Radian Zaky Rabbani / 08111750070002
Rizvanda Ryan Savero / 08111750070003
Departemen Arsitektur I FADP I ITS
Metode Perancangan RA14.2361
Revealing Architectural Design, Philips D Plowright
3 Tipe framework :
1. Pattern-Based Framework
2. Force-Based Framework
3. Concept-Based Framework
Setiap framework adalah sama. Tidak ada salah satu yang lebih baik. Framework digunakan untuk
tujuan yang berbeda sesuai dengan hasil apa yang akan diprioritaskan.
Pattern-Based Framework
Berdasarkan perkembangan sejarah disiplin ilmu, Pattern Framework mempunyai komposisi yang
berkaitan dengan aturan (rulesets) yang berbasis hubungan antara elemen arsitektur dengan
barbagai skala. Aturan-aturan sebagai prinsip umum. Dalam arsitektur, sumber yang paling menonjol
dari peraturan ini adalah ekstraksi hubungan dari proyek yang berhasil sebelumnya dan kejadian
yang terjadi secara alami melalui analisis preseden atau studi kasus. Penggunaan proyek yang
berhasil sebelumnya dengan pola dan karakteristik yang dapat diidentifikasi disebut tipologi.
pattern
use for other project (with modified or not)
space composition
fuzzy repetition
shape volume adjacency quality distribution
space for rituals / activity
1|P a t t e r n - B a s e d F r a m e w o r k
Geometry Scheme
plan section elevation diagram
grid volume massing adjacaency
circulation void texture intangibles
rhytm vertical shape
relationship
Structural Framework
Dalam mendesain sebuah bangunan, terdapat aturan ilmiah yang terbagi dalam 4 dimensi :
1. Material Choices
2. Building Element
walls, piers, pilasters, doors, windows, columns, beams, floor, roofs and vaults
3. Building Parts
porticoes, porches, vestibules, staircases, rooms, galleries, and courtyards
4. Building Types
library, residence, hospital, airport, warehouse, etc
Metode Durands mengintegrasikan keempat dimensi tersebut dengan analisa. Proses desain secara
induktif dengan menggabungkan unsur-unsur bangunan untuk menciptakan desain secara
keseluruhan. Arsitektur berarti menciptakan sesuatu bukan dari dekorasi, namun dari komposisi-
komposisi internal syntax
Picture 01. Overview framing of Durand’s architectural design methods
Fase awal mengenai context dan culture, bergerak menerapkan karakteristik formal yang telah
ditentukan sebelumnya dari skala kecil (elemen) untuk menciptakan komposisi yang lebih besar
(bangunan). Terdapat empat tahap menurut proses Durand :
1. Mengidentifikasi formal pattern dari jenis yang ada, hubungan spasial, dan contoh yang
ditarik
2. Mengidentifikasi kebutuhan dan penggunaan tertentu berdasarkan pekerjaan dan konteks
3. Seleksi dan mengaplikasikan elemen bangunan
4. Mengintegrasikan antara building elements ke building parts, dan building parts menjadi
bangunan keseluruhan
2|P a t t e r n - B a s e d F r a m e w o r k
Picture 02. Generic framework of a pattern based design process including thinking styles
Applied Methods
Pada diagram diatas telah dijelaskan sebuah metode Pattern-Based Framework dalam mendesain
sebuah project arsitketur. Akan tetapi, pada tahun tahun 1970, banyak arsitek-arsitek yang
memfokuskan dirinya pada Urban desain sehingga, metode ini juga banyak dipakai dalam konteks
metode urban desain. Dalam pengaplikasiannya metode pattern-based framework tidak banyak
berubah akan tetapi hal-hal seperti Situation (Type), Context, Elements dan parts akan berubah dan
akan mengikuti konteks-konteks dari urban desain seperti Urban grain, Urban Hierarchy, Green
Infrastructure, Transportation Hierarchy, Focal Points, Palette, dan lainnya.
Picture 03. Urban massing typologies for major European cities
Pemilihan typological desain urban berdasarkan perkotaan-perkotaan besar di eropa dan akhirnya
ditentukanlah pattern-pattern yang akan diambil sebagai elemen desain dalam contoh ini pattern-
pattern yang diambli adalah Urban grain, Urban Hierarchy, Green Infrastructure, Transportation
Hierarchy, Focal Points, Palette, dan lainnya. Setelah tahap pemilihan pattern-pattern dan eksplorasi
pattern-pattern dilakukan, proses dilanjutkan kepada proses (Assembly / Proposal). Output dr
project ini biasanya berupa peraturan-peraturan yang akan diterapkan pada wilayah objek desain.
3|P a t t e r n - B a s e d F r a m e w o r k
Picture 04. Urban grain and hierarchy typological analysis
Picture 05. Green Infrastructure and transportation hierarchy
typological analysis
Picture 06. Focal points and urban palette typological analysis
Example 1 Building-scale pattern synthesis
Kembali pada Building-scale desain, disini akan dicontohkan bagaimana mendesain sebuah teater
dengan menggunakan metoda pattern-based framework. Seperti yang sudah diungkapkan
sebelumnya metode pattern-based framework dimulai dengan pemilihan dari (Situation / Type)
untuk mendapatkan fokusan desain, dilanjutkan dengan menyusun (Context / Elements / Parts)
melalui proses eksplorasi dan evaluasi proses.
Pada tahapan pertama dilakukan pengamatan terhadap beberapa bangunan teater dan dilanjutkan
dengan eksplorasi-eksplorasi pattern-pattern yang dipilih seperti program ruang dan pencahayaan,
setelah melakukan eksplorasi-eksplorasi terhadap patern-pattern yang dipilih, dilakukan eksplorasi-
eksplorasi yang bersifat teknis agar mampu mempertahankan eksplorasi-eksplorasi pattern yang
telah dipilih. Eksplorasi-eksplorasi teknis tersebut meliputi struktur, material fasad, dll.
4|P a t t e r n - B a s e d F r a m e w o r k
Picture 07. Exploration of dominant floor plate patterns in the Situation / Type
Picture 08. Final Architectural Assembly proposed based on typological rulesets
Example 2 Module-scale pattern repetition
Pada dasarnya module-scale pattern repetition memiliki proses yang sama seperti metoda pattern-
based framework pada Building-scale pattern synthesis, dimana desain dimulai dengan pemilihan
5|P a t t e r n - B a s e d F r a m e w o r k
dari (Situation / Type) untuk mendapatkan fokusan desain, dilanjutkan dengan menyusun (Context /
Elements / Parts) melalui eksplorasi dan evaluasi proses. Akan tetapi, gudang sebagai contoh project
ini berfokus pada pengembangan sebuah modul secara berulang dalam mendesain.
Picture 09. Eksploratory diagrams of rule clouds looking at lighting configurations
in the CONTEXT / ELEMENT / PARTS phase
Fokusan pada desain gudang ini difokuskan pada stuktur dan cahaya, sehingga inti dari ekplorasi
pada gudang ini hanya terletak di eksplorasi cahaya dan struktur saja, disini eksplorasi bentuk masa
di buat agar seluruh bagian bangunan mendapatkan cahaya matahari, setelah didadapat,
dilakukanlah eksplorasi struktur yang mampu mempertahankan bentuk yang sudah di eksplorasi.
Picture 10. Eksploratory diagrams of rule clouds looking at structural
configurations in the CONTEXT / ELEMENT / PARTS phase
Picture 11. Final architectureal proposal based on selected pattern variations
6|P a t t e r n - B a s e d F r a m e w o r k
Example 3 Typological transfer
Situation Type :
Bagaimana agar kota menjadi bagian dari sebuah hunian tempat tinggal
Isolate Pattern :
Elemen-Elemen Kota a square, an intersection, a public building, a shopping street
Picture 12. Diagrams of developed rulesets for Villa DVDP as part of the ISOLATE PATTERNS
Context/Element/Parts :
A square didefinisikan sebagai pintu masuk menuju pusat kota (entry)
An intersection didefinisikan sebagai sirkulasi dan pola pergerakan (circulation)
A public building didefinisikan sebagai tempat berkumpul outdoor (gathering)
A shopping street didefinisikan sebagai sesuatu yang ingin ditampilkan (display)
Entry Circulation Gathering Projection/display
Keempat elemen kota (urban) tersebut merupakan pola-pola (pattern) yang akan diolah atau
disatukan kembali menjadi hubungan dalam konteks sebuah hunian tempat tinggal
7|P a t t e r n - B a s e d F r a m e w o r k
Assembly/Proposal :
Langkah terakhir adalah menghubungkan relasi antar elemen dan mengintegrasikannya ke dalam
sebuah lahan.
3 bidang merepresentasikan
sebuah square pada sebuah
kota
area terbuka sebagai pusat
kegiatan outdoor
Picture 13. Proposal of Villa DVDP
R. Kerja dan Dapur didesain
dengan material kaca untuk
merepresentasikan display
pada shopping street
Intersection atau ruang dengan
fungsi sebagai pertemuan
sirkulasi.
Picture 14. Proposal of Villa DVDP by ORG (Organization Research Group)
Bounded Thinking
Metedologi Pattern-based bisa dilihat bukan sebagai sebuah proses, melainkan sebuah pembatasan
proses. Batasan-batasan tersebut berdasarkan dari susunan awal (Framing), prasangka atau
hipotesa awal (Bias), nilai-nilai (Values). Framing adalah sebuah Konfigurasi dan Komposisi ruang
yang dipilih yang akan menghasilkan proposal desain yang relevan dan signifikan. Bias dan Values
berfungsi untuk memprioritaskan nilai-nilai yang ada.
Conclusion
Pattern-Based Framework mengidentifikasi susunan formal antara elemen-elemen arsitektural dan
kemudian diterapkan ulang pada situasi yang serupa. Metode ini bergerak dari elemen-elemen
menuju sesuatu secara keseluruhan (bottom up approach)
8|P a t t e r n - B a s e d F r a m e w o r k