tahun 2011 dari
42.430 pekerja radiasi yang melakukan analisis dan 2012 dari 31.940 pekerja radiasi
yang melakukan analisis terdapat pekerja radiasi yang mendapatkan dosis melebihi
Dian Angraeni Widiastuti-18/435670/PKU/17674-10 Januari 2020
NBD masing-ma-sing sebanyak 34 dan 25 pekerja dengan nilai do-sis tertinggi
masing-masing 25,03 mSv dan 23,64 mSv. Kejadian tersebut disebabkan karena terda-
pat pelanggaran dan kelalaian terhadap prosedur keselamatan kerja yaitu pekerja tidak
memakai TLD (Thermoluminisence Dosemeter) saat bekerja di medan radiasi dan
menempatkan TLD dekat dengan sumber radiasi (BAPETEN, 2011).
PEMBAHASAN
Peralatan Yang Digunakan
Radiologi konvensional merupakan suatu pemeriksaan sederhana menggunakan
sinar-x dengan berbagai posisi pemeriksaan. Dapat dilakukan dengan menggunakan
kontras atau tanpa kontras. Keunggulan: Mudah, cepat, dan biaya relatif lebih murah.
Penyulit: Terkadang gambaran yang dihasilkan tidak terlalu jelas, karena superposisi
(tumpang-tindih) dengan organ lain. Untuk beberapa jenis pemeriksaan, harus dilakukan
dengan mengubah posisi pasien, agar diperoleh gambaran yang jelas. Pemakaian klinis:
Pemeriksaan tanpa kontras, dapat dilakukan pada jantung dan paru, serta tulang – tulang
pada seluruh bagian tubuh. Pemeriksaan dengan kontras, lebih lanjut dapat digunakan
untuk memeriksa saluran cerna, saluran kemih, organ kandungan, saluran kelenjar liur,
pembuluh darah, saluran getah bening, dan sumsum tulang belakang.
Dian Angraeni Widiastuti-18/435670/PKU/17674-10 Januari 2020
Gambar 1. Pesawat X-Ray Konvensional
Gambar 2. Cara kerja X-Ray
Dian Angraeni Widiastuti-18/435670/PKU/17674-10 Januari 2020
ATURAN YANG BERLAKU
Pesawat sinar-X untuk pemeriksaan umum secara rutin harus mempunyai spesifikasi:
a. daya generator paling rendah 5 kW (lima kilowatt);
b. kuat arus tabung paling rendah 50 mA (lima puluh miliamper); dan
c. tegangan tabung dapat dioperasikan hingga 100 kV (seratus kilovolt).
Spesifikasi kuat arus tabung tidak berlaku untuk jenis pesawat sinar-X:
a. Radiologi Kedokteran Gigi;
b. Mamografi;
c. Fluoroskopi; dan
d. Pengukur Densitas Tulang.
Spesifikasi tegangan tabung tidak berlaku untuk jenis pesawat sinar -X:
a. Radiologi Kedokteran Gigi;
b. Mamografi; dan
c. Pengukur Densitas Tulang
ALAT PELINDUNG DIRI DAN PENCEGAHANNYA
Menurut Taspirin (2009), pengendalian adalah hal yang paling mendasar dari
proteksi radiasi. Ada tiga prinsip dalam proteksi radiasi yaitu pengendalian waktu,
jarak dan shielding.
a. Waktu
Pengaturan waktu adalah metoda penting untuk mengurangi penerima dosis radiasi.
Waktu yang digunakan untuk melakukan pemeriksaan dengan menggunakan radiasi
diusahakan secepat mungkin.
b. Jarak
Dalam pengendalian jarak, berlaku hukum kuadrat terbalik yaitu semakin besar
jarak dari sumber maka dosis radiasi ditempat tersebut jauh semakin kecil.
Dian Angraeni Widiastuti-18/435670/PKU/17674-10 Januari 2020
Pengendalian radiasi hambur dari ruang pemeriksaan rontgen dapat dilakukan dengan
menjaga jarak minimal 3 meter dari tabung sinar X.
c. Shielding
Ruang radiologi dan kedokteran nuklir harus mempunyai dinding dari beton yang
lebih tebal atau adanya timbal pelapis sehingga dapat menyerap semua energi radiasi
yang melaluinya. Pada jendela perlu disisipkan kaca timbal sehingga petugas dapat
mengawasi pasien selama pemeriksaan dengan aman.
Menurut dr. Mardiatmo, 2008 dalam Prosedur Tetap mengenai Penggunaan Alat
Proteksi Radiasi (Lampiran 5), antara lain:
a. Setiap pekerja radiasi harus berlindung di belakang tabir proteksi (tembok beton
atau Pb (timah hitam).
b. Menggunakan tabir Pb (timah hitam) yang dilengkapi dengan kaca Pb (timah
hitam).
c. Setiap pekerja radiasi memakai apron.
d. Penggunaan radiasi seefektif mungkin sehingga mengurangi radiasi hambur.
e. Mencegah pengulangan foto.
f. Mengatur jarak antara petugas radiasi dengan sumber radiasi.
Upaya-upaya proteksi yang dilakukan oleh Instalasi Radiodiagnostik adalah
sebagai berikut:
a. Pemeriksaan
Sesuai peraturan yang berlaku, maka pekerja radiasi harus diperiksa kesehatannya
sebelum mulai bekerja, selama bekerja minimal setahun sekali, dan saat berhenti
sebagai pekerja radiasi.
Mengingat adanya kemungkinan pindahnya seorang pekerja radiasi ke instalasi lain,
maka diperlukan suatu koordinasi pemeriksaan kesehatan pekerja radiasi bagi
instalasi-instalasi yang menggunakan radiasi, sehingga data kesehatan sebelumnya bisa
dipindahkan dengan cara yang mudah di tempat kerja yang baru. Data kesehatan
Dian Angraeni Widiastuti-18/435670/PKU/17674-10 Januari 2020
tersebut sangat penting untuk memantau kesehatan pekerja radiasi, masalah ansuransi
maupun untuk menunjang penanganan medik pada kasus kecelakaan radiasi
(Bambang, 2007).
b. Pemeriksaan kesehatan berkala selama bekerja
Pemeriksaan ini dilakukan secara rutin untuk menentukan keadaan kesehatan
pekerja dalam menjalankan tugasnya. Pemeriksaan ini dilakukan sekurang-kurangnya
satu tahun sekali atau lebih tergantung pada kondisi penyinaran yang diterima oleh
pekerja (Dartini, 2007).
Pemeriksaan kesehatan selama masa kerja dilakukan secara berkala minimal sekali
dalam setahun. Pemaparan terhadap radiasi dan peristiwa kontaminasi dengan zat
radioaktif dapat saja terjadi tanpa diketahui oleh si pekerja radiasi, karena itu
diperlukan usaha untuk mendeteksi akibat yang ditimbulkannya. Di pihak lain,
perubahan kondisi kesehatan pekerja radiasi dapat nampak seolah-olah sebagai akibat
radiasi pengion namun pada kenyataannya ditimbulkan oleh penyebab lain. Frekuensi
uji berkala seharusnya minimal sekali dalam setahun, bergantung pada umur dan
kesehatan pekerja, sifat tugas, dan tingkat pajanan terhadap radiasi (Tetriana dan
Evalisa, 2007).
Berdasarkan Peraturan Menteri Kesehatan Republik Indonesia No.
172/MENKES/PER/III/1991, maka pemeriksaan kesehatan pekerja radiasi terdiri dari:
a) Pemeriksaan jasmani (fisik)
b) Pemeriksaan laboratorium
c) Pemeriksaan lain yang dianggap perlu
d) Proteksi Paparan Radiasi
Mengenai asas-asas proteksi radiasi yang terdiri dari asas justifikasi (justification
of practices), limitasi (dose limitation), dan optimisasi (optimization of protection and
safety) untuk setiap kegiatan yang mengakibatkan penerimaan dosis radiasi pada
seseorang berdasarkan rekomendasi ICRP. Keempat asas yang telah dikenal secara
luas tersebut khususnya di lingkungan penguasa instalasi dan pengguna adalah sebagai
berikut :
Dian Angraeni Widiastuti-18/435670/PKU/17674-10 Januari 2020
Asas justifikasi, yaitu setiap kegiatan yang memanfaatkan radioaktif atau
sumber radiasi lainnya hanya boleh dilakukan apabila menghasilkan keuntungan yang
lebih besar kepada seseorang yang terkena penyinaran radiasi atau bagi masyarakat,
dibandingkan dengan kerugian yang mungkin diakibatkan, dengan memperhatikan
faktor-faktor sosial, ekonomi, dan faktor lainnya yang sesuai. Dalam melakukan
pengkajian perlu diperhitungkan pula estimasi kerugian yang berasal dari penyinaran
yang tidak dapat diramalkan sebelumnya.
Asas limitasi, yaitu penerimaan dosis oleh seseorang tidak boleh melampaui
nilai batas dosis yang ditetapkan Badan Pengawas (BP). Yang dimaksud nilai batas
dosis disini adalah dosis radiasi
yang diterima dari penyinaran eksterna dan interna selama 1 (satu) tahun dan tidak
bergantung pada laju dosis. Penetapan nilai batas dosis ini tidak memperhitungkan
penerimaan dosis untuk tujuan medik yang berasal dari radiasi alam.
Asas optimisasi, yaitu proteksi dan keselamatan terhadap penyinaran yang
berasal dari sumber radiasi yang dimanfaatkan, harus diusahakan sedemikian rupa
sehingga besarnya dosis yang diterima seseorang dan jumlah orang yang tersinari
sekecil mungkin dengan memperhatikan faktor sosial dan ekonomi. Terhadap dosis
perorangan yang berasal dari sumber radiasi harus diberlakukan pembatasan dosis
yang besarnya harus dibawah nilai batas dosis (Tetriana dan Evalisa, 2007).
Gambar 3. Tempat penyimpanan apron (alat proteksi radiasi)
Dian Angraeni Widiastuti-18/435670/PKU/17674-10 Januari 2020
Sistem harus menyediakan pesan peringatan setiap kali kualitas gambar lebih tinggi
dari yang dibutuhkan dipilih, setiap kali area yang terpapar lebih besar dari optimal, ketika
seorang pasien menyatakan kehamilan, dan juga ketika ada kebutuhan untuk memastikan
kehamilan. Mesin harus, secara default, menyediakan protokol berbasis indikasi dan sistem
pemaparan otomatis untuk semua modalitas dengan tampilan dosis. Perbandingan dosis
dengan tingkat referensi dan mekanisme umpan balik harus ada. Statistik harian kinerja
dosis yang menunjukkan jumlah kasus dan dosisnya relatif terhadap tingkat referensi harus
tersedia secara rutin
Gambar 4. Tabel Dose Range
Peralatan proteksi radiasi antara lain berupa tanda radiasi seperti dan pelindung
paparan (apron). Tanda radiasi berguna untuk memberikan peringatan bahwa pada daerah
tersebut terdapat bahaya radiasi.
Dian Angraeni Widiastuti-18/435670/PKU/17674-10 Januari 2020
Gambar 5. Pilihan tanda radiasi berdasarkan Peraturan Kepala Badan Pengawas Tenaga
Nuklir Nomor 8 Tahun 2011 tentang Keselamatan Radiasi Dalam Penggunaan Pesawat
Sinar X Radiologi Diagnostik dan Intervensional
Gambar 6. Tanda peringatan Radiasi di RSUP Dr. Sardjito
Proteksi Radiasi Bagi Wanita Usia Subur dan Wanita Hamil.
Dian Angraeni Widiastuti-18/435670/PKU/17674-10 Januari 2020
Dalam menetapkan pemeriksaan sinar-X pada wanita hamil, terutama pada
bagian panggul, pertimbangan menyeluruh mengenai akibat paparan terhadap janin harus
dilakukan. Hal ini dikarenakan radiasi pada bagian panggul yang mengenai janin dapat
mempengaruhi perkembangan janin. Paparan radiasi terhadap janin dapat meningkatkan
risiko efek somatik pada dirinya sendiri dan juga meningkatkan risiko efek genetik hingga
ke keturunan yang berikutnya. Oleh karena itu, setiap upaya harus dilakukan untuk
menghindari paparan yang tidak perlu terhadap wanita hamil. Hal ini penting selama tahap
kehamilan dini karena saat tersebut adalah potensi paling besar radiasi merusak dengan
cepat jaringan yang sedang membelah.
Untuk mengurangi resiko akibat paparan radiasi saat pemeriksaan radiologi
diagnostik, proteksi radiasi dapat dilakukan dengan berbagai cara:
a. Memastikan wanita tidak dalam kondisi hamil.
Sebelum pemeriksaan radiologi diagnostik perlu dipastikan pasien tidak dalam
kondisi hamil atau mungkin hamil. Dokter, perawat, radiografer dan staf terkait
harus memastikan hal ini.
b. Pemasangan Tanda Peringatan.
Dalam batang tubuh Peraturan Kepala Badan Pengawas Tenaga Nuklir Nomor 8
Tahun 2011 tentang Keselamatan Radiasi Dalam Penggunaan Pesawat Sinar X
Radiologi Diagnostik dan Intervensional, belum mengatur tentang cara mengurangi
resiko bahaya radiasi terhadap kehamilan. Namun pada bagian lampiran, terdapat
klausul “Poster peringatan bahaya Radiasi harus dipasang di dalam ruangan
pesawat sinar-X, yang memuat tulisan ”WANITA HAMIL ATAU DIDUGA
HAMIL HARUS MEMBERITAHU DOKTER ATAU RADIOGRAFER”
Dalam suatu instalasi untuk penggunaan sumber radiasi, konstruksi gedung yang
digunakan mempunyai fungsi sebagai penahan radiasi, sehingga harus diperhatikan
perencanaan arsitektur instalasi. Persyaratan penahan radiasi bagi ruangan radiologi
tergantung pada jenis peralatan dan energi radiasi yang dipakai. Faktor desain ruang
pemeriksaan [4] adalah: o Ruangan dengan ukuran: 4 m x 3 m x 3 m, dilengkapi dengan
toilet: 2 m x 1,5 m x 3 m. o Dinding penahan radiasi primer, tebal satu bata dengan
plesteran (25 cm) atau beton setebal 15 cm, yang setara dengan tebal Pb 2 mm. o Dinding
Dian Angraeni Widiastuti-18/435670/PKU/17674-10 Januari 2020
penahan radiasi hambur, adalah dinding bata berplester setebal 15 cm dan untuk pintu kayu
kusennya harus dilapisi timah hitam (Pb) setebal 2 mm. o Ruangan juga dilengkapi alat
peringatan bahaya radiasi dan sistem pengaturan udara sesuai dengan kebutuhan.
Dian Angraeni Widiastuti-18/435670/PKU/17674-10 Januari 2020
KESIMPULAN
Di era baru saat ini, perkembangan dunia radiologi sangatlah pesat, dan tingkat
kebutuhan oleh masyarakat juga sangat meningkat guna menunjang kebutuhan diagnostic
dan terapi. Namun perkembangan yang ada juga diiringi oleh bahaya radiasi yang
meningkat pula. Oleh sebab itu kerjasama dan pertimbangan dari segala aspek yang terlibat
perlu dipikirkan mengacu pada prinsip bahwa dosis radiasi harus “As Low As Reasonably
Achievable” (ALARA), demi manfaat dan keamanan yang maksimal, baik bagi pekerja
radiasi maupun pasien [Link] protektif dan proteksi radiasi di Instalasi
Radiodiagnostik RSUP DR SARDJITO dalam hal ini sudah sesuai dengan Kepmenkes
1014/MENKES/SK/XI/2008 yaitu dalam hal shielding, lead apron, gloves, film badge,
surveymeter, apron thyroid. Namun ada yang belum sesuai yaitu goggles dan apron gonad
dikarenakan rusak dan tidak layak pakai. Pengadaan program dalam hal proteksi radiasi
sudah sesuai dengan Peraturan Pemerintah no 63 tahun 2000 tentang Keselamatan dan
Kesehatan terhadap Pemanfaatan Radiasi Pengion pasal 18 tentang Peralatan Proteksi
Radiasi dan Peraturan Pemerintah No. 9 Tahun 1969 tentang Pemakaian isotop radioaktif
radiasi pasal 6
Nilai Batas Dosis (NBD) untuk petugas atau pekerja radiasi di Instalasi
Radiodiagnostik sudah memenuhi standard internasional ICRP No. 60 tahun 1990,
yaitu untuk petugas atau pekerja radiasi adalah 5 mSv per tahun dengan syarat bahwa
dosis rata-rata selama lima tahun berturut- turut tidak melebihi dari 1 mSv dalam satu
tahun dan menurut Bapeten no 01/Ka-Bapeten/V-99 tentang Nilai Batas Dosis serta Peraturan
Pemerintah no 63 tahun 2000 tentang Keselamatan dan Kesehatan terhadap Pemanfaatan
Radiasi Pengion Bab III mengenai Sistem Pembatasan Dosis Pasal 3 sampai dengan Pasal 6.
Dian Angraeni Widiastuti-18/435670/PKU/17674-10 Januari 2020
REFERENSI
1. BAPETEN. 2014. Radiasi Keselamatan. Pesawat Sinar X Radiologi Diagnostik
Intervensional.
2. BAPETEN. 2019. Buku Panduan Pesawat Sinar X Radiologi Diagnostik Intervensional.
3. Health Physics Society. Radiation risk in perspective: position statement of the
Health Physics Society (adopted January 1996). In: Health Physics Society
directory and handbook, 1998–1999. McLean, VA: Health Physics Society,
1998:238.
4. National Council on Radiation Protection and Measurements. Ionizing radiation
exposure of the population of the United States: NCRP report no. 160. Bethesda,
MD: National Council on Radiation Protection and Measurements, 2009.
5. Rudi, Pratiwi dan susilo. 2012. Pengukuran Paparan Radiasi Pesawat Sinar-x di
Instalasi Radiodiagnostik Untuk Proteksi Radiasi. Unnes Physics Journal 1: 20-24.
6. The Alliance for Radiation Safety in Pediatric Imaging. Image gently. Alliance for
Radiation Safety in Pediatric Imaging website. [Link]/
associations/5364/ig/. Published 2011. Accessed October 26, 2012.
7. Toto Trikasjono, Djoko Marjanto , Bety Timorti. 2009. Analisis Keselamatan
Pesawat Sinar-X Di Instalasi Radiologi Rumah Sakit Daerah Sleman Yogyakarta.
STTNBATAN.([Link]
AN%20PESAWAT%20SINARX%20DI%20INSTALASI%20RADIOLOGI%20R
UMAH%20SAKIT%20UMUM%20DAERAH%20SLEMAN%20YOGYAKART
[Link]).
8. United Nations Scientific Committee on the Effects of Atomic Radiation. Sources
and effects of ionizing radiation: UNSCEAR 2008 report to the General Assembly
with scientific annexes, vol. 1. New York, NY: United Nations, 2010
Dian Angraeni Widiastuti-18/435670/PKU/17674-10 Januari 2020
Dian Angraeni Widiastuti-18/435670/PKU/17674-10 Januari 2020