BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Terapi Komplementer sebagai pengembangan terapi tradisional dan ada yang
diintegrasikan dengan terapi modern yang mempengaruhi keharmonisa
individu dari aspek biologis, psikologis dan spiritual. Hasil terapi yang telah
telah terintegrasi tersebut ada yang telah lulus uji klinis sehingga sudah
disamakan dnegan obat modern. Kondisi ini sesuai dengan prinsp keperawatan
yang memandang manusia sebagai makhluk yang holistic (Bio,psiko,sosial
dan spiritual) (Widyastuti,2008)
Terapi komplementer banyak jenisnya, ada yang invasive dan non invasif.
Contoh terapi komplementer invasive adalah akupuntur dan cupping (bekam
basah) yang menggunakan jarum dalam pengobatannya. Sedangkan jenis non-
invasif seperti terapi energy (reiki,chikung, tai chi, prana, terapi suara), terapi
biologis (herbal, terapi nutrisi, food combining, terapi jus, terapi urin,
hidroterapi colon dan terapi sentuhan modalitas, akupresur, pijat bayi dan
refleksi.
Reflexology merupakan salah satu massage therapy yang dapat
menyembuhkan hampir semua penyakit, serta merupakan terapi yang aman
dan tanpa efek samping (Amalia, 2017). Reflexology merupakan pemberian
energy yang dimasukan kedalam tubuh melalui pemijatan untuk
memperlancar peredaran darah, melenturkan otot-otot, meningkatkan daya
tahan tubuh, relaksasi, meningkatkan kekuatan pikiran dan tubuh,
menstabilkan emosi, meningkatkan kualitas tidur, meningkatkan konsentrasi
dan ingatan, meningkatan rasa percaya diri dan harmoni.
Dengan demikian, menjadi penting bagi kami untuk membahas terapi
komplementer refleksi
B. Rumusan Masalah
1. Jelaskan pengertian refleksi ?
2. Jelaskan konsep refleksi ?
3. Jelaskan biofisiologi refleksi ?
4. Jelaskan teknik dari refleksi ?
5. Jelaskan indikasi dan kontraindikasi dari refleksi ?
6. Jelaskan evaluasi refleksi ?
C. Tujuan Penulisan
1. Mampu menjelaskan pengertian refleksi
2. Mampu menjelaskan konsep dari refleksi
3. Mampu menjelaskan biofisiologi refleksi
4. Mampu menjelaskan teknik dari refleksi
5. Mampu menjelaskan indikasi dan kontaindikasi dari refleksi
6. Mampu menjelaskan evaluasi refleksi
D. Metode Penelitian
1. Manfaat teoritis dari penyusunan makalah ini agar mahasiswa memperoleh
pengetahuan tambahan dan dapat mengembangkan wawasan mengenai
keperawatan komplementer terapi refleksi
2. Manfaat praktis dari penyusunan makalah ini agar para pembaca
mengetahui bagaimana cara dan indikasi serta kontraindikasi dari terapi
refleksi pada keperawatan komplementer
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
1. Pengertian Refleksi
Refleksi mencakup penekanan pada beberapa bagian dari kaki, tangan dan telinga
dengan tujuan untuk memperbaiki kesehatan. Refleksologi adalah teknik
penyembuhan alternatif untuk mengurangi ketegangan, meningkatkan sirkulasi, dan
mempromosikan fungsi alami dari tubuh melalui penerapan tekanan pada berbagai
titik-titik tertentu di kaki - tangan dan bagian bagian tubuh lainnya. Selain itu,
refleksologi juga didefinisikan sebagai cara pengobatan dengan merangsang
berbagai daerah refleks (atau zona atau mikrosistem) di kaki, tangan, dan telinga
yang ada hubungannya dengan (atau mewakili) berbagai kelenjar, organ, dan
bagian tubuh lainnya.
2. Konsep Refleksi
Prinsip pijat refleksi pada dasarnya adalah memanipulasi titik pusat simpul saraf
atau pengendali refleks di titik meridian. Bila energi di jalur meridian berjalan
lancar artinya tubuh dalam kondisi sehat. Sebaliknya, jika ada gangguan kerja
organ tubuh akan pincang dan bereaksi dalam bentuk gejala sakit. Dalam terapi
pemijatan, rasa sakit ini biasanya timbul karena titik-titik refleksi tersebut menjadi
sangat sensitif terhadap rangsangan saat dilakukan pemeriksaan atau diagnosa.
Setelah terdiagnosa, pemijatan suatu organ tubuh bisa dilakukan melalui kaki atau
tangan.
Jika dilakukan dengan benar dan tepat pada titik pusat simpul saraf yang
mengalami gangguan, bukan gejala sakit saja yang hilang tetapi juga penyebabnya.
Refleksologi menggunakan teknik urutan pada 62 titik utama yang ada pada telapak
kaki seseorang. Titik titik refleksi mempunyai hubungan dengan organ utama pada
tubuh antaranya jantung, paru-paru, ginjal, organ seks dan otak.
a. Titik refleksi pada kaki bagian bawah (telapak), titik-titik refleksi pada telapak
kaki berhubungan dengan seluruh organ tubuh. Titik-titik refleksi dibagi
menjadi bagian bawah jari-jari, telapak bagian depan, telapak bagian tengah,
dan telapak bagian belakang. Titik refleksi pada bagian bawah jari-jari kaki
berhubungan dengan organ otak, dahi, hidung, leher, mata, dan telinga. Titik
refleksi pada telapak bagian depan berhubungan dengan bahu, pundak (otot
trapezius), kelenjar tiroid, kelenjar paratiroid, dan paru-paru. Titik refleksi
pada telapak bagian tengah berhubungan dengan lambung, usus 12 jari,
pankreas, kelenjar adrenalin, ginjal, jantung, usus besar, dan limpa. Titik
refleksi pada telapak bagian belakang berhubungan dengan ureter (saluran
kencing), usus kecil, kandung kemih, rektum, anus, lutut, insomnia, dan
kelejar reproduksi.
b. Titik refleksi pada punggung kaki, titik-titik refleksi pada punggung kaki
bagian depan berhubungan dengan kelenjar getah bening, organ
keseimbangan, dada, sekat rongga dada dan perut, amandel, rahang, dan
saluran pernapasan. Titik refleksi pada punggung kaki bagian belakang dan
samping berbuhubungan dengan bahu, lutut, indung telur atau testis, sendi
pinggul, tulang tungging, tulang belikat, sendi siku, tulang rusuk, dan pinggul.
c. Titik refleksi pada kaki bagian samping dalam, titik refleksi pada kaki bagian
depan berhubungan dengan hidung, leher, kelenjar paratiroid, dan punggung.
Titik refleksi pada kaki bagian belakang berhubungan dengan pinggang,
kandung kemih, kelangkang, tulang paha, kelenjar getah bening, rahim,
prostat, tulang rusuk, dan dubur.
Terapi pijat refleksi kaki harus dilakukan secara menyeluruh. Artinya,
pemijatan tidak hanya pada satu titik syaraf telapak kaki tertentu saja.
Contohnya, pada proses penanganan kasus telinga berdenging , tidak hanya
menekan titik syaraf kaki yang berhubungan dengan telinga. Pemijatan titik
syaraf telapak kaki yang berhubungan dengan organ kepala, ginjal, dan
kelenjar getah bening juga harus dilakukan. Hal ini disebabkan semua organ
tersebut berkaitan dengan organ telinga.
Sebagian orang akan merasa lebih baik saat pertama kali dipijat refleksi
tetapi untuk sebagian orang dampak pijat refleksi tidak dapat langsung
dirasakan. Untuk itu, sebaiknya pijat refleksi harus dilakukan secara bertahap
dalam kurun waktu tertentu. Jika terlalu cepat juga kurang baik dan jika terlalu
lama maka toksin-toksin akan kembali mengendap. Sebaiknya lakukan pijat
berikutnya 3 - 4 hari setelah pijat yang sebelumnya atau disesuaikan dengan
kondisi tubuh pasien.
3. Biofisiologi refleksi
Pamungkas 2009 menyatakan bahwa terapi pijat refleksi adalah cara
pengobatan yang memberikan sentuhan pijatan pada lokasi dan tempat yang
sudah dipetakan sesuai pada zona terapi. Pada zona-zona ini, ada suatu batas
atau letak reflek-reflek yang berhubungan dengan organ tubuh manusia,
dimana setiap organ atau bagian tubuh terletak dalam jalur yang sama
berdasarkan fungsi system saraf.
Ketika pemijatan menimbulkan sinyal nyeri, maka tubuh akan mengeluarkan
morfin yang disekresikan oleh sistem serebral sehingga menghilangkan nyeri
dan menimbulkan perasaan yang nyaman euphoria. Reaksi pijat refleksi
terhadap tubuh tersebut akan mengeluarkan neurotransmitter yang terlibat
dalam sistem analgesia khususnya enkafalin dan endorphin yang berperan
menghambat impuls nyeri dengan memblok transmisi impuls ini di dalam
system serebral dan medulla spinalis (Guyton Hall, 2007)
4. Teknik Refleksi
a. Teknik Manipulasi atau Rangsangan Pijat Refleksi
Ketepatan dalam memilih teknik rangsangan sangat mempengaruhi hasil
pemijatan. Seorang terapis harus mampu menilai kondisi klien sebelum
dipijat. Secara umum kondisi kondisi klien diagi menjadi dua, yaitu :
1. Kondisi Kekurangan energy (yin)
Klien dalam kondisi ini akan terlihat lemah, pucat, suara pelan dan
suhu tubuh rendah (dingin)
2. Kondsi kelebihan energy (yang)
Klien dalam kondisi ini terlihat tegang, menahan rasa sakit, muka
kemerahan, serta suhu tubuh diatas normal (hangat/panas)
Berdasarkan kondisi klien tersebut, teknik rangsang pijat refleksi dapat
dibagi menjadi dua yaitu :
1. Penguatan (Untuk kondisi Yin)
Penguatan adalah teknik rangsangan yang digunakan untuk menangani
klien yang berada dalam kondisi kekurangan energy. Teknik
rangsangan ini dilakukan dengan tekanan sedang, tetapi klien tetap
merasakan rasa ngilu dengan jumlah tekanan sebanyak 30 kali disetiap
titik atau are pijat. Arah pemijatan sesuai dengan arah fungsi anatomi
tubuh.
2. Pelemahan (untuk kondisi Yang )
Pelemahan adalah teknik rangsangan yang digunakan untuk menangani
klien yang berada dalam kondisi kelebihan energy. Teknik rangsangan
ini dapat dilakukan dengan tekanan kuat, tetapi sesuai dengan kekuatan
klien dengan jumlah tekanan sebanyak 60 klai atau lebih di setiap titik
atau area pijat. Arah pemijatan berlawanan arah dengan arah fungsi
anatomi tubuh (Direktorat pembinaan kursus dan pelatihan, 2015)
5. Indikasi Terapi Refleksi
Refleksologi telah lama dikenal sebagai terapi alternatif untuk mengatasi
gangguan pada saraf dan peredaran darah. Selain itu, refleksi juga berfungsi
untuk :
a. Meningkatkan daya tahan individu
b. Mengurangi risiko tulang rapuh atau keropos
c. Menyeimbangkan tata letak badan
d. Melancarkan pergerakan
e. Menguatkan otot kaki
f. Mengurangi risiko kencing tidak lancar
g. Menguatkan tulang dan pinggul
h. Mengurangi risiko sakit sendi
i. Meredakan rasa letih
j. Menghindarkan risiko sembelit
k. Mengurangi masalah usus
l. Mengurangi masalah organ reproduksi.
m. Membantu mengatasi sakit kepala Membantu mengatsi depresi
n. Membantu mengatasi sindrom pra-haid, asma, dan penyakit kulit
6. Kontra Indikasi
Pijat refleksi termasuk salah satu metode penyembuhan atau terapi
kesehatan yang tidak menimbulkan efek samping selama dilakukan secara
baik dan sesuai petunjuk. Namun ada beberapa penyakit yang tidak bisa
disembuhkan dengan cara dipijat refleksi antara lain :
a. Matinya urat saraf akibat kecelakaan, benturan, stroke atau penyakit
lainnya. Pemijatan pada daerah refleksi tidak boleh dianjurkan sebab
tidak akan memberikan reaksi atau respon terhadap organ yang
berhubungan dengan daerah refleksi.
b. Tumpulnya kepekaan urat saraf karena terlalu banyak minum obat
kimia. Terlalu sering dan banyak meminum obat kimia dapat
membuat urat saraf menjadi tumpul atau kurang peka, karena peran
yang alami telah di gantikan atau dimatikan oleh obat kimia tersebut.
c. Cedera kaki. Tentu saja saat mengalami cedera, luka, asam urat, atau
peradangan di bagian kaki maka sebaiknya Anda tidak melakukan
terapi refleksi. Terapi yang Anda lakukan hanya akan membuat cedera
Anda bertambah parah.
d. Kehamilan. Terapi refleksi lebih baik dihindari oleh wanita yang
sedang hamil, terutama ketika kehamilan masih berada di trimester
pertama. Tekanan yang diterima pada telapak kaki akan merangsang
kontraksi pada ibu hamil.
e. Memiliki masalah pembekuan darah. Terapi refleksiologi bisa
meningkatkan sirkulasi yang kemudian berpotensi mengakibatkan
gumpalan darah di daerah jantung dan otak (Nimas, 2017)
7. Evaluasi Refleksi
Setelah terapi refleksi dilakukan pada tahap akhir terapis perlu mengevaluasi
perasaan klien dan reaksi hasil pijat, kontrak waktu untuk kegiatan
selanjutnya, dan hasil observasi selama melakukan terapi.
Pijat refleksi pada umumnya hampir tidak menimbulkan efek samping yang
merugikan. Namun, rekasi terhadap perawatan tetap bisa saja terjadi.
Walaupun rekasi yang ditimbulkan berupa efek dari penyembuhan, yaitu
peningkataan aktivitas pembuangan tubuh (detoksifikasi), kadang-kadang itu
dapat menimbulkan rekasi yang tidak nyaman bagi klien
BAB III
PENUTUP
A. Kesimpulan
Refleksi merupakan terapi penekanan pada beberapa bagian dari kaki, tangan
dan telinga dengan tujuan untuk memperbaiki kesehatan. Reflexology
merupakan salah satu massage therapy yang dapat menyembuhkan hampir
semua penyakit, serta merupakan terapi yang aman dan tanpa efek samping.
Reflexology merupakan pemberian energy yang dimasukan kedalam tubuh
melalui pemijatan untuk memperlancar peredaran darah, melenturkan otot-otot,
meningkatkan daya tahan tubuh, relaksasi, meningkatkan kekuatan pikiran dan
tubuh, menstabilkan emosi, meningkatkan kualitas tidur, meningkatkan
konsentrasi dan ingatan, meningkatan rasa percaya diri dan harmoni. Prinsip
pijat refleksi pada dasarnya adalah memanipulasi titik pusat simpul saraf atau
pengendali refleks di titik meridia.
B. Saran
Setelah memahami mengenai refleksi sebagai terapi komplementer para
mahasiswa khususnya para pembaca dan perawat dapat mengambil inti dari
makalah ini sehingga dapat menerapkan dalam dunia Pendidikan ataupun dalam
dunia kerja, karena terapi refleksi sebagai terapi komplementer sangat
bermanfaat bagi pasien.
DAFTAR PUSTAKA
Direktorat Pembinaan Kursus dan Pelatihan. 2015. Ilmu Pijat Pengobatan Refleksi
Relaksasi. Diakses pada tanggal 26 November 2019 di
[Link]
PENGOBATAN_PIJAT_REFLEKSI_LEVEL_II
Etika, Nimas. 2017. Pijat Refleksi Banyak Manfaatnya, Tapi Tak Semua Orang Boleh
Dipijat. Diperoleh tanggal 27 November 2019 dari [Link]
sehat/tips-sehat/manfaar-pijat-refleksi-bagi-kesehatan/
Widyastuti. 2008. Terapi Komplementer dalam Keperawatan. Jurnal Keperawatan
Indonesia,12(1), 53-57.
123dok. 2009. Fisiologi Pemijatan Refleksi PIjat Refleksi. Diakses pada tanggal 27
November 2019. Dari [Link]
[Link]