Medication Error
Medication Error
PENDAHULUAN
1.3 Tujuan
1. Mengetahui pengertian Patient Safety
2. Mengetahui pengertian K3
3. Mengetahui siapa yang dimaksud peawat
4. Mengetahui jenis-jenis medication error
5. Mengetahui faktor penyebab medication error
6. Mengetahui upaya pencgahan medication error
2
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
Prinsip K3
Keselamatan dan Kesehatan Kerja (K3) adalah kondisi dalam pekerjaan yang sehat dan
aman baik itu bagi pekerja, perusahaan maupun masyarakat dan lingkungan sekitar
tempat kerja . K3 adalah menjaga agar pekerja/masyarakat memperoleh derajat kesehatan
yang setinggi-tingginya, baik fisik, atau mental, maupun social, dengan usaha-usaha
preventif dan kuratif, terhadap penyakit-penyakit/ gangguan-gangguan kesehatan yang
diakibatkan factor-faktor pekerjaan, lingkungan karja, penyakit-penyakit umum, serta
usaha untuk menciptakan suasana kerja yang aman dan tentram bagi karyawan.
Menurut OHSAS 18001:2007, Keselamatan dan Kesehatan Kerja (K3) adalah semua
kondisi dan factor yang dapat berdampak pada keselamatan dan kesehatan kerja tenaga
kerja maupun orang lain (kontraktor, pemasok, pengunjung dan tamu) di tempat kerja.
Menurut America Society of safety and Engineering (ASSE) K3 diartikan sebagai bidang
kegiatan yang ditujukan untuk mencegah semua jenis kecelakaan yang ada kaitannya
dengan lingkungan dan situasi kerja.
Keselamatan Pasien (patient safety) didefinisikan sebagai suatu upaya untuk mencegah
bahwa yang terjadi pada pasien, upaya untuk menjamin keselamatan pasien di fasilitas
kesehatan. Menurut The American Hospital Asociation (AHA) 1999 keselamatan dan
keamanan pasien (patient safety) merupakan sebuah prioritas strategic.
Keamanan obat, dewasa ini menjadi perhatian penting bagi banyak orang yang terlibat
dalam pelayanan dan perawatan pasien, mencakup pimpinan Rumah Sakit, dokter,
perawat, apoteker, dan lain-lain. Menteri Kesehatan RI Nomor
1027/MENKES/SK/IX/2004 menyebutkan bahwa kesalahan pemberian obat (medication
error) adalah kejadian yang merugikan pasien, akibat pemakaian obat selama dalam
penanganan kesehatan, yang sebetulnya dapat dicegah. (Siregar, 2013) menyatakan
bahwa upaya perawat dalam pencegahan kesalaha nobat, terutama di fokuskan pada
waktu pemberian obat kepada pasien. Ada “Sembilan tepat” yang perlu di laksanakan
perawat sewaktu pemberian obat kepada pasien rawat inap, seperti tertera di bawah ini.
Sembilan tepat ini membantu keamanan dan keselamatan pasien, demikian juga perawat
atau orang yang menyimpan dan memberikan obat tersebut kepada pasien. Upaya
pencegahan kesalahan pemberian obat yang paling jarang dilakukan oleh perawat adalah
tindakan tepat teknik dan tepat pemantauan. Selanjutnya tindakan yang paling sering
3
dilakukan perawat dalam menerapkan upaya pencegahan kesalahan pemberian obat
adalah tepat dosis dan tepat pasien (Suratmi, 2016).
5
d) Jika diperlukan dapat diundang para expert dalam bidang klinis,
epidemiologi klinis, atau management training untuk melakukan
eksplorasi dan sekaligus memformulasikan solusi pemecahan.
e) Jika langkah-langkah diatas telah dilakukan maka tahap berikutnya
adalah melakukan evaluasi dampak program terhadap keamanan
pasien.
3. Menetapakan standard kinerja (performance standards) untuk keamanan pasien
Pengembangan dan tersedianya standar-standar untuk keperluan patient safety
antara lain bertujuan untuk:
a) Sebagai standar minimum kinerja yang harus dilaksanakan oleh setiap
petugas untuk meminimalkan terjadinya risiko.
b) Standar kinerja juga dimaksudkan untuk menjamin konsistensi dan
keseragaman prosedur bagi setiap petugas kesehatan dalam melakukan
upaya medik, sehingga kalaupun tetap terjadi error, maka harus
ditelusuri kembali apakah standar yang ditetapkan adekuat.
c) Menjamin bahwa pelaksanaan standar kesepakatan seluruh petugas
yang adalah dalam kerangka profesionalisme dan akuntabilitas.
7
BAB III
PEMBAHASAN
3.2 pengertian K3
8
Keselamatn kerja dapat diartikan dengan suatu usaha atau kegiatan untuk
menciptakan lingkungan kerja yang aman, sert mencegah semua bentuk kecelakaan
yang mungkin terjadi, keselamatan kerja berlaku di segala tempat kerja, baik di darat,
di laut, di permukaan air, di dalam air, maupun di udara. Tempat-tempat kerja
demikian tersebar pada kegiatan ekonomi, pertanian, industri pertambangan,
perhubungan pekerjaan umum, jasa dan lainnya (Irzal, 2016).
K3 merupakan suatu upaya mempertahankan dan meningkatkan derajat
kesejahteraan fisik, mental dan sosial yang setinggi- tinggi nya bagi pekerja di semua
jabatan, pencegahan penyimpangan kesehatan diantara pekerja yang disebabkan oleh
kondisi pekerjaan, perlindungan pekerja dalam pekerjaannya dari risiko akibat faktor
yang merugikan kesehatan, penempatan dan pemeliharaan pekerja dalam suatu
lingkungan kerja yang diadapasikan dengan kapabilitas fisiologi dan psikologi serta
diringkaskan sebagai adaptasi pekerjaan kepada manusia dan setiap manusia kepada
jabatannya (WHO/ILO)
Bila dicermati definisi K3 di atas, maka definsi tersebut dapat dipilah-pilah
dalam beberapa kalimat yang menunjukan bahwa K3 adalah:
a. Promosi dan memelihara derajattertinggi semua pekerja baik secara fisik,
mental dan kesejahteraan sosial di semua jenis pekerjaan.
b. Untuk mencegah penurunan kesehatan pekerja yang disebabkan oleh kondisi
pekerjaan mereka.
c. Melindungi pekerja pada setiap pekerjaan dari resiko yang timbul dari faktor-
faktor yang dapat mengganggu kesehatan.
d. Penempatan dan memelihara pekerja di lingkungan kerja yang sesuai dengan
kondisi fisiologis dan psikologis pekerja dan untuk menciptakan kesesuaian
antara pekerjaan dengn pekerja dan setiap orang dengan tugasnya.
9
g. Meningkatkan produktivitas kerja tanpa memeras tenaga kerja dan menjamin
kehidupan produktifnya.
h. Mencegah pemborosan tenaga kerja, modal, alat dan sumber-sumber produksi
lainnya.
i. Menjamin tempat kerja yang sehat, bersih, nyaman dan aman sehingga dapat
menimbulkan kegembiraan semangat kerja.
j. Memperlancar, meningkatkan, mengamankan produksi industri serta
pembangunnan.
Di bawah ini diuraikan beberapa faktor yang dapat menyebabkan terjadinya medication
error:
1. Kondisi sumber daya manusia Instalasi Farmasi Rumah Sakit (IFRS)
a. Jumlah dan mutu apoteker tidak memadai
b. Personel non-professional dalam bidang pekerjaan apoteke
2. Sistem distribusi obat untuk PRT yang tidak sesuai
13
3. Belum diterapkannya pelayanan farmasi klinik
Pelayanan farmasi klinik merupakan suatu kegiatan jaminan mutu pelayanan obat kepada
pasien. Dalam pelayanan ini, apoteker memiliki tanggung jawab sebagai upaya
pencapaian dan peningkatan kesehatan pasien dan mutu kehidupannya. Jika pelayanan ini
tidak diterapkan di rumah sakit, maka tidak menutup kemungkinan kesalahan obat atau
masalah yang berkaitan dengan obat akan banyak terjadi.
4. Tidak diterapkannya pedoman Cara Dispensing Obat yang Baik (CDOB)
Berbagai kegiatan dalam CDOB tidak dilakukan, seperti: interpretasi resep, riwayat
pengobatan pasien, pemberian informasi yang tidak lengkap pada etiket, kurangnya
informasi pada perawat, dapat menyebabkan terjadinya kesalahan baik oleh dokter,
apoteker, perawat, maupun pasien.
5. Kebijakan dan prosedur pengelolaan, pengendalian, serta pelayanan obat yang tidak
memadai Kebijakan dan prosedur sangat penting serta berguna karena merupakan
penuntun untuk melaksanakan pengelolaan, pengendalian, dan pelayanan obat yang
efektif dan efisien di rumah sakit. Kurangnya kebijakan dan prosedur tersebut di rumah
sakit dapat berkontribusi pada kesalahan obat di rumah sakit.
6. Pelaksanaan sistem formularium dan pengadaan formularium yang belum memadai
Sistem formularium yang belum diterapkan, mengakibatkan formularium tidak
akomodatif bagi pasien. Jumlah, jenis mutu obat serta penggunaan di rumah sakir tidak
terkendali, dan kondisi tersebut dapat menyebabkan kesalahan obat.
7. Panitia Farmasi dan Terapi (PFT) belum berdaya
Tidak berdayanya PFT di rumah sakit, antara lain sistem formularium tidak terlaksana,
formularium tidak baik, dan pengembangan kebijakan serta prosedur berkaitan dengan
obat sangat lambat. Hal-hal tersebut dapat berkontribusi pada kesalahan obat di rumah
sakit.
8. Kurang memadainya pengetahuan pasien dan profesional tentang obat
Pengetahuan pasien yang kurang memadai tentang obat menyebabkan ketidakpatuhan
pasien dan salah penggunaan obatnya. Sedangkan, profesional kesehatan yang memiliki
pengetahuan kurang terhadap obat dapat menyebabkan kesalahan pemilihan obat yang
tepat bagi pasien.
9. Kesalahan komunikasi (communication errors)
Kesalahan komunikasi dapat terjadi akibat kurangnya kemampuan dokter/apoteker dalam
berkomunikasi dengan pasien. Dapat juga diakibatkan karena pasien tidak
memberitahukan gejala penyakit yang dirasakannya dengan jelas.
14
10. Meningkatnya spesialisasi dan fragmentasi perawatan kesehatan. Semakin banyak tenaga
kesehatan yang menangani seorang pasien, makin besar kemungkinan kesalahan
informasi yang disampaikan.
11. Belum terdapat standar pelayanan medis yang tertuang dalam SOP
Masih belum adanya standar pelayanan medis yang dituangkan dalam standar prosedur
operasional sehingga tidak ada acuan baku dalam penatalaksanaan suatu penyakit dengan
baik. Misalnya penatalaksanaan malaria baik oleh tenaga mikroskopis maupun tenaga
medis hanya didasarkan atas pengalaman.
12. Penyebab kesalahan obat yang umum
a. Kekuatan obat pada etiket atau dalam kemasan yang membingungkan
Kekuatan atau dosis sediaan tidak jelas dimana sediaan tersebut terdiri dari
bermacam-macam obat dengan perbandingan yang ada, contoh cotrimoksazol
(trimetroprim 800 mg + sulfametoksazol 400 mg).
15
dalam perhitungan dosis tidak hanya ringan tetapi juga kesalahan yang fatal, misal
kesalahan 10 kali lipat atau mencapai 15%.
g. Kesalahan diagnosis
Kesalahan dokter dalam mendiagnosis penyakit dapat menyebabkan kesalahan
tindakan medis selanjutnya.
h. Menggunakan singkatan yang tidak tepat dalam penulisan resep
Pengunaan singkatan dalam resep terkadang dapat menyebabkan terjadinya
kesalahan obat, seperti misalnya:
Singkatan U (unit) untuk insulin dan pitosin dapat menyebabkan kesalahan
pembacaan menjadi 0 yang menyebabkan overdosis yang berbahaya.
Singkatan IU (International Unit) dapat terbaca sebagai IV (intravena) atau 10.
Singkatan q.d. (quaque die) yang berarti setiap hari dapat menyebabkan
kesalahan pembacaan menjadi qid (quarter in die atau empat kali sehari) atau
qod (setiap hari yang berbeda).
Angka desimal seharusnya tidak ditulis. Angka 1.0 dapat terbaca sebagai 10
akibat tanda desimalnya berada pada garis keras resep.
i. Kesalahan penulisan etiket
j. Beban kerja berlebihan
k. Obat-obatan yang tidak tersedia
16
c. Memfasilitasi perubahan proses dan sistem untuk menurunkan insiden yang sering
terjadi atau berulangnya insiden sejenis
3. Mendidik staf dan klinisi terkait lainnya untuk menggalakkan praktek pengobatan yang
aman
a. Mengembangkan program pendidikan untuk meningkatkan medication safety dan
kepatuhan terhadap aturan/SOP yang ada
4. Berpartisipasi dalam Komite/tim yang berhubungan dengan medication safety
a. Komite Keselamatan Pasien RS
b. Dan komite terkait lainnya
5. Terlibat didalam pengembangan dan pengkajian kebijakan penggunaan obat
6. Memonitor kepatuhan terhadap standar pelaksanaan Keselamatan Pasien yang ada
Peran apoteker dalam mewujudkan keselamatan pasien meliputi dua aspek yaitu aspek
manajemen dan aspek klinik.
1. Aspek manajemen meliputi pemilihan perbekalan farmasi, pengadaan, penerimaan,
penyimpanan dan distribusi, alur pelayanan, sistem pengendalian (misalnya
memanfaatkan IT).
2. Aspek klinik meliputi skrining permintaan obat (resep atau bebas), penyiapan obat
dan obat khusus, penyerahan dan pemberian informasi obat, konseling, monitoring
dan evaluasi.
Kegiatan farmasi klinik sangat diperlukan terutama pada pasien yang menerima
pengobatan dengan risiko tinggi. Keterlibatan apoteker dalam tim pelayanan kesehatan perlu
didukung mengingat keberadaannya melalui kegiatan farmasi klinik terbukti memiliki
konstribusi besar dalam menurunkan insiden/[Link] harus berperan di semua
tahapan proses yang meliputi :
1. Pemilihan
Pada tahap pemilihan perbekalan farmasi, risiko insiden/error dapat diturunkan dengan
pengendalian jumlah item obat dan penggunaan obat-obat sesuai formularium.
2. Pengadaan
Pengadaan harus menjamin ketersediaan obat yang aman, efektif, dan sesuai peraturan
yang berlaku (legalitas) dan diperoleh dari distributor resmi.
3. Penyimpanan
Hal-hal yang perlu diperhatikan dalam penyimpanan untuk menurunkan kesalahan
pengambilan obat dan menjamin mutu obat:
17
a. Simpan obat dengan nama, tampilan dan ucapan mirip (look-alike, sound-alike
medication names) secara terpisah.
b. Obat-obat dengan peringatan khusus (high alert drugs) yang dapat menimbulkan
cedera jika terjadi kesalahan pengambilan, simpan di tempat khusus. Misalnya:
Cairan elektrolit pekat seperti KCl injeksi, heparin, warfarin, insulin,
kemoterapi, narkotik opiat, neuromuscular blocking agents, thrombolitik, dan
agonis adrenergik.
Kelompok obat antidiabet jangan disimpan tercampur dengan obat lain secara
alfabetis, tetapi tempatkan secara terpisah
c. Simpan obat sesuai dengan persyaratan penyimpanan.
4. Skrining Resep
Apoteker dapat berperan nyata dalam pencegahan terjadinya medication error melalui
kolaborasi dengan dokter dan pasien.
a. Identifikasi pasien minimal dengan dua identitas, misalnya nama dan nomor rekam
medik/ nomor resep.
b. Apoteker tidak boleh membuat asumsi pada saat melakukan interpretasi resep dokter.
Untuk mengklarifikasi ketidaktepatan atau ketidakjelasan resep, singkatan, hubungi
dokter penulis resep.
c. Dapatkan informasi mengenai pasien sebagai petunjuk penting dalam pengambilan
keputusan pemberian obat, seperti:
Data demografi (umur, berat badan, jenis kelamin) dan data klinis (alergi,
diagnosis dan hamil/menyusui). Contohnya, Apoteker perlu mengetahui tinggi
dan berat badan pasien yang menerima obat-obat dengan indeks terapi sempit
untuk keperluan perhitungan dosis.
Hasil pemeriksaan pasien (fungsi organ, hasil laboratorium, tanda-tanda vital dan
parameter lainnya). Contohnya, Apoteker harus mengetahui data laboratorium
yang penting, terutama untuk obat-obat yang memerlukan penyesuaian dosis dosis
(seperti pada penurunan fungsi ginjal).
Apoteker harus membuat riwayat/catatan pengobatan pasien.
Strategi lain untuk mencegah kesalahan obat dapat dilakukan dengan penggunaan
otomatisasi (automatic stop order), sistem komputerisasi (eprescribing) dan
pencatatan pengobatan pasien seperti sudah disebutkan diatas.
Permintaan obat secara lisan hanya dapat dilayani dalam keadaan emergensi dan
itupun harus dilakukan konfirmasi ulang untuk memastikan obat yang diminta
18
benar, dengan mengeja nama obat serta memastikan dosisnya. Informasi obat
yang penting harus diberikan kepada petugas yang meminta/menerima obat
tersebut. Petugas yang menerima permintaan harus menulis dengan jelas instruksi
lisan setelah mendapat konfirmasi.
5. Dispensing
a. Peracikan obat dilakukan dengan tepat sesuai dengan SOP.
b. Pemberian etiket yang tepat. Etiket harus dibaca minimum tiga kali : pada saat
pengambilan obat dari rak, pada saat mengambil obat dari wadah, pada saat
mengembalikan obat ke rak.
c. Dilakukan pemeriksaan ulang oleh orang berbeda.
d. Pemeriksaan meliputi kelengkapan permintaan, ketepatan etiket, aturan pakai,
pemeriksaan kesesuaian resep terhadap obat, kesesuaian resep terhadap isi etiket.
6. Komunikasi, Informasi dan Edukasi (KIE)
Edukasi dan konseling kepada pasien harus diberikan mengenai hal-hal yang penting
tentang obat dan pengobatannya. Hal-hal yang harus diinformasikan dan didiskusikan
pada pasien adalah:
a. Pemahaman yang jelas mengenai indikasi penggunaan dan bagaimana menggunakan
obat dengan benar, harapan setelah menggunakan obat, lama pengobatan, kapan harus
kembali ke dokter
b. Peringatan yang berkaitan dengan proses pengobatan
c. Kejadian Tidak Diharapkan (KTD) yang potensial, interaksi obat dengan obat lain
dan makanan harus dijelaskan kepada pasien
d. Reaksi obat yang tidak diinginkan (Adverse Drug Reaction – ADR) yang
mengakibatkan cedera pasien, pasien harus mendapat edukasi mengenai bagaimana
cara mengatasi kemungkinan terjadinya ADR tersebut
e. Penyimpanan dan penanganan obat di rumah termasuk mengenali obat yang sudah
rusak atau kadaluarsa. Ketika melakukan konseling kepada pasien, apoteker
mempunyai kesempatan untuk menemukan potensi kesalahan yang mungkin
terlewatkan pada proses sebelumnya.
7. Penggunaan Obat
Apoteker harus berperan dalam proses penggunaan obat oleh pasien rawat inap di rumah
sakit dan sarana pelayanaan kesehatan lainnya, bekerja sama dengan petugas kesehatan
lain. Hal yang perlu diperhatikan adalah:
a. Tepat pasien
19
b. Tepat indikasi
c. Tepat waktu pemberian
d. Tepat obat
e. Tepat dosis
f. Tepat label obat (aturan pakai)
g. Tepat rute pemberian
h.
8. Monitoring dan Evaluasi
Apoteker harus melakukan monitoring dan evaluasi untuk mengetahui efek terapi,
mewaspadai efek samping obat, memastikan kepatuhan pasien. Hasil monitoring dan
evaluasi didokumentasikan dan ditindaklanjuti dengan melakukan perbaikan dan
mencegah pengulangan kesalahan.
Seluruh personal yang ada di tempat pelayanan kefarmasian harus terlibat didalam
program keselamatan pasien khususnya medication safety dan harus secara terus menerus
mengidentifikasi masalah dan mengimplementasikan strategi untuk meningkatkan
keselamatan pasien.
Faktor-faktor lain yang berkonstribusi pada medication error antara lain:
a. Komunikasi (mis-komunikasi, kegagalan dalam berkomunikasi)
Komunikasi baik antar apoteker maupun dengan petugas kesehatan lainnya perlu
dilakukan dengan jelas untuk menghindari penafsiran ganda atau ketidak lengkapan
informasi dengan berbicara perlahan dan jelas. Perlu dibuat daftar singkatan dan
penulisan dosis yang berisiko menimbulkan kesalahan untuk diwaspadai.
b. Kondisi lingkungan
Untuk menghindari kesalahan yang berkaitan dengan kondisi lingkungan, area
dispensing harus didesain dengan tepat dan sesuai dengan alur kerja, untuk
menurunkan kelelahan dengan pencahayaan yang cukup dan temperatur yang
nyaman. Selain itu area kerja harus bersih dan teratur untuk mencegah terjadinya
kesalahan. Obat untuk setiap pasien perlu disiapkan dalam nampan terpisah.
c. Gangguan/interupsi pada saat bekerja
Gangguan/interupsi harus seminimum mungkin dengan mengurangi interupsi baik
langsung maupun melalui telepon.
d. Beban kerja
Rasio antara beban kerja dan SDM yang cukup penting untuk mengurangi stres dan
beban kerja berlebihan sehingga dapat menurunkan kesalahan.
20
e. Meskipun edukasi staf merupakan cara yang tidak cukup kuat dalam menurunkan
insiden/kesalahan, tetapi mereka dapat memainkan peran penting ketika dilibatkan
dalam sistem menurunkan insiden/kesalahan.
BAB IV
PENUTUP
1.1 KESIMPULAN
Patient safety merupakan keselamatan pasien di rumah sakit dengan sistem (tatanan)
pelayanan dalam rumahsakit yang memberikan asuhan pasien secara lebih aman serta
menerapkan solusi untuk mengurangi dan meminimalkan resiko yang ada. Keselamatn
kerja dapat diartikan dengan suatu usaha atau kegiatan untuk menciptakan lingkungan
kerja yang aman, serta mencegah semua bentuk kecelakaan yang mungkin terjadi.
Medication error adalah suatu kegagalan dalam proses pengobatan yang memiliki
potensi membahayakan pada pasien dalam proses pengobatan ataupun perawatannya.
Kesalahan pengobatan ini dapat menyebabkan efek yang merugikan serta berpotensi
menimbulkan resiko yang fatal dari suatu penyakit.
Keselamatan pasien merupakan hal yang perlu di perhatikan, selain itu tenaga medis
juga berperan dalam meminimalisir terjadinya medical error. Penyebab terjadinya medical
error menurut American Hospital Association yaitu dapat terjadi pada Informasi pasien
yang tidak lengkap, Tidak diberikan informasi obat yang layak, Kesalahan komunikasi
dalam peresepan, Pelabelan kemasan obat yang tidak [Link] dari itu peran Apoteker
Keselamatan Pengobatan (Medication Safety Pharmacist) untuk mencegah terjadinya
medical error yaitu Mengelola laporan medication error, Mengidentifikasi pelaksanaan
praktek profesi terbaik, Mendidik staf dan klinisi, Berpartisipasi dalam Komite/tim,
Terlibat didalam pengembangan dan pengkajian kebijakan penggunaan obat. Untuk
mengupayakan tidak terjadinya medical error tenaga medis harus lebih teliti dan terlatih
dalam memberikan pelayanan kesehatan pada pasien.
1.2 SARAN
Kepada dokter, farmasi, perawat maupun tenaga kesehatan lainnya untuk menghindari
terjadinya kesalahan medikasi, perlu adanya koordinasi yang jelas diantara semua tenaga
medis di pelayanan kesehatan. Menjadi tenagamedis harus berhati-hati dalam melakukan
segala tindakan dan harus sesuai dengan standar profesi. Sebagai tenaga kesehatan juga
sangat perlu komunikasi dengan klien agar tidak terjadi hal yang tidak diinginkan dalam
asuhan yang diberikan kepada klien. Selain agar klien percaya atas tindakan yang
21
diberikan juga terhindar dari medical error. Maka dari itu diharapkan semua tenaga medis
dapat memperhatikan hal-hal yang berpotensi menimbulkan medication error.
22