Tutorial STAADPRO: Gedung Baja 10 Lantai
Tutorial STAADPRO: Gedung Baja 10 Lantai
Tutorial STAADPRO
Sabtu, 01 Oktober 2016 Popular Posts
Perencanaan Ruko 2 Lantai
Tutorial STAAD PRO 10 pada Dengan STAAD PRO 2004
PERENCANAAN RUKO 2
perencanaan Gedung baja 10 Lantai Tahap LANTAI DENGAN STAAD PRO
2004 Tampak Depan Denah LT
II 1 Denah LT 2 Rencana Balok
LT 2 Rencana Balok ...
Oke guys kita lanjut ke tahap selanjutnya, bagi yang belum baca tahap pertama biSA buka link Tutorial STAAD PRO 10 pada
di bawah ini perencanaan Gedung baja 10
Lantai Tahap II
Oke guys kita lanjut ke tahap
Tutorial STAAD PRO pada perencanaan gedung 10 lantai (Bagian I)
selanjutnya, bagi yang belum
baca tahap pertama biSA buka
Setelah tampilan STAAD PRO yang sudah di merger dari structure wizard muncul, langkah link di bawah ini Tutorial STAAD PRO pada
peren...
selanjutnya adalah menentukan Profil Balok dan kolom,
Perencanaan Gedung Baja 10
Tahap 1 Menentukan Profil Balok dan Kolom Lantai dengan Program STAAD
Pro V 8 i Tahap I
Salam Sejahtera semoga Negeri
kita ini bisa semakin maju
ð kedepannya dengan semakin
banyaknya engineer yan bertaburan Oke
ð Klik ‘’General’’ Pada Tampilan di sebelah kiri, lalu klik Property maka akan muncul tampilan sekarang m...
seperti gambar dibawah
Tahapan Perencanaan Staad Pro
Sebelum kita akan membahas cara
mengoperasikan STAAD , maka ada baiknya
kita perlu tahu dulu 7 (tujuh) tahapan dalam
rancang bangun pemodel...
Pages
Beranda
Mengenai Saya
Unknown
Kemudian Klik ‘’ Section Databese ‘’ untuk menentukan Profil Baja yang akan digunakan.. Arsip Blog
Maka akan muncul tampilan yang menunjukan dimensi dan ukuran Profil baja,
▼ 2016 (7)
▼ Oktober (3)
Tutorial STAAD PRO 10 pada
perencanaan Gedung baja...
[Link] 1/74
3/2/2020 Tutorial STAADPRO
► Mei (4)
Anda bisa memilih jenis standar dari Negara mana yang akan digunakan, tapi karena
Indonesia merupakan Negara dengan tingkat gempa yang hamper mirip dengan jepang maka
mimin akan menggunakan standar dari Jepang
Selanjutnya kita pilih Profil H 400 x400 x 13 x21 untuk Profil Kolom
Dan Profil H 400 x 200x9x19 Untuk Profil Balok
Klik Add
Setelah kita menentukan profil yang akan di gunakan maka tahap melanjutnya adalah
mengaplikasikan Profil ke struktur yang sudah kita rancang
Klik ‘’Select’’ pada tampilan menu kemudian klik ‘’ Beams Paralells To ‘’ Klik ‘’Y’’ untuk
memblok kolom
Seperti gambar dibawah ini
[Link] 2/74
3/2/2020 Tutorial STAADPRO
Langkan ini cukup mudah yaitu menentukan perletakan yang akan digunakan pada struktur
gedung ini, maka perletakan yang dipilih adalah perletakan kaku
Caranya yaitu klik Klik ‘’Support’’ pada menu di sebelah kiri maka akan muncul tampilan
seperti dibawah
[Link] 3/74
3/2/2020 Tutorial STAADPRO
Lalu klik ‘’Add’’ setelah itu kita tinggal memblok daerah yang akan kita beri perletakan atau
support lalu klik ‘’Assign to selected beam’’
Oke untuk Perncanaan Gedung Struktur baja 10 lantai selesai sampai disini , untuk
pembebanan dan run analisa bisa kalian lihat di artikel selanjutnya ya..
l
S...
Tutorial STAADPRO: Perencanaan Gedung Baja 10 Lantai dengan Program S...: Salam
Sejahtera semoga Negeri kita ini bisa semakin maju kedepannya dengan semakin banyaknya
engineer yan bertaburan Oke sekarang m...
Salam Sejahtera semoga Negeri kita ini bisa semakin maju kedepannya dengan semakin
banyaknya engineer yan bertaburan
Oke sekarang mimin akan membagikan beberapa tips dan tutorial program STAAD Pro v8.i
pada perencanaan gedung berstruktur baja, sebenernya ini merupakan tugas akhir mimin
yang akan disidangkan beberapa bulan lagi, sembari ngisi waktu luang mimin share aja,
semoga ilmunya bermanfaat ya guys.
Tahap 1. Denah .,
[Link] 5/74
3/2/2020 Tutorial STAADPRO
Ada tiga pilihan SPACE, PLANE, FLOOR, DAN TRUS : Space untuk analisa 3 dimensi ,
sedangkan plane untuk analisa 2 dimensi
Tools ini merupakan yang paling mudah dalam menentukan struktur yang simetris
[Link] 6/74
3/2/2020 Tutorial STAADPRO
Nah jangan lupa pilih ‘’ Frame models’’ karena bentuk struktur yang akan digunakan adalah
portal
Tahap 6 Klik ‘’Bay Frame’’ dan tentukan Lebar , Panjang dan tinggi, strukture
Kemudian klik ‘File’ dan ‘’pilih merge model with [Link] model’’
[Link] 7/74
3/2/2020 Tutorial STAADPRO
Oke sampai disini selesai Tahap Awal dalam merancang bangunan Struktur Baja 10 Lantai
tahap I selanjutnya untuk tahap II bisa dilihat pada file ini
Tampak Depan
[Link] 8/74
3/2/2020 Tutorial STAADPRO
Denah LT 1
Denah LT 2
[Link] 9/74
3/2/2020 Tutorial STAADPRO
Rencana Balok LT 2
[Link] 10/74
3/2/2020 Tutorial STAADPRO
Untuk menjaga agar postingan tidak terlalu memanjang kebawah. Pembahasan
perencanaan ruko dua lantai dengan program bantu STAAD Pro 2004, saya
bagi menjadi empat bagian, sebagai berikut :
1. Perencanaan ruko dua lantai dengan program bantu STAAD Pro 2004
(Part 1) – membahas cara memodel struktur
2. Perencanaan ruko dua lantai dengan program bantu STAAD Pro 2004
(Part 2) – membahas cara mendefiniskan material dan profil penampang
3. Perencanaan ruko dua lantai dengan program bantu STAAD Pro 2004
(Part 3) – membahas cara mendefinisikan beban dan assign pembebanan
4. Perencanaan ruko dua lantai dengan program bantu STAAD Pro 2004
(Part 4) – membahas analisa struktur, design struktur dan verifikasi desain
1. Tentukan tipe struktur yang akan dianalisa dengan mengklik radio button
space,
2. Tentukan nama file di kotak form file name
3. Tentukan lokasi file dimana file tersebut akan disimpan dengan cara mengklik
tombol kecil disamping kotak text box Location.
4. Tentukan unit yang akan dipakai, yaitu dengan mengklik meter pada
framelength units
5. klik kilogram pada frame force units
6. Klik Next untuk melanjutkan
7 Kotak dialog selanjutnya akan muncul, dimana STAAD akan menanyakan apa
yang akan anda lakukan selanjutnya. Apakah akan membuat model struktur
ataukah mengedit informasi dari pekerjaan anda. Disini anda akan menggambar
portal 3D dengan cara memodifikasi portal 2D (di alih modif). Karena itu kliklah
radio botton Add Beams. lalu klik Finish
8. Tampilan STAAD akan seperti gambar dibawah.
[Link] 11/74
3/2/2020 Tutorial STAADPRO
9. Secara default tampilan / display dari page view ketika dibuka adalah
bermodus isometri, oleh karena itu untuk lebih mudah dalam memodel /
menggambar struktur, rubah dulu display ke modus view from Z+ . Untuk itu
pada bagian menu toolbar rotate (disebelah kiri atas) klik ikon view from Z+
(lihat tool yang saya lingkari pakai warna merah pada gambar dibawah ini)
10. Setelah anda mengklik tombol view from Z+, tampilan page view akan
menjadi seperti dibawah ini
11. Sekarang perhatikan kotak dialog Snap node Beam yang terletak disebelah
kanan dari kotak page view. Atur parameter grid dari kotak dialog Snap
Node/Beam tersebut seperti gambar dibawah ini
Perhatikan pada frame Construction Lines (Yang saya lingkari No. 3). Karena
bangunan kita lebarnya adalah 6 meter dan tinggi bangunannya adalah 7.70
meter, maka gridnya bisa kita isi X = 6, dan Y = 8, kemudian spasinya kita isi 1.
Ini artinya tiap garis grid arah X dan Y, antara grid satu dengan grid yang
lainnya berjarak 1 meter.
12. Setelah anda atur parameter diatas, maka modus view gridnya akan jadi
seperti ini
[Link] 12/74
3/2/2020 Tutorial STAADPRO
13. Nah…setelah grid sudah tertata dengan benar seperti diatas, maka
sekarang kita akan memulai penggambaran. Pastikan snap node
beams dalam kondisi terselect (lihat langkah no 11, perhatikan tool yang saya
tandai dengan lingkaran warna merah dan angka 4).
Catatan : fungsi tombol snap node beams itu sama seperti
smile_wink
fungsi end point pada AutoCAD, yaitu untuk membantu
menangkap ujung batang atau titik (joint) secara akurat.
Sekarang buat portal seperti gambar dibawah ini. Caranya : klik dititik (0,0), klik
dititik (0,4), klik dititik (6,4), kemudian klik dititik (6,0), tekan Esc di keyboard.
Kemudian secara berlanjut klik dititik (0,4), (0,8), (6,8), dan (6,4), tekan Esc.
Jika benar maka jadinya seperti dibawah ini.
14. Tinggi lantai dua dari bangunan kita adalah + 3.80 m, dan top atapnya
adalah + 7.40 (lihat gambar tampak depan). Disekeliling atap dipasang bata
setinggi 30 cm (untuk menjaga tampias air), sehingga tinggi total bangunan =
+7.70 m. Nah…oleh karena portal kita sekarang tingginya 8 m, maka kita harus
edit dulu ketinggian dari portal diatas dengan cara menurunkannya sejauh 0.6
m, supaya level top atapnya menjadi 7.40 m.
15. Klik beams cursor
[Link] 13/74
3/2/2020 Tutorial STAADPRO
16. Seleksi frame batang sebelah atas (atap) dari portal yang
sudah kita buat sebelumnya, lihat ilustrasi dibawah ini :
Garis yang anda seleksi tadi akan menjadi berwarna merah, ini
mengindikasikan bahwa joint dan framenya telah terselesi sempurna dan tinggal
menunggu perintah selanjutnya.
17. Tekan F2 di keyboard, maka akan muncul kotak dialog move seperti gambar
dibawah ini.
Karena yang kita edit adalah ketinggiannya, maka hubungannya adalah dengan
koordinat Y, oleh karena itu di kotak move beams selection (arah Y) isi dengan –
0.6. Artinya batang dan nodes dipindah 0.6 meter kebawah. Lihat gbr dibawah
ini
18. Nah, dengan cara yang sama lakukan juga untuk yang lantai dua ( turunkan
nodes dan batang nya sejauh 4m – 3.80 m = 0.2 m), sehingga secara
keseluruhan bentuk portalnya akan menjadi seperti ini, yaitu :
Elevasi Lantai 2 = + 3.80
[Link] 14/74
3/2/2020 Tutorial STAADPRO
Elevasi Atap = + 7.40
19. Selanjutnya kita akan menduplikat portal diatas sebanyak 5 kali atau istilah
teknik sipilnya adalah generasi batang. Caranya pilih semua batang dengan
cara dari menu pulldown klik Select > By All > Beams
20. Lihat hasilnya pada portal anda. Semua telah terseleksi sempurna
(warnanya berubah jadi merah).
- Ubah display dalam modus isometri, klik tool yang dilingkari pakai warna
merah
21. Kemudian dari menu toolbar generate klik icon translational repeat (lihat
yang saya lingkari pakai warna merah)
akan keluar kotak dialog 3D repeat. isi sesuai gambar dibawah ini, lalu klik OK
Catatan :
[Link] 15/74
3/2/2020 Tutorial STAADPRO
- Global direction = Arah duplikasi
- No of step = Jumlah bentang duplikasi
- Default Step Spacing = Jarak antar duplikasi
Untuk global direction klik Z, karena kita akan duplikasi portal ke arah Z,
kemudian isi No of Step = 4, karena jumlah bentangnya = 4, Selanjutnya isi juga
Default Step Spacing = 4, karena jarak duplikasi antar portalnya sejauh 4 m.
Jika benar maka hasilnya seperti ini
Semua jarak antar portal yang ada di layar tampilan STAAD anda sekarang
adalah 4 meter, padahal di gambar denah rencana kita, jarak antara As C dan
D adalah 3 meter. Supaya jarak antara portal As C dan D menjadi 3 meter,
maka kita harus me-move (menggeser) portal As A, B dan C sejauh 1 meter
mundur kebelakang(perhatikan ilustrasinya pada gambar dibawah ini)
22. Untuk me-move portal As A,B,dan C, seleksi portal A,B, dan C dengan cara
klik titik 1 kemudian klik dititik 2 (lihat gbr dibawah ini)
[Link] 16/74
3/2/2020 Tutorial STAADPRO
Anda lihat dilayar anda, ada beberapa elemen dari portal lain yang ikut
terseleksi (elemen 1,2,3,4), untuk itu kita harus membatalkan seleksinya
dengan cara tekan ctrl di keyboard (jangan dilepas) kemudian klik elemen 1,2,3
dan 4 sehingga sekarang hasilnya betul-betul hanya portal A,B dan C saja yang
terseleksi
23. Klik F2 di keyboard anda, kemudian di Global Z, masukan nilai –1, artinya
proses pemindahannya kearah sumbu Z sejauh 1 meter mundur kebelakang
[Link] 17/74
3/2/2020 Tutorial STAADPRO
maka kita cek dengan meng klik icon kemudian klik titik 1 dan 2, maka
dimensi jaraknya akan muncul secara otomatis (lihat gambar dibawah)
24. Buat element balok yang menghubungkan setiap portal. Dengan cara dari
[Link] 18/74
3/2/2020 Tutorial STAADPRO
-Klik titik 1 dan titik 2, Kemudian klik titik 2 dan titik 3, Kemudian klik titik 3 dan
titik 4, Selanjutnya klik titik 4 dan titik 5
-Klik titik 6 dan titik 7, Kemudian klik titik 7 dan titik 8, Kemudian klik titik 8 dan
titik 9, Selanjutnya klik titik 9 dan titik 10
Element balok atap
-Klik titik 11 dan titik 12, Kemudian klik titik 12 dan titik 13, Kemudian klik titik 13
dan titik 14, Selanjutnya klik titik 14 dan titik 15
-Klik titik 16 dan titik 17, Kemudian klik titik 17 dan titik 18, Kemudian klik titik 18
dan titik 19, Selanjutnya klik titik 19 dan titik 10
Jika langkah-langkah yang anda lakukan benar maka hasilnya akan seperti ini :
[Link] 19/74
3/2/2020 Tutorial STAADPRO
29. Sekarang kita akan pasang balok anak. Klik tool add beam,
kemudian klik titik 1 dan titik 2 (lihat gambar)
[Link] 20/74
3/2/2020 Tutorial STAADPRO
- Klik balok tersebut, kemudian klik kanan pada mouse, pilih insert node
- Akan keluar kotak Insert Node Into Beam
- Isi distance = 1.5, kemudian klik Add New Point, Klik Ok. Jika langkah anda
sudah benar, maka sekarang element balok as 2,(D - E) telah terpisah
menjadi 2 bagian.
31. Jika anda sudah melakukannya dengan benar, maka sekarang balok anak
yang menyangga kamar mandi sudah bisa kita pasang. Caranya klik
kemudian klik titik 1 kemudian klik titik 2 (lihat gambar dibawah ini)
33. Jika sudah, sekarang kita pasang balok anak berikutnya. Klik ,
kemudian klik titik 1 dan titik 2 (lihat gambar dibawah ini)
[Link] 21/74
3/2/2020 Tutorial STAADPRO
- Jika sudah, maka lakukan hal yang serupa terhadap balok lantai 2 as C,
sehingga secara keseluruhan dua balok tersebut (yaitu balok as B dan C) telah
terpisah tepat ditengah bentang.
35. Pasang balok anak yang menghubungkan antara balok induk as B dan as
C, dengan cara seperti yang sudah kita bahas sebelumnya, sehingga hasilnya
akan seperti ini
[Link] 22/74
3/2/2020 Tutorial STAADPRO
37. Sekarang klik, balok yang baru kita buat tadi (lihat gambar bawah)
[Link] 23/74
3/2/2020 Tutorial STAADPRO
38. Sekarang lakukan hal yang sama seperti diatas terhadap balok ini (lihat
gambar dibawah ini)
tooladd beam . Semua langkah dan caranya sama seperti pada point
sebelumnya. (Pasti bisa kan……), dan kalau benar, maka hasilnya akan seperti
dibawah ini
[Link] 24/74
3/2/2020 Tutorial STAADPRO
- Setelah itu akan muncul kotak dialog renumbers. Isi nilai awal batang dengan
1 dengan konsekuensi [Link] klik Accept
[Link] 25/74
3/2/2020 Tutorial STAADPRO
- Akan muncul kotak informasi bahwasanya beam dan jointnya sudah di
renumber
[Link] 26/74
3/2/2020 Tutorial STAADPRO
5. Klik Add
6. Klik Close
3.2 Mendefinisikan Balok Anak
- Mendefinisikan balok anak 20/40
[Link] 27/74
3/2/2020 Tutorial STAADPRO
[Link] 28/74
3/2/2020 Tutorial STAADPRO
Akan keluar kotak dialog Give Group Name.
[Link] 29/74
3/2/2020 Tutorial STAADPRO
4. Lihat portal anda. Balok induk yang tergroup tadi telah terselect secara
otomatis
[Link] 30/74
3/2/2020 Tutorial STAADPRO
- Klik Yes
Jika sudah maka hasilnya akan seperti ini,
elemen yang terdefinisi diberi notasi oleh
STAAD dengan notasi R1
[Link] 31/74
3/2/2020 Tutorial STAADPRO
3. Lihat portal anda. Balok anak yang tergroup tadi telah terselect secara
otomatis
- Klik Yes
Jika sudah maka hasilnya akan seperti ini,
elemen yang terdefinisi diberi notasi oleh STAAD dengan notasi R2
[Link] 32/74
3/2/2020 Tutorial STAADPRO
2. Ok! jika sudah, maka akan keluar kotak dialog Create Support. Klik Fixed >
Klik Add
[Link] 33/74
3/2/2020 Tutorial STAADPRO
Ok!, kotak Dialog ini jangan diapa-apakan dulu. Sekarang klik tool Nodes
Cursor
. (posisi tool ini tepat diatasnya tool beam cursor)
5. Tekan Ctrl di keyboard anda, kemudian klik/pilih node-node di posisi
end column pada portal anda, (lakukan seperti gambar dibawah ini).
Jika anda mengkliknya benar, maka node yang telah anda klik tadi akan
berwarna merah.
[Link] 34/74
3/2/2020 Tutorial STAADPRO
6. Jika semua node telah terpilih dengan benar, maka pada kotak dialog
Supports-Whole Structure klik radio button Assign To Selected Nodes,
kemudian klikAssign, setelah itu akan muncul kotak konfirmasi yang
menanyakan mengenai metode assign yang digunakan, apakah diproses lebih
lanjut?. Klik Yes
2. Mendefinisikan Beban
2.1 Beban Pelat Lantai
Data-data :
- Tebal Pelat = 0.12 m
- Tebal Spesi = 0.10 m
- Tebal Keramik = 0.10 m
- Bj. Beton = 2400 kg/m2
- Bj. Spesi per 1 cm tebal = 21 kg/m2
- Bj. Keramik per 1 cm tebal = 24 kg/m2
Beban Mati Akibat Pelat Lantai :
[Link] 35/74
3/2/2020 Tutorial STAADPRO
- Beban Pelat = 0.12 m x 2400 kg/m2 = 288 kg/m2
- Beban Plafond + Penggantung = 18 kg/m2
- Beban Spesi = 21 kg/m2
- Beban Keramik = 24 kg/m2
Total berat beban mati pelat lantai = 288 + 18 + 21 + 24 = 351 kg/m2
2.2 Beban Pelat Atap
Data-data :
- Tebal Pelat = 0.10 m
- Tebal Spesi = 0.10 m
- Bj. Beton = 2400 kg/m2
- Bj. Spesi per 1 cm tebal = 21 kg/m2
Beban Mati Akibat Pelat Atap :
- Beban Pelat = 0.10 m x 2400 kg/m2 = 240 kg/m2
- Beban Plafond + Penggantung = 18 kg/m2
- Beban Spesi = 21 kg/m2
Total berat beban mati pelat atap = 240 + 18 + 21 = 279 kg/m2
2.3. Beban Dinding Bata
Data-data :
- Tinggi dinding lantai 1 = 3.80 m
- Tinggi dinding lantai 2 = 3.60 m
- Bj. dinding bata = 250 kg/m2
Beban dinding lantai 1 per meter lari = 3.80 m x 250 kg/m2 = 950
kg/m
Beban dinding lantai 2 per meter lari = 3.60 m x 250 kg/m2 = 900
kg/m
2.4 Beban Hidup
- Untuk pelat lantai = 250 kg/m2
- Untuk pelat atap = 100 kg/m2
2.3 Beban Kombinasi
Beban Mati ( DL )
- Berat sendiri struktur, Beban pelat lantai, pelat atap & dinding
Beban Hidup ( LL )
Beban Kombinasi (COMB)
Kombinasi 1 = 1.4 DL
Kombinasi 2 = 1.2 DL + 1.6 LL
3. Mendefinisikan Beban Terdefinisi Ke Struktur
1. Yang pertama kita lakukan adalah menentukan beban akibat berat
sendiri yang termasuk dalam kategori beban mati (DL). Caranya dari
Page menuGeneral, klik Load. Secara otomatis kotak dialog Set
Active Primary LoadCase akan muncul. klik Create New Primary
Load Case. Pastikan nomor pembebanan yang terisi adalah 1. Pada
Loading Type List pilih [Link] isi Title yang sifatnya optional
dengan Berat Sendiri, lalu klik OK
2. Tampilan layar anda sekarang akan berubah pada mode loading dengan tab
aktif yaitu Loads, dimana data area tampil kotak dialog Load
Values dan Loads
[Link] 36/74
3/2/2020 Tutorial STAADPRO
3. Satuan dari pembebanan yang akan kita berikan ke struktur adalah kilogram
meter. Untuk itu pastikan input units nya adalah kilogram meter. Caranya klik
iconinput unit (yang saya lingkari pakai warna merah), kemudian
pilih meter padaframe Length Units dan kilogram pada frame Force Units
4. Sekarang dari kotak dialog Loads, klik Selfweight. Maka akan muncul kotak
dialog Selfweight Load. Kemudian pada frame Direction klik Y, dan isi factor
dengan nilai –1 yang berarti arahnya kebawah. Lalu klik Assign untuk
mengakhiri.
Anda lihat kotak dialog Loads di Loads Spesification list disebelah kanan
layar anda, akan nampak spesifikasi beban yang telah anda definisikan
sebelumnya.
5. Setelah berat sendiri sudah kita definisikan ke struktur, maka sekarang akan
kita definisikan juga untuk beban pelatnya. Kita mulai dari pelat lantai terlebih
dahulu. Sekarang lihat gambar ini.
[Link] 37/74
3/2/2020 Tutorial STAADPRO
Di posisi lantai dua, ada bagian yang tidak boleh di Assign beban pelat yaitu
bagian Void Tangga. Untuk itu kita mulai Assign beban pelat pada area A,B,C &
D
6. Biar lebih mudah dalam menempatkan beban pelat ke struktur, maka tidak
ada salahnya jika kita menampilkan dimensi (ukuran) dari elemen struktur portal
kita. Yang mana tujuannya adalah sebagai rujukan untuk memudahkan dalam
menentukan range dari tributary area pembebanan. Caranya Klik
tool dimension(yang saya lingkari pakai warna merah) kemudian klik display
Langkah selanjutnya, anda klik New Load pada kotak dialog Loads. Maka aka
keluar kotak dialog New Create Load. Pastikan di Listbox nya pada
[Link] 38/74
3/2/2020 Tutorial STAADPRO
pilihanDead, dan isi Titlenya dengan nama BERAT MATI PELAT. Klik OK
7. Sekarang pada kotak dialog Loads klik Member. Setelah kotak dialog Beam
Load muncul klik tab Floor With Y Range. Kemudian isi seperti dibawah ini.
Lalu klik Add
[Link] 39/74
3/2/2020 Tutorial STAADPRO
8. Definisikan juga untuk pelat dengan area seperti tergambar dibawah ini.
Caranya dari kotak dialog Loads klik Member. Setelah kotak dialog Beam
Loadmuncul klik tab Floor With Y Range. Kemudian isi seperti dibawah ini.
Lalu klikAdd
[Link] 40/74
3/2/2020 Tutorial STAADPRO
8. Lanjutkan juga untuk pelat dengan area seperti tergambar dibawah ini.
Caranya dari kotak dialog Loads klik Member. Setelah kotak dialog Beam
Loadmuncul klik tab Floor With Y Range. Kemudian isi seperti dibawah ini.
Lalu klikAdd
[Link] 41/74
3/2/2020 Tutorial STAADPRO
9. Sekarang kita akan menempatkan beban mati akibat pelat atap. Caranya
sama seperti sebelumnya, bedanya hanya pada masalah define range untuk
tributary area bebannya saja.
Untuk itu, dari kotak dialog Loads klik Member. Setelah kotak dialog Beam
Loadmuncul klik tab Floor With Y Range. Kemudian isi seperti dibawah ini.
Lalu klikAdd
[Link] 42/74
3/2/2020 Tutorial STAADPRO
Force = –279 kg/m2 (ingat karena ini beban pelat atap, jadi bukan –351 kg/m2
lagi lho….hehehe)
Perhatikan untuk yang bagian Y Range. Kenapa kok tidak diisi dengan min = 0
dan max = 7.4. ?
Karena apabila nilai minimumnya kita isi dengan 0 dan maximumnya kita isi
dengan 7.40 m. Berarti definisi beban akan berada pada rentang ketinggian
antara 0 sampai 7.40. Ini artinya beban plat dilantai dua akan menjadi dobel
karena beban pelat atapnya ikut ter assign dilantai 2
Jika sudah maka hasilnya akan seperti ini
Dan di menu data area, yaitu di kotak Loads - Whole Structure, sekarang telah
terdefinisi data beban mati pelat lantai & pelat atap
Untuk menampilkan tributari area. Caranya klik kanan pada area kosong di
gambar tampilan, maka akan keluar floating menu. Pilih Labels…, kemudian
pada frame Loading Display Option, Ceklist Load Values. Klik OK
[Link] 43/74
3/2/2020 Tutorial STAADPRO
[Link] 44/74
3/2/2020 Tutorial STAADPRO
[Link] 45/74
3/2/2020 Tutorial STAADPRO
Catatan :
Beban yang bekerja pada ketinggian 3.8 meter adalah beban pelat lantai,
sedangkan beban yang bekerja pada ketinggian 7.40 m adalah beban pelat
atap, Nah…untuk itu kita kasih catatan kecil, agar kita lebih mudah nantinya
dalam membaca script. Untuk itu sisipkan kata-kata berikut dengan diawali
tanda *.
LOAD 2 BEBAN MATI PELAT
FLOOR LOAD
*PELAT LANTAI
YRANGE 0 3.8 FLOAD -351 XRANGE 0 6 ZRANGE 4 16
YRANGE 0 3.8 FLOAD -351 XRANGE 0 2.9 ZRANGE 0 4
YRANGE 0 3.8 FLOAD -351 XRANGE 2.9 6 ZRANGE 0
1.5
*PELAT ATAP
YRANGE 7.4 7.4 FLOAD -279 XRANGE 0 6 ZRANGE 0
16FINISH
Kode script diatas adalah kode script dari beban mati pelat lantai dan pelat atap.
Nah….sekarang yang menjadi pertanyaan adalah, bagaimana cara memasukan
beban hidup pelat lantai dan pelat atap melalui STAAD EDITOR ini ?
Gampang….!. Kita tinggal Copy kode script dari beban mati pelat lantai & atap
diatas, kemudian kita Paste dibawahnya. Tapi ingat…, Paste nya diatas
kataFINISH lho. Biar lebih jelas perhatikan langkah-langkahnya….
[Link] 46/74
3/2/2020 Tutorial STAADPRO
Catatan:
Ganti hasil paste tadi dengan angka-angka yang saya blok pake warna kuning.
Ingat hanya pada bagian yang berwarna kuning saja yang dirubah, selain
itutidak.
Sehingga secara keseluruhan hasilnya akan menjadi seperti ini.
3. Jika sudah, maka klik Save (atau juga bisa tekan Ctrl + S). Klik Close (pojok
kanan atas). Klik OK
Sekarang kita telah memiliki 3 Pembebanan yaitu berat sendiri, beban mati
pelat, dan beban hidup pelat
[Link] 47/74
3/2/2020 Tutorial STAADPRO
4. Sekarang kita akan pasang beban dinding di Lantai 2 dan di Atap. Dimana
tinggi dinding lantai 2 adalah 3.60 m, dan tinggi dinding bata di atap adalah 30
cm (biar air hujan tidak tampias kebawah),
Beban dinding Lt 2 = 3.60 m x 250 kg/m2 = 900 kg/m’……..(catatan:
250 kg/m2 = berat jenis dinding bata)
Beban dinding Atap = 0.3 m x 250 kg.m2 = 75 kg/m’
Beban dinding di balkon tidak ada, karena tidak dipasang pagar dari
bata. Untuk pengaman di area balkon rencananya di pasang pagar
railing dari besi hollow ukuran 40 x 40 mm (anggap bebanya kecil,
jadi diabaikan saja)
Kita mulai dulu dari lantai 2.
- Dari kotak dialog Loads-Whole Structure, Klik New Load, maka akan keluar
kotak dialog Create New Loads. Kemudian isi seperti gambar dibawah ini.
KlikOK
- Dari kotak dialog Loads-Whole Structure, Klik Member, maka akan keluar
kotak dialog Beam Loads. Klik Tab Uniform Force, kemudian isi seperti
gambar dibawah ini. Klik OK
[Link] 48/74
3/2/2020 Tutorial STAADPRO
Sekarang kita akan Assign beban tersebut ke struktur. Untuk itu sekarang
pergilah ke portal anda
- Pilih elemen balok seperti gambar dibawah ini. Karena pada lokasi tersebut,
akan dipasang dinding setinggi 3.6 m (Lihat denah)
[Link] 49/74
3/2/2020 Tutorial STAADPRO
- Kita beralih dulu ke gambar portal. Sekarang pilih elemen balok seperti
gambar dibawah ini (warna merah). Karena pada lokasi tersebut, akan dipasang
dinding setinggi 30 cm
[Link] 50/74
3/2/2020 Tutorial STAADPRO
[Link] 51/74
3/2/2020 Tutorial STAADPRO
[Link] 52/74
3/2/2020 Tutorial STAADPRO
2. Setelah itu akan keluar kotak dialog Create New Load. Anda klik radio
buttonNew Load Combination (Manual), kemudian isi pada kotak text box
‘Title’ dengan nama BEBAN KOMBINASI, jika sudah lanjutkan dengan
mengklik OK!.
3. Akan keluar kotak dialog Define Combination. Isi factor beban dengan
nilai1.2, kemudian lanjutkan dengan menyeleksi beban berat sendiri, beban
mati pelat & beban dinding dengan cara mengklik satu persatu beban tersebut
sambil menahan tombol Ctrl di keyboard anda. Lanjutkan dengan menekan
tombol > , agar beban yang terseleksi berpindah ke frame Load Combination
[Link] 53/74
3/2/2020 Tutorial STAADPRO
4. Jika sudah, maka dengan cara yang sama lakukan juga untuk beban hidup
pelat, tapi dengan catatan ubah dulu nilai factor beban dengan 1.6. Sehingga
secara keseluruhan menjadi seperti dibawah ini. Lanjutkan dengan
mengklik OK!
Ok!. sekarang semua beban berikut dengan kombinasinya telah kita definisikan
semuanya. Langkah berikutnya adalah menyiapkan parameter desain sebelum
melakukan analisa struktur.
Menyiapkan Parameter Desain
1. Dari menu page, klik tab Analysis/Print, maka otomatis akan keluar kotak
dialog Analysis/Print Commands. Pastikan pilihan No Print pada frame
PrintOption. Tekan Add kemudian lanjutkan dengan meng klik Close.
[Link] 54/74
3/2/2020 Tutorial STAADPRO
2. Kembali lagi ke menu page. Sekarang klik tab Design kemudian klik
tabConcrete. Maka di menu pages disebelah kanan layar tampilan anda akan
keluar kotak dialog Concrete Design-Whole Structure. Pada kotak scrool
box Current Code, pilih code desain ACI (catatan : kita pilih ACI karena code
desain ini sudah sangat mirip dengan SKSNI). Jika sudah, maka lanjutkan
dengan meng klik Select Parameter.
4. Sekarang kita akan seleksi beberapa parameter desain yang kita perlukan
saja. Caranya klik Clb, Cls & Clt, kemudian pindahkan ke kanan (Selected
Parameters) dengan meng klik tombol >
[Link] 55/74
3/2/2020 Tutorial STAADPRO
5. Ulangi
untuk Fc, Fymain, Fysec, Maxmain, Minmain, Minsec, Reinf danTrack. Hasil
akhirnya seperti gambar dibawah. Klik OK untuk menutup kotak dialog
Adapun penjelasan dari parameter yang kita pilih adalah sebagai berikut :
- Clb, Cls, Clt = Jarak decking (selimut beton) pada bagian samping, atas dan
bawah ( diambil = 4 cm).
- Fcmain = Kuat tekan beton ( direncanakan K-250 = 250 Mpa = 254,929
Kg/cm2).
- Fymain = Kuat tarik baja untuk tulangan utama ( direncanakan menggunakan
mutu baja U-39 = 3900 kg/cm2).
- Fysec = Kuat tarik baja untuk tulangan sengkang ( menggunakan mutu baja
U-24 = 2400 kg/cm2).
- Maxmain = ukuran maksimum besi tulangan utama yg digunakan (batasan
dimensi tulangan utama maksimum yang didesain oleh STAAD). – untuk
perencanaan ini kita gunakan besi tulangan maksimum yang diperbolehkan
adalahD16
- Minmain = ukuran minimum besi tulangan utama yg digunakan (batasan
dimensi tulangan utama minimum yang didesain oleh STAAD). untuk
perencanaan ini kita gunakan besi tulangan minimum yang diperbolehkan
adalah D12
Nb : sebenarnya saya inginya pakai besi D13, tapi karena di STAAD hanya
menyediakan besi tulangan dengan ukuran 6, 8, 10, 12, 16, 20, 25, 32, 40, 50,
& 60, maka saya ambil saja yang mendekati yaitu ukuran 12. Nanti akan ada
verivikasi lagi.
- Minsec = ukuran minimum besi tulangan sengkang yg digunakan (batasan
dimensi tulangan minimum sengkang yang didesain oleh STAAD). - untuk
perencanaan ini kita gunakan besi tulangan minimum sengkang yang
diperbolehkan adalah Ø8
- Reinf = Paramer tulangan spiral atau sengkang untuk kolom
- Track = Mode Output
Mendefinisikan Parameter Desain
1. Sekarang klik Define Parameters.
[Link] 56/74
3/2/2020 Tutorial STAADPRO
2. Kita ubah dulu satuan input yang digunakan ke [Link] (caranya seperti yang
sudah kita bahas di posting sebelumnya)
3. Ulangi langkah ke 2 diatas untuk Cls & Clt (jangan lupa setelah anda
menginputkan nilai, klik Add lho ya….hehehe).
4. Selanjutnya secara berurutan masukan
nilai Fc, Fymain, Fysec, Maxmain,Minmain, Minsec sebagai berikut
[Link] 57/74
3/2/2020 Tutorial STAADPRO
5. Selanjutnya klik tab reinf. lalu klik 0 (Tied Column), lalu klik Add
7. Nah sekarang apabila anda melihat pada kotak dialog Concrete Design-
Whole Structure, akan tampak list parameter yang telah ditentukan dengan
diawali tanda tanya yang berarti parameter tersebut belum didefinisikan ke
batang.
[Link] 58/74
3/2/2020 Tutorial STAADPRO
9. Lakukan hal yang sama untuk parameter lainnya kecuali parameter Reinf.
10 Untuk parameter REINF, Pilih semua kolom. Caranya bebas…anda boleh
menyeleksinya secara satu persatu atau bisa juga melalui fasilitas Select By
Group Name. Jika anda melalui fasilitas ini, maka caranya adalah sebagai
berikut.
- Dari menu pulldown, klik Select > By Group Name. Maka di kotak dialog
Select Group akan keluar group-group batang yang sudah kita definisikan
sebelumnya (kalau tidak salah ada di postingan Part-2…silahkan dilihat lagi).
- Klik G5: KOLOM, jika sudah maka secara otomatis elemen kolom akan
terseleksi semua (lihat gambar dibawah). Jangan di close dulu kotak dialog
Select Groups nya. Kemudian beralih dulu kekotak dialog Concrete Design.
Klik Assign to Selected Beams > klik REINF 0 > Klik Assign. Maka akan
keluar kotak dialog informasi yang menanyakan apakah perintah akan diproses
lebih lanjut. Klik Yes.
[Link] 59/74
3/2/2020 Tutorial STAADPRO
14. Lakukan hal yang sama untuk tab Design Column dan tab Take Off.
KlikClose untuk menutup dialog
15. Maka pada kotak dialog Concrete Design perintah desain akan ditampilkan
dengan diawali simbol tanda tanya, yang artinya perintah tersebut belum
didefinisikan ke batang.
16. Beri perintah desain batang dengan cara
Pilih semua beam. Caranya bebas…anda boleh menyeleksinya secara satu
persatu atau bisa juga melalui fasilitas Select By Group Name. Jika anda
melalui fasilitas ini, maka caranya adalah sebagai berikut.
- Dari menu pulldown, klik Select > By Group Name. Maka di kotak
dialog Select Group akan keluar group-group batang yang sudah kita
definisikan sebelumnya. Pilih semua elemen batang kecuali G5: KOLOM. Maka
otomatis semua elemen batang akan terseleksi kecuali elemen kolom
[Link] 60/74
3/2/2020 Tutorial STAADPRO
17. Klik Assign to Selected Beams > klik DESIGN BEAM > Klik Assign. Maka
akan keluar kotak dialog informasi yang menanyakan apakah perintah akan
diproses lebih lanjut. Klik Yes.
18. Sekarang kita akan melakukan juga langkah diatas untuk yang bagian
kolomnya. Pilih G5: KOLOM pada kotak dialog Select Groups. sehingga
semua kolom teseleksi semua
19. Klik Assign to Selected Beams > klik DESIGN COLUMN > Klik Assign.
Maka akan keluar kotak dialog informasi yang menanyakan apakah perintah
akan diproses lebih lanjut. Klik Yes.
[Link] 61/74
3/2/2020 Tutorial STAADPRO
20. OK! Semua parameter sudah kita definisikan semua. sekarang kita tinggal
melakukan analisa strukturnya….(untuk itu mari kita berdoa dulu agar pada
waktu proses analisa struktur tidak ada yang error atau input kita tidak ada yang
salah nantinya hehehe….)
21. Bismillahirrohmanirrohim!
22. Sekarang pada menu pulldown klik Analyze. atau boleh juga dengan
menekanCtrl + F5. Jika sudah maka akan keluar kotak dialog Select Analyze
Engine. Anda klik STAAD Analyze kemudian klik Run
Alhamdullillah, ternyata doa kita terkabul. semua input tidak ada yang error,
sehingga runningnya berjalan [Link] done untuk menutup kotak dialog
Pengkajian Hasil Analisa (Modeling)
Untuk melihat Diagram Momen Lentur, Gaya Lintang (Shear Force) & Gaya
Axial, bisa anda akses pada menu toolbar Result
[Link] 62/74
3/2/2020 Tutorial STAADPRO
1. Menampilkan Diagram Moment (Mz)
- Jika sudah, klik tool Fx (Axial Force), maka hasilnya sebagai berikut :
[Link] 63/74
3/2/2020 Tutorial STAADPRO
4.1. Hasil tulangan dari balok yang kita klik diatas ( disini akan tampak bahwa
balok di desain untuk tumpuan kiri (atas/bawah) 2D16, Lapangan 2D16 dan
tumpuan kanan (atas/bawah) 2D16. Sedangkan sengkangnya 8 buah
besi Ø8 dengan jarak226 mm
4.2. Hasil tulangan dari kolom yang kita klik diatas ( disini akan tampak bahwa
kolom di desain dengan bar size (diameter tulangan) = 12 dan Bar No (jumlah
tulangan) = 8, atau dengan kata lain 8D12. dengan As perlu = 900mm2
4.3 Untuk mengetahui seberapa besar defleksi yang terjadi pada elemen
struktur, bisa anda akses melalui menu tab Deflection
[Link] 65/74
3/2/2020 Tutorial STAADPRO
4.4 Untuk mengetahi hasil desain secara lengkap, dapat anda akses melalui
menuSTAAD Output. Klik icon yang saya lingkari pakai warna merah seperti
tergambar dibawah ini. Maka laporan hitungan secara lengkap akan keluar
secara otomatis.
2. Kotak dialog Result akan muncul dengan tabs aktif Loads. Dimana pada
frameSelected terdapat list dari kasus pembebanan yang telah didefinisikan.
[Link] 66/74
3/2/2020 Tutorial STAADPRO
3. Untuk kajian analisa, anda dapat memilih sebagian kasus beban atau
semuanya. Untuk kasus ini kita akan konsentrasi ke beban kombinasinya saja.
Untuk itu pilih beban 1 s/d 4, kemudian klik tombol < . Klik OK
4. Maka tampilan STAAD akan menjadi seperti gambar dibawah ini, dengan
pagemenu Node dan Tab Displacement aktif. Dimana pada bagian data area
ditampilkan tabel Node Displacement. Dan pada Screen Area ditampilkan
struktur terdeformasi dengan skala tertentu
5. Sekarang kita akan cari tahu dimana letak balok atau kolom yang mengalami
kegagalan struktur (FAIL)
Untuk Balok
- Seleksi semua elemen struktur balok. Caranya terserah….bisa anda meng
kliknya satu persatu, atau bisa juga melalui fasilitas Select By Group
Name yang semua langkah-langkahnya sudah kita bahas diatas
- Setelah itu akan muncul kotak dialog Section Forces. Atur sedemikian rupa
sehingga hanya BEBAN KOMBINASI saja yang terseleksi di lajur sebelah
kanan (selected). Klik OK!
[Link] 68/74
3/2/2020 Tutorial STAADPRO
Pasti posisinya pada balok yang saya kasih tanda X warna merah itu dech….
kalau ndak gitu paling-paling yang saya kasih tanda X warna biru. Cuman
kalau melihat geometri struktur dan pembebanan yang bekerja, saya condong
ke balok yang saya kasih tanda X warna merah. Lho….la kok bisa? apa
alasannya?….
Alasannya :
Balok yang bertanda X merah, memiliki bentang yang cukup besar (
L = 6m), tanpa ada kolom penyangga dibawahnya. Semakin panjang
bentang, maka resiko defleksi akan semakin besar pula. Selain itu
tepat ditengah bentang (titik ekstrim), balok tersebut mengalami
beban terpusat dari beban balok anak(grid) yang menyangga beban
dinding setinggi 3.6 m atau sekitar 900 kg/m’ dan beban mati pelat
lantai.
Balok bertanda X biru sebenarnya juga mengalami kondisi yang
sama. tapi tetap saja naluri saya mengatakan kalau balok yang
bertanda X merah mengalami kegagalan lentur yang paling parah
daripada balok bertanda X biru (hehehe…kayak dosen aja
wkwkwwkwk….). OK! sekarang mari kita buktikan apakah balok
dengan nomor 56, 20, 14 & 57 berada pada posisi tersebut
6. Klik kanan pada layar tampilan anda. Pilih Labels. Maka otomatis akan
keluar kotak dialog Diagrams. Anda centang Beam Numbers pada frame
Beams, klikOK
[Link] 69/74
3/2/2020 Tutorial STAADPRO
8. Sekarang cari informasi lebih lanjut dari balok no 20 ini, melalui menu STAAD
Output. Anda bisa mengaksesnya dengan menekan tombol mirip calculator
(yang saya lingkari pakai warna merah)
- Cek juga balok dengan no 56, 14, 57, 28, 47, 48, 2, 8 & 53. Balok-balok yang
saya sebutkan ini adalah balok yang diawal tadi saya tandai dengan X merah
dan X biru. Kemungkinan gagal lentur dari balok-balok ini sangat tinggi sekali.
Nah…sekarang yang menjadi pertanyaan adalah bagaimana cara mengatasi
agar balok tersebut tidak FAIL.
Ada dua cara yang bisa kita lakukan :
1. Yang paling ideal dan paling baik adalah menambahkan kolom penyangga
tepat ditengah bentang dari balok tersebut (khususnya balok no 56, 20, 14 & 57
), sehingga kemungkinan dimensi baloknya bisa diperkecil karena disesuaikan
dengan lebar bentangnya.
2. Jika tidak memungkinkan dengan menggunakan cara diatas dikarenakan
untuk alasan kebutuhan ruang, sehingga dikhawatirkan dengan adanya kolom
tersebut malah akan mengganggu pemandangan dan ruang toko menjadi
terkesan sempit. Maka mau tidak mau kita harus memperbesar dimensi balok.
OK! sekarang anggap saja ownernya tidak mau ada kolom di ruang depan toko.
maka solusi diambil adalah memperbesar dimensi balok.
Sekarang kita ambil H balok adalah 1/10 dari lebar bentang, sehingga H = 1/10
x 600 = 60 cm, lebar balok diambil 1/2 H = 1/2 x 60 = 30 cm, jadi dimensi
baloknya adalah 30/60.
9. Sekarang kita akan definisikan dimensi balok 30/60 ke STAAD. Caranya dari
page menu General, klik tab Property, kemudian pada menu page sebelah
kanan, klik Define, Lanjutkan dengan memasukan dimensi balok melalui kotak
YD dan ZD. Klik Add.
[Link] 70/74
3/2/2020 Tutorial STAADPRO
10. Sekarang Assign balok yang sudah kita definisikan tadi ke elemen no 56,
14, 57, 28, 20, 47, 48, 2, 8 & 53. Untuk jelasnya lihat balok yang saya kasih
tanda X (merah) dan X (biru) pada gambar dibawah (bisa toh caranya…..jadi
saya gak perlu ngulang-ngulang lagi hehehe…..)
11. Lakukan analisa struktur ulang. Jika sudah cek kembali balok tersebut,
apakah masih FAIL atau tidak?. Jika masih FAIL, maka balok perlu didimensi
ulang. Silahkan Anda bereksplorasi sendiri….
Sekedar sebagai catatan :
Ternyata setelah saya inputkan balok dengan ukuran 30/60 masih tidak
memenuhi (FAIL). Dan baru ketika saya memasukan balok dengan dimensi
30/90 struktur baloknya stabil (alias tidak FAIL). Tapi lha masak baloknya
sebesar itu toh…..lha kalau baloknya sebesar itu berarti spase vertikal ruang
tinggal 3.80 – 0.90 = 3.1 m……hmmmm..jadi pendek ya kalau untuk ukuran
ruko. tapi tidak apalah…cobalah tanya ke arsiteknya…kira-kira elevasi
plafondnya berapa? masih memenuhi ndak kalau dengan balok setinggi itu.
Sebenarnya ada cara lain lagi agar baloknya tidak sebesar itu, yaitu dengan
mengubah ukuran kolom yang saya blok pakai warna hijau ini dengan ukuran
40/40, sehingga baloknya bisa diperkecil menjadi 30/60. Coba deh kalau gak
percaya. nih hasilnya penulangan dari balok 30/60 tersebut (lihat gambar
bawah).
[Link] 71/74
3/2/2020 Tutorial STAADPRO
Materi Tambahan :
- Kalau anda ingin melihat struktur secara Full Section yang artinya ketebalan
strukturnya ditampilkan anda bisa klik kanan dilayar tampilan. Pilih Labels,
kemudian klik tab Structure. Pilih Full section > kemudian klik OK. Maka
hasilnya akan seperti dibawah ini :
[Link] 72/74
3/2/2020 Tutorial STAADPRO
- Klik tab Sorting, kemudian pilih Axial Force, ceklist Absolute Values.
Lanjutkan dengan memilih List from High To Low dari kotak Frame Set Sorting
Order. Kemudian klik tab Loading, (jangan di klik ok dulu)
- Setelah itu akan muncul kotak dialog Section Forces. Atur sedemikian rupa
sehingga hanya BEBAN KOMBINASI saja yang terseleksi di lajur sebelah
kanan (selected). Klik OK!
[Link] 73/74
3/2/2020 Tutorial STAADPRO
Posted by N
[Link] 74/74