ejournal Keperawatal (e-Kp) Volume 4 Nomor 1, Februari 2016
HUBUNGAN MEROKOK DENGAN KESEHATAN GIGI DAN MULUT PADA PRIA
DEWASA DI DESA POYOWA KECIL KECAMATAN KOTAMOBAGU
SELATAN KOTA KOTAMOBAGU
Wulandari Asiking
Julia Rottie
Reginus Malara
Program Studi Ilmu Keperawatan Fakultas Kedokteran
Universitas Sam Ratulangi
Email : Wulanasiking@[Link]
Abstract: Smoking is an act of burning a tobacco which inhaled the smoke from the burning process
in a form of cigarette or a pipe. Smoking affects the health, so every people need to pay attention
for their general body health, especially oral and dental health, because oral and dental health can
also affect the overall health of the body. The aim this research is to identify the relation of smoking
with dental and oral health on male adults in Poyowa kecil village, district of south Kotamobagu,
Kotamobagu City. The sample in this study 58 smoker respondents by using the purposive
sampling. The design study is a descriptive analytic study with cross-sectional design where the
information will collecting by using questionnaire and observation sheet. The Research Result
Pearson Chi Square test there is have meaningful relation between smoking with oral and dental
health (p=0,000). The Conclusion of this research shows that there are a relation between
smoking with oral and dental health on male adults in poyowa kecil village, district of south
kotambagu, kotamobagu city. The Suggestion for the researcher is next time, this research is
expected to be a reference and a start of more research about the effect of smoking which can inflict
damage oral and dental health of the overall individuals.
Key words: Smoking, oral and dental health.
Abstrak: Merokok adalah membakar tembakau yang kemudian dihisap asapnya baik menggunakan
rokok maupun menggunakan pipa. Merokok mempengaruhi kesehatan, sehingga setiap individu
perlu memperhatikan kesehatan tubuh secara umum, tertutama kesehatan gigi dan mulut, karena
kesehatan gigi dan mulut dapat mempengaruhi kesehatan tubuh secara menyeluruh. Tujuan
penelitian ini untuk mengetahui hubungan merokok dengan kesehatan gigi dan mulut pada pria
dewasa di Desa Poyowa kecil, Kecamatan Kotamobagu selatan, Kota kotamobagu. Sampel pada
penelitian ini yaitu 58 responden yang merokok dengan menggunakan purposive sampling. Desain
Penelitian yang digunakan adalah deskriptif analitik dengan rancangan cross-sectional dan data
dikumpulkan dari responden menggunakan kuesioner dan lembar observasi. Hasil Penelitian
berdasarkan uji stitistik Pearson Chi Square terdapat hubungan yang bermakna antara merokok
dengan kesehatan gigi dan mulut (p=0,000). Kesimpulan dari penelitian menujukkan bahwa
terdapat hubungan merokok dengan kesehatan gigi dan mulut pada pria dewasa di Desa Poyowa
kecil, Kecamatan Kotamobagu selatan, Kota kotamobagu. Saran untuk peneliti selanjutnya
diharapkan penelititian ini dapat menjadi rujukan dan permulaan untuk banyak lagi penelitian
tentang akibat dampak dari merokok dapat merusak kesehatan gigi dan mulut masyarakat yang lebih
menyeluruh.
Kata Kunci : Merokok, kesehatan gigi dan mulut.
1
ejournal Keperawatal (e-Kp) Volume 4 Nomor 1, Februari 2016
nikotin, karbon monoksida, ammonia, dan
PENDAHULUAN derivat-derivat lainnya dapat mengiritasi
Merokok masih merupakan masalah rongga mulut saat dikonsumsi karena adanya
kesehatan dunia karena dapat pembakaran. Kebiasaan merokok merupakan
menyebabkan berbagai penyakit dan salah satu pencetus timbulnya gangguan serta
bahkan kematian, Merokok sudah penyakit rongga mulut, antara lain dapat
menjadi kebiasaan yang lazim ditemui mengakibatkan gigi berubah warna,
dalam kehidupan sehari-hari dan meluas penebalan mukosa, gingivitis bahkan
di masyarakat. Data World Health penyakit kanker mulut (Lauren, 2014).
Organization (WHO) tahun 2012 Berdasarkan juga penelitian yang telah
menunjukkan Indonesia menduduki dilakukan oleh Andina (2012) Hasil penelitian
peringkat ke tiga dengan jumlah menunjukkan dari 80 orang subjek penelitian yang
perokok terbesar di dunia setelah China diperiksa, kejadian lesi mukosa mulut paling banyak
dan India. WHO (World Health dijumpai pada lama merokok > 20 tahun sebanyak
Organization) telah menetapkan bahwa 51 orang (63.75%). Kejadian lesi mukosa mulut
tanggal 31 Mei sebagai hari bebas paling banyak dijumpai pada perokok dengan
tembakau sedunia. Hal ini menunjukkan jumlah rokok yang dihisap 1020 batang per hari
semakin meningkatnya perhatian dunia sebanyak 44 orang (55%). Kejadian lesi mukosa
terhadap akibat negatif rokok bagi mulut paling banyak dijumpai pada perokok yang
kesehatan dan kesejahteraan manusia merokok dengan jenis rokok putih sebanyak 65
(WHO, 2012). orang (81.25%).
Meskipun kebiasaan merokok Menurut survey awal di puskesmas dan data
berdampak buruk pada kesehatan, tapi Keluarga yang berada di desa poyowa kecil ini
prevalensi perokok terus meningkat tiap terdapat 139 pria perokok, dan peneliti melakukan
tahunnya. Merokok merupakan hal yang observasi awal pada 15 orang pria dewasa yang
biasa bagi kebanyakan masyarakat merokok berada di desa Poyowa kecil tersebut,
Indonesia, khususnya kaum lelaki terdapat adanya tanda stain gigi dan pigmentasi pada
dewasa. Dalam sepuluh tahun terakhir, mulut masyarakat. Sebagian besar pria dewasa
konsumsi rokok di Indonesia merokok dengan rokok yang bermacam – macam
mengalami peningkatan sebesar 44,1% jenisnya dengan jumlah yang lebih dari 3 batang
dan jumlah perokok mencapai 70% perharinya, melatar belakangi masalah di desa
penduduk Indonesia (Fitri, 2011). Poyowa kecil ini,penduduk di desa ini pada
Berdasarkan Riset Kesehatan Dasar umumnya mempunyai kebiasaan merokok (Profil
(2013) prevalensi merokok di Indonesia Puskesmas dan Data Keluarga Desa Poyowa Kecil,
sebesar 29,3 % dan di Sulawesi Utara 2015).
prevalensi merokok masuk dalam Berdasarkan latar belakang di atas, peneliti
peringkat 12 dari 34 provinsi yakni merasa perlu dan tertarik untuk meneliti mengenai
sebesar 24,6 %. Untuk lokasi penduduk Hubungan merokok dengan kesehatan gigi dan
pedesaan lebih banyak perokok aktif mulut pada pria dewasa di Desa Poyowa kecil,
yakni sebesar 25,5% dibandingkan Kecamatan Kotamobagu Selatan, Kota
perkotaan sebesar, 23,2%. Jenis Kotamobagu.
pekerjaan Petani/Nelayan/Buruh Tujuan penelitian ini yaitu yaitu, diketahui
merupakan prevalensi terbesar yakni Hubungan merokok dengan kesehatan gigi dan
44,5% (Riset Kesehatan Dasar, 2013). mulut pada pria dewasa di Desa Poyowa kecil,
Rongga mulut merupakan jalan Kecamatan Kotamobagu Selatan, Kota
masuk utama untuk makanan, minuman, Kotamobagu.
dan bahan-bahan lain, misalnya rokok.
Kandungan rokok berupa tembakau, tar,
2
ejournal Keperawatal (e-Kp) Volume 4 Nomor 1, Februari 2016
METODE PENELITIAN Merokok
Penelitian ini menggunakan desain n %
penelitian cross-sectional variabel sebab atau Ringan 15 25,9
resiko dan akibat atau kasus yang terjadi pada Sedang 27 46,5
objek penelitian (perokok pria dewasa) diukur Berat 16 27,6
kebiasaan merokok dan dikumpulkan satu kali
saja dalam waktu bersamaan (Setiadi, 2013). Jumlah 58 100
Penelitian ini dilakukan pada bulan Sumber data primer 2015
NovemberDesember 2015 di Desa Poyowa d. Variabel kesehatan gigi dan mulut tabel 4
Kecil Kotamobagu Selatan Kota Kotamobagu. Karakteristik responden berdasarkan
Sampel pada penelitian ini yaitu 58 responden kesehatan gigi dan mulut
yang merokok dengan menggunakan Kesehatan Gigi
purposive sampling. n %
dan Mulut
HASIL dan PEMBAHASAN
Sehat 22 37,9
1. Analisa Univariat Analisa untuk
Tidak Sehat 36 62,1
mengetahui presentasi dari masing-
masing variabel yang akan di teliti. Jumlah 58 100
Berdasarkan data-data dari hasil Sumber data primer 2015
penelitian dapat dibuat karakteristik dari
2. . Analisa Bivariat
subjek penelitian sebagai berikut:
Untuk mengetahui hubungan merokok dengan
[Link] umur
kesehatan gigi dan mulut pada pria dewasa di Desa
Tabel 1 Karakteristik
Poyowa Kecil Kecamatan Kotamobagu Selatan
responden berdasarkan umur
Kota Kotamobagu, maka dilakukan analisis bivariat
Umur n % dengan menggunakan uji statistic Chi-Square
dengan hasil sebagai berikut:
26-35 tahun 23 39,7
Tabel 5 Hubungan merokok dengan kesehatan gigi
36-45 tahun 35 60,3
dan mulut pada pria dewasa di Desa Poyowa Kecil
Jumlah 58 100 Kecamatan Kotamobagu Selatan
Sumber: data primer Kota Kotamobagu tahun 2015
2015 b. Variabel
pendidikan
Tabel 2 Karakteristik Kesehatan Gigi dan Mulut
Merokok Total p
responden berdasarkan pendidikan Tidak
Sehat
Sehat
Pendidikan n n n
n %
15
SD 3 12
Ringan 25,9
4 6,9 5,2% 20,7%
SMP %
3 5,2
SMA 27
38 65,5
PT (Perguruan 0,
13 22,4 Sedang
21 6
46,5
Tinggi) 36,2 10,3% 00
0
Jumlah 58 100 %
Sumber data primer 16 58
2015 c. Variabel 36
12 4
Berat 27,6
merokok 20,7 6,9%
22
Tabel 3 Karekteristik
%
responden berdasarkan merokok
3
ejournal Keperawatal (e-Kp) Volume 4 Nomor 1, Februari 2016
Jumlah 100 SMA, maka program pendidikan kesehatan
62,1% 37,9% di sekolah menjadi sangat penting karena
%
biasanya perilaku merokok dimulai sejak
bangku sekolah. Tingkat pendidikan yang
Sumber data primer 2015 Berdasarkan hasil uji rendah dari masyarakat dapat
statistik dengan menggunakan Pearson Chi- mempengaruhi pengetahuan mengenai
square ( ) di peroleh nilai ρ-value = 0,000 lebih bahaya merokok terhadap kesehatan rongga
kecil dari nilai α = 0,05. Berarti H0 ditolak mulut. Mathew Alen (2012) telah
maka terdapat hubungan merokok dengan melakukan survey cepat tentang situasi
kesehatan gigi dan mulut pada pria dewasa merokok di Indonesia pada tahun 2012,
diDesa Poyowa Kecil Kecamatan Kotamobagu dilaporkan bahwa hambatan utama
Selatan Kota Kotamobagu. pengendalian merokok di Indonesia adalah
A. Karakteristik Responden Berdasarkan karena tidak adanya pengetahuan di
karakteristik resoponden didapatkan frekuensi kalangan perokok tentang risiko merokok
responden dengan umur 26-35 tahun sebanyak (Asep C, 2012).
23 responden (39,7%), sedangkan responden B. Hubungan Merokok dengan
dengan umur 36-45 tahun lebih banyak dengan Kesehatan Gigi dan Mulut
jumlah 35 responden (60,3%), artinya Berdasarkan hasil penelitian yang telah
responden penelitian ini memiliki resiko dilakukan menunjukan bahwa dari 58
mengalami kesehatan gigi dan mulut yang responden yang memiliki kebiasaan
tidak sehat. Kriswiharsi Agus (2013) usia merokok sedang dengan kesehatan gigi dan
seseorang berkaitan dengan pengalaman mulut yang tidak sehat berjumlah 21
hidup, makin tinggi atau makin tua usia responden (36,2%) lebih banyak dibanding
seseorang, maka makin banyak memperoleh merokok ringan dengan kesehatan gigi dan
pengalaman hidup. Oleh karena itu, makin tua mulut tidak sehat 3 responden (5,2%).
usia orang, makin banyak belajar dari Sedangkan kebiasaan merokok berat
pengalaman tentang pemeliharaan kesehatan dengan kesehatan gigi dan mulut yang
gigi, keluhan tentang sakit gigi, keluhan sakit tidak sehat berjumlah 12 responden
pada jaringan penyangga gigi, dan cara-cara (20,7%).
mengatasinya. Situmorang (2010) dari hasil Dari hasil uji statistik yang telah
penelitian di medan menunjukkan hal yang dilakukan dengan menggunakan Chisquare( )
sama yaitu terjadi peningkatan menurut umur di peroleh nilai ρ-value = 0,000 lebih kecil
yaitu pada kelompok umur 26-35 tahun dari nilai α = 0,05. Berarti H0 ditolak maka
prevalensi mencapai 93,88% dan pada terdapat hubungan merokok dengan
kelompok umur 36-45 tahun mencapai 94,64% kesehatan gigi dan mulut.
(Kriswiharsi Agus, 2013). Dari hasil penelitian terlihat bahwa
Selanjutya, karakteristik mayoritas perokok sedang dengan kesehetan
responden berdasarkan pendidikan gigi dan mulut yang tidak sehat (36,2%), hal ini
yaitu pendidikan PT (Perguruan terlihat dari banyaknya responden merokok
Tinggi) sebanyak 13 responden sejak usia <20 tahun, dengan usia yang
(22,4%), pendidikan SMA sebanyak responden 36-45 tahun (60,3%). Jumlah batang
38 responden (65,5%), pendidikan rokok yang dihisap oleh perokok dalam 1 hari
SMP sebanyak 3 responden (5,2%), mayoritas berjumlah 11-20 batang atau 1
dan pendidikan SD sebanyak 4 bungkus tiap hari, dengan jenis rokok yang di
Responden (6,9%). Dari analisis ini hisap pria perokok di desa Poyowa yaitu rokok
ditemukan lebih tinggi prevalensi kretek. Tidak sehatnya kesehatan gigi dan mulut
merokok pada pendidikan tingkat dari perokok yang ditemukan dengan banyaknya
SMA. Melihat tingginya prevalensi noda stain pada gigi dan pigmentasi pada mulut
perokok pada yang berpendidikan
4
ejournal Keperawatal (e-Kp) Volume 4 Nomor 1, Februari 2016
perokok karena terpaparnya asap rokok 36,2%, sedang subjek yang memiliki
pada mukosa mulut, sehingga semakin OHIS(Oral Hygiene Index Simplified) buruk
lama seseorang merokok, maka semakin dan merokok sebesar 63,8%.
besar pula kemungkinan terjadinya Pada penelitian ini peneliti berasumsi
pembentukan stain dan pigmentasi pada bahwa banyaknya perokok dengan
mukosa bibir perokok. kesehatan gigi dan mulut yang tidak sehat
Hasil penelitian ini sejalan dengan yang perlu mendapatkan perhatian penuh,
dilakukan oleh Rindi (2012) bahwa sehingga usaha pelayanan kesehatan gigi
Terdapat hubungan antara pengaruh meliputi promotif, preventif, kuratif, dan
Rokok, kopi, teh, dan fanta terhadap rehabilitatif perlu ditunjang oleh program
pembentukan stain atau dalam hal ini yang terencana dan terarah. Usaha promotif
terdapat pengaruh signifikan rokok dan dimaksudkan untuk meningkatkan perilaku
minuman berwarna secara bersama-sama kesehatan gigi masyarakat dan mendorong
terhadap pembentukan stain. Selanjutnya, masyarakat untuk memanfaatkan fasilitas
pada penelitian Rizki (2012) yakni hasil kesehatan gigi seoptimal mungkin,
penelitian menunjukkan dari 80 orang sedangkan usaha preventif untuk lebih
subjek penelitian yang diperiksa, kejadian meningkatkan pencegahan terhadap
lesi mukosa mulut paling banyak dijumpai penyakit gigi dan mulut masyarakat. Bentuk
pada lama merokok > 20 tahun sebanyak pelayanan promotif dan preventif yang erat
51 orang (63.75%). Kejadian lesi mukosa hubungannya dengan status kesehatan gigi
mulut paling banyak dijumpai pada dan mulut antara lain adalah instruksi
perokok dengan jumlah rokok yang dihisap kebersihan gigi dan mulut.
1020 batang per hari sebanyak 44 orang C. Keterbatasan Peneliti
(55%). Kejadian lesi mukosa mulut paling Pada penelitian ini ada beberapa
banyak dijumpai pada perokok yang keterbatasan yang dialami oleh peneliti
merokok dengan jenis rokok putih pada responden yaitu pada pria dewasa dan
sebanyak 65 orang (81.25%). Tetapi, hasil pada saat proses penelitian. Pada pria
penelitian Rindi (2012) dan Rizki (2012) dewasa peneliti mendapat kesulitan saat
tidak sejalan dengan yang dilakukan oleh penelitian karena pria dewasa di Poyowa
Indirawati (2013) hasil penelitiannya yaitu Kecil memiliki banya kesibukan dengan
tidak ada hubungan yang signifikan antara aktivitas sehari-hari yang dilakukan,
kebiasaan merokok dan indeks OHIS (Oral sehingga walaupun sudah di kontrak waktu,
Hygiene Index Simplified) dengan nilai p: tetap saja ada kendala yang terjadi, tetapi
0,115. Subjek yang memiliki OHIS (Oral peneliti berusaha untuk mendapatkan waktu
Hygiene Index responden karena saat peneliti berkunjung
Simplified), baik, dan tidak merokok ke rumah responden, terkadang responden
sebesar 43,1%, sedang yang memilki tidak berada di tempat karena sebagian
OHIS(Oral Hygiene Index Simplified) besar responden bekerja sebagai petani.
buruk, namun tidak merokok sebesar KESIMPULAN
56,9%. Sedangkan subjek yang memiliki Berdasarkan hasil penelitian, maka dapat di
nilai OHIS(Oral Hygiene Index Simplified) tarik kesimpulan sebagai berikut : 1.
baik, namun pernah merokok sebesar Prevalensi merokok pada pria dewasa di
37,4%, yang memiliki OHIS(Oral Hygiene Desa Poyowa Kecil Kecamatan
Index Simplified) buruk dan pernah Kotamobagu Selatan Kota
merokok namun sekarang tidak lagi, Kotamobagusebagian besar pada kategori
sebesar 62,6%. Subjek yang memiliki merokok sedang.
OHIS (Oral Hygiene Index 2. Kesehatan gigi dan mulut pada pria dewasa di
Simplified)baik, dan merokok sebesar Desa Poyowa Kecil Kecamatan Kotamobagu
5
ejournal Keperawatal (e-Kp) Volume 4 Nomor 1, Februari 2016
Selatan Kota Kotamobagu sebagian besar Indirawati, 2013. Jurnal Nilai Kebersihan Gigi Dan
pada kategori tidak sehat. Mulut Pada Karyawan Industri Pulo Gadung Di
3. Terdapat hubungan merokok dengan Jakarta. dalam Online:
kesehatan gigi dan mulut pada pria dewasa [Link]
di Desa Poyowa Kecil Kecamatan [Link], diakses tanggal 01
Kotamobagu Selatan Kota Kotamobagu. Desember 2015 Jam 04.30 WITA.
Daftar pustaka
Agam, 2013. Seputar Kesehatan Gigi dan Marry, Diane, [Link] Kesehatan Gigi
Mulut. Rapha Publishing: Yogyakarta. Masyarakat. EGC: Jakarta.
Aditama TY, 2010. Rokok dan kesehatan.
Judith, 2011. Buku Saku Diagnosis
Jakarta: UI Press.
Keperawatan: Diagnosa Nanda
Ahmad, 2010. Merokok Haram. Republika:
Intervensi NIC, Kriteria Hasil NOC.
Jakarta Selatan. EGC: Jakarta.
Andina, 2012. Pengaruh Merokok Terhadap
Kesehatan Gigi Dan Rongga Mulut. Kwa zheng kang, 2012. Kuesioner merokok.
Online:[Link] Dalam online:
d= [Link]
penelitian_detail&sub=PenelitianDetail&a 456789/33565/1/[Link] diakses
ct tanggal 29 juni 2015 jam 12.45 wita
=view&typ=html&buku_id=58938&obye Kriswiharsi Agus, 2013. Laporan Akhir
k_ id=4, di akses tanggal 5 Agustus 2015.
Peneliti Dosen Pemula Faktor Risiko
Asep C, 2012. Perokok Laki-laki di Indonesia
Yang Berhubungan Dengan Status
Capai 67 Persen, dalam online:
Periodontal Pada Pria Perokok Buruh
[Link]
Bongkar Muat Pelabuhan Tanjung Emas
/1
Semarang. Dalam online:
9275290/[Link].C
[Link]
[Link], diakses tanggal 3 desember anAkhir_Kriswiharsi_0617037901_.pdf
2015 jam 15.00 WITA. di akses tanggal 02 Desember 2015 jam
Depkes, RI, 2013. Riset Kesehatan Dasar. 18.05 WITA
Dalam online:
[Link] Lauren, 2014. In Defense Of Smokers. Indonesia
tanggal 29 agustus 2015. Berdikari: Jakarta Selatan.
Fitri, 2011. Efek Buruk Merokok untuk Gigi & Nursalam, 2013. Metodelogi Penelitian
Mulut. Online : Ilmu Keperawatan: Pendekatan
[Link] Praktis,Edisi 3. Jakarta: Salemba
2 6/195/418096/efek-buruk-merokok- mediks
untukgigi-mulut, diakses tanggal 24 Mei
2015, jam 20.15 WITA. Nazim, 2010. Siapa Bilang Merokok
Harom?. Surya Pena Gemilang: Jatim.
Febrianty, [Link] menghisap rokok
terhadap status kesehatan periodontal. Purwanto, [Link] Saku Penyakit Mulut.
Online[Link] Cetakan [Link]: Jakarta.
/ Terjemahan_jurnal_perio. Diakses, 24
Mei 2015 jam 20.00 WITA. Rindi, 2012. Jurnal Pengaruh Rokok Dan
Minum Berwarna Terhadap
Herijulianti, 2010. Pendidikan kesehatan gigi. Pembentukan
Jakarta : penerbit EGC Stain(nodagigi),Online:[Link]
[Link]/bitstream/handle/123456789
6
ejournal Keperawatal (e-Kp) Volume 4 Nomor 1, Februari 2016
/7963/SKRIPSI%[Link]?seq
uenc e=2, diakses tanggal 27 Mei
2015, Jam 07.00 WITA.
Rizky, 2012. Jurnal Gambaran Perokok Dan
Angka Kejadian Lesi Mukosa Mulut
Online:[Link]
d=
penelitian_detail&sub=PenelitianDetail&a
ct
=view&typ=html&buku_id=58938&obye
k_ id=4, di akses tanggal 27 Agustus
2015.
Setiadi, 2013. Konsep dan praktik penulisan
riset keperawatan. Edisi 2. Graha Ilmu:
Yogyakarta.
WHO (World Health Organization), 2012.
Improving Health System for tobacco and
oral health: WHO Library Cataloguing-
inpublication data.
Yeni, 2015. Jurnal Kesehatan Gigi dan Mulut
Pengaruh Rokok Terhadap Kesehatan Gigi
dan Mulut.
[Link]
[Link]. diakses tanggal 24
Mei 205 jam 19.04 WITA.