Rencana Perancangan Mixed Use Building
Rencana Perancangan Mixed Use Building
Kata Pengantar
Puji syukur kehadirat Tuhan Yang Maha Esa karena atas segala rahmat dan karunia-Nya Penulis dapat menyelesaikan Modul 1 – Laporan Studi
DA 4 ini dengan tepat waktu. Laporan ini disusun sebagai salah satu tahapan merancang dan perencanaan Mixed Use Building dengan fungsi
Kantor, Kafe, dan Gallery. Tidak lupa juga penulis ucapkan terimakasih kepada Ibu [Link]. Novi Sunu Sri Giriwati ST., MSc. Selaku dosen
pembimbing yang telah membimbing penulis dalam menulis laporan ini.
Harapan penulis dengan disusunnya Laporan Modul 1 ini adalah semoga dapat menambah wawasan dan pengetahuan bagi penulis khususnya dan
pembaca pada umumnya. Penulis menyadari bahwa masih banyak kekurangan dalam penyusunan Modul 1 – Laporan studi Awal DA 4 ini, baik
dari segi materi maupun Teknik penyajiannya. Hal ini, semata-mata karena penulis yang masih terus berusaha untuk memperluas dan mendapatkan
sebanyak-banayknya wawasan. Intuk itu, penulis berharap kritik dan saran yang dapat membangun untuk menyempurnakan tahap merancang dan
perencanaan Mixed Use Building kedepannya.
Penulis,
1
Daftar Isi
Kata Pengantar
Daftar Isi
Bab 1 Tinjauan Literatur
1.1. Mix Used Building
1.1.1. Pengertian
1.1.2. Karakteristik Mix Used Building
1.1.3. Manfaat Pembangunan Mix Used Building
1.1.4. Tata Letak Mix Used Building
1.2. Kajian Kantor
1.2.1. Pengertian
1.2.2. Fungsi Kantor
1.2.3. Jenis-jenis Kantor
1.2.4. Kriteria Ruang Kantor
1.2.5. Standar Kebutuhan Ruang Kantor
1.3. Tinjauan Umum Art Gallery
1.3.1. Art Gallery secara umum
1.3.2. Fungsi Art Gallery
1.3.3. Macam Art Gallery
1.3.4. Alur Sirkulasi Art Gallery
1
1.3.5. Standar Kebutuhan Art Gallery
1.4. Tinjauan Umum Restoran
1.4.1. Pengertian restaurant
1.4.2. Tujuan restaurant
1.4.3. Jenis-jenis restaurant
1.5. Tinjauan Coffee Shop
Bab 2 Kajian Preseden
2.1. Kajian Presedent 1
2.1.1. Data Proyek Bangunan
2.1.2. Fungsi Bangunan
2.1.3. Organisasi ruang
2.1.4. Konteks Urban
2.1.5. Struktur & Bentuk Bangunan
2.1.6. Sistem Keselamatan dan Utilitas
2.1.7. Bangunan Ramah Lingkungan
2.1.8. Aksesibilitas
2.1.9. Tekno Ekonomi Bangunan
2.2. Kajian Presedent 2
2.2.1. Data Proyek Bangunan
2.2.2. Fungsi Bangunan
1
2.2.3. Organisasi ruang
2.2.4. Konteks Urban
2.2.5. Struktur & Bentuk Bangunan
2.2.6. Sistem Keselamatan dan Utilitas
2.2.7. Bangunan Ramah Lingkungan
2.2.8. Aksesibilitas
2.2.9. Tekno Ekonomi Bangunan
Bab 3 Kajian Tapak Terpilih
3.1. Kajian Tapak Terpilih
3.1.1. Eksisting Lingkungan
3.1.2. Aksesibilitas Tapak
3.1.3. Utilitas Tapak
3.1.4. Topografi
3.1.5. Vegetasi Eksisting
3.1.6. Cuaca Iklim Setempat
3.2. Kajian Regulasi Tapak
3.3. Kajian Isu Tapak
Bab 4 Grand Concept
4.1. Grand Konsep
4.2. Rencana Kebutuhan Ruang dan Fasilitas
1
COVER
1
Bab I
Tinjauan Literatur
1.1. Mixed Use Building
1.1.1. Pengertian
• Dalam konteks urban, bangunan tinggi multi fungsi, dikenal dengan istilah "mixed-use building" adalah suatu bangunan yang meng-
akomodasi beberapa fungsi sekaligus.
• Mixed Use Merupakan penggunaan campuran berbagai tata guna lahan atau fungsi dalam bangunan. (Dimitri Procos.1976)
• Mixed Use Center adalah suatu kompleks dimana terdapat berbagai fungsi kegiatan termasuk hotel, pusat konveksi, apartemen dan
perumahan, perkantoran, pusat perbelanjaan dan pusat kebudayaan lainnya. (Dudley H. William, Encyclopedia of American Architecture)
Jadi dapat disimpulkan Mixed Use Building adalah bangunan yang memiliki fungsi dasar yang berbeda jenisnya sehingga memerlukan organisasi
ruang yang baik.
1
1.1.2. Karakteristik Mixed Use Building
Ciri-ciri bangunan Mix Use adalah sebagai berikut :
a. Mewadahi 3 fungsi urban atau lebih, misalnya terdiri dari retail, perkantoran, hunian hotel dan entertaintment.
b. Terjadinya integrasi dan sinergi fungsional
c. Terdapat ketergantungan kebutuhan masing-masing fungsi di dalamnya.
d. Kelengkapan fasilitas yang tinggi, memberikan kemudahan bagi pengunjungnya
e. Peningkatan kualitas fisik lingkungan
f. Efisienfi pergerakan karena adanya pengelompokan berbagai fungsi.
a. Mendorong tumbunhnya kegiatan yang beragam secara terpadu dalam suatu wadahsecara
memadai.
b. Menghasilkan sisteam sarana dan prasarana yang lebih efisien dan ekonomis
c. Memperbaiki sistem sirkulasi
d. Mendorong pemisahan yanh jelas antara sistem transportasi
e. Memberikan kerangka yang luas bagi inovasi perancangan bangunan dan lingkungan
1
1.1.4. Tata Letak Mixed Use Building
Tata letak dalam sebuah kawasan atau bangunan mixed use sangat mempengaruhi bentuk dan koneksi antar fungsinya. Sebuah kawasan atau
bangunan mixed use dapat dikatakan sukses apabila mampu menghubungkan beberapa fungsi dengan baik. Terdapat 4 (empat) konfigurasi tata
letak bangunan dalam sebuah kawasan mixed use, yaitu: (Sumargo, 2003; 58).
a. Mixed-use Tower
Mixed-use Tower terdapat struktur tunggal dari segi massa atau ketinggian bangunan dengan fungsi-fungsi yang ditempatkan pada lapisan-
lapisan tersebut. Pada umumnya, mixed use tower merupakan high rise building.
b. Multitowered Megastructure
Multitowered Megastructure adalah bangunan mixed use yang memiliki tower-tower yang menyatu secara arsitekturan dengan atrium yang
berada dibawahnya. Pada umumnya atrium berfngsi sebagai pusat perbelanjaan. Pada multitiwerde megastructure, komponen yang terdapat pada
podium menjadi hal yang utama karena merupakan tempat bertemunya antar pengguna bangunan.
Freesatnding Structure with Pedestrian Connection adalah konsep penataan pada kawasan mixed use dengan kumpulan dari beberapa masa
tunggak yang saling terintegrasi oleh jalur pedestrian. Dampaknya, fungsi dari setiap bangunan tidak akan bercampur menjadi satu.
d. Combination
Combination Mixed-use adalah penggabungan dari ketiga bentuk Mixed-use building sebelumnya dalam sebuah kawasan.
1
1.2. Kajian Perkantoran
1.2.1. Pengertian
Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia, kantor adalah balai (gedung, rumah, ruang) tempat mengurus suatu pekerjaan atau juga disebut
tempat bekerja (KBBI, 1989). Menurut Moekijat, kantor adalah setiap tempat yang biasanya dipergunakan untuk melaksanakan pekerjaan tata
usaha (Moekijat, Administrasi Perkantoran / Moejikat, 1997). Menurut Prajudi Atmosudirdjo, kantor adalah unit organisasi yang terdiri atas
tempat, staf personnel, dan operasi ketatausahaan, guna membantu pimpinan (Atmosudirjo, 1982). Menurut Kallaus & Keeling, office is function,
where interdependent systems of technology, procedures, and people are at work to manage one of the firm’s most vital recosurces information
(Kallaus & Keeling, 1991).
1
1.2.2 Fungsi Kantor
Fungsi menurut Wiriadihardja dalam Adhitya (2011:19) adalah sekelompok kegiatan dan usaha satu dengan yang lainnya, dan mempunyai
hubungan yang erat untuk mendukung tercapainya pelaksanaan tugas pokok.
Menurut Prajudi Atmosudirdjo, kantor memiliki 3 fungsi utama yaitu:
a. Menerima Informasi
Kantor sebagai wadah yang digunakan untuk menerima dan mengumpulkan informasi. Dalam praktiknya, setiap pihak terkait yang memiliki
kepentingan dalam organisasi maupun perusahaan biasanya akan memberikan atau melaporkan informasi apapun yang terkait dengan perusahaan
secara langsung ke kantor.
b. Memberikan Informasi
Kantor sebagai bagian yang berfungsi sebagai pemberi atau pun penyebar informasi. Ketika sebuah organisasi sudah berkembang dan dikelola
oleh banyak personel, maka akses informasi lebih sulit untuk disebarkan. Mengatasi hal ini, sebuah organisasi maupun perusahaan menjadikan
kantor sebagai wadah informasi yang valid dan terpercaya bagi setiap personel perusahaan.
c. Pelindung Aset
Kantor sebagai tempat atau pun wadah yang digunakan untuk mengumpulkan, menyimpan, dan melindungi aset berupa dokumen-dokumen
sebuah instansi pemilik kantor. Melaporkan adanya kekurangan persediaan, melaporkan adanya sejumlah utang yang mungkin tidak terbayar saat
akan jatuh tempo, rekaman vital seperti kontrak besar harus dilindungi secara tepat, uang tunai harus disimpan di dalam lemari besi maupun di
dalam bank.
1
1.2.3 Jenis-Jenis Kantor
Kantor memiliki jenis yang beragam yang dapat ditinjau berdasarkan:
a. Tujuan Usaha dan Lingkungan Suasana Kerja
• Kantor administrasi pemerintah
• Kantor administrasi perusahaan
• Kantor administrasi sosial
b. Kepemilikannya
• Pemerintah
• Swasta
c. Sifat dan Tujuan Kegiatan
• Kantor yang sifatnya komersil untuk mencari keuntungan (kantor sewa)
• Kantor yang sifatnya non komersil (kantor yang dipakai sendiri)
d. Bentuk Denah
• Cellular System, Bangunan berbentuk memanjang dengan koridor sepanjang bangunan. Sistem ini memiliki privasi yang tinggi pada ruang-
ruangnya.
• Group Space System, Bangunan terdiri dari ruang-ruang yang berukuran sedang yang mampu menampung 5 – 15 orang pegawai yang saling
berkerja sama. Pembagian ruang-ruang umumnya diterapkan pada bangunan yang memiliki jarak koridor dengan dinding terluar kantor 15 –
20 m
• Open Plan Office System Bangunan dengan susunan ruang-ruang yang fleksibel menurut kebutuhan pemakainya sehingga menggunakan
sekat partisi, furniture, dan vegetasi yang dapat menjadi pembatas atau penanda rute sirkulasi.
1
1.2.4 Kriteria Ruang Kantor
a. Fleksibilitas
Fleksibilitas dapat dilihat dari elemen dinding penyekat yang fleksibel dan dapat memenuhi perubahan fungsi ruang. Pemilihan layout tata
ruang bergantung pada instansi yang bersangkutan sesuai dengan kebutuhan privasi dan luasan lantai (modul) yang digunakan sesuai dengan
kebutuhan jenis kegiatannya.
b. Akustika
Pengendalian kebisingan dalam kantor mencakup:
• Perlindungan terhadap sumber kebisingan eksternal seperti kebisingan yang diakibatkan karena lalu lintas dan kegiatan di sekitar kantor.
• Insulasi horisontal dan vertikal antar masing-masing ruang untuk menjamin kerahasiaan pembicaraan (speech privacy).
• Reduksi kebisingan internal pada ruang kantor seperti alat mekanik yaitu sistem pemanas, ventilasi, pengkondisi udara, pipa air ledeng,
elevator, eskalator, komputer, tabung angin, dan alat-alat lainnya serta kegiatan di dalam kantor seperti pembicaraan, sirkulasi, serta membuka
dan menutup pintu.
1
Berikut persyaratan penting dalam perancangan akustika kantor:
• Daerah lantai harus diberi karpet untuk menyerap bunyi dan menghindari bising langkah kaki. Karpet harus tebal dan dipasang di lapisan
bawah (underlay) yang elastis.
• Langit-langit harus dilapisis dengan bahan penyerap bunyi dengan koefisien serap yang baik.
• Luas total dari kaca jendela tidak boleh melebihi 40% luas tembok luar, dipandang dari ruang kantor bagian dalam. Tirai penyerap bunyi
harus digunakan di sepanjang bukaan dinding
• Pembagian ruang atau peletakan partisi sebagai pemisah visual harus dilapisi dengan bahan penyerap bunyi untuk menghindari penyebaran
gelombang bunyi berfrekuensi rendah.
• Perlengkapan kantor yang tidak berhubungan secara langsung dengan pekerjaan kantor seperti genset, dan mesin fotokopi yang
menimbulkan kebisingan harus diletakan dalam ruang tertentu serta terpisah secara visual pada bagian yang tersisa dari kantor.
c. Pencahayaan
Permasalahan pencahayaan yang dapat muncul pada perancangan kantor adalah glare atau silau, pembayangan, maupun pemantulan cahaya
yang terlalu terang. Penataan pencahayaan dapat dimulai dari arah orientasi bangunan terhadap matahari. Orientasi bangunan sangat penting untuk
menghindari bangunan yang terkekspos sinar matahari terlalu banyak.
d. Penghawaan
Penghawaan untuk kegiatan rutin di perkantoran pada umumnya menggunakan sistem penghawaan buatan yaitu Air Conditioner (AC), karena
dalam pengaturan suhu dapat diatur sesuai kebutuhan dan tidak dipengaruhi faktor eksternal seperti iklim dan cuaca. Faktor kesehatan pekerja
kantor sangat penting, maka ruang kantor memiliki bukaan yang memungkinkan terjadinya pertukaran udara secara berkala adalah cara yang baik
untuk mengontrol penghawaan alami.
1
1.1.5 Standar Kebutuhan Ruang Kantor
Sebuah kantor memerlukan standar-standar atau persyaratan ruang yang perlu ada dalam sebuah bangunan. Standar kebutuhan ruang
seharusnya sesuai dengan jenis kantor dan jenis kegiatan yang ada, berikut standar kebutuhan ruang kantor pada umumnya:
1. Ruang Kerja
Ruang kerja merupakan ruang umum yang selalu ada dalam sebuah kantor. Ruang kerja merupakan tempat aktivitas utama berjalan. Ruang
kerja yang baik adalah ruang kerja yang nyaman, efektif dan efisien. Ruang kerja dibagi menjadi beberapa jenis yaitu ruang kerja terbuka, ruang
kerja bersama untuk divisi, kubikel, ruang kerja privat, dan ruang kerja bersama.
a. Ruang Kerja Terbuka
Ruang kerja terbuka adalah sebuah ruang kerja dengan luas 6 m2 tanpa sekat untuk suatu perusahaan dengan jumlah karyawan lebih dari 10
orang. Ruang kerja terbuka memiliki efisiensi penggunaan ruang yang tinggi serta lebih mudah dalam mengatur layout atau tatanan ruang.
b. Ruang Kerja Bersama untuk Divisi
Ruang kerja bersama untuk divisi adalah ruang kerja semi terbuka untuk divisi suatu perusahaan yang memiliki anggota 2 hingga 8 orang
dalam suatu ruangan. Ruang kerja ini memiliki sekat tertutup yang bertujuan untuk menjaga privasi antar pekerja. Pengaturan meja dapat
disusun berhadapan atau saling membelakangi.
1
c. Kubikel
Kubikel adalah ruang kerja bersekat semi terbuka yang ditujukan untuk 1 orang pekerja yang membutuhkan konsentrasi cukup tinggi. Luas
ruang kerja kubikel pada umumnya adalah 6 m2 .
d. Ruang Kerja Privat
Ruang kerja privat adalah ruang bersekat tertutup yang ditujukan untuk 1 orang pekerja yang memiliki peran penting dan memerlukan
konsentrasi yang tinggi dalam suatu kantor. Pada umumnya, ruangan ini dilengkapi dengan area penerimaan tamu yang dapat digunakan pula
untuk rapat internal kecil. Ruangan ini memiliki luas 9 m2.
e. Ruang Kerja Bersama
Ruang kerja bersama adalah ruang kerja bersekat tertutup yang ditujukan untuk 2 hingga 3 orang yang bekerja dalam sebuah tim.
Pengaturan meja dapat disusun berhadapan atau saling membelakangi. Ruangan ini memiliki luas 6 m2 hingga 7,5 m2.
2. Ruang Rapat
Ruang rapat merupakan ruangan yang penting dalam sebuah kantor. Ruang rapat dibedakan menjadi 3 jenis yaitu ruang rapat kecil, ruang
rapat besar dan meeting point. Ruang rapat kecil biasanya dipergunakan untuk 2 hingga 4 orang dengan luas 2 m2/orang. Ruang rapat besar
biasanya dipergunakan untuk minimal 5 orang pekerja dengan luas 2 m2/orang. Meeting point biasanya dipergunakan untuk 2 hingga 4 orang yang
biasanya digunakan untuk tim diskusi dengan luas 1 m2/orang.
1
3. Ruang Pendukung
Ruang pendukung adalah ruang bersama yang digunakan pegawai kantor untuk berkomunikasi, berinteraksi serta sebagai fasilitas pendukung
diluar ruang kerja. Ruang pendukung yang terdapat pada sebuah kantor pada umumnya
meliputi ruang arsip, area printer dan fotokopi, gudang, area beristirahat, area pantry, area
locker, perpustakaan dan ruang tunggu.
a. Ruang arsip, ruang tertutup dengan luas minimun 1 m2/lemari kabinet yang
digunakan untuk menyimpan dokumen penting.
b. Area printer dan fotokopi, area terbuka maupun semi tertutup yang dilengkapi
dengan perabot seperti printer, scanner dan mesin fotokopi
untuk keperluan kesekretariatan.
c. Gudang, merupakan ruang tertutup untuk menyimpan alat kebutuhan sebuah kantor.
d. Area beristirahat, sebuah ruang tertutup maupun semi terbuka dengan luas 2 m2/kursi dimana pegawai dapat berisitirahat dari pekerjaannya.
e. Area pantry, sebuah ruang terbuka maupun semi tertutup dimana pegawai dapat menyiapkan makanan dan minuman.
f. Area locker, merupakan sebuah ruang terbuka maupun semi tertutup berisi lemari yang digunakan pegawai untuk menyimpan barang-barang
pribadi untuk sementara.
g. Perpustakaan, merupakan ruangan tertutup maupun semi terbuka dengan luas minimal 1 m2 /kabinet yang dapat digunakan pegawai untuk
mencari data dari buku, jurnal majalah, karya ilmiah maupun internet.
h. Ruang tunggu, merupakan sebuah ruangan terbuka maupun semi tertutup dengan luas 2 m2
1
1.3.1 Art Gallery Secara Umum
Art Gallery terdiri dari kata art dan gallery. Art berasal dari bahasa Yunani ‘ars’ yang memiliki arti kemahiran, sedangkan gallery berasal dari
bahasa Inggris yang memiliki arti sebuah ruang pamer. Art Gallery dalam bahasa Indonesia sering disebut dengan galeri seni. Menurut Kamus
Besar Bahasa Indonesia, galeri adalah ruangan atau gedung tempat memamerkan benda atau karya seni (Kamus Besar Bahasa Indonesia 103).
Dictionary of Architecture and Construction menerangkan bahwa galeri adalah sebuah ruang memanjang yang memiliki koridor yang
menyajikan sebuah karya seni. Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia, seni memiliki 3 arti. Seni adalah keahlian membuat karya yg bermutu
yang dapat dilihat dari segi kehalusan dan keindahan. Seni juga dapat definisikan sebagai karya yg diciptakan dengan keahlian
yang luar biasa seperti tari, lukisan, dan ukiran. Seni adalah kecakapan batin (akal), untuk dapat mengadakan sesuatu yang luar biasa.
Galeri seni dapat didefinisikan sebagai sebuah ruang yang dapat digunakan untuk memamerkan sebuah karya seni yang memiliki nilai kehalusan
serta keindahan.
Art Gallery tidak hanya berfungsi sebagai sebuah wadah fisik seperti untuk memamerkan sebuah karya seni saja, namun Art Gallery memiliki
banyak fungsi antara lain fungsi ekonomi dan sosial. Fungsi ekonomi sebuah Art Gallery adalah sebagai tempat mempromosikan karya seni
sehingga karya tersebut dapat diperjual-belikan. Fungsi sosial sebuah Art Gallery adalah sebagai wadah masyarakat baik para seniman maupun
masyarakat awam untuk berkumpul. Art Gallery juga dapat memberikan edukasi sehingga menjadi sarana pendidikan bagi masyarakat.
1
Galeri seni dapat dibedakan berdasarkan:
1
Alur sirkulasi menjadi sebuah unsur yang penting dan perlu diperhatikan dalam sebuah Art Gallery. Sirkulasi erat kaitannya dengan hubungan
ruang. Perancangan jalur sirkulasi harus memberikan orientasi yang jelas bagi pengunjung. Alur sirkulasi yang baik akan membantu sirkulasi
pergerakan pengunjung agar dapat merasa nyaman. Sirkulasi yang baik dalam sebuah Art Gallery adalah sebuah sirkulasi yang dapat mendukung
dalam penyampaian informasi sehinga dapat membantu pengunjung memahami dan mengapresiasikan karya seni yang
dipamerkan. Prinsip penataan alur sirkulasi pada Art Gallery dapat diatur sebagai berikut:
Prinsip penataan alur sirkulasi didukung dengan pola pergerakan sirkulasi. Pola pergerakan sirkulasi ruangan merupakan suatu hal yang penting
dalam penerapannya pada sebuah ruangan. Pola pergerakan sirkulasi ruangan terdiri dari 5 pola, yaitu:
a. Pola Linear
Pola Linear adalah pola jalan lurus yang berfungsi sebagai pengorganisir utama deretan ruang. Pola sirkulasi dapat berbentuk lengkung atau
berbelok arah, memotong arah jalan lain, bercabang-cabang, atau membentuk putaran (loop).
b. Pola Radial
Pola Radial adalah pola sirkulasi yang menggunakan konfigurasi radial dengan memiliki jalan-jalan lurus yang berkembang dari sebuah pusat
utama.
c. Pola Spiral
Pola Spiral disebut juga pola berputar, yaitu suatu jalan tunggal menerus yang berasal dari titik pusat. Pola sirkulasi ini mengelilingi pusat
dengan jarak yang berubah.
d. Pola Grid
Pola Grid merupakan pola sirkulasi yang terdiri dari dua pasang jalan sejajar yang saling berpotongan pada jarak yang sama dan menciptakan
sebuah bentuk sebuah ruang segi empat.
e. Jaringan
Jaringan merupakan pola sirkulasi yang terdiri dari jalan-jalan yang menghubungkan titk-titik tertentu dalam sebuah ruang.
1.3.5 Standard Kebutuhan Art Gallery
1
Sebuah Art Gallery memilki standar kebutuhan ruang yang pada umumnya ada ada dalam sebuang bangunan. Kebutuhan ruang Art Gallery
diperoleh dari jenis kegiatan yang dilakukan di bangunan tersebut. Pada umumnya, kebutuhan suatu ruang Art Gallery yaitu entrance hall, ruang
pamer indoor, ruang workshop, ruang serbaguna, ruang penyimpanan barang workshop, lavatori, ruang pengelola galeri, gudang, ruang staff,
perpustakaan, serta ruang pendukung seperti mushola, café, art shop
1
1.4.1. Pengertian Restaurant
Restoran adalah suatu usaha komersial yang menyediakan jasa pelayanan makan dan minum bagi umum dan dikelola secara profesional.
(Soekresno, Manajamen Food & Beverage Service Hotel, 2001 : 16).
Restoran atau rumah makan yang dalam bahasa Inggrisnya “Restaurant” diartikan sebagai suatu bangunan yang didalam terdapat kegiatan memberi
atau dan untuk pelayanan makanan kepada pengunjung atau langganan. (Lawson, 1985 :2).
Sesungguhnya restoran dapat digolongkan kedalam pengertian pertokoan, dimana restoran dalam bentuk apapun merupakan perdagangan khusus
dalam bidang makanan dan minuman. (Webster’s Third New International Dictionary, 1987).
Restoran adalah suatu tempat atau bangunan yang diorganisasikan secara komersial yang menyelenggarakan pelayanan dengan baik kepada semua
tamunya baik berupa makanan dan minuman.
1
1.4.3. Jenis-Jenis Restaurant
1
⚫ Informal Restaurant (Restoran Informal)
Restoran informal adalah industri jasa pelayanan makanan dan minuman yang dikelola secara komersial dan profesional dengan lebih
mengutamakan kecepatan pelayanan, kepraktisan, dan percepatan frekuensi yang silih berganti pelanggan.
Ciri-ciri restoran informal :
· Harga makanan dan minuman relatif murah.
· Penerimaan pelanggan tanpa sistem pemesanan tempat.
· Pelanggan tidak terikat dengan pakaian formal.
· Sistem penggajian makanan dan minuman yaitu American Service / ready plate bahkan self service ataupun counter service.
· Tidak menyediakan hiburan musik hidup.
· Penataan meja dan bangku cukup rapat.
· Daftar menu oleh pramusaji tidak dipresentasikan kepada tamu dan pelanggan namun dipampang di counter / langsung di setiap meja makan
untuk mempercepat proses pelayanan.
· Menu yang disediakan terbatas dan membatasi pada menu yang relatif cepat selesai dimasak.
· Jumlah tenaga servis relatif sedikit dengan standar kebutuhan, satu orang pramusaji untuk melayani 12 – 16 pelanggan.
Contoh : Café, Fast Food Restaurant, Canteen, Family Restaurant, Pub, Snack Bar, Burger Corner, dll.
1
⚫ Specialities Restaurant
Specialities restaurant adalah industri jasa pelayanan makanan dan minuman yang dikelola secara komersil dan profesional dengan
menyediakan makanan khas dan diikuti dengan sistem penyajian yang khas dari suatu daerah tertentu. Ciri-ciri Specialities restaurant ·
Menyediakan sistem pelayanan tempat.
· Menyediakan menu khas suatu daerah tertentu, populer, dan disenangi pelanggan secara umum.
· Sistem penyajian sesuai dengan budaya daerah asal dan dimodifikasi dengan budaya internasional.
· Hanya menyediakan makan siang dan makan malam.
· Menu dipresentasikan pelayan kepada pelanggan.
· Biasanya menghadirkan musik atau hiburan khas negara asal.
· Harga diantara formal dan informal restaurant.
· Jumlah tenaga servis sedang, dengan standar kebutuhan satu pramusaji untuk melayani 8 – 12 pelanggan.
1
b. Berdasarkan Metode Pelayanan menurut Fred Lawson
1
⚫ Coffee Shop Service
Ciri dari pelayanan ini adalah penghidangan makanan oleh pelayan ke meja makan. Makanan yang disediakan terdiri dari berbagai jenis makanan
ringan, kue, dan lain-lain. Waktu pelayanan dari pagi sampai malam bahkan ada yang melayani 24 jam.
⚫ Buttery Bar Service
Pelayanan ini merupakan pengembangan dari konsep pelayanan counter, dimana penyediaan makanan lebih sederhna terdiri dari satu atau dua
jenis makanan utama.
⚫ Speciality Restaurant
Dalam Speciality Restaurant, cara yang dipakai dalam penyediaan makan dan penampilan dari suatu daerah tertentu lebih ditonjolkan.
Contoh : restoran Cina, restoran Italia dll.
⚫ Banquet Service
Pelayanan banquet ini memerlukan fleksibilitas dalam penyusunan ruang makannya, dapat melayani pengunjung dalam jumlah besar dalam waktu
bersamaan, akustik, tata lampu, pengaturan suhu udara dan sarana lain yang baik, pelayanan relatif cepat.
⚫ Remote Catering Service
Pelayanan makanan dapat diantar atau dibawa sendiri oleh pengunjung. (Lawson, Fred, 1973 : 13).
1
c. Jenis-Jenis Pelayanan
Menurut Marsum WA ada 4 (empat) macam tipe dasar pelayanan yang terkenal yaitu :
1. Table Service
Table Service adalah suatu sistem pelayanan restoran dimana para tamu duduk di kursi menghadap meja makan, dan kemudian makanan
maupun minuman diantarkan, disajikan kepada para tamu oleh Waiter maupun Waitress. Pada umumnya sistern pelayanan table service dibedakan
menjadi 4 kategori yaitu :
· American Service, Sifat pelayanannya sederhana, tidak resmi serta cepat. Makanan sudah siap ditata dan diatur di piring sejak dari dapur.
· English Service, Sifat pelayanannya formal dan cenderung kekeluargaan.
· French Service, Sifatnya formal dengan pelayanan mewah. Penyajian dengan kereta dorong ( Gueridon ).
· Russian Service, Merupakan modifikasi dari French Service.
2. Counter Service
Counter Service adalah suatu sistern pelayanan restoran dimana para tamu yang datang terus duduk di counter. Apabila makanan dan minuman
yang dipesannya sudah siap maka akan disajikan kepada tamu di atas counter oleh Waiter, Waitress atau oleh juru masaknya sendiri.
3. Self Service
Self Service atau Buffet Service adalah suatu sistem pelayanan restoran dimana semua makanan secara lengkap (dari hidangan pembuka,
soup, hidangan utama, hidangan penutup, dsb) telah ditata dan diatur dengan rapi diatas meja hidang atau meja prasmanan. Para tamu bebas
mengambil sendiri hidangannya sesuai selera, sedangkan minuman pada umumnya disajikan oleh pelayan.
4. Carry Out Service
Carry Out Service atau Take Out Service yaitu sistem pelayanan restoran dimana tamu datang untuk membeli makanan yang telah siap atau
disiapkan terlebih dahulu, dibungkus dalarn kotak untuk dibawa pergi.
d. Jenis-Jenis Menu
1
Ada beberapa jenis menu yang digunakan dalam restaurant, yaitu
1. A’la La Carte, Adalah daftar makanan didalam menu yang masing-masing jenis makanan dapat diorder, dipersiapkan dan diberi harga yang
terpisah.
2. Table D’Hote, Adalah makanan dengan harga tetap, suatu makanan lengkap yang digambarkan sebagai satu set menu. Harga berdasar satu set
lengkap makananan (mulai dari hidangan pembuka, hidangan utama, hidangan penutup). Biasanya terdapat 3 atau 4 macam hidangan dari masing-
masing bagian tersebut dan dapat dipilih dari masing-masing kelompok.
3. Children Menu, Adalah menu yang diperuntukkan bagi anak-anak. Biasanya terpisah dengan menu untuk orang dewasa. Jumlah makanan tidak
sebanyak porsi orang dewasa dan harganya lebih murah dibanding porsi orang dewasa.
4. Set Menu, Adalah menu pilihan yang biasanya bukan untuk dinneer, hanya menawarkan sedikit pilihan. Biasanya tersedia pada acara banquet
atau tour. Dalam hal ini menu tidak banyak pilihan.
5. Pad Side Menu, Adalah menu yang disediakan untuk restaurant yang berada di area kolam renang : disediakan bagi mereka yang sedang lelah
dan dalam keadaan basah yang tidak mungkin ke coffee shop untuk mendapatkan makanan. Menu yang disajikan biasanya ringan, bila
menginginkan makanan tertemtu maka pelayan akan mengorder ke main kitchen.
6. Plate de Jour / Special to Day, Adalah menu yang disajikan oleh restaurant sebagai menu pada hari itu jenis hidangan ini tidak tercantum dalam
menu pada setiap harinya. Hal ini bertujuan untuk menimbulkan suasana baru dan menghilangkan rasa kebosanan tamu terhadap menu-menu yang
ada. (Ronald K. Victor Coffe Shop, David, 1995 : 254 – 256)
1
a. Pengertian Coffee Shop
· Coffee shop adalah tempat dimana pelayanan hidangan makanan oleh pelayan makan
(makanan yang disajikan adalah makanan ringan) dan waktu pelayanan dari pagi sampai
malam atau bahkan 24 jam (Fred
Lawson, 1973 : 125).
· Coffee shop adalah suatu restoran yang pada umumnya berhubungan dengan hotel dimana
tamu bisa mendapatkan makan pagi, makan siang dan makan malam secara tepat dengan
harga cukupan (Marsumi W.A, 1993 : 43).
· Coffee shop adalah tempat minum kopi yang menyajikan minuman tidak mahal dan tidak
menutup kemungkinan menyediakan jenis minuman lain (Fred Lawson, 1973 : 125).
· Coffee shop adalah suatu tempat dimana ciri pelayanan yang cepat, tata meja diatur
sederhan, praktis dan umumnya hanya tata meja untuk menu pilihan / A la carte (team BPLP
Bandung, 1993 : 25).
· Coffee shop dapat diartikan sebagai kopi / kedai kopi (John M.E & Hasan Hadily, 1990 :
67).
· Coffee shop adalah suatu usaha dibidang makanan yang dikelola secara komersil yang
menawarkan kepada tamu makanan / minuman kecil dengan suasana tidak formal dan tanpa
diikuti aturan service yang baku.
1
COVER
1
BAB II
Kajian Presedent
1
2.1.2. Fungsi Bangunan
The Bower adalah aset bangunan yang di bangun pada tahun 1960- an,
yang dahulu dibangun untuk keperluan dari British Telcom yang telah
memiliki situasi kantor berbeda jauh dari hari ini (modern).dengan
begitu, Situasi yang sudah lama terabaikan ini oleh asitek, kembali
dihidupkan dan didorong untuk menjadi bagian dari kehidupan kota
kembali, dengan realisasi, area jalan pejalan kaki baru yang
menghubungkan Bulevar jalan lama dengan jalan – jalan belakang
Moorfields yang lebih halus.
Bangunan secara keseluruhan merupakan perpaduan kontemporer
antara fungsi Retail, Restoran, Studio, dan kantor. Gudang yang terletak di
area belakang salah satu bangunan fungsi utama, ditambah koleksi-
koleksi studio yang kemudia melapisi area bangunan baru. Regenerasi
ranah publik menciptakan ruang eksternal baru dan rute yang
menghubungkan utara dan selatan.
1
2.1.3. Organisasi Ruang
a. Lantai dasar semi Basement
Pola organisasi Ruang : Radial,
Ruang-ruang utama bangunan terhubung langsung dengan area penunjang dan keduanya memiliki akses melalui koridor dan terhubung
langsung menuju sirkulasi outdoor utama The Bower
core Kantor
Studio
gudang
1
b. Lantai Dasar
Pola organisasi Ruang : Radial,
Ruang-ruang utama bangunan terhubung langsung dengan area penunjang dan keduanya memiliki akses melalui koridor dan terhubung
langsung menuju sirkulasi outdoor utama The Bower.
Sirkulasi
Outdoor
Kantor Kantor
1
c. aspek market
The Bower telah sukses menarik sejumlah penyewa kreatif dan teknologi termasuk Farfetch, We Work, CBS dan John Brown Media.
Skema baru oleh AHMM mencakup kolaborasi seni publik yang menarik dan semakin memperluas daya tariknya ke industri pasar kreatif
baik penyewa maupun pengunjungnya. Terletak di pintu masuk utama adalah ‘ perlin canopy ‘ oleh seniman multidisiplin dan desainer Jason
Bruges Studio. Di sebrang, pada area ruang publik eksternal, adalah dinding seni The Bower ‘Windows of Time’ yang dirancang oleh seniman
belanda DeMakersVan. Menggunakan jendela crittall Shoreditch sebagai metafora untuk menggambarkan ribuan perubahan yang telah terjadi di
bagian London ini (timur) selama bertahun tahun.
1
2.1.5. struktur dan bentuk bangunan
Tiga bangunan berbeda menjadi pembentuk perkembangan utama kawasan bangunan The
Bower ini. Satu bangunan baru kecil dan dua renovasi bangunan besar lainnya, salah satu bangunan
fungsi kantor memiliki ekstensi samping dan ke atas. Bangunan Gudang di bagian belakang
bangunan telah direnovasi dengan soffit beton dan area terbuka merupakain rancangan arsitek yang
merespon ketinggian langit-langit lantai lantai yang tinggi.
Sentuhan internal dinding poros pengangkat beton bertulang dan pola yang sengaja
ditinggalkan pada soffit beton oleh lem epoksi yang digunakan pada ubin langit-langit, secara
pragmatis diletakan untuk mempertahankan keaslian bangunan sebelumnya.
Secara eksternal, panel beton pra-cetak pahatan asli telah dipulihkan dadiperbaiki sebagai
bagian dari dekorasi yang dapat menarik perhatian pejalan kaki di area lobi pintu masuk utama baru.
Perbaikan Menara di bagian depan kompleks adalah solusi inventif atas sinkronisasi terhadap
ketinggian lantai-lantai rendah dengan menciptakan ruang tinggi ganda dan diperluas menyamping
melebihi plat lantai sebelumnya. Spasial ruang diciptakan oleh penggunaan lantai kantor duplex.
1
2.1.6. sistem keselamatan dan utilitas
a. sistem keselamatan
The Bower memiliki proteksi kebakaran berupa Hydran pillar pada setiap ruang fungsi utama yang berdekatan dengan Core atau Shaft pada
area sirkulasi.
Jalur evakuasi ruang utama menuju tangga darurat secara efisien diciptakan linier dan langsung menuju area sirkulasi tangga darurat maupun
core bangunan. Bangunan utama fungsi kantor memiliki tangga darurat yang berada di ujung timur bangunan. Sedangkan bangunan utama fungsi
campuran memiliki core yang berada di area sentral belakang bangunan dengan tangga darurat yang berada di kedua ujung sisi bangunan.
b. utilitas bangunan
setiap bangunan utama memiliki area mechanical electrical di setiap ujung bangunan dan terhubung secara terpusat menuju core bangunan.
Untuk bangunan fungsi utama lift yang berada di bangunan fungsi campuran terdapat dua jenis lift, yaitu dua buah lift barang dan dua buah lift
manusia. Sedangkan pada bangunan fungsi kantor, area mechanical dan electrical terpusat langsung menuju core bangunan. Terdapat empat lift
manusia dan dua lift barang. Setiap shaft tersebar sesuai fungsinya terletak berdekatan dengan area sirkulasi dan core bangunan.
1
2.1.7. Bangunan Ramah Lingkungan
Bangunan Fungsi kantor yang diberi perluasan melebar dan keatas diberi fasad baru. Bahasa Profil Miesian dalam warna abu-abu metalik
mendefinisikan karakter arsitektur menara, dengan spandrel kaca bermotif untuk mengontrol perolehan panas.
Ekstensi samping bangunan menara (kantor) menyediakan ruang ganda yang penuh karakter. Panel beton pra-cetak pahatan asli gudang telah
diperbaiki, batu bata lama kembali dibersihkan, dan penambahan sejumlah jendela baru untuk melengkapi fasad yang ada. Gedung-gedung studio
baru memperluas bahasa bata dan bingkai-bingkai profil kaca bangunan sehingga mengaktifkan kembali ranah publik.
Di lantai dasar, rute baru Old street dipotong melalui dasar blok slab, memperkenalkan permeabilitas dan membuat koneksi visual ke halaman
baru dan rute jalanan utama. Secara keseluruhan meregenerasi area jalan lama kemudian langsung terhubung ke jaringan bangunan, rute
pekarangan, dan tempat yang lebih luas.
1
2.1.8. Aksesibilitas
AHMM telah meningkatkan luas lantai dengan memperluas menara (kantor) ke atas dan keluar, menyediakan lantai dengan ruang ganda-
tinggi untuk sisi-sisi bangunan yang bergantian dan menciptakan bagian yang saling terkait. Konsep ini memberikan kesempatan untuk
menghubungkan lantai dengan memberikan fleksibilitas, sekaligus memenuhi tntutan ruang kerja.
Aksesibilitas luar menuju bangunan dapat diakses melalui rute baru yang menghubungkan akses pejalan kaki dari Old Street menuju Baldwin
Street.
Baik staff atau customer yang menggunakan kendaraan bermotor dapat diparkirkan di area semi basement bangunan.
1
2.1.9. Tekno Ekonomi Bangunan
The Bower Kuartal baru dengan guna lahan seluas 48.300 m2 terletak di sebelah bundaran Old Street London dibutuhkan waktu enam tahun
untuk menyelesaikannya.
Allford Hall Monaghan Morris telah merancang proyek kantor dan publik seluas 115 juta Poundsterling, situs tempat Old street bertemu City
road diakuisisi oleh pengembang Helical pada 2012 dengan Brief untuk menyesuaikan kembali koleksi gedung kantor yang ada dengan petak
besar area parkiran mobil.
1
2.1.10. Gambar Kerja
1
c
1
2.2.2 Fungsi Bangunan
Bentuk dan geometri tanah (segitiga)sebagai kondisi tapak tempat berdirinya
bangunan tampak menjadi salah satu tantangan yang mempengaruhi desain utama
proyek Parmida.
Melalui rancangan tampak desain bangunan área komersial dapat dilihat dengan
mudah melalui bagaimana arsitek menggunakan konsep aturan tingkat bangunan
(vertical) berkantilever dilokasi bangunan tersebut. Area showcase komersial total
berjumlah empat lantai yaitu :
a. Basment
b. Ground floor
c. Mezzanine
d. Firs floor
Selanjutnya, fungsi bangunan kantor retail verada pada lantai lantai atas selanjutnya
diatas lantai bangunan berkonsep kantilever yaitu terdapat pada lantai 2 bangunan
hingga lantai 8 bangunan.
Selanjutnya, lantai 9-lantai atap (teratas) merupakan retail kantor berkonsep
dulpeks.
1
2.2.3. Organisasi Ruang
a. Zonasi dan Hubungan Ruang Makro
Zonasi dari publik menuju Private berpola Linear vertikal. Semakin tinggi lantai bangunan maka zona area semakin Private.
Zona Private
Zona Publik
IN/OUT
1
b. Organisasi Ruang pada Bangunan Lantai Basement
Pola ruang pada lantai basement adalah : Pola Ruang Terpusat
Setiap ruang terhubung secara langsung menuju ruang Management
Sevice &
Pantry
Commercial
5
Mechanical
Management Commercial 4
Commercial 1
Commercial 3
Commercial 2
1
c. Organisasi Ruang pada Bangunan Ground Floor Plan-Commercial Area
Pola ruang pada lantai Ground Floor Plan-Commercial Area adalah : Pola Ruang Terpusat
Setiap ruang secara langsung terhubung menuju area Core bangunan dimana merupakan area sirkulasi vertical pusat lift, tangga darurat, dan
tangga utama
Entrance
Management
Commercial 4
Core
Commercial 3
Commercial 1
Commercial 2
1
c. Organisasi Ruang pada Bangunan 2nd Floor Plan-Official Area
Pola ruang pada lantai 2nd Floor Plan-Official Area adalah : Pola Ruang Cluster
Setiap fungsi ruang office terhubung secara langsung dengan runag pantry dan area toilet. Sementara, bagian barat bangunan ruang office
terhubung langsung dengan empat ruang fungsi pantry dan service, toilet, conference, dan management.
toilet
Core Manage
office ment
Office confere
nce
Pantry
dan
Pantry toilet
dan
1
2.2.4. Konteks Urban
a. Rona Kawasan
Karaj, Iran yang menjadi lokasi dari bangunan Parmidadengan fungsi utama adalah bangunan kantor dan komersial ini adalah ibu kota dari
Provinsi Alborz, Iran. Meskipun berada dipinggiran kota TTeheran, kota ini dicatat sebagai Kawasan berkotaan dengan luas terbesar keempat di
Iran.
Saat ini Karaj merupakan kota industri utama, dwengan pabrik-pabrik yang memproduksi gula,
tekstil, kawat, dan alcohol.
Selanjutnya, kota ini juga merupakan rumah dari beberapa perguruan tinggi maupun sekolah-
sekolah di Iran yang lokasinya tidak jauh dari PArmidaOffice-Commercial building.
Sehingga fungsi utama bangunan telah sepenuhnya memenuhi aspek kebutuhan rona Kawasan.
Retail kantor sebagai pemenuh kebutuhan ruang kerja kota industri ini dan area komersial sebagai
pemenuh kebutuhan entertain pelajar, mahasiswa, juga pekerja kantoran di area bangunan tersebut.
b. Aspek social
Zonasi ruang linear yang menghubungkan area private hingga public memungkinkan pengguna
secara efektif dapat melangsungkan kegiatannya tanpa terganggu dengan kebisingan suara ataupun
penumpukan pengguna bangunan yang tidak sesuai dengan fungsi ruangnya.
c. Aspek market
berdasarkan fungsi bangunan sebagai retail kantor, Parmida Office-Commercial building
dimaksudkan untuk menjadi wadah bagi pengguna yang berprofesi sebagai pekerja. Dengan Karaj
sebagai pusat kota industry maka Parmida merupakan bangunan denngan fungsi strategis sebagai area
hiburan bagi para pekerja dan mahasiswa yang menempuh perguruan tinggi diarea sekitar Parmida
building, Parmida tentu merupakan area yang bias menarik perhatian mahasiswa dan pekerja di kota
Karaj, Iran.
1
2.2.5. Struktur dan bentuk bangunan
Bentuk dan geometri tanah sebagai kondisi tempat berdirinya bangunan tampak menjadi salah
satu tantangan yang mempengaruhi desain utama proyek Parmida.
Fitur ganda transparan-semi transparan dan gelap-jelas yang diusung pada bangunan yang total
memiliki tiga velas lantai ini, praktis menjadi pembeda dari sebagian besar bangunan perkotaan di
area tersebut.
Dengan lebar tanah yang luas, arsitek menekankan pintu masuk sebagai pusat area tengah,
menerus hingga menuju koridor sirkulasi utama lift dan tangga (core), sehingga arsitek dapat
membagi bangunan utama menjadi dua bagian, timur dan barat. Pembagi tengah ini juga telah
membagi proporsi voume, dinamika, dan bentukan bangunan dengan baik.
Área showcase komersial dibedakan dengan tingkatan atasnya yang berupa kantor dengan
desain berupa área kantilever.
Tidak seperti cangkang pada área komersial yang sepenuhnya transparan (curtainwall),
cangkang keropos menjadi lapisan, yang menutupi keseluruhan volume bangunan área perkantoran.
Konsep yang mengidentifikasi área kantor utama fasad bangunan berupa área kantilever pada
cangkang eksterior yang secara dinamis menciptakan sudut kosong berbentuk segitiga dilapisan
terluar.
Rantai detail yang saling terhubung, elemen berulang dan motif yang diterapkan diseluruh
proyek sebagai penekanan identitas bangunan, termasuk motif pada perlengkapan lantai dan
penerangan, pintu masuk lobi, tangga, taman atap, serta lantai jalan setapak.
1
2.2.6. Sistem keselamatan dan Utilitas Bangunan
a. Sistem Keselamatan
bangunan Parmida Office-Commercial building memiliki proteksi kebakaran berupa hydrant pillar pada setiap ruang fungsi utama baik
commercial, management, maupun kantor yang terhubung langsung dengan shaft pipa air hydrant.
Jalur sirkulasi ruang setiap lantai dengan pola terpusat, berdekatan menuju area core dimana lokasi tangga darurat berada. Sama juga dengan
area lantai dengan pola cluster, ruang-ruang fungsi utama memiliki sirkulasi in/out yang berdekatan dan secara langsung menjadi jalur evakuasi
yang efektif untuk langsung dengan mudah mengakses tangga darurat.
b. Utilitas Bangunan
seluruh electrical/Mechanical bangunan terhubung langsung secara vertikal dan terpusat menuju ruang ME bangunan yang berada dilantai
basement.
Sebagai transportasi vertical pada bangunan, lift bangunan berada di area core bangunan. Berjumlah dua lift dengan kapasitas yang sama.
Pusat daya terhubung langsung menuju ruang ME, yang terdapat di lantai basement.
1
2.2.7. Bangunan Ramah Lingkungan
Bangunan yang memiliki lapisan fasad cangkang tidak hanya befungsi sebagai pemisah fungsi bangunan. Tetapi juga memiliki fungsi tanggap
iklim yang sangat efektif pada sisi selatan bangunan yang cenderung silau/terik, sehingga bukan hanya memberikan transparansi kantor yang
diperlukan, namun juga secara efektif dapat mengendalikan radiasi matahari.
Dinamika cangkang luar memiliki pengaruhnya pada kualitas interior bangunan. Melalui perspektif interior, seseorang dapat melihat berkas-
berkas cahaya yang secara geometris memancarkan cahaya alami. Dalam desainnya, fokus utama arsitek adalah memaksimalkan penggunaan
cahaya alami dan kemudian memposisikan koridor akses (core bangunan) berada disisi noncahaya.
Setiap fasad pada area komersial berupa curtainwall yang difungsikan untuk meningkatkan kualitas ruang interiornya secara alami.
1
2.2.8. Aksesibilitas
Aksesibilitas luar menuju bangunan dimaksimalkan untuk pejalan kaki karena tersediaannya area parkir kendaraan bermotor yang terbatas,
namun bangunan berada tepat di jalan utama kota sehingga customer dengan akses jauh dapat ditempuh dengan kendaraan umum, seperti taxi atau
bus kota.
Aksesibilitas didalam bangunan terdapat tiga fasilitas yaitu tangga utama yang berada disetiap fungsi bangunan komersial, tangga darurat,
dan lift yang berada di core bangunan.
1
2.2.10. Gambar Rancangan
1
1
BAB III
Kajian Site Terpilih
3.1. Kajian Site Terpilih
3.1.1. Eksisting Lingkungan
a. Lokasi Tapak
Tapak berada di lokasi yang strategis, terletak di kawasan Surabaya Barat, dimana lokasi ini merupakan Central Business District (CBD) yang
berkembang di kota Surabaya.
Lokasi tapak terbangun berada di Jl. Mayjen Yono Suwoyo, Dukuh Pakis,
Kota Surabaya, Jawa Timur.
1
Tapak memiliki luas 16600 m2.
b. Ukuran Tapak
Tapak memiliki luas 16600 m2 dengan bentuk segi empat tidak sama sisi. Pada sisi timur laut tapak berbatasan dengan toko elektronik Hartono
dan juga permukiman Simpang Darmo Permai, pada sisi timur berbatasan dengan jl. Mayjen Yono Suwoyo, Buit Darmo Golf, dan Apartemen
Puncak Bukit Golf, pada sisi selatan berbatasan dengan jl. Mayjen Yono suwoyo dan Lenmarc Mall, sedangkan pada sisi barat daya tapak
berbatasan dengan permukiman Pradah Indah.
1
C. Data kondisi lingkungan tapak
Pada sisi timur hingga selatan, tapak berbatasan langsung dengan Jl. Mayjen Yono
Suwooyo, pada sisi barat hingga utara berbatasan langsung dengan kosong di sekeliling
tapak, sedang pada sisi timur laut tapak berbatasan langsung dengan toko elektronik Hartono
Bukit Darmo Boulevard.
Jalan raya yang berada di depan tapak merupakan jalan kembar dengan lebar kurang
lebih 10 meter dan lebar jalur hijau 8 meter. Tiap lajur jalan raya bisa dilewati 3-4 mobil
sehingga akses di kawasan ini bisa dibilang cukup mudah. Terdapat sutet di jalur hijau yang
berada di depan tapak. Namun hal ini tidak begitu mengganggu, kecuali jika sutet berada
tepat di dalam tapak.
Selain letaknya yang mengganggu sutet juga berbahaya jika jalurnya melewati bangunan
karena memiliki teganggan yang sangat tinggi
1
Pada kawasan tapak terdapat beberapa bangunan tinggi yang berupa apartemen dan mall. Salah satunya terletak di depan toko elektronik
Hartono Bukit Darmo Boulevard, terdapat Apartemen Puncak Bukit Golf Tower A, kemudian di seberang tapak terdapat komplek ruko-ruko
perkantoran.
1
Berjarak sekitar 25 meter dari komplek ruko, terdapat Trans Studio Lenmarc Mall (Lenmarc Mall) yang terdiri dari lima lantai. Terletak di
belakang mall, terdapat apartement Adhiwangsa yang terdiri dari 2 tower dan memiliki ketinggian bangunan 45 lantai. Di radius 2 km dari lokasi
tapak, terdapat beberapa hotel, yaitu Tab Hotel (bintang 3), Whiz hotel Darmo Harapan (bintang 3), Vasa Hotel (bintang 5), dan Fave hotel (bintang
3) .
1
3.1.2. Aksesibilitas
⚫ Akses utama menuju tapak dapat melewati Jl. Mayjen Yono Suwoyo baik kendaraan motor maupun kendaraan móvil dan kendaraan bermotor
lainnya.
⚫ Jl Mayjen Yono Suwoyo terletak di sebelah timur tapak.
⚫ Jalan menuju tapak relatif mudah dilalui karena jarak tapak dengan jalan utama relatif dekat.
Jalur Kendaraan
Bermotor Jalur Pejalan Kaki
1
3.1.3 Utilitas Tapak
a. Air Bersih
Air bersih pada tapak dapat diperoleh melalui Sarana air PDAM yang telah disediakan pemerintah. Atau, dapat mencari titik sumber air sumur
di area sekitar tapak.
b. Drainase
saluran Drainase terdapat di bawah area jalan pedestrian.
c. Sumber Listrik, Lampu, kabel Telepon, dan Penangkap Sinyal
Seluruh kebutuhan Electrical terdekat terdapat di area timur tapak berdekatan dengan sepanjang jalan Jl. Mayjen Yono Suwoyo.
3.1.4. Topografi
Topografi tapak cenderung datar dan tidak berkonter karena tapak merupakan area pembangunan.
1
3.1.5. Vegetasi Eksisting
a. vegetasi dominan pada tapak merupakan hamparan rumput hijau.
b. vegetasi pepohonan terletak di area jalan pedestrian yang terletak di timur tapak
sepanjang jalan Jl. Mayjen Yono Suwoyo.
1
c. Sumber Polusi
kendaraan yang berlalu lalang melalui jalan Jl. Mayjen Yono Suwoyo menjadi sumber utama polusi udara disekitar tapak. Kendaraan yaang
melalui area timur tapak juga menjadi sumber dari adanya polusi suara atau kebisinngan. Namun keduanya belum mencapai tingkat polusi berat.
Intensitas tertinggi terdapat pada jam-jam kerja atau jam-jam produktif masyarakat sekitar tapak.
1
3.2. Kajian Regulasi Tapak
Data peraturan Setempat
a. Lokasi : Jl. Mayjend Yono Suwoyo Kecamatan Dukuh Pakis, Kelurahan Kali Kendal, Surabaya Barat,
Jawa Timur.
b. Luas Lahan : 16600 m2
c. Fungsi : Perdagangan dan Jasa Komersial, Perkantoran, Pendidikan, Kesehatan.
d. Garis Sempadan Bangunan : ROW 13-20 m, GSB = 6-8 m
ROW > 20m, GSB = 8m
e. Koefisien Dasar Bangunan : 50% × 16600 = 8300 m2
f. Koefisien Lantai Bangunan : 9 × 16600 = 149400 m2
g. Ketinggian & Peil Lantai : Maks. 20m – 130m
h. Total Lantai : KLB/KDB = 149400 : 8300 = 18 Lantai
i. Harga Tanah : 60 Juta/m2
1
3.3. Kajian Isu Tapak
a. Proses pembangunan dapat memberikan dampak kebisingan pada area kawasan perumahan di sekitar tapak
b. bangunan tinggi membutuhkan kebutuhan air bersih yang tinggi yang secara tidak langsung akan berdampak
kurang baik bagi keberlangsungan ketersediaan air khususnya bagi kawasan perumahan masyarakat.
c. pembangunan secara masif dapat menutup lahan hijau yang dapat berdampak tidak baik pada lingkungan.
d. intensitas kendaraan di area Jl. Mayjen Yono Suwoyo relatif padat sehingga pembangunan area komersial baru akan
menambah beban trnasportasi kawasan.
c. dengan dibangunnya bangunan komersial baru pada tapak maka diperlukan kebutuhan jalur drainase dan listrik yang lebih.
1
1
BAB IV
Grand Konsep
4.1. Grand Konsep
4.1.1. Konsep Bio Climatic
Arsitektur Bioklimatik adalah suatu pendekatan yang mengarahkan arsitek untuk mendapatkan penyelesaian desain dengan memperhatikan
hubungan antara bentuk arsitektur dengan lingkungannya dalam kaitanyan iklim daerah tersebut. Pada akhirnya bentuk arsitektur yang dihasilkan
juga dipengaruhi oleh budaya setempat, dan hal ini akan berpengaruh pada ekspresi arsitektur yang akan ditampilakan dari suatu bangunan, selain
itu pendekatan bioklimtaik akan mengurangi ketergantungan karya arsitektur terhadap sumber – sumber energi yang tidak dapat dipengaruhi Hal
ini dapat dikonseptualisasikan sebagai desain bangunan yang memanfaatkan berbagai elemen biofisik. Unsur-unsur biofisik terutama diambil dari
ekosfer, bukan litosfer yaitu, panas, cahaya, lanskap, udara, dan hujan.
Bangunan dirancang agar dapat memiliki kemampuan renspon cepat terhadap environmental Load s yang terdapat di area tapak. Sehingga
secara mandiri dan efektif dapat mengurangi dan meringankan permasalahan-permasalahan akibat usia bangunan atau beban material banguan
lain.
Bangunan dirancang agar dapat memaksimalkan area publik. Menghidupkan jaringan kehidupan sosial melalui fungsi fungsi penunjang
bangunan maupun impact dari kegiatan para penyewa kantor yang menjadi fungsi utama bangunan.
1
4.2. Rencana Kebutuhan Ruang dan Fasilitas
1
4.2.1. Fungsi Penunjang
1
Daftar Pustaka
1. Kusumawardhani, Martha. 2006. Perencanaan dan Perancangan Interior Restaurant, Coffee shop, dan Lobby. Surakarta : UNS
2. Larasati, Dewi. 2017. Aspek-aspek Perancangan Arsitektur dan Implementasinya. Makalah Seminar Arsitektur. Bandung : ITB
3. Peraturan Mentri Pariwisata Republik Indonesia Nomor 2 Tahun 2017 tentang pedoman Tempat Penyelenggaraan Kegiatan (Venue)
Pertemuan, Perjalanan Insentif, Konvensi dan Pameran
4. Peraturan Mentri Pekerja Umum Nomor 6 Tahun 2007 tentang Pedoman Umum Rencana Tata Bangunan Lingkungan
5. Peraturan Walikota Surabaya Nomor 75 Tahun 2014 tentang pedoman Teknis pengendalian Pemanfaatan Ruang Dalam Rangka Pendirian
Bangunan di Kota Surabaya
6. Environmental Load, 2014 .([Link] pada 10 februari 2020
7. Bioklimatik, 2011. ([Link] diakses pada 10 februari 2020
8. Menghitung KDB KLB bangunan,-([Link] diakses pada 10 februari 2020
9. Pengertian definisi mix use building,2015.([Link] diakses pada 10
februari 2020