0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
141 tayangan22 halaman

Medication Error

medical error

Diunggah oleh

anon_493838093
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd
0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
141 tayangan22 halaman

Medication Error

medical error

Diunggah oleh

anon_493838093
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd

BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang


Masalah keamanan obat, dewasa ini menjadi perhatian penting bagi banyak orang yang
terlibat dalam pelayanan dan perawatan pasien, mencakup pimpinan Rumah Sakit, dokter,
perawat, apoteker, dan lain-lain. Keserberagaman obat-obatan, meningkatkanya jumlah
dan jenis obat yang ditulis perpasien meningkatnya jumlah pasien rawat inap dan pasien
rawat jalan yang diobati serta berubahnya konsep pelayanan medik, mengakibatkan
keharusan agar suatu sistem praktik pengobatan yang aman dikembangkan dan dipelihara
untuk memastikan bahwa pasien menerima pelayanan dan proteksi yang sebaik mungkin
(Siregar, 2013).
Kejadian kesalahan pemberian obat merupakan salah satu ukuran pencapaian keselamatan
pasien. Surat Keputusan Menteri Kesehatan RI Nomor 1027/MENKES/SK/IX/2004
menyebutkan bahwa kesalahan pemberian obat (medication error) adalah kejadian yang
merugikan pasien, akibat pemakaian obat selama dalam penanganan kesehatan, yang
sebetulnya dapat dicegah. Medication Error setiap kejadian yang dapat dihindari yang
menyebabkan atau berakibat pada pelayanan obat yang tidak tepat atau membahayakan
pasien sementara obat berada dalam pengawasan tenaga kesehatan atau pasien (Amik
Muladi, 2012). Jadi kesalahan pemberian merupakan kejadian yang dapat merugikan atau
membahyakan pasien yang dilakukan oleh petugas kesehatan, khususnya dalam hal
pengobatan pasien.
Pada penelitian yang dilakukan oleh Perwitasari (2010), dari 229 resep pasien rawat jalan
ditemukan 226 resep dengan kesalahan pengobatan. Dari 226 kesalahan pengobatan,
99,12% adalah kesalahan pada peresepan, 3,02% kesalahan farmasetik dan 3,66%
merupakan kesalahan dispensing. Jenis kesalahan peresepan yang paling banyak adalah
resep yang tidak lengkap. Kesalahan farmasetik meliputi dosis yang tidak tepat dan
kesalahan dispensing meliputi ketidaktepatan persiapan obat dan informasi obat yang
tidak lengkap atau tidak adanya informasi obat, sehingga disimpulkan bahwa medication
errors masih menjadi masalah umum pada pasien rawat jalan di Kota Yogyakarta.
Penelitian yang dilakukan oleh Alakahli (2014), kesalahan pengobatan yang paling umum
terjadi adalah resep tidak lengkap (61,7%), monitoring kesalahan obat (50,5%), dan
kesalahan dosis (44,3%).
Pada penelitian yang dilakukan oleh Timbongol (2016), persentase medication error yang
terjadi pada tahap prescribing di Poli Interna RSUD Bitung yaitu tidak ada bentuk sediaan
1
(74,53%), tidak ada dosis sediaan (20,87%), tidak ada umur pasien (62,87%), tulisan resep
tidak terbaca atau tidak jelas (6,50%) sehingga berpotensi terjadinya medication error.
Pada penelitian yang dilakukan oleh Salmani (2016), kesalahan dengan insidensi tinggi
terjadi pada pengobatan non injeksi adalah salah pasien (1,6%), salah obat (7,9%),
pemberian obat tanpa pemintaan dokter(1,6%), sedangkan dalam pengobatan injeksi
meliputi salah dosis (7,9%), salah perhitungan obat (6,4%) dan salah infus (9,5%).
Penyebab yang paling umum adalah komunikasi, kemasan, transkripsi, kondisi kerja dan
kondisi apotek.

1.2 Rumusan Masalah


1. Apa pengertian Patient Safety?
2. Apa pengertian K3?
3. Apa itu Keperawatan?
4. Apa yang dimaksud dengan medication error?
5. Bagaimana jenis-jenis dari medication error?
6. Apa saja faktor penyebab medication error?
7. Bagaimana upaya pencegahan untuk menangani medication error?

1.3 Tujuan
1. Mengetahui pengertian Patient Safety
2. Mengetahui pengertian K3
3. Mengetahui siapa yang dimaksud peawat
4. Mengetahui jenis-jenis medication error
5. Mengetahui faktor penyebab medication error
6. Mengetahui upaya pencgahan medication error

2
BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

 Prinsip K3
Keselamatan dan Kesehatan Kerja (K3) adalah kondisi dalam pekerjaan yang sehat dan
aman baik itu bagi pekerja, perusahaan maupun masyarakat dan lingkungan sekitar
tempat kerja . K3 adalah menjaga agar pekerja/masyarakat memperoleh derajat kesehatan
yang setinggi-tingginya, baik fisik, atau mental, maupun social, dengan usaha-usaha
preventif dan kuratif, terhadap penyakit-penyakit/ gangguan-gangguan kesehatan yang
diakibatkan factor-faktor pekerjaan, lingkungan karja, penyakit-penyakit umum, serta
usaha untuk menciptakan suasana kerja yang aman dan tentram bagi karyawan.
Menurut OHSAS 18001:2007, Keselamatan dan Kesehatan Kerja (K3) adalah semua
kondisi dan factor yang dapat berdampak pada keselamatan dan kesehatan kerja tenaga
kerja maupun orang lain (kontraktor, pemasok, pengunjung dan tamu) di tempat kerja.
Menurut America Society of safety and Engineering (ASSE) K3 diartikan sebagai bidang
kegiatan yang ditujukan untuk mencegah semua jenis kecelakaan yang ada kaitannya
dengan lingkungan dan situasi kerja.
Keselamatan Pasien (patient safety) didefinisikan sebagai suatu upaya untuk mencegah
bahwa yang terjadi pada pasien, upaya untuk menjamin keselamatan pasien di fasilitas
kesehatan. Menurut The American Hospital Asociation (AHA) 1999 keselamatan dan
keamanan pasien (patient safety) merupakan sebuah prioritas strategic.
Keamanan obat, dewasa ini menjadi perhatian penting bagi banyak orang yang terlibat
dalam pelayanan dan perawatan pasien, mencakup pimpinan Rumah Sakit, dokter,
perawat, apoteker, dan lain-lain. Menteri Kesehatan RI Nomor
1027/MENKES/SK/IX/2004 menyebutkan bahwa kesalahan pemberian obat (medication
error) adalah kejadian yang merugikan pasien, akibat pemakaian obat selama dalam
penanganan kesehatan, yang sebetulnya dapat dicegah. (Siregar, 2013) menyatakan
bahwa upaya perawat dalam pencegahan kesalaha nobat, terutama di fokuskan pada
waktu pemberian obat kepada pasien. Ada “Sembilan tepat” yang perlu di laksanakan
perawat sewaktu pemberian obat kepada pasien rawat inap, seperti tertera di bawah ini.
Sembilan tepat ini membantu keamanan dan keselamatan pasien, demikian juga perawat
atau orang yang menyimpan dan memberikan obat tersebut kepada pasien. Upaya
pencegahan kesalahan pemberian obat yang paling jarang dilakukan oleh perawat adalah
tindakan tepat teknik dan tepat pemantauan. Selanjutnya tindakan yang paling sering
3
dilakukan perawat dalam menerapkan upaya pencegahan kesalahan pemberian obat
adalah tepat dosis dan tepat pasien (Suratmi, 2016).

 Penanganan medication error


1. koreksi bila ada kesalahan sesegera mungkin
2. pelaporan medication error
3. dokumentasi medication error
4. pelaporan medication error yang berdampak cedera
5. supervisi setelah terjadinya laporan medication error
6. sistem pencegahan
7. pemantauan kesalahan secara periodik
8. indakan preventif
9. Pelaporan ke tim keselamatan pasien tingkat nasional

Strategi untuk meningkatkan keselamatan pasien :

 Strategi meningkatkan keselamatan pasien


a. Menggunakan obat dan peralatan yang aman
b. Melakukan praktek klinik yang aman dan dalam lingkungan yang aman
c. Melaksanakan manajemen risiko, contoh : pengendalian infeksi
d. Membuat dan meningkatkan sistem yang dapat menurunkan risiko yang berorientasi
kepada pasien.

 Pencegahan medication error


Penyebab terjadinya medical error dapat diterangkan dengan beberapa hipotesis adalah
outcome dari medical error sering sulit dibedakan dengan gejala akibat penyakitnya
sendiri, praktisi medik tidak mengenali adanya efek samping yang terjadi akibat medical
error, efek samping terdeteksi, tetap tidak dilaporkan dalam catatan medik sebagai
medical error, beberapa efek samping bersifat reversible atau hilang gejalanya dengan
penghentian terapi, sehingga perawat merasa tidak perlu mencatatnya sebagai suatu
medical error.
Pencegahan terhadap medical error dapat dilakukan dengan berbagai metode, salah
satunya seperti yang disampaikan oleh Agency for Healthcare Research and Quality
(AHRQ), US Departement of Health & Human Service, dimana cara terbaik untuk
membantu mencegah terjadinya medical error adalah menjadi pasien yang terlibat aktif
dengan anggota tim pelayanan kesehatan dengan memperhatikan berbagai aspek dalam
4
pelayanan kesehatan seperti pengobatan, waktu tinggal di rumah sakit, operasi, serta
beberapa langkah lainnya terkait pelayanan kesehatan yang diterima oleh pasien.
Ada beberapa upaya yang dapat dilakukan untuk mencegah terjadinya medical error,
antara lain adalah:

1. Pengukuran kinerja dan penerapan performance improvement system


Pengukuran kinerja ini dapat dilakukan melalui berbagai cara, antara lain
adalah pengumpulan data dan monitoring terhadap outcome spesifik yang
menjadi salah satu target potensial untuk terjadinya medical error. Hal ini
sebenarnya dapat dilakukan secara rutin di tingkat rumah sakit atau bahkan
pelayanan kesehatan yang lebih rendah. Tujuannya adalah untuk mendeteksi
sedini mungkin terjadinya medical error, dan sekaligus menetapkan upaya
perbaikan berdasarkan masalah yang dihadapi. Dalam kerangka continuous
quality improvement maka kegiatan ini sebenarnya sudah build-in dalam
sistem pelayanan kesehatan.
Selain itu dapat pula dikembangkan program risk management atau istilah
lainnya adalah disease management atau outcome management. Program ini
merupakan respons terhadap kejadian medical error, yang sebetulnya dapat
dicegah, apabila prosedur dilaksanakan secara benar. Salah satu tujuan dari
risk management ini adalah untuk mencegah terjadinya risiko akibat tindakan
medik. Namun demikian, apabila ternyata risiko tidak dapat dicegah maka
upaya pengatasan masalah harus dilakukan secara adekuat.
2. Menetapkan strategi pencegahan berbasis pada fakta
Beberapa langkah pencegahan risiko terjadinya medical error dapat dilakukan
dengan cara:
a) Mengidentifikasi dan memantau kejadian error pada sekelompok
pasien dengan risiko tinggi serta memahami bagaimana error bisa
terjadi, khususnya untuk yang sifatnya preventable.
b) Melakukan analisis, interpretasi dan mendesiminasikan data yang ada
ke para klinis maupun stakeholders.
c) Menetapkan strategi untuk mengurangi risiko terjadinya medical error
dengan mempertimbangkan bagaimana strategi tersebut dapat
diterapkan dalam sistem pelayanan kesehatan yang ada.

5
d) Jika diperlukan dapat diundang para expert dalam bidang klinis,
epidemiologi klinis, atau management training untuk melakukan
eksplorasi dan sekaligus memformulasikan solusi pemecahan.
e) Jika langkah-langkah diatas telah dilakukan maka tahap berikutnya
adalah melakukan evaluasi dampak program terhadap keamanan
pasien.
3. Menetapakan standard kinerja (performance standards) untuk keamanan pasien
Pengembangan dan tersedianya standar-standar untuk keperluan patient safety
antara lain bertujuan untuk:
a) Sebagai standar minimum kinerja yang harus dilaksanakan oleh setiap
petugas untuk meminimalkan terjadinya risiko.
b) Standar kinerja juga dimaksudkan untuk menjamin konsistensi dan
keseragaman prosedur bagi setiap petugas kesehatan dalam melakukan
upaya medik, sehingga kalaupun tetap terjadi error, maka harus
ditelusuri kembali apakah standar yang ditetapkan adekuat.
c) Menjamin bahwa pelaksanaan standar kesepakatan seluruh petugas
yang adalah dalam kerangka profesionalisme dan akuntabilitas.

Proses sentralisasi obat meliputi pembuatan strategi persiapan sentralisasi obat,


persiapan sarana yang dibutuhkan, membuat petunjuk teknis penyelenggara
sentralisasi obat, dan pendokumentasian hasil pelaksanaan. Pelaksanaan sentralisasi
obat secara optimal, dengan kepemimpinan kepala ruangan, serta pengetahuan perawat
dapat mempengaruhi proses ketepatan pemberian obat oleh perawat dengan prinsip 6
benar (benar pasien, benar obat, benar dosis, benar rute, benar waktu, dan benar
dokumentasi serta 1 W (waspada efek samping), sehingga diharapakan tidak terjadi
kesalahan pemberian obat selama proses perawatan pasien.

 Sistem pencegahan medical error di rumah sakit


Rantai panjang dalam pelayanan obat di rumah sakit ditujukan untuk pengamanan dan
pencegahan kesalahan pengobatan, tetapi dapat juga menjadi sumber kesalahan atau
lamanya pelayanan. Obat suntik diberikan untuk pemakaian satu hari, obat oral
diberikan untuk pemakaian selama tiga hari, obat sisa saat pasien pulang dikembalikan
ke depo farmasi oleh perawat atau keluarga pasien dengan membawa surat yang
ditandatangani oleh kepala ruangan, ada stempel ruangan dan tanda tangan petugas
depoobat kemudian ditukar dengan obat yang akan dibawa pulang.
6
Manajemen risiko dalam pelayanan kefarmasian terutama medication error meliputi
kegiatan :

- koreksi bila ada kesalahan sesegera mungkin


- pelaporan medication error
- dokumentasi medication error
- pelaporan medication error yang berdampak cedera
- supervisi setelah terjadinya laporan medication error
- sistem pencegahan
- pemantauan kesalahan secara periodik
- tindakan preventif
- pelaporan ke tim keselamatan pasien tingkat nasional

7
BAB III

PEMBAHASAN

3.1 pengertian patient safety


Patient safety merupakan keselamatan pasien di rumah sakit merupakan sistem (tatanan)
pelayanan dalam rumah sakit yang memberikan asuhan pasien secara lebih aman.
Termasuk di dalamnya prosedur: mengukur (assesing), risiko, identifikasi, dan
pengelolaan risiko terhadap pasien, pelaporan dan analisi insiden, kemampuan untuk
belajar dan menindaklanjuti insiden serta menerapkan solusi untuk mengurangi serta
meminimalkan risiko termasuk di dalamnya adalah meningkatkan komunikasi dengan
pasien (Lumenta NA, pada Semnas “Patient Safety”, semarang, 2006 dan KKP-RS,
Jakarta, 2007).
Menurut supari tahun 2005, patient safety adalah bebar daari cedera aksidental atau
menghindarkan cedera pada pasien akibat kesalahan perawatan medis dan keseluruhan
pengobatan (Supari, 2005).
Patient safety adlah tidak adanya kesalahan atau bebas dari cidera karena kecelakaan.
Keselamatan pasien adalah suatu sistem dimana rumah sakit membuat asuhan pasien
lebih aman, mencegah terjadinya cidera yang disebabkan oleh kesalahan akibat
melaksanakn suatu tindakan atau tidak mengambil tindakan yang seharusnya dilakukan.
Sistem tersebut meliputi pengenalan risiko, identifikasi dan pengelolaan hal yang
berhubungan dengan risiko pasien, pelaporan dan analisis insiden, kemampuan belajar
dari insiden, tindak lanjut dan implementasi solusi untuk meminimalkan resiko (Kohn,.
Et al. 2000)
Patient safety merupakan sesuatu yang jauh lebih penting daripada sekedar efisiensi
pelayanan. Berbagai risiko akibat tindakan medik dapat terjadi sebagai bagian dari
pelayanan kepada pasien (Pinzon, 2008).
Data di indonesia tentang KTD apalagi kejadian nyaris cedera (Near Miss) masih langka,
namun dilain pihak terjadi peningkatan tuduhan mlpratek yang belum tentu dengan
pembuktian akhir. Insiden pelanggaran Patient Safety 28,3% dilakukan oleh perawat.
Perawat harus menyadari perannya sehingga harus dapat berpartisipasi aktif dalam
mewujudkan patient safety. Kerja keras perawat tidak dapat mencapai level optimal jika
tidak didukung dengan sarana prasarana, manajemen rumah sakit dan tenaga kesehatan
lainnya (Adib, 2009).

3.2 pengertian K3
8
Keselamatn kerja dapat diartikan dengan suatu usaha atau kegiatan untuk
menciptakan lingkungan kerja yang aman, sert mencegah semua bentuk kecelakaan
yang mungkin terjadi, keselamatan kerja berlaku di segala tempat kerja, baik di darat,
di laut, di permukaan air, di dalam air, maupun di udara. Tempat-tempat kerja
demikian tersebar pada kegiatan ekonomi, pertanian, industri pertambangan,
perhubungan pekerjaan umum, jasa dan lainnya (Irzal, 2016).
K3 merupakan suatu upaya mempertahankan dan meningkatkan derajat
kesejahteraan fisik, mental dan sosial yang setinggi- tinggi nya bagi pekerja di semua
jabatan, pencegahan penyimpangan kesehatan diantara pekerja yang disebabkan oleh
kondisi pekerjaan, perlindungan pekerja dalam pekerjaannya dari risiko akibat faktor
yang merugikan kesehatan, penempatan dan pemeliharaan pekerja dalam suatu
lingkungan kerja yang diadapasikan dengan kapabilitas fisiologi dan psikologi serta
diringkaskan sebagai adaptasi pekerjaan kepada manusia dan setiap manusia kepada
jabatannya (WHO/ILO)
Bila dicermati definisi K3 di atas, maka definsi tersebut dapat dipilah-pilah
dalam beberapa kalimat yang menunjukan bahwa K3 adalah:
a. Promosi dan memelihara derajattertinggi semua pekerja baik secara fisik,
mental dan kesejahteraan sosial di semua jenis pekerjaan.
b. Untuk mencegah penurunan kesehatan pekerja yang disebabkan oleh kondisi
pekerjaan mereka.
c. Melindungi pekerja pada setiap pekerjaan dari resiko yang timbul dari faktor-
faktor yang dapat mengganggu kesehatan.
d. Penempatan dan memelihara pekerja di lingkungan kerja yang sesuai dengan
kondisi fisiologis dan psikologis pekerja dan untuk menciptakan kesesuaian
antara pekerjaan dengn pekerja dan setiap orang dengan tugasnya.

Tujuan dari kesehatan dan keselamatan kerja adalah sebagai berikut:

a. Mencegah terjadinya kecelakaan kerja.


b. Mencegah timbulnya penyakit akibat suatu pekerjaan.
c. Mencegah atau mengurangi kematian.
d. Mencegah atau mengurangi cacat tetap.
e. Mengamankan material, konstruksi dan pemakaian.
f. Memelihara bangunan, alat-alat kerja, mesin-mesin, instalasi dan lain
sebagainya.

9
g. Meningkatkan produktivitas kerja tanpa memeras tenaga kerja dan menjamin
kehidupan produktifnya.
h. Mencegah pemborosan tenaga kerja, modal, alat dan sumber-sumber produksi
lainnya.
i. Menjamin tempat kerja yang sehat, bersih, nyaman dan aman sehingga dapat
menimbulkan kegembiraan semangat kerja.
j. Memperlancar, meningkatkan, mengamankan produksi industri serta
pembangunnan.

3.3 pengertian perawat


perawat merupakan tenaga medis yang memberikan jaminan keselamatan pada pasien
selama di rawat di rumah sakit agar selama pasien diberikan perawatan medis dapat
merasa aman dan tidak mengalami cedera
Keperawatan merupakan suatu bentuk layanan kesehatan profesional yang merupakan
Integral dari pelayanan kesehatan yang berlandaskan ilmmu dan kiat keperawatan
berbentuk layanan bio, psiko, sosial, dan spiritual yang komperhensif yang ditujukan bagi
individu, keluarga, dan masyarakat. Baik dalam keadaan sehat maupun sakit. Serta
mencakup seluruh proses kehidupan. Layanan Keperawatan kepada klien dilakukan
dengan menggunakan metode proses keperawatan. Penerapan proses keperawatan
merupakan salah satu wujud tanggung jawab dan tanggung gugat perawat terhadap klien.
Pada akhirnya, penerapan proses keperawatan ini akan meningkatkan kualitas layanan
keperawatan kepada klien (Asmadi,2005)

3.4 pengertian medication error


Penggunaan obat yang semakin pesat telah meningkatkan bahaya kesalahan obat yang
mungkin terjadi. Perawat harus dapat bekerja sama dengan dokter, apoteker dan pimpinan
rumah sakit dalam memeriksa dan menyempurnakan sistem untuk memastikan bahwa
proses pengobatan berlangsung dengan aman. Kesalahan pengobatan (Medication error)
merupakan setiap kejadian yang dapat dihindari yang menyebabkan atau berakibat pada
pelayanan obat yang tidak tepat atau membahayakan pasien sementara obat berada dalam
pengawasan tenaga kesehatan atau pasien (Rikomah, Setya Eni. 2016).
Ditinjau dari asal katanya, errors adalah sesuatu yang dilakukan dengan salah karena
ketidaktahuan atau ketidaksengajaan dan kegagalan untuk menyelesaikannya. Medication
error adalah suatu kegagalan dalam proses pengobatan yang memiliki potensi
membahayakan pada pasien dalam proses pengobatan ataupun perawatannya. Kesalahan
10
pengobatan ini dapat menyebabkan efek yang merugikan serta berpotensi menimbulkan
resiko yang fatal dari suatu penyakit. Medical error dapat terjadi pada setiap tahap proses
pengobatan yang kompleks sehingga tingkat prevalensinya perlu diperkirakan pada setiap
fase pengobatan (Belen, Ana et al. 2010).
Dalam surat Keputusan Menteri Kesehatan RI Nomor 1027/MENKES/SK/IX/2004
disebutkan bahwa pengertian medication error adalah kejadian yang merugikan pasien,
akibat pemakaian obat selama dalam penanganan tenaga kesehatan, yang sebetulnya
dapat dicegah. Meskipun kesalahan pengobatan terkadang serius, namun hal tersebut
sering tidak diperhatikan. Penting untuk mendeteksinya, karena kegagalan sistem yang
awalnya mengakibatkan kesalahan kecil dapat menyebabkan kesalahan yang serius.
Kesalahan yang terjadi ditetapkan melalui standar tertentu, di mana kesalahan dapat
dinilai. Semua orang yang terlibat dengan obat-obatan harus menetapkan atau terbiasa
dengan standar tersebut dan mengamati setiap langkah yang dilakukan untuk memastikan
bahwa kegagalan untuk memenuhi standar tidak terjadi atau tidak mungkin terjadi.
Semua orang yang terlibat dalam proses pengobatan bertanggung jawab atas berbagai
prosesnya (Aronson, J.K. 2009).

3.5 jenis-jenis medication error


Kesalahan pengobatan (medication error) terdapat di 4 tahap, yaitu :
 Kesalahan peresepan (prescribing error) :
Kesalahan dalam proses prescribing merupakan kesalahan yang terjadi dalam
penulisan resep obat oleh dokter seperti; dokter salah menulis jumlah atau dosis
obat yang tepat untukpasien, tidak jelasnya tulisan dalam resep, keliru dalam
menuliskan nama obat atau tidak jelasnya instruksi yang diberikan dalam resep.
Kesalahan yang dilakukan pada tahap ini yaitu :
a. Kesalahan karena dosis tidak benar
Pemberian kepada pasien suatu dosis yang lebih besar atau lebih kecil dari
jumlah yang diorder oleh dokter penulis resep atau pemberian dosis duplikat
kepada pasien, yaitu satu atau lebih unit dosis sebagai tambahan pada dosis
obat yang diorder.
b. Kesalahan karena indikasi tidak diobati
Kondisi medis pasien memerlukan terapi obat tetapi tidak menerima suatu
obat untuk indikasi tersebut. Misalnya seorang pasien hipertensi atau glukoma
tetapi tidak menggunakan obat untuk masalah ini.
c. Kesalahan karena penggunaan obat yang tidak diperlukan
11
Pasien menerima suatu obat untuk suatu kondisi medis yang tidak
memerlukan terapi obat.
 Kesalahan penerjemahan resep (transcribing error)
Kesalahan dalam proses transcribing merupakan kesalahan yang terjadi dalam
menterjemahkan resep obat di apotek. Misalnya, resep yang keliru
dibaca/diterjemahkan sehingga otomatis salah juga obat yang diberikan kepada
pasien. Bisa juga karena secara sengaja instruksi yang diberikan dalam resep tidak
dikerjakan atau secara tidak sengaja ada instruksi dalam resep yang terlewatkan
sehingga tidak dikerjakan.
 Kesalahan menyiapkan dan meracik obat (dispensing error)
Kesalahan dalam proses dispensing merupakan kesalahan yang terjadi dalam
peracikan atau pengambilan obat di apotek. Misalnya, obat salah diambil karena
adanya kemiripan nama atau kemiripan kemasan, bisa juga karena salah memberi
label obat sehingga aturan pemakaian obat atau cara pemakaian obat menjadi
tidak sesuai lagi atau mengambil obat yang sudah kadaluarsa. Kesalahan yang
dilakukan pada tahap ini yaitu :
a. Kesalahan karena bentuk sediaan
Pemberian kepada pasien suatu sediaan obat dalam bentuk berbeda dari yang
diorder oleh dokter penulis.
b. Kesalahan karena pembuatan/penyiapan obat yang keliru
Sediaan obat diformulasi atau disiapkan tidak benar sebelum pemberian.
Misalnya, pengenceran yang tidak benar, atau rekonstitusi suatu sediaan yang
tidak benar. Tidak mengocok suspensi. Mencampur obat-obat yang secara
fisik atau kimia inkompatibel.
c. Kesalahan karena pemberian obat yang rusak
Pemberian suatu obat yang telah kadaluarsa atau keutuhan fisik atau kimia
bentuk sediaan telah membahayakan. Termasuk obat-obat yang disimpan
secara tidak tepat.
 Kesalahan penyerahan obat kepada pasien (administration error)
Kesalahan dalam proses administering berkaitan dengan hal-hal yang bersifat
administrasi pada saat obat diberikan atau diserahkan kepada pasien. Kesalahan
yang dilakukan pada tahap ini yaitu :
a. Kesalahan karena lalai memberikan obat
Gagal memberikan satu dosis yang diorder untuk seorang pasien, sebelum
dosis terjadwal berikutnya.
12
b. Kesalahan karena waktu pemberian yang keliru
Pemberian obat di luar suatu jarak waktu yang ditentukan sebelumnya dari
waktu pemberian obat terjadwal.
c. Kesalahan karena teknik pemberian yang keliru
Prosedur yang tidak tepat atau teknik yang tidak benar dalam pemberian suatu
obat.
d. Kesalahan karena rute pemberian tidak benar
Pemberian suatu obat melalui rute yang lain dari yang diorder oleh dokter,
juga termasuk dosis yang diberikan melalui rute yang benar, tetapi pada
tempat yang keliru (misalnya mata kiri, seharusnya mata kanan).

3.6 Faktor penyebab medication error


Menurut American Hospital Association, medication error antara lain dapat terjadi
pada situasi berikut:
a. Informasi pasien yang tidak lengkap, misalnya tidak ada informasi tentang riwayat alergi
dan penggunaan obat sebelumnya.
b. Tidak diberikan informasi obat yang layak, misalnya cara minum atau menggunakan
obat, frekuensi dan lama pemberian hingga peringatan jika timbul efek samping.
c. Kesalahan komunikasi dalam peresepan, misalnya interpretasi apoteker yang keliru
dalam membaca resep dokter, kesalahan membaca nama obat yang relatif mirip dengan
obat lainnya, kesalahan membaca desimal, pembacaan unit dosis hingga singkatan
peresepan yang tidak jelas (q.d atau q.i.d/QD).
d. Pelabelan kemasan obat yang tidak jelas sehingga berisiko dibaca keliru oleh pasien.
e. Faktor-faktor lingkungan, seperti ruang apotek/ruang obat yang tidak terang, hingga
suasana tempat kerja yang tidak nyaman yang dapat mengakibatkan
timbulnya medication error.

Di bawah ini diuraikan beberapa faktor yang dapat menyebabkan terjadinya medication
error:
1. Kondisi sumber daya manusia Instalasi Farmasi Rumah Sakit (IFRS)
a. Jumlah dan mutu apoteker tidak memadai
b. Personel non-professional dalam bidang pekerjaan apoteke
2. Sistem distribusi obat untuk PRT yang tidak sesuai

13
3. Belum diterapkannya pelayanan farmasi klinik
Pelayanan farmasi klinik merupakan suatu kegiatan jaminan mutu pelayanan obat kepada
pasien. Dalam pelayanan ini, apoteker memiliki tanggung jawab sebagai upaya
pencapaian dan peningkatan kesehatan pasien dan mutu kehidupannya. Jika pelayanan ini
tidak diterapkan di rumah sakit, maka tidak menutup kemungkinan kesalahan obat atau
masalah yang berkaitan dengan obat akan banyak terjadi.
4. Tidak diterapkannya pedoman Cara Dispensing Obat yang Baik (CDOB)
Berbagai kegiatan dalam CDOB tidak dilakukan, seperti: interpretasi resep, riwayat
pengobatan pasien, pemberian informasi yang tidak lengkap pada etiket, kurangnya
informasi pada perawat, dapat menyebabkan terjadinya kesalahan baik oleh dokter,
apoteker, perawat, maupun pasien.
5. Kebijakan dan prosedur pengelolaan, pengendalian, serta pelayanan obat yang tidak
memadai Kebijakan dan prosedur sangat penting serta berguna karena merupakan
penuntun untuk melaksanakan pengelolaan, pengendalian, dan pelayanan obat yang
efektif dan efisien di rumah sakit. Kurangnya kebijakan dan prosedur tersebut di rumah
sakit dapat berkontribusi pada kesalahan obat di rumah sakit.
6. Pelaksanaan sistem formularium dan pengadaan formularium yang belum memadai
Sistem formularium yang belum diterapkan, mengakibatkan formularium tidak
akomodatif bagi pasien. Jumlah, jenis mutu obat serta penggunaan di rumah sakir tidak
terkendali, dan kondisi tersebut dapat menyebabkan kesalahan obat.
7. Panitia Farmasi dan Terapi (PFT) belum berdaya
Tidak berdayanya PFT di rumah sakit, antara lain sistem formularium tidak terlaksana,
formularium tidak baik, dan pengembangan kebijakan serta prosedur berkaitan dengan
obat sangat lambat. Hal-hal tersebut dapat berkontribusi pada kesalahan obat di rumah
sakit.
8. Kurang memadainya pengetahuan pasien dan profesional tentang obat
Pengetahuan pasien yang kurang memadai tentang obat menyebabkan ketidakpatuhan
pasien dan salah penggunaan obatnya. Sedangkan, profesional kesehatan yang memiliki
pengetahuan kurang terhadap obat dapat menyebabkan kesalahan pemilihan obat yang
tepat bagi pasien.
9. Kesalahan komunikasi (communication errors)
Kesalahan komunikasi dapat terjadi akibat kurangnya kemampuan dokter/apoteker dalam
berkomunikasi dengan pasien. Dapat juga diakibatkan karena pasien tidak
memberitahukan gejala penyakit yang dirasakannya dengan jelas.

14
10. Meningkatnya spesialisasi dan fragmentasi perawatan kesehatan. Semakin banyak tenaga
kesehatan yang menangani seorang pasien, makin besar kemungkinan kesalahan
informasi yang disampaikan.
11. Belum terdapat standar pelayanan medis yang tertuang dalam SOP
Masih belum adanya standar pelayanan medis yang dituangkan dalam standar prosedur
operasional sehingga tidak ada acuan baku dalam penatalaksanaan suatu penyakit dengan
baik. Misalnya penatalaksanaan malaria baik oleh tenaga mikroskopis maupun tenaga
medis hanya didasarkan atas pengalaman.
12. Penyebab kesalahan obat yang umum
a. Kekuatan obat pada etiket atau dalam kemasan yang membingungkan
Kekuatan atau dosis sediaan tidak jelas dimana sediaan tersebut terdiri dari
bermacam-macam obat dengan perbandingan yang ada, contoh cotrimoksazol
(trimetroprim 800 mg + sulfametoksazol 400 mg).

b. Nama atau bunyi nama obat yang terlihat mirip


Penamaan sediaan obat yang hampir sama dapat menyebabkan medication error.
Contoh obat yang sering menyebabkan kesalahan pengobatan adalah obat pencegah
pembekuan darah Coumadin® dan obat anti parkinson Kemadrin®. Taxol®
(paclitaxel) suatu agen antikanker kedengarannya hampir sama dengan Paxil®
(paroxetine) yang merupakan suatu antidepresan.
c. Kesalahan alat
Contohnya pompa intravena dimana katupnya tidak berfungsi, menyebabkan periode
pemberian obat menjadi terlalu cepat.
d. Tulisan tangan tidak terbaca
Tulisan tangan yang kurang jelas dapat menyebabkan kesalahan dalam dua
pengobatan yang mempunyai nama yang serupa. Selain itu, banyak nama obat yang
nampak serupa terutama saat percakapan di telepon, kurang jelas atau salah
melafalkan. Permasalahannya menjadi kompleks apabila obat tersebut memiliki cara
pemberian yang sama dan dosis yang hampir sama.
e. Penulisan kembali resep atau order dokter yang tidak tepat
f. Perhitungan dosis yang tidak teliti
Kesalahan dalam menghitung dosis sebagian besar terjadi pada pengobatan pediatri
dan pada produk-produk intravena. Beberapa studi menunjukkan bahwa kesalahan

15
dalam perhitungan dosis tidak hanya ringan tetapi juga kesalahan yang fatal, misal
kesalahan 10 kali lipat atau mencapai 15%.
g. Kesalahan diagnosis
Kesalahan dokter dalam mendiagnosis penyakit dapat menyebabkan kesalahan
tindakan medis selanjutnya.
h. Menggunakan singkatan yang tidak tepat dalam penulisan resep
Pengunaan singkatan dalam resep terkadang dapat menyebabkan terjadinya
kesalahan obat, seperti misalnya:
 Singkatan U (unit) untuk insulin dan pitosin dapat menyebabkan kesalahan
pembacaan menjadi 0 yang menyebabkan overdosis yang berbahaya.
 Singkatan IU (International Unit) dapat terbaca sebagai IV (intravena) atau 10.
 Singkatan q.d. (quaque die) yang berarti setiap hari dapat menyebabkan
kesalahan pembacaan menjadi qid (quarter in die atau empat kali sehari) atau
qod (setiap hari yang berbeda).
 Angka desimal seharusnya tidak ditulis. Angka 1.0 dapat terbaca sebagai 10
akibat tanda desimalnya berada pada garis keras resep.
i. Kesalahan penulisan etiket
j. Beban kerja berlebihan
k. Obat-obatan yang tidak tersedia

3.7 upaya pencegahan medication error


Sejumlah pasien dapat mengalami cedera atau mengalami insiden pada saat
memperoleh layanan kesehatan, khususnya terkait penggunaan obat yang dikenal
denganmedication error. Di rumah sakit dan sarana pelayanan kesehatan lainnya,
kejadianmedication error dapat dicegah jika melibatkan pelayanan farmasi klinik dari
apoteker yang sudah terlatih. Saat ini di negara-negara maju sudah ada apoteker dengan
spesialisasi khusus menangani medication safety. Peran Apoteker Keselamatan Pengobatan
(Medication Safety Pharmacist) meliputi :
1. Mengelola laporan medication error
a. Membuat kajian terhadap laporan insiden yang masuk
b. Mencari akar permasalahan dari error yang terjadi
2. Mengidentifikasi pelaksanaan praktek profesi terbaik untuk menjamin medication safety
a. Menganalisis pelaksanaan praktek yang menyebabkan medication error
b. Mengambil langkah proaktif untuk pencegahan

16
c. Memfasilitasi perubahan proses dan sistem untuk menurunkan insiden yang sering
terjadi atau berulangnya insiden sejenis
3. Mendidik staf dan klinisi terkait lainnya untuk menggalakkan praktek pengobatan yang
aman
a. Mengembangkan program pendidikan untuk meningkatkan medication safety dan
kepatuhan terhadap aturan/SOP yang ada
4. Berpartisipasi dalam Komite/tim yang berhubungan dengan medication safety
a. Komite Keselamatan Pasien RS
b. Dan komite terkait lainnya
5. Terlibat didalam pengembangan dan pengkajian kebijakan penggunaan obat
6. Memonitor kepatuhan terhadap standar pelaksanaan Keselamatan Pasien yang ada

Peran apoteker dalam mewujudkan keselamatan pasien meliputi dua aspek yaitu aspek
manajemen dan aspek klinik.
1. Aspek manajemen meliputi pemilihan perbekalan farmasi, pengadaan, penerimaan,
penyimpanan dan distribusi, alur pelayanan, sistem pengendalian (misalnya
memanfaatkan IT).
2. Aspek klinik meliputi skrining permintaan obat (resep atau bebas), penyiapan obat
dan obat khusus, penyerahan dan pemberian informasi obat, konseling, monitoring
dan evaluasi.
Kegiatan farmasi klinik sangat diperlukan terutama pada pasien yang menerima
pengobatan dengan risiko tinggi. Keterlibatan apoteker dalam tim pelayanan kesehatan perlu
didukung mengingat keberadaannya melalui kegiatan farmasi klinik terbukti memiliki
konstribusi besar dalam menurunkan insiden/[Link] harus berperan di semua
tahapan proses yang meliputi :
1. Pemilihan
Pada tahap pemilihan perbekalan farmasi, risiko insiden/error dapat diturunkan dengan
pengendalian jumlah item obat dan penggunaan obat-obat sesuai formularium.
2. Pengadaan
Pengadaan harus menjamin ketersediaan obat yang aman, efektif, dan sesuai peraturan
yang berlaku (legalitas) dan diperoleh dari distributor resmi.
3. Penyimpanan
Hal-hal yang perlu diperhatikan dalam penyimpanan untuk menurunkan kesalahan
pengambilan obat dan menjamin mutu obat:

17
a. Simpan obat dengan nama, tampilan dan ucapan mirip (look-alike, sound-alike
medication names) secara terpisah.
b. Obat-obat dengan peringatan khusus (high alert drugs) yang dapat menimbulkan
cedera jika terjadi kesalahan pengambilan, simpan di tempat khusus. Misalnya:
 Cairan elektrolit pekat seperti KCl injeksi, heparin, warfarin, insulin,
kemoterapi, narkotik opiat, neuromuscular blocking agents, thrombolitik, dan
agonis adrenergik.
 Kelompok obat antidiabet jangan disimpan tercampur dengan obat lain secara
alfabetis, tetapi tempatkan secara terpisah
c. Simpan obat sesuai dengan persyaratan penyimpanan.
4. Skrining Resep
Apoteker dapat berperan nyata dalam pencegahan terjadinya medication error melalui
kolaborasi dengan dokter dan pasien.
a. Identifikasi pasien minimal dengan dua identitas, misalnya nama dan nomor rekam
medik/ nomor resep.
b. Apoteker tidak boleh membuat asumsi pada saat melakukan interpretasi resep dokter.
Untuk mengklarifikasi ketidaktepatan atau ketidakjelasan resep, singkatan, hubungi
dokter penulis resep.
c. Dapatkan informasi mengenai pasien sebagai petunjuk penting dalam pengambilan
keputusan pemberian obat, seperti:
 Data demografi (umur, berat badan, jenis kelamin) dan data klinis (alergi,
diagnosis dan hamil/menyusui). Contohnya, Apoteker perlu mengetahui tinggi
dan berat badan pasien yang menerima obat-obat dengan indeks terapi sempit
untuk keperluan perhitungan dosis.
 Hasil pemeriksaan pasien (fungsi organ, hasil laboratorium, tanda-tanda vital dan
parameter lainnya). Contohnya, Apoteker harus mengetahui data laboratorium
yang penting, terutama untuk obat-obat yang memerlukan penyesuaian dosis dosis
(seperti pada penurunan fungsi ginjal).
 Apoteker harus membuat riwayat/catatan pengobatan pasien.
 Strategi lain untuk mencegah kesalahan obat dapat dilakukan dengan penggunaan
otomatisasi (automatic stop order), sistem komputerisasi (eprescribing) dan
pencatatan pengobatan pasien seperti sudah disebutkan diatas.
 Permintaan obat secara lisan hanya dapat dilayani dalam keadaan emergensi dan
itupun harus dilakukan konfirmasi ulang untuk memastikan obat yang diminta

18
benar, dengan mengeja nama obat serta memastikan dosisnya. Informasi obat
yang penting harus diberikan kepada petugas yang meminta/menerima obat
tersebut. Petugas yang menerima permintaan harus menulis dengan jelas instruksi
lisan setelah mendapat konfirmasi.

5. Dispensing
a. Peracikan obat dilakukan dengan tepat sesuai dengan SOP.
b. Pemberian etiket yang tepat. Etiket harus dibaca minimum tiga kali : pada saat
pengambilan obat dari rak, pada saat mengambil obat dari wadah, pada saat
mengembalikan obat ke rak.
c. Dilakukan pemeriksaan ulang oleh orang berbeda.
d. Pemeriksaan meliputi kelengkapan permintaan, ketepatan etiket, aturan pakai,
pemeriksaan kesesuaian resep terhadap obat, kesesuaian resep terhadap isi etiket.
6. Komunikasi, Informasi dan Edukasi (KIE)
Edukasi dan konseling kepada pasien harus diberikan mengenai hal-hal yang penting
tentang obat dan pengobatannya. Hal-hal yang harus diinformasikan dan didiskusikan
pada pasien adalah:
a. Pemahaman yang jelas mengenai indikasi penggunaan dan bagaimana menggunakan
obat dengan benar, harapan setelah menggunakan obat, lama pengobatan, kapan harus
kembali ke dokter
b. Peringatan yang berkaitan dengan proses pengobatan
c. Kejadian Tidak Diharapkan (KTD) yang potensial, interaksi obat dengan obat lain
dan makanan harus dijelaskan kepada pasien
d. Reaksi obat yang tidak diinginkan (Adverse Drug Reaction – ADR) yang
mengakibatkan cedera pasien, pasien harus mendapat edukasi mengenai bagaimana
cara mengatasi kemungkinan terjadinya ADR tersebut
e. Penyimpanan dan penanganan obat di rumah termasuk mengenali obat yang sudah
rusak atau kadaluarsa. Ketika melakukan konseling kepada pasien, apoteker
mempunyai kesempatan untuk menemukan potensi kesalahan yang mungkin
terlewatkan pada proses sebelumnya.
7. Penggunaan Obat
Apoteker harus berperan dalam proses penggunaan obat oleh pasien rawat inap di rumah
sakit dan sarana pelayanaan kesehatan lainnya, bekerja sama dengan petugas kesehatan
lain. Hal yang perlu diperhatikan adalah:
a. Tepat pasien
19
b. Tepat indikasi
c. Tepat waktu pemberian
d. Tepat obat
e. Tepat dosis
f. Tepat label obat (aturan pakai)
g. Tepat rute pemberian
h.
8. Monitoring dan Evaluasi
Apoteker harus melakukan monitoring dan evaluasi untuk mengetahui efek terapi,
mewaspadai efek samping obat, memastikan kepatuhan pasien. Hasil monitoring dan
evaluasi didokumentasikan dan ditindaklanjuti dengan melakukan perbaikan dan
mencegah pengulangan kesalahan.
Seluruh personal yang ada di tempat pelayanan kefarmasian harus terlibat didalam
program keselamatan pasien khususnya medication safety dan harus secara terus menerus
mengidentifikasi masalah dan mengimplementasikan strategi untuk meningkatkan
keselamatan pasien.
Faktor-faktor lain yang berkonstribusi pada medication error antara lain:
a. Komunikasi (mis-komunikasi, kegagalan dalam berkomunikasi)
Komunikasi baik antar apoteker maupun dengan petugas kesehatan lainnya perlu
dilakukan dengan jelas untuk menghindari penafsiran ganda atau ketidak lengkapan
informasi dengan berbicara perlahan dan jelas. Perlu dibuat daftar singkatan dan
penulisan dosis yang berisiko menimbulkan kesalahan untuk diwaspadai.
b. Kondisi lingkungan
Untuk menghindari kesalahan yang berkaitan dengan kondisi lingkungan, area
dispensing harus didesain dengan tepat dan sesuai dengan alur kerja, untuk
menurunkan kelelahan dengan pencahayaan yang cukup dan temperatur yang
nyaman. Selain itu area kerja harus bersih dan teratur untuk mencegah terjadinya
kesalahan. Obat untuk setiap pasien perlu disiapkan dalam nampan terpisah.
c. Gangguan/interupsi pada saat bekerja
Gangguan/interupsi harus seminimum mungkin dengan mengurangi interupsi baik
langsung maupun melalui telepon.
d. Beban kerja
Rasio antara beban kerja dan SDM yang cukup penting untuk mengurangi stres dan
beban kerja berlebihan sehingga dapat menurunkan kesalahan.

20
e. Meskipun edukasi staf merupakan cara yang tidak cukup kuat dalam menurunkan
insiden/kesalahan, tetapi mereka dapat memainkan peran penting ketika dilibatkan
dalam sistem menurunkan insiden/kesalahan.

BAB IV

PENUTUP

1.1 KESIMPULAN
Patient safety merupakan keselamatan pasien di rumah sakit dengan sistem (tatanan)
pelayanan dalam rumahsakit yang memberikan asuhan pasien secara lebih aman serta
menerapkan solusi untuk mengurangi dan meminimalkan resiko yang ada. Keselamatn
kerja dapat diartikan dengan suatu usaha atau kegiatan untuk menciptakan lingkungan
kerja yang aman, serta mencegah semua bentuk kecelakaan yang mungkin terjadi.
Medication error adalah suatu kegagalan dalam proses pengobatan yang memiliki
potensi membahayakan pada pasien dalam proses pengobatan ataupun perawatannya.
Kesalahan pengobatan ini dapat menyebabkan efek yang merugikan serta berpotensi
menimbulkan resiko yang fatal dari suatu penyakit.
Keselamatan pasien merupakan hal yang perlu di perhatikan, selain itu tenaga medis
juga berperan dalam meminimalisir terjadinya medical error. Penyebab terjadinya medical
error menurut American Hospital Association yaitu dapat terjadi pada Informasi pasien
yang tidak lengkap, Tidak diberikan informasi obat yang layak, Kesalahan komunikasi
dalam peresepan, Pelabelan kemasan obat yang tidak [Link] dari itu peran Apoteker
Keselamatan Pengobatan (Medication Safety Pharmacist) untuk mencegah terjadinya
medical error yaitu Mengelola laporan medication error, Mengidentifikasi pelaksanaan
praktek profesi terbaik, Mendidik staf dan klinisi, Berpartisipasi dalam Komite/tim,
Terlibat didalam pengembangan dan pengkajian kebijakan penggunaan obat. Untuk
mengupayakan tidak terjadinya medical error tenaga medis harus lebih teliti dan terlatih
dalam memberikan pelayanan kesehatan pada pasien.

1.2 SARAN

Kepada dokter, farmasi, perawat maupun tenaga kesehatan lainnya untuk menghindari
terjadinya kesalahan medikasi, perlu adanya koordinasi yang jelas diantara semua tenaga
medis di pelayanan kesehatan. Menjadi tenagamedis harus berhati-hati dalam melakukan
segala tindakan dan harus sesuai dengan standar profesi. Sebagai tenaga kesehatan juga
sangat perlu komunikasi dengan klien agar tidak terjadi hal yang tidak diinginkan dalam
asuhan yang diberikan kepada klien. Selain agar klien percaya atas tindakan yang

21
diberikan juga terhindar dari medical error. Maka dari itu diharapkan semua tenaga medis
dapat memperhatikan hal-hal yang berpotensi menimbulkan medication error.

22

Anda mungkin juga menyukai