0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
464 tayangan10 halaman

Sistem Pertanian Tiga Strata (STS)

Sistem Pertanian Tiga Strata (STS) merupakan sistem penanaman yang terdiri dari tiga stratum (lapisan) tanaman untuk menyediakan hijauan pakan ternak sepanjang tahun. Stratum pertama berisi rumput dan legum-leguman yang menjalar, stratum kedua berisi semak legum, dan stratum ketiga berisi pohon-pohonan legum. STS dapat meningkatkan ketersediaan dan mutu hijauan serta menyediakan hijauan pakan tern

Diunggah oleh

Sinta S N
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd
0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
464 tayangan10 halaman

Sistem Pertanian Tiga Strata (STS)

Sistem Pertanian Tiga Strata (STS) merupakan sistem penanaman yang terdiri dari tiga stratum (lapisan) tanaman untuk menyediakan hijauan pakan ternak sepanjang tahun. Stratum pertama berisi rumput dan legum-leguman yang menjalar, stratum kedua berisi semak legum, dan stratum ketiga berisi pohon-pohonan legum. STS dapat meningkatkan ketersediaan dan mutu hijauan serta menyediakan hijauan pakan tern

Diunggah oleh

Sinta S N
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd

SISTEM PERTANIAN TIGA STRATA

Oleh :

Kelompok 3

I Gst Ngurah Cakrayuda 1806541086

I Wayan Tirta Handika Yasa 1806541088

Sinta Sulvia Ningtyas 1806541069

Stefania Dergong 1806541097

PROGRAM STUDI AGROEKOTEKNOLOGI

FAKULTAS PERTANIAN

UNIVERSITAS UDAYANA

JIMBARAN

2019
BAB l

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

Sistem pertanian terpadu merupakan kegiatan memadukan pertanian dan peternakan. Salah satu
contoh dari sistem pertanian terpadu adalah Sistem Tiga Strata(STS). Sistem tiga Strata
merupakan suatu cara penanaman serta pemangkasanrumput, leguminosa, semak, dan pohon
sehingga hijauan tersedia sepanjang [Link] pertama terdiri dari tanaman rumput potongan
dan legume herba/ menjalar (sentro, kalopo, arachis, dll.) yang disediakan bagi ternak pada
musim [Link] kedua terdiri dari tanaman legume perdu/ semak (alfalfa, stylosanthes,
desmodium rensonii, dll.) yang disediakan bagi ternak apabila rumput sudah mulai berkurang
produksinya pada awal musim kemarau. Bagian ini dibagi petak masing-masing 46 meter persegi
( lebar 5 m dan panjang 9 m ). Stratum tiga terdiri darilegume pohon (gamal, lamtoro, kaliandra,
turi, acasia, sengon, waru, dll.) yang dapatdimanfaatkan untuk berbagai fungsi. Selain untuk
pakan pada musim kemarau panjang, tanaman tersebut juga dapat digunakan sebagai tanaman
pelindung dan pagar kebun hijauan makanan ternak maupun kayu bakar. musim hujan, dapat
diterapkan pada pertanian lahan kering dengan topografi yangdatar atau miring. Tujuan
pertanaman STS adalah menyediakan hijauan pakan danmenjaga kelestarian ekosistem
sepanjang tahun. Manfaat dari pertanaman STS secara praktikal adalah meningkatkan
ketersediaan dan mutu hijauan, menyediakan hijauansepanjang tahun, meningkatkan kesuburan
tanah, dan meningkatkan produktivitasternak. Manfaat secara keilmuwan memberikan informasi
mengenai introduksi pertanaman STS. Manfaat secara Institusional memberikan informasi
kepada petani/peternak, peneliti bidang peternakan dan pertanian untuk mengambil
kebijakan pertanaman dengan sistem STS

2
BAB. II

PERMASALAHAN

Permasalahan lahan kering adalah rendahnya kandungan bahan organik,menurunya sifat fisik
tanah, dan kemampuan tanah menyimpan air menurun (Azmietal.,2007 ). Salah satu faktor
pembatas dalam penyediaan hijauan makanan ternak adalah ketersediaan hijauan makanan ternak
pada musim kemarau. Beberapa model sistem pertanaman yang mampu memenuhi pemenuhan
hijauan pakan ternak adalah:strip rumput, penguat teras, tanaman lorong/ Alley cropping , pagar
hidup, dan STS(BPTP, 2011). Sempitnya lahan budidaya, secara langsung akan berdampak
terhadapsistem usahatani dan pada akhirnya akan berakibat rendahnya pendapatan
[Link] yang harus ditempuh agar sistem usahatani tetap berkelanjutan adalah
melakukan usahatani diversifikasi (multi komoditas), antara lain dengan polaintegrasi tanaman
dan ternak melalui sistem STS. Dan juga manfaat apa saja yang diperoleh dalam penerapan STS
ini.

3
BAB. III

PEMBAHASAN

Sistem Tiga Strata (STS)

Sistem tiga strata diperkenalkan oleh Nitis di Bali. Tanaman rumput dan Leguminosa yang
menjalar digolongkan strata I, leguminosa semak dan perdudigolongkan strata II, dan
leguminosa pohon digolongkan strata III. Penataan setiapstrata adalah sebagai berikut : strata I
merupakan berupa pohon ditanam paling luar dengan jarak sekitar 5 m, strata II berupa
leguminosa semak perdu yang ditanamadiantaranya, dan strata III, berupa rumput ditanam
dibawahnya berdekatan dengan bidang untuk tanaman pangan (BPTP, 2011). Usaha ternak
terpadu dengan tanamanyang sering dilakukan antara lain Sistem Tiga Strata (STS). Sistem tiga
strata adalahsistem penanaman dan pemotongan rumput, leguminosa, semak dan pohon
sehinggahijauan makanan ternak tersedia sepanjang tahun (Azmiet al., 2007).

Ilustrasi I.

4
Pola Integrasi Sistem Tiga [Link] 1 yang terdiri dari rumput dan legum unggul
menyediakan hijauanmakanan ternak pada 4 bulan musim hujan, stratum 2 yang terdiri dari
semak legume menyediakan hijauan makanan ternak pada 4 bulan awal musim kering,
sedangkanstratum 3 yang terdiri dari pohon pakan menyediakan hijauan makanan ternak pada 4
bulan akhir musim kering. Pada STS integrasikan tanaman legum diharapkan perbaikan
kesuburan lahan karena sumbangan nitrogen dari nodul pada akar dan gizidari hijauan pakan
ternak lebih baik (Nitiset al ., 2000). Lahan atau tanah merupakansumberdaya alam fisik yang
mempunyai peranan penting dalam segala kehidupanmanusia, karena lahan atau tanah
diperlukan manusia untuk tempat tinggal dan hidup,melakukan kegiatan pertanian, peternakan,
perikanan, kehutanan, pertambangan dansebagainya. Pendayagunaan lahan atau tanah
memerlukan pengelolaan yang tepat dansejauh mungkin mencegah dan mengurangi kerusakan
dan dapat menjaminkelestarian sumber daya alam tersebut untuk kepentingan generasi yang akan
[Link] sistem lingkungan tanah, usaha-usaha yang perlu dikerjakan ialah rehabilitasi,
pengawetan, perencanaan dan pendayagunaan tanah yang optimum (Hasnudiet al .,2004).
Penerapan STS adalah terpadu antar tanaman pangan, tanaman perkebunandan ternak. Dengan
integrasi ini maka pengawasan STS lebih baik, karena petanisetiap hari pergi ke ladang untuk
mengawasi tanaman palawijanya, tanaman palawijatidak diganggu oleh ternak karena dipagari
oleh STS, ternak tidak perludigembalakan karena STS Menyediakan pakan, adanya pupuk
kandang dan tanamanlegum pada STS dan kebutuhan petani sehari-hari dipenuhi oleh hasil
palawija,sedangkan kebutuhan mendadak dipenuhi dari penjualan ternak. Tanaman pada strata1
dan 2 dibiarkan tumbuh dan berkembang dan baru dipangkas pada akhir tahun 1;sedangkan
tanaman pada stratum 3 baru dipangkas pada akhir tahun ke 2. Ternak diintegrasikan pada awal
tahun ke 3

Produktivitas Lahan, Hijauan dan Ternak pada Sistem STS

Produksi pakan hijauan STS 91% lebih tinggi dari Sistem Tradisional. Erosilahan 57% lebih
rendah, karena strata 2 dan 3 menahan batu dan kerikil, sedangkanstrata 1 menahan tanah. Unsur
hara dalam bentuk N 75% lebih tinggi, bahan organik 13% lebih tinggi dan humus 23% lebih
tinggi (Nitis et al., 2000). Erosi lahan dan air hujan dapat dikurangi karena perakaran yang kuat
dan dalam dari strata 2 dan 3 dapat,daun rimbun dari strata 1, 2 dan 3 dapat menahan abrasi

5
karena sinar matahari danangin dan ternak yang dikandangkan tidak merusak struktur tanah.
STSmeningkatkan kesuburan lahan dengan bintil-bintil nitrogen dari tanaman legum,humus dari
akar dan daun yang melapuk dan pupuk kandang dari kotoran ternak.

Produksi Hijauan STS

Pertambahan berat badan ternak lebih tinggi pada pemberian pakan denganhijauan legum yang
lebih banyak dibandingkan yang hanya diberikan rumput [Link]-faktor yang mempengaruhi
pertumbuhan pakan hijauan diantaranya: Iklim,tahan, spesies hijauan, dan manajemen. Pada
lahan kering tanaman pangan makatanaman pangan yang umum berupa palawija (karena padi
terutama ditanamdisawah), prioritas kedua adalah tanaman holtikultura, dengan demikian
hijauan pakan untuk ternak berasal dari limbah pertanian tanaman palawija, gulma, peperduan
dan pepohonan. Peperduan yang penting adalah merry gold, lantanacamara, kaliandra dan
lamtoro, sedangkan pepohonan yang potensial adalah albizia,nangka, mindi dan sebagainya.
Hijauan unggul ditanam dibibir teras, lereng teras dandibatas-batas tanah, juga tebing-tebing dan
selokan-selokan serta pinggir-pinggir jalan (Hasnudiet al ., 2004). Hasil penelitian Azmi dan
Gunawan (2007) yangmenerapkan STS dengan ternak kambing bahwa produksi jagung dengan
perlakuankompos 1,89 ton sedangkan tanpa kompos 1,60 ton.

Penyediaan Pakan Sepanjang Tahun

Pada lahan hutan produksi lahan lebih terbuka untuk pengembangan hijauan pakan yaitu : pada
periode-periode permulaan, sebagai usaha diversifikasi kehutananuntuk menghasilkan hijauan
pakan kualitas unggul (lamtoro, kaliandra, albizia) secarakomersial, pengembangan hijauan
pakan ditepi-tepi hutan, baik berupa daerah penyangga maupun sekedar sebagai pasar hidup
(Hasnudiet al ., 2004). Komposisi botani pakan hijuan yang diberikan ternak pada 4 bulan musim
hujan sebagian besar terdiri dari rumput dan legum, pada 4 bulan awal musim kering sebagian
besar terdiridari daun semak, sedangkan pada 4 bulan akhir musim kering sebagian besar
terdiridari daun pohon pakan ( Nitiset al ., 2000)

6
Manfaat STS

a. Meningkatkan persediaan dan mutu hijauan makanan ternak


Setiap unit STS terdapat 900 meter persegi rumput dan leguminosa, 2.000 semak dan 42
pohon. Dengan demikian, setiap unit STS akan meningkatkan persediaan hijauan sebesar 48
persen. Daun legumenosa sentrosema, stelo skabra dan stelo verano pada stratum satu; daun
gamal, akasia velosa dan lamtoro pada stratum dua mengandung protein 18–25 persen. Secara
keseluruhan untuk tiap unit, mutu pakan hijauan kan meningkat 10–15 persen.

b. Menyediakan hijauan sepanjang tahun


Dengan memotong stratum satu pada musim hujan, stratum dua pada pertengahan musim
kering dan stratum tiga pada akhir musim kering, maka akan tersedia hijauan makanan ternak
sepanjang tahun.

c. Mempercepat pertumbuhan dan reproduksi ternak


STS mampu mengurangi waktu memelihara ternak. Karena pakan selalu tersedia, maka
ternak tidak perlu digembalakan lagi sehingga waktu yang digunakan untuk menggembala
selama 20–25 menit per harinya dapat digunakan untuk kegiatan lainnya.

d. Meningkatkan daya tampung


Dengan banyaknya persediaan hijauan makanan ternak, maka ternak yang dipelihara bisa
bertambah banyak. Satu unit STS dapat menampung satu ekor sapi atau 6 ekor kambing.

e. Meningkatkan kesuburan tanah


Pada sistem peternakan tradisional, sapi digembalakan pada waktu siang hari, sehingga
kotorannya tersebar tidak teratur. Sedangkan STS, sapi dikandangkan sehingga kotorannya dapat
disebarkan merata pada lahan yang ditentukan. Akar-akar sentrosema, stelo verano, stelo skabra,
gamal, lamtoro dan akasia vilosa mengandung bintil-bintil nitrogen, yang dapat melepaskan
nitrogen untuk tanaman di sekitarnya. Sedangkan akar dan daun rumput, semak dan pohon yang
melapuk juga bisa meningkatkan humus tanah.

7
f. Mengurangi erosi
Bagian selimut dan pinggir dari STS dapat menahan air hujan di atas tanah sehingga tidak
mengalir dengan deras. Dengan demikian tanah dan batu-batu kecil tidak dihanyutkan oleh air,
sehingga erosi pada tanah miring dapat dikurangi sebesar 45 persen.

g. Menyediakan bibit untuk perluasan STS


Cabang-cabang semak dan pohon yang baik dapat dijadikan stek, rumput dan leguminosa dapat
disapih, atau yang meluas ke bagian inti dapat dicabuti untuk membuat STS yang baru. Pada
tahun ketiga, setiap unit STS dapat dikembangkan menjadi 1–2 STS lagi.

h. Merangsang timbulnya kegiatan penunjang


Rumput dan legumenosa pada stratum satu, semak pada stratum dua, dan pohon pada stratum
tiga berbunga secara bergantian. Bunga ini menyediakan tepung sari dan nektar untuk pe
ternakan lebah madu.

i. Menyediakan Kayu Bakar dan kayu


STS juga berfungsi sebagai penyedia kayu bakar bagi kebutuhan rumah tangga. Setiap
pemangkasan semak ataupun pepohonan, daun-daunnya bisa digunakan untuk pakan ternak
sedangkan cabang-cabangnya dikeringkan untuk dijadikan kayu bakar. Satu unit STS mampu
menyediakan kayu bakar sebanyak 1,6–4,2 ton per tahun. Di samping itu, semak maupun pohon
merupakan tanaman keras (berkayu) yang baik untuk pagar permanen dan sebagai bahan untuk
pembuatan rumah.

8
BAB IV

SIMPULAN DAN SARAN

Simpulan

Sistem Tiga Strata (STS) adalah integrasi tanaman dan ternak berwawasanlingkungan. Dengan
STS produksi tanaman pakan, tanaman pangan, tanaman perkebunan, produksi dan reproduksi
ternak, kesuburan lahan dan kelestarianlingkungan dapat ditingkatkan dan memfasilitasi program
penghijauan dan [Link] STS sebagai alternatif penyedia hijauan pakan yang
berkesinambungantanpa mengabaikan kualitas hijauan. Stocking Rate teknologi integrasi
tanaman jagung dan Gamal dengan ternak kambing pejantan peranakan etawah (PE) dengan
penataan lahan model tiga strata (STS) sebesar 4,84 Satuan Ternak seberat ratarata
50kg/[Link] keterampilan dan efisiensi penggunaan lahan dalam introduksi
STSmemiliki keuntungan. STS dapat memfasilitasi program penghijauan dan reboisasidan dapat
menyediakan komoditi tanaman dan ternak untuk kegiatan agroritual,agrowisata, wisataagro,
agroindustri dan agrobisnis.

Saran

Introduksi STS (sistem Pertanian Tiga Strata) layak dikembangkan sebagai introduksi lahan
pertanian. STS cocok dikembangkan untuk jenis tanah kering

9
DAFTAR PUSTAKA

Agus, S. Pedoman Teknis Perluasan Areal Kebun Hijauan Makanan [Link]


Pertanian, Jakarta.

Azmi dan Gunawan. 2007. Usaha tanaman-ternak kambing melalui sistem [Link]
Pengkajian Teknologi Pertanian Bengkulu, Bengkulu. Seminar NasionalTeknologi Peternakan
dan Veteriner. Hal:[Link]. 2011. Budidaya Hijauan Makanan Ternak. Lembang, Jawa
Barat.

Hasnudi., S. Umar., dan I. Sembiring. 2004. Kumpulan Konsep Sumbang SaranUntuk


Kemajuan Dunia Peternakan Di Indonesia. Jurusan Peternakan, FakultasPertanian, Universitas
Sumatera Utara.

Nitis, I. M., K. Lana., dan A. W. Puger. 2000. Pengalaman pengembangan tanamanternak


berwawasan lingkungan di Bali. Jurusan Nutrisi dan Makanan Ternak,Fakultas Peternakan.
Universitas Udayana, Denpasar, Bali. Seminar NasionalSistem Integrasi Tanaman-Ternak. Hal:
44-52.

10

Anda mungkin juga menyukai