Evaluasi Masalah Obat pada Gagal Ginjal
Evaluasi Masalah Obat pada Gagal Ginjal
Oleh:
HALAMAN JUDUL
FAKULTAS FARMASI
UNIVERSITAS SETIA BUDI
SURAKARTA
2018
EVALUASI DRUG RELATED PROBLEMS PADA PASIEN GAGAL GINJAL
KRONIK DENGAN HEMODIALISIS DI INSTALASI RAWAT INAP
RSUD Dr. MOEWARDI SURAKARTA PERIODE 2016
SKRIPSI
Diajukan untuk memenuhi salah satu syarat mencapai
Derajat Sarjana Farmasi ([Link])
Program Studi S1- Farmasi pada Fakultas Farmasi
Universitas Setia Budi
oleh:
FAKULTAS FARMASI
UNIVERSITAS SETIA BUDI
SURAKARTA
2018
i
PENGESAHAN SKRIPSI
berjudul
Oleh :
Annora Rizky Amalia
20144101A
Mengetahui,
Fakultas Farmasi
Universitas Setia Budi
Dekan
Pembimbing Pendamping
Penguji :
ii
HALAMAN PERSEMBAHAN
([Link], DEA)
“ Tidak ada jalan mudah menuju kesuksesan. Terkadang kita harus melewati
lembah gelap meyeramkan. Lagi dan lagi sebelum akhirnya kita meraih puncak
kebahagiaan. ”
(Penulis)
iii
HALMAN PERNYATAAN
Saya menyatakan bahwa skripsi ini adalah hasil pekerjaan saya sendiri dan
tidak terdapat karya yang pernah diajukan untuk memperoleh gelar kesarjanaan di
suatu Perguruan Tinggi dan sepanjang pengetahuan saya tidak terdapat karya atau
pendapat yang pernah ditulis atau diterbitkan oleh orang lain, kecuali yang secara
tertulis diacu dalam naskah ini dan disebutkan dalam daftar pustaka.
Apabila skripsi ini merupakan jiplakan dari penelitian/karya ilmiah/skripsi
orang lain, maka saya siap menerima sanksi, baik secara akademis maupun
hukum.
1.
2.
3.
4.
5.
6.
7.
8.
9.
....................
iv
KATA PENGANTAR
Assalamu’alaikum [Link].
Puji Syukur Alkhamdulillah penuis panjatkan kehadirat Allah SWT, atas
segala rahmat dan karunia yang telah diberikan-Nya sehingga penulis dapat
menyelesaikan skripsi ini tepat pada waktunya. Tetesan air mata bahagia dan
bangga tercurah bagi penyelesaian skripsi yang berjudul “EVALUASI DRUG
RELATED PROBLEMS PADA GAGAL GINJAL KRONIK DENGAN
HEMODIALISIS DI INSTALASI RAWAT INAP RSUD DR. MOEWARDI
SURAKARTA PERIODE 2016”. Skripsi ini merupakan salah satu syarat
kelulusan dan untuk mendapatkan gelar kesarjanaan bagi mahasiswa Fakultas
Farmasi Universitas Setia Budi. Pada kesempatan ini penulis menyadari bahwa
sangatlah sulit menyelesaikan skripsi ini tanpa bantuan dan bimbingan dari
berbagai pihak dari masa perkuliahan sampai pada penyusunannya. Oleh karena
itu, tidak lupa penulis mengucapkan rasa terimakasih sebesar-besarnya atas
bantuan, kepada yang terhormat:
1. Dr. Ir. Djoni Taringan, MBA., selaku Rektor Universitas Setia Budi.
2. Prof. Dr. R. A. Oetari, SU., MM., [Link]., Apt. selaku Dekan Fakultas Farmasi
Universitas Setia Budi.
3. Dra. Elina Endang S., [Link]., selaku pembimbing utama yang telah berkenan
membimbing dan telah memberikan petunjuk dan pemecahan masalah dalam
skripsi saya hingga selesai penyusunan skripsi,
4. Ganet Eko Pramukantoro, [Link].,Apt. selaku pembimbing pendamping yang
telah berkenan membimbing dan telah memberikan petunjuk dan pemecahan
masalah dalam skripsi saya hingga selesai penyusunan skripsi.
5. Kepala IFRS dan seluruh karyawan Instalasi Farmasi RSUD Dr. Moewardi
Surakarta yang meluangkan waktu membantu dalam penelitian ini.
6. Kepala IRMRS dan seluruh karyawan Instalasi Rekam Medik RSUD Dr.
Moewardi Surakarta yang meluangkan waktu untuk membantu dalam
penelitian ini.
v
7. Bapak dan ibu Dosen Fakultas Farmasi, serta seluruh Civitas Akademika
Fakultas Farmasi Universitas Setia Budi Surakarta.
8. Seluruh staf perpustakaan Universitas Setia Budi Surakarta, yang bersedia
meminjamkan buku kepada penulis untuk menyusun skripsi ini.
9. Keluarga tercinta bapak, ibu dan adikku tercinta yang telah memberikan
semangat, mendengarkan keluh kesahku dan dorongan materi, moril dan
spiritual kepada penulis selama perkuliahan, penyusunan skripsi hingga
selesai studi S1 Farmasi
10. Teman berjuang skripsiku Rika Arfiana, Serliandi, Sopan, Wahyuddin, Tucha,
Aping yang telah menguatkan di kala penulis terpuruk dan sempat merasa
tidak mampu melakukan apa – apa. Terimakasih telah memberikan semangat
untuk merintis masa depan.
11. Sahabat - sahabatku Tercinta Hadrah, Henny, Nindia, Tari, Fitriani, Putri Ayu,
Afif Muzay, Chusna, Pela, Eliz, Daus, Dzul.
12. Calon imamku yang selalu mendoakanku dari jauh.
13. Teman-temanku tersayang di Universitas maupun daerah terimakasih untuk
dukungan dan semangat dari kalian.
14. Semua pihak yang tidak dapat penulis sebutkan satu per satu yang telah
memberikan bantuan dalam penyususnan skripsi ini.
Skripsi ini masih jauh dari kata sempurna, maka kritik dan saran dari
pembaca sangat berguna untuk perbaiakan penelitian dimasa datang. Semoga
skripsi ini dapat bermanfaat bagi ilmu pengetahuan khususnya bagi pemikiran dan
pengembangan ilmu farmasi.
Wassalamu’alaikum [Link].
vi
DAFTAR ISI
Halaman
HALAMAN JUDUL................................................................................................ i
INTISARI............................................................................................................. xiv
ABSTRACT ...........................................................................................................xv
vii
2. Tugas dan Fungsi Rumah Sakit ...............................................25
3. Profil RSUD Dr. Moewardi Surakarta ....................................26
4. Visi dan Misi RSUD Dr. Moewardi Surakarta........................26
F. Rekam Medis ..................................................................................27
1. Pengertian Rekam Medis.........................................................27
2. Kegunaan Rekam Medis .........................................................27
G. Kerangka Pikir Penelitian ...............................................................28
H. Landasan Teori ...............................................................................28
I. Keterangan Empiris ........................................................................30
viii
2. Dosis terlalu tinggi ..................................................................47
3. Interaksi obat ...........................................................................48
4. Obat tanpa indikasi ..................................................................49
LAMPIRAN ...........................................................................................................57
ix
DAFTAR GAMBAR
Halaman
x
DAFTAR TABEL
Halaman
Tabel 8. Jenis - Jenis DRPs dan Penyebab yang mungkin terjadi .......................21
Tabel 12. Efek Dari Intervensi Permasalahan Terkait Obat (DRPs) .....................25
Tabel 16. Obat-obatan pada Terapi gagal ginjal kronik dengan hemodialisis
di RSUD Dr. Moewardi Surakarta Periode 2016 ..................................42
Tabel 17. Distribusi dan gambaran potensi DRPs pada terapi Gagal Ginjal
Kronik dengan Hemodialisis di RSUD Dr. Moewardi Surakarta
tahun 2014 .............................................................................................46
xi
Tabel 18. Daftar dosis obat terlalu rendah pada pasien Gagal Ginjal Kronik
dengan Hemodialisis di Instalasi Rawat Inap RSUD Dr.
Moewardi tahun 2016 berdasarkan Drug Dosing in Renal Failure ......46
xii
DAFTAR LAMPRAN
Halaman
xiii
INTISARI
Kata kunci: Evaluasi penggunaan obat, drug related problems, gagal ginjal
kronik, hemodialisis
xiv
ABSTRACT
Keywords: evaluation of drug use, drug related problems, chronic renal failure,
hemodialysis
xv
BAB I
PENDAHULUAN
1
2
hubungan dalam perkawinan dan fungsi seksual, serta ketidakpatuhan dalam diet
dan obat-obatan.
Drug Related Problems (DRPs) merupakan kejadian yang tidak diinginkan
yang menimpa pasien berhubungan dengan terapi obat. Penelitian di Inggris
menunjukkan adanya 8,8% kejadian Drug Related Problems (DRPs) yang terjadi
pada 93 pasien. (Yasin et al. 2009).
Terjadinya DRPs dapat mencegah atau menunda pasien dari pencapaian
terapi yang diinginkan. Pasien gagal ginjal kronik (GGK) menerima berbagai
agen obat terapi, terlebih untuk pasien yang sudah berkomplikasi penyakitnya.
Hal ini menyebabkan tingginya resiko terjadinya DRPs. Salah satu masalah DRPs
yang paling penting pada pasien penyakit gagal ginjal kronik (GGK) adalah
kesalahan dosis obat. Banyak obat dan metabolitnya yang dieliminasi melalui
ginjal, dengan demikian fungsi ginjal yang memadai penting untuk menghindari
toksisitas. Pasien dengan gangguan ginjal sering memiliki perubahan dalam
parameter farmakokinetik dan farmakodinamik. Pertimbangan khusus harus
diambil ketika obat diresepkan untuk pasien dengan gangguan fungsi ginjal.
Menilik penelitian terdahulu tentang evaluasi Drug Related Problems pada
pasien gagal ginjal kronik dengan hemodialisis antara lain:
1. Hasil penelitian oleh Rahayu (2016) tentang Evaluasi Penggunaan Obat Pada
Pasien Gagal Ginjal Kronik Dengan Hemodialisis Di Instalasi Rawat Jalan
Rumah Sakit Akademik Universitas Gadjah Mada Yogyakarta menunjukkan
bahwa pada kasus pasien rawat jalan hemodialisis di Rumah Sakit Akademik
UGM Yogyakarta periode Februari-Maret 2016 menunjukkan bahwa Drug
Related Problems (DRPs) pada pasien gagal ginjal kronik (GGK) dengan
hemodialisis didapatkan sebanyak 69 kejadian pada 51 pasien dengan
persentasi sebagai berikut: ketidakpatuhan pasien 40 pasien (78,43%);
interaksi obat 8 pasien (15,69%); menerima obat salah 7 pasien (13,73%);
dosis obat terlalu rendah 6 pasien (11,76%); dosis obat terlalu tinggi 5
kejadian (9,80%); dan indikasi tanpa obat 3 kejadian (5,88%).
2. Hasil penelitian oleh Supadmi (2011) tentang Evaluasi Penggunaan Obat
Antihipertensi Pada Pasien Gagal Ginjal Kronik Yang Menjalani Hemodialisis
3
menunjukkan bahwa Pola penggunaan obat anti hipertensi pada pasien gagal
ginjal kronik yang menjalani hemodialisis di RSU PKU Muhammadiyah
adalah captoril, furosemida, nifedipin, lisinopril, amlodipin, valsatran dan
clonidin. Evaluasi rasionalitas penggunaan obat tidak tepat dosis penggunaan
captopril 11 pasien dari 34 pasien dan furosemide 18 pasien dari 52 pasien,
tidak tepat pasien adalah penggunaan captopril 9 pasien dari 34 pasien. Efek
samping yang terjadi pada pasien akibat penggunaan furosemida adalah
hipokalemia 40 pasien, batuk karena captopril adalah 13 pasien, efek samping
nifedipin batuk dan gangguan gastrointestinal 11 pasien,batuk karena
lisinopril 5 pasien .
3. Hasil penelitian oleh Trisa (2015) tentang Evaluasi Drug Related Problems
Pada Pasien Gagal Ginjal Kronik Di Rumah Sakit Pelabuhan Jakarta Utara
menunjukkan bahwa Drug Related Problems (DRPs) pada kategori dosis di
bawah dosis terapi terjadi sebanyak 9 pasien, persentase tertinggi adalah pada
obat Aminefront. Dari kategori dosis tersebut terapi menunjukkan terjadi
sebanyak 22 pasien, persentase tertinggi pada obat Vometa (Domperidone).
Berdasarkan uraian latar belakang tersebut dan tingginya angka kejadian
gagal ginjal kronik di RSUD Dr. Moewardi Surakarta secara umum menempati 10
besar peringkat penyakit, maka menjadi alasan dipilihnya RSUD Dr. Moewardi
Surakarta sebagai tempat penelitian, serta penyakit gagal ginjal kronik
memberikan alasan klinis untuk diteliti dengan adanya gejala dan tanda uremia
yang berkepanjangan dan disebabkan oleh hilangnya sejumlah besar nefron
fungsional yang progresif dan irreversible serta ketidakmampuan renal untuk
berfungsi dengan adekuat maka diperlukan perawatan umum yaitu hemodialisis.
Kegiatan hemodialisis ini akan berlangsung terus menerus selama hidup pasien
dan keadaan ketergantungan pada mesin dialisa seumur hidup pasien dapat
mengakibatkan terjadinya perubahan dalam kehidupan penderita gagal ginjal yang
menjalani hemodialisis. Perubahan dalam kehidupan merupakan salah satu
pemicu terjadinya stress. Hal ini jelas menunjukkan bahwa keadaan stress akan
memperburuk kondisi kesehatan penderita dan menurunkan kualitas hidup pasien.
Dengan adanya alasan klinis memberikan alasan bagi peneliti untuk melakukan
4
penelitian dengan judul “Evaluasi Drug Related Problems pada pasien Gagal
Ginjal Kronik dengan Hemodialisis di Instalasi rawat inap RSUD Dr. Moewardi
Surakarta periode 2016”.
B. Perumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang, maka dapat dirumuskan suatu permasalahan
sebagai berikut:
1. Bagaimana karakteristik pasien gagal ginjal kronik dengan hemodialisis di
Instalasi Rawat Inap RSUD Dr. Moewardi Surakarta periode 2016?
2. Bagaimana profil pengobatan gagal ginjal kronik dengan hemodialisis di
Instalasi Rawat Inap RSUD Dr. Moewardi Surakarta periode 2016
berdasarkan formularium rumah sakit dan guideline?
3. Bagaimana kasus Drug Related Problems (DRPs) pada pasien gagal ginjal
kronik dengan hemodialisis di Instalasi Rawat Inap RSUD Dr. Moewardi
Surakarta periode 2016?
C. Tujuan Penelitian
Tujuan yang hendak dicapai dalam penelitian ini adalah untuk
mengetahui:
1. Karakteristik pasien gagal ginjal kronik dengan hemodialisis di Instalasi
Rawat Inap RSUD Dr. Moewardi Surakarta periode 2016.
2. Profil pengobatan gagal ginjal kronik dengan hemodialisis di Instalasi Rawat
Inap RSUD Dr. Moewardi Surakarta periode 2016 berdasarkan formularium
rumah sakit dan guideline.
3. Kasus Drug Related Problems (DRPs) pada pasien gagal ginjal kronik dengan
hemodialisis di Instalasi Inap RSUD Dr. Moewardi Surakarta periode 2016.
D. Manfaat Penelitian
Berdasarkan tujuan penelitian, maka manfaat dari penelitian adalah
sebagai berikut:
5
6
7
c. Faktor Progresi
Dapat mempercepat penurunan fungsi ginjal setelah inisiasi kerusakan ginjal.
Yang termasuk faktor progresi adalah : glikemia pada diabetes, hipertensi,
proteinuria, merokok, hiperlipidemia.
3. Patofisiologi penyakit Gagal Ginjal Kronik
Patofisiologi penyakit gagal ginjal kronik awalnya tergantung pada
penyakit yang mendasarinya. Pengurangan masa ginjal mengakibatkan hipertrofi
struktural dan fungsional nefron yang masih tersisa sebagai upaya kompensasi,
yang diperantarai oleh molekul vasoaktif seperti sitokin dan growth factors. Hal
ini mengakibatkan terjadinya hiperfitrasi, yang diikuti oleh peningkatan tekanan
kapiler dan aliran glomerulus. Proses adaptasi berlangsung singkat, akhirnya
diikuti oleh maladaptasi berupa sclerosis nefron yang masih tersisa. Proses ini
akhirnya diikuti dengan penurunan fungsi nefron yang progresif, walaupun
penyakit dasarnya sudah tidak aktif lagi (Suwitra 2006).
Fungsi renal menurun menyebabkan produk akhir metabolisme protein
(yang normalnya diekskresikan ke dalam urin) tertimbun dalam darah. Akibatnya
terjadi uremia dan mempengaruhi setiap sistem tubuh. Semakin banyak timbunan
produk sampah, maka gejala akan semakin berat (Bare & Smeltzer 2002).
Retensi cairan dan natrium akibat dari penurunan fungsi ginjal dapat
mengaibatkan edema, gagal jantung kongestif/ CHF, dan hipertensi. Hipertensi
juga dapat terjadi karena aktivitas aksis renin angiotensin dan kerjasama keduanya
meningkatkan sekresi aldosteron. Gagal ginjal kronik juga menyebabkan asidosis
metabolik yang terjadi akibat ginjal tidak mampu mensekresi asam (H+) yang
berlebihan.
Pada stadium paling dini penyakit gagal ginjal kronik, terjadi kehilangan
daya cadangan ginjal (renal reserve), pada keadaan dimana basal Laju Filtrasi
Glomerulus (LFG) masih normal. Kemudian secara perlahan tapi pasti, akan
terjadi penurunan fungsi nefron, yang ditandai dengan peningkatan kadar urea dan
kreatinin serum. Sampai pada LFG sebesar 60%, pasien belum menunjukkan
keluhan (asimtomatik), tetapi sudah terjadi peningkatan kadar urea dan kreatinin
serum. Sampai pada LFG 30% mulai terjadi keluhan pasien seperti nokturia,
8
badan lemah, nafsu makan berkurang, penurunan berat badan. Sampai pada LFG
di bawah 30%, pasien memperlihatkan gejala dan tanda uremia yang sangat nyata
seperti, anemia, peningkatan tekanan darah, gangguan metabolisme fosfor dan
kalsium, mual muntah dan lain sebagainya. Pada LFG dibawah 15% akan terjadi
gejala dan komplikasi yang lebih serius, dan pasien sudah memerlukan terapi
pengganti ginjal antara lain dialisis atau transplantasi ginjal (Suwitra 2006).
Kerusakan patogenik awal
Kerusakan glomerolu
Perubahan
Pembentukan hemodinamis
advanced glycation Hiperlipidemia
End-Products
Perpanjanga
Focal detachment of
Proteinuria n mesangial
epithelial foot processes
Glomerulosklerosis
Pembentukan
mikroaneurisme
Perkembangan gagal
ginjal
d. Penyakit tulang serta klasifikasi metabolik akibat retensi fosfat, kadar kalsium
serum yang rendah, metabolisme vitamin D yang abnormal dan peningkatan
kadar alumunium akibat peningkatan nitrogen dan ion anorganik.
e. Diabetes Melitus.
f. Hiperlipidemia.
7. Penyakit Penyerta
Penyakit penyerta adalah kondisi lain selain penyakit utama (gagal ginjal
kronis). Ada tiga tipe penyakit penyerta pada penyakit ginjal kronis:
a. Penyakit yang sebabkan GGK, adalah penyakit yang memperparah GGK yaitu
tekanan darah tinggi, diabetes melitus, penyumbatan pada saluran urinari.
b. Penyakit yang tidak berhubungan langsung dengan GGK, adalah penyakit
yang dapat memperburuk kondisi pasien namun tidak langsung mempengaruhi
fungsi ginjal, yaitu penyakit paru obstruksi kronik, Gastroesophageal Reflux
Disease (GERD), penyakit degeneratif, penyakit alzheimer.
c. Penyakit kardiovaskular adalah penyakit utama yang pengaruhnya sangat
kompleks terhadap perkembangan GGK, sehingga perlu dicegah karena dapat
meningkatkan morbiditas dan mortalitas yaitu arteriosklerosis, penyakit
jantung koroner, penyakit serebrovaskular, penyakit pheriperal vascular,
hipertrofi ventrikal kiri, gagal jantung (KDOQI, 2002).
8. Penatalaksanaan Penyakit Gagal Ginjal Kronik
Pengobatan konservatif terdiri dari 2 strategi. Pertama adalah usaha-usaha
untuk memperlambat laju penurunan fungsi ginjal yaitu dengan pengobatan
hipertensi, pembatasan asupan protein, restriksi fosfor, mengurangi proteinuria
dan mengendalikan hiperlipidemia. Kedua adalah mencegah kerusakan ginjal
(KDIGO 2012).
Pedoman Kidney Disease Improving Global Outcomes (KDIGO) 2012:
Clinical Practice Guideline for the Evaluation and Management of Chronic
Kidney Disease merupakan pedoman yang memperbarui pedoman K/DOQI
Clinical Practice Guidelines for Chronic Kidney Disease: Evaluation,
Classification and Stratification pada tahun 2002, yang mencakup banyak topik
yang terkait dengan diagnosis, klasifikasi, stratifikasi dan pengelolaan CKD
(KDIGO 2012).
13
B. Geriatri
Departemen Kesehatan Republik Indonesia adalah membagi geriatri dalam
tiga kelompok umur yaitu lansia awal 46 – 55 tahun, lansia akhir 56 – 65 tahun,
dan manula 65 tahun keatas. World Health Organization membagi terhadap
populasi usia meliputi tiga tingkatan, yaitu lansia (elderly) dengan kisaran
umum 60 – 75 tahun, tua (old) 75 – 90 tahun dan sangat tua (very old) dengan
kisaran umur > dari 90 tahun.
Seseorang dikatakan lanjut usia (lansia) apabila usianya 65 tahun ke atas.
Lansia bukan suatu penyakit, namun merupakan tahap lanjut dari suatu proses
kehidupan yang ditandai dengan penurunan kemampuan tubuh untuk beradaptasi
dengan stres lingkungan. Lansia adalah keadaan yang ditandai oleh kegagalan
seseorang untuk mempertahankan keseimbangan terhadap kondisi stres fisiologis.
Kegagalan ini berkaitan dengan penurunan daya kemampuan untuk hidup serta
peningkatan kepekaan secara individual (Efendi 2009).
Penuaan selalu menyebabkan berbagai perubahan fisiologis yang dapat
merubah proses absorbsi, distribusi, ikatan protein, metabolisme, dan ekskresi
obat sehingga terapi obat yang optimal pada usia lanjut sangat perlu
memperhatikan perubahan-perubahan ini (Walker dan Edwards 2003).
18
C. Hemodialisis
Hemodialisis pertama kali diperkenalkan sebagai pengobatan efektif yang
bisa diterapkan dalam prospek pasien dengan gagal ginjal yang kemudian dapat
merubah antisipasi risiko kematian yang akan datang menjadi kelangsungan hidup
yang lebih panjang. Sejak itu, pelaksanaan dialisis telah maju dari intensive
bedside therapy menjadi pengobatan yang lebih mudah, kadang-kadang dapat
diberikan dengan self-administered di kediaman pasien sendiri, menggunakan
teknologi modern yang telah disederhanakan dengan mengurangi waktu dan usaha
yang dibutuhkan oleh pasien dan perawat (K-DOQI 2015).
Hemodialisis adalah suatu usaha untuk memperbaiki kelainan biokimiawi
darah yang terjadi akibat terganggunya fungsi ginjal, dilakukan dengan
menggunakan mesin hemodialisis. Hemodialisis merupakan salah satu bentuk
terapi pengganti ginjal (Renal Replacement Therapy/RRT) dan hanya
menggantikan sebagian dari fungsi ekskresi ginjal. Hemodialisis dilakukan pada
penderita GGK stadium 5 dan pada pasien dengan Acute Kidney Injury (AKI)
yang memerlukan terapi pengganti ginjal. Menurut prosedur yang dilakukan
hemodialisis dapat dibedakan menjadi 3 yaitu: hemodialisis darurat/emergency,
hemodialisis persiapan/preparative dan hemodialisis kronik/regular (Daugirdas et
al. 2007).
Walaupun tindakan hemodialisis saat ini mengalami perkembangan yang
cukup pesat, namun masih banyak penderita yang mengalami masalah medis saat
menjalani hemodialisis. Komplikasi yang sering terjadi pada penderita yang
19
Adapun kasus pada masing – masing DRP’s dapat dilihat pada tabel 8.
Tabel 8. Jenis - Jenis DRPs dan Penyebab yang mungkin terjadi
DRPs Kemungkinan kasus pada DRPs
Butuh terapi obat a. Pasien dengan kondisi terbaru membutuhkan terapi obat yang
tambahan terbaru
b. Pasien dengan kronik membutuhkan lanjutan terapi obat
c. Pasien dengan kondisi kesehatan yang membutuhkan kombinasi
farmakoterapi untuk mencapai efek sinergis atau potensiasi
d. Pasien dengan resiko pengembangan kondisi kesehatan baru dapat
dicegah dengan pengggunaan obat profilaksis
Terapi obat yang a. Pasien yang mendapatkan obat yang tidak tepat indikasi
tidak perlu b. Pasien yang mengalami toksisitas karena obat atau hasil pengobatan
c. Pengobatan pada pasien pengkonsumsi obat, alkohol dan rokok
d. Pasien dalam kondisi pengobatan yang lebih baik diobati tanpa terapi
obat
e. Pasien dengan multiple drugs untuk kondisi dimana hanya single
drug therapy dapat digunakan
f. Pasien dengan terapi obat untuk penyembuhan dapat menghindari
reaksi yang merugikan dengan pengobatan lainnya
Obat tidak tepat a. Pasien alergi
b. Pasien menerima obat yang tidak paling efektif untuk indikasi
pengobatan
c. Pasien dengan faktor resiko pada kontraindikasi penggunaan obat
d. Pasien menerima obat yang efektif tetapi ada obat lain yang lebih
murah
e. Pasien menerima obat efektif tetapi tidak aman
f. Pasien yang terkena infeksi resisten terhadap obat yang diberikan
Dosis obat terlalu a. Pasien menjadi sulit disembuhkan dengan terapi obat yang
rendah digunakan
b. Pasien menerima kombinasi produk yang tidak perlu dimana single
drug dapat memberikan pengobatan yang tepat
c. Pasien alergi
d. Dosis yang digunakan terlalu rendah untuk menimbulkan respon
e. Konsentrasi obat dalam serum pasien di bawah range terapeutik yang
diharapkan
f. Waktu profilaksis (preoperasi) antibiotik diberikan terlalu cepat
g. Dosis dan fleksibilitas tidak cukup untuk pasien
h. Terapi obat berubah sebelum terapeutik percobaan cukup untuk
pasien
i. Pemberian obat terlalu cepat
Reaksi obat a. Obat yang digunakan merupakan risiko yang berbahaya bagi pasien
merugikan b. Ketersediaan obat menyebabkan interaksi dengan obat lain atau
makanan pasien
c. Efek obat dapat diubah oleh substansi makanan pasien
d. Efek dari obat diubah inhibitor enzim atau induktor obat lain
e. Efek obat dapat diubah dengan pemindahan obat dari binding site
oleh obat lain
f. Hasil laboratorium berubah karena gangguan obat lain
Dosis obat terlau a. Dosis terlalu tinggi
tinggi b. Konsentrasi obat dalam serum pasien diatas range terapeutik yang
diharapkan
c. Dosis obat meningkat terlalu cepat
d. Obat, dosis, rute, perubahan formulasi yang tidak tepat
e. Dosis dan interval tidak tepat
22
3. Biaya terapi P3.1 Biaya terapi obat lebih tinggi dari yang
Terapi obat lebih mahal dari sebenarnya dibutuhkan.
yang dibutuhkan P3.2 Terapi obat yang tidak perlu
4. Lain-lain P4.1 Pasien tidak puas dengan terapi akibat hasil
terapi dan biaya pengobatan.
P4.2 Masalah yang tidak jelas dibutuhkan
klasifikasi lain
Sumber: PCNE Foundation (2010)
Penyebab
(satu masalah dapat disebabkan banyak hal)
Kode
Domain Primer Penyebab
v6.2
4. Durasi terapi penyebab C4.1 Durasi terapi terlalu singkat
DRP berkaitan dengan C4.2 Durasi terapi terlalu lama
durasi terapi
5. Proses penggunaan obat C5.1 Waktu penggunaan dan/atau interval dosis yang tidak
penyebab DRP berkaitan tepat
dengan cara pasien C5.2 Obat yang dikonsumsi kurang
menggunakan obat, diluar C5.3 Obat yang dikonsumsi berlebih
instruksi penggunaan pada C5.4 Obat sama sekali tidak dikonsumsi
etiket C5.5 Obat yang digunakan salah
C5.6 Penyalahgunaan obat
C5.7 Pasien tidak mampu menggunakan obat sesuai
instruksi
6. Persediaan/logistik C6.1 Obat yang diminta tidak tersedia
penyebab DRP berkaitan C6.2 Kesalahan peresepan (hilangnya informasi penting)
dengan ketersediaan obat C6.3 Kesalahan dispensing (salah obat atau salah dosis)
saat dispensing
7. Pasien penyebab DRP C7.1 Pasien lupa minum obat
berkaitan dengan C7.2 Pasien menggunakan obat yang tidak diperlukan
kepribadian atau perilaku C7.3 Pasien mengkonsumsi makanan yang berinteraksi
pasien dengan obat
C7.4 Pasien tidak benar menyimpan obat
8. Lainnya C8.1 Penyebab lain
C8.2 Tidak ada penyebab yang jelas
Sumber: PCNE Foundation (2010)
E. Rumah Sakit
1. Pengertian Rumah Sakit
Departemen Kesehatan RI menyatakan bahwa rumah sakit merupakan
pusat pelayanan yang menyelenggarakan pelayanan medik dasar dan medik
spesialistik, pelayanan penunjang medis, pelayanan perawatan, baik rawat jalan,
rawat inap maupun pelayanan instalasi. Rumah sakit sebagai salah satu sarana
kesehatan dapat diselenggarakan oleh pemerintah, dan atau masyarakat.
Menurut Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 44 Tahun 2009
tentang rumah sakit, rumah sakit adalah institusi pelayanan kesehatan yang
menyelenggarakan pelayanan kesehatan perorangan secara paripurna yang
menyediakan pelayanan rawat inap, rawat jalan, dan gawat darurat. Rumah sakit
merupakan salah satu dari sarana kesehatan yang juga merupakan tempat
menyelenggarakan upaya kesehatan yaitu setiap kegiatan untuk memelihara dan
meningkatkan kesehatan serta bertujuan untuk mewujudkan derajat kesehatan
yang optimal bagi masyarakat. Upaya kesehatan dilakukan dengan pendekatan
pemeliharaan, peningkatan kesehatan (promotif), pencegahan penyakit (preventif),
penyembuhan penyakit (kuratif) dan pemulihan (rehabilitatif) yang dilaksanakan
secara serasi dan terpadu serta berkesinambungan.
2. Tugas dan Fungsi Rumah Sakit
Menurut Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 44 Tahun 2009
tentang rumah sakit, rumah sakit mempunyai tugas memberikan pelayanan
26
F. Rekam Medis
1. Pengertian Rekam Medis
Rekam medis merupakan berkas/dokumen penting bagi setiap instansi
rumah sakit. Menurut Peraturan Menteri Kesehatan Republik Indonesia
Nomor 269/Menkes/Per/III/2008 tentang rekam medis adalah berkas yang
berisikan catatan dan dokumen tentang identitas pasien, pemeriksaan, pengobatan,
tindakan dan pelayanan lain yang telah diberikan kepada pasien.
Rekam medis mempunyai arti yang lebih luas daripada hanya sekedar
catatan biasa, karena didalam catatan tersebut sudah memuat segala informasi
menyangkut seorang pasien yang akan dijadikan dasar untuk menentukan
tindakan lebih lanjut kepada pasien.
2. Kegunaan Rekam Medis
Dalam Peraturan Menteri Kesehatan Nomor 269/Menkes/Per/III/2008
menyebutkan bahwa Rekam Medis memiliki manfaat, yaitu:
a. Sebagai dasar dan petunjuk untuk merencanakan dan menganalisis penyakit
serta merencanakan pengobatan, perawatan dan tindakan medis yang harus
diberikan kepada pasien.
b. Membuat rekam medis bagi penyelenggaraan praktik kedokteran dengan jelas
dan lengkap akan meningkatkan kualitas pelayanan untuk melindungi tenaga
medis dan untuk pencapaian kesehatan masyarakat yang optimal.
c. Merupakan informasi perkembangan kronologis penyakit, pelayanan medis,
pengobatan dan tindakan medis, bermanfaat untuk bahan informasi bagi
perkembangan pengajaran dan penelitian dibidang profesi kedokteran dan
kedokteran gigi.
d. Sebagai petunjuk dan bahan untuk menetapkan pembiayaan dalam pelayanan
kesehatan pada sarana kesehatan. Catatan tersebut dapat dipakai sebagai bukti
pembiayaan kepada pasien.
e. Sebagai bahan statistik kesehatan, khususnya untuk mempelajari
perkembangan kesehatan masyarakat dan untuk menentukan jumlah penderita
pada penyakit-penyakit tertentu.
28
Pembuktian masalah hukum, disiplin dan etik rekam medis merupakan alat
bukti tertulis utama, sehingga bermanfaat dalam penyelesaiaan masalah
hukum, disiplin dan etik.
H. Landasan Teori
Gagal ginjal kronik (GGK) merupakan penyakit yang terjadi setelah
berbagai macam penyakit yang merusak masa nefron ginjal sampai pada titik
keduanya tidak mampu untuk menjalankan fungsi regulatorik dan ekstetoriknya
untuk mempertahankan homeostatis (Lukman et al. 2013). Gagal ginjal kronik
secara progresif kehilangan fungsi ginjal nefronnya satu persatu yang secara
bertahap menurunkan keseluruhan fungsi ginjal (Sjamsuhidajat & Jong 2011).
29
Pada stadium paling dini penyakit gagal ginjal kronik, terjadi kehilangan
daya cadangan ginjal (renal reserve), pada keadaan dimana basal laju filtrasi
glomerulus (LFG) masih normal. Kemudian secara perlahan tapi pasti, akan
terjadi penurunan fungsi nefron, yang ditandai dengan peningkatan kadar urea dan
kreatinin serum. Sampai pada LFG sebesar 60%, pasien belum menunjukkan
keluhan (asimtomatik), tetapi sudah terjadi peningkatan kadar urea dan kreatinin
serum. Sampai pada LFG 30% mulai terjadi keluhan pasien seperti nokturia,
badan lemah, nafsu makan berkurang, penurunan berat badan. Sampai pada LFG
di bawah 30%, pasien memperlihatkan gejala dan tanda uremia yang sangat nyata
seperti, anemia, peningkatan tekanan darah, gangguan metabolism fosfor dan
kalsium, mual muntah dan lain sebagainya. Pada LFG dibawah 15% akan terjadi
gejala dan komplikasi yang lebih serius, dan pasien sudah memerlukan terapi
pengganti ginjal antara lain dialisis atau transplantasi ginjal (Suwitra 2006).
Penatalaksanaan terapi gagal ginjal akut yaitu dengan pengobatan
konservatif terdiri dari 2 strategi. Pertama adalah usaha-usaha untuk
memperlambat laju penurunan fungsi ginjal yaitu dengan pengobatan hipertensi,
pembatasan asupan protein, restriksi fosfor, mengurangi proteinuria dan
mengendalikan hiperlipidemia. Kedua adalah mencegah kerusakan ginjal
(KDIGO 2012).
Tindakan medis yang dilakukan penderita penyakit gagal ginjal adalah
dengan melakukan terapi dialisis tergantung pada keluhan pasien dengan kondisi
kormobid dan parameter laboratorium, kecuali bila sudah ada donor hidup yang
ditentukan, keharusan transplantasi terhambat oleh langkanya pendonor. Pilihan
terapi dialisis meliputi hemodialisis dan peritoneal dialisis (Hartono 2013).
Hemodialisis merupakan salah satu terapi untuk mengalirkan darah ke
dalam suatu alat yang terdiri dari dua kompartemen yaitu darah dan dialisat.
Pasien hemodialisis mengalami kecemasan karena takut dilakukan tindakan terapi
hemodialisis. Menurut Soewandi (2002) gangguan psikiatrik yang sering
ditemukan pada pasien dengan terapi hemodialisis adalah depresi, kecemasan,
hubungan dalam perkawinan dan fungsi seksual, serta ketidakpatuhan dalam diet
dan obat-obatan.
30
I. Keterangan Empiris
Berdasarkan landasan teori, maka didapat keterangan empiris sebagai
berikut:
1. Karakteristik pasien gagal ginjal kronik (GGK) dengan hemodialisis di
Instalasi Rawat Inap RSUD [Link] Surakarta periode 2016 meliputi
usia, jenis kelamin, status perkawinan, pendidikan, pekerjaan, agama,
suku/budaya, dan ekonomi/penghasilan.
2. Profil pengobatan pasien gagal ginjal kronik dengan hemodialisis di Instalasi
Rawat Inap RSUD Dr. Moewardi Surakarta periode 2016 sesuai dengan
formularium rumah sakit dan guideline.
3. Kasus Drug Related Problems (DRPs) pasien gagal ginjal kronik (GGK)
dengan hemodialisis di Instalasi Rawat Inap RSUD [Link] Surakarta
periode 2016 dapat diindentifikasi dengan melihat data rekam medik.
BAB III
METODE PENELITIAN
A. Rancangan Penelitian
Jenis penelitian ini merupakan penelitian non-eksperimental dengan
pengambilan data pada kondisi retrospektif. Data yang diambil berupa catatan
rekam medik pasien gagal ginjal kronik dengan hemodialisis. Pengolahan data
dilakukan dengan rancangan deskriptif, yaitu sebuah penelitian yang bertujuan
untuk melakukan deskripsi terhadap kejadian yang ditemukan.
31
32
Kriteria Inklusi : Kriteria inklusi ada lah kriteria dimana subjek penelitian
dapat mewakili dalam sampel penelitian, memenuhi syarat sebagai sampel.
Kriteria inklusi untuk sampel penelitian ini adalah:
a. Pasien geriatri usia 56 – 65 tahun ( DepKes, 2009 ).
b. Pasien yang di diagnosa gagal ginjal kronik dengan hemodialisis
c. Pasien yang di rawat inap
d. Pasien yang telah menyelesaikan pengobatan hingga dinyatakan sembuh oleh
dokter.
Kriteria Eksklusi : Pasien dengan data rekam medik tidak lengkap atau tidak
terbaca, pasien yang meninggal dalam pengobatan.
F. Variabel Penelitian
1. Variabel Bebas (independent variable)
Variabel bebas berupa pasien yang terdiagnosa utama gagal ginjal kronik
dengan hemodialisis tanpa penyakit penyerta dan komplikasi yang menjalani
pengobatan di Instalasi Rawat Inap RSUD Dr. Moewardi Surakarta dalam jangka
waktu selama periode 2016.
2. Variabel Terikat (dependent variable)
Variabel terikat yaitu jenis DRPs yang terjadi pada pengobatan pasien
ginjal kronik dengan hemodialisis di Instalasi Rawat Inap RSUD Dr. Moewardi
Surakarta periode 2016.
1. Rekam Medis adalah berkas yang berisikan catatan dan dokumen tentang
identitas pasien, pemeriksaan, pengobatan, tindakan dan pelayanan lain
kepada pasien pada sarana pelayanan kesehatan di RSUD [Link]
Surakarta tahun 2016.
2. Komplikasi adalah sebuah perubahan tak diinginkan dari sebuah penyakit,
kondisi kesehatan atau terapi. Penyakit dapat menjadi memburuk atau
menunjukkan jumlah gejala yang lebih besar atau perubahan patologi, yang
menyebar ke seluruh tubuh atau berdampak pada sistem organ lainnya.
3. Penyakit penyerta adalah kondisi lain selain penyakit utama (gagal ginjal
kronis).
4. Lansia akhir ( 56-65 tahun ) adalah keadaan yang ditandai oleh kegagalan
seseorang untuk mempertahankan keseimbangan terhadap kondisi stres
fisiologis. Kegagalan ini berkaitan dengan penurunan daya kemampuan untuk
hidup serta peningkatan kepekaan secara individual.
5. DRPs adalah kejadian yang tidak diinginkan pasien terkait terapi obat, dan
secara nyata maupun operasional berpengaruh pada outcome yang diinginkan
pasien di RSUD Dr. Moewardi Surakarta tahun 2016.
34
6. Obat adalah obat-obatan yang diresepkan oleh dokter dan diberikan kepada
pasien Gagal Ginjal Kronik selama perawatan di RSUD Dr. Moewardi
Surakarta tahun 2016.
7. Obat tanpa indikasi medis adalah adanya obat yang tidak diperlukan atau yang
tidak sesuai dengan kondisi medis pada pasien Gagal Ginjal Kronik selama
perawatan di RSUD Dr. Moewardi Surakarta tahun 2016.
8. Dosis terlalu rendah adalah artinya obat tidak mencapai MEC (minimum
efective concentration) sehingga tidak menimbulkan efek terapi yang sesuai
dengan literatur RSUD Dr. Moewardi Surakarta tahun 2016.
9. Dosis terlalu tinggi adalah jika dosis yag diberikan di atas dosis lazim untuk
indikasi yang sesuai dibuku literatur dan acuan penyesuaian dosis pada
kondisi tertentu.
10. Interaksi obat adalah aksi suatu obat diubah atau dipengaruhi oleh obat lain
jika diberikan secara bersama. Adanya interaksi obat diperiksa dengan melihat
waktu pemberiaan obat di RSUD Dr. Moewardi Surakarta tahun 2016.
11. Angka kejadian Drug Related Problems (DRPs) adalah banyaknya kejadian
DRP dalam pengobatan terkait dosis maupun obat di RSUD Dr. Moewardi
Surakarta tahun 2016.
12. Persentase angka kejadian Drug Related Problems (DRPs) adalah banyaknya
kejadian DRPs dibanding dengan total keseluruhan kasus DRPs
dikalikan 100% di RSUD Dr. Moewardi Surakarta tahun 2016.
35
H. Alur Penelitian
Alur penelitian dalam penelitian ini melalui beberapa tahap, dimana tahap-
tahap tersebut dijelaskan pada gambar 3.
Persiapan penelitian :
1. Peninjauan ke RSUD Dr. Moewardi Surakarta
2. Perijinan penelitian ke Diklat RSUD Dr. Moewardi Surakarta
3. Penelusuran pustaka
4. Penetapan populasi dan sampel penelitian
Pembuatan proposal
Analisis data
Kesimpulan
2. Data pemakaian obat gagal ginjal kronik yang terjadi selama pasien rawat
jalan diolah menjadi bentuk tabel yang menyajikan jumlah dan persentasenya.
3. Data kejadian DRPs yang terjadi diolah menjadi bentuk tabel yang
menyajikan jumlah dan persentase.
4. Analisis deskriptif antara predictor kejadian DRPs dengan munculnya
kejadian DRPs.
baik serta memudahkan proses analisa. Kesalahan data dapat diperbaiki dan
kekurangan data dilengkapi dengan mengulang pengumpulan data atau dengan
cara penyisipan data.
4.2 Coding. Kegiatan pemberian kode tertentu pada tiap-tiap data yang
termasuk kategori sama. Kode adalah isyarat yang dibuat dalam bentuk angka-
angka atau huruf untuk membedakan antara data atau identitas data yang akan
dianalisis.
4.3 Tabulasi. Proses penempatan data kedalam bentuk tabel yang telah
diberi kode sesuai dengan kebutuhan analisis.
4.4 Cleaning. Data nomor rekam medis, tanggal perawatan,
gejala/keluhan masuk rumah sakit, diagnosa, data pengguna obat (dosis, rute
pemberian, aturan pakai, waktu pemberian), yang dimasukkan data diperiksa
kembali untuk memastikan data base pasien bersih dari kesalahan dan siap untuk
dianalisis lebih lanjut.
BAB IV
HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN
Penelitian ini menggunakan data dari kartu rekam medik penderita gagal
ginjal kronik dengan hemodialisis dengan rentang usia 56-65 tahun yang dirawat
inap di Rumah Sakit Umum Daerah Dr. Moewardi Surakartapada tahun 2016.
Dari keseluruhan pasien rawat inap, kasus pasien gagal ginjal kronik dengan
hemodialisis yang dirawat inap di RSUD Dr. Moewardi Surakarta selama periode
2016 berjumalah 117 pasien. Terdapat 73 kasus yang masuk kriteria inklusi gagal
ginjal kronik dengan hemodialisis pasien lansia akhir yaitu yang berusia 56-65
tahun, pasien yang dirawat inap, pulang atas persetujuan dan dinyatakan sembuh
oleh dokter serta dengan data rekam medik lengkap.
Data rekam medik lengkap yaitu mencantumkan nomor registrasi, usia,
jenis kelamin, diagnosa utama, lama perawatan, catatan keperawatan, data
pemeriksaan laboratorium kreatinin dan ureum, dan terapi yang diberikan (nama
obat, dosis, aturan pakai, rute pemberian, dan sediaan). Sedangkan data pasien
masuk kedalam kriteria eksklusi karena beberapa hal antara lain, tidak masuk
dalam umur pasien anak, pasien meninggal dunia, data rekam medik hilang, dan
tidak lengkap.
A. Karakteristik Pasien
1. Distribusi pasien berdasarkan jenis kelamin
Pengelompokan pasien berdasarkan jenis kelamin bertujuan untuk
mengetahui banyaknya pasien gagal ginjal kronik dengan hemodialisis yang
menggunakan obat gagal ginjal kronik dengan hemodialisis pada jenis kelamin
tiap kelompok terapi. Distribusi jenis kelamin pasien gagal ginjal kronik dengan
hemodialisis ditujukan pada Tabel 13.
Tabel 13. Persentase Pasien Gagal Ginjal Kronik dengan Hemodialisis Berdasarkan Jenis
Kelamin di RSUD Dr. Moewardi Surakarta Periode 2016
No Jenis Kelamin Jumlah Persentase
1. Laki-laki 41 56,16%
2. Perempuan 32 43,84%
Total 73 100
Sumber: data sekunder yang diolah (2018)
38
39
dalam rentang 3-5 hari. Terdapat 24 pasien (32,88%) yang dirawat dalam jangka
waktu 6-8 hari, dan 4 pasien (5,48%) yang dirawat dalam jangka waktu 9-11 hari.
Lama rawat inap berhubungan dengan penyakit komplikasi yang diderita
pasien dengan keefektifan obat yang diberikan kepada pasien yang ditunjukkan
dengan penurunan kadar kreatinin, penurunan kadar ureum dan perbaikan kondisi
pasien. Kondisi pasien yang telah diijinkan keluar dari rumah sakit oleh dokter
sudah membaik dan memenuhi kriteria pemulangan pasien berdasarkan indikasi
medis yaitu tanda vital dan klinis yang stabil.
3. Distribusi pasien menurut penyakit penyerta dan komplikasi
Gagal ginjal bisa berkembang menjadi komplikasi yang lebih serius.
Pasien geriatri sendiri dapat mempunyai riwayat penyakit dan penyakit penyerta
yang berbeda. Tabel 15 menunjukan penyakit penyerta ada pasien gagal ginjal
kronik dengan hemodialisis.
Tabel 15. Persentase Pasien Gagal Ginjal Kronik dengan Hemodialisis Berdasarkan penyakit
penyerta di RSUD [Link] Surakarta Periode 2016
Penyakit penyerta dan
No Jumlah Persentase
komplikasi
1 Diabetes Melitus 3 4,11%
2 Anemia 9 12,33%
3 Hipertensi 30 41,09%
4 BPH Residu 2 2,74%
5 CHF Stage IV 10 13,69%
6 Dyspnea 4 5,48%
7 Kanker Servx 3 4,11%
9 Kanker Payudara 1 1,37%
10 Stroke Emboli 1 1,37%
12 Syok Sepsis 1 1,37%
13 Bronkopneumonia 1 1,37%
14 ISK 1 1,37%
15 Osteoatritis 4 5,48%
16 Hernia 1 1,37%
17 Pneumonia 1 1,37%
18 Edema Paru 1 1,37%
Total 73 100%
Sumber: data sekunder yang diolah (2018)
Berdasarkan tabel 15, penyakit penyerta yang sering terjadi pada pasien
gagal ginjal yaitu Hipertensi (41,09%) CHF Stage IV (13,69%) dan Anemia
(12,33%). Hipertensi termasuk penyakit penyerta terbanyak yang dialami oleh
pasien penyakit ginjal kronik stadium V yang menjalani hemodialisa. Budiyanto
(2009) mengatakan hipertensi dan gagal ginjal saling mempengaruhi. Hipertensi
41
dapat menyebabkan gagal ginjal, sebaliknya gagal ginjal kronik juga dapat
menyebabkan hipertensi. Hipertensi yang berlangsung lama dapat mengakibatkan
perubahan struktur pada arteriol di seluruh tubuh yang ditandai dengan fibrosis
dan hialinisasi dinding pembuluh darah. Pada ginjal, arteriosklerosis akibat
hipertensi lama menyebabkan nefrosklerosis. Gangguan ini berakibat langsung
terjadi iskemia yang dikarenakan adanya penyempitan lumen pada pembuluh
darah intrarenal. Penyempitan arteri dan arteriol akan menyebabkan kerusakan
glomerolus dan atrofi tubulus, sehingga seluruh nefron akan rusak yang
menyebabkan terjadinya gagal ginjal kronik. Oleh sebab itu, pengontrolan tekanan
darah pada pasien penyakit ginjal kronik stadium V yang menjalani hemodialisa
sangat penting untuk mencegah dan memperlambat kerusakan ginjal.
Penyakit penyerta berikutnya adalah CHF (Congestive Heart Failure)
yang merupakan penyebab utama morbiditas dan kematian dini pada penyakit
ginjal kronik. Hal ini terjadi karena adanya penurunan volume intravaskular atau
penurunan cardiac output yang dikenal sebagai cardiorenal syndrome yang
merupakan penurunan fungsi ginjal yang terjadi pada gagal jantung, sedangkan
penurunan fungsi jantung akibat gagal ginjal disebut sebagai
renocardiacsyndrome. National Heart Lung and Blood Institute (NHLBI) di
Amerika telah membentuk group kerja “Cardio-Renal Connectons” yang
menyatakan bahwa adanya penurunan fungsi ginjal yang disebabkan oleh
penurunan fungsi jantung (Fadly, 2011).
Penyakit penyerta anemia yang dialami pasien penyakit ginjal kronik
stadium V yang menjalani hemodialisa dikarenakan kurangnya produksi
eritropoetin atau kekurangan zat besi.
Diabetes mellitus juga menjadi penyebab penyakit ginjal kronik. Diabetes
yang tidak terkontrol dapat menyebabkan diabetes nefropati yang merupakan
penyebab penyakit ginjal. Menurut Dikow (2002), diabetes merupakan faktor
komorbiditas hingga 50% pasien dan sebesar 65% pasien penyakit ginjal kronik
menjalani hemodialisa yang memiliki riwayat penyakit diabetes mellitus
meninggal. Tingginya kadar gula dalam darah akan membuat ginjal harus bekerja
lebih keras dalam proses penyaringan darah, sehingga mengakibatkan kebocoran
42
Jumlah Obat
Golongan/Indikasi Nama Generik Persentase
yang di Berikan
Analgesic non Opioid Ketorolac 3 0,74%
Aspilet 5 1,24%
Mukolitik N-Asetil Systein 24 5,94%
Antiemetik Ondansentron 16 3,96%
Metoklopramid 9 2,22%
Domperidon 1 0,25%
Antidiare New Diatab 3 0,74%
Antitukak Ranitidin 9 2,22%
Omeprazol 15 3,71%
Sucralfat 6 1,48%
Prosogan 3 0,74%
Antifibrinolik As. Tranexamat 7 1,73%
Antihiperlipidemia Simvastatin 1 0,25%
Antianemia As. Folat 32 7,90%
Vitamin B Kompleks 3 0,74%
Vitamin B12 3 0,74%
Vitamin dan Mineral Vitamin K 4 0,99%
Vitamin B1 1 0,25%
Antiangina ISDN 2 0,49%
Suplemen Kalsium CaCO3 38 9,41%
Antihiperkalemia Kalitake 4 0,99%
Antikoagulan Wafarin 1 0,25%
Infus Kristaloid D5% 30 7,43%
Larutan Elektrolit Ringer Lactat 4 0,99%
Nutrisi dan Lain-lain Asering 1 0,25%
D40% 3 0,74%
NaCl 0,9% 17 4,21%
Na. Bicarbonat 3 0,74%
Nephosteril 13 3,22%
Prorenal 13 3,22%
Ca. Glukonas 4 0,99%
Total 404 100
Sumber: data sekunder yang diolah (2018)
Berdasarkan tabel 16, jumlah obat yang diberikan kepada pasien yaitu 404
obat. Jenis obat yang banyak digunakan pada pengobatan pasien gagal ginjal yaitu
antihipertensi, suplemen kalsium, dan antianemia. Antihipertensi yang banyak
digunakan untuk pengobatan hipertensi pada pasien adalah furosemid yang
merupakan jenis loop diuretic. Furosemid yang merupakan loop diuretic adalah
diuretik yang paling banyak digunakan pada CKD terutama CKD stage 4-5.
Furosemid diberikan dengan dosis yang lebih besar pada pasien CKD karena
furosemid terikat 91% sampai 99% total protein sehingga dapat menghambat
diuresis (KDOQI Guidelines, 2012). Golongan obat kedua yang banyak
digunakan yaitu suplemen kalsium. Menurut Tomasello (2008), terhambatnya
44
Penggunaan obat gagal ginjal kronik pada pasien gagal ginjal kronik dengan
secara tepat dan efektif dan berperan penting dalam kesembuhan pasien dan
mengurangi kejadian DRPs.
Tabel 17. Distribusi dan gambaran potensi DRPs pada terapi Gagal Ginjal Kronik dengan
Hemodialisis di RSUD Dr. Moewardi Surakarta tahun 2014
No. Kategori Drps Jumlah kasus Persentase
1 Dosis terlalu rendah 10 13,70%
2 Dosis terlalu tinggi 0 0%
3 Interaksi obat 0 0%
4 Obat tanpa indikasi 0 0%
5 Terapi tepat 63 86,30%
Jumlah 73 100
Sumber: data sekunder yang diolah (2018)
Dosis obat yang terlalu rendah terlalu rendah dapat disebabkan karena
interval pemakaian obat terlalu panjang, durasi obat terlalu pendek, adanya
interaksi yang menyebabkan berkurangnya bioavaibilitas, sehingga efek terapi
yang diinginkan tidak tercapai. Pemberian obat dengan dosis kurang dapat
menyebabkan obat dalam keadaan subterapetik sehingga obat tidak dapat
memberikan efek terapi.
47
Pasien no. 4,6, 11, 14, 17, 23, 26, 27, 33, 44 diberikan terapi furosemid
dengan dosis 10 mg per hari. Sedangkan untuk dosis standar furosemide harus
diberikan 40 – 80 mg 2 x sehari.
Pada kasus ini dokter memberikan terapi furosemide dengan dosis terlalu
rendah dilihat dari kondisi pasien dimana kemungkinan kondisi pasien menjadi
faktor yang menyebabkan adanya pengurangan dosis saat pemberian terapi
sehingga terjadi perbedaan antara dosis pemberian dengan dosis standar. Menurut
JNC VII untuk pasien geriatri obat – obat yang digunakan harus dimuali dari
dosis yang paling kecil. Dosis yang diberikan harus sesuai dengan kondisi pasien.
Hal ini serupa dengan penelitian Stephanie Belaiche pada tahun 2010 pada
RS Universitas Grenoble, dimana terdapat 27 kejadian (28,4%) dari 69 kejadian
dosis pemberian dibawah dosis terapi. Obat kardiovaskular paling banyak terjadi
DRPs di bawah dosis terapi salah satunya adalah furosemide.
Menurut Sukandar (2011) dosis obat yang diberikan pada pasien gagal
ginjal kronik butuh penyesuaian yang hati – hati karena akumulasi dan toksisitas
dapat meningkat dengan cepat apabila dosis tidak disesuaikan pada pasien yang
mengalami penurunan fungsi ginjal.
Munar dan Singh (2007) menyatakan strategi untuk menyesuaikan dosis
pada pasien gagal ginjal dapat membantu dalam terapi obat individu dan
membantu meningkatkan keamanan obat. Metode yang direkomendasikan dalam
mengatur penyesuaian dosis adalah dengan mengurangi dosis, memperpanjang
interval dosis atau kombinasi keduanya.
2. Dosis terlalu tinggi
Hasil analisis terhadap catatan medik pasien gagal ginjal dengan
hemodialisis di Instalasi Rawat Inap RSUD Dr. Moewardi periode 2016
menunjukkan tidak adanya kejadian DRPs dosis terlalu tinggi.
Kategori DRPs dosis terlalu tinggi dapat disebabkan karena dosis tinggi
diberikan sebagai terapi sehingga memunculkan efek yang berlebihan, frekuensi
pemberian obat terlalu pendek sehingga terjadi akumulasi, durasi terapi
pengobatan terlalu panjang, interaksi obat dapat menghasilkan efek toksik, obat
diberikan atau dinaikkan dosisnya terlalu cepat.
48
A. Kesimpulan
Berdasarkan hasil penelitian yang dilakukan mengenai “Evaluasi Drug
Related Problems (DRPs) pada pasien Gagal Ginjal Kronik Dengan Hemodialisis
di Instalasi Rawat Inap RSUD Dr. Moewardi Surakarta Periode 2016”, dapat
disimpulkan sebagai berikut:
1. Karakteristik pasien Gagal Ginjal Kronik Dengan Hemodialisis berdasarkan
jenis kelamin, lama rawat inap, penyakit penyerta di RSUD Dr. Moewardi
periode 2016.
a. Distribusi pasien berdasarkan jenis kelamin, menunjukkan jumlah pasien
Gagal Ginjal Kronik Dengan Hemodialisis paling banyak yaitu dengan
jenis kelamin laki - laki sebanyak 41 pasien (56,16%)
b. Distribusi pasien berdasarkan lama rawat inap, paling banyak terjadi pada
rentan 3-5 hari yaitu 46 pasien (63,01%)
c. Distribusi pasien berdasarkan penyakit penyerta paling banyak
hipertensi 30 pasien (41,09%).
2. Profil penggunaan obat Gagal Ginjal Kronik Dengan Hemodialisis yang
digunakan pada terapi pasien Gagal Ginjal Kronik Dengan Hemodialisis di
Instalasi rawat inap RSUD Dr. Moewardi Surakarta periode 2016. Terapi
antihipertensi yaitu furosemide sebesar 8,64%, antibiotik yaitu ceftriaxone
sebesar 7,16%, antianemia yaitu asam folat sebesar 7,90%, suplemen kalsium
yaitu CaCO3 sebesar 9,38%.
3. Jenis DRPs yang tejadi pasien Gagal Ginjal Kronik Dengan Hemodialisis di
Instalasi Rawat Inap RSUD [Link] Surakarta periode 2016 yang
ditemukan 73 kasus DRPs adalah dosis terlalu rendah 13,70%, dosis terlalu
tinggi 0%, interaksi obat 0%, obat tanpa indikasi 0%.
51
52
B. Keterbatasan Penelitian
Penelitian ini dilakukan dengan beberapa keterbatasan penelitian yang
dengan keterbatasan tersebut data berpengaruh terhadap hasil penelitian.
Keterbetasan-jeterbatasan yang ada dalam penelitian ini adalah sebagai berikut:
1. Jumlah sampel penelitian terbatas
2. Mengamati pasien tidak secara langsung karena menggunakan metode
penilitian retrospektif sehingga membatasi kemampuan untuk mengumpulkan
data
3. Beberapa data rekam medik tidak lengkap sehingga menyebabkan kesulitan
untuk menyimpulkan kejadian DRPs
4. Penulisan di dalam rekam medik yang kurang jelas sehingga membuat peneliti
susah dalam menafsirkan dikhawatirkan akan terjadi salah pembacaan.
C. Saran
Berdasarkan hasil penelitian ini, maka dapat disarankan sebagai berikut:
1. Perlu dilakukan penelitian DRPs pada pasien Gagal Ginjal Kronik Dengan
Hemodialisis lebih lanjut dengan data prospektif mengenai penggunaan obat
pada pasien Gagal Ginjal Kronik Dengan Hemodialisis untuk mengamati
secara langsung pengembangan terapi pasien
2. Diharapkan penulisan data rekam medik lebih jelas dan lengkap untuk
menghindari kesalahan dalam membaca bagi peneliti berikutnya.
DAFTAR PUSTAKA
Aberg, J.A., Lacy,C.F, Amstrong, L.L, Goldman, M.P, and Lance, L.L., 2009,
Drug Information Handbook, 17th edition, Lexi-Comp for the American
Pharmacists Association.
Bare & Smeltzer. 2002. Buku Ajar Keperawatan Medikal Bedah Brunner &
Suddart .Ed ke-8. Volume ke [Link] A, penerjemah; Jakarta :EGC.
BNF, 2007. British National Formulary 57th ed., Lamberth High Street, London:
BMJ Group and RPS Publishing.
Cavanaugh K.L. 2007. Diabetes management issues for patients with chronic
kidney disease. Clinical Diabetes 25 Supl 3:90-98.
Chobanian A.V. Bakris G.L. Black H.R. Cushman W.C. Green L.A. Izzo J.L.
2003. The Seventh Report of The Joint National Committee on Prevention.
Detection. Evaluation. and Treatment of High Blood Pressure. JAMA.
Cipolle RJ, Strand LM, Morley PC. 2004. Pharmaceutical care practice The
clinician’s guide 2th edition. New York : Mc Graw – hill companies. Hlm
82-89. 113-117.
Cipolle RJ, Strand LM, Morley PC. 2012. Pharmaceutical Care Practice: The
Patient-Centered Approach to Medication Management Third Edition.
McGraw-Hill. New York.
Daugirdas JT, Blake PG, Ing TS. 2007. Handbook of Dialysis. Ed ke-4.
Philadelphia, Lipincott William & Wilkins.
53
54
DeBellis, R. J., Smith, B. S., Cawley, P. A., & Burniske, G. M, 2000, Drug Dosing in
Critically Ill Patients with Renal Failure: A Pharmacokinetic Approach,
University of Maryland Medical Center, Baltimore.
Dipiro JT, Tabelt RL, Yee GC, Matzkee GR, Wells BG, Posey LM. 2005.
Pharmacotherapy Handbook. Sevent edition. (pg 858). New York: MC
Graw Hill.
Dipiro J.T., Talbert R.I., Yee G.C., Wells B.G. and Posey L.M., 2008,
Pharmacotherapy A Pathophysiologic Approach, Seventh Ed., The
McGraw-Hill Companies, Inc. All rights reserved, United States of
Amerika.
Efendi, Ferry & Makhfud. (2009). Keperawatan Kesehatan Komunitas Teori dan
Praktik dalam Keperawatan. Jakarta : Salemba Medika.
Gunawan, M. 2009. Kajian Penggunaan Obat Pada Pasien Gagal Ginjal Kronik
Non Hemodialisa di Instalasi Rawat Inap Rumah Sakit Panti Rapih
Yogyakarta Tahun 2000-2001: Pola Peresepan, Evaluasi Kontraindikasi,
dan Penyesuaian Dosis. Skripsi. Universitas Sanata Dharma. Yogyakarta.
Joy, M.S., Kshiragar, A., & Franceschini, N. 2008. Chronic Kidney Disease:
Progression-Modifying Therapies. In Joseph TD et al. Pharmacotherapy A
Pathophysiologic Approach. 6th edition. Philadelphia: Appleton and
Lange.
Katzung, B. G., dan Trevor, A. J., 2004, Buku Bantu Farmakologi, diterjemahkan
oleh Staf Pengajar, Laboratorium Farmakologi, Fakultas Kedokteran dan
Universitas Sriwijaya, Cetakan I, Penerbit Buku Kedokteran EGC, Jakarta.
KDIGO. 2012. Clinical Practice Guideline for The Evaluation and Management
of Chronic Kidney Disease. Kidney Disease Improving Global Outcomes
(KDIGO) CKD Work Group. Kidney Int Suppl 3:1-150.
Munar, M.Y., Singh, H., 2007, Drug Dosing Adjustments in Patients with Chronic
Kidney [Link] Family Physician;75(10).pp 1487-1496.
Quick, D.J., 1997, Managing Drug Supply, 2nd ed,Management Sciences for Health,
Kumarin Press, USA.
Rahayu. 2016. evaluasi penggunaan obat pada pasien gagal ginjal kronik dengan
hemodialisis di Instalasi Rawat Jalan Rumah Sakit Akademik Universitas
56
Stockley, I.H. 2009. Stockley’s Drug Interaction, Eighth Edition, 21, 144, 698,
700, 904, 920, 936, Pharmaceutical Press, London.
Supadmi W. 2011. evaluasi penggunaan obat anti hipertensi pada pasien gagal
ginjal kronik yang menjalani hemodialisis ⦋Jurnal Ilmiah Kefarmasian⦌.
Yogyakarta: Universitas Ahmad Dahlan.
Suwitra K. 2006. Penyakit Ginjal Kronik. (Dalam: Buku Ajar Ilmu Penyakit
Dalam Jilid II Halaman 1035-1040. Editor: Sudoyo A.W, dkk).
Trisa. 2015. evaluasi drug related problems pada pasien gagal ginjal kronik di
Rumah Sakit Pelabuhan Jakarta Utara ⦋Skripsi⦌. Jakarta: UIN Syarif
Hidayatullah.
Walker. R. and Edward C., 2003, Clinical Pharmacy And Therapeutics, Edisi 3,
Churchill Livingstone, USA.
Wibisono D. 2014. Deteksi Dini Menjaga Kualitas dan Fungsi Ginjal. Edisi 11.
Majalah Rumah Sakit Mitra Keluarga.
Yasin NM, Sunowo J, Supriyanti E. 2009. Drug Related Problems (DRPs) pada
pasien anak. Majalah Farmasi Indonesia. 20(1): 27-34.
57
LAMPIRAN
58
Usia BB Diagnosa/
No. L/P LOS Data Lab Terapi Yang Digunakan Jenis DRP Outcome
(tahun) (Kg) Keluhan Utama
1 L 65 58 4 hari CKD stage V Sebelum Tgl : 20/01/2016 - Interaksi Obat Membaik
dengan HD rutin, Cr : 8,5 mg/dL 24/01/2016
BPH Residu U : 101 mg/dL Inf. Martus 16 tpm
Inf. Netrosteril
Sesudah Inj. Omz 2x/ 24 jam
Cr : 12,0 mg/dL Inj. Ondansentron 8mg/ 8 jam
U : 127 mg/dL Inj. Furosemid 2 amp/8jam
Candesartan 4 mg 1-0-0
Amlodipin 10 mg 0-0-1
Prorenal 3 x 1
Cepoferazim 1 gr/ 24 j
Durogesic Patch 2,5 mg
Antrain 1 gr/ 8 jam
Cefoperazone 1 gr/ 8 jam
2 L 56 54 3 hari CKD stage V Sebelum Tgl : 20/01/2016 - Interaksi Obat Membaik
dengan HD rutin 23/01/2016
Cr : 17,1 mg/dL Vit. B12 500 mg/12j
U : 131 mg/dL Sp Insulin 50 UI + NS 50 ss
(GDS 12)
Sesudah Amlodipin 1 x 10 mg
Cr : 12,0 mg/dL Rampril 1 x 5 mg
U : 127 mg/dL CaCO3 3 x 1
As. Folat 1 x 800 mcg
Ca. Glukonas 1 gr
Ceftriaxone 2gr/ 24 j
PCT 1 gr
60
Inf. NaCl 0.9% 1 tpm micro
Usia BB Diagnosa/
No. L/P LOS Data Lab Terapi Yang Digunakan Jenis DRP Outcome
(tahun) (Kg) Keluhan Utama
Inj. Bicarbonat 100 mc 2 drop
Inj. D40%
61
5 P 57 5 hari CKD V HD rutin, Sebelum Tgl : 06/02/2016- 10/02/2016 - Membaik
Usia BB Diagnosa/
No. L/P LOS Data Lab Terapi Yang Digunakan Jenis DRP Outcome
(tahun) (Kg) Keluhan Utama
DM II, ISK, Cr : 3,2 mg/dL NaCl 0,9% 6 tpm
Pneumonia. U : 144 mg/dL EAS Primer 1 fls/24 j
Ceftriaxone 2 gr/24 j
Sesudah Metoklopramide 10 mg/ prn
Cr : 2,7 mg/dL CaCO3 1 gr/8 j
U :127 mg/dL As. Folat 800 mg/ 24 j
Lisinopril 2,6 gr/24 j
NAC 1
Santagesic 1 amp ( IV )
Aspilet 80 mg/24 j
Atorvastatin 20 mg/24 j ( 1
tab )
Carvedilol 3 mg 2 x 1
6 P 61 55 6 hari CKD V, CHF IV, Sebelum Tgl : 08/02/2016 - - Interaksi Obat Membaik
DM 13/02/2016 - Dosis
Cr : 12,3 mg/dL Amlodipin 2 x 5 mg Furosemid
U : 211 [Link] Iretenza 2 x 150 mg terlalu rendah
Clonidin3 x 0,15 mg
Sesudah Prorenal 2 x 2
Cr : 12,5 mg/dL OMZ 2 x1
U : 230 mg/dL Inf. Nefrosteril 1
CaCO3 1
ISDN
Inj. [Link] III
Candesartan 8 mg 1x1
Vit.K amp 3
Inj. Furosemid 1a 10mg
Polavit 1 x1
7 P 58 55 4 hari CKD stg V Sebelum Tgl : 26/01/2016- 29/01/2016 Interaksi Obat Membaik
62
Usia BB Diagnosa/
No. L/P LOS Data Lab Terapi Yang Digunakan Jenis DRP Outcome
(tahun) (Kg) Keluhan Utama
dengan HD rutin Cr : 4,3 mg/dL Inj. Furosemid 40 mg/8 j
U : 110 mg/mL Inf. RL 16 tpm micro
CaCO3 3 x 1
Sesudah NAC 3 x 200 mg
Cr : 6,3 mg/dL As. Folat 1 x 2 400 mcg
U : 129 mg/dL SP. Nepinefrin II amp
Inj. Metilprednison
EAS Primer 1 fls
Aspilet 80 mg
New diatab 2 tab/diare
Amlodipin 10mg ( 1 x 1 )
B Komp. 3 x 1
Ca. Glukonas 1 amp/24 j
Metronidazol 500 mg
Ceftriaxon 2 x 1 gr
8 L 56 48 4 hari CKD stg V Sebelum Tgl : 04/01/2016- 07/01/2016 Interaksi Obat Membaik
dengan HD, Cr : 18,8 mg/dL Inf. NaCl 0,9%
Dyspnea U : 247 mg/dL Inf. Kidmin
Inj. Ceftriaxon 2 gr
Sesudah Furosemid amp
Cr : 23,1 mg/dL Clonidin
U : 259 mg/dL Inj. Bicarbonat
As. Folat 800 mcg 1 x 1
CaCO3 3 x 1
Candesartan 16 mg
9 L 56 53 6 hari CKD stg V, Sebelum Tgl: 18/01/2016 - 23/01/2016 Interaksi Obat Membaik
Anemia + Cr : 5,5 mg/dL Inf. D5%
Hipokalemik. U : 260 mg/dL Inf. Kidmin
63
Inj. Furosemid 20 mg/8 j
Usia BB Diagnosa/
No. L/P LOS Data Lab Terapi Yang Digunakan Jenis DRP Outcome
(tahun) (Kg) Keluhan Utama
Sesudah CaCO3
Cr : 5,5 mg/dL As. Folat 400 mg 1 x 2
U : 253 mg/dL Candesartan 8 mg 1x1
Captopril 2x1
Albumin 20%
Vit.B komplek 2x1
Inj. Ceftriaxone 1 gr 2x1
NAC 200 mg 3x1
Itbesartan 300 mg 3x1
Inf. NaCL 0,9%
10 L 58 56 6 hari CKD stg V Sebelum Tgl : 26/01/2016- 31/01/2016 - Interaksi Obat Membaik
dengan HD rutin Cr : 18,8 mg/dL Inf. D5% - Dosis
tiap senin, U : 281 mg/dL Inj. Furosemid Furosemid
Dyspnea Candesartan 16 mg 1x1 terlalu rendah
Sesudah As. Folat 800 mg
Cr : 23,1 mg/dL Amlodipin 10 mg
U : 301 mg/dL Ramipril 5 mg
N. Asetilsystein tab
NaC 3x1
Inf. EAS Primer 1x1
11 L 58 55 5 hari CKD stg V Sebelum Tgl : 16/01/2016 - Dosis Membaik
dengan HD, Cr : 5,5 mg/dL Inf. Martos 16 tpm furosemid
Asma, Anemia U : 96 mg/dL Nefrosteril 1 tpm terlalu rendah
Furosemid inj 1 amp/ 8 j
Sesudah Ceftriaxon 1 gr/12 j
Cr : 5,5 mg/dL CaCO3 2 x 1
U : 127 mg/dL Metilprednisolon 1 cc/8 j
Nebu Ventolin
64
12 L 58 54 7 hari CKD stg V denga Sebelum Tgl : 28/01/2016 - Membaik
Usia BB Diagnosa/
No. L/P LOS Data Lab Terapi Yang Digunakan Jenis DRP Outcome
(tahun) (Kg) Keluhan Utama
HD rutin, HT + Cr : 16,3 mg/dL D5% 16 tpm
U : 212 mg/dL Kidmin 1 fls/hr
Nefrosteril 3x2
Sesudah NAC 3x1
Cr : 11,8 mg/dL CaCO3 3x1
U : 212 mg/dL Respiflow
Tgl : 31/01/2016 -
03/02/2016
65
CaCO3 3x1
Usia BB Diagnosa/
No. L/P LOS Data Lab Terapi Yang Digunakan Jenis DRP Outcome
(tahun) (Kg) Keluhan Utama
Tgl : 07/02/2016-10/02/2016
Inf. NaCl 0,9% 20 tpm
Inj. Ranitidin 50 mg/12 j
Inj. Vit.B12 1 amp/24 j
Wafarin 15 mg
Aspilet 30 mg 1x1
Furosemid 20 mg
Inj. Metoclopramid 1 amp
Kidmin
[Link] 1x2
CaCO3 3x1
14 P 61 51 6 hari CKD, Syok Sebelum Tgl : 10/02/2016- 16/02/2016 - Interaksi Obat Membaik
Sepsis - Dosis
Cr : 3,2 mg/dL Metilprednisolon 62,5/12 j furosemide
U : 217 mg/dL Prorenal 1 tab/8 j terlalu rendah
Bisolvon 1 amp/8 j
Sesudah Curcuma 3x1
Cr : 2,7 mg/dL EAS 1 fls/24 j
U : 205 mg /dL Ranitidin 50 mg/12 j
Flumocyl 3x1
Candesartan 1x1
Furosemid
Nebulizer 1 gr/8j
Nefrosteril
Kalitake
15 P 61 49 6 hari CKD dengan Sebelum Tgl : 26/01/2016- 01/02/2016 - Membaik
Dyspnea Cr : 8,6 mg/dL Inf. Martos 20 tpm
U : 211 mg/dL Nefrosteril 1 fls/hr
66
Furosemid 40 mg/8 j
Usia BB Diagnosa/
No. L/P LOS Data Lab Terapi Yang Digunakan Jenis DRP Outcome
(tahun) (Kg) Keluhan Utama
Sesudah Ondansentron 1x16 mg
Cr : 7,5 mg/dL D5%
U : 179 mg/dL Metilprednisolon 62,5 mg/12
j
HD pro 2x1
Prorenal 3x1
Ceftriaxon 1 gr/12 j
Clonidin 0,15(2x1)
Amlodipin 10 mg 1x1
New diatab 3x2
16 P 57 55 11 Hari CKD, Ca. Servix Sebelum Tgl : 25/03/2016 - Membaik
Cr : 12,6 mg/dL Inj. Ondansentron amp 1 gr/8
U : 155 mg/dL j
Bic. Nat
Sesudah NaCl
Cr : 9,3 mg/dL
U : 87 mg/dL
Tgl : 30/03/2016
Rampril Tab 10 mg 1x1
Tgl : 02/04/2016
Valsartan tab 60 mg 1x1
Furosemid amp 20 ( s 1 3 cc )
Inj. Ranitidin 1 amp/12 j
Inj. Ondansentron
Tgl : 04/04/2016 s/d
05/04/2016
Valsartan tab 60 mg 1x1
Furosemid amp 20 ( s 1 3 cc )
67
Usia BB Diagnosa/
No. L/P LOS Data Lab Terapi Yang Digunakan Jenis DRP Outcome
(tahun) (Kg) Keluhan Utama
68
Metamizol
Usia BB Diagnosa/
No. L/P LOS Data Lab Terapi Yang Digunakan Jenis DRP Outcome
(tahun) (Kg) Keluhan Utama
Tgl : 27-30/03/2016
Inf. EAS NAC 3 x
200 mg
Ramipril
69
Usia BB Diagnosa/
No. L/P LOS Data Lab Terapi Yang Digunakan Jenis DRP Outcome
(tahun) (Kg) Keluhan Utama
20 P 56 50 7 hari CKD stg V Sebelum Tgl : 02-08/05/2016 - Membaik
dengan HD, CHF Cr : 3,4 mg/dL Infus NaCl 0,9%
NYHA IV U : 27 mg/dL Inf. EAS primer 1 fls/24 j
Inj. Ceftriaxon
Sesudah Inj. OMZ 40 mg/12 j
Cr : 5,1 mg/dL Ulsafat Syr
U : 202 mg/dL CaCO3
As. Folat 800 mg
PCT 500 mg
Furocal 40 mg
21 L 63 60 5 hari CKD stg V Sebelum Tgl : 31/03/2016– 04/04/2016 - Membaik
dengan HD rutin, Cr : 7,1 mg/dL RL 14 tpm
Bronkopneumonia U : 113 mg/dL Ceftriaxon 2g/hr
Lasix 1 amp/hr
Sesudah Nefrosteril 1 fls/hr
Cr : 13,3 mg/dL PCT 1 gr extr IV
U : 105 mg/dL Vectrin 3x1 (po)
Prorenal 3x1
22 L 56 53 6 hari CKD dengan HD Sebelum Tgl : 30/03/2016 -03/04/2016 Interaksi Obat Membaik
Rutin Cr : 9,1 mg/dL Inf. EAS Primer 1 fls/hr
U : 161 mg/dL Inj. Furosemid 40 mg/24 j
NAC 200 mg/8 j
Sesudah As Folat
Cr : 7,1 mg/dL CaCO3 1 tab/8j
U : 103 mg/dL Candesartan 8 mg
ISDN
Simvastatin 1 x 20 mg
Tgl : 04/04/2016
70
Candesartan 8 mg
Usia BB Diagnosa/
No. L/P LOS Data Lab Terapi Yang Digunakan Jenis DRP Outcome
(tahun) (Kg) Keluhan Utama
Simvastatin 1 x 20 mg
Aspilet 80 mg
U – Block 1 tab/hr
23. L 61 54 4 hari CKD V, BPH, Sebelum Tgl 24-27/02/2016 Dosis Membaik
Hematuria Cr : 5,1 mg/dL OMZ Furosemid
U : 266 mg/dL Furosemid 10mg 1x1 terlalu rendah
Ceftriaxon
Sesudah As. Tranexamat 50 mg
Cr : 6,8 mg/dL Antrain
U : 162 mg/dL
24. P 56 51 7 hari CKD V, CHF Sebelum Tgl 2-8/01/2016 - Membaik
NYHA IV Cr : 3,4 mg/dL Infus NaCl 0,9%
U : 27 mg/dL Inf. EAS primer 1 fls/24 j
Inj. Ceftriaxon
Sesudah Inj. OMZ 40 mg/12 j
Cr : 5,1 mg/dL Ulsafat Syr
U : 202 mg/dL CaCO3
As. Folat 800 mg
PCT 500 mg
Furocal 40 mg
71
Usia BB Diagnosa/
No. L/P LOS Data Lab Terapi Yang Digunakan Jenis DRP Outcome
(tahun) (Kg) Keluhan Utama
Tgl : 06-10/12/2016
Inf. NaCl 0,9% 1 fls
Inf. EAS Primer 1 fls/ 24 j
Ceftriaxone 2 gr/24 j
As. Folat 800 mg/hr
CaCO3 3x1
26 L 56 52 5 hari CKD, Hernia Sebelum Tgl : 09/12/2016 - Interaksi Obat Membaik
Cr : 6,1 mg/dL EAS Primer 1 fls/24 j - Dosis
U : 135 mg/dL Ca. Gluconat furosemide
KSR 1 tab / 8j terlalu rendah
Sesudah
Tgl : 10-11/12/2016
Cr : 7,7 mg/dL
U : 172 mg/dL
NAC 200 mg/ 8j
CaCO3
Anemolat 1 mg/24 j
Tgl : 12/12/2016
KCl 50 meq dlm Nr 0,9% 16
fls
Furosemid 1 a 10 mg
Tgl : 13/12/2016
Ceftriaxon 2 gr/hr
Ranitidin 50 mg/12 j
Metamizole 1 gr/8 j
CaCO3 1 tab/24 j
Furosemid 40 mg/24 j
72
Usia BB Diagnosa/
No. L/P LOS Data Lab Terapi Yang Digunakan Jenis DRP Outcome
(tahun) (Kg) Keluhan Utama
KCl extra 25 mg/ 24 j
Amlodipin 10 mg/24 j
73
Sesudah PCT 1 gr/12 j
Usia BB Diagnosa/
No. L/P LOS Data Lab Terapi Yang Digunakan Jenis DRP Outcome
(tahun) (Kg) Keluhan Utama
Cr : 10,1 mg/dL Nefrosteril 1 btl/hr
U : 129 mg/dL Esofer 40 mg/hr
Metronidazol
Methylprednisolon 20 mg/8 j
Prorenal 3x1
Sucralfat 3x1
29 P 64 60 4 hari CKD stg V Sebelum Tgl : 18-21/05/2016 Interaksi Obat Membaik
Cr : 7,0 mg/dL NaCl 0,9%
U : 132 mg/dL EAS
Furosemid 20 mg
Sesudah Prosogan 30 mg/12 j
Cr : 10,6 mg/dL Ondansentron 8 mg/8j
U : 176 mg/dL New diatab 3x1/prn
Candesartan 16 mg/24j
Clonidin 0,5 mg/12 j
30 P 59 54 6 hari CKD V, ISK Sebelum Tgl : 11-14/05/2016 Interaksi Obat Membaik
Cr : 1,5 mg/dL RL
U : 90 mg/dL Ranitidin
Inj. OMZ
Sesudah Inj. Levofloxacin
Cr : 1,8 mg/dL EAS Primer
U : 122 mg/dL NAC
Tgl : 15-16/05/2016
RL
NAC
CaCO3
KSR
74
Inj. OMZ
Usia BB Diagnosa/
No. L/P LOS Data Lab Terapi Yang Digunakan Jenis DRP Outcome
(tahun) (Kg) Keluhan Utama
Inj. EAS Primer
Inj. Metoclopramide
Inj. Levofloxacin
31 L 65 52 4 hari CKD V, CHF Sebelum Tgl : 30/10/2016 – - Membaik
02/11/2016
Cr : 3,1 mg/dL Inf. D5% 20 tpm
U : 108 mg/dL EAS 1 fls/24 j
Inj. Furosemid 2 a/8 j
Sesudah OMZ 1a/12 j
Cr : 4,7 mg/dL Ondansentron 8 mg/8j
U : 190 mg/dL NAC 3x1
75
Usia BB Diagnosa/
No. L/P LOS Data Lab Terapi Yang Digunakan Jenis DRP Outcome
(tahun) (Kg) Keluhan Utama
Cr : 9,0 mg/dL [Link] 800 mg/24 j
U : 71 mg/dL NAC 1 tab/8 j
CaCO3 1 tab / 8 j
34 L 63 50 7 hari CKD stg V, Sebelum Tgl : 10-17/05/2016 Interaksi Obat Membaik
Cardiac arrert Cr : 9,6 mg/dL D5% 20 tpm micro
U : 131 mg/dL Nefrosteril 1 fls/hr
Inj. OMZ 1a/12 j
Sesudah Inj. Ondansentron 8 mg/8 j
Cr : 15,5 mg/dL Inj. Furosemid 40 mg/8 j
U : 137 mg/dL Kalitake 2x1
Clonidin 0,15 mg 2x1
Amlodipin 10 mg (1x1)
Candesartan 1x16 mg
CaCO3 3x1
35 L 57 55 5 hari CKD stg V Sebelum Tgl : 18-22/07/2016 - Membaik
dengan HD Cr : 7,5 mg/dL Inf. NaCl 0,9% 18 tpm
U : 127 mg/dL Inj. Vit. B12 500 mg/12 j
Inj. Ranitidin 50 mg/12 j
Sesudah Fenitoin 100 mg/12 j
Cr : 6,8 mg/dL As. Folat 1 tab/24 j
U : 67 mg/dL Aspilet
Candesartan
NAC 3x200 mg
36 L 58 45 4 hari CKD stg V, Sebelum Tgl : 02-05/06/2016 - Membaik
Hipergllikemik Cr : 6,4 mg/dL Inf. D5% + 12,5 inj. Insulin
U : 91 mg/dL Inj. Furosemid 40 mg/8 j
NAC 20 mg 3x1
Sesudah Kalitake 3x1
76
Cr : 5,3 mg/dL OMZ 40 mg/12 j
Usia BB Diagnosa/
No. L/P LOS Data Lab Terapi Yang Digunakan Jenis DRP Outcome
(tahun) (Kg) Keluhan Utama
U : 114 mg/dL As. Folat
Amlodipin 10 mg (0-0-1)
37 L 59 52 7 hari CKD stg V Sebelum Tgl : 23-29/12/2016 - Membaik
dengan HD rutin Cr : 5,1 mg/dL Inf. EAS Primer 1 fls/24 j
U : 131 mg/dL NAC 200 mg 3x1
As. Folat 10 mg 1x1
Sesudah CaCO3 3x1
Cr : 7,7 mg/dL
U : 127 mg/dL
38 P 64 59 3 hari CKD stg V, Sebelum Tgl : 18-21/08/2016 Interaksi Obat Membaik
Anemia Cr : 5,5 mg/dL D5%
U : 38 mg/dL Furosemid 20 mg/8 j
Nefrosteril 1 fls
Sesudah Prorenal 3x2
Cr : 6,1 mg/dL Inj. Kalnex 500 mg/8j
U : 119 mg/dL Alprazolam 0,5 mg
Inj. Ceftriaxon 1gr/2 amo
Inj. Metronidazol 500 mg 1
fls/8j
Inj. Ketorolac 30 mg 1
amp/12 j
Ondansentron 8mg/ 8 j
Sanmol
39 P 56 55 5 hari CKD stg V Sebelum Tgl : 26-30/06/2016 - Membaik
dengan HD Cr : 7,8 mg/dL D5% 16 fls/24 j
U : 111 mg/dL Sucralfat
Metoclopramid 1amp/8 j
Sesudah OMZ 40 mg
77
Usia BB Diagnosa/
No. L/P LOS Data Lab Terapi Yang Digunakan Jenis DRP Outcome
(tahun) (Kg) Keluhan Utama
Cr : 10,3 mg/dL CaCO3 1 tab/8 j
U : 64 mg/dL As. Folat
40 L 56 44 4 hari CKD stg V , Sebelum Tgl : 06-10/10/2016 Interaksi Obat Membaik
Anemia Cr : 14,6 mg/dL Inf. NaCl 0,9% 20 tpm
U : 98 mg/dL Inf. EAS Primer
Furosemid 20 mg/8 j
Sesudah Ceftraxone 2g/24 j
Cr : 11,0 mg/dL CaCO3 3x1
U : 188 mg/dL As. Folat 1x1
Amlodipin 10 mg 1x1
Furosemid 40 mg ekstra
Bic. Nat 2 bolus
41 P 63 52 5 hari CKD stg V Sebelum Tgl : 21/12/2016 - Membaik
dengan HD rutin, Cr : 6,6 mg/dL D5% 16 fls
Hiperkalemia U : 86 mg/dL Furosemid 20 mg/8 j
berat, Anemia Ranitidin
Sesudah Metoclopramid
Cr : 7,9 mg/dL CaCO3 3x1
U : 124 mg/dL As. Folat 1x2
Clonidin
Tgl : 22-25/12/2016
D5% 16 fls
Furosemid 20 mg/8 j
Metoclopramid
CaCO3 3x1
As. Folat 1x2
Clonidin
42 L 58 56 5 hari CKD stg V, Sebelum Tgl : 16-20/10/2016 Interaksi Obat Membaik
78
Usia BB Diagnosa/
No. L/P LOS Data Lab Terapi Yang Digunakan Jenis DRP Outcome
(tahun) (Kg) Keluhan Utama
edema paru Cr : 5,2 mg/dL NaCl 0,9% 16 tpm
U : 177 mg/dL Prosogan 30 mg/24 j
Ondansentron 8 mg/ 8 j
Sesudah Novalgin 1 amp/8 j
Cr : 7,0 mg/dL Ceftriaxon 1 gr/12 j
U : 216 mg/dL Furosemid (sebelum transfusi)
Extra Dexametason 1 amp
Candesartan
Kalnex 1 amp/8 j
Vit.K
PCT extra 1 g
Durogesic patch 25 mg/3hari
( tempel di dada )
43 P 59 55 3 hari CKD stg V Sebelum Tgl : 17-20/10/2016 - Membaik
Cr : 10,1 mg/dL D5% 20 tpm
U : 291 mg/dL EAS Primer
Candesartan
Sesudah Furosemid 20 mg
Cr : 14,6 mg/dL Anemolat
U : 301 mg/dL NAC 1 tab/ 8 j
CaCO3 1 tab/8 j
44 P 61 48 6 hari CKD stg V ec Sebelum Tgl : 21-25/10/2016 - Interaksi Obat Membaik
neuropati Cr : 3,3 mg/dL Inf. NaCl 0,9% - Dosis
obstruksi, Ca. U : 141 mg/dL Inj. Furosemid 10 mg 1a furosemide
Servix, Anemia Inj. Ca. Gloconas 1 amp/24 j terlal rendah
Sesudah EAS Primer 1 fls/24 j
Cr : 6,4 mg/dL As. Folat
U : 193 mg/dL CaCO3 1 tab/8 j
79
Usia BB Diagnosa/
No. L/P LOS Data Lab Terapi Yang Digunakan Jenis DRP Outcome
(tahun) (Kg) Keluhan Utama
NAC 1 tab/8 j
Amlodipin 5 mg/ 24 j
As. Tranexamat extr 500
mg/8 j
Tgl : 26/10/2016
Inf. NaCl 0,9%
Inj. Furosemid
EAS Primer 1 fls/24 j
[Link]. Tranexamat 1amp/8 j
Inj. Vit. K 1 amp/8 j
Inj. Ceftriaxon 2gr/24 j
CaCO3 1 tab/8j
NAC 1 tab/8 j
As. Folat 2 tab
45 L 64 65 7 hari CKD stg V Sebelum Tgl : 01-07/10/2016 - Membaik
dengan HD, Cr : 11,8 mg/dL Inf. NaCl 0,9% 20 tpm
Osteoatritis U : 127 mg/dL Ceftriaxon 2gr/24 j
Prosogan 30 mg/24 j
Sesudah Ondansentron 8 mg/8j
Cr : 9,3 mg/dL Nefrosteril 1 fls/hr
U : 61 mg/dL SNMC 1 amp/12 j
Prorenal 2 tab
46 P 56 57 4 hari CKD stg V, Sebelum Tgl : 05/10/2016 Interaksi Obat Membaik
Hipokalemia, Cr : 8,5 mg/dL Inf. RL 20 tpm
Anemia U : 112 mg/dL Lasix 20 mg/ 24 j
Alupurinol 100 mg 1x1
Sesudah Furosemid 40 mg
Cr : 12,0 mg/dL Spirinolacton 100 mg 2-0-0
80
Usia BB Diagnosa/
No. L/P LOS Data Lab Terapi Yang Digunakan Jenis DRP Outcome
(tahun) (Kg) Keluhan Utama
U : 144 mg/dL
Tgl : 06-08/10/2016
Inf. RL 20 tpm
Lasix 20 mg/ 24 j
Alupurinol 100 mg 1x1
Spirinolacton 100 mg 2-0-0 (
pagi )
47 L 62 55 3 hari CKD V dengan Sebelum Tgl : 28-31/10/2016 Interaksi Obat Membaik
HD, CHF NYHA Cr : 9,7 mg/dL Inf. NaCl 0,9%
IV U : 115 mg/dL EAS Primer
Inj. Ceftriaxon 2 gr/24 j
Sesudah Furosemid 20 mg/8 j
Cr : 11,0 mg/dL Clonidin 0,5 mg/12 j
U : 97 mg/dL Inj.D5% + insulin 2 fls/24 j (
extra )
Candesartan 16 mg/24 j
NAC 200 mg/8 j
Levofloxacin
Kalitake
Nebulizer Ventolin/12 j
48 P 62 53 4 hari CKD stg V Sebelum Tgl : 04-08/10/2016 - Membaik
Cr : 14,5 mg/dL Inf. NaCl 0,9% 20 tpm
U : 119 mg/dL D5% 20 tpm
EAS Primer 1 fls/24 j
Sesudah Inj. Ciprofloxacin
Cr : 12,1 mg/dL Inj. OMZ 40 mg/12 j
U : 120 mg/dL Inj. Vit. K 1 amp/8 j
81
Inj. As. Tranexamat 1 amp/8 j
Usia BB Diagnosa/
No. L/P LOS Data Lab Terapi Yang Digunakan Jenis DRP Outcome
(tahun) (Kg) Keluhan Utama
Sucralfat
As. Folat 800 mg/24 j
Buscopan 1amp
Domperidon 10 mg/8j
[Link] 200 mg 3x1
(oral)
Amlodipin 5 mg/24 j
49 P 58 56 3 hari CKD stg V Sebelum Tgl : 02-05/10/2016 Interaksi Obat Membaik
dengan HD rutin Cr : 6,6 mg/dL D5% 500 cc 16 tpm
U : 121 mg/dL EAS Primer 1 fls/hr
Furosemid 40 mg/8j (IV)
Sesudah Prosogan 30 mg/hr
Cr : 8,2 mg/dL [Link] 800 mcg 1x1
U : 140 mg/dL CaCO3 3x1
Amlodipin 1x10 mg
Clonidin 0,15 mg (2x1)
Candesartan 1x16 mg
50 P 64 52 4 hari CKD stg V Sebelum Tgl : 20/08/2016 Interaksi Obat Membaik
dengan HD rutin Cr : 5,5 mg/dL D5% 20 tpm
U : 260 mg/dL Furosemid 20 mg/8j
Nefrosteril 250ml/24 j
Sesudah Ketorolac 30 mg/12 j
Cr : 3,0 mg/dL Kalnex 500 mg/8j
U : 253 mg/dL Prorenal 3x2
Ceftriaxon 1gr/12 j
Metronidazol 500mg/8j
Ondansentron 8 mg/8 j
Tgl : 21-24/08/2016
82
D5% 20 tpm
Usia BB Diagnosa/
No. L/P LOS Data Lab Terapi Yang Digunakan Jenis DRP Outcome
(tahun) (Kg) Keluhan Utama
Furosemid 20 mg/8j
Nefrosteril 250ml/24 j
Ketorolac 30 mg/12 j
Kalnex 500 mg/8j
Prorenal 3x2
Ceftriaxon 1gr/12 j
Ondansentron 8 mg/8 j
51 L 61 48 3 hari CKD stg V pro Sebelum Tgl : 12-15/08/2016 - Membaik
akses vascular pro Cr : 11,4 mg/dL NaCl 0,9% 20 tpm
HD rutin U : 155 mg/dL Nefrosteril 1 fls/hr
Prorenal 3x1
Sesudah Amlodipin 10 mg (1-0-0)
Cr : 12,0 mg/dL Candesartan 16 mg (0-0-1)
U : 179 mg/dL
83
Usia BB Diagnosa/
No. L/P LOS Data Lab Terapi Yang Digunakan Jenis DRP Outcome
(tahun) (Kg) Keluhan Utama
Cr : 10,4 mg/dL Extra D5% 1 fls
U : 105 mg/dL
Tgl : 3-8/11/2016
NaCl 0,9%
EAS Primer
Ceftriaxon
Metamizol 500 mg
Difenhidramin 10 mg (IV)
CaCO3 1 tab/8 j
As. Folat
56 L 63 56 4 hari CKD V, CHF Sebelum Tgl : 19-23/5/2016 - Membaik
84
Usia BB Diagnosa/
No. L/P LOS Data Lab Terapi Yang Digunakan Jenis DRP Outcome
(tahun) (Kg) Keluhan Utama
Cr : 3,1 mg/dL Inf. D5% 20 tpm
U : 108 mg/dL EAS 1 fls/24 j
Inj. Furosemid 2 a/8 j
Sesudah OMZ 1a/12 j
Cr : 4,7 mg/dL Ondansentron 8 mg/8j
U : 190 mg/dL NAC 3x1
57 L 63 50 5 hari CKD stg V Sebelum Tgl : 21-25/04/2016 - Membaik
dengan HD rutin Cr : 5,1 mg/dL Inf. EAS Primer 1 fls/24 j
U : 131 mg/dL NAC 200 mg 3x1
As. Folat 10 mg 1x1
Sesudah CaCO3 3x1
Cr : 7,7 mg/dL
U : 127 mg/dL
58 P 56 52 6 hari CKD stg V Sebelum Tgl : 02-08/05/2016 - Membaik
dengan HD, HT + Cr : 7,8 mg/dL D5% 16 fls/24 j
U : 111 mg/dL Sucralfat
Metoclopramid 1amp/8 j
Sesudah OMZ 40 mg
Cr : 10,3 mg/dL CaCO3 1 tab/8 j
U : 64 mg/dL As. Folat
59 L 62 56 7 hari CKD stg V Sebelum Tgl : 02-09/05/2016 - Membaik
dengan HD, Cr : 11,8 mg/dL Inf. NaCl 0,9% 20 tpm
Osteoatritis U : 127 mg/dL Ceftriaxon 2gr/24 j
Prosogan 30 mg/24 j
Sesudah Ondansentron 8 mg/8j
Cr : 9,3 mg/dL Nefrosteril 1 fls/hr
U : 61 mg/dL SNMC 1 amp/12 j
Prorenal 2 tab
85
Usia BB Diagnosa/
No. L/P LOS Data Lab Terapi Yang Digunakan Jenis DRP Outcome
(tahun) (Kg) Keluhan Utama
60 L 61 54 3 hari CKD stg V , HT + Sebelum Tgl : 18-21/08/2016 - Membaik
Cr : 11,4 mg/dL NaCl 0,9% 20 tpm
U : 155 mg/dL Nefrosteril 1 fls/hr
Prorenal 3x1
Sesudah Amlodipin 10 mg (1-0-0)
Cr : 12,0 mg/dL Candesartan 16 mg (0-0-1)
U : 179 mg/dL
61 L 61 52 4 hari CKD stg V Sebelum Tgl : 02-06/08/2016 - Membaik
Cr : 7,7 mg/dL Inf. Martos
U : 113 mg/dL NAC 20mg/8 j
Amlodipin 10 mg/12 j
Sesudah Extra D40% 2 fls
Cr : 10,4 mg/dL Extra D5% 1 fls
U : 105 mg/dL
86
Usia BB Diagnosa/
No. L/P LOS Data Lab Terapi Yang Digunakan Jenis DRP Outcome
(tahun) (Kg) Keluhan Utama
U : 64 mg/dL As. Folat
64 L 58 53 6 hari CKD stg V denga Sebelum Tgl : 14-20/09/2016 - Membaik
HD rutin, HT + Cr : 16,3 mg/dL D5% 16 tpm
U : 212 mg/dL Kidmin 1 fls/hr
Nefrosteril 3x2
Sesudah NAC 3x1
Cr : 11,8 mg/dL CaCO3 3x1
U : 212 mg/dL Respiflow
Tgl : 31-5/09/2016
NaCl 0,9%
EAS Primer
Ceftriaxon
87
Usia BB Diagnosa/
No. L/P LOS Data Lab Terapi Yang Digunakan Jenis DRP Outcome
(tahun) (Kg) Keluhan Utama
Metamizol 500 mg
Difenhidramin 10 mg (IV)
CaCO3 1 tab/8 j
As. Folat
67 L 63 56 5 hari CKD stg V Sebelum Tgl : 09-13/12/2016 - Membaik
dengan HD rutin Cr : 5,1 mg/dL Inf. EAS Primer 1 fls/24 j
U : 131 mg/dL NAC 200 mg 3x1
As. Folat 10 mg 1x1
Sesudah CaCO3 3x1
Cr : 7,7 mg/dL
U : 127 mg/dL
68 L 61 59 4 hari CKD stg V Sebelum Tgl 15-19/08/2016 - Membaik
Cr : 7,7 mg/dL Inf. Martos
U : 113 mg/dL NAC 20mg/8 j
Amlodipin 10 mg/12 j
Sesudah Extra D40% 2 fls
Cr : 10,4 mg/dL Extra D5% 1 fls
U : 105 mg/dL
69 L 62 56 7 hari CKD stg V Sebelum Tgl : 13-19/10/2016 - Membaik
dengan HD, Cr : 11,8 mg/dL Inf. NaCl 0,9% 20 tpm
Osteoatritis U : 127 mg/dL Ceftriaxon 2gr/24 j
Prosogan 30 mg/24 j
Sesudah Ondansentron 8 mg/8j
Cr : 9,3 mg/dL Nefrosteril 1 fls/hr
U : 61 mg/dL SNMC 1 amp/12 j
Prorenal 2 tab
70 P 56 51 6 hari CKD stg V Sebelum Tgl : 23-29/06/2016 - Membaik
dengan HD, HT + Cr : 7,8 mg/dL D5% 16 fls/24 j
88
Usia BB Diagnosa/
No. L/P LOS Data Lab Terapi Yang Digunakan Jenis DRP Outcome
(tahun) (Kg) Keluhan Utama
U : 111 mg/dL Sucralfat
Metoclopramid 1amp/8 j
Sesudah OMZ 40 mg
Cr : 10,3 mg/dL CaCO3 1 tab/8 j
U : 64 mg/dL As. Folat
71 P 56 54 7 hari CKD V dengan Sebelum Tgl : 17-18/08/2016 - Membaik
CHF Cr : 9,5 mg/dL Inj. Metamizole
U : 72 mg/dL CaCO3
As. Folat
Sesudah Inj. Difenhidramin
Cr : 2,3 mg/dL Ranitidin
U : 80 mg/dL
Tgl : 19-24/08/2016
NaCl 0,9%
EAS Primer
Ceftriaxon
Metamizol 500 mg
Difenhidramin 10 mg (IV)
CaCO3 1 tab/8 j
As. Folat
72 L 62 57 7 hari CKD stg V Sebelum Tgl : 17-24/08/2016 - Membaik
dengan HD, Cr : 11,8 mg/dL Inf. NaCl 0,9% 20 tpm
Osteoatritis U : 127 mg/dL Ceftriaxon 2gr/24 j
Prosogan 30 mg/24 j
Sesudah Ondansentron 8 mg/8j
Cr : 9,3 mg/dL Nefrosteril 1 fls/hr
U : 61 mg/dL SNMC 1 amp/12 j
89
Usia BB Diagnosa/
No. L/P LOS Data Lab Terapi Yang Digunakan Jenis DRP Outcome
(tahun) (Kg) Keluhan Utama
Prorenal 2 tab
73 L 63 61 5 hari CKD V, CHF Sebelum Tgl : 18-23/06/2016 - Membaik
Cr : 3,1 mg/dL Inf. D5% 20 tpm
U : 108 mg/dL EAS 1 fls/24 j
Inj. Furosemid 2 a/8 j
Sesudah OMZ 1a/12 j
Cr : 4,7 mg/dL Ondansentron 8 mg/8j
U : 190 mg/dL NAC 3x1
90
91