0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
30 tayangan18 halaman

Pathway Penanganan Apendisitis

Dokumen tersebut membahas tentang apendisitis, yaitu peradangan pada usus buntu yang disebabkan oleh infeksi bakteri dan dapat menimbulkan komplikasi berat jika tidak ditangani. Dokumen ini menjelaskan definisi, klasifikasi, etiologi, manifestasi klinis, patofisiologi, komplikasi, dan pemeriksaan penunjang untuk diagnosis apendisitis.

Diunggah oleh

Keke Mantero
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd
0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
30 tayangan18 halaman

Pathway Penanganan Apendisitis

Dokumen tersebut membahas tentang apendisitis, yaitu peradangan pada usus buntu yang disebabkan oleh infeksi bakteri dan dapat menimbulkan komplikasi berat jika tidak ditangani. Dokumen ini menjelaskan definisi, klasifikasi, etiologi, manifestasi klinis, patofisiologi, komplikasi, dan pemeriksaan penunjang untuk diagnosis apendisitis.

Diunggah oleh

Keke Mantero
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd

BAB I PENDAHULUAN

1.1 Latar belakang


Apendisitis merupakan peradangan pada Apendiks yang berbahaya jika tidak ditangani
dengan segera di mana terjadi infeksi berat yang bisa menyebabkan pecahnya lumen usus
(Williams & Wilkins, 2011).

Apendisitis merupakan infeksi bakteria. Berbagai hal berperan sebagai faktor pencetusnya,
antara lain sumbatan lumen apendiks, hyperplasia jaringan limfoid, tumor apendiks, cacing
askaris, erosi mukosa apendiks, pola makan serat rendah mengakibatkan konstipasi serta
timbulnya apendisitis. (Adhar, dkk, 2017)

Apendisitis merupakan masalah yang serius yang harus dicegah sedini mungkin dan salah
satu cara untuk menyembuhkan apendisitis adalah dengan apendiktomi atau bedah mayor pada
apendiks (Price & Wilson, 2006). Tindakan operasi pada pasien apendisitis banyak menimbulkan
dampak biopsikososial spiritual, salah satunya gangguan tidur yang dapat disebabkan oleh
beberapa faktor, misalnya nyeri pada luka post operasi, lingkungan yang kurangnyaman,
kecemasan karena rasa nyeri post operasi (Sudarsono, 2013).

World Health Organization (WHO) menyatakan angka kematian akibat apendisitis di dunia
adalah 0,2-0,8%Menurut Lubis (2008), setiap tahun apendisitis menyerang 10 juta penduduk
Indonesia dan saat ini morbiditas angka apendisitis di Indonesia mencapai 95 per 1000 penduduk
dan angka ini merupakan tertinggi di antara negara-negara di Association of South East Asia
Nation (ASEAN).

Menurut Indri U, dkk (2014), mengatakan risiko jenis kelamin pada kejadian penyakit
apendisitis terbanyak berjenis kelamin laki-laki dengan presentase 72,2% sedangkan berjenis
kelamin perempuan hanya 27,8%. Hal ini dikarenakan laki-laki lebih banyak menghabiskan waktu
diluar rumah untuk bekerja dan lebih cenderung mengkonsumsi makanan cepat saji, sehingga hal
ini dapat menyebabkan beberapa komplikasi atau obstruksi pada usus yang bisa menimbulkan
masalah pada sistem pencernaan salah satunya yaitu apendisitis.
1.2 Tujuan
1.2.1 Tujuan umum
Agar dapat membuat dan melaksanakan asuhan keperawatan kepada klien dengan
apendisitis
1.2.2 Tujuan khusus
1. Mengetahui definisi Apendisitis
2. Mengetahui bagaimana klasifikasi Apendisitis
3. Mengetahui apa saja etiologi Apendisitis
4. Mengetahui manifestasi klinis Apendisitis
5. Mengetahui bagaimana patofisiologi Apendisitis
6. Mengetahui apa saja komplikasi Apendisitis
7. Mengetahui apa saja pemeriksaan Penunjang Apendisitis
8. Mengetahui bagaimana Penatalaksanaan Apendisitis

1.4 Manfaat
1. Mengetahui laporan pendahuluan pada klien Apendisitis
2. Mengetahui laporan asuhan keperawatan tentang Apendisitis
BAB II LAPORAN PENDAHULUAN

2.1 Definisi Apendisitis

Apendisitis adalah peradangan apendiks vermiform yang terjadi sebagian besar dari remaja
dan dewasa mudah. (buku keperawatan medical bedah edisi 8, 2014)

Apendisitis adalah peradangan akibat infeksi pada usus buntu atau umbai cacing (apendiks)
(buku asuhan keperawatan praktis, jilid 1, 2016)

2.3 Klasifikasi

Klasifikasi apendisitis terbagi atas 3 yakni (Asuhan keperawatan praktis, jilid 1, 2016)

1. apendisitis akut merupakan infeksi yang disebabkan oleh bakteria. Dan factor pencetusnya
disebabkan oleh sumbatan lumen apendiks. Selain itu hyperplasia jaringan limf, fikalit
(tinja/batu), tumor apendiks, dan cacing askaris yang dapat menyebabkan sumbatan dan
juga erosi mukosa apendiks karena parasite ([Link])
2. apendisitis rekurens merupakan jika ada riwayat nyeri berulang diperut kanan bawah yang
mendorong dilakukanya apendiktomi. Kelainan ini terjadi bila serangan apendisitis akut
pertama kali sembuh spontan. Namun apendisitis tidak pernah kembali kebentuk aslinya
karena terjadi fibrosis dan jaringan parut.
3. apendisitis kronis, memiliki semua gejala riwayat nyeri perut kanan bawah lebih dari dua
minggu, radang kronik apendiks secara makroskopik dan mikroskopik (fibrosis
menyeluruh di dinding apendiks, sumbatan parsial atau lumen apendiks, adanya jaringan
parut dan ulkus lama di mukosa dan infiltasi sel inflamasi kronik), dan keluhan menghilang
setelah apendiktomi.

2.4 Etiologi

[Link] lumen apendiks


 Feses menjadi keras {fecaith}. (Adhar, dkk, 2017)
 Hiperplasia dari folikel limfoid
 Benda asing {Biji cabai,bji jeruk}
 Tumor apendiks
[Link] kuman dalam lumen apendiks {[Link]}

Adanya fecolith dalam lumen apendiks yang telah terinfeksi dapat memperburuk
dan memperberat infeksi karena peningkatan stagnasi feses dalam lumen apendiks, pada
kultur yang banyak ditemukan adanya kombinasi antara bacteriodes fragilis dan [Link],
splanchius, lacto-bacillus, pseudomonas, bacteriodes splanicus. (buku keperawatan
medical bedah, jilid 1, 2016)

2.5 Manifestasi klinis

Menurut Dermawan (2010), appendicitis memiliki gejala kombinasi yang khas, yag terdiri atas :

1. Perpindahan nyeri dari ulu hati ke perut kanan bawah

2. Nyeri perut kanan bawah

3. Mual

4. Muntah

5. Nafsu makan menurun

6. Anoreksia

5. Demam diatas 37,5oC

6. Kulit terasa hangat,

8. Bising usus hiperaktif,

9. Membrane mukosa pucat,

2.6 Patofisiologi

Pada obstruksi lumen apendiks yaitu fecalith atau feses yang keras, hiperplasia dari folikel limfoid,
benda asing (biji cabai, biji jeruk), tumor apendiks maka terjadi hambatan pada apendiks
proksimal, maka akan terjadi peningkatan sekresi dari mukosa apendiks sehingga menyebabkan
distensi pada lumen apendiks sehingga mukus yang diproduksi mukosa mengalami bendungan
sehinga terjadi peningkatan tekanan intra lumen dan di ikuti penekanan pembuluh darah lumen
dan terjadi iskemia jaringan sehingga terjadi kematian sel atau nekrosis dan menyebabkan
inflamasi apendiks dan terjadi apendisitis.

Pada infeksi kuman dari apendiks yaitu [Link] dan terjadi akumulasi kuman didalam apendiks,
reaksi antigen dengan IgA dan IgA tidak dapat melawan antigen kuman sehingga apendiks
mengalami inflamasi dan terjadi apendisitis.

2.7 Komplikasi

Menurut Dermawan, (2010), apendisitis memiliki gejala kombinasi yang khas, yang terdiri atas :

a. Perforasi apendiks

perforasi jarang terjadi dalam 8 jam pertama, observasi aman untuk dilakukan dalam masa
tersebut. Tanda-tanda perforasi meliputi meningkatnya

1. nyeri
2. spasme otot dinding perut kuadran kanan bawah dengan tanda peritonisis atau abses yang
terlokalisasi
3. ileus, kondisi medis yang ditandai dengan kelumpuhan pada otot usus
4. demam
5. malaise, suatu kondisi dimana tubuh mengalami sejumlah gejala seperti lemas, lelah, dan
pegal-pegal.
6. leokositosis, suatu kondisi dimana terjadi peningkatan sel darah putih (leukosit) di dalam
darah, dari batas nilai normal

b. Peritonitis abses

Bila terjadi peritonisis umum terapi spesifik yang dilakukan adalah operasi untuk menutup asal
perforasi. Bila terbentuk abses apendiks akan teraba masa di kuadran kanan bawah yang cenderung
menggelembung kearah rektum atau vagina.

c. Dehidrasi, keluarnya cairan tubuh dalam jumlah signifikan yang mengganguu fungsi tubuh

normal.

d. Sepsis, kondisi medis yang disebabkan timbulnya peradangan karena infeksi


e. Elektrolit darah tidak seimbang,

g. Pneumonia, kondisi inflamasi pada paru-paru yang mempengaruhi kantung-kantung udara atau

alveolus yang disebabkan oleh infeksi virus atau bakteri.

2.8 Pemeriksaan Penunjang

1. Laboratorium

Terdiri dari pemeriksaan darah lengkap dan C-reactive protein (CRP).

 Pada pemeriksaan darah lengkap ditemukan jumlah leukosit antara 10.000-18.000/mm),


neutrofil diatas 75% karena terjadi leukositosis ringan.
 Pada CRP ditemukan jumlah serum meningkat. CRP adalah salah satu komponen protein
fase akut yang akan meningkat 4-6 jam setelah terjadinya proses inflamasi, dapat dilihat
melalui proses elektroforesis serum protein. Angka sensitivitas dan spesifisitas CRP yaitu
80%-90%

2. Radiologi

 Tediri dari pemeriksaan ultrasonografi (USG). Pada pemeriksaan USG ditemukan bagian
memanjang pada tempat yang terjadi inflamasi pada [Link] akurasi USG 90%-
94% dengan angka sensitivitas dan spesifisitas yaitu 85% dan 92%
 Pada pemerksaan CT-Scan{Computed Tromography Scanning}ditemukan bagian yang
menyilang dengan fekalith dan perluasan dari apendiks yang mengalami inflamasi serta
adanya pelebaran sekum. CT-Scan mempunyai tingkat akurasi 94%-100% dengan
sensitivitas dan spesifisitas yang tinggi yaitu 90%-100% dan 96%-97%

3. Analisa urin

Bertujuan untuk mendiagnosa batu ureter dan kemungkinan infeksi saluran kemih sebagai
akibat dari nyeri perut bawah. Pada pemeriksaan ini untuk mengetahui apakah klien mengalami
apendisitis atau ISK karena keluhan yang dirasakan hampir sama yaitu nyeri pada abdomen
bagian bawah.
4. Pengukuran enzim hati dan tingkatan amilase membantu mendiagnosa peradangan hati,
kandung empedu, dan [Link] pemeriksaan ini untuk mengetahui apakah klien mengalami
apendisitis atau terjadi peradangan pada hati.

5. Serum beta human Chorionic Gonadototrophin (B-HCO) untuk memeriksa adanya


kemungkinan kehamilan. Pada pemeriksaan ini untuk mengetahui apakh klien mengalami
apendisitis atau kehamilan karena keluhan yang dirasakan hampir sama yaitu mual, muntah, dan
nafsu makan menurun

6. Pemeriksaan barium enema untuk menentukan lokasi sekum pemeriksaan barium enema dan
colosnocopy merupakan pemeriksaan awal untuk kemungkinan karsinoma colon (kanker usus)

7. Pemeriksaan foto polos abdomen tidak menunjukan tanda pasti apendisitis, tetapi mempunyai
arti penting dalam membedakan apendisitas dengan obstruksi usus halus atau buntu ureter kanan.

8. Biopsy ginjal bisa menunjukan salah salah satu bentuk glomerulonephritis kronis atau
pembentukan jaringan pana yang tidak spesifik pada glomeruli (Betz, 2009)

3.9 Penatalaksanaan

a. Penatalaksanaan keperawatan
- Mengobservasi lokasi, kualitas, pencetus, waktu dari nyeri yang dialami oleh klien
apendisitis
- Memberikan posisi semi fowler pada klien apendisitis dengan keluhan nyeri
- Mengobservasi suhu tubuh klien apendisitis dengan keluhan demam
- Melakukan kompres air hangat pada klien apendisitis dengan keluhan demam
- Memberikan makanan tinggi serat untuk mencegah terjadi konstipasi
b. Penatalaksanaan medis
- Memberikan analgesic untuk mengurangi nyeri
- Memberikan tambahan cairan dan elektrolit intravena
- Memberikan antibiotic untuk mencegah terjadinya infeksi
- Melakukan tindakan pembedahan (apediktomi)
BAB III ASUHAN KEPERAWATAN
3.1 Kasus teori

a. Identifikasi
 Jenis kelamin :
Menurut Indri U, dkk (2014), mengatakan risiko jenis kelamin pada kejadian
penyakit apendisitis terbanyak berjenis kelamin laki-laki dengan presentase 72,2%
sedangkan berjenis kelamin perempuan hanya 27,8%. Hal ini dikarenakan laki-laki
lebih banyak menghabiskan waktu diluar rumah untuk bekerja dan lebih cenderung
mengkonsumsi makanan cepat saji, sehingga hal ini dapat menyebabkan beberapa
komplikasi atau obstruksi pada usus yang bisa menimbulkan masalah pada sistem
pencernaan salah satunya yaitu apendisitis.

 Usia :
Apendisitis bisa terjadi pada semua usia namun jarang terjadi pada usia dewasa
akhir dan balita, kejadian apendisitis ini meningkat pada usia remaja dan dewasa. Usia
20 – 30 tahun bisa dikategorikan sebagai usia produktif, (Adhar, dkk, 2017)
b. Keluhan utama :Mengeluh nyeri dari ulu hati ke perut kanan bawah, tampak meringis,
gelisah, frekuensi nadi meningkat, nafsu makan berubah.
c. Keluham lain : Suhu tubuh diatas nilai normal, kulit terasa hangat, bising usus hiperaktif,
membran mukosa pucat,
d. Riwayat penyakit dahulu : klien sering mengeluh nyeri perut setelah memakan makanan
yang pedas
e. Riwayat penyakit keturunan : apendisitis tidak merupakan penyakit dari genetik
f. Pemeriksaan fisik :
 B1 (Breath)
Inspeksi : Pernapasan cuping hidung kadang terlihat, pergerakan dada simetris
Palpasi : Vocal premitus teraba, tidak terdapat nyeri tekan
Perkusi : Suara sonor
Auskultasi : Terdengar bunyi nafas normal, tidak terdengar bunyi nafas tambahan
 B2 (Blood) :
Perkusi pekak, frekuensi nadi<100% dari kondisi istirahat, tekanan darah
meningkat dari nilai normal 110/80mmHg – 130/80 mmHg, suhu tubuh meningkat
dari nilai normal (36,5oC – 37,5oC)
 B3 (Brain) :
Composmentris, GCS 456, respon verbal pada perpindahan nyeri dari ulu hati ke
perut kanan bawah, respon nonverbal pada perpindahan nyeri dari ulu hati ke
perut kanan bawah.
 B4 (Bladder) :
P: saat, BAK, Q: ditusuk-tusuk, R : Abdomen, S : 3 , T : Hilang timbul
 B5 (Bowel) :
Nyeri pada perut bagian kanan mual, muntah, anoreksia
 B6 (Bone) :
Kaki kanan dan kiri tampak simestris, tangan kanan dan kiri tampak simestris,
Akral teraba hangat, kapilari refill <2 detik

3.2 Data Penunjang

1. Laboratorium

Terdiri dari pemeriksaan darah lengkap dan C-reactive protein (CRP).

 Pada pemeriksaan darah lengkap ditemukan jumlah leukosit antara 10.000-18.000/mm),


neutrofil diatas 75% karena terjadi leukositosis ringan.
 Pada CRP ditemukan jumlah serum meningkat. CRP adalah salah satu komponen protein
fase akut yang akan meningkat 4-6 jam setelah terjadinya proses inflamasi, dapat dilihat
melalui proses elektroforesis serum protein. Angka sensitivitas dan spesifisitas CRP yaitu
80%-90%

2. Radiologi

 Tediri dari pemeriksaan ultrasonografi (USG). Pada pemeriksaan USG ditemukan bagian
memanjang pada tempat yang terjadi inflamasi pada [Link] akurasi USG 90%-
94% dengan angka sensitivitas dan spesifisitas yaitu 85% dan 92%
 Pada pemerksaan CT-Scan {Computed Tromography Scanning}ditemukan bagian yang
menyilang dengan fekalith dan perluasan dari apendiks yang mengalami inflamasi serta
adanya pelebaran sekum. CT-Scan mempunyai tingkat akurasi 94%-100% dengan
sensitivitas dan spesifisitas yang tinggi yaitu 90%-100% dan 96%-97%
3. Analisa urin

Bertujuan untuk mendiagnosa batu ureter dan kemungkinan infeksi saluran kemih sebagai
akibat dari nyeri perut bawah. Pada pemeriksaan ini untuk mengetahui apakah klien mengalami
apendisitis atau ISK karena keluhan yang dirasakan hampir sama yaitu nyeri pada abdomen
bagian bawah.

4. Pengukuran enzim hati dan tingkatan amilase membantu mendiagnosa peradangan hati,
kandung empedu, dan pancreas. Pada pemeriksaan ini untuk mengetahui apakah klien mengalami
apendisitis atau terjadi peradangan pada hati.

5. Serum beta human Chorionic Gonadototrophin (B-HCO) untuk memeriksa adanya


kemungkinan kehamilan. Pada pemeriksaan ini untuk mengetahui apakh klien mengalami
apendisitis atau kehamilan karena keluhan yang dirasakan hampir sama yaitu mual, muntah, dan
nafsu makan menurun

6. Pemeriksaan barium enema untuk menentukan lokasi sekum pemeriksaan Barium enema dan
colosnocopy merupakan pemeriksaan awal untuk kemungkinan karsinoma colon (kanker usus)
7. Pemeriksaan foto polos abdomen tidak menunjukan tanda pasti apendisitis, tetapi mempunyai
arti penting dalam membedakan apendisitas dengan obstruksi usus halus atau buntu ureter kanan.
8. Biopsy ginjal bisa menunjukan salah salah satu bentuk glomerulonephritis kronis atau
pembentukan jaringan pana yang tidak spesifik pada glomeruli (Betz, 2009)
3.3 Analisa data
Masalah yang mungkin muncul
1. Nyeri akut
2. Hipertermi
3. Defisit nutrisi
4. Risiko ketidakseimbangan cairan
5. Gangguan eliminasi urin
6. Hambatan mobilitas fisik
7. Ansietas
8. Defisit pengetahuan
NO DATA ETIOLOGI MASALAH
1 DS : Infeksi Nyeri akut
- Mengeluh nyeri dari
ulu hati ke perut kanan
bawah
- P : saat BAK
- Q : Ditusuk-tusuk
- R : abdomen
- S:3
- T : hilang timbul
DO :
- Tampak meringis
- Gelisah
- Frekuensi nadi
meningkat
- Tekanan darah
meningkat
- Nafsu makan berubah
2 DS : Infeksi Hipertermi
DO :
- Suhu tubuh diatas nilai
normal
- Kulit terasa hangat
3 DS : Infeksi Defisit nutrisi
- Mengeluh nyeri
abdomen bagian kanan
bawah
- Nafsu makan menurun
DO :
- Bising usus hiperaktif
- Membran mukosa
pucat
(buku standar diagnosis keperawatan indonesia, edisi 1, 2017)
3.4 Rumusan diagnosa keperawatan

1. Nyeri akut berhubungan dengan infeksi dibuktikan dengan mengeluh nyeri dari ulu
hati ke perut kanan bawah, P : saat BAK, Q : Ditusuk-tusuk, R : abdomen, S : 3, T :
hilang timbul, tampak meringis, gelisah, frekuensi nadi meningkat, tekanan darah
meningkat, nafsu makan berubah
2. Hipertemi berhubungan dengan proses infeksi dibuktikan dengan Suhu tubuh diatas
nilai normal, kulit terasa hangat.
3. Defisit nutrisi berhubungan dengan infeksi dibuktikan dengan Mengeluh nyeri
abdomen bagian kanan bawah, nafsu makan menurun, bising usus hiperaktif,
membran mukosa pucat.
3.5 Intervensi

DIAGNOSA TUJUAN &


NO KEPERAWATAN KRITERIA INTERVENSI RASIONAL
HASIL
1 Nyeri akut LUARAN INTERVENSI RASIONAL
berhubungan UTAMA UTAMA MANAJEMEN NYERI
dengan infeksi TINGKAT MANAJEMEN
dibuktikan dengan NYERI NYERI
mengeluh nyeri
dari ulu hati ke Setelah dilakukan 1. O : identifikasi 1. O : lokasi dan
perut kanan bawah, tindakan lokasi, kualitas kualitas nyeri sangat
P : saat BAK, Q : keperawatan nyeri berpengaruh dalam
Ditusuk-tusuk, R : selama 3x24 jam pemberian
abdomen, S : 3, T : masalah tingkat pengobatan yang
hilang timbul, nyeri menurun akan diberikan
tampak meringis, dengan kriteria kepada klien
gelisah, frekuensi hasil : 2. O : identifikasi
nadi meningkat, 1. Keluhan skala nyeri 2. O : mengetahui skala
tekanan darah nyeri nyeri berpengaruh
meningkat, nafsu menurun terhadap pengobatan
makan berubah 2. Meringis yang akan diberikan
menurun
3. Gelisah 3. T : berikan 3. T : kompres dengan
menurun teknik air hangat dapat
4. Anoreksia nonfarmakologi membantu
menurun misalnya melonggarkan dan
5. Muntah dengan mengendurkan otot,
menurun mengkompres sehingga rasa nyeri
6. Mual air hangat pada perut berkurang
menurun
7. Frekuensi 4. E : jelaskan 4. E : pengetahuan klien
nadi penyebab nyeri dan keluarga menjadi
membaik kooperatif
(60-
100x/menit) 5. K : kolaborasi 5. K : pemberian obat
8. Tekanan dengan dokter analgesik termasuk
darah dalam obat anti-inflamasi
membaik pemberian yang dapat
(110/80 analgesik mengurangi atau
mmHg – meredakan rasa nyeri
130/80
mmHg)
9. Nafsu
makan
membaik

2 Hipertemi LUARAN INTERVENSI RASIONAL


berhubungan UTAMA UTAMA MANAJEMEN
dengan proses TERMOGULASI MANAJEMEN HIPERTERMI
infeksi dibuktikan HIPERTERMI
dengan Suhu tubuh Setelah dilakukan
diatas nilai normal, tindakan 1. O : identifikasi 1. O : mengetahui
kulit terasa hangat. keperawatan penyebab penyebab dari suhu
selama 3x24 jam hipertermi tubuh lebih dari batas
masalah misalnya normal, sehingga
termogulasi dapat dehidrasi dapat melakukan
membaik dengan tindakan pengobatan
kriteria hasil : pada klien
1. Pucat
menurun 2. O : mengetahui suhu
dibatas normal untuk
2. Takikardi 2. O : monitor pengobatan yang
menurun suhu tubuh akan diberikan
3. Suhu tubuh
membaik 3. T : mengatur suhu
(36,5oC – ruangan yang dingin
37,5oC) bisa menyebabkan
4. Suhu kulit 3. T : sediakan terjadinya evaporasi
membaik lingkungan sehingga terjadi
5. Tekanan dingin penurunan suhu
darah tubuh di batas nilai
membaik normal
(110/80
mmHg- 4. T :terjadi evaporasi
130/80 sehingga terjadi
mmHg) penurunan suhu

4. T : longgarkan 5. E :memberikan
atau lepaskan istirahat yang cukup
pakaian
6. K : pemberian cairan
5. E : ajurkan atau elektrolit pada
tirah baring klien agar tidak
terjadi dehidrasi atau
kekurangan cairan
6. K : kolaborasi pada tubuh
pemberian
cairan dan
elektrolit
intravena
3 Defisit nutrisi LUARAN INTERVENSI RASIONAL
berhubungan UTAMA UTAMA MANAJEMEN NUTRISI
dengan infeksi STATUS MANAJEMEN
dibuktikan dengan NUTRISI NUTRISI
Mengeluh nyeri 1. O : mengetahui
abdomen bagian Setelah dilakukan 1. O : identifikasi kebutuhan nutrisi
kanan bawah, nafsu tindakan status nutrisi yang akan diberikan
makan menurun, keperawatan sehingga perlu
bising usus selama 3x24 jam mengetahui status
hiperaktif, masalah status nutrisi pada klien
membran mukosa nutrisi dapat
pucat. membaik dengan 2. O : identifikasi 2. O :dengan
kriteria hasil : makanan yang memberikan
1. Porsi disukai makanan yang
makan yang disukai oleh klien,
dihabiskan diharapkan selera
meningkat nafsu makan pada
2. Nyeri klien menjadi
abdomen meningkat sehingga
menurun kebutuhan asupan
3. Frekuensi nutrisi yang
makan diperoleh dapat
membaik bertambah/meningkat
4. Nafsu 3. T : agar tidak terjadi
makan 3. T : berikan konstipasi sehingga
membaik makanan tinggi klien dapat BAB
5. Bising usus serat untuk lancer dan tidak
membaik mencegah mengalami nyeri
6. Membran konstipasi perut
mukosa
membaik
4. E : anjarkan 4. E :mengkaji
diet yang kebutuhan intervensi
diprogramkan dank lien lebih
kooperatif

5. K : kolaborasi 5. K : pemberian
pemberian medikasi bisa
medikasi meredakan nyeri
sebelum
makan,
misalnya
Pereda nyeri

6. K : kolaborasi
dengan ahli gizi
untuk 6. K : ahli gizi bisa
menentukan menentukan jumlah
jumlah kalori kalori dan jenis
dan jenis nutrien yang
nutrien yang dibutuhkan oleh klien
dibutuhkan sehingga klien nafsu
makan meningkat

(buku standar intervensi keperawatan indonesia, edisi 1, 2018)


DAFTAR PUSAKA
Arifuddin Adhar, dkk. (2017). FAKTOR RISIKO KEJADIAN APENDISITIS DI BAGIAN
RAWAT INAP RUMAH SAKIT UMUM ANUTAPURA PALU. Palu : Preventif. Vol, 08, No, 01
Indri Ummami Vanesa, dkk. (2014). HUBUNGAN ANTARA NYERI, KECEMASAN DAN
LINGKUNGAN DENGAN KUALITAS TIDUR PADA PASIEN POST OPERASI
[Link] : JOM PISK. Vol, 01 No, 02
Suryawinata Kidyarto. (2010). Penyakit Crohn - diagnosis histopatologi pasca operasi
dengan indikasi apendisitis akut. Jakarta :Damianus. Vo,09. No, 01

Anda mungkin juga menyukai