0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
23 tayangan35 halaman

Terapi Spiritual Turunkan Kecemasan Pasien

Proposal ini membahas efektivitas penerapan terapi spiritual untuk menurunkan kecemasan pada pasien gangguan jiwa ansietas. Latar belakang masalah adalah tingginya prevalensi gangguan kecemasan di Indonesia dan terapi spiritual dapat menenangkan pasien. Tujuan penelitian ini adalah mengetahui pengaruh terapi spiritual terhadap penurunan kecemasan pasien gangguan jiwa ansietas. Hasil penelitian diharapkan dapat menambah penget

Diunggah oleh

siti nurfadhilah
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd
0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
23 tayangan35 halaman

Terapi Spiritual Turunkan Kecemasan Pasien

Proposal ini membahas efektivitas penerapan terapi spiritual untuk menurunkan kecemasan pada pasien gangguan jiwa ansietas. Latar belakang masalah adalah tingginya prevalensi gangguan kecemasan di Indonesia dan terapi spiritual dapat menenangkan pasien. Tujuan penelitian ini adalah mengetahui pengaruh terapi spiritual terhadap penurunan kecemasan pasien gangguan jiwa ansietas. Hasil penelitian diharapkan dapat menambah penget

Diunggah oleh

siti nurfadhilah
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd

Visi:

Pada tahun 2025 menghasilkan Ahli Madya Keperawatan yang unggul dalam penguasaan
asuhan keperawatan dengan masalah neurosain melalui pendekatan ilmu pengetahuan dan
teknologi keperawatan

EFEKTIVITAS PENERAPAN TERAPI SPIRITUAL DENGAN


PENURUNAN KECEMASAN PADA PASIEN GANGGUAN JIWA
ANSIETAS

PROPOSAL RISET KEPERAWATAN

Oleh:

DESY PUSPITASARI
P3.[Link].125

POLITEKNIK KESEHATAN KEMENKES JAKARTA III


JURUSAN KEPERAWATAN
PROGRAM STUDI D III KEPERAWATAN
TAHUN 2020
EFEKTIVITAS PENERAPAN TERAPI SPIRITUAL DENGAN
PENURUNAN KECEMASAN PADA PASIEN GANGGUAN JIWA
ANSIETAS

PROPOSAL PENELITIAN
Disusun dalam rangka Tugas Praktikum Pengantar Riset Keperawatan pada
Program Studi DIII Keperawatan
Jurusan keperawatan Politeknik Kesehatan Kemenkes Jakarta III
Tahun Akademik 2020

OLEH:

DESY PUSPITASARI
P3.[Link].125

POLITEKNIK KESEHATAN KEMENKES JAKARTA III


JURUSAN KEPERAWATAN
PROGRAM STUDI DIII KEPERAWATAN
TAHUN 2020
PERNYATAAN PERSETUJUAN

Proposal Penelitian dengan judul:

“Efektivitas Penerapan Terapi Spiritual Dengan Penurunan Kecemasan Pada Pasien Gangguan
JIiwa Ansietas”

Oleh : Desy Puspitasari

NIM : P3.[Link].125
Telah diperiksa dan disetujui serta layak untuk dipertahankan di hadapan Tim Penguji Sidang
Ujian Proposal Program Studi DIII Keperawatan Jurusan Keperawatan Politeknik Kesehatan
Kemenkes Jakarta III.

Bekasi, Januari 2020

Pembimbing Pendamping Pembimbing Utama

Dosen Dosen

NIP NIP

SURAT PERNYATAAN
Saya yang bertanda tangan dibawah ini:

Oleh : Desy Puspitasari

NIM : P3.[Link].125

Menyatakan dengan sesungguhnya bahwa proposal yang berjudul “Efektivitas Penerapan Terapi
Spiritual Dengan Penurunan Kecemasan Pada Pasien Gangguan JIiwa Ansietas” adalah hasil
karya saya sendiri dan bukan merupakan jiplakan. Apabila ternyata di kemudian hari terbukti
melakukan kegiatan plagiat, maka saya bersedia sanksi yang telah ditetapkan
Demikian surat pernyataan ini saya buat dengan sebenar-benarnya.

Bekasi, Januari 2020

Yang membuat pernyataan

(Desy Puspitasari)

LEMBAR PENGESAHAN

Proposal Penelitian dengan judul:


“Efektivitas Penerapan Terapi Spiritual Dengan Penurunan Kecemasan Pada Pasien Gangguan
Jiwa Ansietas”
Oleh : Desy Puspitasari

NIM : P3.[Link].125
Telah diujikan dihadapan Tim Penguji Sidang Ujian Proposal Program Studi DIII Keperawatan
Jurusan Keperawatan Politeknik Kesehatan Kemenkes Jakarta III di Bekasi pada Januari 2020.

Ketua Penguji Penguji Anggota

Dosen Dosen
NIP NIP

Mengetahui,

Ketua Program Studi DIII Keperawatan

Santun Setiawati, [Link].,[Link]

NIP: 197512232002122001
Menyetujui,

Ketua Jurusan Keperawatan


[Link] Desmarnita, [Link].,[Link].,[Link]
KATA PENGANTAR

Puji Syukur Kehadirat Allah Swt atas nikmat dan karunianya penulis dapat menyelesaikan
proposal dengan jurnal “Efektivitas Penerapan Terapi Spiritual Dengan Penurunan Kecemasan
Pada Pasien Gangguan JIiwa Ansietas”.

Proposal ini disusun guna memenuhi salah satu persyaratan dalam menyelesaikan praktikum
pengantar riset keperawatan pada Program Studi Diploma III DI Program Studi Keperawatan
Politeknik Kesehatan Kemenkes Jakarta III.

Dalam penyusunan proposal ini, penulis banyak mengalami hambatan dan kesulitan, namun
berkat dukungan, bantuan, bimbingan dan pengarahan dari berbagai pihak akhirnya penulis dapat
menyelesaikan proposal ini. Untuk itu pada kesempatan ini penulis akan mengucapkan
terimakasih kepada:

1. Yupi Supartini, SKp, MSc selaku Direktur Politeknik Kesehatan Kementrian Kesehatan
Jakarta III.
2. [Link] Desmarnita, [Link].,[Link].,[Link] selaku Ketua Jurusan Keperawatan Politeknik
Kesehatan Kementrian Kesehatan Jakarta III.
3. Santun Setiawati, [Link]., Ns. Sp. Kep. An selaku Ketua Program Studi DIII
Keperawatan beserta seluruh dosen dan staf yang telah mendidik dan memfasilitasi
penulis dalam penyusun proposal ini.
4. Sri Maryani, SKM., [Link] Pembimbing Akademik yang telah memberi dukungan
serta nasehat sehingga penulis dapat mengikuti setiap perkuliahan dengan lancar.
5. Dr. Eviana Tampubolon selaku Pembimbing yang telah membimbing dengan sepenuh
hati sepenuh hati dan memberikan arahan serta motivasi kepada penulis untuk
menyelesaikan proposal ini.
6. Orang tua beserta keluarga yang menjadi sumber koping utama bagi penulis, yang
senantiasa memberikan motivasi, dukungan moral maupun material sehingga penulis
dapat menyelesaikan proposal ini.
7. Teman seperjuangan Aina, Alma, Astri, Firda, Isma, Khumai dan Tiara yang senantiasa
mendukung, memberi semangat dan menjadi tempat untuk meningkatkan mekanisme
koping yang sedang turun dalam penulisan proposal ini.
8. Keluarga besar 3 Reguler D yang menjadi partner perjuangan penulis dalam
menyelesaikan proposal ini.
9. Teman-teman seperjuangan satu kelompok Irza, Alma, Husnul, Okta yang telah memberi
dukungan dan masukan selama penyusunan proposal ini.
10. Semua pihak yang tidak dapat disebutkan satu persatu yang telah membantu dalam proses
penulisan proposal ini.

Penulis menyadari proposal ini masih jauh dari kesempurnaan, oleh karena itu penulis
mengharapkan kritik dan saran yang sifatnya membangun demi kesempurnaan proposal ini,
serta dapat memberikan manfaat bagi penulis maupun pembaca.

Bekasi, Januari 2020

Penulis
DAFTAR ISI

COVER
KATA PENGANTAR
DAFTAR PUSTAKA
BAB I PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
B. Rumusan Masalah
C. Tujuan Penelitian
D. Manfaat Penelitian
E. Sistematika Penulisan
BAB II TINJAUAN PUSTAKA
BAB III METODOLOGI PENELITIAN
A. Desain Penelitian
B. Kerangka Teori
C. Kerangka Konsep Penelitian
D. Hipotesis
E. Definisi Operasional
F. Populasi dan Sampel
G. Instrumen Pengumpulan Data
H. Metode Pengumpulan Data
I. Pengolahan dan Analisa Data
J. Etika Penelitian
DAFTAR PUSTAKA
LAMPIRAN-LAMPIRAN
BAB I
PENDAHULUAN

A. LATAR BELAKANG
Gangguan jiwa yaitu suatu sindrom atau pola perilaku yang secara klinis
bermakna yang berhubungan dengan distres atau penderitaan dan menimbulkan
gangguan pada satu atau lebih fungsi kehidupan manusia. (Keliat, 2011 ). Fenomena
gangguan jiwa pada saat ini mengalami peningkatan yang sangat signifikan, dan setiap
tahun di berbagai belahan dunia jumlah penderita gangguan jiwa bertambah.
Berdasarkan data dari World Health Organisasi (WHO) dalam Yosep (2013) , ada
sekitar 450 juta orang di dunia yang mengalami gangguan jiwa. WHO menyatakan
setidaknya ada satu dari empat orang didunia mengalami masalah mental, dan masalah
gangguan kesehatan jiwa yang ada di seluruh dunia sudah menjadi masalah yang sangat
serius. Menurut World Health Organization (2017) pada umumnya gangguan mental
yang terjadi adalah gangguan kecemasan dan gangguan depresi. Diperkirakan 4,4% dari
populasi global menderita gangguan depresi, dan 3,6% dari gangguan kecemasan. Jumlah
penderita depresi meningkat lebih dari 18% antara tahun 2005 dan 2015. Depresi
merupakan penyebab terbesar kecacatan di seluruh dunia. Lebih dari 80% penyakit ini
dialami orang-orang yang tinggal di negara yang berpenghasilan rendah dan menengah
(WHO, 2017)
Di Indonesia prevalensi terkait gangguan kecemasan menurut hasil Riset
Kesehatan Dasar (Riskesdas) pada tahun 2013 menunjukkan bahwa sebesar 6% untuk
usia 15 tahun ke atas atau sekitar 14 juta penduduk di Indonesia mengalami gangguan
mental emosional yang ditunjukkan dengan gejala-gejala kecemasan dan depresi
(Depkes, 2014).
Penatalaksaan pasien dengan kecemasan sebagai manajemen emosional dengan
terapi spiritual bagian dari manajemen kecemasan secara non-farmakologi. Kebutuhan
spiritual merupakan kebutuhan dasar yang dibutuhkan oleh setiap manusia.
Pemenuhan kebutuhan spiritualitas adalah hal yang tidak bisa diabaikan. Kebutuhan
spiritualitas telah terbukti dapat memberikan kekuatan pada pasien saat menghadapi
penyakitnya (Hamid, A. Yani, 2014). Hal ini sejalan dengan penelitian (Izzat & Arif, 2011)
dimana pemenuhan spiritual dengan membaca ayat-ayat suci dapat mengurangi ketegangan dalam
susunan saraf secara spontan mengingat pada pasien gangguan jiwa mengalami gangguan
emosional sehingga diharapkan pasien bisa menjadi tenang.
Dr. Al Qadhi (Syakir, 2014), melalui penelitiannya yang panjang dan serius di
Klinik Besar Florida Amerika Serikat, berhasil membuktikan hanya dengan
mendengarkan bacaan ayat-ayat Alquran, seorang Muslim, baik mereka yang berbahasa
Arab maupun bukan, dapat merasakan perubahan fisiologis yang sangat besar.
Penurunan depresi, kesedihan, memperoleh ketenangan jiwa, menangkal berbagai
macam penyakit merupakan pengaruh umum yang dirasakan orang-orang yang menjadi
objek penelitiannya. Penemuan sang dokter ahli jiwa ini tidak serampangan.
Penelitiannya ditunjang dengan bantuan peralatan elektronik terbaru untuk
mendeteksi tekanan darah, detak jantung, ketahanan otot, dan ketahanan kulit terhadap
aliran listrik. Dari hasil uji cobanya ia berkesimpulan, bacaan Alquran berpengaruh besar
hingga 97% dalam melahirkan ketenangan jiwa dan penyembuhan penyakit.
Penelitian Dr. Al Qadhi ini diperkuat pula oleh penelitian lainnya yang dilakukan
oleh dokter yang berbeda. Dalam laporan sebuah penelitian yang disampaikan dalam
Konferensi Kedokteran Islam Amerika Utara pada tahun 1984, disebutkan, Al-Quran
terbukti mampu mendatangkan ketenangan sampai 97% bagi mereka yang
mendengarkannya. Kesimpulan hasil uji coba tersebut diperkuat lagi oleh penelitian
Muhammad Salim yang dipublikasikan Universitas Boston. Objek penelitiannya terhadap
5 orang sukarelawan yang terdiri dari 3 pria dan 2 wanita. Kelima orang tersebut sama
sekali tidak mengerti bahasa Arab dan mereka pun tidak diberi tahu bahwa yang akan
diperdengarkannya adalah Al-Qur'an.
Penelitian yang dilakukan sebanyak 210 kali ini terbagi dua sesi, yakni
membacakan Al-Qur'an dengan tartil dan membacakan bahasa Arab yang bukan dari Al-
Qur'an. Kesimpulannya, responden mendapatkan ketenangan sampai 65% ketika
mendengarkan bacaan Al-Qur'an dan mendapatkan ketenangan hanya 35% ketika
mendengarkan bahasa Arab yang bukan dari Al-Qur'an. Jika mendengarkan musik klasik
dapat memengaruhi kecerdasan intelektual (IQ) dan kecerdasan emosi (EQ) seseorang,
bacaan Al-Qur'an lebih dari itu. Selain memengaruhi IQ dan EQ, bacaan Al-Qur'an
memengaruhi kecerdasan spiritual (SQ). Hal ini sesuai dengan firman Allah, “Dan apabila
dibacakan Al Qur'an, maka dengarkanlah baik-baik, dan perhatikanlah dengan tenang agar kamu
mendapat rahmat. (QS. 7:204)”.
Berdasarkan data diatas penulis tertarik melakukan penelitian untuk mengetahui
efektivitas penerapan terapi spiritual dengan tujuan menurunkan emosional tingkat
kecemasan pada pasien gangguan jiwa ansietas.

B. RUMUSAN MASALAH
Berdasarkan latar belakang masalah diatas dapat dirumuskan masalah “Bagaimana
efektivitas penerapan terapi spiritual dengan penurunan kecemasan pada pasien
gangguan jiwa ansietas?”

C. TUJUAN PENULISAN
Adapun tujuan dari penulisan proposal ini adalah:
1. Tujuan Umum
Tujuan umum ini adalah untuk mengetahui efektivitas penerapan terapi spiritual
dengan penurunan kecemasan pada pasien gangguan jiwa.
2. Tujuan Khusus
a. Untuk mengetahui adanyapengaruh terapi spiritual dengan penurunan kecemasan
pada pasien gangguan jiwa ansietas.
b. Untuk mengetahui keefektifitasan penerapan terapi spiritual dengan penurunan
kecemasan pada pasien gangguan jiwa ansietas.

D. MANFAAT PROPOSAL PENELITIAN


1. Bagi Pasien
Memberikan sumber referensi untuk melakukan terapi spiritual pada pasien dengan
gangguan jiwa ansietas sebagai perawatan lanjutan yang dapat dilakukan secara
mandiri baik dirumah sakit ataupun setelah pasien kembali kerumah.

2. Bagi Peneliti
Hasil penelitian ini dapat membuktikan mengenai efektivitas penerapan terapi
spiritual dengan penurunan kecemasan pada pasien gangguan jiwa ansietas.

3. Bagi Pegembangan Ilmu dan Teknologi Keperawatan


Dapat memberikan masukan untuk menambah wawasan dalam memberikan terapi
spiritual dengan penurunan kecemasan pada pasien gangguan jiwa ansietas.

E. SISTEMATIKA PENULISAN
Pada proposal penelitian ini terdiri dari beberapa BAB, yaitu:
BAB I Pendahuluan yang terdiri dari latar belakang masalah, rumusan masalah, tujuan
penilitian, manfaat penilitian, dan sistematika penulisan. BAB II Tinjaun pustaka yang
berisi landasan-landasan teori penelitian. BA B III Metodologi penelitian terdiri dari
desain penilitian, kerangka teori, kerangka konsep penilitian, hipotesis, definisi
operasional, populasi dan sampel, instrument, pengumpulan data, metode pengumpulan
data, pengolahan dan analisis data, dan etika penulisan.
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

A. Kecemasan
1. Pengertian
Menurut Nanda (2012), kecemasan adalah perasaan tidak nyaman atau ketakutan
yang disertai oleh respon autonom (penyebab sering tidak spesifik atau tidak
diketahui pada setiap individu) perasaan cemas tersebut timbul akibat dari antisipasi
diri terhadap bahaya.
Kecemasan atau ansietas adalah suatu kondisi psikologis atau bentuk emosi individu
berupa ketegangan, kegelisahan, kekhawatiran yang berkenaan dengan perasaan
terancam serta ketakutan oleh ketidakpastian di masa mendatang bahwa sesuatu yang
buruk akan terjadi.
Kecemasan adalah reaksi yang dapat dialami siapapun. Kecemasan dengan intensitas
wajar dapat dianggap memiliki nilai positif sebagai motivasi, tetapi apabila
intensitasnya tinggi dan bersifat negatif dapat menimbulkan kerugian dan dapat
mengganggu keadaan fisik dan psikis individu yang bersangkutan.

2. Etiologi

1) Teori Biologis/genetik. Komponen dari ansietas yang dapat diturunkan karena


frekuensi timbulnya ansietas umum dan gangguan obsesif-kompulsif cenderung
timbul diantara anggota keluarga (Golman dalam Baradero, 2015)
2) Teori Neurologis. Gamma-amino butyric acid (GABA) adalah suatu inhibitor
neurotransmitter yang berfungsi sebagai anti-ansietas dengan mengurangi
rangsangan sel-sel tubuh. Oleh karena GABA dapat mengurangi ansietas
sedangkan norepinefrin membuat ansietas meningkat maka para peneliti percaya
bahwa masalah dalam pengaturan kedua neurotransmitter ini timbul pada
gangguan ansietas.
3) Teori Psikodinamik
a. Teori intrapsikis atau psikoanalitik. Freud (1936) dalam Baradero (2015)
melihat ansietas sebagai suatu stimulus untuk bertindak. Freud
menerangkan mekanisme pertahanan sebagai suatu stimulus untuk
mengendalikan kesadaran dan mengurangi ansietas. Oleh karena
mekanisme pertahan timbul dari alam tidak sadar maka orangnya tidak
sadar bahwa dia memakai mekanisme pertahanan. Beberapa kerugian
yang dapat dialami dengan mekanisme pertahanan :
- Orang tidak mau lagi berusah untuk mencari alternative yang efektif
untuk menyelesaikan masalah
- Menghambat pematangan dan perkembangan emosional
- Menghambat keterampilan memakai pemecahan masalah
- Menghambat relasi yang matang dan memuaskan.
b. Teori interpersonal. Harry Sullivan (1952) melihat ansietas sebagai
akibat dari hubugan interpersonal yang bermasalah. Pada orang dewasa
ansietas dapat timbul dari keinginan orang untuk menyesuaikan pada
aturan, norma yang berlaku dalam masyarakat disekitarnya.
([Link], 2015)

3. Rentang Respon Cemas


Cemas sangat berkaitan dengan perasaan tidak pasti dan tidak berdaya. Keadaan emosi
ini tidak memiliki objek yang spesifik. Kondisi dialami secara subjektif dan
dikomunikasikan dalam hubungan interpersonal. Cemas berbeda dengan rasa takut, yang
merupakan penilaian intelektual terhadap sesuatu yang berbahaya. Kapasitas menjadi
cemas diperlukan untuk bertahan hidup, tetapi tingkat cemas yang parah tidak sejalan
dengan kehidupan. Rentang respon kecemasan menggambarkan suatu derajat perjalanan
cemas yang dialami individu (dapat dilihat dalam gambar 2.1)

RENTANG RESPON KECEMASAN

Respon Adaptif Respon Maladaptif

Antisipasi Ringan Sedang Berat Panik


Gambar 1.1 Rentang respon kecemasan (Stuart, 2007).

Menurut Stuart (2007), kecemasan memiliki empat tingkatan, yaitu sebagai berikut:
1) Kecemasan Ringan
Berhubungan dengan ketegangan dalam kehidupan sehari-hari. Kekecewaan ini
menyebabkan individu menjadi waspada dan meningkatkan lapang persepsinya.
Kecemasan ini dapat memotivasi belajar dan menghasilkan pertumbuhan serta
kreatifitas.
2) Kecemasan Sedang
Memungkinkan individu untuk berfokus pada hal yang penting dan
mengesampingkan yang lain. Kecemasan ini mempersempit lapang persepsi
individu dengan demikian individu tidak mengalami perhatian yang selektif
namun dapat berfokus pada lebih banyak area jika diarahkan untuk
melakukannya.
3) Kecemasan Berat
Sangat mempengaruhi lapang persepsi individu. Individu cenderung berfokus
pada suatu yang rinci dan spesifik serta tidak berfikir pada hal lain. Semua
perilaku ditujukan untuk mengurangi ketegangan. Individu tersebut memerlukan
banyak arahan untuk berfokus pada area lain.
4) Kecemasan Panik
Ketakutan yang berhubungan dengan terperangah, takut, dan teror. Hal yang rinci
terhadap proporsinya karena mengalami hilang kendali, individu yang mengalami
panik tidak mampu melakukan sesuatu walaupun dengan arahan. Panik
merupakan disorganisasi dan menimbulkan peningkatan aktifitas motorik,
menurunnya kemampuan untuk berhubungan dengan orang lain, persepsi yang
menyimpan dan kehilangan pemikiran yang rasional, tingkat kecemasan ini tidak
sejalan dengan kehidupan, jika berlangsung terus dalam waktu yang lama, dapat
terjadi kelelahan dan kematian.

4. Tanda dan Gejala

1) Respon Fisik : Sering menarik napas panjang dan bernapas pendek, nadi dan
tekanan darah naik, mulut kering, anoreksia, diare/konstipasi, gelisah,
berkeringat, tremor, sakit kepala, sulit tidur.
2) Respon Kognitif : Lapang persepsi sempit, tidak mamu menerima informasi dari
luar, berfokus pada apa yang menjadi perhatiannya.
3) Respon Perilaku dan Emosi : Gerakan meremas tangan, Bicara berlebihan dan
cepat, perasaan tidak aman dan menangis.
(Atun, 2018)

5. Proses Terjadinya Perilaku Kekerasan


Prsoses terjadinya kecemasan pada pasien akan dijelaskan dengan menggunakan
konsep yang meliputi faktor predisposisi dan presipitasi.
a. Faktor Predisposisi
Beberapa faktor yang dapat mempengaruhi terjadinya kecemasan (Stuart, 2007).
Ada beberapa teori yang telah dikembangkan untuk menjelaskan faktor-faktor yang
mempengaruhi kecemasan, diantaranya faktor predisposisi dan presipitasi :
1) Teori psikoanalitik
Menurut teori psikoanalitik Sigmund Freud, kecemasan timbul karena
konflik antara elemen kepribadian yaitu id(insting) dan super ego
(nurani). Id mewakili dorongan insting dan impuls primitif seseorang
sedang superego mencerminkan hati nurani seseorang dan dikendalikan
norma budayanya. Ego berfungsi menengahi tuntutan dari dua elememen
yang bertentangan dan fungsi kecemasan adalah mengingatkan ego bahwa
ada bahaya.
2) Teori interpersonal
Menurut teori ini kecemasan timbul dari perasan takut terhadap
tidak adanya penerimaan dan penolakan interpersonal. Kecemasan
Juga berhubungan dengan perpisahan dan kehilangan yang
menimbulkan kelemahan spesifik.

3) Teori behavior

Kecemasan merupakan produk frustrasi yaitu segala sesuatu

yang mengganggu kemampuan seseorang untuk mencapai tujuan

yang diinginkan.

4) Teori perspektif keluarga


Kecemasan dapat timbul karena pola interaksi yang tidak adaptif dalam
keluarga.

5) Teori perspektif biologi


Fungsi biologis menunjukkan bahwa otak mengandung reseptor khusus
Benzodiapine. Reseptor ini mungkin membantu mengatur kecemasan.
Penghambat asam amino butirik-gamma neuro regulator (GABA) juga
mungkin memainkan peran utama dalam mekanisme biologis berhubungan
dengan kecemasan sebagaimana endomorfin. Selain itu telah dibuktikan
bahwa kesehatan umum seseorang mempunyai akibat nyata sebagai
predisposisi terhadap kecemasan. Kecemasan dapat disertai gangguan fisik
dan menurunkan kapasitas seseorang untuk mengatasi stressor.

b. Faktor Presipitasi
Menurut Stuart & Laraia (2005) kategori faktor pencetus kecemasan dapat
dikelompokkan menjadi dua faktor:
1) Faktor eksternal:
a) Ancaman terhadap integritas fisik meliputi disabilitas fisiologis yang akan
terjadi atau penurunan kemampuan untuk melakukan aktivitas hidup
sehari-hari (penyakit, trauma fisik, pembedahan yang akan dilakukan).
b) Ancaman terhadap sistem diri dapat membahayakan identitas, harga diri,
dan fungsi sosial yang terintegrasi pada individu.
2) Faktor internal:
a) Usia, seseorang yang mempunyai usia lebih muda ternyata lebih mudah
mengalami gangguan akibat kecemasan daripada seseorang yang lebih tua
usianya.
b) Jenis kelamin, gangguan ini lebih sering dialami oleh wanita daripada
pria. Wanita memiliki tingkat kecemasan yang lebih tinggi dibandingkan
subjek berjenis kelamin laki-laki. Dikarenakan bahwa perempuan lebih
peka dengan emosinya, yang pada akhirnya peka juga terhadap perasaan
cemasnya.
c) Tingkat Pengetahuan, dengan pengetahuan yang dimiliki, seseorang akan
dapat menurunkan perasaan cemas yang dialami dalam mempersepsikan
suatu hal. Pengetahuan ini sendiri biasanya diperoleh dari informasi yang
didapat dan pengalaman yang pernah dilewati individu.
d) Tipe kepribadian, orang yang berkepribadian A lebih mudah mengalami
gangguan kecemasan daripada orang dengan kepribadian B. Adapun ciri-
ciri orang dengan kepribadian A adalah tidak sabar, kompetitif, ambisius,
dan ingin serba sempurna.
e) Lingkungan dan situasi, seseorang yang berada di lingkungan asing
ternyata lebih mudah mengalami kecemasan dibanding bila dia berada di
lingkungan yang biasa dia tempati

6. Respons Terhadap Kecemasan


Kecemasan dapat mempengaruhi kondisi tubuh seseorang, respon

kecemasan menurut Suliswati (2005) antara lain:

a. Respon Fisiologis terhadap Kecemasan

Secara fisiologis respon tubuh terhadap kecemasan adalah dengan

mengaktifkan sistem saraf otonom (simpatis maupun parasimpatis). Sistem

saraf simpatis akan mengaktivasi proses tubuh, sedangkan sistem saraf

parasimpatis akan meminimalkan respon tubuh. Reaksi tubuh terhadap

kecemasan adalah “fight” atau “flight”. Flight merupakan reaksi isotonik tubuh

untuk melarikan diri, dimana terjadi peningkatan sekresi adrenalin ke dalam

sirkulasi darah yang akan menyebabkan meningkatnya denyut jantung dan

tekanan darah sistolik, sedangkan fight merupakan reaksi agresif untuk

menyerang yang akan menyebabkan sekresi noradrenalin, rennin angiotensin

sehingga tekanan darah meningkat baik sistolik maupun diastolik. Bila korteks

otak menerima rangsang akan dikirim melalui saraf simpatis ke kelenjar

adrenal yang akan melepaskan adrenalin atau epinefrin sehingga efeknya

antara lain napas menjadi lebih dalam, nadi meningkat. Darah akan tercurah
terutama ke jantung, susunan saraf pusat dan otot. Dengan peningkatan

glikogenolisis maka gula darah akan meningkat.

b. Respon Psikologis terhadap Kecemasan


Kecemasan dapat mempengaruhi aspek interpersonal maupun personal.

Kecemasan tinggi akan mempengaruhi koordinasi dan gerak refleks. Kesulitan

mendengarkan akan mengganggu hubungan dengan orang lain. Kecemasan

dapat membuat individu menarik diri dan menurunkan keterlibatan dengan

orang lain.

c. Respon Kognitif

Kecemasan dapat mempengaruhi kemampuan berpikir baik proses pikir

maupun isi pikir, diantaranya adalah tidak mampu memperhatikan, konsentrasi

menurun, mudah lupa, menurunnya lapang persepsi, dan bingung.

d. Respon Afektif
Secara afektif klien akan mengekspresikan dalam bentuk kebingungan

dan curiga berlebihan sebagai reaksi emosi terhadap kecemasan


.

7. Alat Ukur kecemasan


Untuk mengetahui sejauh mana derajat kecemasan seseorang apakah ringan,
sedang, berat atau panik dapat menggunakan beberapa alat ukur (instrumen),
yaitu:

a. Alat ukur kecemasan yang dikutip dari Hawari (2008) menggunakan


HRS-A (Hamilton Rating Scale for Anxiety), yang terdiri atas 14
komponen gejala, yaitu:

1) Perasaan cemas (ansietas), meliputi: cemas, firasat buruk, takut akan


pikiran sendiri, mudah tersinggung
2) Ketegangan, meliputi: merasa tegang, lesu, tidak bisa istirahat tenang,
mudah terkejut, mudah menangis, gemetar, gelisah
3) Ketakutan, meliputi: pada gelap, pada orang asing, ditinggal sendiri,
pada binatang besar, pada keramaian lalu lintas, pada kerumunan orang
banyak
4) Gangguan tidur, meliputi: sukar masuk tidur, terbangun malam hari,
tidur tidak nyenyak, bangun dengan lesu, banyak mimpi-mimpi, mimpi
buruk, mimpi menakutkan
5) Gangguan kecerdasan, meliputi: sukar konsentrasi, daya ingat menurun,
daya ingat buruk
6) Perasaan depresi (murung), meliputi: hilangnya minat, berkurangnya
kesenangan pada hobi, sedih, bangun dini hari, perasaan berubah-
berubah sepanjang hari
7) Gejala somatik/fisik (otot), meliputi: sakit dan nyeri otot-otot, kaku,
kedutan otot, gigi gemerutuk, suara tidak stabil.
8) Gejala somatik/fisik (sensorik), meliputi: tinnitus (telinga berdenging),
penglihatan kabur, muka merah atau pucat, merasa lemas, perasaan
ditusuk-tusuk.
9) Gejala kardiovaskuler (jantung dan pembuluh darah), meliputi,
takikardia, berdebar-debar, nyeri di dada, denyut nadi mengeras, rasa
lemas seperti mau pingsan, detak jantung berhenti sekejap
10) Gejala respiratori (pernafasan), meliputi: rasa tertekan atau sempit
di dada, rasa tercekik, sering menarik nafas, nafas pendek/sesak
11) Gejala gastrointestinal (pencernaan), meliputi: sulit menelan, perut
melilit, gangguan pencernaan, nyeri sebelum dan sesudah makan,
perasaan terbakar di perut, rasa penuh atau kembung, mual, muntah,
buang air besar lembek, konstipasi, kehilangan berat badan
12) Gejala urogenital (perkemihan dan kelamin), meliputi: sering
buang air kecil, tidak dapat menahan air kencing, tidak datang bulan,
darah haid amat sedikit, masa haid berkepanjangan, masa haid amat
pendek, haid beberapa kali dalam sebulan, menjadi dingin, ejakulasi
dini, ereksi ilmiah, ereksi hilang, impotensi
13) Gejala autonom, meliputi: mulut kering, muka merah, mudah
berkeringat, kepala pusing, kepala terasa berat, kepala terasa sakit,
bulu-bulu berdiri

14) Tingkah laku (sikap) pada wawancara, meliputi: gelisah, tidak


tenang, jari gemetar, kerut kening, muka tegang, otot tegang /
mengeras, nafas pendek dan cepat, muka merah

Cara penilaian HRS-A dengan sistem skoring, yaitu: skor 0 = tidak


ada gejala, skor 1 = ringan (satu gejala), skor 2 = sedang (dua gejala),
skor 3 = berat (lebih dari dua gejala), skor 4 = sangat berat (semua
gejala). Bila skor < 14 = tidak kecemasan, skor 14-20 = cemas ringan,
skor 21-27 = cemas sedang, skor 28-41 = cemas berat, skor 42-56 =
panik.

b. Skala analog visual (Visual analog scale, VAS)


Suatu garis lurus yang mewakili tingkatan kecemasan dan pendeskripsi
verbal pada setiap ujungnya. Skala ini memberi pasien kebebasan penuh
untuk mengidentifikasi kategori cemas yang dirasakan. VAS dapat
merupakan pengukuran tingkat kecemasan yang cukup sensitif karena
pasien dapat mengidentifikasi setiap titik pada rangkaian, dari pada dipaksa
memilih satu kata atau satu angka. Pengukuran dengan VAS pada nilai nol
dikatakan tidak ada kecemasan,nilai 10-30 dikatakan sebagai cemas ringan,
nilai antara 40-60 cemas sedang, diantara 70-90 cemas berat, dan 100
dianggap panik.

0 10 20 30 40 50 60 70 80 90 100

Gambar 2.2 Skor kecemasan VAS (British Journal of Anaesthesia 1995)

8. Penatalaksanaan kecemasan
a. Penatalaksanaan Farmakologi
Pengobatan untuk anti kecemasan terutama benzodiazepine, obat
ini digunakan untuk jangka pendek, dan tidak dianjurkan untuk jangka
panjang karena pengobatan ini menyebabkan toleransi dan
ketergantungan. Obat anti kecemasan nonbenzodiazepine, seperti
buspiron (Buspar) dan berbagai antidepresan juga digunakan (Isaacs,
2005).

b. Penatalaksanaan non farmakologi


1) Distraksi
Distraksi merupakan metode untuk menghilangkan kecemasan
dengan cara mengalihkan perhatian pada hal-hal lain sehingga pasien
akan lupa terhadap cemas yang dialami. Stimulus sensori yang
menyenangkan menyebabkan pelepasan endorfin yang bisa
menghambat stimulus cemas yang mengakibatkan lebih sedikit stimuli
cemas yang ditransmisikan ke otak (Potter & Perry, 2005).
Salah satu distraksi yang efektif adalah dengan memberikan terapi
spiritual (membacakan doa sesuai agama dan keyakinannya), sehingga
dapat menurunkan hormon-hormon stressor, mengaktifkan hormon
endorfin alami, meningkatkan perasaan rileks, dan mengalihkan
perhatian dari rasa takut, cemas dan tegang, memperbaiki sistem kimia
tubuh sehingga menurunkan tekanan darah serta memperlambat
pernafasan, detak jantung, denyut nadi, dan aktivitas gelombang otak.
Laju pernafasan yang lebih dalam atau lebih lambat tersebut sangat baik
menimbulkan ketenangan, kendali emosi, pemikiran yang lebih dalam
dan metabolisme yang lebih baik.

2) Relaksasi
Terapi relaksasi yang dilakukan dapat berupa relaksasi

meditasi, relaksasi imajinasi dan visualisasi serta relaksasi

progresif (Isaacs, 2005)..

B. Terapi Spiritual
1. Pengertian
Spiritualitas merupakan bentuk keyakinan dalam hubungan dengan Yang
Maha Kuasa, keyakinan spiritual akan menjadikan seseorang
mempertahankan keharmonisan, keselarasan dengan dunia luar. Keyakinan
spiritual dapat mempengaruhi tingkat kesehatan dan prilaku dalam perawatan
pasien. Terpenuhinya kebutuhan spiritual apabila seseorang tersebut mampu
mengembangkan rasa syukur, sabar serta ikhlas (Yusuf,A et al. 2016).
Sedangkan Therapy dalam bahasa Inggris bermakna pengobatan dan
penyembuhan dalam bahasa Arab Therapi sepada dengan ”al-istisya” yang
berasal dari kata “syafa-yasfi-syifa” yang artimya menyembuhkan. Dalam
buku Terapi Sufistik, terapi juga dapat diartikan sebagai upaya sistematis dan
terencan dalam menanggulangi masalah-masalah yang dihadapi oleh klien
dengan tujuan mengembalikan, memelihara, dan mengembangkan kondisi
klien agar akal dan hatinya berada dalam kondisi dan posisi yang
proporsional. (Solihin, 2004)
Berdasarkan uraian diatas maka terapi spitual adalah sebagai bentuk
upaya untuk mengatasi gangguan kejiwaan terutama untuk mengatasi
kecemasan dengan cara mengalihkan perhatian pada hal mendekatkan diri
pada Tuhan dan dengan keyakinan mengingatkan kita pada tujuan hidup
yang sejati sehingga akal dan hatinya berada dalam kondisi yang
proporsional dan dapat menurunkan hormon-hormon stressor, dan
mengaktifkan hormon endorfin alami. Salah satu terapi spiritual yang dapat
diberikan pada pasien gangguan jiwa ansietas adalah dengan terapi spiritual
murottal
Terapi Spiritual Murottal adalah terapi dengan menggunakan ayat-ayat
suci al-Qur’an sebagai media terapi. Al-Quran yang berarti bacaan
merupakan mu’jizat yang diturunkan oleh Allah SWT kepada Nabi
Muhammad SAW dan menjadi suatu ibadah jika membacanya. Seni baca Al-
Quran atau disebut dengan Tilawatil Quran ialah bacaan kitab suci Al-Quran
yang bertajwid diperindah oleh irama dan lagu. Orang yang membacanya
disebut qori’. Menurut Purna (2006), pengertian dari murottal merupakan
rekaman suara Al-Quran yang dilagukan oleh seorang qori’ (pembaca Al-
Quran).

2. Tujuan
Tujuan terapi murottal adalah untuk menurunkan hormon-hormon stres,
mengaktifkan hormon endorfin alami, meningkatkan perasaan rileks, dan
mengalihkan perhatian dari rasa takut, cemas dan tegang, memperbaiki
sistem kimia tubuh sehingga menurunkan tekanan darah serta memperlambat
pernafasan, detak jantung, denyut nadi, dan aktivitas gelombang otak

3. Manfaat
1. Mendengarkan bacaan ayat-ayat Al-Qur’an dengan tartil akan
mendapatkan ketenangan jiwa.
2. Lantunan Al-Qur’an secara fisik mengandung unsur suara manusia, suara
manusia merupakan instrumen penyembuhan yang menakjubkan dan alat
yang paling mudah dijangkau.

4. Prosedur
1. Persiapan
1) Persiapan Pasien
Identifikasi tingkat cemas
Kaji kesiapan pasien dan perasaan pasien
Siapkan ruagan yang sejuk, tidak gaduh dan alami
Siapkan tempat tidur atau kursi yang dapat menopang bahu pasen
Jelaskan kembali tujuan terapi dan prosedur yang akan dilakukan
2) Persiapan Alat
a. Earphone
b. MP3/Tablet berisikan murottal (Al-fatihah)
3) Persiapan Perawat
a. Menyiapkan alat dan mendekatkan ke arah pasien
b. Mencuci tangan
4) Persiapan Lingkungan
a. Menutup sampiran
b. Memastikan privaci pasien terjaga

2. Pelaksanaan Cara melakukan terapi murottal adalah:


1) Mencuci tangan
2) Menghubungkan earphone dengan MP3/Tablet berisikan murottal
3) Pasien berbaring diatas tempat tidur
4) Letakkan earphone di telinga kiri dan kanan
5) Dengarkan murottal selama 15 menit
BAB III
METODOLOGI

A. DESAIN PENILITIAN
Desain penelitian ini menggunakan jenis penelitian eksperimental-kuasi (quasi-
experimental design) Pretest-Posttest Control Group Design. Rancangan Pretest-
Posttest Control Group Design digunakan untuk menguji efek suatu perlakuan
terhadap variabel dependen. Pengujian dilakukan dengan cara membandingkan
hasil pretes dan posttest variabel dependen pada kelompok eksperimen
(Shaughnessy, 2006). Pretest menginformasikan kemampuan awal (initial
position) para subjek sebelum dilakukan penelitian. Menurut Robinson (Seniati,
2011), konstansi terjadi karena skor variabel terikat adalah skor hasil posttest
dikurangkan dengan hasil pretest setiap [Link] skor yang diperoleh adalah
peningkatan atau penurunan variabel terikat akibat dilakukannya
[Link] skor post-test lebih besar dari pre-test, maka dapat
disimpulkan bahwa mendengarkan Murottal dapat menurunkan kecemasan.

B. KERANGKA TEORI
Faktor yang
mempengaruhi Ansietas
Faktor Predisposisi:
1. Usia
1. Teori Psikoanalitik : konflik 2. Jenis kelamin
2. Teori Interpersonal : Perasaan takut 3. Pendidikan
Pasien 4. Tingkat
3. Teori Behavior : Frustasi Gangguan Pengetahuan
4. Teori Perspektif Keluarga : Pola
Jiwa Ansietas 5. Tipe Kepribadian
6. Lingkungan dan
interaksi tidak adaptif dalam keluarga Situasi
5. Teori Perspektif Biologi : Reseptor

dalam otak

Faktor Presipitasi:

a. Ancaman terhadap integritas


b. Ancaman terhadap sistem diri.

C. KERANGKA KONSEP PENELITIAN


Faktor Predisposisi: Faktor yang
mempengaruhi Ansietas
1. Teori Psikoanalitik : konflik
1. Usia
2. Teori Interpersonal : Perasaan takut
2. Jenis kelamin
3. Teori Behavior : Frustasi Pasien 3. Pendidikan
Gangguan 4. Tingkat Pengetahuan
4. Teori Perspektif Keluarga : Pola
Jiwa Ansietas 5. Tipe Kepribadian
interaksi tidak adaptif dalam keluarga 6. Lingkungan dan
Situasi
5. Teori Perspektif Biologi : Reseptor

dalam otak

TERAPI
SPIRITUAL

Faktor Presipitasi:

a. Ancaman terhadap integritas


b. Ancaman terhadap sistem
1. Kemampuan perawat
diri. 2. Durasi
3. Frekuensi
4. Lingkungan yang
mendukung

D. HIPOTESIS
Ada pengaruh terapi spiritual denga penurunan tingkat kecemasan pada pasien
gangguan jiwa ansietas.

E. DEFINISI OPERASIONAL
Definisi
No. Variabel Instrument Hasil ukur Skala
Operasional Ukur
1. Umur Ulang tahun Kartu 1. ≤ 20 tahun Rasio
terakhir Identitas 2. 21-40 tahun
Penduduk 3. ≥40 tahun
(KTP)
2. Jenis kelamin Sesuai yang Kartu 1. Laki-laki Nominal
tertera pada kartu Identitas 2. Perempuan
identitas Penduduk
penduduk (ktp) (KTP)
3. Tingkat Perilaku yang Quisioner 1. Ringan Ordinal
kecemasan dilakukan 2. Sedang
seseorang pada 3. Berat
sekelilingnya 4. Panik
ketika cemas,
yang ditandai
dengan minat,
berkurang, sedih,
firasat buruk,
takut akan
pikiran sendiri,
mudah
tersinggung,
perasaan
berubah-berubah
sepanjang hari.

F. POPULASI DAN SAMPEL


Populasi dalam penilitian ini adalah seluruh pasien jiwa dengan kecemasan di
salah satu Rumah Sakit Khusus Daerah Duren Sawit sebanyak 30 orang. Sampel
di ambil menggunakan purposive sampling sebanyak 10 orang yang memenuhi
kriteria inklusi dan eksklusi. Adapun kriteria inklusi dalam penelitian ini adalah
pasien dengan gangguan kecemasan yang sudah memasuki masa tenang, tidak
gelisah, tidak agresif, sehingga dapat koperatif, bersedia menjadi responden dan
tidak mengganggu berlangsungnya pelatihan terapi. Kriteria ekslusi pasien
dengan gangguan kecemasan yang masih di tahap gelisah, cemas psiko patologi
berat dan tidak koperatif.

G. INSTRUMENT PENGUMPULAN DATA


Instrument yang digunakan pada penilitian ini adalah menggunakan kuesioner
berisi 5-10 soal yang berisi pertanyaan pengungkapan cemas yang diberikan
pada saat pretest dan lembar observasi berupa SOP (Standar Operasional
Prosedur) terapi spiritual.

H. METODE PENGUMPULAN DATA


Metode pengumpulan data yang digunakan dengan cara wawancara, observasi
dan studi dokumentasi.
1. Kuesioner
Kuesioner merupakan suatu cara pengumpulan data yang dilakukan dengan
cara mengedarkan suatu daftar pertanyaan yang berupaformulir. Peniliti
nantinya akan memberikan kuesioner yang berisi pertanyaan mengenai
pengungkapan cemas.
2. Observasi
Observasi digunakan sebagai teknik pengumpulan data dengan cara
pengamatan untuk menemukan permasalahan yang harus diteliti, dan peneliti
juga ingin mengetahui hal-hal dari responden apakah prosedur tersebut
dilakukan secara benar dan sesuai atau tidak. Pada lembar observasi berisi
SOP mengenai langkah-langkah melakukan terapi spiritual.

I. PENGOLAHAN DAN ANALISA DATA


1. Pengolahan Data
a. Editing
Memeriksa daftar pertanyaan yang telah diserahkan oleh para
pengumpulan data. Pemeriksaan daftar pertanyaan yang telah selesai ini
dilakukan terhadap kelengkapan jawaban, keterbacaan tulisan, dan
relevansi jawaban.
b. Coding
Mengklasifikasikan jawaban-jawaban dari para responden ke dalam
bentuk angka/bilangan. Biasanya klasifikasi dilakukan dengan cara
memberi tanda/kode berbentuk angka pada masing-masing jawaban.
c. Proccesing
Memproses data agar data yang sudah di entry dapat dianalisis.
Pemrosesan data dilakukan dengan cara meng-entry data dari kuesioner
ke paket program komputer.
d. Cleaning
Pembersihan data, lihat variabel apakah data sudah benar atau belum.
Cleaning (pembersihan data) merupakan kegiatan pengecekan kembali
data yang sudah di-entry apakah ada kesalahan atau tidak.
2. Analisa Data
a. Univariat
Analisis univariat digunakan untuk mendeskripsikan setiap variabel yang
diteliti dalam penilitian, yaitu dengan melihat distribusi data. Analisis
dapat dilakukan dengan pengukuran frekuensi persentase dan distribusi
data dengan mean, median, serta standar deviasi. Analisis univariat pada
penelitian ini adalah variabel karakteristik responden dan variabel terikat
yaitu umur, jenis kelamin, dan tingkat kecemasan. Data kategorik
menggunakan frekuensi prosentase pada pengukuran umur, jenis kelamin
dan tingkat kecemasan.

J. ETIKA PENELITIAN
Etika penelitian adalah suatupedoman etika yang berlaku untuk setiap kegiatan
penelitian yang melibatkan antara peneliti, pihak yang diteliti (subjek penelitian)
dan masyarakat yang akan memperoleh dampak hasil penelitian tersebut
(Notoatmodjo, 2010) meliputi:

1. Beneficience
Bebas dari bahaya penelitian harus dilaksanakan tanpa mengakibatkan
penderitaan kepada subjek, khususnya jika menggunakan tindakan khusus,
bebas dari eksplotasi, partisipasi subjek dalam penelitian harus dihindari dari
keadaan yang tidak menguntungkan. Subjek penelitian perlu diyakini bahwa
informasi yang diberikan kepada peneliti tidak akan digunakan untuk
melawan atau merugikan responden. Pasien diberikan penjelasan bahwa
prosedur terapi spiritual tidak membahayakan pasien.
2. Veracity
Memberikan informasi dengan jujur mengenai rencana studi kasus yaitu
penerapan prosedur terapi spiritual pada pasien gangguan kecemasan. Pasien
diberikan penjelasan sebelum dilakukan penelitian, yang apabila sudah
dimengerti ditindak lanjuti dengan penandatanganan diatas kertas.
3. Nonmaleficience
Menyampaikan kepada responden dan keluarga bahwa studi kasus ini tidak
menimbulkan dampak negative bagi responden.
4. Confidentiality
Selalu menjaga kerahasiaan mengenai identitas maupun informasi yang
diberikan kepada [Link] studi kasus ini penulis menerapkan etika
yang digunakan dalam penelitian yaitu memastikan responden terbebas dari
bahaya, menghargai martabat pasien dan berlaku adil antara responden dan
para [Link] dikumpul tentang diri subjek akan disimpan dan
terjaga kerahasiannya oleh peneliti.
5. Otonomi
Setiap responden berhak penuh untuk menyetujui atau menolak untuk
menjadi [Link] yang telah menyetujui dan bersedia menjadi
responden diikutsertakan dalam penelitian. Selain pasien, keluarga pasien
juga mendapat penjelasan tentang rencana dan tujuan penelitian dan
menandatangani informed consent. Bagi pasien yang tidak memiliki keluarga
maka informed consent diberikan dan ditanda tangani oleh kepala ruangan.
DAFTAR PUSTAKA

Atun, Sri. 2018. Modul Praktika Keperawatan Jiwa. Jakarta: Asosiasi Institusi
Pendidikan Vokasi Keperawatan Indonesia (APViKI).

Keliat, B.A, Dkk. 2011. Keperawatan Kesehatan Jiwa Komunitas : CMHN (Basic
Cource). Jakarta: EGC

Nanda, 2012. Diagnosa Keperawatan: Definisi dan Klasifikasi 2012-2014. Jakarta:


Stuart, G.W, & Sundeen, S.J. 2007. Buku Saku Keperawatan Jiwa. Jakarta: EGC.
Tim MGBK. 2010. Bahan Dasar Untuk Pelayanan Konseling Pada Satuan Pendidikan
Menengah. Jakarta: Grasindo.
Baradero, Marry, dkk. 2015. Kesehatan Mental Psikiati. Jakarta: EGC
Seniati, Liche, dkk. (2011). Psikologi Eksperimen. Jakarta: Indeks
Syakir, S.,dkk. (2014). Islamic Hypnoparenting: Mendidik Anak Masa Kini Ala
Rasulullah. Jakarta: PT. Kawan Pustaka

Solihin,M. 2004. Terapi [Link]: Pustaka Setia

Stuart, Gail W.2007. Buku Saku Keperawatan Kesehatan Jiwa. Jakarta: EGC

Stuart & Laraia. 2005. Buku Saku Keperawatan Jiwa. Jakarta: EGC

Suliswati. 2005. Konsep Dasar Keperawatan Kesehatan Jiwa. Jakarta: EGC

Hawari, Dadang. 2008. Menajemen Stres Cemas Dan Depresi. Jakarta: Fakultas
Kedokteran Universitas Indonesia

World Health Organization. Depression and other common mental disorders: global
health estimates. Switzerland: World Health Organization. 2017.
[Link]
[Link] . Diakses pada 4 Februari 2017

Ann Isaacs, 2005. Keperawatan Kesehatan Jiwa Psikiatri. Edisi 3. Jakarta : EGC
Potter & Perry. (2005). Buku Ajar Fundamental Keperawatan Konsep, Proses, dan
Praktik. Edisi 4 volume 1. Jakarta: EGC

Purna. 2006. Murottal. [Link] (Diakses pada 4 Februari 2020)

Notoatmodjo. 2010. Metodologi Penilitian [Link]: PT Renika Cipta.

[Link]

Anda mungkin juga menyukai