PCOS
S O A P
Pasien berumur Diagnosa DRPS Terapi Non Farmakologi
15,5 tahun, Hiperinsulinemia Ketidak tepatan Olahraga teratur
BMI :32,1 kg/m 2 TD : 135/84 pemilihan obat : Mengubah gaya hidup
LP : 85cm Operdosis :
Menderita obesitas Hasil Lab Subterapeutik Terapi Farmakologi
dan amenorrhea Hormon LH dalam Efek samping • Metformin 500 mg 3
Orang tua serum (meningkat) Interaksi obat kali/hari
memeiliki bobot FSH (normal) Pengobatan tanpa • Dydrogesteron 10 mg 1
normal mengidap Estradiol (normal) indikasi kali/hari
hipertensi, Progesterone (normal) Indikasi tanpa (Oral kontrasepsi)
hiperkolesterolemia Pada tes glukosa terjadi terapi • Gemfibrozil 600 mg 2
, dan gangguan kali/hari
peningkatan glukosa Kegagalan
toleransi glukosa. darah yang abnormal menerima terapi
Ibunya memiliki Propil Lipid
DM gestasional Peningkatan total
pada saat kolesterol, LDL, TG,
mengandung Penurunan kadar HDL
Berat bdan pasien Pelvic Ultrasound
meningkat sejak menunjukan polycystic
umur 8thn, Ovary
Menarche muncul
pada usia 14thn, Obat yang diberikan
namun segera Metformin 500mg/hari
mengalami Hydrogesterone (pada
amenorrhea hari ke 15-24 siklus
menstruasi)
1. DEFINISI
Polycystic Ovary Syndrome / PCOS merupakan kelainan pada metabolisme androgen
dan estrogen dan dalam kontrol produksi androgen. PCOS dapat terjadi karena fungsi
abnormal pada aksis hypothalamic-pituitary-ovarian (HPO) (Medscape, 2018). Polycystic
Ovary Syndrome (PCOS) adalah suatu kumpulan gejala yang dialami oleh perempuan usia
produktif berupa amenorrhea, haid yang tidak teratur, infertil, hirsutisme dan obesitas
(Hadibroto, B R. 2005. Sindroma Ovarium Polikistik. Majalah Kesehatan Nusantara).
2. EPIDEMIOLOGI
PCOS adalah endokrinopati yang paling umum di antara wanita usia reproduksi di
Amerika Serikat, mempengaruhi sekitar 7% pasien wanita. Meskipun etiologinya tidak jelas,
PCOS saat ini diperkirakan muncul dari interaksi kompleks antara sifat genetik dan
lingkungan. Bukti dari satu studi keluarga kembar menunjukkan bahwa ada korelasi yang
kuat antara faktor keluarga dan keberadaan PCOS (AAFP, 2016).
Di Amerika Serikat, Polycystic Ovarian Syndrome (PCOS) adalah salah satu gangguan
endokrin yang paling umum pada wanita usia reproduksi, dengan prevalensi 4-12%. Hingga
10% wanita didiagnosis menderita PCOS selama kunjungan ginekologis. Dalam beberapa
penelitian di Eropa, prevalensi PCOS telah dilaporkan 6,5-8% (Medscape, 2018).
3. ETIOLOGI
Sangat dipengaruhi oleh genetik. Bila dalam satu keluarga terdapat penderita PCOS
maka 50% wanita dalam keluarga tersebut akan menderita PCOS. Tanda awal PCOS umum
nya terlihat seperti pada saat menarche/haid pertama. Remaja dengan periode haid sekitar 45
hari perlu mendapatkan pemeriksaan lanjutan untuk menyingkirkan dugaan PCOS.
Peristiwa diatas pada umum nya reguler setelah 2 tahun pasca menarche. Pada
beberapa penderita , gejala PCOS muncul setelah berat badan meningkat pesat. Gejala dan
keluhan PCOS disebabkan oleh adanya perubahan hormonal. Satu gangguan hormonal
merupakan pemicu bagi hormon lainnya.
Gangguan hormonal antara lain :
a. Hormon Ovarium
Bila kadar hormon pemicu ovulasi tidak normal, maka ovarium tidak akan melepaskan
sel telur setiap bulan. Pada beberapa penderita, dalam ovarium terbentuk kista-kista kecil
yang menghasilkan androgen.
b. Kadar androgen yg tinggi
Kadar androgen yang tinggi pada wanita akan menimbulkan jerawat dan pola
pertumbuhan rambut seperti pria serta terhentinya ovulasi.
c. Kadar insulin dan gula darah yg tinggi
Sekitar 50% penderita PCOS mengalami resistensi insulin. Bila tubuh tidak dapat
menggunakan insulin dengan baik maka kadar gula dalam darah akan meningkat. Bila
keadan ini tidak segera diatasi, maka dapat berkembang menjadi diabetes.
4. PATOFISIOLOGI
5. MANIFESTASI KLINIK
a. Terjadi secara bertahap
b. Awal Perubahan hormonal yang menyebakan PCOS terjadi pada masa remaja setelah
menarche (haid pertama).
c. Gejala bertambah jelas setelah berat badan meningkat pesat.
d. Jarang atau tidak pernah mendapat haid. Setiap tahun rata-rata 9 siklus (siklus haid
lebih dari 35 hari)Beberapa penderita PCOS dapat mengalami haid setiap bulan
namun tidak selalu mengalami ovulasi.
e. Perdarahan haid tidak teratur atau berlebihan. Sekitar 30 % penderita PCOS
memperlihatkan gejala ini.
f. Rambut kepala rontok dan rambut tubuh tumbuh secara berlebihan.
Kerontokan rambut dan pertumbuhan rambut berlebihan di muka, dada, perut
(hirsutisme) disebabkan oleh kadar androgen yang tinggi.
g. Pertumbuhan jerawat. Pertumbuhan jerawat disebabkan pula oleh kadar androgen
yang tinggi.
h. Depresi Perubahan hormon dapat menyebabkan gangguan emosi.
i. Abortus berulang. Abortus berkaitan dengan tingginya kadar insulin, ovulasi yang
terhambat atau masalah kualitas sel telur atau masalah implantasi pada dinding uterus.
j. Infertil. Sulit terjadi kehamilan karena tidak terjadi ovulasi.
k. Hiperinsulinemia dan resistensi insulin yang menyebabkan obesitas tubuh bagian
atas, perubahan kulit di bagian lengan, leher atau pelipatan paha dan daerah genital.
6. DIAGNOSIS
Anamnesa:
1. Pemeriksaan fisik
2. Riwayat medis mengenai keluhan yang di rasakan penderita
3. Pertanyaan mengenai perubahan berat badan, kulit rambut dan siklus haid
4. Riwayat keluarga menderita PCOS atau DM
Pemeriksaan Laboratorium
1. ß HCG untuk menyingkirkan kemungkinan kehamilan
2. Testoteron dan androgen
3. Prolaktin
4. Kolesterol dan trigliserida
5. Fungsi ginjal, hepar dan gula darah
6. TSH
7. Hormon adrenal
8. Pemeriksaan kadar insulin (<25 mIU/L)
9. Pengukuran LH/FSH
Pemeriksaan USG
Pemeriksaan USG pelvis dapat menemukan pembesaran satu atau ke dua
ovarium. Namun perlu di ingat bahwa PCOS tidak selalu terjadi pembesaran ovarium
sehingga diagnosa PCOS dapat diduga tanpa harus melakukan pemeriksaan USG terlebih
dahulu.
7. PENATALAKSANAAN PCOS
Farmakologi (AAFP, 2016)
A. Infertilitas
Firstline : Clomiphene atau letrozle (Femara) 50 mg hari ke 3-7, selama 3
bulan; 100 mg hari ke 3-8, selama 3 bulan
Second line : metformin 500 mg/hari. Meningkat 500 mg/minggu hingga
dicapai haid normal
1. Resistensi insulin
Firstline : metformin
2. Obesitas
Firstline : Modifikasi gaya hidup
3. Hirsutisme
Firstline : elektrolisis dan Terapi cahaya (efektif untuk kasus-kasus
ringan)
4. Jerawat
Fisrtline : Krim topikal (misalnya, antibiotik, benzoylperoxide)
B. Ketidakteraturan menstruasi
Firstline : kontrasepsi hormonal, levonogester
Second line : metformin
1) Resistensi insulin
Firstline : metformin
2) Obesitas
Firstline : Modifikasi gaya hidup
3) Hirsutisme
Firstline : kontrasepsi hormonal dengan atau tanpa terapi antiandrogen
Secondline : spironolakton monoterapi, elektrolisis, terapi lightbased, aflornithine
(Vaniqa), finasteride (Proscar)
Lini ketiga : metformin
4) Jerawat
Fisrtline : kontrasepsi hormonal, Krim topikal (misalnya, antibiotik,
benzoylperoxide, tretinoin (retina), adapalene (Differin)
atau antibiotik krim
Secondline : spironolakton
Keterangan : antiandrogen seperti spironolakton harus diresepkan dengan kontrasepsi
karena merekka dapat menyebabkanpseudohermaphroditism dalam janin laki-laki
Agonis GnRH : dimulainya metformin pada awal perawatan agonis GnRH dengan dosis
antara 1000mg hingga 2550mg setiap hari (International evidence-based guideline for the
assessment and management of polycystic ovary syndrome 2018)
Non-farmakologi
- Gaya hidup
- Olahraga
- Diet
- Biopsi
- Pembedahan
- USG
8. KIE
a. Metformin
- Instruksikan pasien untuk meminum obat dengan makanan
- Tekankan kepada pasien pentingnya minum obat ini tepat seperti yang diresepkan
dan bukan dosis ganda.
- Instruksikan pasien untuk minum obat sesuai resep pada waktu yang sama setiap
hari.
- Instruksikan pasien untuk memberi tahu penyedia layanan kesehatan jika
menggunakan otc atau penggunaan obat resep lainnya.
- Mengevaluasi pengetahuan pasien tentang diabetes mellitus tipe 2 dan hubungannya
dengan terapi metformin.
- Jelaskan perbedaan antara metformin dan obat pengontrol glukosa lainnya.
- Beri tahu pasien tentang pentingnya mengikuti instruksi diet, program olahraga
teratur, dan pengujian rutin glukosa darah, hemoglobin glikosilasi, fungsi ginjal, dan
parameter hematologi.
- Instruksikan pasien dalam teknik pemantauan glukosa yang tepat.
- Beri tahu pasien untuk mewaspadai tanda dan gejala hipoglikemia.
- Beri tahu pasien untuk mewaspadai tanda dan gejala asidosis laktat.
- Jelaskan bahwa rasa logam atau tidak enak kadang-kadang muncul pada awal terapi
namun bersifat sementara.
- Instruksikan pasien untuk segera memberi tahu penyedia layanan kesehatan jika
ketidaknyamanan GI parah. Jika gejala tidak hilang dalam beberapa minggu pertama,
atau jika gejala datang kembali setelah atau mulai nanti selama terapi, pasien harus
memberi tahu penyedia layanan kesehatan sehingga dosisnya dapat disesuaikan.
- Instruksikan pasien untuk tidak menggunakan metformin jika memiliki masalah hati
atau ginjal kronis; minum alkohol secara berlebihan; mengalami dehidrasi parah;
memiliki prosedur diagnostik dengan agen kontras; menjalani operasi; atau
mengembangkan kondisi serius seperti MI, infeksi parah, atau stroke.
- Instruksikan pasien untuk memberi tahu penyedia layanan kesehatan jika memiliki
penyakit yang mengakibatkan muntah parah, diare, atau demam.
- Instruksikan pasien wanita untuk memberi tahu penyedia layanan kesehatan jika
mereka atau berencana untuk hamil, karena metformin tidak boleh dikonsumsi
selama kehamilan.
b. Dydrogesterone
- Beri tahu pasien untuk mengambil bentuk oral dengan makanan jika terjadi gangguan
GI.
- Anjurkan pasien diabetes bahwa toleransi glukosa dapat menurun dan untuk
memantau gula darah atau urin dengan cermat, melaporkan kelainan pada dokter.
- Anjurkan pasien untuk tidak merokok. Tawarkan informasi tentang program berhenti
merokok.
- Instruksikan pasien untuk melaporkan gejala-gejala berikut ke dokter segera: Nyeri
pada betis dengan pembengkakan, kehangatan dan kemerahan atau sakit kepala parah
yang tiba-tiba, gangguan penglihatan atau mati rasa di lengan atau kaki.
- Beri tahu pasien untuk melaporkan gejala-gejala berikut kepada dokter: Depresi,
kenaikan berat badan stabil, edema, penurunan libido, perdarahan terobosan, bercak,
perubahan aliran menstruasi, amenore, perubahan payudara, ikterus atau ruam.
- Perhatian pasien untuk menghindari paparan sinar matahari dan menggunakan tabir
surya atau memakai pakaian pelindung untuk menghindari reaksi fotosensitifitas.
c. Gemfibrozil
- Memberitahukan pasien tentang perlunya membatasi asupan lemak dari makanan;
ajarkan pembatasan diet pasien untuk diikuti.
- Tekankan pentingnya peningkatan faktor risiko jantung berikut ini: merokok,
konsumsi alkohol, kurang olahraga.
- Instruksikan pasien untuk melaporkan gejala-gejala berikut ke penyedia layanan
kesehatan: sakit perut, mual dan muntah persisten, perdarahan, dan detak jantung
tidak teratur.
- Beri tahu pasien bahwa obat dapat menyebabkan pusing atau penglihatan kabur dan
menggunakan hati saat mengemudi atau melakukan tugas lain yang membutuhkan
kewaspadaan mental.
9. Mekanisme kerja
- Metformin
Mekanisme kerja metformin menambah up-take (utilisasi) glukosa diperifer dengan
meningkatkan sensitifitas jaringan terhadap insulin, menekan produksi glukosa oleh
hati, menurunkan oksidasi Fatty Acid dan meningkatkan pemakaian glukosa dalam usu
melalui proses non oksidatif.
- Dydrogesterone
Didrogesteron (dydrogesterone) adalah suatu hormon progetogen. Dydrogesteron
adalah progestogen yang sangat selektif karena strukturnya yang unik, tidak
seperti progesteron dan banyak progestin lainnya, berikatan hampir secara eksklusif
dengan reseptor progesteron.
- Gemfibrozil
Gemfibrozil merupakan derivat asam fibrat generasi pertama turunan klofibrat.
Mekanisme gemfibrozil dalam menurunkan kadar trigliserida yaitu dengan cara
meningkatkan lipolisis lipoprotein trigliserida melalui lipoprotein lipase yang akan
berikatan dengan reseptor alfa peroxisome proliferator–activated reseptor (PPAR-α) pada
hepatosit (Katzung, 2002). Sementara itu, mekanisme gemfibrozil dalam meningkatkan
kadar HDL karena konsekuensi langsung dari penurunan kadar trigliserida dalam plasma.
Hal tersebut, disebabkan pertukaran trigliserida ke dalam HDL yang seharusnya
ditempati oleh ester kolesterol yang akan menyebabkan peningkatan kadar HDL (Walker,
1999).
10. EFEK SAMPING OBAT
a. METFORMIN
EENT: Rasa tidak menyenangkan/rasa logam. GI: Diare; mual; muntah; perut kembung;
perut kembung; anoreksia. METABOLIK: Asidosis laktat. LAINNYA: Penurunan
kadar vitamin B12
Tanda dan gejala overdosis metformin diantaranya: Asidosis laktat: Malaise, mialgia,
gangguan pernapasan, mengantuk, gangguan perut (David S. Tatro. 2003. A to Z Drug
Facts).
b. DYDROGESTERONE
Pusing, mual, sakit kepala, kelelahan, emosi labil, sifat mudah marah, nyeri perut dan
kembung, nyeri otot, ketidakteraturan menstruasi, nyeri payudara dan kenaikan berat
badan.