0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
31 tayangan3 halaman

Perbandingan MoU dan Perjanjian Hukum

Dokumen tersebut membandingkan MoU (Memorandum of Understanding) dan perjanjian menurut KUHPer. MoU di Indonesia tidak diatur secara khusus oleh KUHPer, berbeda dengan perjanjian yang syarat sahnya diatur pasal 1320-1337 KUHPer. MoU bersifat moral sedangkan perjanjian bersifat mengikat secara hukum.

Diunggah oleh

Grafita Dyah
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai PDF, TXT atau baca online di Scribd
0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
31 tayangan3 halaman

Perbandingan MoU dan Perjanjian Hukum

Dokumen tersebut membandingkan MoU (Memorandum of Understanding) dan perjanjian menurut KUHPer. MoU di Indonesia tidak diatur secara khusus oleh KUHPer, berbeda dengan perjanjian yang syarat sahnya diatur pasal 1320-1337 KUHPer. MoU bersifat moral sedangkan perjanjian bersifat mengikat secara hukum.

Diunggah oleh

Grafita Dyah
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai PDF, TXT atau baca online di Scribd

Grafita Dyah Ayu Kusumastuti

1706024311
Kontrak Dagang - Paralel

No. Mou Perjanjian


1. Tidak dikenal didalam KUHPer Dikenal dan diatur didalam
KUHPer
2. Perjanjian pendahuluan Perjanjian
3. Hanya mengikat secara moral/ gentle agreement Mengikat secara formal dan
memaksa.
4. Berisi hal-hal pokok saja Berisi perjanjian yang telah diatur
secara spesifik
5. Tidak mengikat kecuali telah memenuhi Pasal Mengikat para pihak
1320 atau syarat sahnya perjanjian

Analisis Perbedaan

1. MoU Memorandum of understanding (MoU) jika diterjemahkan kedalam bahasa


indonesia dalam berbagai istilah, antara lain adalah "nota kesepakatan", "nota
kesepahaman", "perjanjian kerja sama", "perjanjian pendahuluan". Namun, hal ini
semacam ini tidak dikenal didalam Kitab Undang-Undang Hukum Perdata.
Sebaliknya, suatu Perjanjian dikenal didalam Kitab Undang-undang Hukum
Perdata. Dimana suatu syarat sahnya perjanjian telah diatur didalam Pasal 1320 dan
telah dijabarkan secara spesifik dalam Pasal 1321 – 1337 KUHPer.
2. Dalam Black’s Law Dictionary, yang dimaksud memorandum adalah: “Is to serve
as the basic of future formal contract or deed”, Yang artinya adalah dasar untuk
memulai penyusunan kontrak atau akta secara formal pada masa datang. I. Nyoman
sudana, mengartikan memorandum of understanding sebagai suatu perjanjian
pendahuluan, dalam arti akan diikuti perjanjian lainnya. Masing-masing pihak
melakukan penandatanganan MoU sebagai suatu pedoman awal tanda adanya suatu
kesepahaman diantara mereka. Sedangkan suatu perjanjian, sudah berisi hal-hal
yang telah diatur secara jelas dan mengikat bagi para pihak jika Pasal-pasal
mengenai syarat sahnya perjanjian telah terpenuhi dan hal-hal yang spesifik telah
diatur didalam suatu perjanjian.
3. Sebuah MoU yang dibuat oleh para pihak dapat memunculkan suatu konsekuensi
hokum. Di satu sisi MoU hanya mengikat sebatas ikatan moral belaka (gentle
agreement) dengan batasan tidak dicantumkannya hak dan kewajiban dari para
pihak, sehingga tidak ada unsur hokum yang melekat didalamnya. Namun, MoU
juga dapat mengikat para pihak seperti layaknya undang-undang (agreement is
agreement) dengan dasar adanya unsur hak dan kewajiban yang juga dicantumkan
didalam MoU sehingga ada unsur hokum yang melekat didalamnya dan harus ada
pemenuhan prestasi oleh satu pihak terhadap pihak yang lainnya yang memiliki hak
dan kewajiban seperti yang tertuang dalam Pasal 1338 KUHPer.
4. MoU merupakan pencatatan atau pendokumentasian hasil negosiasi awal dalam
bentuk tertulis. Menurut Munir Fuady untuk pembuatan dan penggunaannya serta
tujuan pengaplikasiannya dilapangan, sebenarnya ada beberapa alasan mengapa
dibuat MoU terhadap suatu transaksi bisnis yaitu salah satunya adalah karena
masing-masing pihak dalam perjanjian masih ragu-ragu dan masih perlu waktu
untuk piker-pikir dalam hal menandatangani suatu kontrak, sehingga untuk
pedoman awal dibuatlah Memorandum of Understanding
5. Ketentuan Pasal 1338 KUHPer telah menjadi dasar hukum bagi kekuatan mengikat
suatu Mou yang telah dibuat. Menurut pasal 1338, setiap perjanjian yang dibuat
secara sah berlaku sebagai undang-undang bagi para pembuatnya. Dengan kata lain
jika MoU itu telah dibuat secara sah, memenuhi syarat-syarat sahnya perjanjian
sebagaimana disebut dalam pasal 1320 sampai Pasa l337 maka kedudukan dan/atau
keberlakuan MoU bagi para pihak dapat disamakan dengan sebuah undang-undang
yang mempunyai kekuatan mengikat dan memaksa. Sedangkan suatu Perjanjian
yang telah dibuat dan berdasarkan aturan Pasal 1320 -1337 akan secara otomatis
mengikat para pihak yang membuatnya.
DAFTAR PUSTAKA

Sanusi Bintang dan Dahlan, 2000, Pokok-Pokok Hukum Ekonomi dan Bisnis, Bandung: Citra
Aditya Bakti.

Munir Fuady, 2002, Hukum Bisnis dalam Teori dan Praktek, Buku keempat Bandung: Citra
Aditya Bakti.

Salim HS, 2003, Perkembangan Hukum Kontrak Innominant di Indonesia, Sinar Grafika,
Jakarta.

Salim HS, H. Abdullah, Wiwik Wahyuningsih, 2008, Perancangan Kontrak & Memorandum
Of Understanding, Sinar Grafika, Jakarta.

Anda mungkin juga menyukai