Dampak Virus Corona Terhadap Sektor Pariwisata dan
Bisnis Penerbangan di Indonesia
Disusun Oleh:
TRISNAWATI
1796142011
JURUSAN EKONOMI PEMBANGUNAN
FAKULTAS EKONOMI
UNIVERSITAS NEGERI MAKASSAR
2020
I. Pendahuluan
Virus Corona atau Covid-19 telah meneror ketakutan yang nyata di
seluruh penjuru dunia. Virus yang lahir dan tercipta di Wuhan, China ini
dilaporkan telah menelan lebih dari 2.300 korban. Wuhan layaknya Kota Mati
yang penuh misteri, bangkai dan darah manusia masih tercium baunya di kota
ini.
China sebagai negara dengan pertumbuhan perekonomian raksasa
kedua setelah Amerika Serikat karena nilai Produk Domestik Bruto (PDB)
China sebesar USD 13,6 triliun. China juga adalah ‘pemegang rekor dunia,’
yakni sebagai produsen dan eksportir manufaktur terbesar, pasar terbesar
untuk barang konsumsi dan barang mewah, dan pengimpor minyak mentah
terbesar di dunia.
Namun, gegara virus corona, banyak perusahaan dan pabrik tutup, tidak
beroperasi demi mengurangi penularan. Aktivitas ekspor dan impor dari dan
ke China melempem. Akibatnya produksi jadi mandek. Imbas lain, rantai
pasokan ke berbagai negara pun ikut seret.
Salah satu dampak yang luar biasa pada perekonomian China secara
global, contohnya saja sektor pariwisata. Untuk mencegah penyebaran virus
baru, pemerintah di seluruh dunia termasuk Indonesia telah memberlakukan
pembatasan perjalanan pada orang yang akan bepergian dari dan ke China.
Bukan hanya sektor pariwisata global secara umum yang merasakan
dampaknya, tetapi juga sektor pariwisata di Indonesia sendiri merasakan
dampak yang cukup signifikan. Penurunan jumlah wisatawanpun tentu
berpengaruh negatif terhadap sektor-sektor lainnya yang terkait seperti
transportasi, hotel, restoran, dan lain sebagainya. Dalam sektor transportasi
sendiri akses penerbangan dibatasi untuk mencegah penyebaran virus
Corona.
Jadi, apa dampaknya terhadap sektor pariwisata dan bisnis
penerbangan di Indonesia?
II. Pembahasan
Jika dilihat sepekan ke belakang, banyak maskapai penerbangan
hingga pemerintahan Indonesia menurunkan harga tiket pesawat demi
menarik masyarakat untuk bepergian. Pasalnya, wabah virus corona yang
semakin bertambah membuat minat warga untuk berwisata khususnya ke
mancanegara semakin menurun.
Presiden Joko Widodo memutuskan memberikan diskon harga tiket
pesawat, dan membebaskan pajak hotel dan restoran, untuk melawan
dampak ekonomi dari virus corona. Wabah penyakit dari Wuhan itu telah
memukul bisnis pariwisata di dunia, tak terkecuali di Indonesia, lantaran
peringatan perjalanan yang dikeluarkan banyak negara.
Pemerintah Indonesia telah menggelontorkan insentif Rp443,39 miliar
untuk Insentif itu akan dirasakan oleh 25 persen penumpang per pesawat.
Diskon akan berlaku sejak Maret-Mei 2020. Selain itu, pemerintah telah
membebaskan pajak hotel dan restoran. Kebijakan ini dinilai tepat sasaran
untuk menekan dampak virus corona terhadap sektor pariwisata.
Beberapa maskapai penerbangan di Indonesia mengaku merugi akibat
wabah Virus Corona. Kerugian terjadi karena wabah telah mengakibatkan
beberapa rute-rute penerbangan dari dan menuju China terpaksa dibatalkan.
Salah satu kerugian dialami Batik Air, yang merupakan anak perusahaan dari
Lion Air.
Kerugian tersebut terjadi lantaran lima rute penerbangan Batik Air ke
China terpaksa disetop. Dampak penghentian tersebut, lima pesawat Lion Air
Group milik Batik yang terbang di rute-rute yang dibatalkan tersebut kini dalam
proses maintenance di Hanggar Bandara. Untuk menghindari kerugian lebih
lanjut, maskapai akan menggarap rute-rute yang menguntungkan untuk
mengganti rute penerbangan ke China seperti Jawa, Sumatera dan
Kalimantan.
Tak hanya Batik, maskapai lainnya, yakni Citilink pun mengalami hal
yang sama yakni dampak penurunan pendapatan. Dengan kondisi tersebut,
tentu saja berdampak kepada penurunan jumlah potensi market khususnya
bagi penerbangan rute China. Sama seperti Batik Air seluruh rute
penerbangan Citilink menuju Negeri Tirai Bambu juga disetop tanpa tenggat
waktu yang jelas. Namun, berbeda dengan Batik Air, Citilink bakal melakukan
strategi khusus dengan melakukan penyesuaian pada kapasitas
penerbangan.
III. Penutup
Bila industri pariwisata sepi, sedikit turis yang datang, maka
pendapatan negara maupun cadangan devisa dari sektor pariwisata dapat
berkurang. Padahal cadangan devisa sangat penting, salah satunya alat
stabilisasi mata uang suatu negara. Misalnya jika kurs rupiah sedang terpuruk,
maka Bank Indonesia (BI) akan melakukan intervensi dengan cadev untuk
menstabilkan nilai tukar mata uang Garuda.
IV. Sumber Referensi
detikfinance, Ada Dampak Positif Buat Ekonomi RI di Balik Wabah Corona,
Apa Itu? 29 Feb 2020, 22:30 WIB. [Link]
ekonomi-bisnis/d-4920132/ada-dampak-positif-buat-ekonomi-ri-di-balik-
wabah-corona-apa-itu Diakses pada tanggal 01 Maret 2020, 10.30
WITA.
Liputan6, Dampak Virus Corona, Pemerintah Siapkan Insentif Sektor
Pariwisata Rp 298 Miliar, 26 Feb 2020, 09.00 WIB
[Link]
pemerintah-siapkan-insentif-sektor-pariwisata-rp-298-miliar Diakses
pada tanggal 01 Maret 2020, 10.30 WITA.
CNN Indonesia, Jurus Jokowi Lawan Virus Corona dengan Diskon Tiket
Pesawat, 26 Feb 2020, 09.26 WIB
[Link]
478192/jurus-jokowi-lawan-virus-corona-dengan-diskon-tiket-pesawat
Diakses pada tanggal 01 Maret 2020, 10.30 WITA.