Praktik Kerja Lapangan di PT Semen Padang
Praktik Kerja Lapangan di PT Semen Padang
PENDAHULUAN
1
dalam proses produksi semen untuk menjaga kualitas produk semen yang
dihasilkan.
1.3 Manfaat
Manfaat praktik kerja lapangan yaitu untuk mencari pengalaman kerja
sebelum memasuki dunia kerja dimana mahasiswa mendapat pengalaman
bekerja selama 6 minggu di Unit Quality Control Pabrik Indarung VI
[Link] Padang.
1.5 Lokasi
Tempat pelaksanaan praktik kerja lapangan yakni PT Semen Padang
Pabring Indarung VI, di Unit Quality Control.
2
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
2.1 Semen
Semen merupakan produk industri yang berbahan dasar batu kapur
dan tanah liat atau bahan pengganti lainnya dengan hasil akhir berupa padatan
berbentuk bubuk (bulk), yang mengeras ketika dicampur dengan air.
Kegunaannya untuk merekatkan batu bata, batako, maupun bahan – bahan
bangunan lainnya. Semen berasal dari bahasa latin yaitu “cementum” yang
artinya perekat atau binder (pengikat). Bila semen dicampurkan dengan air
dan agregat, maka terbentuklah beton.
Batu kapur/gamping merupakan bahan alam yang mengandung
senyawa Kalsium oksida (CaO), sedangkan lempeng/tanah liat adalah bahan
alam yang mengandung senyawa Silika oksida(SiO2), Aluminium oksida
(Al2O3), Besi oksida (Fe2O3), dan Magnesium oksida (MgO).
3
4) Tahap penggilingan klinker (pembuatan semen) dalam mill yang berisi
grinding media sehingga menjadi serbuk semen yang halus lalu disimpan
dalam silo.
5) Tahap pengantongan semen untuk kemudian dipasarkan.
2.2 Klinker
Terak atau klinker adalah produk yang dihasilkan dari proses
pembakaran rawmix. Secara umum, faktor-faktor yang mempengaruhi
kualitas terak/klinker adalah mineral (komposisi), tekstur (krisnalitas, ukuran
butiran dan bentuk butiran) dan struktur (homogenitas dan porositas).
Senyawa mineral dalam terak/klinker merupakan senyawa komplek dari
oksida-oksida utama kalsium, silica, alumina dan besi yang dihasilkan dari
proses pembakaran di dalam kiln. Senyawa potensial ini adalah Trikalsium
silikat (C3S, Alite), Dikalsium silikat (C2S, Belite), Trikalsium aluminat
(C3A, Aluminat) dan Tetrakalsium alumino ferrit (C4AF, Ferrite). Selain
keempat senyawa potensial di atas, senyawa-senyawa minor yang terkandung
dalam terak/klinker antara lain adalah CaO bebas, MgO bebas, SO3, TiO2,
P2O5, SrO, Na2O, K2O, Cr2O3, Cl, dan F dalam larutan padat.
4
diumpankan ke coal mill. Coal mill adalah alat yang mengolah batubara
menjadi finecoal yang akan diumpankan sebagai bahan bakar pada kiln.
Di dalam coal mill, Rawcoal jatuh ke atas grinding table dan menuju tepi
table akibat gaya sentifugal, kemudian akan digiling oleh grinding roller.
Rawcoal juga mengalami proses pengeringan dengan memanfaatkan gas
panas pembuangan dari suspension preheater. Gas panas akan
mengangkat rawcoal menuju ke classifier sehingga material yang masih
kasar dan halus akan terpisah, material kasar akan dikembalikan ke
dalam mill untuk digiling kembali sedangkan material halus akan masuk
kedalam cyclone sehingga gas dan finecoal akan terpisah. Finecoal akan
disimpan di dalam bin finecoal dan gas akan diteruskan menuju ke
electrostatic precipitator. Udara tekan dari blower akan meniup finecoal
menuju burner.
2) Proses pemanasan awal (Preheater)
Proses preheater terjadi pada suspension preheater yang bertujuan
untuk pemanasan awal dan kalsinasi awal raw mix sehingga pemanasan
selanjutnya dalam kiln lebih mudah. Suspension preheater terdiri dari
dua string A dan string B. Masing – masing string ini terdiri dari 4 buah
cyclone separator yang berfungsi untuk memisahkan antara material
dengan gas dan 1 buah kalsiner yang berfungsi tempat kalsinasi awal
yaitu ILC (In Line Calsiner).
3) Proses pembakaran (Rotary Kiln)
Proses pembakaran terjadi di rotary kiln, menggunakan bahan
bakar yaitu finecoal. Pada dinding kiln dilapisi oleh batu tahan api yang
berfungsi untuk melindungi dinding kiln dari panas yang terbuat dari besi
dimaksudkan agar tidak meleleh pada saat proses pembakaran
berlangsung. Selain batu tahan api, coating digunakan sebagai isolator
untuk melindungi rotary kiln agar panas tidak terbuang ke luar.
5
Tabel [Link] Tahap – tahap proses pembakaran di kiln
No. Temperatur 0C Tahap proses
6
klinker yang tidak terbakar sempurna selama proses pembakarran di kiln
dan bisa sebagai penyimpanan sementara klinker yang akan diekspor.
7
2.3 Batubara
Batubara merupakan batuan hidrokarbon padat yang terbentuk dari
tumbuh – tumbuhan dalam lingkungan bebas oksigen dan terkena pengaruh
panas serta tekanan yang berlangsung sangat lama. Batubara merupakan
sedimen organik, lebih tepatnya merupakan batuan organik, terdiri dari
kandungan bermacam – macam pseudomineral. Batubara terbentuk dari sisa
tumbuhan yang membusuk dan terkumpul dalam suatu daerah dengan kondisi
banyak air. Kondisi tersebut yang menghambat penguraian menyeluruh dari
sisa – sisa tumbuhan yang kemudian mengalami proses perubahan menjadi
batubara.
8
unsur-unsur hidrogen (H), Nitrogen (N), Oksigen (O), dan Karbon (C)
dalam bentuk senyawa yaitu CO2, H2O, dan NH3 untuk menjadi humus.
Selanjutnya bakteri-bakteri anaerobik serta fungi mengubah material tadi
menjadi gambut (peat) (Susilawati, 1992).
Sedangkan pada proses pembatubaraan (coalification), terjadi
proses diagenesis dari komponen-komponen organik yang terdapat pada
gambut. Peristiwa diagenesis ini menyebabkan naiknya temperatur dalam
gambut itu. Dengan semakin tebalnya timbunan tanah yang terbawa air,
yang menimbun material gambut tersebut, terjadi pula peningkatan
tekanan. Kombinasi dari adanya proses biokimia, proses kimia, dan
proses fisika, yakni berupa tekanan oleh material penutup gambut itu,
dalam jangka waktu geologi yang panjang, gambut akan berubah menjadi
batubara. Akibat dari proses ini terjadi peningkatan persentase
kandungan Karbon (C), sedangkan kandungan Hidrogen (H) dan Oksigen
(O) akan menjadi menurun, sehingga dihasilkan batubara dalam berbagai
tingkat mutu (Susilawati, 1992).
9
(rank) batubara. Analisis ini dapat mengacu pada standar ISO 17246
yaitu Coal Proximate Analysis.
Analisis proksimat mencakup :
a) Kalori (Calorific Value atau CV) (cal/gr atau kcal/kg)
Calorific value merupakan parameter penentu kualitas batubara.
Semakin tinggi nilai kalori yang terkandung di batubara tersebut
maka energi yang dihasilkan dari batubara tersebut semakin besar
pula. Batubara jenis antrasit memiliki tingkat nilai kalori yang
tinggi sebesar 7777 kcal/kg. Nilai panas diukur dengan alat Bomb
Calorimeter. Nilai panas ada 2 macam yaitu :
a. Nilai kalor bersih (net calorific value) yang merupakan nilai
kalor pembakaran dimana semua air dihitung dalam keadaan
wujud gas.
b. Nilai kalor kotor (gross calorific value) yang merupakan nilai
kalor pembakaran dimana semua air dihitung dalam keadaan
wujud cair.
Kalor adalah suatu bentuk energi yang diterima oleh suatu benda
yang menyebabkan benda tersebut berubah suhu atau wujud
bentuknya.
10
pembakaran dan intensitas nyala api. Kandungan zat terbang
sangat erat kaitannya dengan kelas batubara tersebut, makin tinggi
kandungan zat terbang makin rendah kelasnya.
d) Moisture Content
Kadar air (moisture), yaitu kandungan air yang terdapat pada
batubara. Kandungan moisture mempengaruhi jumlah pemakaian
udara primernya pada batubara. Kandungan air ini dapat dibedakan
atas 3 yaitu :
1) Kadar air bebas (free surface moisture), yaitu air yang
menempel pada permukaan batubara yang berasal dari air hujan
dan juga air semprotan yang mana akan mudah menguap.
2) Kadar air bawaan (inheret moisture) yaitu air yang terdapat
pada rongga (pori) dan mineral yang terdapat dalam batubara.
Air ini dapat dihilangkan dengan suhu pemanasan 105-110℃.
3) Kadar air total (total moisture), merupakan jumlah dari kadar
air bebas ditambah dengan kadar air bawaan.
e) Sulfur Content
Kandungan sulfur dalam batubara sangat tidak diinginkan, karena
sulfur dapat mempengaruhi sifat-sifat pembakaran yang dapat
menyebabkan terbentuknya clogging. Di dalam sistem kiln
senyawa sulfur tersebut akan meleleh dan menguap di burning
zone, kemudian akan mengembun (kondensasi) di daerah inlet kiln
atau preheater di mana daerah tersebut temperaturnya mecapai titik
embun dari senyawa-senyawa tersebut.
B. Analisa Ultimat
Analisa ultimat dilakukan untuk menentukan kadar karbon
(C), hidrogen(H), oksigen (O), nitrogen (N), dan sulfur (S) dalam
batubara. Seiring dengan perkembangan teknologi, analisa ultimat
11
batubara sekarang sudah dapat dilakukan dengan cepat dan mudah.
Analisa ultimat ini dilakukan oleh alat yang sudah terhubung dengan
komputer. Prosedur analisis ultimat ini cukup ringkas, dengan
memasukkan sampel batubara kedalam alat dan hasil analisis akan
muncul kemudian pada layar komputer.
12
BAB III
OBJEK PRAKTIK KERJA
13
1920 sebesar 40.120 ton/tahun, dan pada tahun 1939 mencapai produksi
tertinggi sebesar 172.000 ton dengan menggunakan 4 kiln.
Pada tanggal 5 Juli 1958, perusahaan dinasionalisasi oleh Pemerintah
Republik Indonesia dari Pemerintah Belanda. Selama periode ini, perusahaan
mengalami proses kebangkitan kembali melalui rehabilitasi dan
pengembangan kapasitas pabrik Indarung I menjadi 330.000 ton/tahun.
Selanjutnya pabrik melakukan transformasi pengembangan kapasitas pabrik
dari terknologi proses basah menjadi proses kering dengan dibangunnya
pabrik Indarung II, III, dan IV.
Pada tahun 1955, pemerintah mengalihkan kepemilikan sahamnya dari
PT. Semen Padang ke PT. Semen Gresik (Persero) Tbk bersamaan dengan
pengembangan pabrik Indarung V. Pada saat ini, pemegang saham
perusahaan adalah PT. Semen Indonesia (Persero) Tbk dengan kepemilikan
saham sebesar 99,99% dan Koperasi Keluarga Besar Semen Padang dengan
saham sebesar 0,01%. PT. Semen Indonesia (Persero) Tbk sendiri sahamnya
dimiliki mayoritas oleh Pemerintah Republik Indonesia sebesar 51,01%.
Pemegang saham lainnya sebesar 48,09 % dimiliki publik.
Perkembangan selanjutnya, perusahaan melakukan peningkatan
kapasitas produksi dengan optimalisasi Indarung I dan pembangunan pabrik
baru yaitu Indarung II, III A, III B, dan III C. Maka mulai 1 Januari 1994
kapasitas terpasang meningkat menjadi 3.720.000 ton/tahun. Pabrik Indarung
I sebagai pabrik tertua yang menggunakan proses basah sekarang tidak
dioperasikan lagi mengingat efisiensi dan langkanya suku cadang
peralatannya. Pabrik Indarung II dibangun pada tahun 1977 dan selesai pada
tahun 1980. Setelah itu berturut – turut dibangun pabrik Indarung III A
(1981-1983) dan Indarung III B (selesai tahun 1987). Pabrik Indarung III C
dibangun oleh PT. Semen Padang pada tahun 1994.
Dalam perkembangannya, pabrik Indarung III A akhirnya dinamakan
pabrik Indarung III sedangkan pabrik Indarung III B dan III C yang
menggunakan satu kiln yang sama diberi nama pabrik Indarung IV. Dengan
diresmikannya pabrik Indarung V pada tanggal 16 Desember 1998, maka
14
kapasitas produksi meningkat menjadi 5.240.000 ton/tahun. Dalam
perkembangannya, pabrik ini sudah tumbuh dan berkembang menjadi pabrik
yang besar serta memiliki teknologi yang sejalan dengan kemajuan teknologi.
Dengan dibangun dan beroperasinya pabrik Indarung VI pada tahun 2017,
maka total produksi PT Semen Padang menjadi 7.940.000 ton/tahun dengan
rincian sebagai berikut :
- Pabrik Indarung II : 660.000 ton/tahun
- Pabrik Indarung III : 660.000 ton/tahun
- Pabrik Indarung IV : 1.620.000 ton/tahun
- Pabrik Indarung V : 2.300.000 ton/tahun
- Pabrik Indarung VI : 2.700.000 ton/tahun
15
Gambar 3.2.2 Struktur Organisasi Departemen Perencanaan & Pengendalian
Produksi PT. Semen Padang
16
Di laboratorium proses ini juga dilengkapi suatu alat untuk
menganalisa komposisi kimia dari raw material, menghitung proporsi dan
mengontrol material ke mill dengan menggunakan QCX system yang
terhubung dengan alat X-Ray Fluoresence.
3.4 Ketenagakerjaan
Karyawan terbagi atas 2 bagian, yaitu karyawan shift dan karyawan
non shift. Pengangkatan tingkat dan jabatan karyawan PT. Semen Padang
disesuaikan dengan pendidikan yang dimiliki. Sebagian besar karyawan yang
dipekerjakan sebegai pelaksana berijazah STM dan sederajat, yang jam
kerjanya dikenakan jadwal shift dengan ketentuan sebagai berikut :
1. Shift I : 07.00 – 15.00
17
2. Shift II : 15.00 – 22.00
3. Shift III : 22.00 – 07.00
Sedangkan karyawan non shift mempunyai jabatan diatas kepala regu
dengan jam kerja 5 hari kerja dan waktu kerja dari jam 08:00 – 17:00.
18
BAB IV
TUGAS KHUSUS
4.1 Tujuan
Untuk mengetahui pengaruh komposisi ash fine coal terhadap kualitas klinker
( LSF )
4.2 Prinsip
1. Oksidasi
Reaksi yang melibatkan pelepasan uap air dan CO2
2. Analisis menggunakan XRF
Analisis menggunakan XRF dilakukan berdasarkan identifikasi dan
pencacahan karakteristik sinar-X yang terjadi akibat efek fotolistrik. Efek
fotolistrik terjadi karena elektron dalam atom target pada sampel terkena
sinar berenergi tinggi (sinar-X).
19
4.4 Prosedur
Analisa batu bara pada PT. Semen Padang berfungsi untuk mengetahui
kondisi batu bara yang akan digunakan dalam proses produksi klinker.
Prosedur analisa ash batu bara :
Bakar komposit batu bara sebanyak ± 20 gr di dalam furnace sampai
suhu 950 ºC selama 1,5 jam sampai didapatkan ash yang cukup untuk
digunakan analisa menggunakan alat X-Ray Fluorosence.
Giling bahan / sampel yang akan dianalisa dengan bantuan herzog pil ( 4
tablet ) yang berfungsi sebagai bahan pengikat. Bahan campuran tadi
digiling lalu dibentuk seperti pallet dengan diameter 4 cm.
Masukkan pallet ke dalam alat X-Ray yang telah diprogram dengan
komputer.
Quality Control X-Ray akan menampilkan dalam monitor komputer yaitu
nilai intensitas yang menunjukkan oksida yang terkandung dalam bahan,
dimana nilai intensitas tersebut akan diiubah menjadi konsentrasi %.
20
2) Data klinker pada tanggal 22 Januari – 28 Januari 2019
Tabel [Link] Klinker tanggal 22 Januari – 28 Januari 2019
Klinker (%)
Tanggal
LSF SIM ALM C3 S C3A SiO2 Al2O3 Fe2O3 CaO MgO SO3
22-Jan-
93,41 2,23 1,63 53,58 9,69 21,71 6,02 3,70 65,68 1,02 0,26
19
23-Jan-
19 93,91 2,26 1,64 54,62 9,67 21,73 5,97 3,63 65,98 1,09 0,27
24-Jan-
19 95,24 2,23 1,66 55,93 9,79 21,38 6,00 3,61 65,97 1,08 0,33
25-Jan-
19 95,06 2,21 1,63 54,76 9,71 21,43 6,02 3,68 66,05 1,06 0,33
26-Jan-
19 94,86 2,24 1,64 54,42 9,67 21,51 5,97 3,64 66,06 1,03 0,32
27-Jan-
19 94,91 2,26 1,66 56,05 9,68 21,57 5,95 3,59 66,19 1,02 0,30
28-Jan-
19 94,97 2,28 1,68 54,92 9,76 21,59 5,94 3,53 66,23 1,08 0,36
4.5.2 Perhitungan
Tanggal 24 Januari
21
1) Kiln feed
100 x CaO
𝐿𝑆𝐹=
2,8 SiO2+1,18 Al2O3 +0,65 Fe2O3
100 x (43,86)
𝐿𝑆𝐹 kiln feed =
2,8 (14,36)+1,18 (3,60) +0,65 (2,26)
100
SiO2 = 𝑥 14,36 = 22,27
64,46
100
Al2O3 = 64,46 𝑥 3,60 = 5,58
100
Fe2O3 = 64,46 𝑥 2,23 = 3,46
100
CaO = 64,46 𝑥 43,68 = 67,76
100
MgO = 64,46 𝑥 0,59 = 0,91
Tabel [Link] Hasil Perhitungan LSF Kiln Feed & LSF Klinker
SiO2 Al2O3 Fe2O3 CaO MgO LSF
KF 14,36 3,60 2,23 43,68 0,59 95,50
CR 22,27 5,58 3,46 67,76 0,91 95,18
4.6 Pembahasan
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh komposisi ash
finecoal terhadap kualitas klinker. Data yang digunakan yaitu data kadar ash
finecoal yang terdapat pada batubara, data LSF klinker dan data LSF kiln
feed. Data ini diperoleh dari laboratorium proses Pabrik Indarung VI yaitu
tanggal 22 Januari hingga 28 Januari 2019.
22
Kadar ash finecoal merupakan persentase kandungan abu yang
terkandung di dalam batubara. Semakin tinggi kandungan ash finecoal, maka
panas yang akan diperoleh semakin rendah. Selain itu, ash fine coal dapat
mempengaruhi kualitas dari klinker yang dihasilkan baik dari komposisi
maupun kadarnya.
60
SiO2
50
34.96 34.83 35.49 36.15 34.4 36.39
40 32.38
30
20
Data ke-
Dari perbandingan, jika nilai SiO2 rendah maka nilai LSF klinker akan tinggi.
SiO2 sangat mempengaruhi LSF klinker karena kandungan SiO2 paling
banyak daripada oksida lain.
Pengaruh SiO2 terhadap LSF klinker juga dapat dibuktikan dengan
uji statistik menggunakan uji korelasi antar dua variabel :
23
Tabel [Link] Uji Korelasi antara SiO2 & LSF Klinker
N Correlation Significant
SiO2 & LSF Klinker 7 0,102 0,827
50
40 ash (%)
30 lsf klinker
20 10.78 10.76 11.72 10.24 10.7 12.24 11.02
10
0
Data ke-
Gambar [Link] Grafik pengaruh kadar ash finecoal dengan LSF klinker
24
Dari data untuk nilai LSF dari klinker dapat dilihat bahwa setiap
penambahan kadar ash finecoal menyebabkan penurunan pada LSF dari
klinker. Ini membuktikan bahwa kadar ash finecoal berbanding terbalik
dengan nilai LSF dari klinker. Hal ini dikarenakan tingginya kadar SiO2,
Al2O3, dan Fe2O3 di dalam finecoal dibandingkan dengan kiln feed. Jika
nilai LSF dalam klinker rendah maka klinker akan sulit untuk digiling.
Pengaruh kadar ash finecoal terhadap LSF klinker juga dapat di
buktikan dengan uji statistik menggunakan uji korelasi antar dua variabel :
Tabel [Link] Uji Korelasi antara Kadar ash finecoal & LSF Klinker
N Correlation Significant
Kadar ash fine coal & LSF 7 0,3 0,513
Klinker
25
Perbandingan lsf kiln feed dengan lsf klinker
96.5 95.86 96.06
95.62 95.74
96 95.19
95.5
95 94.31
94.5 95.24 95.06
LSF
94
93.65 94.86 94.91 94.97
93.5 lsf kiln feed
93.91
93
93.41
92.5 lsf klinker
92
Data ke-
Gambar [Link] Grafik pengaruh LSF Kiln feed dengan LSF klinker
Dari grafik di atas dapat dilihat perbandingan LSF kiln feed dengan
LSF klinker. Semakin naik LSF klin feed maka LSF klinker akan semakin
naik juga.
Pengaruh LSF kiln feed terhadap LSF klinker juga dapat di
buktikan dengan uji statistik menggunakan uji korelasi antar dua variabel :
Tabel [Link] Uji Korelasi antara LSF Kiln Feed & LSF Klinker
N Correlation Significant
LSF Kiln Feed & LSF Klinker 7 0,909 0,005
26
mempengaruhi nilai dari LSF kiln feed ke LSF klinker menjadi naik bisa
disebabkan karena oksida pada kadar abu finecoal yang mempengaruhi
nilai LSF menjadi naik, dan dalam melakukan preparasi terdapat
kesalahan. Pada perhitungan 4.2.5, LSF kiln feed yang didapat 95,50 tetapi
karena dipengaruhi ash fine coal menjadi turun menjadi 95,19, terdapat
kenaikan jumlah persen per oksida, yang dipengaruhi oleh oksida dari ash
finecoal dan menyebabkan LSF dari kiln feed ke LSF klinker menjadi naik.
Jadi dari data yang sudah diolah, komposisi ash finecoal yang
mempengaruhi LSF klinker yaitu SiO2 karena pada ash finecoal oksida
yang paling tinggi kandungannya yaitu SiO2, dan kadar ash finecooal
sedikit mempengaruhi LSF klinker, karena jumlah ash finecoal yang
diperlukan dalam pembuatan klinker sedikit yaitu ± 5 ton. Setiap
penambahan ash finecoal akan menyebabkan turunnya LSF kiln feed,
karena naiknya jumlah oksida pada kiln feed, yang mana LSF kiln feed
sangat mempengaruhi LSF klinker yaitu semakin naik LSF kiln feed maka
LSF klinker akan semakin naik juga. Dilihat dari grafik, kadar ash fine
coal hanya sedikit memengaruhi LSF klinker, karena data yang diperoleh
tidak bervariasi dan terjadi beberapa kesalahan saat preparasi sampel.
BAB V
27
SIMPULAN DAN SARAN
5.1 Simpulan
Dari hasil pengujian yang dilakukan dapat disimpulkan bahwa
komposisi ash finecoal yang mempengaruhi LSF Klinker yaitu SiO2 dan
kadar ash finecoal sedikit memengaruhi kualitas klinker (LSF). Setiap
penambahan ash finecoal akan menyebabkan turunnya LSF kiln feed, yang
mana LSF kiln feed sangat memengaruhi LSF klinker yaitu semakin naik LSF
kiln feed maka LSF klinker akan semakin naik.
5.2 Saran
1. Saat analisa, dalam preparasi sampel perlu diperhatikan lagi agar hasil
yang diperoleh memenuhi standar yang telah ditetapkan.
2. Mengingat banyaknya faktor – faktor lain yang berpengaruh maka perlu
dilakukan penelitian lebih lanjut, sehingga klinker yang dihasilkan tidak
memengaruhi kualitas semen.
DAFTAR PUSTAKA
28
Alemayu, F & Sahu, O. 2013. Minimization of Variation in Clinker Quality.
Advances in Materials, 2, 23-28.
Biro Pembinaan dan Pengembangan Personil. 1996. Penggilingan Klinker. PT
Semen Padang. Padang
Dahliar, N ., Widodo, S., & Tonggiroh, A. 2014. Pengaruh Komposisi Ash
Batubara Terhadap Kualitas Klinker Portland Cement Pada PT. Semen
Tonasa Unit III. Geosain. Vol 10. No.02
Duda, W.H. 1980. Cement Data Book 3rd edition. Vol 1. Benverlag. G.M.B.H.
Wesbeden and Berlin
Kerton, C. P & Murray, R. J. 1983. Portland Cement Production: in Structure and
Performance of cements. Applied Science Publisher. London
29
LAMPIRAN
30
Lampiran 6. X-ray Fluorosence
Lampiran 5. Neraca analitik
Lampiran 7. Furnace
31