BAB 1
GEOMETRI TRANSFORMASI
A. PEMBAHASAN MATERI
1. Pengertian Transformasi
Istilah Geometri Transformasi dapat ditafsirkan sebagai geometri yang membahas
transformasi atau dapat ditafsirkan sebagai geometri yang dilandasi oleh transformasi. Geometri
yang digunakan adalah geometri Euclides. Transformasi digunakan untuk untuk memindahkan
suatu titik atau bangun pada suatu bidang. Fungsi khusus yang akan dipelajari pada geometri ini
adalah transformasi. Misalkan ada fungsi T yang memetakan setiap titik pada bidang kepada titik
lain masih pada bidang itu juga. Apabila surjektif dan T injektif, maka nama khusus fungsi tersebut
adalah Transformasi.
Syarat transformasi:
- Padanan merupakan suatu fungsi
- Padanan bersifat Surjektif
- Padanan bersifat Injektif
Suatu transformasi pada suatu bidang V adalah suatu fungsi yang bijektif dengan daerah
asalnya V dan daerah nilainya V juga. Fungsi yang bijektif adalah sebuah fungsi yang bersifat :
1. Surjektif
artinya : Jika T suatu transformasi, maka tiap titik B ∈ V ada prapeta A ∈ V sehingga B =
T(A). B dinamakan peta dari A dan A dinamakan prapeta dari B.
2. Injektif
artinya : Jika 𝐴1 ≠𝐴2 dan T(𝐴1)=𝐵1, T(𝐴2)= 𝐵2 maka 𝐵1≠𝐵2, atau jika T(𝑃1)=𝑄1 dan
T(𝑃2)= 𝑄2 sedangkan 𝑄1=𝑄2 maka 𝑃1=𝑃2.
Pada contoh di bawah ini, anggaplah V adalah bidang Euclides, artinya pada himpunan titik-
titik V diberlakukan sistem axioma Euclides.
Contoh 1 :
Andaikan A ∈𝑉. Ada perpetaan (padanan) T dengan daerah asal V dan daerah nilai juga V.
Jadi T : V V yang didefinisikan sebagai berikut :
1) T(A) = A
2) Apabila P≠A, maka T(P) = Q dengan Q titik tengah garis ̅̅̅̅
𝐴𝑃 Selidiki apakah padanan T tersebut
suatu transformasi ?
Jawab:
Gambar 2.1
Jelas bahwa A memiliki peta, yaitu A sendiri.
Ambil sebarang titik R≠𝐴 pada V. Oleh karena V bidang Euclides, maka ada satu garis yang
melalui A dan R, jadi ada satu ruas garis ̅̅̅̅
𝐴𝑅 sehingga ada tepat satu titik S dengan S antara A dan
R, sehingga AS = SR.
Ini berarti untuk setiap X ∈ V terdapat satu Y ∈ V dengan Y = T(X) yang memenuhi persyaratan
(2). Jadi daerah asal T adalah V.
1) Apakah T surjektif, atau apakah daerah nilai T juga V?
Untuk menyelidiki ini cukuplah dipertanyakan apakah setiap titik di V memiliki prapeta. Jadi
apabila Y∈𝑉 apakah ada X ∈𝑉 yang bersifat T(X) = Y ?
Menurut ketentuan pertama, jika Y = A prapetanya adalah A sendiri, sebab T(A) = A.
Gambar 2.2
⃡
Apabila Y≠A, maka oleh karena V suatu bidang Euclides, ada X tunggal dengan X ∈𝐴𝑌
⃡ = YX.
sehingga 𝐴𝑌
Jadi Y adalah titik tengah ̅̅̅̅
𝐴𝑋 yang merupakan satu-satunya titik tengah. Jadi Y = T(X).
Ini berarti bahwa X adalah prapeta dari titik Y. Dengan demikian dapat dikatakan bahwa setiap
titik pada V memiliki prapeta. Jadi T adalah suatu padanan yang surjektif.
2) Apakah T injektif?
Untuk menyelidiki ini ambillah dua titik 𝑃≠𝐴,𝑄≠𝐴 dan 𝑃≠𝑄. P,Q,A tidak segaris (kolinear). Kita
akan menyelidiki kedudukan T(P) dan T(Q).
Gambar 2.3
Andaikan T(P) = T(Q)
⃡ dan 𝑇(𝑄)∈𝐴𝑄
Oleh karena T(P) ∈𝐴𝑃 ⃡ maka dalam hal ini ⃡𝐴𝑃 dan ⃡𝐴𝑄 memilki dua titik sekutu
yaitu A dan T(P) = T(Q).
Ini berarti bahwa garis ⃡𝐴𝑃 dan ⃡𝐴𝑄 berimpit, sehingga mengakibatkan bahwa 𝑄∈𝐴𝑃
⃡ .
Ini berlawanan dengan pemisalan bahwa A, P, Q tidak segaris. Jadi pengandaian bahwa T(P) =
T(Q) tidak benar sehingga haruslah T(P)
T(Q). Jadi, T injektif.
Dari uraian di atas tampak bahwa padanan T itu injektif dan surjektif, sehingga T adalah padanan
yang bijektif.
Dengan demikian terbukti T suatu transformasi dari V ke V.
Ditulis T : V→ V.
Contoh 2 :
Pilihlah pada bidang Euclides V suatu sistem koordinat ortogonal. T adalah padanan yang
mengkaitkan setiap titik P dengan P’ yang letaknya satu satuan dari P dengan arah sumbu X yang
positif. Selidiki apakah T suatu transformasi ?
Jawab:
Gambar 2.4
Kalau P = (x,y) maka T(P) = P’ dan P’=(x+1,Y).
Jelas daerah asal T adalah seluruh bidang V.
Kita harus menyelidiki lagi dua hal, yaitu:
1) Apakah T surjektif?
2) Apakah T injektif?
Jika A (x,y), pertanyaan yang harus dijawab ialah apakah A praperta oleh T?
Andaikan B= (x’, Y’).
(i) Jika B prapeta titik A(x,y) maka haruslah berlaku T(B) = (x’ +1, y’).
Jadi x’+1 = x, y’=y.
x’ = x - 1
atau
y’=y
Jelas T (x-1,y)=((x-1)+1,y)=(x,y).
Oleh karena x’, y’ selalu ada, untuk semua nilai x,y maka B selalu ada sehingga T(B)=A.
Karena A sebarang maka setiap titik di V memiliki prapeta yang berarti bahwa T surjektif.
(ii) Andaikan P(𝑥1 ,𝑦1 ) dan Q (𝑥2 ,𝑦2 ) dengan P≠Q.
Apakah t (P) ≠ T (Q)?
Disini T(P)= (𝑥1 +1,𝑦1 ) dan T(Q)= (𝑥2 +1,𝑦2 ).
KalauT(P)= T(Q), maka (𝑥1 +1,𝑦1 )= (x2+1,y2).
Jadi 𝑥1 +1=𝑥2 +1, dan 𝑦1 = 𝑦2 . Ini berarti 𝑥1 =𝑥2 dan 𝑦1 = 𝑦2 .
Jadi P=Q.
Terjadi kontradiksi, sehingga pengandaian salah. Jadi haruslah T(P)≠T(Q).
Jadi T injektif.
Dari (i) dan (ii) dapat disimpulkan bahwa T adalah padanan yang bijektif.
Jadi T merupakan suatu transformasi dari V ke V.
Aksioma Euclidies
Sebuah bidang V kita anggap sebagai bidang euclides,artinya himpunan titik-titik V
diberlakukan sistem aksioma euclides.( Axioma euclides yaitu : apabila ada dua garis a dan b
dipotong garis ketiga c di titik A a dan titik B b sehingga jumlah besarnya dua sudut dalam sepihak
di A dan di B kurang dari 180° maka a dan b akan berpotongan pada bidang yang terbagi oleh
garis c yang memuat kedua sudut dalam sepihak itu.
2. SIFAT-SIFAT TRANSFORMASI
Adapun sifat-sifat Transformasi adalah :
1. Unsur tetap
a. Suatu titik yang bertahan terhadap Transformasi (T) di mana titik tetap/invarian tetap.
b. Suatu garis yang bertahan terhadap Transformasi (T) disebut garis tetap sehingga
Transformasi (T) mempertahankan titik/garis.
2. Kolineasi
Suatu Transformasi dikatakan kolineasi bila hasil Transformasi sebuah garis lurus akan
tetap berupa garis lagi atau
Jika g garis maka T(g) berupa garis.
3. Identitas
Suatu Transformasi T disebut Transformasi Identitas jika T(A) = A untuk setiap A di V.
selanjutnya Transformasi Identitas dinyatakan sebagai I.
4. Isometri
Transformasi U merupakan Isometri bila dan hanya bila pasangan titik P dan Q dipenuhi
P’Q’ = PQ dengan P’ = U (P) dan Q’ = U (Q)
5. Involusi
Suatu Transformasi V merupakan Involusi jika V tidak sama dengan I dan berlaku V2 = I.
Ini berarti V = V-1
3. Jenis-jenis Transformasi
Jenis-jenis transformasi yang dapat dilakukan antara lain :
a. Translasi (Pergeseran)
Translasi adalah suatu pergerakan/perpindahan semua titik dari objek pada suatu jalur lurus
sehingga menempati posisi baru. Jalur yang direpresentasikan oleh vektor disebut
Translasi atau Vektor Geser.
b. Refleksi (Pencerminan)
Refleksi adalah transformasi yang memindahkan titik-titik dengan menggunakan sifat
bayangan oleh suatu cermin.
c. Rotasi (Perputaran)
Rotasi adalah mereposisi semua titik dari objek sepanjang jalur lingkaran dengan pusatnya
pada titik pivot.
d. Dilatasi (Perkalian)
Dilatasi adalah transformasi yang mengubah jarak titik-titik dengan faktor pengali tertentu
terhadap suatu titik tertentu. Perkalian atau dilatasi ini ditentukan oleh factor skala (k) dan
pusat dilatasi.
B. SOAL LATIHAN DAN PEMBAHASAN
[Link] V bidang Euclid dan A sebuah titik tertentu pada V, ditetapkan relasi T
sebagai berikut :
i) T(A) = A, jika P = A
ii) Jika P V P ≠ A, T(P) = Q dengan Q merupakan titik tengah ruas garis AP .
Apakah relasi T merupakan suatu transformasi ?
Jawab :
Yang harus diteliti relasi T sehubungan dengan suatu transformasi, maka
diperoleh
persyaratan suatu transformasi yaitu :
1. T suatu fungsi dari V ke V
2. T suatu fungsi bijektif.
Sedangkan persyaratan bahwa suatu fungsi bijektif adalah :
a. Fungsi tersebut adalah fungsi kepada
b. Fungsi tersebut adalah fungsi satu – satu
Jadi, dari uraian tersebut dapat diambil ketentuan bahwa, yang harus dilakukan
adalah apakah relasi T yang memenuhi :
1. T fungsi dari V ke V
2. T fungsi bijektif, yakni
a. T fungsi kepada
b. T fungsi satu – satu
jawab :
1) T fungsi V ke V
Titik P V, titik A V ada dua kemungkinan :
1. P = A
2. P≠ A
Untuk P = A T(P) = A atau A = T(P)
Untuk P A
1. AP V
2. Q titik tengah AP atau AQ = PQ
3. Q AP dan AP V maka Q V
2) T fungsi Bijektif
a. T fungsi surjektif (kepada)
Misal R ∈V dan A ∈V ada dua kemungkinan, yaitu :
i. R=A
R = A T (R) = A atau T (A) = R
ii. R≠ A
R≠ A ada M titik tengah AR , maka T(M) = R
T(M) = A
b. Ambil dua titik sembarang misalnya P dan Q ≠ V sehingga T (P) = T (Q).
Dari keadaan ini, maka terdapat kasus yaitu : P = A, Q = A, P ≠ A dan Q≠ A.
Untuk P = A, T(P) = P = A, sedangkan T (P) = T (Q) = A. Jadi Q = A dan
P=Q.
Untuk Q = A, T(Q) = Q = A . telah diketahui bahwa T(P) = T(Q), maka
T (P)= A. Jadi P = A dan P = Q.
Untuk P ≠ A, dan Q ≠ A. misalkan T (P) = P’ dan T(Q) = Q’ maka P’PA
dan Q’ = Q karena P’ PA maka PA = AP ’ dan karena Q’ Q maka Q
= AQ ’. Karena T (P) = T(Q) berarti P’ = Q’ dan AP ’ = AQ ’ dengan
demikian PA = QA jadi A,P dan Q kolinear.
Karena A, P dan Q kolinier dan P’ = Q’ dengan P’ titik tengah AP dan titik
tengah AQ maka P = Q.
Jadi untuk setiap P,Q V, T (P) = T (Q) mendapatkan P = Q maka T dikatakan sebagai fungsi satu
– satu, karena T fungsi kepada (surjektif) dan fungsi satu – satu (injektif), maka T merupakan
fungsi bijektif dengan demikian dapatlah kita katakanan bahwa T merupakan suatu transformasi.
2. Andaikan g dan h dua garis yang sejajar pada bidang euclides V. A sebuah titik yang terletakdi tengah
antara g dan h. Sebuah T padanan dengan daerah asal g yang didefinisikan sebagai berikut:
Apabila P g maka P' T ( P) PA h
a) Apakah daerah nilai T ?
b) Apabila D g,E g,D E , buktikan bahwa D'E' DE; D' T(D),E' T(E)
c) Apakah T injektif
Penyelesaian :
a) Daerah nilai T adalah h
b) D g, E g, D E
D' T ( D), E ' T ( E )
Lihat Δ ADE dan segitiga Δ AD’E’
𝑚(∠𝐷𝐴𝐸) = 𝑚(∠𝐷′𝐴𝐸′) (Bertolak belakang)
𝐷𝐴 = 𝐴𝐷′ (Karena A tengah-tengah 𝑔 dan ℎ)
𝐸𝐴 = 𝐴𝐸′ (Karena A tengah-tengah 𝑔 dan ℎ)
Diperoleh Δ𝐴𝐷𝐸≅ Δ𝐴𝐷′𝐸′ menurut definisi sisi sudut sisi.
Akibatnya 𝐷′𝐸 = 𝐷𝐸.
c) Akan dibuktikan T injektif.
Ambil dua titik 𝑋 dan 𝑌 pada g, X Y Akan dibuktikan T ( X ) T (Y ) Andaikan 𝑇(𝑋) = 𝑇(𝑌) Oleh
karena T ( X ) XA h dan T (Y ) YA h Dalam hal ini XA dan YA memiliki dua titik sekutu yaitu
A dan 𝑇(𝑋) = 𝑇(𝑌). Ini berarti bahwa garis XA dan YA berimpit, sehingga berakibat 𝑋 = 𝑌. Hal ini
suatu kontradiksi, haruslah T ( X ) T (Y ) Jadi T injektif
3. Diketahui sebuah titik K dan ruas garis AB , K AB dan sebuah garis g sehingga g // AB dan
jarak K dan AB , adalah dua kali lebih panjang dari pada jarak antara K dan g. Ada padanan T
dengan daerah asal AB dan daerah nilai g sehingga apabila P AB maka
T ( P) P' KP g .
a) Apakah bentuk himpunan peta-peta P’ kalau P bergerak pada AB
b) Buktikan bahwa T injektif.
c) Apabila E dan F dua titik pada AB , apakah dapat dikatakan tentang jarak E’F’
jika E’ = T(E) dan F’=T(F)?
Jawab:
a) K AB , g // AB , T: AB g
P AB maka T ( P) P' KP g
P' KP g sehingga P ' g
Jadi bentuk himpunan peta-peta P’ adalah ruas garis pada g.
b) Akan dibuktikan T injektif
Ambil dua titik 𝑋 dan 𝑌 pada AB , X Y
Akan dibuktikan T ( X ) T (Y )
Andaikan 𝑇(𝑋) = 𝑇(𝑌)
Oleh karena T ( X ) KX g dan T (Y ) KY g
Dalam hal ini XA dan YA memiliki dua titik sekutu yaitu A dan 𝑇(𝑋) = 𝑇(𝑌).
Ini berarti bahwa garis XA dan YA berimpit, sehingga berakibat 𝑋 = 𝑌.
Hal ini suatu kontradiksi, haruslah T ( X ) T (Y )
Jadi T injektif
c)
⃡ , maka 𝐸', 𝐹′ ∈𝑔 sehingga 𝐸𝐹 ∕∕ 𝐸′𝐹′
Dipunyai 𝐸, 𝐹∈𝐴𝐵
Lihat Δ𝐾𝐸′𝐹′ dan Δ𝐾𝐸𝐹
𝐹 ′ 𝐾 𝐸′𝐾 1
= =
𝐹𝐾 𝐸𝐾 2
𝑚(∠𝐸𝐾𝐹) = 𝑚(∠𝐸′𝐾𝐹) (sudut − sudut bertolak belakang)
DiperolehΔ𝐾𝐸′𝐹′~Δ𝐾𝐸𝐹 (S Sd).
Akibatnya :
𝐸′𝐹′ 𝐸′𝐾 𝐹′𝐾 1
= = =2
𝐸𝐹 𝐸𝐾 𝐹𝐾
1
⇔𝐸′𝐹′ =2𝐸𝐹.
1
Jadi jarak E’F’ adalah 2 kali jarak EF.
4. Diketahui tiga titik A, R, S yang berlainan dan tidak segaris. Ada padanan T yang
didefinisikan sebagai berikut:
T(A) = A, T(P) = P’ sehingga P titik tengah AP'
a) Lukislah R’ = T(R)
b) Lukislah Z sehingga T(Z) = S
c) Apakah T suatu transformasi?
Jawab:
c) Bukti :
(i) Akan dibuktikan T surjektif.
T surjektif jika ∀𝑌∈𝑉 terdapat prapeta 𝑋 sehingga 𝑌 = 𝑇(𝑋).
Jika 𝑌 = 𝐴 maka prapetanya adalah 𝐴 sendiri sebab 𝑇(𝐴) = 𝐴.
⃡ sehingga 𝐴𝑋 = 𝐴𝑌.
Apabila 𝑌 ≠ 𝐴 maka terdapat 𝑋 tunggal dengan 𝑋∈𝐴𝑌
⃡ . Artinya 𝑌 = 𝑇(𝑋).
Diperoleh𝑋 adalah titik tengah𝐴𝑌
Maka∀𝑌∈𝑉 terdapat prapeta 𝑋 sehingga 𝑌 = 𝑇(𝑋).
Jadi T Surjektif.
(ii) Akan diselidiki T injektif
Ambil titik 𝑃 ≠ 𝐴, 𝑄 ≠ 𝐴 dan 𝑃 ≠ 𝑄, 𝑃, 𝑄, 𝐴 tidak segaris.
Andaikan 𝑇(𝑃) = 𝑇(𝑄).
⃡ dan 𝑇(𝑄) ∈𝐴𝑄
Oleh karena 𝑇(𝑃) ∈𝐴𝑃 ⃡ maka dalam hal ini ⃡𝐴𝑃 dan ⃡𝐴𝑄
memiliki dua titik sekutu yaitu 𝐴 dan 𝑇(𝑃) = 𝑇(𝑄).
Ini berarti bahwa garis ⃡𝐴𝑃 dan ⃡𝐴𝑄 berimpit, sehingga mengakibatkan 𝑄∈
⃡𝐴𝑃 . Dengan kata lain 𝑃,𝑄, 𝐴 segaris.
Ini suatu kontradiksi dengan pernyataan 𝑃, 𝑄, 𝐴 tidak segaris.
Pengandaian salah, sehingga 𝑇(𝑃) ≠ 𝑇(𝑄).
Jadi T injektif.
Dari (i) dan (ii) dapat disimpulkan bahwa T surjektif dan T injektif.
Jadi T merupakan suatu transformasi.
5. Diketahui P = (0,0), C1 ( x, y) | x y 1
2 2
C2 ( x, y) | x 2 y 2 25
T : C1 C2 adalah suatu padanan yang definisikan sebagai berikut : Apabila X C1 maka
T ( X ) X ' PX C2
a) Apabila A = (0,1) tentukan T(A)
b) Tentukan prapeta dari B(4,3)
c) Apabila Z sebarang titik pada daerah asal T, tentukan jarak ZZ’, dengan Z’ = T(Z).
d) Apabila E dan F dua titik pada daerah asal T , apakah dapat dikatakan tentang jarak E’F’?
Jawab:
a) A = (0,1) maka T(A) = (0,5)
b) Perhatikan gambar di atas.
Lihat Δ APC dan Δ𝑃𝑄𝐵.
𝑃𝐶 𝑃𝐴 𝐴𝐶
= =
𝑃𝑄 𝑃𝐵 𝐵𝑄
𝑃𝐶 𝑃𝐴 𝑃𝐶 1
= ⬄ =
𝑃𝑄 𝑃𝐵 4 5
4
⬄ 𝑃𝐶 =
5
𝐴𝐶 𝑃𝐴 𝐴𝐶 1
= ⬄ =
𝐵𝑄 𝑃𝐵 3 5
3
⬄ 𝐴𝐶 =
5
43
Jadi prapeta B adalah A = (5,5).
c) Dipunyai 𝑍∈ daerah asal 𝑇.
Maka 𝑍∈𝐶1.
Berarti 𝑍=(𝑋1 ,𝑌1 ) dimana 𝑋12 + 𝑌12 =[Link] equation here.
Jelas 𝑍𝑃=√(𝑋1 − 0)2 + (𝑌1 − 0)2 = √𝑋12 − 𝑌12 = √1 =1
Selanjutnya 𝑍′=𝑇(𝑍).
Maka 𝑍′∈𝐶2.
Berarti 𝑍′=(𝑋2,𝑌2 ) dimana 𝑋22 +𝑌22 =25.
Jelas 𝑍′𝑃=√(𝑋2 − 0)2 + (𝑌2 − 0)2 =√𝑋22 − 𝑌22 = √25 = 5
Jelas 𝑃,𝑍,𝑍′ segaris.
𝑍′𝑃=𝑍′𝑍+𝑍𝑃
⟺5=𝑍′𝑍+1
⟺𝑍′𝑍=5−1
⟺5=𝑍′𝑍+1
⟺𝑍𝑍′ = 𝑍′𝑍 = 4
Jadi jarak 𝑍𝑍′ = 4.
d) Dipunyai 𝐸, 𝐹∈𝐶1, 𝐸 ≠ 𝐹
Maka panjang busur 𝐸𝐹
𝑚(⦟𝐸𝑃𝐹)
= . 𝑘𝑒𝑙𝑖𝑙𝑖𝑛𝑔 𝑐1
2𝜋
𝑚(⦟𝐸𝑃𝐹)
= . 2𝜋. 1
2𝜋
=m(⦟ 𝐸𝑃𝐹)
Selanjutnya 𝐸′ =T(E) dan 𝐹′ = T(F).
Maka panjang busur 𝐸′ 𝐹′
𝑚(⦟𝐸′𝑃𝐹′)
= . 𝑘𝑒𝑙𝑖𝑙𝑖𝑛𝑔 𝑐2
2𝜋
𝑚(⦟𝐸 ′ 𝑃𝐹′ )
= . 2𝜋. 5
2𝜋
=5.m(⦟𝐸′P 𝐹′).
Karena 𝑃, 𝐸, 𝐸′ segaris dan 𝑃, 𝐹, 𝐹′ segarismaka 𝑚(∠𝐸′𝑃𝐹′) = 𝑚(∠𝐸𝑃𝐹).
Sehingga,
𝐸′𝐹′ = 5. 𝑚(∠𝐸′𝑃𝐹′)
= 5. 𝑚(∠𝐸𝑃𝐹)
= 5. 𝐸𝐹
Jadi 𝐸′𝐹′ = 5𝐸𝐹
6. Diketahui f : V V. Jika P(x,y) maka f(P) =(|x|,|y|)
a) Tentukan f(A) jika A = (-3,6)
b) Tentukan semua prapeta dari titik B(4,2)
c) Apakah bentuk daerah nilai f?
d) Apakah f suatu transformasi?
Jawab :
a) A = (-3,6) maka f(A) = (|-3|,|6|) = (3,6)
b) Prapeta dari B(4,2) adalah (4,2),(4,-2),(-4,2),(-4,-2).
c) Daerah nilai f adalah himpunan semua titik-titik di Kuadran I.
d) Pilih𝐴1 = (4,2) ∈𝑉, 𝐴2 = (4, −2) ∈𝑉
Jelas 𝐴1 ≠ 𝐴2.
Maka𝑓(𝐴1) = (4,2) dan 𝑓(𝐴2) = (4,2).
Diperoleh 𝑓(𝐴1) = 𝑓(𝐴2).
Jadi terdapat 𝐴1 ≠ 𝐴2 dan 𝑓(𝐴1) = 𝑓(𝐴2).
Artinya f tidak injektif.
Karena f tidak injektif maka f bukan transformasi.
7. Diketahui fungsi g : sumbu X V yang didefinisikan sebagai berikut :
Apabila P(x,0) maka g(P) = (x,x2).
a) Tentukan peta A(3,0) oleh g.
b) Apakah R(-14, 196) daerah nilai g?
c) Apakah g surjektif?
d) Gambarlah daerah nilai g.
Jawab :
a) Peta A(3,0) oleh g.
A(3,0) maka g(A) = (3,(3)2) =(3,9).
b) Diketahui R(-14,196).
196 = (-14)2 + y
⇔ 196 = 196 + y
⇔y=0
Jelas R V , dan 𝑅 mempunyai prapeta yaitu 𝑃(−14,0) pada sumbu 𝑋.
Jadi 𝑅∈ daerah nilai 𝑔.
c) Ambil titik 𝐴′ ∈𝑉, maka 𝐴′(𝑎, 𝑏) dengan 𝑏 = 𝑎2 .
Jelas terdapat 𝐴(𝑎, 0) sehingga𝑔(𝐴) = 𝐴′.
Jadi, g surjektif.
8. T : V V, didefinisikan sebagai berikut : Apabila P(x,y) maka
i) T(P) = (x + 1, y), untuk x > 0
ii) T(P) = (x - 1, y), untuk x < 0
a) Apakah T injektif?
b) Apakah T suatu transformasi?
Jawab :
a) Ambil P(x1,y1) dan Q(x2,y2) sehingga P Q
Akan dibuktikan T ( P ) T (Q )
Karena P Q maka x1 x2 atau y1 y2
Untuk x > 0
T(P) = (x1+1, y1)
T(Q) = (x2+1, y2)
Jelas x1 x2 x1 1 x2 1 atau y1 y 2
Sehingga T ( P ) T (Q )
Untuk x < 0
T(P) = (x1-1, y1)
T(Q) = (x2-1, y2)
Jelas x1 x2 x1 1 x2 1 atau y1 y 2
Sehingga T ( P ) T (Q )
b) Ambil 𝑃′ (0, 𝑦)
Andaikan terdapat 𝑃(𝑥, 𝑦)
Sehingga 𝑇(𝑃) = 𝑃′
Kasus 𝑥 ≥ 0
Maka 𝑇(𝑃) = (𝑥 + 1, 𝑦) = 0
⇔𝑥+1=0
⇔ 𝑥 = −1 < 0
Kontradiksi dengan pernyataan 𝑥 ≥ 0
Kasus 𝑥 < 0
Maka 𝑇(𝑃) = (𝑥 − 1, 𝑦) = (0, 𝑦)
⇔𝑥−1=0
⇔𝑥=1>0
Kontradiksi dengan pernyataan 𝑥 < 0
Jadi tidak terdapat 𝑃(𝑥, 𝑦)
Sehingga 𝑇(𝑃) = 𝑃′
Dengan kata lain T tidak surjektif
Karena T tidak surjektif, maka T bukan transformasi
9. Diketahui sebuah garis S dan titik-titik A, B, C seperti dapat dilihat pada gambar di
bawah ini
T : V V didefinisikan sebagai berikut :
i. Jika P S maka T(P) = P
ii. Jika P S maka T(P) = P’, sedemikian hingga garis S adalah sumbu ruas PP'
a) Lukislah A’ = T(A), B’ = T(B)
b) Lukislah prapeta titik C
c) Apakah T suatu transformasi ?
d) Buktikan bahwa A’B’ = AB
Jawab:
a dan b
c) Akan ditunjukkan T surjektif dan T injektif.
Jelas setiap P pada V, ada prapeta P’, sehingga T(P) = P’.
Jika P ∈ S, maka P’ = P dan jika P ∉S maka P’ adalah cermin dari P terhadap sumbu S.
Jadi T surjektif.
Untuk P ∈ S, Q ∈ S dan P≠Q, jelas P’ ≠Q’.
Untuk P ∉ S, ambil dua titik, A ,B ∉S, A ≠ B.
Kita akan menyelidiki kedudukan A’ dan B’.
Andaikan A’ = B’.
Karena S adalah sumbu ruas garis AA’ maka S tegak lurus AA’ dan karena S adalah sumbu dari
ruas garis BB’ maka S tegak lurus BB’.
Maka karena A’ = B’ dan kedua garis tegak lurus S, AA’ dan BB’ berimpit.
Akibatnya A =B.
Ini suatu kontradiksi, harusnya A’≠ B’.
Jadi T injektif.
Dengan demikian karena T injektif dan T surjektif, maka T suatu transformasi.
d) Akan dibuktikan A’B’=AB.
B’
Misal 𝐷 titik potong garis 𝑆 dengan ruas garis ̅̅̅̅̅
𝐴′𝐴 dan 𝐸 titik potong garis 𝑠 dengan ruas garis
̅̅̅̅̅.
𝐵′𝐵
LihatΔ𝐴′𝐷𝐸 dan Δ𝐴𝐷𝐸.
𝐴′𝐷=𝐴𝐷 (menurut definisi 𝑠adalah sumbu ̅̅̅̅̅
𝐴′𝐴sehingga 𝐷 tengah-tengah ̅̅̅̅̅
𝐴′𝐴)
𝑚(∠𝐴′𝐷𝐸)=𝑚(∠𝐴𝐷𝐸)=900 (karena 𝑠 sumbu ̅̅̅̅̅ ̅̅̅̅̅)
𝐴′ 𝐴maka 𝑠⊥𝐴′𝐴
𝐷𝐸=𝐷𝐸 (berimpit).
Maka menurut teorema sisi-sudut-sisi Δ𝐴′𝐷𝐸≅Δ𝐴𝐷𝐸.
Akibatnya 𝐴′𝐸=𝐴𝐸 dan 𝑚(∠𝐴′𝐸𝐷)=𝑚(∠𝐴𝐸𝐷).
LihatΔ𝐴′𝐵′𝐸 dan Δ𝐴𝐵𝐸.
𝐴′𝐸=𝐴𝐸 (diketahui) …........................(i)
̅̅̅̅̅sehingga 𝐸
𝐵′𝐸=𝐵𝐸 (menurut definisi 𝑠 adalah sumbu 𝐵′𝐵
̅̅̅̅̅ ) …..........................(ii)
tengah-tengah𝐵′𝐵
𝑚(∠𝐵′𝐸𝐷)=𝑚(∠𝐵𝐸𝐷)=900 (karena 𝑠 sumbu ̅̅̅̅̅
𝐵′𝐵 maka ̅̅̅̅̅)
𝑠⊥𝐵′𝐵
𝑚(∠𝐵′𝐸𝐴)=𝑚(∠𝐵′𝐸𝐷)−𝑚(∠𝐴′𝐸𝐷) 𝑚(∠𝐵𝐸𝐴)=𝑚(∠𝐵𝐸𝐷)−𝑚(∠𝐴𝐸𝐷)=𝑚(∠𝐵′𝐸𝐷)−𝑚(∠𝐴′𝐸𝐷)
Berakibat 𝑚(∠𝐵′𝐸𝐴)=𝑚(∠𝐵𝐸𝐴) …(iii)
Dari (i),(ii) dan (iii) maka menurut teorema sudut-sisi-sudut Δ𝐴′𝐵′𝐸≅Δ𝐴𝐵𝐸
Akibatnya 𝐴′𝐵′=𝐴𝐵