Kebijakan Ekonomi dalam Model Mundell-Fleming
Kebijakan Ekonomi dalam Model Mundell-Fleming
RINGKASAN BAB 13
“The Open Economy Revisited: The Mundell-Fleming Model and the Exchange-Rate Regime”
Mankiw, N. Gregory. 2016. Macroeconomics. Edisi 9. New York: Worth Publisher.
Hal. 367 – 377
Ketika menetapkan kebijakan moneter dan kebijakan fiskal, pembuat kebijakan harus mempertimbangkan negara-negara
lain. Bahkan jika satu-satunya tujuan mereka adalah kesejahteraan, perlu bagi mereka untuk memperhatikan kondisi dunia. Arus
barang dan jasa internasional serta aliran modal internasional dapat mempengaruhi ekonomi secara signifikan. Namun pembuat
kebijakan jarang memperhatikan risiko-risiko dari hal tersebut.
Dalam hal ini, pembuat kebijakan harus memperluas analisisnya terkait permintaan agregat dengan menyertakan
perdagangan internasional dan keuangan internasional. Model yang dapat digunakan adalah model Mundell-Fleming yang telah
digambarkan dengan paradigma kebijakan dominan untuk mempelajari kebijakan fiskal dan moneter pada ekonomi terbuka.
Model Mundell-Fleming hampir sama dengan model IS-LM. Model tersebut menekankan interaksi antar pasar barang
dengan pasar uang. Kedua model berasumsi bahwa tingkat harga tetap akan menunjukkan fluktuasi pendapatan agregat dalam
jangka pendek. Model IS-LM berbicara tentang negara dengan ekonomi tertutup, sedangkan model Mundell-Fleming berbicara
terkait negara dengan ekonomi terbuka.
Model Mundell-Fleming membuat satu asumsi yang penting dan ekstrim, yaitu ekonomi negara yang sedang dipelajari
adalah negara dengan ekonomi terbuka yang kecil dengan mobilitas modal yang sempurna. Artinya adalah negara dapat
meminjam atau meminjamkan uang sebanyak yang diinginkan pada pasar uang dunia namun tingkat bunga ditentukan oleh
tingkat bunga dunia.
Satu pelajaran dapat diambil dari model Mundell-Fleming yaitu bahwa perilaku ekonomi suatu negara tergantung pada
sistem nilai tukar yang diadopsi. Walaupun modelnya pertama kali dikembangkan sebagian besar untuk memahami bagaimana
nilai tukar alternatif bekerja dan bagaimana nilai tukar mempengaruhi kebijakan fiskal dan moneter.
A. Asumsi Kunci: Mobilitas Modal yang Sempurna
Dimulai dengan asumsi negara dengan ekonomi terbuka yang kecil dengan mobilitas modal yang sempurna. Asumsi ini
berarti bahwa tingkat bunga di negara tersebut ditentukan oleh tingkat bunga dunia. Secara matematis dapat digambarkan seperti
dibawah ini:
Tingkat bunga diasumsikan tetap secara eksogen karena negara yang relatif kecil jika dibandingkan dengan ekonomi dunia yang
dapat meminjam ataupun meminjamkan sebanyak yang diinginkan pada pasar uang dunia tanpa mempengaruhi tingkat suku
bunga dunia.
Meskipun gagasan mobilitas modal yang sempurna diungkapkan dengan persamaan yang sederhana, namun sangat
penting jika tidak mengabaikan proses yang terjadi dalam persamaan tersebut. Dalam negara dengan ekonomi terbuka yang kecil,
tingkat bunga domestik mungkin naik sedikit dalam waktu yang singkat, namun orang asing akan melihat kenaikan dari tingkat
bunga negara tersebut dan mulai meminjamkan uangnya kepada negara tersebut. Aliran dana akan mendorong tingkat bunga
kembali pada tingkat bunga dunia. Sebaliknya, jika tren tingkat suku bunga domestik akan menurun, dana akan mengalir ke luar
negeri dan aliran dana keluar ini akan mendorong tingkat bunga domestik kembali pada tingkat bunga dunia. Oleh karena itu,
persamaan ini mewakili asumsi bahwa aliran dana internasional cukup cepat untuk menjaga tingkat bunga domestik sama dengan
tingkat bunga dunia.
B. Pasar Barang dan Kurva IS*
Model Mundell-Fleming menggambarkan pasar untuk barang dan jasa seperti yang digambarkan oleh model IS-LM,
namun ada penambahan faktor ekspor neto. Pasar barang diwakili dengan persamaan berikut:
Y = C ( Y - T ) + I ( r ) + G + NX ( e ).
Persamaan tersebut menyatakan bahwa pendapatan agregat (Y) merupakan jumlah konsumsi (C), investasi (I), belanja pemerintah
(G), dan ekspor neto (NX). Konsumsi bergantung secara positif pada Disposable Income (Y-T). Sedangkan investasi bergantung
secara negatif terhadap tingkat suku bunga (r). Dan ekspor neto bergantung secara negatif pada nilai tukar (e). Nilai tukar (e)
merupakan jumlah mata uang asing per satuan mata uang domestik.
Ekspor neto lebih relevan jika dikaitkan dengan nilai tukar riil dibandingkan dengan nilai tukar nominal. Jika (e)
merupakan nilai tukar nominal maka nilai tukar riil sama dengan eP/P*, dimana P adalah tingkat harga domestik dan P*
merupakan tingkat harga luar negeri. Dengan asumsi tingkat harga yang tetap antara domestik dan luar negeri, maka nilai tukar riil
sebanding dengan nilai tukar nominal. Artinya, ketika mata uang domestik meningkat dan kurs nominal naik, kurs riil juga
meningkat yang berdampak pada barang-barang dari luar negeri menjadi lebih murah daripada barang-barang dalam negeri dan
akan mengakibatkan penurunan ekspor dan kenaikan impor.
Kondisi ekuilibrium pada pasar barang dipengaruhi oleh tingkat bunga dan nilai tukar namun dapat disederhanakan
dengan menggunakan asumsi mobilitas modal yang sempurna. Persamaan matematisnya dapat diungkapkan dengan persamaan
IS*:
1
Chapter 13
Y = C ( Y - T ) + I ( r* ) + G + NX ( e ).
Persamaan ini dapat diilustrasikan dengan kurva dimana pendapatan berada pada sumbu horizontal dan nilai tukar berada pada
sumbu vertikal.
2. Kebijakan Moneter
Misalkan sekarang bahwa bank sentral meningkatkan jumlah uang beredar. Karena tingkat harganya diasumsikan tetap,
jumlah uang beredar berarti meningkat dalam keseimbangan uang riil. Peningkatan keseimbangan riil menggeser kurva LM*
ke kanan, seperti pada Gambar 13-5. Oleh karena itu, peningkatan jumlah uang beredar meningkatkan pendapatan dan
menurunkan nilai tukar.
Meskipun kebijakan moneter mempengaruhi pendapatan dalam ekonomi terbuka, seperti halnya dalam ekonomi tertutup,
mekanisme transmisi moneter berbeda. Dalam perekonomian tertutup, peningkatan jumlah uang beredar meningkatkan
pengeluaran karena menurunkan tingkat bunga dan merangsang investasi. Di negara kecil dengan ekonomi terbuka, saluran
transmisi moneter ini tidak tersedia karena suku bunga ditetapkan oleh suku bunga dunia.
3
Chapter 13
3. Kebijakan Perdagangan
Anggaplah pemerintah mengurangi permintaan untuk barang impor dengan memaksakan kuota impor atau tarif impor. Apa
yang terjadi pada pendapatan agregat dan kurs? Bagaimana ekonomi mencapai keseimbangan baru?
Karena ekspor neto sama dengan ekspor dikurangi impor, penurunan impor berarti peningkatan ekspor neto. Artinya, jadwal
ekspor bersih bergeser ke kanan, seperti pada Gambar 13-6. Pergeseran dalam ekspor neto ini meningkatkan pengeluaran dan
dengan demikian menggerakkan kurva IS* ke kanan. Karena kurva LM* vertikal, pembatasan perdagangan meningkatkan
nilai tukar tetapi tidak mempengaruhi pendapatan. Kekuatan ekonomi di balik transisi ini mirip dengan kasus ekspansif
kebijakan fiskal. Karena ekspor neto adalah komponen dari GDP.
Kebijakan perdagangan yang terbatas sering memiliki tujuan mengubah neraca perdagangan NX. Namun, kebijakan
semacam itu tidak harus memiliki efek tersebut. Kesimpulan yang sama berlaku dalam model Mundell-Fleming di bawah
nilai tukar yang mengambang.
NX (e) = Y – C(Y – T) – I (r*) – G.
Karena pembatasan perdagangan tidak mempengaruhi pendapatan, konsumsi, investasi, atau pembelian pemerintah, juga
tidak mempengaruhi neraca perdagangan. Meski pergerakan cenderung menaikkan NX, peningkatan nilai tukar mengurangi
NX dengan jumlah yang sama. Efek keseluruhannya adalah perdagangan yang lebih sedikit. Impor ekonomi domestik lebih
rendah daripada sebelum pembatasan perdagangan, tetapi ekspor lebih sedikit juga.
Halaman 377-387
Sistem kurs tetap membuat bank sentral membeli dan menjual mata uang domestik untuk mendapatkan mata uang asing
pada harga yang telah ditentukan. Sebagai contoh, ketika the Fed mengumumkan bahwa pihaknya akan menetapkan nilai tukar
yen/dolar pada 100 yen per dolar, maka pihak bank akan memberikan $1 untuk 100 yen atau 100 yen untuk $1. Untuk
melaksanakan kebijakan tersebut, the Fed akan membutuhkan cadangan baik dollar maupun yen.
Penetapan kurs dapat menentukan jumlah uang yang beredar. Misalkan the Fed menetapkan kurs berada pada 100 yen
per dolar disaat kurs pasar berada pada 150 yen per dolar. Situasi tersebut terilustrasi pada panel (a) Figure 13-7. Pada situasi
tersebut terdapat peluang profit: arbitrageur dapat membeli 300 yen di pasar mata uang asing dengan $2 dan kemudian menjual
yen tersebut kepada the Fed untuk $3, sehingga dihasilkan profit $1. Ketika the Fed membeli yen tersebut dari arbitrageur, dolar
yang dibayarkan secara otomatis menaikkan jumlah uang yang beredar. Kenaikan jumlah uang yang beredar menggeser kurva LM
ke kanan, menurunkan keseimbangan kurs. Jumlah uang yang beredar akan terus meningkat sampai keseimbangan kurs jatuh pada
tingkat yang ditetapkan.
Sebaliknya, ketika the Fed menetapkan kurs pada 100 yen per dolar pada saat kurs pasar berada pada 50 yen per dolar.
Panel (b) dari Figure 13-7 menunjukkan situasi tersebut. Pada kasus tersebut, arbitrageur dapat menghasilkan profit dengan
membeli 100 yen dari the Fed dengan $1 dan kemudian menjual yen tersebut di pasar untuk $2. Ketika the Fed menjual yen
tersebut, $1 yang diterima secara otomatis mengurangi jumlah uang yang beredar. Turunnya jumlah uang yang beredar menggeser
kurva LM ke kiri, menaikkan keseimbangan kurs. Jumlah uang yang beredar terus menurun sampai keseimbangan kurs naik pada
level yang telah ditetapkan.
4
Chapter 13
Fiscal Policy
Monetary Policy
Meskipun begitu, suatu negara masih dapat mengubah tingkat kurs yang ditetapkan. Pengurangan nilai dari mata uang
disebut devaluasi, dan pengingkatannya disebut revaluasi. Didalam model Mundel-Fleming, devaluasi menggeser kurva LM ke
kanan; hal tersebut berlaku seperti peningkatan jumlah uang yang beredar dengan kurs mengambang. Devaluasi memperbesar net
ekspor dan meningkatkan pendapatan agregat. Sebaliknya, revaluasi menggeser kurva LM ke kiri, mengurangi net ekspor, dan
menurunkan pendapatan agregat.
Trade Policy
5
Chapter 13
Ketika pendapatan naik, savings juga naik, menyiratkan kenaikan pada net ekspor.
Alasan lainnya adalah ekpektasi perubahan kurs. Sebagai contoh, misalkan orang-orang berekspektasi bahwa peso
Mexico akan jatuh nilainya relatif terhadap dolar AS. Untuk mengkompensasi ekspektasi tersebut, tingkat suku bunga di Meksiko
akan menjadi lebih tinggi dibandingkan dengan tingkat suku bunga di AS.
Untuk menggabungkan perbedaaan tingkat suku bunga ke dalam model Mundel-Flemming, diasumsikan bahwa tingkat
suku bunga di small open economy ditentukan oleh tingkat suku bunga dunia ditambah dengan risk premium θ:
Risk premium ditentukan oleh resiko politik suatu negara dan ekspektasi perubahan kurs riil. Berikut adalah model
persamaan dalam rangka menguji bagaimana perubahan risk premium mempengaruhi ekonomi:
Kedua persamaan diatas menentukan tingkat pendapatan dan kurs yang menyeimbangkan pasar barang dan pasar uang.
Kekacauan politik menyebabkan suku bunga domestik meningkat. Tingginya tingkat suku bunga domestik memiliki 2 efek. Yang
pertama, kurva IS bergeser ke kiri karena tingkat suku bunga yang lebih tinggi mengurangi investasi. Yang kedua, kurva LM
6
Chapter 13
bergeser ke kanan karena tingkat suku bunga yang lebih tinggi mengurangi permintaan uang, Seperti yang ditunjukkan Figure 13-
11, kedua pergeseran menyebabkan pendapatan meningkat dan mata uang domestic terdepresiasi.
Depresiasi mata uang domestik mendorong net ekspor sehingga pendapatan agregat meningkat. Meskipun begitu,
terdapat beberapa alasan mengapa tidak terjadi booming pada pendapatan. Sehingga, country risk dalam jangka pendek
mendepresiasi mata uang dan menurunkan pendapatan agregat. Sebagai tambahan, karena tingkat suku bunga yang lebih tinggi
mengurangi investasi, maka implikasi jangka panjangnya adalah mengurangi akumulasi modal dan pertumbuhan ekonomi yang
lebih rendah.
388-398
Argumen utama untuk nilai tukar mengambang adalah bahwa hal itu memungkinkan suatu negara untuk menggunakan kebijakan
moneternya untuk tujuan lain. Di bawah suku bunga tetap, kebijakan moneter berkomitmen untuk tujuan tunggal mempertahankan
nilai tukar pada tingkat yang diumumkan. Namun nilai tukar hanya salah satu dari banyak variabel makroekonomi yang dapat
dipengaruhi oleh kebijakan moneter. Sistem nilai tukar mengambang membuat pembuat kebijakan moneter bebas mengejar tujuan
lain, seperti menstabilkan pekerjaan atau harga.
Para pendukung nilai tukar tetap terkadang berpendapat bahwa komitmen terhadap nilai tukar tetap adalah salah satu cara untuk
mendisiplinkan otoritas moneter suatu negara dan mencegah pertumbuhan berlebihan dalam jumlah uang beredar. Namun ada
banyak aturan kebijakan lain yang dapat dilakukan oleh bank sentral. Memperbaiki nilai tukar memiliki keuntungan lebih mudah
diimplementasikan daripada aturan kebijakan lain ini karena jumlah uang beredar menyesuaikan secara otomatis, tetapi kebijakan
ini dapat menyebabkan volatilitas pendapatan dan kesempatan kerja yang lebih besar.
Dalam praktiknya, pilihan antara suku bunga mengambang dan tetap tidaklah se-kaku yang tampak pada awalnya. Di bawah
sistem nilai tukar tetap, negara-negara dapat mengubah nilai mata uang mereka jika mempertahankan konflik nilai tukar terlalu
parah dengan tujuan lain. Di bawah sistem nilai tukar mengambang, negara-negara sering menggunakan target formal atau
informal untuk nilai tukar ketika memutuskan apakah akan memperluas atau mengontrak jumlah uang beredar. Kami jarang
mengamati nilai tukar yang benar-benar tetap atau benar-benar mengambang. Sebaliknya, di bawah kedua sistem, stabilitas nilai
tukar biasanya salah satu di antara banyak tujuan bank sentral.
Bayangkan bahwa Anda adalah bankir pusat dari sebuah negara kecil. Anda dan rekan pembuat kebijakan Anda memutuskan
untuk memperbaiki mata uang Anda — sebut saja peso — melawan dolar AS. Mulai sekarang, satu peso akan dijual seharga satu
dolar.
Seperti yang telah kita bahas sebelumnya, Anda sekarang harus siap membeli dan menjual peso seharga satu dolar. Jumlah uang
beredar akan menyesuaikan secara otomatis untuk membuat kurs ekuilibrium sama dengan target Anda. Namun ada satu masalah
potensial dengan rencana ini: Anda mungkin kehabisan uang. Jika orang datang ke bank sentral untuk menjual peso dalam jumlah
besar, cadangan dolar bank sentral mungkin menyusut ke nol. Dalam hal ini, bank sentral tidak punya pilihan selain meninggalkan
kurs tetap dan membiarkan peso terdepresiasi.
7
Chapter 13
Fakta ini meningkatkan kemungkinan serangan spekulatif — perubahan dalam persepsi investor yang membuat kurs tetap tidak
bisa dipertahankan. Anggaplah, tanpa alasan yang kuat, desas-desus menyebar bahwa bank sentral akan meninggalkan pasak
exchange rate. Orang akan merespon dengan bergegas ke bank sentral untuk mengubah peso menjadi dolar sebelum peso
kehilangan nilainya. Kesibukan ini akan menguras cadangan bank sentral dan dapat memaksa bank sentral untuk meninggalkan
pasak. Dalam hal ini, rumor itu akan terbukti memuaskan diri.
Untuk menghindari kemungkinan ini, beberapa ekonom berpendapat bahwa nilai tukar tetap harus didukung oleh dewan mata
uang, seperti yang digunakan oleh Argentina pada 1990-an. Sebuah dewan mata uang adalah pengaturan dimana bank sentral
memiliki cukup mata uang asing untuk mendukung setiap unit mata uang domestik. Dalam contoh kami, bank sentral akan
menahan satu dolar AS (atau satu dolar yang diinvestasikan dalam obligasi pemerintah AS) untuk setiap peso. Tidak peduli berapa
banyak peso yang muncul di bank sentral untuk ditukarkan, bank sentral tidak akan pernah kehabisan uang.
Begitu bank sentral telah mengadopsi dewan mata uang, itu mungkin mempertimbangkan langkah alami berikutnya: ia dapat
meninggalkan peso sama sekali dan membiarkan negaranya menggunakan dolar AS. Rencana seperti itu disebut dolarisasi. Ini
terjadi dengan sendirinya dalam ekonomi inflasi tinggi, di mana mata uang asing menawarkan nilai yang lebih dapat diandalkan
daripada mata uang domestik. Tetapi itu juga bisa terjadi sebagai masalah kebijakan publik, seperti di Panama.
Jika suatu negara benar-benar menginginkan mata uangnya untuk tetap ditarik ke dolar, metode yang paling dapat diandalkan
adalah membuat mata uangnya dolar. Satu-satunya kerugian dari dolarisasi adalah pendapatan seigniorage (pendapatan yang
dibangkitkan oleh pemerintah melalui penciptaan uang yaitu perbedaan antara nilai nominal koin dan biaya produksi mereka; juga
disebut pajak inflasi. (Mankiw, 2015)) yang diberikan pemerintah dengan melepaskan kontrolnya atas mesin cetak. Pemerintah AS
kemudian mendapat pendapatan yang dihasilkan oleh pertumbuhan jumlah uang beredar (dolarisasi juga dapat menyebabkan
hilangnya kebanggaan nasional dari melihat potret Amerika pada mata uang. Jika ingin, pemerintah AS bisa memperbaiki masalah
ini dengan membiarkan kosongnya ruang tengah yang sekarang memiliki potret George Washington, Abraham Lincoln, dan lain-
lain. Setiap negara yang menggunakan mata uang AS dapat memasukkan wajah para pahlawan lokalnya sendiri).
Analisis rezim nilai tukar mengarah pada kesimpulan sederhana: Anda tidak dapat memiliki semuanya. Untuk lebih tepatnya,
tidak mungkin bagi suatu negara untuk memiliki arus modal bebas, nilai tukar tetap, dan kebijakan moneter independen. Fakta ini,
sering disebut impossible trinity (atau kadang-kadang trilemma keuangan internasional), diilustrasikan pada Figure 13-12. Suatu
bangsa harus memilih satu sisi dari segitiga ini, menyerahkan fitur kelembagaan di sudut berlawanan. Opsi pertama adalah untuk
memungkinkan arus modal bebas dan untuk melakukan kebijakan moneter independen (Amerika). Dalam hal ini, tidak mungkin
memiliki nilai tukar tetap. Sebaliknya, nilai tukar harus mengambang untuk menyeimbangkan pasar pertukaran mata uang asing.
Impossible Trinity
Tidak mungkin bagi suatu negara untuk memiliki arus modal bebas (free
capital flows), nilai tukar tetap (fixed exchange rate), dan kebijakan
moneter independen (independent monetary policy). Suatu bangsa harus
memilih satu sisi dari segitiga ini, menyerah pada sudut yang berlawanan.
Pilihan kedua adalah untuk memungkinkan arus modal bebas dan untuk
memperbaiki nilai tukar (Hong Kong). Dalam hal ini, bangsa kehilangan
kemampuan untuk melakukan kebijakan moneter independen. Jumlah uang
beredar harus menyesuaikan untuk menjaga nilai tukar pada tingkat yang
telah ditentukan. Dalam arti, ketika suatu bangsa memperbaiki mata
uangnya dengan mata uang negara lain, ia mengadopsi kebijakan moneter negara lain itu.
Pilihan ketiga adalah membatasi aliran modal internasional di dalam dan luar negeri (Cina). Dalam hal ini, tingkat bunga tidak
lagi ditetapkan oleh suku bunga dunia tetapi ditentukan oleh kekuatan domestik, seperti halnya dalam perekonomian yang
sepenuhnya tertutup. Kemudian dimungkinkan untuk memperbaiki nilai tukar dan melakukan kebijakan moneter independen.
Sejarah telah menunjukkan bahwa negara dapat, dan memang, memilih sisi-sisi berbeda dari trinitas. Setiap negara harus
mengajukan sendiri pertanyaan berikut: Apakah ia ingin hidup dengan volatilitas nilai tukar (opsi 1), apakah ia ingin
menghentikan penggunaan kebijakan moneter untuk tujuan stabilisasi domestik (opsi 2), atau apakah ia ingin membatasi
warganya untuk berpartisipasi dalam pasar keuangan dunia (opsi 3)? Trinitas yang mustahil mengatakan bahwa tidak ada bangsa
yang dapat menghindari membuat salah satu dari pilihan ini.
8
Chapter 13
13-6 From the Short Run to the Long Run: The Mundell–Fleming Model With a Changing Price Level
Sejauh ini kami telah menggunakan model Mundell-Fleming untuk mempelajari ekonomi terbuka kecil dalam jangka pendek
ketika tingkat harga ditetapkan. Kami sekarang mempertimbangkan apa yang terjadi ketika tingkat harga berubah. Melakukan hal
itu akan menunjukkan bagaimana model Mundell–Fleming menyediakan teori kurva permintaan agregat dalam ekonomi terbuka
kecil. Hal ini juga akan menunjukkan bagaimana model jangka pendek ini terkait dengan model ekonomi terbuka jangka panjang
(Bab 6). Karena kita sekarang ingin mempertimbangkan perubahan tingkat harga, nilai tukar nominal dan riil dalam perekonomian
tidak akan ada. lagi bergerak bersama-sama. Dengan demikian, kita harus membedakan kedua variabel ini. Nilai tukar nominal
adalah e dan nilai tukar riil adalah , yang sama dengan eP / P*. Kita dapat menulis model Mundell-Fleming sebagai
Persamaan pertama menggambarkan kurva IS *; dan yang kedua menjelaskan kurva LM *. Perhatikan bahwa ekspor neto
bergantung pada kurs riil.
Jadi, seperti model IS-LM menjelaskan kurva permintaan agregat dalam perekonomian tertutup, model Mundell-Fleming
menjelaskan kurva permintaan agregat untuk ekonomi terbuka kecil. Dalam kedua kasus, kurva permintaan agregat menunjukkan
set equilibria dalam barang dan pasar uang yang muncul karena tingkat harga bervariasi. Dan dalam kedua kasus, apa pun yang
mengubah pendapatan ekuilibrium, selain daripada perubahan tingkat harga, menggeser kurva permintaan agregat. Kebijakan dan
peristiwa yang meningkatkan pendapatan untuk tingkat harga tertentu menggeser kurva permintaan agregat ke kanan; kebijakan
dan peristiwa yang menurunkan pendapatan untuk tingkat harga tertentu menggeser kurva permintaan agregat ke kiri. Kita dapat
menggunakan diagram ini untuk menunjukkan keterkaitan model jangka pendek dengan model jangka panjang (Bab 6).
Figure 13-13 menunjukkan apa yang terjadi ketika tingkat harga turun. Karena
tingkat harga yang lebih rendah meningkatkan tingkat keseimbangan uang riil,
kurva LM * bergeser ke kanan, seperti pada panel (a). Kurs riil jatuh, dan tingkat
pendapatan ekuilibrium naik. Kurva permintaan agregat meringkas hubungan
negatif ini antara tingkat harga dan tingkat pendapatan, seperti yang ditunjukkan
pada panel (b). Panel (b) menunjukkan bahwa hubungan negatif antara P dan Y
diringkas oleh kurva permintaan agregat.
Kecepatan transisi antara equilibria jangka pendek dan jangka panjang bergantung pada seberapa cepat tingkat harga
menyesuaikan untuk mengembalikan ekonomi ke tingkat output alami. Tingkat pendapatan di titik K dan titik C keduanya
menarik. Perhatian utama kami dalam bab ini adalah bagaimana pengaruh kebijakan menunjuk K, ekuilibrium jangka pendek.
Dalam bab ini kita telah mempelajari bagaimana ekonomi terbuka kecil bekerja dalam jangka pendek ketika harga-harga menjadi
kaku. Kami telah melihat bagaimana kebijakan moneter, fiskal, dan perdagangan memengaruhi pendapatan dan nilai tukar, serta
bagaimana perilaku ekonomi bergantung pada apakah kurs mengambang atau tetap. Ekonomi terbuka yang besar, seperti Amerika
Serikat, menggabungkan perilaku ekonomi tertutup dan perilaku ekonomi terbuka kecil. Ketika menganalisis kebijakan dalam
ekonomi terbuka besar, kita perlu mempertimbangkan baik logika tertutup (Bab 12) dan logika ekonomi terbuka.
Untuk melihat bagaimana kita dapat memanfaatkan logika ekonomi terbuka tertutup dan kecil dan menerapkan wawasan ini ke
Amerika Serikat, pertimbangkan bagaimana kontraksi moneter mempengaruhi ekonomi dalam jangka pendek. Dalam
perekonomian tertutup, kontraksi moneter meningkatkan tingkat bunga, menurunkan investasi, dan dengan demikian menurunkan
pendapatan agregat. Dalam perekonomian terbuka kecil dengan kurs mengambang, kontraksi moneter meningkatkan nilai tukar,
menurunkan ekspor neto, dan dengan demikian menurunkan pendapatan agregat. Tingkat bunga tidak terpengaruh, karena
ditentukan oleh pasar keuangan dunia.
Perekonomian AS mengandung elemen dari kedua kasus. Karena Amerika Serikat cukup besar untuk mempengaruhi tingkat
bunga dunia dan karena modal tidak bergerak sempurna di seluruh negara, kontraksi moneter meningkatkan suku bunga dan
menekan investasi. Pada saat yang sama, kontraksi moneter juga menaikkan nilai dolar, sehingga menekan ekspor neto. Oleh
karena itu, meskipun model Mundell-Fleming tidak tepat menggambarkan ekonomi seperti Amerika Serikat, itu benar
memprediksi apa yang terjadi pada variabel internasional seperti nilai tukar, dan itu menunjukkan bagaimana interaksi
internasional mengubah efek kebijakan moneter dan fiskal.
10