SATUAN ACARA PENYULUHAN
TERAPI BERMAIN MEWARNAI DAN MENYUSUN PUZZLE
DI RUANG ANAK RSUD DR SAM RATULANGI TONDANO
OLEH
1. Santa Agnes Batmomolin 17061105
2. Anggreina Tumangkeng 17061109
3. Gracella Manginsihi 17061173
4. Erika Natalia Sadinda 17061139
5. Tresya Manansang 17061172
6. Cien S. Sambode 17061056
PROGRAM STUDI ILMU KEPERAWATAN
FAKULTAS KEPERAWATAN
UNIVERSITAS KATOLIK DE LA SALLE MANADO
2019
SATUAN ACARA
TERAPI BERMAIN MENYUSUN PUZZLE DAN MENEBAK GAMBAR
A. Latar Belakang
Hospitalisasi merupakan keadaan dimana orang sakit berada pada lingkungan rumah sakit
untukm mendapatkan pertolongan dalam peawatan atau pengobatan dalam perawatan atau
pengobatan sehingga dapat mengatasi atau meringankan [Link] pada umumnya
hospitalisasi dapat menimbulkan ketegangan dan ketakutan serta dapat menimbulkan ketegangan
dan ketakutan serta dapat menimbulkan gangguan emos atau tingkah laku yang mempengaruhi
kesembuhan dan perjalanan penyakit anak selama dirawat dirumah sakit. Hospitalisasi pada anak
akan memberikan dampak negatif seperti trauma, cemas dan ketakutan.
Menurut Diana (2010) bermain adalah kegiatan yang sangat penting bagi perkembangan
dan pertumbuhan anak. Bermain harus dilakukan atas inisiatif anak dan atas keputusan anak itu
sendiri. Bermain harus dilakukan dengan rasa senang, sehingga semua kegiatan bermain yang
menyenangkan akan menghasilkan proses belajar pada anak. Anak-anak berlajar melalui
permainan. Pengalaman bermain yang menyenangkan dengan bahan, benda, anak lain, dan
dukungan orang dewasa mambantu anak-anak berkembang secara optimal.
Terapi Bermain adalah bentuk konseling atau psikoterapi yang menggunakan bermain
untuk berkomunikasi dengan dan membantu orang, terutama anak-anak, untuk mencegah atau
mengatasi tantangan psikososial. Hal ini diduga untuk membantu mereka ke arah yang lebih baik
pertumbuhan sosial, integrasi dan pembangunan. Selain itu terapi bermain dapat didefinisikan
sebagai sarana untuk menciptakan pengalaman hubungan intens antara terapis dan anak-anak atau
anak muda, yang media utama komunikasinya adalah bermain (Wilson, 2012)
Meskipun demikian, anak memiliki persepsi sendiri mengenai bermain dimana bermain
menurut Hurlock dapat di bagi kedalam dua kategori yaitu:
1. Bermain Aktif Dalam permaina aktif kesenagan yang timbul dari apa yang dilakukan individu,
apakah dalam bentuk kesenangan berlari atau membuat sesuatu dengan lilin atau cat. Anak-
anak kurang melakukan kegiatan bermain secara aktif ketika mendekati masa remaja dan
mempunyai tanggung jawab dirumah dan di sekolah serta kurang bertenaga karena
pertumbuhan pesat dan perubahan tubuh.
2. Hiburan Dalam bermain pasif atau hiburan kesenangan diperoleh dari kegiatan orang lain.
Permainan sedikit menghabiskan energy anak yang menikmati temannya ketika bermain
memandang orang atau hewan di televisi, menonton adegan lucu atau membaca buku adalah
bermain tanpa mengeluarkan banyak tenaga tetapi kesenangan hampir dengan anak yang
menghabiskan sejumalah besar tenaganya di tempat olah raga atau tempat bermain
Melihat pentingnya bermain bagi seorang anak terutama anak yang mengalami hospitalisasi,
maka kelompok akan mengadakan terapi bermain dengan sasaran usia sekolah ( 6 tahun sampai 12
tahun) yang berada diruang anak RSUD DR Sam Ratulangi Tondano. Kelompok berharap dengan
diadakannya terapi bermain ini, anak yang dirawat tetap dapat tumbuh dan berkembang secara
optimal sesuai tahap tumbuh kembangnya.
B. Tujuan
a. Tujuan umum
Anak diharapkan dapat melanjutkan tumbuh kembangnya, mengem-bangkan aktifitas
dan kreatifitas melalui pengalaman bermain dan beradaptasi efektif terhadap stress karena
penyakit dan dirawat.
b. Tujuan Khusus
1. Meningkatkan kemampuan, kreatifitas,keterampilan anak
2. Gerakan motorik halusnya lebih terarah
3. Mengembangkan kognitifnya
4. Mampu bersosialisasi dan berkomunikasi dengan teman yang dirawat di ruang yang
sama
5. Mampu mengurangi kejenuhan selama dirawat di RS
6. Mampu beradaptasi secara efektif terhadap stress karena sakit dan dirawat dirumah
sakit
C. Rancangan bermain
Pada kegiatan ini anak diajak bermain puzzle dan tebak gambar, dimana setiap anak akan
menyusun potongan-potongan gambar sesuai dengan gambar yang tersedia dan menebak gambar-
gambar yang disediakan, setelah selesai akan di bawa oleh peserta untuk di evaluasi hasil kegiatan
serta contoh mengembangkan keterampilan.
D. Media dan Alat
1. Puzzle
2. Gambar
E. Sasaran
a. Kelompok usia : sekolah ( 6 tahun sampai 12 tahun)
b. Jumlah anak : orang
c. Kriteria anak :
1. Anak usia Preschool (6 tahun sampai 12 tahun)
2. Anak yang tidak memiliki masalah intoleransi aktivitas
3. Sedang tidak ada tindakan keperawatan / pengobatan
F. Waktu Pelaksanaan
a. Hari / Tanggal : Kamis, 5 Desember 2019
b. Waktu : Pukul 13.30 s/d 14.00 Wita
c. Tempat : Ruang Anak RSUD DR Sam Ratulangi Tondano
Waktu yang dipilih untuk memberikan permainan ini pada anak, yaitu pada saat anak
tersebut sedang santai, atau tidak pada waktu makan dan tidur. Durasi atau lamanya bermain adalah
sekitar 30 menit untuk menghindari anak merasa bosan dengan permainan tersebut.
G. Pengorganisasian
1. Leader : Santa Batmomolin
2. Co Leader : Erika Sadinda
3. Observer : Tresya Manansang
4. Fasilitator : Anggreina Tumangkeng
Gracella Manginsihi
Cien Sambode
H. Desain Bermain
No Terapis Waktu Subjek terapi
1 Persiapan
a. Menyiapkan ruangan bermain 5 menit Ruangan, tempat,
b. Menyetting tempat : duduk melingkar alat, anak
berdampingan dengan anak-anak
c. Menyiapkan alat-alat : Puzzle dan
gambar untuk ditebak
d. Menyiapkan anak
2 Proses :
a. Membuka proses terapi bermain dengan 2 menit Menjawab salam,
mengucapkan salam, memperkenalkan Memperkenalkan
diri,
diri untuk menarik perhatian anak
(leader)
2 menit Memperhatikan
b. Menjelaskan pada anak tentang tujuan
dan manfaat bermain, menjelaskan cara
permainan.(leader)
1 menit setiap anak
c. Membagi alat permainan (Pemandu, menerima alat dan
Fasilitator) bahan yang
dibutuhkan
15 menit Bermain bersama
d. Mengajak anak bermain (anak mulai dengan antusias dan
menyusun puzzle gambar) mengungkapkan
(Pemandu, Fasilitator) perasaannya
2 menit Terpilihnya salah
e. Menentukan anak yang mampu satu peserta yang
menyusun puzzle dengan tepat sesuai dapat menempel
dengan waktu yang ditentukan. (Leader, benang dengan cepat
Pemandu) dan tepat
2 menit Peserta tampak
f. Memberikan reward pada anak yang gembira
sudah menyelesaikan permainan
dengan cepat dan tepat (Leader)
2 menit Peserta tampak
g. Mengevaluasi respon anak (Pemandu) senang
3 Penutup 1 menit Memperhatikan dan
Menyimpulkan, mengucapkan salam menjawab salam
(leader)
I. Evaluasi
a. Evaluasi Struktur
Laporan terapi bermain sudah dibuat
Media sudah disiapkan dan tersedia.
Kontrak dengan keluarga sudah dilakukan
b. Evaluasi Proses
Proses terapi bermain dapat berlangsung dengan lancar dan peserta terapi bermain dapat
mengikuti aturan permainan yang diberikan.
Peserta terapi antusias dan tenang dalam mengikuti terapi bermain ini.
Tidak ada anak yang meninggalkan tempat dilaksanakan terapi bermain selama kegiatan
berlangsung.
c. Evaluasi Hasil
Peserta bermain mampu mewarnai gambaran dengan benang yang telah disediakan dengan
baik
J. Hambatan
Hambatan yang mungkin ditemui dalam permainan ini, antara lain :
a. Anak tidak mau bermain karena sakit yang dia rasakan
b. Anak kurang mau berinteraksi dengan orang lain selain orang tuanya
c. Anak merasa bosan dengan permainan yang diberikan
Lampiran Materi
A. Konsep Dasar Bermain
a. Pengertian
Menurut Diana (2010) bermain adalah kegiatan yang sangat penting bagi
perkembangan dan pertumbuhan anak. Bermain harus dilakukan atas inisiatif anak dan atas
keputusan anak itu sendiri. Bermain harus dilakukan dengan rasa senang, sehingga semua
kegiatan bermain yang menyenangkan akan menghasilkan proses belajar pada anak. Anak-
anak berlajar melalui permainan. Pengalaman bermain yang menyenangkan dengan bahan,
benda, anak lain, dan dukungan orang dewasa mambantu anak-anak berkembang secara
optimal.
Terapi Bermain adalah bentuk konseling atau psikoterapi yang menggunakan bermain
untuk berkomunikasi dengan dan membantu orang, terutama anak-anak, untuk mencegah
atau mengatasi tantangan psikososial. Hal ini diduga untuk membantu mereka ke arah yang
lebih baik pertumbuhan sosial, integrasi dan pembangunan. Selain itu terapi bermain dapat
didefinisikan sebagai sarana untuk menciptakan pengalaman hubungan intens antara terapis
dan anak-anak atau anak muda, yang media utama komunikasinya adalah bermain (Wilson,
2012).
Dari beberapa pengertian diatas, maka dapat disimpulkan bahwa bermain merupakan
aspek penting dalam kehidupan anak yang mencerminkan kemampuan fisik, intelektual,
emosional, dan social anak tersebut. Walaupun tanpa memper-gunakan alat yang
menghasilkan atau memberikan informasi, memberi kesenangan maupun mengembangkan
imajinasi anak, dalam bermain anak akan menemukan kekuatan serta kelemahannya sendiri,
minatnya, serta cara menyelesaikan tugas-tugas dalam bermain.
b. Fungsi Bermain
Fungsi utama bermain adalah merangsang perkembangan sensorik-motorik, perkembangan
intelektual, perkembangan social, perkembangan kreativitas, perkembangan kesadaran diri,
perkembangan moral dan bermain sebagai terapi.
1. Perkembangan Sensorik – Motorik
Pada saat melakukan permainan, aktivitas sensoris-motorik merupakan komponen terbesar
yang digunakan anak dan bermain aktif sangat penting untuk perkembangan fungsi otot.
Misalnya, alat permainan yang digunakan untuk bayi yang mengembangkan kemampuan
sensoris-motorik dan alat permainan untuk anak usia toddler dan prasekolah yang banyak
membantu perkembangan aktivitas motorik baik kasar maupun halus.
2. Perkembangan Intelektual
Pada saat bermain, anak melakukan eksplorasi dan manipulasi terhadap segala sesuatu yang
ada di lingkungan sekitarnya, terutama mengenal warna, bentuk, ukuran, tekstur dan
membedakan objek. Pada saat bermain pula anak akan melatih diri untuk memecahkan
masalah. Pada saat anak bermain mobil-mobilan, kemudian bannya terlepas dan anak dapat
memperbaikinya maka ia telah belajar memecahkan masalahnya melalui eksplorasi alat
mainannya dan untuk mencapai kemampuan ini, anak menggunakan daya pikir dan
imajinasinya semaksimal mungkin. Semakin sering anak melakukan eksplorasi seperti ini akan
semakin terlatih kemampuan intelektualnya.
3. Perkembangan Social
Perkembangan social ditandai dengan kemampuan berinteraksi dengan lingkungannya.
Melalui kegiatan bermain, anak akan belajar memberi dan menerima. Bermain dengan orang
lain akan membantu anak untuk mengembangkan hubungan social dan belajar memecahkan
masalah dari hubungan tersebut. Pada saat melakukan aktivitas bermain, anak belajar
berinteraksi dengan teman, memahami bahasa lawan bicara, dan belajar tentang nilai social
yang ada pada kelompoknya. Hal ini terjadi terutama pada anak usia sekolah dan remaja.
Meskipun demikian, anak usia toddler dan prasekolah adalah tahapan awal bagi anak untuk
meluaskan aktivitas sosialnya dilingkungan keluarga.
4. Perkembangan Kreativitas
Berkreasi adalah kemampuan untuk menciptakan sesuatu dan mewujudkannya kedalam bentuk
objek dan/atau kegiatan yang dilakukannya. Melalui kegiatan bermain, anak akan belajar dan
mencoba untuk merealisasikan ide-idenya. Misalnya, dengan membongkar dan memasang satu
alat permainan akan merangsang kreativitasnya untuk semakin berkembang.
5. Perkembangan Kesadaran Diri
Melalui bermain, anak mengembangkan kemampuannya dalam mengatur mengatur tingkah
laku. Anak juga akan belajar mengenal kemampuannya dan membandingkannya dengan orang
lain dan menguji kemampuannya dengan mencoba peran-peran baru dan mengetahui dampak
tingkah lakunya terhadap orang lain. Misalnya, jika anak mengambil mainan temannya
sehingga temannya menangis, anak akan belajar mengembangkan diri bahwa perilakunya
menyakiti teman. Dalam hal ini penting peran orang tua untuk menanamkan nilai moral dan
etika, terutama dalam kaitannya dengan kemampuan untuk memahami dampak positif dan
negatif dari perilakunya terhadap orang lain
6. Perkembangan Moral
Anak mempelajari nilai benar dan salah dari lingkungannya, terutama dari orang tua dan guru.
Dengan melakukan aktivitas bermain, anak akan mendapatkan kesempatan untuk menerapkan
nilai-nilai tersebut sehingga dapat diterima di lingkungannya dan dapat menyesuaikan diri
dengan aturan-aturan kelompok yang ada dalam lingkungannya. Melalui kegiatan bermain
anak juga akan belajar nilai moral dan etika, belajar membedakan mana yang benar dan mana
yang salah, serta belajar bertanggung-jawab atas segala tindakan yang telah dilakukannya.
Misalnya, merebut mainan teman merupakan perbuatan yang tidak baik dan membereskan alat
permainan sesudah bermain adalah membelajarkan anak untuk bertanggung-jawab terhadap
tindakan serta barang yang dimilikinya. Sesuai dengan kemampuan kognitifnya, bagi anak usia
toddler dan prasekolah, permainan adalah media yang efektif untuk mengembangkan nilai
moral dibandingkan dengan memberikan nasihat. Oleh karena itu, penting peran orang tua
untuk mengawasi anak saat anak melakukan aktivitas bermain dan mengajarkan nilai moral,
seperti baik/buruk atau benar/salah.
7. Bermain Sebagai Terapi
Pada saat dirawat di rumah sakit, anak akan mengalami berbagai perasaan yang sangat tidak
menyenangkan, seperti marah, takut, cemas, sedih, dan nyeri. Perasaan tersebut merupakan
dampak dari hospitalisasi yang dialami anak karena menghadapi beberapa stressor yang ada
dilingkungan rumah sakit. Untuk itu, dengan melakukan permainan anak akan terlepas dari
ketegangan dan stress yang dialaminya karena dengan melakukan permainan anak akan depat
mengalihkan rasa sakitnya pada permainannya (distraksi) dan relaksasi melalui kesenangannya
melakukan permainan. Dengan demikian, permainan adalah media komunikasi antar anak
dengan orang lain, termasuk dengan perawat atau petugas kesehatan dirumah [Link]
dapat mengkaji perasaan dan pikiran anak melalui ekspresi nonverbal yang ditunjukkan selama
melakukan permainan atau melalui interaksi yang ditunjukkan anak dengan orang tua dan
teman kelompok bermainnya.
c. Klasifikasi Bermain
1. Berdasarkan Isi Permainan
Social affective play
Inti permainan ini adalah adanya hubungan interpersonal yang menyenangkan antara
anak dan orang lain. Misalnya, bayi akan mendapatkan kesenangan dan kepuasan dari
hubungan yang menyenangkan dengan orang tuanya atau orang lain. Permainan yang
biasa dilakukan adalah “Cilukba”, berbicara sambil tersenyum dan tertawa, atau sekadar
memberikan tangan pada bayi untuk menggenggamnya, tetapi dengan diiringi berbicara
sambil tersenyum dan tertawa. Bayi akan mencoba berespons terhadap tingkah laku
orang tuanya misalnya dengan tersenyum, tertawa, dan mengoceh.
Sense of pleasure play
Permainan ini menggunakan alat yang dapat menimbulkan rasa senang pada anak
dan biasanya mengasyikkan. Misalnya, dengan menggunakan pasir, anak akan membuat
gunung-gunungan atau benda-benda apa saja yang dapat dibentuknya dengan pasir .
Bisa juga dengan menggunakan air anak akan melakukan macam-macam permainan,
misalnya memindah-mindahkan air ke botol, bak, atau tempat lain. Ciri khas permainan
ini adalah anak akan semakin asyik bersentuhan dengan alat permainan ini dan dengan
permainan yang dilakukannya sehingga susah dihentikan.
Skill play
Sesuai dengan sebutannya, permainan ini akan meningkatkan ketrampilan anak,
khususnya motorik kasar dan halus. Misalnya, bayi akan terampil memegang benda-
benda kecil, memindahkan benda dari satu tempat ke tempat yang lain, dan anak akan
terampil naik sepeda. Jadi, keterampilan tersebut diperoleh melalui pengulangan
kegiatan permainan yang di lakukan. Semakin sering melakukan latihan, anak akan
semakin terampil.
Games atau permainan
Games atau permainan adalah jenis permainan yang menggunakan alat tertentu yang
menggunakan perhitungan atau [Link] ini bisa dilakukan oleh anak sendiri atau
dengan [Link] sekali jenis permainan ini mulai dari yang sifatnya tradisional
maupun yang [Link], ular tangga, congklak, puzzle, dan lain-lain.
Unoccupied behaviour
Pada saat tertentu, anak sering terlihat mondar-mandir, tersenyum, tertawa, jinjit-
jinjit, bungkuk-bungkuk, memainkan kursi, meja, atau apa saja yang ada di
sekelilingnya. Jadi, sebenarnya anak tidak memainkan alat permainan tertentu, dan
situasi atau obyek yang ada di sekelilingnya yang di gunakannya sebagai alat
[Link] tampak senang, gembira, dan asyik dengan situasi serta lingkungannya
tersebut.
Dramatic play
Sesuai dengan sebutannya, pada permainan ini anak memainkan peran sebagai orang
lain melalui permainannya. Anak berceloteh sambil berpakaian meniru orang dewasa,
misalnya ibu guru, ibunya, ayahnya, kakaknya, dan sebagainya yang ingin ia tiru.
Apabila anak bermain dengan temannya, akan terjadi percakapan di antara mereka
tentang peran orang yang mereka tiru. Permainan ini penting untuk proses identifikasi
anak terhadap peran tertentu .
2. Berdasarkan Karakter Social
Onlooker play
Pada jenis permainan ini, anak hanya mengamati temannya yang sedang bermain,
tanpa ada inisiatif untuk ikut berpartisipasi dalam permainan. Jadi, anak tersebut bersifat
pasif, tetapi ada proses pengamatan terhadap permainan yang sedang dilakukan
temannya.
Solitary play
Pada permainan ini, anak tampak berada dalam kelompok permainan, tetapi anak
bermain sendiri dengan alat permainan yang dimilikinya, dan alat permainan tersebut
berbeda dengan alat permainan yang digunakan temannya, tidak ada kerja sama,
ataupun komunikasi dengan teman sepermainannya.
Parallel play
Pada permainan ini, anak dapat menggunakan alat permainan yang sama, tetapi
antara satu anak dengan anak lainnya tidak terjadi kontak satu sama lain sehingga antara
anak satu dengan anak lain tidak ada sosialisasi satu sama lain. Biasanya permainan ini
dilakukan oleh anak usia toddler.
Associative play
Pada permainan ini sudah terjadi komunikasi antara satu anak dengan anak lain,
tetapi tidak terorganisasi, tidak ada pemimpin atau yang memimpin permainan, dan
tujuan permainan tidak jelas. Contoh permainan jenis ini adalah bermain boneka,
bermain hujan-hujanan dan bermain masak-masakan.
Cooperative play
Aturan permainan dalam kelompok tampak lebih jelas pada permainan jenis ini, juga
tujuan dan pemimpin [Link] yang memimpin permainan mengatur dan
mengarahkan anggotanya untuk bertindak dalam permainan sesuai dengan tujuan yang
diharapkan dalam permainan [Link], pada permainan sepak bola, ada anak
yang memimpin permainan, aturan main harus dijalankan oleh anak dan mereka harus
dapat mencapai tujuan bersama, yaitu memenangkan permainan dengan memasukkan
bola ke gawang lawan mainnya.
B. Konsep Dasar Anak usia Sekolah
a. Anak usia sekolah( 6 – 12 tahun)
Kemampuan social anak usia sekolah semakin meningkat. Mereka lebih mampu
bekerja sama dengan teman sepermainannya. Seringkali pergaulan dengan teman menjadi
tempat belajar mengenal norma baik atau buruk. Dengan demikian, permainan pada anak
usia sekolah tidak hanya bermanfaat untuk meningkatkan ketrampilan fisik atau
intelektualnya, tetapi juga dapat mengembangkan sensitivitasnya untuk terlibat dalam
kelompok dan bekerja sama dengan sesamanya. Mereka belajar norma kelompok sehingga
dapat diterima dalam kelompoknya. Sisi lain manfaat bermain bagi anak usia sekolah adalah
mengembangkan kemampuannya untuk bersaing secara sehat. Bagaimana anak dapat
menerima kelebihan orang lain melalui permainan yang ditunjukkannya.
Karakteristik permainan untuk anak usia sekolah dibedakan menurut jenis
kelaminnya. Anak laki-laki lebih tepat jika diberikan mainan jenis mekanik yang akan
menstimulasi kemampuan kreativitasnya dalam berkreasi sebagai seorang laki-laki,
misalnya mobil-mobilan. Anak perempuan lebih tepat diberikan permainan yang dapat
menstimulasinya untuk mengembangkan perasaan, pemikiran dan sikapnya dalam
menjalankan peran sebagai seorang perempuan, misalnya alat untuk memasak dan boneka.
b. Reaksi Hospitalisasi
Sering bertanya, menangis perlahan, tidak kooperatif terhadap petugas kesehatan,
kehilangan control, dan pembatasan aktivitas
Kesimpulan
Bermain merupakan aspek penting dalam kehidupan anak yang mencerminkan kemampuan
fisik, intelektual, emosional, dan social anak tersebut, tanpa mempergunakan alat yang
menghasilkan atau memberikan informasi, memberi kesenangan maupun mengembangkan
imajinasi anak, dimana dalam bermain anak akan menemukan kekuatan serta kelemahannya
sendiri, minatnya, serta cara menyelesaikan tugas-tugas dalam bermain. Bermain bagi anak adalah
suatu kebutuhan selayaknya bekerja pada orang dewasa, oleh sebab itu bermain di rumah sangat
diperlukan guna untuk mengatasi adanya dampak hospitalisasi yang diasakan oleh [Link]
bermain, anak tetap dapat melanjutkan tumbuh kembangnya tanpa terhambat oleh adanya dampak
hospitalisasi tersebut.
DAFTAR PUSTAKA
Internet. [Link]
Downloaded on Wednesday, 4th December 2019 at 19.00 pm
[Link]://[Link]/journal/item/5/Terapi_Bermain. Downloaded on
Wednesday, 4th December 2019 at 19.30 p.m.
[Link]://[Link]/medicine-and-health/pathology/1916947-terapi-
bermain/Downloaded on Wednesday, 4th December 2019 at 20.00 p.m.