0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
15 tayangan26 halaman

Panduan Lengkap Penyakit Asma

Bab ini membahas tinjauan pustaka tentang pengertian asma, patofisiologi, gejala, faktor penyebab, klasifikasi, dan pencegahan asma. Asma adalah penyakit inflamasi saluran napas kronis yang ditandai dengan mengi episodik, batuk dan sesak napas akibat sumbatan saluran napas. Faktor penyebab asma meliputi genetik, lingkungan, dan infeksi. Klasifikasi asma didasarkan pada gejala klinis dan tes fungsi

Diunggah oleh

Azka Tralala
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd
0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
15 tayangan26 halaman

Panduan Lengkap Penyakit Asma

Bab ini membahas tinjauan pustaka tentang pengertian asma, patofisiologi, gejala, faktor penyebab, klasifikasi, dan pencegahan asma. Asma adalah penyakit inflamasi saluran napas kronis yang ditandai dengan mengi episodik, batuk dan sesak napas akibat sumbatan saluran napas. Faktor penyebab asma meliputi genetik, lingkungan, dan infeksi. Klasifikasi asma didasarkan pada gejala klinis dan tes fungsi

Diunggah oleh

Azka Tralala
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd

BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

A. Uraian Teori

1. Definisi Asma

Penyakit asma berasal dari kata “Ashtma” yang di ambil dari Bahasa Yunani

yang berarti “sukar bernafas”. Penyakit asma merupakan proses inflamasi kronik

pernafasan yang melibatkan banyak sel dan elemennya (infodatin asma).

Asma adalah gangguan inflamasi kronik saluran napas yang melibatkan

banyak sel dan elemennya. Inflamasi kronik menyebabkan peningkatan

hiperesponsif jalan napas yang menimbulkan gejala episodik berulang berupa

mengi, sesak napas, dada terasa berat dan batuk-batuk terutama malam dan atau

dini hari. Episodik tersebut berhubungan dengan obstruksi jalan napas yang luas,

bervariasi dan seringkali bersifat reversibel dengan atau tanpa pengobatan

(pedoman diagnosis).

2. Patofisiologi

Asma merupakan penyakit inflamasi (peradangan) kronik saluran nafas

yang ditandai adanya mengi episodik, batuk dan rasa sesak di dada akibat

penyumbatan saluran nafas, termasuk dalam kelompok penyakit pernafasan kronik.

Walaupun mempunyai tingkat fatalitas yang rendah namun jumlah kasusnya cukup
banyak ditemukan dalam masyarakat. Badan Kesehatan (WHO) memperkirakan

100-150 juta penduduk dunia menderita asma. Bahkan jumlah ini diperkirakan akan

terus bertambah hingga mencapai 180.000 orang setiap tahun Inflamasi kronik

menyebabkan peningkatan hiperesponsif (hipereaktifitas) jalan napas yang

menimbulkan gejala episodik berulang berupa mengi, sesak napas, dada terasa berat

dan batuk-batuk terutama pada malam dan/atau dini hari. Episodik tersebut

berkaitan dengan sumbatan saluran napas yang luas, bervariasi dan seringkali

bersifat reversibel dengan atau tanpa pengobatan (Depkes, 2009).

Proses inflamasi pada asma akan menimbulkan kerusakan jaringan yang

secara fisiologis akan di ikuti oleh proses penyembuhan yang menghasilkan

perbaikan dan pergantian sel-sel mati/rusak dengan sel-sel yang baru. Proses

penyembuhan tersebut melibatkan regenerasi jaringan yang rusak dengan jenis sel

parenkin yang sama dan pergantian jaringan yang rusak dengan jaringan

penyambung yang yang menghasilkan jaringan skar. Pada asma kedua proses

tersebut berkontribusi dalam proses penembuhan dan inflamasi yang kemudian

akan menghasilkan perubahan struktur yang mempunyai mekanisme sangat

kompleks dan banyak belum diketahui yang dikenal dengan airway remodeling.

Mekanisme tersebut sangat heterogen dengan proses yang sangat dinamis dari

deferensiasi, migrasi, maturase, diferensiasi sel sebagaimana deposit jaringan

penyambung dengan di ikuti oleh restitusi/pergantian atau perubahan struktur dan

fungsi yang di pahami sebagai fibrosis dan peningkatan otot polos dan kelejar

mucus (Guidline PPOK).


3. Gejala Asma

Gejala asma yang paling umum adalah batuk. Batuk umumnya terjadi di

malam hari, dini hari, saat cuaca dingin, dan saat beraktivitas fisik. Nafas yang

terdengar seperti bunyi peluit dan juga kesulitan bernapas. Gejala asma akan

berlangsung selama 2-3 hari, atau bahkan lebih. Setelah serangan asma membaik,

penderita akan membutuhkan pereda serangan (reliever] 3-4 kali perhari hingga

batuk dan mengi menghilang (4698-11871-1-SM)

Keadaan bronkus yang sangat peka dan hipereaktif pada penderita asma

menyebabkan saluran nafas menjadi sempit, akibatnya pernafasan menjadi

terganggu. Hal ini menimbulkan gejala asma yang khas yaitu: batuk, sesak nafas,

dan wheezing atau mengi. Manifestasi serangan asma tidak sama pada setiap orang

bahkan pada satu penderita yang sama berat dan lamanya serangan asma dapat

berbeda dari waktu ke waktu. Beratnya serangan dapat bervariasi mulai dari yang

ringan sampai yang berat, demikian pula dengan lama serangan. Serangan bisa saja

singkat, sebaliknya dapat pula berlangsung sampai berhari-hari (4698-11871-1-

SM).

4. Faktor Penyebab Asma

Asma dapat di sebabkan oleh berbagai faktor dan setiap penderita mungkin

berlainan antara lain:

1. Faktor dasar

Faktor dasar atau kausa adalah faktor yang sudah ada pada diri

manusia itu untuk timbulnya asma.


2. Faktor lingkungan: yang mempengaruhi tersebut antara lain alergen,

infeksi, ketegangan psikologis, dan gaya hidup.

3. Faktor genetik: berhubungan dengan keturunan dimana gen tunggal

sebagai pembawa sifat keturunan yang dominan.

4. Faktor alergi: berhubungan dengan gaya hidup yang kurang bersih pada

komunitas negara berkembang dibandingkan negara maju, sehingga

menyebabkan deviasi imun dari perkembangan sistem imun menjadi

respons nonalergi (258-852-1-PB).

a. Faktor pencetus

Faktor pencetus yang menimbulkan terjadinya asma meliputi polutan udara,

dimana 70-80% pencemaran udara berasal dari gas buangan kendaraan, sedangkan

pencemaran udara yang disebabkan oleh industri berkisar 20-30%. Sumber polutan

di dalam ruangan yang dapat memicu kambuhnya asma antara lain sisa

pembakaran, zat kimia seperti obat nyamuk semprot/bakar dan lainnya, bau cat

yang tajam, bahan kimia lain seperti parfum, hairspray. Debu, bulu dan tungau dari

sofa, karpet, gordin juga dapat memicu terjadinya alergi yang berakibat asma

(2845-1900-1-PB)

5. Klasifikasi Asma

Diagnosis asma ditegakkan berdasarkan anamnesis yang baik, pemeriksaan

fisik, dan pengukuran faal paru. Pengukuran faal paru lebih objektif untuk menilai

derajat obstruksi saluran napas dengan cara pengukuran Arus Puncak Respirasi

(APE) menggunakan peak flow meter sedangkan. Volume Ekspirasi Paksa dalam
satu detik pertama (VEP1). Pada asma bronkial terdapat ketidakmampuan

mendasar dalam mencapai angka aliran udara normal pernapasan terutama pada

ekspirasi yang dicerminkan dengan rendahnya APE. APE adalah nilai kekuatan

aliran udara maksimal paru untuk menilai ada dan berat obstruksi jalan napas,

respon pengobatan, dan “asthma attack” yang terjadi pada pasien asma bronkial.

Salah satu indikasi adanya obstruksi pada saluran pernapasan adalah VEP1

menurun. VEP1 adalah jumlah udara yang dikeluarkan secepat-cepatnya pada satu

detik pertama sesudah mengambil napas sedalam-dalamnya. Pada penyakit

obstruksi, volume udara akan lebih lambat dikeluarkan. (895-1558-1-PB).

Tabel 1. Klasifikasi derajat asma berdasarkan gambaran klinik secara umum pada
orang dewasa (Pharmaceutical Care untuk penyakit Asma, Departemen Kesehatan
RI, 2007).

Derajat Asma Gejala Fungsi Paru


Intermitten Bulanan APE > 80%
-Gejala < 1x/minngu -VEP1 80% nilai prediksi
-Tanpa gejaladi luar APE 80% nilai terbaik.
serangan -Variability APE<20%
-Serangan singkat
Persisten Ringan Minggu APE 80%

-Gejala > 1x/minggu tetapi -VEP1 80% nilai prediksi


< 1x/hari APE 80% nilai terbaik.
-Serangan dapat -Variability APE 20-30%
mengganggu aktivitas dan
libur.
Persisten Sedang Harian APE 60-80%

-Gejala setiap hari -VEP1 80% nilai prediksi


-Serangan mengganggu APE 80% nilai terbaik.
aktivitas libur -Variabilitas APE 20-30%
-Membutuhkan
bronkodiatole setiap hari
Persisten Berat Kontinyu APE 60%
-Gejala terus menerus -VEPI 60% nilai prediksi.
-Sering kambuh APE 60% nilai terbaik.
-Aktivitas fisik terbatas -Variability APE >30%
Pemantauan Arus Puncak Ekspirasi (APE) dengan Peak Flow Meter

Monitoring APE penting untuk menilai berat asma, derajat variasi diural,

respon pengobatan saat serangan akut, deteksi peburukan asimtomatik sebelum

menjadi serius, respon pengobatan jangka Panjang, justifikasi objektif dalam

memberikan pengobatandan identifikasi pencetus misalnya pada lingkungan kerja

(Pedoman Diagnosis dan Pelaksanaan Asma di Indonesia 2011).

6. Pencegahan Asma

Dalam praktik kedokteran keluarga yang lebih mengutamakan upaya

preventif dan promotif dalam manajemen penyakit kronik seperti asma salah

satunya, maka upaya pencegahan yang dapat dilakukan meliputi 2 hal yaitu:

a. Mencegah Sensititasi

Langkah-langkah dalam pencegahan asma berupa pencgahan sensitiasi

alergi (terjadinya atopi, diduga paling relevan pada masa prenatal dan perinatal)

atau pencegahan terjadinya asma pada individu yang di di sensititasi. Hingga kinik

tidak ada bukti intervensi yang dapat mencegah perkembangan asma selain

menghindari paparan dengan sap rokok, baik in utero atau setelah lahir (buku ajar

respirologi).

b. Mencegah Eksaserbasi

Alergen indoor dan outdoor merupakan salah satu faktor yang dapat

menimbulkan eksaserbasi asma. Contoh allergen indoor seperti tungau, debu

rumah, hewan berbulu, kecoa dan jamur. Sedangkan alergen outdoor seperti polen,
jamur, infeksi virus, polutan dan obat. Dokter keluarga dapat memberikan edukasi

kepada orang tua pasien maupun pengasuh agar dapat mengurangi paparan

penderita asma anak dengan beberapa faktor seperti menghindarkan anak dari asap

rokok, lingkungan rumah dan sekolah yang bebas allergen, makanan, aditif, obat

yang menimbulkan gejala dapat memperbaiki kontrol asma serta keperluan obat.

Tetapi biasanya penderita bereaksi terhadap banyak faktor lingkungan sehingga

usaha menghindari alergen sulit di lakukan. Hal-hal lain yang harus pula di hindari

adalah polutan indoor dan outdoor, makanan dan aditif, obedsitas, emosi-stres dan

berbagai faktor lainnya (buku ajar respirologi).

7. Penatalaksanaan Asma

Tujuan utama pelaksanaan asma adalah untuk mencapai asma terkontrol

sehingga penderita asma dapat hidup normal tanpa hambatan dalam melakukan

aktivitas sehari-hari. Pada penatalaksanaan asma di bagi menjadi 2 (infodatin

asma):

1. Tatalaksana asma jangka panjang

Prinsip utama tatalaksana asma jangka panjang adalah edukasi, obat asma

(pengontrol dan pelega), dan menjaga kebugaran (senam asma). Obat pelega

diberikan pada saat serangan, obat pengontrol ditunjukan untuk pencegahan

serangan dan diberikan dalam jangka panjang dan terus menerus (infodatin asma).
2. Tatalaksana asma akut pada anak dan dewasa:

Tujuan tatalaksana serangan asma akut meliputi mengatasi gejala serangan

asma, mengembalikan fungsi paru ke keadaan sebelum serangan, mencegah

terjadinya kekambuhan dan mencegah kematian karena serangan asma (infodatin

asma).

Asma di katakana terkontrol bila:

1. Gejala minimal (sebaiknya tidak ada), termasuk gejala malam.

2. Tidak ada keterbatasan aktiviti termasuk exercise.

3. Kebutuhan bronkodilator (agonis β-2 kerja singkat) minimal (idealnya

tidak diperlukan).

4. Variasi harian APE kurang dari 20%.

5. Nilai APE normal atau mendekati normal.

6. Efek samping obat minimal (tidak ada).

7. Tidak ada kunjungan ke unit darurat gawat.

(Pedoman Diagnosis dan Penatalaksanaan Asma di Indonesia).

Tujuan utama penatalaksanaan asma adalah meningkatkan dan

mempertahankan kualitas hidup agar pasien asma dapat hidup normal tanpa

hambatan dalam melakukan aktivitas sehari-hari, dan penatalaksanaan asma jangka

panjang perlu di rancang sedemikian rupa agar penyakit dapat di control dengan

pemberian obat-obatan seminimal mungkin. Pengobatan di berikan berdasarkan

tahap beratnya penyakit. Secara garis besar obat asma terdiri atas dua golongan

yaitu pertama obat yang berguna untuk menghilagkan serangan asma, yaitu
mengurangi brokokontriksi yang terjadi. Obat ini di sebut obat pelaga nafas

(reliever) yang umumnya berkerja sebagai bronkodilator, dan golongan obat kedua

adalah obat yang dapat mengontrol asma di sebut sebagai controller medication.

Obat ini di berikan setiap hari untuk jangka waktu yang lama (PC ASMA).
Alogaritma tatalaksana asma di fasilitas kesehatan tingkat pertama (Infodatin Asma

Pusat Data dan Informasi Kementrian Kesehatan RI, 2015).

Nilai derajat serangan

Tata laksana awal


Nebulasi β-2 agonis kerja singkat, 3x, interval 20 menit

Serangan ringan : Serangan sedang : Serangan berat :


(Nebukasi 1x, respon baik, (Nebulasi 2-3x, respon (Nebulasi 3x, respon buruk)
gejala hilang) parsial) - Sejak awal berikan oksigen
- Observasi 1-2 jam - Berikan oksigen saat/ di luar nebulasi.
- Jika efek bertahan, boleh - Nilai kembali derajat - Pasang infus
pulang serangan, jika sesuai - Nilai ulang klinisnya, jika
- Jika gejala timbul lagi, dengan serangan sesuai dengan serangan
perlalukan sebagai sedang, observasi di berat, rawat inap.
serangan sedang ruangan rawat sehari. - Foto toraks
- Pasang infus

Boleh pulang : Ruangan rawat Ruangan rawat inap :


- Bekali obat β-agonis sehari/ control - Oksigen di teruskan
(hirupan/oral) fasilitas kesehatan : - Atasi dehidrasi/asidosis jika
- Jika sudah ada obat ada
pengontrol, teruskan - Oksigen teruskan - Steroid i.v tiap 6-8 jam
- Jika infeksi virus - Berikan steroid oral - Nebulasi tiap 1-2 jam
sebagai pencetus, dapat - Nebulasi tiap 2 jam - Aminofilin i.v awal,
di beri steroid oral - Bila dalam 8-12 jam lanjutan rumatan
- Dalam 24-48 kontrol ke perbaikan klinis stabil, - Jika membaik dalam 4-6x
poloklinik untuk evaluasi pasien boleh pulang. nebulasi, interval jadi 4-6 jam
- Jika dalam 12 jam - Jika dalam 24 jam perbaikan
klinis belum membaik, klinis stabil, boleh pulang
alih rawat ke ruang - Jika dengan steroid dan
rawat inap. aminofilin parenteral tidak
membaik, bahkan timbul
ancaman henti nafas, alih ke
ICU.
Catatan :
1. Jika menurut serangannya kuat, nebulasi cukup 1x langsung dengan β-

agonis + antikolinergik.

2. Jika tidak ada alatnya, nebulasi dapat di ganti dengan adrenalin subkutan

0,01 mg/kg BB/kali, maksimal 0,3 ml/kali.

3. Untuk serangan sedang dan terutama berat, oksigen 2-4 L/ menit di berikan

sejak awal termasuk nebulasi.

4. Dosis aminofilin loading dose 4-6 mg/kg BB i.v perlahan, jika terdapat

riwayat pemberian golongan xantin (aminofilin atau teofilin) sebelumnya,

maka dosis aminofilin loading dose di turunkan menjadi 50% (2-3 mg/kg

BB). Selanjutnya dilanjutkan dosis rumatan yaitu 0,5-1 mg/kg BB/jam i.v.

a. Pengobatan asma di tunjukkan pada macam-macam aspek seperti

berikut ini.

1. Kausal: Mencari dan menentukan sebabnya, bila di ketahui

sebabnya maka dengan menghindari sebab itu akan mengurangi

kemungkinan mendapat serangan terutama dari sebab-sebab yang

tergolong pada faktor pencetus.

2. Simptomatis: pengobatan yang hanya untuk menghilangkan gejala

asma.

3. Obat pencegah serangan: berguna untuk mencegah agar serangan

asma tidak sering terjadi.


4. Imunoterapi: dengan jalan mengurangi bahan-bahan yang

menyebabkan timbulnya serangan asma (Sintia asma)

b. Prinsip umum pengobatan asma bronkial seperti berikut ini.

1. Menghilangkan obstruksi jalan nafas dengan segera.

2. Mengenal dan menghindari faktor-faktor yang dapat mencetuskan

serangan asma.

3. Memberikan edukasi kepada pederita atau keluarganya mengenai

penyakit asma maupun tentang perjalanan penyakitnya, sehingga

penderita mengerti tujuan pengobatan yang di berikan dan berkerja

sama dengan dokter yang merawatnya (Sintia asma)

c. Obat-obat Asma

Obat-obat asma terdiri dari dua bagian yaitu saat serangan asma dan

pencegahan asma (PC ASMA).

1. Obat saat serangan asma.

Obat saat serangan asma (Quick-relief medicine) yaitu obat

yang di gunakan untuk merelaksai otot-otot di saluran pernafasan,

memudahkan pasien untuk bernafas, memberikan kelegaan benafas,

dan di gunakan untuk mengobati serangan asma (asthma attack).

Contoh obat-obat saat serangan asma sebagai berikut: (PC ASMA).

a. Agonis beta-2 kerja singkat

Termasuk golongan ini adalah salbutamol, terbutaline fenoterol,

dan prokterol yang telah berada di Indonesia. Mempunyai waktu

mulai kerja yang (onset) cepat. Formoteral mempunyai onset cepat


dan durasi lama. Pemberian dapat secara inhalasi atau oral,

pemberian inhalasi mempunyai onset yang lebih cepat dan efek

samping minimal/tidak ada. Mekanisme kerja sebagai agonis beta-2

yaitu relaksasi otot polos saluran nafas, meningkatkan berishan

mukosiliar, menurunkan permeabilitas pembuluh darah dan

modulasi pelepasan mediator dari sel mast. Merupakan terapi

pilihan pada serangan akut dan sangat bermanfaat sebagai praterapi

pada exercise-induced asthma. Penggunaan agonis beta-2 kerja

singkat di rekomendasikan bila di perlukan untuk mengatasi gejala.

Keputusan yang meningkat atau bahkan setiap hari adalah pertanda

pemburukan dan menunjukkan perlunya terapi antiinflamasi.

Demikian pula gagal melegakan jelan nafas segera atau respon tidak

memuaskan dengan agonis beta-2 kerja singkat saat serangan asma

adalah pertanda di butuhkannya glukokosteroid oral (pedoman

diagnosis dan penatalaksanaan asma di Indonesia).

b. Metilsantin

Termasuk dalam golongan bronkodilator walau efek

bronkodilator lebih lemah di bandingkan agonis beta-2 kerja

singkat. Aminofilin kerja singkat dapat di pertimbangkan untuk

mengatasi gejala walau di sadari onsetnya lebih lama dari pada

agonis beta-2 keja singkat. Teofilin kerja singkat tidak menambah

efek bronkodilatasi agonis beta-2 kerja singkat, tetapi mempunyai

manfaat untuk respiratory drive, memperkuat fungsi otot pernafasan


dan mempertahankan respon terhadap agonis beta-2 kerja singkat di

antara pemberian satu dengan berikutnya. Teofilin berpotensi

menimbulkan efek samping sebagai metilsantin tetapi dapat dicegah

dengan dosis yang sesuai dan di lakukan pemantauan (PC Asma).

c. Antikolinergik

Pemberian secara inhalasi. Mekanisme kerjanya memblock efek

pelepasan asetilkolin dari saraf kolinergik pada jalan nafas.

Menimbulkan bronkodilatasi dengan menurun tonus kolinergik

vagal intrinsic, selain itu juga menghambat refluk bronkokontriksi

yang di sebabkan iritan. Efek bronkodilatasi tidak se-efektif agonis

beta-2 kerja singkat, onsetnya lama di butuhkan 30-60 menit untuk

mencapai efek maksimum. Tidak mempengaruhi reaksi alergi tipe

cepat ataupun tipe lambat dan juga tidak berpengaruh terhadap

inflamsi (216409655 Pedoman Diagnosis dan Penatalaksanaan

Asma di Indonesia)

Termasuk dakam golongan ini adalah ipratropium bromide dan

triotopium bromide. Analisis meta penelitian menunjukkan

ipratropium bromide mempunyai efek meningkatkan bronkodilatasi

agonis beta-2 kerja singkat pada serangan asma, memperbaiki faal

paru dan menurunkan resiko perawatan rumah sakit secara

permakna. Oleh karena di sarankan menggunakan kombinasi

inhalasi antikolinergik dan agonis beta-2 kerja singkat sebagai


bronkodilator dalam terapi awal serangan asma berat atau pada

serangan asma yang kurang respon dengan diagnosis beta-2 saja,

sehingga dapat tercapai efek bronkodilatasi maksimal. Tidak

bermanfaat di berikan jangka Panjang, dianjurkan sebagai alternatif

pelage pada penderita yang menunjukkan efek samping dengan

agonis beta-2 kerja singkat inhalasi seperti takikardia, aritmia dan

tremor. Efek samping berupa rasa kering di mulut dan rasa pahit.

Tidak ada bukti mengenai efeknya pada sekresi mucus (2039-4737-

2 PB)

d. Kortikosteroid

Kortikosteroid yaitu obat anti alergi dan anti peradangan

contohnya: prednisolone, metilprednisolone, hidrokortison. Cara

kerjanya sebai obat anti alergi yang kuat, mengurangi

pembengkakan saluran nafas dan memperbaiki kerja bronkodilator

yang sudah lemah. Karena banyak efek samping steroid di berikan

bila obat-obatan bronkodilator sudah tidak mempan lagi (PC

ASMA).

Daftar dan dosis obat kortikosteroid (PC ASMA).

Nama obat Bentuk Dosis


sediaan

Deksametason Tablet Dewasa 0,75 – 9 mg dalam 2 – 4 dosis terbagi


Anak-anak 0,024 - 0,34 mg/kg BB dalam dosis
terbagi
Metil Prednisolon Tablet Dewasa 2 – 60 mg dalam 4 dosis terbagi
Anak-anak
0,117 – 1,60 mg/kg BB setiap hari dalam
4 dosis terbagi
Prednison Tablet Dewasa 5 – 60 mg dalam 2 – 4 dosis terbagi
Anak-anak 0,14 – 2 mg/kg berat badan setiap hari
dalam 4 dosis terbagi
Triamsinolon Aerosol Oral Dewasa 2 inhalasi (kira-kira 200 mcg), 3 sampai
4 kali sehari atau 4 inhalasi (400 mcg)
dua kali sehari. Dosis harian maksimum
adalah 16 inhalasi (1600 mcg).
Anak-anak 6 – Dosis umum adalah 1-2 inhalasi (100-
12 tahun 200 mcg), 3 sampai 4 kali sehari atau 2-4
inhalasi (200-400 mcg) dua kali sehari.
Dosis harian maksimum adalah 12
inhalasi (1200 mcg).
Beklometason Aerosol Oral Dewasa dan Pasien yang sebelumnya menjalani terapi
anak ≥ 12 asma dengan bronkodilator saja: 40 – 80
tahun mcg sehari. Pasien yang sebelumnya
menjalani terapi asma dengan
kortikosteroid inhalasi: 40 -160 mcg
sehari.
Anak 5 – 11 Pasien yang sebelumnya menjalani terapi
tahun asma dengan bronkodilator saja: 40 mcg
sehari. Pasien yang sebelumnya
menjalani terapi asma dengan
kortikosteroid inhalasi: 40 mcg sehari
Budesonid Serbuk dan Dewasa Pasien yang sebelumnya menjalani terapi
suspensi asma dengan bronkodilator saja: 200 –
untuk 400 mcg sehari. Pasien yang sebelumnya
inhalasi menjalani terapi asma dengan
kortikosteroid inhalasi: 200–400 mcg
sehari. Pasien yang sebelumnya
menjalani terapi asma dengan
kortikosteroid oral 200 – 400 mcg sehari.
Anak ≥ 6 tahun Pasien yang sebelumnya menjalani terapi
asma dengan bronkodilator saja: 200 mcg
dua kali sehari. Pasien yang sebelumnya
menjalani terapi asma dengan
kortikosteroid inhalasi:200 mcg sehari.
Pasien yang sebelumnya menjalani terapi
asma dengan kortikosteroid oral, dosis
maksimum 400 mcg dua kali sehari.
Flutikason Aerosol Usia ≥ 12 Pasien yang sebelumnya menjalani terapi
tahun asma dengan bronkodilator saja: 88 mcg
dua kali sehari. Pasien yang sebelumnya
menjalani terapi asma dengan
kortikosteroid inhalasi: 88 – 220 mcg
sehari. Pasien yang sebelumnya
menjalani terapi asma dengan
kortikosteroid oral, dosis maksimum 880
mcg dua kali sehari.
Flunisolid Aerosol Dewasa 2 inhalasi (500 mcg) dua kali sehari, pada
pagi dan malam (total dosis dalam sehari
1000 mcg). Jangan melebihi dosis 4
inhalasi dua kali sehari (2000 mcg).
Anak 6 – 15
tahun 2 inhalasi dua kali sehari (total dosis
dalam sehari 1000 mcg).
Mometason Aerosol Dewasa dan Pasien yang sebelumnya menjalani terapi
Anak lebih dari asma dengan bronkodilator saja: 220mcg
12 tahun dua kali sehari. Pasien yang sebelumnya
menjalani terapi asma dengan
kortikosteroid inhalasi: 220 mcg sehari.
Pasien yang sebelumnya menjalani terapi
asma dengan kortikosteroid oral, dosis
maksimum 440 mcg dua kali sehari.

2. Obat-obat pengontrol asma

Obat-obat pengontrol asma (controller medicine) yaitu obat

yang di gunakan untuk mengobati inflamasi pada saluran

pernafasan, mengurangi mukus berlebih, memberikan kontrol untuk

jangka waktu lama, dan di gunakan untuk membantu mencegah

timbulnya serangan asma (asthma attack) (216409655-Pedoman

Diagnosis dan Penatalaksanaan Asma di Indonesia).

a. Glukokosteroid inhalasi

Adalah medikasi jangka Panjang yang paling efektif untuk

mengontrol asma. Berbagai penelitian menunjukkan penggunaan

steroid inhalasi menghasilkan perbaikan faal paru, menurunkan

hiperesponsif jalan nafas, mengurangi gejala, mengurangi frekuensi

dan berat serangan dan memperbaiki kualitas hidup. Steroid inhalasi

adalah pilihan bagi pengobatan asma persisten (ringan sampai

berat). Steroid inhalasi ditoleransi dengan baik dan aman pada dosis
yang direkomendasikan (216409655-Pedoman Diagnosis dan

Penatalaksanaan Asma di Indonesia)

Efek samping dari steroid inhalasi adalah efek lokal seperti

kondidiais osofaring, disfonia dan batuk karena iritasi saluran nafas

atas. Semua fek samping tersebut dapat di cegah dengan penggunaan

spacer, atau mencuci mulut dengan berkumur san membuang keluar

setelah inhalasi. Absorbsi sistemik tidak dapat ditelakan, terjadi

melalui absorbsi obat di paru. Resiko terjadi efek samping sistemik

bergantung kepada dosis dan potensi obat yang berkaitan dengan

biavailabiliti, absorbsi di usus, metabolisme di hati (first-pass

metabolisme), waktu paruh berkaitan dengan absorbsi di paru dan

usus, sehingga masing-masing obat steroid inhalasi berbeda

kemungkinannya untuk menimbulkan efek sistemik. Penelitian

menunjukkan budesonid dan flutikason propionate mempunyai efek

sistemik yang rendah dibandingkan beklometason dipropionate dan

triamsinolon. Resiko efek sistemik juga bergantung system

penghantaran. Penggunaan spacer dapat menurunkan bioavailability

sistemik dan mengurangi efek samping sistemik untuk

glukokosteroid inhalasi. Tidak semua data yang menunjukkan

terjadi tuberculosis paru pada penderita asma malnutrisi dengan

steroid inhalasi, atau terjadi gangguan metabolisme (216409655-

Pedoman Diagnosis dan Penatalaksanaan Asma di Indonesia).


b. Glukoosteroid sistemik

Cara pemberian melalui oral atau parenteral. Kemungkinan di

gunaka sebagai pengontrol pada keadaan asma presisten berat

(setiap hari atau selang hari), tetapi penggunaannya terbatas

meningkat resiko efek sistemik. Harus selalu diingat indeks terapi

(efek/ efek samping), steroid inhalasi jangka panjang lebih baik

daripada steroid oral jangka panjang. Jangka panjang lebih efektif

menggunakan steroid inhalasi daripada steroid oral selang hari. Jika

steroid oral terpaksa harus di berikan misalnya pada keadaan asma

persisten berat yang dalam terapi maksimal belum terkontrol (walau

telah menggunakan paduan pengobatan sesuai dengan berat asma),

maka di butuhkan steroid oral selama jangka waktu tertentu. Hal itu

terjadi juga pada steroid dependen. Di Indonesia, steroid pral jangka

panjang terpaksa di berikan apabila penderita asma presisten sedang

-berat tetapi tidak mampu membeli steroid inhalasi, maka di

anjurkan pemberiannya mempertimbangkan berbagai hal di bawah

ini untuk mengurangi efek samping sistemik (216409655-Pedoman

Diagnosis dan Penatalaksanaan Asma di Indonesia).

Efek samping sistemik penggunaan glukokosteroid

oral/parenteral jangka panjang adalah osteoporosis, hipertensi,

diabetes, supresi aksis adrenal pituitary hipotalamus, katarak,

glaucoma, obesitas, dan kelemahan otot. Perhatian ketat di anjurkan

pada pemberian steroid oral pada penderita asma dengan penyakit


lain seperti tuberculosis, infeksi parasite, osteoporosis, glaucoma,

diabetes, depresi berat, dan tukak lambung. Glukokosteroid oral

juga meningkakan resiko infeksi herpes zoster. Pada keadan infeksi

firus herpes atau varisela, maka glikokosteroid sistemik harus di

hentikan. (216409655-Pedoman Diagnosis dan Penatalaksanaan

Asma di Indonesia).

c. Kromolin (sodium kromoglikat dan nedokromil sodium)

Mekanisme yang pasti dari sodium kromoglikat dan nedokromil

sodium belum sepenuhnya di pahami, tetapi di ketahui merupakan

antiinflamasi nonsteroid, menghambat pelepasan mediator dari sel

mast melalui reaksi yang di perantarai IgE yang bergantung kepada

dosis dan seleksi serta supresi sel inflamasi tertentu (makrofak,

eosinophil, monosit), selain kemungkinan menghambat saluran

kalsium pada sel target. Pemberiannya secara inhalasi, di gunakan

sebagai pengontrol pada asma presisten ringan. Studi klinis

menunjukan pemberian sodium kromoglikat dapat memperbaiki faal

paru dan gejala, menurunkan hiperesponsif jalan nafas walau tidak

se-efektif glukokosteroid inhalasi. Di butuhkan waktu 4-6 minggu

pengobatan untuk menetapkan apakah obat ini bermanfaat atau

tidak. Efek samping umumnya minimal seperti batuk atau rasa obat

tidak enak saat melakukan inhalasi (PC ASMA).

d. Metilsatin
Teofilin adalah bronkodilator yang juga mempunyai efek

ekstrapulmoner seperti anti inflamasi. Efek bronkodilator

berhubungan dengan hambatan fosfodiesterase yang adapat terjadi

pada konsentrasi tinggi (10 mg/dl), sedangkan efek antiinflamasinya

melalui mekanisme yang belum jelas terjadi pada konsentrasi rendah

(5-10 mg/dl). Pada dosis yang sangat rendah efek inflamasinya

minim pada inflamasi kronik jalan nafas dan studi menunjukkan

tidak berefek pada hiperesponsif jalan nafas. Teofilin juga di

gunakan sebagai brondilator tambahan pada asma berat. Sebagai

pelega, teofilin atau aminofilin oral di berikan Bersama agonis beta-

2 kerja singkat, sebagai alternative bronkodilator jika di butuhkan

(2039-4737-2-PB)

Efek samping berpotensi terjadi pada dosis tinggi (≥10

mg/kgBB/hari atau lebih), hal itu dapat di cegah dengan pemberian

dosis yang tepat dengan pengawasan ketat. Gejala gastointestin

nausea, muntah adalah efek samping yang paling dulu sering terjadi.

Efek kardiopulmoner seperti takikardia, aritmia dan kadang

merangsang pusat nafas. Indotoksik teofilin dapat menyebabkan

kejang bahkan kematian (pedoman diagnosis dan tata laksana asma

di indonesia)
e. Agonis beta-2 kerja lama

Termasuk dalam agonis beta-2 kerja lama inhalasi adalah

salmeterol dan formoterol yang mempunyai waktu kerja lama (>12

jam). Seperti lazimnya agonis beta-2 mempunyai efek relaksasi otot

polos, meningkatkan pembersihan mukosiliar, menurunkan

permeabilitas pembuluh darah dan memodulasi pelepasan mediator

dari sel mast dan basophil. Kenyataan pada pembersihan jangka

lama, mempunyai efek antiinflamasi walau kecil. Inhalasi agonis

beta-2 kerja lama menghasilkan efek bronkodilatasi lebih di

bandingkan peroral. Efek samping sistemik (rangsangan

kardiovaskuler, tremor otot lagka dan hypokalemia) yang lebih

sedikit atau jarang dari pada pemberian lewat oral (216409655-

Pedoman Diagnosis dan Penatalaksanaan Asma di Indonesia).

f. Leukotriene modifier

Obat ini merupakan anti asma yang relatif baru dan pemberiannya

melaui oral. Mekanisme kerjanya menghambat 5-lipoksugenase

sehingga memblock sintesis semua leukotrien (contohnya zileuton)

atau memblock reseptor-reseptor leukotrien sisteinil pada sel target

(contohnya montelukas, pranlukas). Mekanisme kerja tersebut

menghasilkan efek bronkodilator minimal dan menurunkan

bronkokonstriksi akibat allergen, sulfurdioksida dan olahraga.


Selain bersifat bronkodilator, juga bersifat antiinflamasi. Efek

samping jarang di temukan (PC ASMA).

d. Pengobatan berdasarkan derajat berat asma

1. Asma persisten ringan

Jika sekali nebulasi pasien menunjukkan respon yang baik (complete

response), berarti derajat serangannya ringan. Pasien di observasi

selama 1-2 jam, jika respon tersebut bertahan, pasien dapat di

pulangkan. Pasien di bekali obat β-agonis (hirupan atau oral) yang

di berikan 4-6 jam. Jika pencetus serangannya adalah infeksi virus,

dapat di tambahkan steroid oral jangka pendek (3-5 hari). Pasien

kemudian di anjurkan kontrol ke klinik rawat jalan dalam waktu 24-

48 jamuntuk re-evaluasi tatalaksana. Selain itu, jika pasien sebelum

serangan sudah mendapat obat pengendali, obat tersebut di lanjutkan

sampai re-evaluasi dilakukan pada klinik rawat jalan. Namun setelah

observasi gejala timbul kembali, pasien di perlakukan sebagai

serangan asma sedang (BUKU AJAR RESPIROLOGI ANAK

IDAI).

2. Asma persisten sedang

Jika dengan pemberian nebulasi dua kali pasien hanya menunjukan

respon parsial (incomplete response), kemungkinan derajat

serangannya sedang. Untuk itu derajat serangan harus dinilai ulang

sesuai pedoman. Jika serangannya memang termasuk serangan

sedang, inhalasi langsung dengan β2-agonis dan impratropium


bromide (antikolinergik), pasien perlu diobservasi dan di tangani di

ruang rawat sehari (RRS). Pada serangan asma sedang, diberikan

kortikosteroid sistemik (oral) metilprednisolon dengan dosis 0,5-1

mg/kg BB/hari selama 3-5 hari. Walaupun belum tentu diperlukan,

untuk persiapan keadaan darurat, pasien yang akan di observasi di

RRS langsung di pasangi jalur parenteral sejak di UGD (BUKU

AJAR RESPIROLOGI ANAK IDAI).

3. Asma persisten berat

Bila dengan nebulasi 3 kali berturut-turut pasien tidak menunjukkan

respon (poor response), yaitu gejala dan tanda serangan masih ada

(penilaian ulang sesuai pedoman), pasien harus di rawat di ruang

rawat inap. Bila pasien diduga/diperkirakan serangan berat, maka

langsung diberi nebulasi dengan β2-agonis dan antikolinergik.

Oksigen 2-4 L/menit diberikan sejak awal termasuk saat nebulasi.

Kemudian dipasang jalur parenteral dan di lakukan foto toraks.

Sedangkan bila pasien menunjukkan gejala dan tanda ancaman henti

nafas, pasien harus langsung dirawat di ruang rawat intensif. Pada

pasien dengan serangan berat dan ancaman henti nafas, foto toraks

harus langsung di buat untuk mendeteksi komplikasi pneumotoraks

dan atau pneumomediastinum (BUKU AJAR RESPIROLOGI

ANAK IDAI).
3. Penggunaan Obat Rasional

Secara praktis, penggunaan obat dikatakan rasional jika memenuhi

kriteria: (MODUL PENGGUNAAN OBAT RASIONAL).

1. Tepat Diagnosis

Penggunaan obat disebut rasional jika diberikan untuk diagnosis

yang tepat. Jika diagnosis tidak ditegakkan dengan benar, maka

pemilihan obat akan terpaksa mengacu pada diagnosis yang keliru

tersebut. Akibatnya obat yang diberikan juga tidak akan sesuai dengan

indikasi yang seharusnya.

2. Tepat Pemilihan Obat

Keputusan untuk melakukan upaya terapi diambil setelah diagnosis

ditegakkan dengan benar. Dengan demikian, obat yang dipilih harus yang

memiliki efek terapi sesuai dengan spektrum penyakit.

3. Tepat Indikasi Penyakit

Setiap obat memiliki spektrum terapi yang spesifi k. Antibiotik,

misalnya diindikasikan untuk infeksi bakteri. Dengan demikian,

pemberian obat ini hanya dianjurkan untuk pasien yang memberi gejala

adanya infeksi bakteri.

4. Tepat Pasien

Obat yang diberikan harus tepat penilaian kondisi pasien karena

respon individu terhadap efek obat sangat beragam.


5. Tepat Dosis

Dosis, cara dan lama pemberian obat sangat berpengaruh terhadap

efek terapi obat. Pemberian dosis yang berlebihan, khususnya untuk obat

yang dengan rentang terapi yang sempit, akan sangat beresiko timbulnya

efek samping. Sebaliknya dosis yang terlalu kecil tidak akan menjamin

tercapainya kadar terapi yang diharapkan.

6. Tepat Cara dan Lama Pemberian

Besar dosis, cara dan frekuensi pemberian umumnya didasarkan pada

sifat farmakokinetika dan farmakodinamik obat serta kondisi pasien,

sedang lama pemberian berdasarkan pada sifat penyakit (akut atau

kronis, kambuh berulang dsb).

7. Tepat Harga

Obat yang diberikan harus efektif dan aman dengan mutu terjamin,

serta tersedia setiap saat dengan harga yang terjangkau Untuk efektif dan

aman serta terjangkau, digunakan obat-obat dalam daftar obat esensial.

Pemilihan obat dalam daftar obat esensial didahulukan dengan

mempertimbangkan efektivitas, keamanan dan harganya oleh para pakar

di bidang pengobatan dan klinis.

8. Tepat informasi

Informasi yang tepat dan benar dalam penggunaan obat sangat

penting dalam menunjang keberhasilan terapi.

Anda mungkin juga menyukai