Terapi Spiritual Turunkan Kecemasan Pasien
Terapi Spiritual Turunkan Kecemasan Pasien
Pada tahun 2025 menghasilkan Ahli Madya Keperawatan yang unggul dalam penguasaan
asuhan keperawatan dengan masalah neurosain melalui pendekatan ilmu pengetahuan dan
teknologi keperawatan
Oleh:
DESY PUSPITASARI
P3.[Link].125
PROPOSAL PENELITIAN
Disusun dalam rangka Tugas Praktikum Pengantar Riset Keperawatan pada
Program Studi DIII Keperawatan
Jurusan keperawatan Politeknik Kesehatan Kemenkes Jakarta III
Tahun Akademik 2020
OLEH:
DESY PUSPITASARI
P3.[Link].125
“Efektivitas Penerapan Terapi Spiritual Dengan Penurunan Kecemasan Pada Pasien Gangguan
JIiwa Ansietas”
NIM : P3.[Link].125
Telah diperiksa dan disetujui serta layak untuk dipertahankan di hadapan Tim Penguji Sidang
Ujian Proposal Program Studi DIII Keperawatan Jurusan Keperawatan Politeknik Kesehatan
Kemenkes Jakarta III.
Dosen Dosen
NIP NIP
SURAT PERNYATAAN
Saya yang bertanda tangan dibawah ini:
NIM : P3.[Link].125
Menyatakan dengan sesungguhnya bahwa proposal yang berjudul “Efektivitas Penerapan Terapi
Spiritual Dengan Penurunan Kecemasan Pada Pasien Gangguan JIiwa Ansietas” adalah hasil
karya saya sendiri dan bukan merupakan jiplakan. Apabila ternyata di kemudian hari terbukti
melakukan kegiatan plagiat, maka saya bersedia sanksi yang telah ditetapkan
Demikian surat pernyataan ini saya buat dengan sebenar-benarnya.
(Desy Puspitasari)
LEMBAR PENGESAHAN
NIM : P3.[Link].125
Telah diujikan dihadapan Tim Penguji Sidang Ujian Proposal Program Studi DIII Keperawatan
Jurusan Keperawatan Politeknik Kesehatan Kemenkes Jakarta III di Bekasi pada Januari 2020.
Dosen Dosen
NIP NIP
Mengetahui,
NIP: 197512232002122001
Menyetujui,
Puji Syukur Kehadirat Allah Swt atas nikmat dan karunianya penulis dapat menyelesaikan
proposal dengan jurnal “Efektivitas Penerapan Terapi Spiritual Dengan Penurunan Kecemasan
Pada Pasien Gangguan JIiwa Ansietas”.
Proposal ini disusun guna memenuhi salah satu persyaratan dalam menyelesaikan praktikum
pengantar riset keperawatan pada Program Studi Diploma III DI Program Studi Keperawatan
Politeknik Kesehatan Kemenkes Jakarta III.
Dalam penyusunan proposal ini, penulis banyak mengalami hambatan dan kesulitan, namun
berkat dukungan, bantuan, bimbingan dan pengarahan dari berbagai pihak akhirnya penulis dapat
menyelesaikan proposal ini. Untuk itu pada kesempatan ini penulis akan mengucapkan
terimakasih kepada:
1. Yupi Supartini, SKp, MSc selaku Direktur Politeknik Kesehatan Kementrian Kesehatan
Jakarta III.
2. [Link] Desmarnita, [Link].,[Link].,[Link] selaku Ketua Jurusan Keperawatan Politeknik
Kesehatan Kementrian Kesehatan Jakarta III.
3. Santun Setiawati, [Link]., Ns. Sp. Kep. An selaku Ketua Program Studi DIII
Keperawatan beserta seluruh dosen dan staf yang telah mendidik dan memfasilitasi
penulis dalam penyusun proposal ini.
4. Sri Maryani, SKM., [Link] Pembimbing Akademik yang telah memberi dukungan
serta nasehat sehingga penulis dapat mengikuti setiap perkuliahan dengan lancar.
5. Dr. Eviana Tampubolon selaku Pembimbing yang telah membimbing dengan sepenuh
hati sepenuh hati dan memberikan arahan serta motivasi kepada penulis untuk
menyelesaikan proposal ini.
6. Orang tua beserta keluarga yang menjadi sumber koping utama bagi penulis, yang
senantiasa memberikan motivasi, dukungan moral maupun material sehingga penulis
dapat menyelesaikan proposal ini.
7. Teman seperjuangan Aina, Alma, Astri, Firda, Isma, Khumai dan Tiara yang senantiasa
mendukung, memberi semangat dan menjadi tempat untuk meningkatkan mekanisme
koping yang sedang turun dalam penulisan proposal ini.
8. Keluarga besar 3 Reguler D yang menjadi partner perjuangan penulis dalam
menyelesaikan proposal ini.
9. Teman-teman seperjuangan satu kelompok Irza, Alma, Husnul, Okta yang telah memberi
dukungan dan masukan selama penyusunan proposal ini.
10. Semua pihak yang tidak dapat disebutkan satu persatu yang telah membantu dalam proses
penulisan proposal ini.
Penulis menyadari proposal ini masih jauh dari kesempurnaan, oleh karena itu penulis
mengharapkan kritik dan saran yang sifatnya membangun demi kesempurnaan proposal ini,
serta dapat memberikan manfaat bagi penulis maupun pembaca.
Penulis
DAFTAR ISI
COVER
KATA PENGANTAR
DAFTAR PUSTAKA
BAB I PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
B. Rumusan Masalah
C. Tujuan Penelitian
D. Manfaat Penelitian
E. Sistematika Penulisan
BAB II TINJAUAN PUSTAKA
BAB III METODOLOGI PENELITIAN
A. Desain Penelitian
B. Kerangka Teori
C. Kerangka Konsep Penelitian
D. Hipotesis
E. Definisi Operasional
F. Populasi dan Sampel
G. Instrumen Pengumpulan Data
H. Metode Pengumpulan Data
I. Pengolahan dan Analisa Data
J. Etika Penelitian
DAFTAR PUSTAKA
LAMPIRAN-LAMPIRAN
BAB I
PENDAHULUAN
A. LATAR BELAKANG
Gangguan jiwa yaitu suatu sindrom atau pola perilaku yang secara klinis
bermakna yang berhubungan dengan distres atau penderitaan dan menimbulkan
gangguan pada satu atau lebih fungsi kehidupan manusia. (Keliat, 2011 ). Fenomena
gangguan jiwa pada saat ini mengalami peningkatan yang sangat signifikan, dan setiap
tahun di berbagai belahan dunia jumlah penderita gangguan jiwa bertambah.
Berdasarkan data dari World Health Organisasi (WHO) dalam Yosep (2013) , ada
sekitar 450 juta orang di dunia yang mengalami gangguan jiwa. WHO menyatakan
setidaknya ada satu dari empat orang didunia mengalami masalah mental, dan masalah
gangguan kesehatan jiwa yang ada di seluruh dunia sudah menjadi masalah yang sangat
serius. Menurut World Health Organization (2017) pada umumnya gangguan mental
yang terjadi adalah gangguan kecemasan dan gangguan depresi. Diperkirakan 4,4% dari
populasi global menderita gangguan depresi, dan 3,6% dari gangguan kecemasan. Jumlah
penderita depresi meningkat lebih dari 18% antara tahun 2005 dan 2015. Depresi
merupakan penyebab terbesar kecacatan di seluruh dunia. Lebih dari 80% penyakit ini
dialami orang-orang yang tinggal di negara yang berpenghasilan rendah dan menengah
(WHO, 2017)
Di Indonesia prevalensi terkait gangguan kecemasan menurut hasil Riset
Kesehatan Dasar (Riskesdas) pada tahun 2013 menunjukkan bahwa sebesar 6% untuk
usia 15 tahun ke atas atau sekitar 14 juta penduduk di Indonesia mengalami gangguan
mental emosional yang ditunjukkan dengan gejala-gejala kecemasan dan depresi
(Depkes, 2014).
Penatalaksaan pasien dengan kecemasan sebagai manajemen emosional dengan
terapi spiritual bagian dari manajemen kecemasan secara non-farmakologi. Kebutuhan
spiritual merupakan kebutuhan dasar yang dibutuhkan oleh setiap manusia.
Pemenuhan kebutuhan spiritualitas adalah hal yang tidak bisa diabaikan. Kebutuhan
spiritualitas telah terbukti dapat memberikan kekuatan pada pasien saat menghadapi
penyakitnya (Hamid, A. Yani, 2014). Hal ini sejalan dengan penelitian (Izzat & Arif, 2011)
dimana pemenuhan spiritual dengan membaca ayat-ayat suci dapat mengurangi ketegangan dalam
susunan saraf secara spontan mengingat pada pasien gangguan jiwa mengalami gangguan
emosional sehingga diharapkan pasien bisa menjadi tenang.
Dr. Al Qadhi (Syakir, 2014), melalui penelitiannya yang panjang dan serius di
Klinik Besar Florida Amerika Serikat, berhasil membuktikan hanya dengan
mendengarkan bacaan ayat-ayat Alquran, seorang Muslim, baik mereka yang berbahasa
Arab maupun bukan, dapat merasakan perubahan fisiologis yang sangat besar.
Penurunan depresi, kesedihan, memperoleh ketenangan jiwa, menangkal berbagai
macam penyakit merupakan pengaruh umum yang dirasakan orang-orang yang menjadi
objek penelitiannya. Penemuan sang dokter ahli jiwa ini tidak serampangan.
Penelitiannya ditunjang dengan bantuan peralatan elektronik terbaru untuk
mendeteksi tekanan darah, detak jantung, ketahanan otot, dan ketahanan kulit terhadap
aliran listrik. Dari hasil uji cobanya ia berkesimpulan, bacaan Alquran berpengaruh besar
hingga 97% dalam melahirkan ketenangan jiwa dan penyembuhan penyakit.
Penelitian Dr. Al Qadhi ini diperkuat pula oleh penelitian lainnya yang dilakukan
oleh dokter yang berbeda. Dalam laporan sebuah penelitian yang disampaikan dalam
Konferensi Kedokteran Islam Amerika Utara pada tahun 1984, disebutkan, Al-Quran
terbukti mampu mendatangkan ketenangan sampai 97% bagi mereka yang
mendengarkannya. Kesimpulan hasil uji coba tersebut diperkuat lagi oleh penelitian
Muhammad Salim yang dipublikasikan Universitas Boston. Objek penelitiannya terhadap
5 orang sukarelawan yang terdiri dari 3 pria dan 2 wanita. Kelima orang tersebut sama
sekali tidak mengerti bahasa Arab dan mereka pun tidak diberi tahu bahwa yang akan
diperdengarkannya adalah Al-Qur'an.
Penelitian yang dilakukan sebanyak 210 kali ini terbagi dua sesi, yakni
membacakan Al-Qur'an dengan tartil dan membacakan bahasa Arab yang bukan dari Al-
Qur'an. Kesimpulannya, responden mendapatkan ketenangan sampai 65% ketika
mendengarkan bacaan Al-Qur'an dan mendapatkan ketenangan hanya 35% ketika
mendengarkan bahasa Arab yang bukan dari Al-Qur'an. Jika mendengarkan musik klasik
dapat memengaruhi kecerdasan intelektual (IQ) dan kecerdasan emosi (EQ) seseorang,
bacaan Al-Qur'an lebih dari itu. Selain memengaruhi IQ dan EQ, bacaan Al-Qur'an
memengaruhi kecerdasan spiritual (SQ). Hal ini sesuai dengan firman Allah, “Dan apabila
dibacakan Al Qur'an, maka dengarkanlah baik-baik, dan perhatikanlah dengan tenang agar kamu
mendapat rahmat. (QS. 7:204)”.
Berdasarkan data diatas penulis tertarik melakukan penelitian untuk mengetahui
efektivitas penerapan terapi spiritual dengan tujuan menurunkan emosional tingkat
kecemasan pada pasien gangguan jiwa ansietas.
B. RUMUSAN MASALAH
Berdasarkan latar belakang masalah diatas dapat dirumuskan masalah “Bagaimana
efektivitas penerapan terapi spiritual dengan penurunan kecemasan pada pasien
gangguan jiwa ansietas?”
C. TUJUAN PENULISAN
Adapun tujuan dari penulisan proposal ini adalah:
1. Tujuan Umum
Tujuan umum ini adalah untuk mengetahui efektivitas penerapan terapi spiritual
dengan penurunan kecemasan pada pasien gangguan jiwa.
2. Tujuan Khusus
a. Untuk mengetahui adanyapengaruh terapi spiritual dengan penurunan kecemasan
pada pasien gangguan jiwa ansietas.
b. Untuk mengetahui keefektifitasan penerapan terapi spiritual dengan penurunan
kecemasan pada pasien gangguan jiwa ansietas.
2. Bagi Peneliti
Hasil penelitian ini dapat membuktikan mengenai efektivitas penerapan terapi
spiritual dengan penurunan kecemasan pada pasien gangguan jiwa ansietas.
E. SISTEMATIKA PENULISAN
Pada proposal penelitian ini terdiri dari beberapa BAB, yaitu:
BAB I Pendahuluan yang terdiri dari latar belakang masalah, rumusan masalah, tujuan
penilitian, manfaat penilitian, dan sistematika penulisan. BAB II Tinjaun pustaka yang
berisi landasan-landasan teori penelitian. BA B III Metodologi penelitian terdiri dari
desain penilitian, kerangka teori, kerangka konsep penilitian, hipotesis, definisi
operasional, populasi dan sampel, instrument, pengumpulan data, metode pengumpulan
data, pengolahan dan analisis data, dan etika penulisan.
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
A. Kecemasan
1. Pengertian
Menurut Nanda (2012), kecemasan adalah perasaan tidak nyaman atau ketakutan
yang disertai oleh respon autonom (penyebab sering tidak spesifik atau tidak
diketahui pada setiap individu) perasaan cemas tersebut timbul akibat dari antisipasi
diri terhadap bahaya.
Kecemasan atau ansietas adalah suatu kondisi psikologis atau bentuk emosi individu
berupa ketegangan, kegelisahan, kekhawatiran yang berkenaan dengan perasaan
terancam serta ketakutan oleh ketidakpastian di masa mendatang bahwa sesuatu yang
buruk akan terjadi.
Kecemasan adalah reaksi yang dapat dialami siapapun. Kecemasan dengan intensitas
wajar dapat dianggap memiliki nilai positif sebagai motivasi, tetapi apabila
intensitasnya tinggi dan bersifat negatif dapat menimbulkan kerugian dan dapat
mengganggu keadaan fisik dan psikis individu yang bersangkutan.
2. Etiologi
Menurut Stuart (2007), kecemasan memiliki empat tingkatan, yaitu sebagai berikut:
1) Kecemasan Ringan
Berhubungan dengan ketegangan dalam kehidupan sehari-hari. Kekecewaan ini
menyebabkan individu menjadi waspada dan meningkatkan lapang persepsinya.
Kecemasan ini dapat memotivasi belajar dan menghasilkan pertumbuhan serta
kreatifitas.
2) Kecemasan Sedang
Memungkinkan individu untuk berfokus pada hal yang penting dan
mengesampingkan yang lain. Kecemasan ini mempersempit lapang persepsi
individu dengan demikian individu tidak mengalami perhatian yang selektif
namun dapat berfokus pada lebih banyak area jika diarahkan untuk
melakukannya.
3) Kecemasan Berat
Sangat mempengaruhi lapang persepsi individu. Individu cenderung berfokus
pada suatu yang rinci dan spesifik serta tidak berfikir pada hal lain. Semua
perilaku ditujukan untuk mengurangi ketegangan. Individu tersebut memerlukan
banyak arahan untuk berfokus pada area lain.
4) Kecemasan Panik
Ketakutan yang berhubungan dengan terperangah, takut, dan teror. Hal yang rinci
terhadap proporsinya karena mengalami hilang kendali, individu yang mengalami
panik tidak mampu melakukan sesuatu walaupun dengan arahan. Panik
merupakan disorganisasi dan menimbulkan peningkatan aktifitas motorik,
menurunnya kemampuan untuk berhubungan dengan orang lain, persepsi yang
menyimpan dan kehilangan pemikiran yang rasional, tingkat kecemasan ini tidak
sejalan dengan kehidupan, jika berlangsung terus dalam waktu yang lama, dapat
terjadi kelelahan dan kematian.
1) Respon Fisik : Sering menarik napas panjang dan bernapas pendek, nadi dan
tekanan darah naik, mulut kering, anoreksia, diare/konstipasi, gelisah,
berkeringat, tremor, sakit kepala, sulit tidur.
2) Respon Kognitif : Lapang persepsi sempit, tidak mamu menerima informasi dari
luar, berfokus pada apa yang menjadi perhatiannya.
3) Respon Perilaku dan Emosi : Gerakan meremas tangan, Bicara berlebihan dan
cepat, perasaan tidak aman dan menangis.
(Atun, 2018)
3) Teori behavior
yang diinginkan.
b. Faktor Presipitasi
Menurut Stuart & Laraia (2005) kategori faktor pencetus kecemasan dapat
dikelompokkan menjadi dua faktor:
1) Faktor eksternal:
a) Ancaman terhadap integritas fisik meliputi disabilitas fisiologis yang akan
terjadi atau penurunan kemampuan untuk melakukan aktivitas hidup
sehari-hari (penyakit, trauma fisik, pembedahan yang akan dilakukan).
b) Ancaman terhadap sistem diri dapat membahayakan identitas, harga diri,
dan fungsi sosial yang terintegrasi pada individu.
2) Faktor internal:
a) Usia, seseorang yang mempunyai usia lebih muda ternyata lebih mudah
mengalami gangguan akibat kecemasan daripada seseorang yang lebih tua
usianya.
b) Jenis kelamin, gangguan ini lebih sering dialami oleh wanita daripada
pria. Wanita memiliki tingkat kecemasan yang lebih tinggi dibandingkan
subjek berjenis kelamin laki-laki. Dikarenakan bahwa perempuan lebih
peka dengan emosinya, yang pada akhirnya peka juga terhadap perasaan
cemasnya.
c) Tingkat Pengetahuan, dengan pengetahuan yang dimiliki, seseorang akan
dapat menurunkan perasaan cemas yang dialami dalam mempersepsikan
suatu hal. Pengetahuan ini sendiri biasanya diperoleh dari informasi yang
didapat dan pengalaman yang pernah dilewati individu.
d) Tipe kepribadian, orang yang berkepribadian A lebih mudah mengalami
gangguan kecemasan daripada orang dengan kepribadian B. Adapun ciri-
ciri orang dengan kepribadian A adalah tidak sabar, kompetitif, ambisius,
dan ingin serba sempurna.
e) Lingkungan dan situasi, seseorang yang berada di lingkungan asing
ternyata lebih mudah mengalami kecemasan dibanding bila dia berada di
lingkungan yang biasa dia tempati
kecemasan adalah “fight” atau “flight”. Flight merupakan reaksi isotonik tubuh
sehingga tekanan darah meningkat baik sistolik maupun diastolik. Bila korteks
antara lain napas menjadi lebih dalam, nadi meningkat. Darah akan tercurah
terutama ke jantung, susunan saraf pusat dan otot. Dengan peningkatan
orang lain.
c. Respon Kognitif
d. Respon Afektif
Secara afektif klien akan mengekspresikan dalam bentuk kebingungan
0 10 20 30 40 50 60 70 80 90 100
8. Penatalaksanaan kecemasan
a. Penatalaksanaan Farmakologi
Pengobatan untuk anti kecemasan terutama benzodiazepine, obat
ini digunakan untuk jangka pendek, dan tidak dianjurkan untuk jangka
panjang karena pengobatan ini menyebabkan toleransi dan
ketergantungan. Obat anti kecemasan nonbenzodiazepine, seperti
buspiron (Buspar) dan berbagai antidepresan juga digunakan (Isaacs,
2005).
2) Relaksasi
Terapi relaksasi yang dilakukan dapat berupa relaksasi
B. Terapi Spiritual
1. Pengertian
Spiritualitas merupakan bentuk keyakinan dalam hubungan dengan Yang
Maha Kuasa, keyakinan spiritual akan menjadikan seseorang
mempertahankan keharmonisan, keselarasan dengan dunia luar. Keyakinan
spiritual dapat mempengaruhi tingkat kesehatan dan prilaku dalam perawatan
pasien. Terpenuhinya kebutuhan spiritual apabila seseorang tersebut mampu
mengembangkan rasa syukur, sabar serta ikhlas (Yusuf,A et al. 2016).
Sedangkan Therapy dalam bahasa Inggris bermakna pengobatan dan
penyembuhan dalam bahasa Arab Therapi sepada dengan ”al-istisya” yang
berasal dari kata “syafa-yasfi-syifa” yang artimya menyembuhkan. Dalam
buku Terapi Sufistik, terapi juga dapat diartikan sebagai upaya sistematis dan
terencan dalam menanggulangi masalah-masalah yang dihadapi oleh klien
dengan tujuan mengembalikan, memelihara, dan mengembangkan kondisi
klien agar akal dan hatinya berada dalam kondisi dan posisi yang
proporsional. (Solihin, 2004)
Berdasarkan uraian diatas maka terapi spitual adalah sebagai bentuk
upaya untuk mengatasi gangguan kejiwaan terutama untuk mengatasi
kecemasan dengan cara mengalihkan perhatian pada hal mendekatkan diri
pada Tuhan dan dengan keyakinan mengingatkan kita pada tujuan hidup
yang sejati sehingga akal dan hatinya berada dalam kondisi yang
proporsional dan dapat menurunkan hormon-hormon stressor, dan
mengaktifkan hormon endorfin alami. Salah satu terapi spiritual yang dapat
diberikan pada pasien gangguan jiwa ansietas adalah dengan terapi spiritual
murottal
Terapi Spiritual Murottal adalah terapi dengan menggunakan ayat-ayat
suci al-Qur’an sebagai media terapi. Al-Quran yang berarti bacaan
merupakan mu’jizat yang diturunkan oleh Allah SWT kepada Nabi
Muhammad SAW dan menjadi suatu ibadah jika membacanya. Seni baca Al-
Quran atau disebut dengan Tilawatil Quran ialah bacaan kitab suci Al-Quran
yang bertajwid diperindah oleh irama dan lagu. Orang yang membacanya
disebut qori’. Menurut Purna (2006), pengertian dari murottal merupakan
rekaman suara Al-Quran yang dilagukan oleh seorang qori’ (pembaca Al-
Quran).
2. Tujuan
Tujuan terapi murottal adalah untuk menurunkan hormon-hormon stres,
mengaktifkan hormon endorfin alami, meningkatkan perasaan rileks, dan
mengalihkan perhatian dari rasa takut, cemas dan tegang, memperbaiki
sistem kimia tubuh sehingga menurunkan tekanan darah serta memperlambat
pernafasan, detak jantung, denyut nadi, dan aktivitas gelombang otak
3. Manfaat
1. Mendengarkan bacaan ayat-ayat Al-Qur’an dengan tartil akan
mendapatkan ketenangan jiwa.
2. Lantunan Al-Qur’an secara fisik mengandung unsur suara manusia, suara
manusia merupakan instrumen penyembuhan yang menakjubkan dan alat
yang paling mudah dijangkau.
4. Prosedur
1. Persiapan
1) Persiapan Pasien
Identifikasi tingkat cemas
Kaji kesiapan pasien dan perasaan pasien
Siapkan ruagan yang sejuk, tidak gaduh dan alami
Siapkan tempat tidur atau kursi yang dapat menopang bahu pasen
Jelaskan kembali tujuan terapi dan prosedur yang akan dilakukan
2) Persiapan Alat
a. Earphone
b. MP3/Tablet berisikan murottal (Al-fatihah)
3) Persiapan Perawat
a. Menyiapkan alat dan mendekatkan ke arah pasien
b. Mencuci tangan
4) Persiapan Lingkungan
a. Menutup sampiran
b. Memastikan privaci pasien terjaga
A. DESAIN PENILITIAN
Desain penelitian ini menggunakan jenis penelitian eksperimental-kuasi (quasi-
experimental design) Pretest-Posttest Control Group Design. Rancangan Pretest-
Posttest Control Group Design digunakan untuk menguji efek suatu perlakuan
terhadap variabel dependen. Pengujian dilakukan dengan cara membandingkan
hasil pretes dan posttest variabel dependen pada kelompok eksperimen
(Shaughnessy, 2006). Pretest menginformasikan kemampuan awal (initial
position) para subjek sebelum dilakukan penelitian. Menurut Robinson (Seniati,
2011), konstansi terjadi karena skor variabel terikat adalah skor hasil posttest
dikurangkan dengan hasil pretest setiap [Link] skor yang diperoleh adalah
peningkatan atau penurunan variabel terikat akibat dilakukannya
[Link] skor post-test lebih besar dari pre-test, maka dapat
disimpulkan bahwa mendengarkan Murottal dapat menurunkan kecemasan.
B. KERANGKA TEORI
Faktor yang
mempengaruhi Ansietas
Faktor Predisposisi:
1. Usia
1. Teori Psikoanalitik : konflik 2. Jenis kelamin
2. Teori Interpersonal : Perasaan takut 3. Pendidikan
Pasien 4. Tingkat
3. Teori Behavior : Frustasi Gangguan Pengetahuan
4. Teori Perspektif Keluarga : Pola
Jiwa Ansietas 5. Tipe Kepribadian
6. Lingkungan dan
interaksi tidak adaptif dalam keluarga Situasi
5. Teori Perspektif Biologi : Reseptor
dalam otak
Faktor Presipitasi:
dalam otak
TERAPI
SPIRITUAL
Faktor Presipitasi:
D. HIPOTESIS
Ada pengaruh terapi spiritual denga penurunan tingkat kecemasan pada pasien
gangguan jiwa ansietas.
E. DEFINISI OPERASIONAL
Definisi
No. Variabel Instrument Hasil ukur Skala
Operasional Ukur
1. Umur Ulang tahun Kartu 1. ≤ 20 tahun Rasio
terakhir Identitas 2. 21-40 tahun
Penduduk 3. ≥40 tahun
(KTP)
2. Jenis kelamin Sesuai yang Kartu 1. Laki-laki Nominal
tertera pada kartu Identitas 2. Perempuan
identitas Penduduk
penduduk (ktp) (KTP)
3. Tingkat Perilaku yang Quisioner 1. Ringan Ordinal
kecemasan dilakukan 2. Sedang
seseorang pada 3. Berat
sekelilingnya 4. Panik
ketika cemas,
yang ditandai
dengan minat,
berkurang, sedih,
firasat buruk,
takut akan
pikiran sendiri,
mudah
tersinggung,
perasaan
berubah-berubah
sepanjang hari.
J. ETIKA PENELITIAN
Etika penelitian adalah suatupedoman etika yang berlaku untuk setiap kegiatan
penelitian yang melibatkan antara peneliti, pihak yang diteliti (subjek penelitian)
dan masyarakat yang akan memperoleh dampak hasil penelitian tersebut
(Notoatmodjo, 2010) meliputi:
1. Beneficience
Bebas dari bahaya penelitian harus dilaksanakan tanpa mengakibatkan
penderitaan kepada subjek, khususnya jika menggunakan tindakan khusus,
bebas dari eksplotasi, partisipasi subjek dalam penelitian harus dihindari dari
keadaan yang tidak menguntungkan. Subjek penelitian perlu diyakini bahwa
informasi yang diberikan kepada peneliti tidak akan digunakan untuk
melawan atau merugikan responden. Pasien diberikan penjelasan bahwa
prosedur terapi spiritual tidak membahayakan pasien.
2. Veracity
Memberikan informasi dengan jujur mengenai rencana studi kasus yaitu
penerapan prosedur terapi spiritual pada pasien gangguan kecemasan. Pasien
diberikan penjelasan sebelum dilakukan penelitian, yang apabila sudah
dimengerti ditindak lanjuti dengan penandatanganan diatas kertas.
3. Nonmaleficience
Menyampaikan kepada responden dan keluarga bahwa studi kasus ini tidak
menimbulkan dampak negative bagi responden.
4. Confidentiality
Selalu menjaga kerahasiaan mengenai identitas maupun informasi yang
diberikan kepada [Link] studi kasus ini penulis menerapkan etika
yang digunakan dalam penelitian yaitu memastikan responden terbebas dari
bahaya, menghargai martabat pasien dan berlaku adil antara responden dan
para [Link] dikumpul tentang diri subjek akan disimpan dan
terjaga kerahasiannya oleh peneliti.
5. Otonomi
Setiap responden berhak penuh untuk menyetujui atau menolak untuk
menjadi [Link] yang telah menyetujui dan bersedia menjadi
responden diikutsertakan dalam penelitian. Selain pasien, keluarga pasien
juga mendapat penjelasan tentang rencana dan tujuan penelitian dan
menandatangani informed consent. Bagi pasien yang tidak memiliki keluarga
maka informed consent diberikan dan ditanda tangani oleh kepala ruangan.
DAFTAR PUSTAKA
Atun, Sri. 2018. Modul Praktika Keperawatan Jiwa. Jakarta: Asosiasi Institusi
Pendidikan Vokasi Keperawatan Indonesia (APViKI).
Keliat, B.A, Dkk. 2011. Keperawatan Kesehatan Jiwa Komunitas : CMHN (Basic
Cource). Jakarta: EGC
Stuart, Gail W.2007. Buku Saku Keperawatan Kesehatan Jiwa. Jakarta: EGC
Stuart & Laraia. 2005. Buku Saku Keperawatan Jiwa. Jakarta: EGC
Hawari, Dadang. 2008. Menajemen Stres Cemas Dan Depresi. Jakarta: Fakultas
Kedokteran Universitas Indonesia
World Health Organization. Depression and other common mental disorders: global
health estimates. Switzerland: World Health Organization. 2017.
[Link]
[Link] . Diakses pada 4 Februari 2017
Ann Isaacs, 2005. Keperawatan Kesehatan Jiwa Psikiatri. Edisi 3. Jakarta : EGC
Potter & Perry. (2005). Buku Ajar Fundamental Keperawatan Konsep, Proses, dan
Praktik. Edisi 4 volume 1. Jakarta: EGC
[Link]