BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
A. Uraian Teori
1. Definisi Asma
Penyakit asma berasal dari kata “Ashtma” yang di ambil dari Bahasa Yunani
yang berarti “sukar bernafas”. Penyakit asma merupakan proses inflamasi kronik
pernafasan yang melibatkan banyak sel dan elemennya (infodatin asma).
Asma adalah gangguan inflamasi kronik saluran napas yang melibatkan
banyak sel dan elemennya. Inflamasi kronik menyebabkan peningkatan
hiperesponsif jalan napas yang menimbulkan gejala episodik berulang berupa
mengi, sesak napas, dada terasa berat dan batuk-batuk terutama malam dan atau
dini hari. Episodik tersebut berhubungan dengan obstruksi jalan napas yang luas,
bervariasi dan seringkali bersifat reversibel dengan atau tanpa pengobatan
(pedoman diagnosis).
2. Patofisiologi
Asma merupakan penyakit inflamasi (peradangan) kronik saluran nafas
yang ditandai adanya mengi episodik, batuk dan rasa sesak di dada akibat
penyumbatan saluran nafas, termasuk dalam kelompok penyakit pernafasan kronik.
Walaupun mempunyai tingkat fatalitas yang rendah namun jumlah kasusnya cukup
banyak ditemukan dalam masyarakat. Badan Kesehatan (WHO) memperkirakan
100-150 juta penduduk dunia menderita asma. Bahkan jumlah ini diperkirakan akan
terus bertambah hingga mencapai 180.000 orang setiap tahun Inflamasi kronik
menyebabkan peningkatan hiperesponsif (hipereaktifitas) jalan napas yang
menimbulkan gejala episodik berulang berupa mengi, sesak napas, dada terasa berat
dan batuk-batuk terutama pada malam dan/atau dini hari. Episodik tersebut
berkaitan dengan sumbatan saluran napas yang luas, bervariasi dan seringkali
bersifat reversibel dengan atau tanpa pengobatan (Depkes, 2009).
Proses inflamasi pada asma akan menimbulkan kerusakan jaringan yang
secara fisiologis akan di ikuti oleh proses penyembuhan yang menghasilkan
perbaikan dan pergantian sel-sel mati/rusak dengan sel-sel yang baru. Proses
penyembuhan tersebut melibatkan regenerasi jaringan yang rusak dengan jenis sel
parenkin yang sama dan pergantian jaringan yang rusak dengan jaringan
penyambung yang yang menghasilkan jaringan skar. Pada asma kedua proses
tersebut berkontribusi dalam proses penembuhan dan inflamasi yang kemudian
akan menghasilkan perubahan struktur yang mempunyai mekanisme sangat
kompleks dan banyak belum diketahui yang dikenal dengan airway remodeling.
Mekanisme tersebut sangat heterogen dengan proses yang sangat dinamis dari
deferensiasi, migrasi, maturase, diferensiasi sel sebagaimana deposit jaringan
penyambung dengan di ikuti oleh restitusi/pergantian atau perubahan struktur dan
fungsi yang di pahami sebagai fibrosis dan peningkatan otot polos dan kelejar
mucus (Guidline PPOK).
3. Gejala Asma
Gejala asma yang paling umum adalah batuk. Batuk umumnya terjadi di
malam hari, dini hari, saat cuaca dingin, dan saat beraktivitas fisik. Nafas yang
terdengar seperti bunyi peluit dan juga kesulitan bernapas. Gejala asma akan
berlangsung selama 2-3 hari, atau bahkan lebih. Setelah serangan asma membaik,
penderita akan membutuhkan pereda serangan (reliever] 3-4 kali perhari hingga
batuk dan mengi menghilang (4698-11871-1-SM)
Keadaan bronkus yang sangat peka dan hipereaktif pada penderita asma
menyebabkan saluran nafas menjadi sempit, akibatnya pernafasan menjadi
terganggu. Hal ini menimbulkan gejala asma yang khas yaitu: batuk, sesak nafas,
dan wheezing atau mengi. Manifestasi serangan asma tidak sama pada setiap orang
bahkan pada satu penderita yang sama berat dan lamanya serangan asma dapat
berbeda dari waktu ke waktu. Beratnya serangan dapat bervariasi mulai dari yang
ringan sampai yang berat, demikian pula dengan lama serangan. Serangan bisa saja
singkat, sebaliknya dapat pula berlangsung sampai berhari-hari (4698-11871-1-
SM).
4. Faktor Penyebab Asma
Asma dapat di sebabkan oleh berbagai faktor dan setiap penderita mungkin
berlainan antara lain:
1. Faktor dasar
Faktor dasar atau kausa adalah faktor yang sudah ada pada diri
manusia itu untuk timbulnya asma.
2. Faktor lingkungan: yang mempengaruhi tersebut antara lain alergen,
infeksi, ketegangan psikologis, dan gaya hidup.
3. Faktor genetik: berhubungan dengan keturunan dimana gen tunggal
sebagai pembawa sifat keturunan yang dominan.
4. Faktor alergi: berhubungan dengan gaya hidup yang kurang bersih pada
komunitas negara berkembang dibandingkan negara maju, sehingga
menyebabkan deviasi imun dari perkembangan sistem imun menjadi
respons nonalergi (258-852-1-PB).
a. Faktor pencetus
Faktor pencetus yang menimbulkan terjadinya asma meliputi polutan udara,
dimana 70-80% pencemaran udara berasal dari gas buangan kendaraan, sedangkan
pencemaran udara yang disebabkan oleh industri berkisar 20-30%. Sumber polutan
di dalam ruangan yang dapat memicu kambuhnya asma antara lain sisa
pembakaran, zat kimia seperti obat nyamuk semprot/bakar dan lainnya, bau cat
yang tajam, bahan kimia lain seperti parfum, hairspray. Debu, bulu dan tungau dari
sofa, karpet, gordin juga dapat memicu terjadinya alergi yang berakibat asma
(2845-1900-1-PB)
5. Klasifikasi Asma
Diagnosis asma ditegakkan berdasarkan anamnesis yang baik, pemeriksaan
fisik, dan pengukuran faal paru. Pengukuran faal paru lebih objektif untuk menilai
derajat obstruksi saluran napas dengan cara pengukuran Arus Puncak Respirasi
(APE) menggunakan peak flow meter sedangkan. Volume Ekspirasi Paksa dalam
satu detik pertama (VEP1). Pada asma bronkial terdapat ketidakmampuan
mendasar dalam mencapai angka aliran udara normal pernapasan terutama pada
ekspirasi yang dicerminkan dengan rendahnya APE. APE adalah nilai kekuatan
aliran udara maksimal paru untuk menilai ada dan berat obstruksi jalan napas,
respon pengobatan, dan “asthma attack” yang terjadi pada pasien asma bronkial.
Salah satu indikasi adanya obstruksi pada saluran pernapasan adalah VEP1
menurun. VEP1 adalah jumlah udara yang dikeluarkan secepat-cepatnya pada satu
detik pertama sesudah mengambil napas sedalam-dalamnya. Pada penyakit
obstruksi, volume udara akan lebih lambat dikeluarkan. (895-1558-1-PB).
Tabel 1. Klasifikasi derajat asma berdasarkan gambaran klinik secara umum pada
orang dewasa (Pharmaceutical Care untuk penyakit Asma, Departemen Kesehatan
RI, 2007).
Derajat Asma Gejala Fungsi Paru
Intermitten Bulanan APE > 80%
-Gejala < 1x/minngu -VEP1 80% nilai prediksi
-Tanpa gejaladi luar APE 80% nilai terbaik.
serangan -Variability APE<20%
-Serangan singkat
Persisten Ringan Minggu APE 80%
-Gejala > 1x/minggu tetapi -VEP1 80% nilai prediksi
< 1x/hari APE 80% nilai terbaik.
-Serangan dapat -Variability APE 20-30%
mengganggu aktivitas dan
libur.
Persisten Sedang Harian APE 60-80%
-Gejala setiap hari -VEP1 80% nilai prediksi
-Serangan mengganggu APE 80% nilai terbaik.
aktivitas libur -Variabilitas APE 20-30%
-Membutuhkan
bronkodiatole setiap hari
Persisten Berat Kontinyu APE 60%
-Gejala terus menerus -VEPI 60% nilai prediksi.
-Sering kambuh APE 60% nilai terbaik.
-Aktivitas fisik terbatas -Variability APE >30%
Pemantauan Arus Puncak Ekspirasi (APE) dengan Peak Flow Meter
Monitoring APE penting untuk menilai berat asma, derajat variasi diural,
respon pengobatan saat serangan akut, deteksi peburukan asimtomatik sebelum
menjadi serius, respon pengobatan jangka Panjang, justifikasi objektif dalam
memberikan pengobatandan identifikasi pencetus misalnya pada lingkungan kerja
(Pedoman Diagnosis dan Pelaksanaan Asma di Indonesia 2011).
6. Pencegahan Asma
Dalam praktik kedokteran keluarga yang lebih mengutamakan upaya
preventif dan promotif dalam manajemen penyakit kronik seperti asma salah
satunya, maka upaya pencegahan yang dapat dilakukan meliputi 2 hal yaitu:
a. Mencegah Sensititasi
Langkah-langkah dalam pencegahan asma berupa pencgahan sensitiasi
alergi (terjadinya atopi, diduga paling relevan pada masa prenatal dan perinatal)
atau pencegahan terjadinya asma pada individu yang di di sensititasi. Hingga kinik
tidak ada bukti intervensi yang dapat mencegah perkembangan asma selain
menghindari paparan dengan sap rokok, baik in utero atau setelah lahir (buku ajar
respirologi).
b. Mencegah Eksaserbasi
Alergen indoor dan outdoor merupakan salah satu faktor yang dapat
menimbulkan eksaserbasi asma. Contoh allergen indoor seperti tungau, debu
rumah, hewan berbulu, kecoa dan jamur. Sedangkan alergen outdoor seperti polen,
jamur, infeksi virus, polutan dan obat. Dokter keluarga dapat memberikan edukasi
kepada orang tua pasien maupun pengasuh agar dapat mengurangi paparan
penderita asma anak dengan beberapa faktor seperti menghindarkan anak dari asap
rokok, lingkungan rumah dan sekolah yang bebas allergen, makanan, aditif, obat
yang menimbulkan gejala dapat memperbaiki kontrol asma serta keperluan obat.
Tetapi biasanya penderita bereaksi terhadap banyak faktor lingkungan sehingga
usaha menghindari alergen sulit di lakukan. Hal-hal lain yang harus pula di hindari
adalah polutan indoor dan outdoor, makanan dan aditif, obedsitas, emosi-stres dan
berbagai faktor lainnya (buku ajar respirologi).
7. Penatalaksanaan Asma
Tujuan utama pelaksanaan asma adalah untuk mencapai asma terkontrol
sehingga penderita asma dapat hidup normal tanpa hambatan dalam melakukan
aktivitas sehari-hari. Pada penatalaksanaan asma di bagi menjadi 2 (infodatin
asma):
1. Tatalaksana asma jangka panjang
Prinsip utama tatalaksana asma jangka panjang adalah edukasi, obat asma
(pengontrol dan pelega), dan menjaga kebugaran (senam asma). Obat pelega
diberikan pada saat serangan, obat pengontrol ditunjukan untuk pencegahan
serangan dan diberikan dalam jangka panjang dan terus menerus (infodatin asma).
2. Tatalaksana asma akut pada anak dan dewasa:
Tujuan tatalaksana serangan asma akut meliputi mengatasi gejala serangan
asma, mengembalikan fungsi paru ke keadaan sebelum serangan, mencegah
terjadinya kekambuhan dan mencegah kematian karena serangan asma (infodatin
asma).
Asma di katakana terkontrol bila:
1. Gejala minimal (sebaiknya tidak ada), termasuk gejala malam.
2. Tidak ada keterbatasan aktiviti termasuk exercise.
3. Kebutuhan bronkodilator (agonis β-2 kerja singkat) minimal (idealnya
tidak diperlukan).
4. Variasi harian APE kurang dari 20%.
5. Nilai APE normal atau mendekati normal.
6. Efek samping obat minimal (tidak ada).
7. Tidak ada kunjungan ke unit darurat gawat.
(Pedoman Diagnosis dan Penatalaksanaan Asma di Indonesia).
Tujuan utama penatalaksanaan asma adalah meningkatkan dan
mempertahankan kualitas hidup agar pasien asma dapat hidup normal tanpa
hambatan dalam melakukan aktivitas sehari-hari, dan penatalaksanaan asma jangka
panjang perlu di rancang sedemikian rupa agar penyakit dapat di control dengan
pemberian obat-obatan seminimal mungkin. Pengobatan di berikan berdasarkan
tahap beratnya penyakit. Secara garis besar obat asma terdiri atas dua golongan
yaitu pertama obat yang berguna untuk menghilagkan serangan asma, yaitu
mengurangi brokokontriksi yang terjadi. Obat ini di sebut obat pelaga nafas
(reliever) yang umumnya berkerja sebagai bronkodilator, dan golongan obat kedua
adalah obat yang dapat mengontrol asma di sebut sebagai controller medication.
Obat ini di berikan setiap hari untuk jangka waktu yang lama (PC ASMA).
Alogaritma tatalaksana asma di fasilitas kesehatan tingkat pertama (Infodatin Asma
Pusat Data dan Informasi Kementrian Kesehatan RI, 2015).
Nilai derajat serangan
Tata laksana awal
Nebulasi β-2 agonis kerja singkat, 3x, interval 20 menit
Serangan ringan : Serangan sedang : Serangan berat :
(Nebukasi 1x, respon baik, (Nebulasi 2-3x, respon (Nebulasi 3x, respon buruk)
gejala hilang) parsial) - Sejak awal berikan oksigen
- Observasi 1-2 jam - Berikan oksigen saat/ di luar nebulasi.
- Jika efek bertahan, boleh - Nilai kembali derajat - Pasang infus
pulang serangan, jika sesuai - Nilai ulang klinisnya, jika
- Jika gejala timbul lagi, dengan serangan sesuai dengan serangan
perlalukan sebagai sedang, observasi di berat, rawat inap.
serangan sedang ruangan rawat sehari. - Foto toraks
- Pasang infus
Boleh pulang : Ruangan rawat Ruangan rawat inap :
- Bekali obat β-agonis sehari/ control - Oksigen di teruskan
(hirupan/oral) fasilitas kesehatan : - Atasi dehidrasi/asidosis jika
- Jika sudah ada obat ada
pengontrol, teruskan - Oksigen teruskan - Steroid i.v tiap 6-8 jam
- Jika infeksi virus - Berikan steroid oral - Nebulasi tiap 1-2 jam
sebagai pencetus, dapat - Nebulasi tiap 2 jam - Aminofilin i.v awal,
di beri steroid oral - Bila dalam 8-12 jam lanjutan rumatan
- Dalam 24-48 kontrol ke perbaikan klinis stabil, - Jika membaik dalam 4-6x
poloklinik untuk evaluasi pasien boleh pulang. nebulasi, interval jadi 4-6 jam
- Jika dalam 12 jam - Jika dalam 24 jam perbaikan
klinis belum membaik, klinis stabil, boleh pulang
alih rawat ke ruang - Jika dengan steroid dan
rawat inap. aminofilin parenteral tidak
membaik, bahkan timbul
ancaman henti nafas, alih ke
ICU.
Catatan :
1. Jika menurut serangannya kuat, nebulasi cukup 1x langsung dengan β-
agonis + antikolinergik.
2. Jika tidak ada alatnya, nebulasi dapat di ganti dengan adrenalin subkutan
0,01 mg/kg BB/kali, maksimal 0,3 ml/kali.
3. Untuk serangan sedang dan terutama berat, oksigen 2-4 L/ menit di berikan
sejak awal termasuk nebulasi.
4. Dosis aminofilin loading dose 4-6 mg/kg BB i.v perlahan, jika terdapat
riwayat pemberian golongan xantin (aminofilin atau teofilin) sebelumnya,
maka dosis aminofilin loading dose di turunkan menjadi 50% (2-3 mg/kg
BB). Selanjutnya dilanjutkan dosis rumatan yaitu 0,5-1 mg/kg BB/jam i.v.
a. Pengobatan asma di tunjukkan pada macam-macam aspek seperti
berikut ini.
1. Kausal: Mencari dan menentukan sebabnya, bila di ketahui
sebabnya maka dengan menghindari sebab itu akan mengurangi
kemungkinan mendapat serangan terutama dari sebab-sebab yang
tergolong pada faktor pencetus.
2. Simptomatis: pengobatan yang hanya untuk menghilangkan gejala
asma.
3. Obat pencegah serangan: berguna untuk mencegah agar serangan
asma tidak sering terjadi.
4. Imunoterapi: dengan jalan mengurangi bahan-bahan yang
menyebabkan timbulnya serangan asma (Sintia asma)
b. Prinsip umum pengobatan asma bronkial seperti berikut ini.
1. Menghilangkan obstruksi jalan nafas dengan segera.
2. Mengenal dan menghindari faktor-faktor yang dapat mencetuskan
serangan asma.
3. Memberikan edukasi kepada pederita atau keluarganya mengenai
penyakit asma maupun tentang perjalanan penyakitnya, sehingga
penderita mengerti tujuan pengobatan yang di berikan dan berkerja
sama dengan dokter yang merawatnya (Sintia asma)
c. Obat-obat Asma
Obat-obat asma terdiri dari dua bagian yaitu saat serangan asma dan
pencegahan asma (PC ASMA).
1. Obat saat serangan asma.
Obat saat serangan asma (Quick-relief medicine) yaitu obat
yang di gunakan untuk merelaksai otot-otot di saluran pernafasan,
memudahkan pasien untuk bernafas, memberikan kelegaan benafas,
dan di gunakan untuk mengobati serangan asma (asthma attack).
Contoh obat-obat saat serangan asma sebagai berikut: (PC ASMA).
a. Agonis beta-2 kerja singkat
Termasuk golongan ini adalah salbutamol, terbutaline fenoterol,
dan prokterol yang telah berada di Indonesia. Mempunyai waktu
mulai kerja yang (onset) cepat. Formoteral mempunyai onset cepat
dan durasi lama. Pemberian dapat secara inhalasi atau oral,
pemberian inhalasi mempunyai onset yang lebih cepat dan efek
samping minimal/tidak ada. Mekanisme kerja sebagai agonis beta-2
yaitu relaksasi otot polos saluran nafas, meningkatkan berishan
mukosiliar, menurunkan permeabilitas pembuluh darah dan
modulasi pelepasan mediator dari sel mast. Merupakan terapi
pilihan pada serangan akut dan sangat bermanfaat sebagai praterapi
pada exercise-induced asthma. Penggunaan agonis beta-2 kerja
singkat di rekomendasikan bila di perlukan untuk mengatasi gejala.
Keputusan yang meningkat atau bahkan setiap hari adalah pertanda
pemburukan dan menunjukkan perlunya terapi antiinflamasi.
Demikian pula gagal melegakan jelan nafas segera atau respon tidak
memuaskan dengan agonis beta-2 kerja singkat saat serangan asma
adalah pertanda di butuhkannya glukokosteroid oral (pedoman
diagnosis dan penatalaksanaan asma di Indonesia).
b. Metilsantin
Termasuk dalam golongan bronkodilator walau efek
bronkodilator lebih lemah di bandingkan agonis beta-2 kerja
singkat. Aminofilin kerja singkat dapat di pertimbangkan untuk
mengatasi gejala walau di sadari onsetnya lebih lama dari pada
agonis beta-2 keja singkat. Teofilin kerja singkat tidak menambah
efek bronkodilatasi agonis beta-2 kerja singkat, tetapi mempunyai
manfaat untuk respiratory drive, memperkuat fungsi otot pernafasan
dan mempertahankan respon terhadap agonis beta-2 kerja singkat di
antara pemberian satu dengan berikutnya. Teofilin berpotensi
menimbulkan efek samping sebagai metilsantin tetapi dapat dicegah
dengan dosis yang sesuai dan di lakukan pemantauan (PC Asma).
c. Antikolinergik
Pemberian secara inhalasi. Mekanisme kerjanya memblock efek
pelepasan asetilkolin dari saraf kolinergik pada jalan nafas.
Menimbulkan bronkodilatasi dengan menurun tonus kolinergik
vagal intrinsic, selain itu juga menghambat refluk bronkokontriksi
yang di sebabkan iritan. Efek bronkodilatasi tidak se-efektif agonis
beta-2 kerja singkat, onsetnya lama di butuhkan 30-60 menit untuk
mencapai efek maksimum. Tidak mempengaruhi reaksi alergi tipe
cepat ataupun tipe lambat dan juga tidak berpengaruh terhadap
inflamsi (216409655 Pedoman Diagnosis dan Penatalaksanaan
Asma di Indonesia)
Termasuk dakam golongan ini adalah ipratropium bromide dan
triotopium bromide. Analisis meta penelitian menunjukkan
ipratropium bromide mempunyai efek meningkatkan bronkodilatasi
agonis beta-2 kerja singkat pada serangan asma, memperbaiki faal
paru dan menurunkan resiko perawatan rumah sakit secara
permakna. Oleh karena di sarankan menggunakan kombinasi
inhalasi antikolinergik dan agonis beta-2 kerja singkat sebagai
bronkodilator dalam terapi awal serangan asma berat atau pada
serangan asma yang kurang respon dengan diagnosis beta-2 saja,
sehingga dapat tercapai efek bronkodilatasi maksimal. Tidak
bermanfaat di berikan jangka Panjang, dianjurkan sebagai alternatif
pelage pada penderita yang menunjukkan efek samping dengan
agonis beta-2 kerja singkat inhalasi seperti takikardia, aritmia dan
tremor. Efek samping berupa rasa kering di mulut dan rasa pahit.
Tidak ada bukti mengenai efeknya pada sekresi mucus (2039-4737-
2 PB)
d. Kortikosteroid
Kortikosteroid yaitu obat anti alergi dan anti peradangan
contohnya: prednisolone, metilprednisolone, hidrokortison. Cara
kerjanya sebai obat anti alergi yang kuat, mengurangi
pembengkakan saluran nafas dan memperbaiki kerja bronkodilator
yang sudah lemah. Karena banyak efek samping steroid di berikan
bila obat-obatan bronkodilator sudah tidak mempan lagi (PC
ASMA).
Daftar dan dosis obat kortikosteroid (PC ASMA).
Nama obat Bentuk Dosis
sediaan
Deksametason Tablet Dewasa 0,75 – 9 mg dalam 2 – 4 dosis terbagi
Anak-anak 0,024 - 0,34 mg/kg BB dalam dosis
terbagi
Metil Prednisolon Tablet Dewasa 2 – 60 mg dalam 4 dosis terbagi
Anak-anak
0,117 – 1,60 mg/kg BB setiap hari dalam
4 dosis terbagi
Prednison Tablet Dewasa 5 – 60 mg dalam 2 – 4 dosis terbagi
Anak-anak 0,14 – 2 mg/kg berat badan setiap hari
dalam 4 dosis terbagi
Triamsinolon Aerosol Oral Dewasa 2 inhalasi (kira-kira 200 mcg), 3 sampai
4 kali sehari atau 4 inhalasi (400 mcg)
dua kali sehari. Dosis harian maksimum
adalah 16 inhalasi (1600 mcg).
Anak-anak 6 – Dosis umum adalah 1-2 inhalasi (100-
12 tahun 200 mcg), 3 sampai 4 kali sehari atau 2-4
inhalasi (200-400 mcg) dua kali sehari.
Dosis harian maksimum adalah 12
inhalasi (1200 mcg).
Beklometason Aerosol Oral Dewasa dan Pasien yang sebelumnya menjalani terapi
anak ≥ 12 asma dengan bronkodilator saja: 40 – 80
tahun mcg sehari. Pasien yang sebelumnya
menjalani terapi asma dengan
kortikosteroid inhalasi: 40 -160 mcg
sehari.
Anak 5 – 11 Pasien yang sebelumnya menjalani terapi
tahun asma dengan bronkodilator saja: 40 mcg
sehari. Pasien yang sebelumnya
menjalani terapi asma dengan
kortikosteroid inhalasi: 40 mcg sehari
Budesonid Serbuk dan Dewasa Pasien yang sebelumnya menjalani terapi
suspensi asma dengan bronkodilator saja: 200 –
untuk 400 mcg sehari. Pasien yang sebelumnya
inhalasi menjalani terapi asma dengan
kortikosteroid inhalasi: 200–400 mcg
sehari. Pasien yang sebelumnya
menjalani terapi asma dengan
kortikosteroid oral 200 – 400 mcg sehari.
Anak ≥ 6 tahun Pasien yang sebelumnya menjalani terapi
asma dengan bronkodilator saja: 200 mcg
dua kali sehari. Pasien yang sebelumnya
menjalani terapi asma dengan
kortikosteroid inhalasi:200 mcg sehari.
Pasien yang sebelumnya menjalani terapi
asma dengan kortikosteroid oral, dosis
maksimum 400 mcg dua kali sehari.
Flutikason Aerosol Usia ≥ 12 Pasien yang sebelumnya menjalani terapi
tahun asma dengan bronkodilator saja: 88 mcg
dua kali sehari. Pasien yang sebelumnya
menjalani terapi asma dengan
kortikosteroid inhalasi: 88 – 220 mcg
sehari. Pasien yang sebelumnya
menjalani terapi asma dengan
kortikosteroid oral, dosis maksimum 880
mcg dua kali sehari.
Flunisolid Aerosol Dewasa 2 inhalasi (500 mcg) dua kali sehari, pada
pagi dan malam (total dosis dalam sehari
1000 mcg). Jangan melebihi dosis 4
inhalasi dua kali sehari (2000 mcg).
Anak 6 – 15
tahun 2 inhalasi dua kali sehari (total dosis
dalam sehari 1000 mcg).
Mometason Aerosol Dewasa dan Pasien yang sebelumnya menjalani terapi
Anak lebih dari asma dengan bronkodilator saja: 220mcg
12 tahun dua kali sehari. Pasien yang sebelumnya
menjalani terapi asma dengan
kortikosteroid inhalasi: 220 mcg sehari.
Pasien yang sebelumnya menjalani terapi
asma dengan kortikosteroid oral, dosis
maksimum 440 mcg dua kali sehari.
2. Obat-obat pengontrol asma
Obat-obat pengontrol asma (controller medicine) yaitu obat
yang di gunakan untuk mengobati inflamasi pada saluran
pernafasan, mengurangi mukus berlebih, memberikan kontrol untuk
jangka waktu lama, dan di gunakan untuk membantu mencegah
timbulnya serangan asma (asthma attack) (216409655-Pedoman
Diagnosis dan Penatalaksanaan Asma di Indonesia).
a. Glukokosteroid inhalasi
Adalah medikasi jangka Panjang yang paling efektif untuk
mengontrol asma. Berbagai penelitian menunjukkan penggunaan
steroid inhalasi menghasilkan perbaikan faal paru, menurunkan
hiperesponsif jalan nafas, mengurangi gejala, mengurangi frekuensi
dan berat serangan dan memperbaiki kualitas hidup. Steroid inhalasi
adalah pilihan bagi pengobatan asma persisten (ringan sampai
berat). Steroid inhalasi ditoleransi dengan baik dan aman pada dosis
yang direkomendasikan (216409655-Pedoman Diagnosis dan
Penatalaksanaan Asma di Indonesia)
Efek samping dari steroid inhalasi adalah efek lokal seperti
kondidiais osofaring, disfonia dan batuk karena iritasi saluran nafas
atas. Semua fek samping tersebut dapat di cegah dengan penggunaan
spacer, atau mencuci mulut dengan berkumur san membuang keluar
setelah inhalasi. Absorbsi sistemik tidak dapat ditelakan, terjadi
melalui absorbsi obat di paru. Resiko terjadi efek samping sistemik
bergantung kepada dosis dan potensi obat yang berkaitan dengan
biavailabiliti, absorbsi di usus, metabolisme di hati (first-pass
metabolisme), waktu paruh berkaitan dengan absorbsi di paru dan
usus, sehingga masing-masing obat steroid inhalasi berbeda
kemungkinannya untuk menimbulkan efek sistemik. Penelitian
menunjukkan budesonid dan flutikason propionate mempunyai efek
sistemik yang rendah dibandingkan beklometason dipropionate dan
triamsinolon. Resiko efek sistemik juga bergantung system
penghantaran. Penggunaan spacer dapat menurunkan bioavailability
sistemik dan mengurangi efek samping sistemik untuk
glukokosteroid inhalasi. Tidak semua data yang menunjukkan
terjadi tuberculosis paru pada penderita asma malnutrisi dengan
steroid inhalasi, atau terjadi gangguan metabolisme (216409655-
Pedoman Diagnosis dan Penatalaksanaan Asma di Indonesia).
b. Glukoosteroid sistemik
Cara pemberian melalui oral atau parenteral. Kemungkinan di
gunaka sebagai pengontrol pada keadaan asma presisten berat
(setiap hari atau selang hari), tetapi penggunaannya terbatas
meningkat resiko efek sistemik. Harus selalu diingat indeks terapi
(efek/ efek samping), steroid inhalasi jangka panjang lebih baik
daripada steroid oral jangka panjang. Jangka panjang lebih efektif
menggunakan steroid inhalasi daripada steroid oral selang hari. Jika
steroid oral terpaksa harus di berikan misalnya pada keadaan asma
persisten berat yang dalam terapi maksimal belum terkontrol (walau
telah menggunakan paduan pengobatan sesuai dengan berat asma),
maka di butuhkan steroid oral selama jangka waktu tertentu. Hal itu
terjadi juga pada steroid dependen. Di Indonesia, steroid pral jangka
panjang terpaksa di berikan apabila penderita asma presisten sedang
-berat tetapi tidak mampu membeli steroid inhalasi, maka di
anjurkan pemberiannya mempertimbangkan berbagai hal di bawah
ini untuk mengurangi efek samping sistemik (216409655-Pedoman
Diagnosis dan Penatalaksanaan Asma di Indonesia).
Efek samping sistemik penggunaan glukokosteroid
oral/parenteral jangka panjang adalah osteoporosis, hipertensi,
diabetes, supresi aksis adrenal pituitary hipotalamus, katarak,
glaucoma, obesitas, dan kelemahan otot. Perhatian ketat di anjurkan
pada pemberian steroid oral pada penderita asma dengan penyakit
lain seperti tuberculosis, infeksi parasite, osteoporosis, glaucoma,
diabetes, depresi berat, dan tukak lambung. Glukokosteroid oral
juga meningkakan resiko infeksi herpes zoster. Pada keadan infeksi
firus herpes atau varisela, maka glikokosteroid sistemik harus di
hentikan. (216409655-Pedoman Diagnosis dan Penatalaksanaan
Asma di Indonesia).
c. Kromolin (sodium kromoglikat dan nedokromil sodium)
Mekanisme yang pasti dari sodium kromoglikat dan nedokromil
sodium belum sepenuhnya di pahami, tetapi di ketahui merupakan
antiinflamasi nonsteroid, menghambat pelepasan mediator dari sel
mast melalui reaksi yang di perantarai IgE yang bergantung kepada
dosis dan seleksi serta supresi sel inflamasi tertentu (makrofak,
eosinophil, monosit), selain kemungkinan menghambat saluran
kalsium pada sel target. Pemberiannya secara inhalasi, di gunakan
sebagai pengontrol pada asma presisten ringan. Studi klinis
menunjukan pemberian sodium kromoglikat dapat memperbaiki faal
paru dan gejala, menurunkan hiperesponsif jalan nafas walau tidak
se-efektif glukokosteroid inhalasi. Di butuhkan waktu 4-6 minggu
pengobatan untuk menetapkan apakah obat ini bermanfaat atau
tidak. Efek samping umumnya minimal seperti batuk atau rasa obat
tidak enak saat melakukan inhalasi (PC ASMA).
d. Metilsatin
Teofilin adalah bronkodilator yang juga mempunyai efek
ekstrapulmoner seperti anti inflamasi. Efek bronkodilator
berhubungan dengan hambatan fosfodiesterase yang adapat terjadi
pada konsentrasi tinggi (10 mg/dl), sedangkan efek antiinflamasinya
melalui mekanisme yang belum jelas terjadi pada konsentrasi rendah
(5-10 mg/dl). Pada dosis yang sangat rendah efek inflamasinya
minim pada inflamasi kronik jalan nafas dan studi menunjukkan
tidak berefek pada hiperesponsif jalan nafas. Teofilin juga di
gunakan sebagai brondilator tambahan pada asma berat. Sebagai
pelega, teofilin atau aminofilin oral di berikan Bersama agonis beta-
2 kerja singkat, sebagai alternative bronkodilator jika di butuhkan
(2039-4737-2-PB)
Efek samping berpotensi terjadi pada dosis tinggi (≥10
mg/kgBB/hari atau lebih), hal itu dapat di cegah dengan pemberian
dosis yang tepat dengan pengawasan ketat. Gejala gastointestin
nausea, muntah adalah efek samping yang paling dulu sering terjadi.
Efek kardiopulmoner seperti takikardia, aritmia dan kadang
merangsang pusat nafas. Indotoksik teofilin dapat menyebabkan
kejang bahkan kematian (pedoman diagnosis dan tata laksana asma
di indonesia)
e. Agonis beta-2 kerja lama
Termasuk dalam agonis beta-2 kerja lama inhalasi adalah
salmeterol dan formoterol yang mempunyai waktu kerja lama (>12
jam). Seperti lazimnya agonis beta-2 mempunyai efek relaksasi otot
polos, meningkatkan pembersihan mukosiliar, menurunkan
permeabilitas pembuluh darah dan memodulasi pelepasan mediator
dari sel mast dan basophil. Kenyataan pada pembersihan jangka
lama, mempunyai efek antiinflamasi walau kecil. Inhalasi agonis
beta-2 kerja lama menghasilkan efek bronkodilatasi lebih di
bandingkan peroral. Efek samping sistemik (rangsangan
kardiovaskuler, tremor otot lagka dan hypokalemia) yang lebih
sedikit atau jarang dari pada pemberian lewat oral (216409655-
Pedoman Diagnosis dan Penatalaksanaan Asma di Indonesia).
f. Leukotriene modifier
Obat ini merupakan anti asma yang relatif baru dan pemberiannya
melaui oral. Mekanisme kerjanya menghambat 5-lipoksugenase
sehingga memblock sintesis semua leukotrien (contohnya zileuton)
atau memblock reseptor-reseptor leukotrien sisteinil pada sel target
(contohnya montelukas, pranlukas). Mekanisme kerja tersebut
menghasilkan efek bronkodilator minimal dan menurunkan
bronkokonstriksi akibat allergen, sulfurdioksida dan olahraga.
Selain bersifat bronkodilator, juga bersifat antiinflamasi. Efek
samping jarang di temukan (PC ASMA).
d. Pengobatan berdasarkan derajat berat asma
1. Asma persisten ringan
Jika sekali nebulasi pasien menunjukkan respon yang baik (complete
response), berarti derajat serangannya ringan. Pasien di observasi
selama 1-2 jam, jika respon tersebut bertahan, pasien dapat di
pulangkan. Pasien di bekali obat β-agonis (hirupan atau oral) yang
di berikan 4-6 jam. Jika pencetus serangannya adalah infeksi virus,
dapat di tambahkan steroid oral jangka pendek (3-5 hari). Pasien
kemudian di anjurkan kontrol ke klinik rawat jalan dalam waktu 24-
48 jamuntuk re-evaluasi tatalaksana. Selain itu, jika pasien sebelum
serangan sudah mendapat obat pengendali, obat tersebut di lanjutkan
sampai re-evaluasi dilakukan pada klinik rawat jalan. Namun setelah
observasi gejala timbul kembali, pasien di perlakukan sebagai
serangan asma sedang (BUKU AJAR RESPIROLOGI ANAK
IDAI).
2. Asma persisten sedang
Jika dengan pemberian nebulasi dua kali pasien hanya menunjukan
respon parsial (incomplete response), kemungkinan derajat
serangannya sedang. Untuk itu derajat serangan harus dinilai ulang
sesuai pedoman. Jika serangannya memang termasuk serangan
sedang, inhalasi langsung dengan β2-agonis dan impratropium
bromide (antikolinergik), pasien perlu diobservasi dan di tangani di
ruang rawat sehari (RRS). Pada serangan asma sedang, diberikan
kortikosteroid sistemik (oral) metilprednisolon dengan dosis 0,5-1
mg/kg BB/hari selama 3-5 hari. Walaupun belum tentu diperlukan,
untuk persiapan keadaan darurat, pasien yang akan di observasi di
RRS langsung di pasangi jalur parenteral sejak di UGD (BUKU
AJAR RESPIROLOGI ANAK IDAI).
3. Asma persisten berat
Bila dengan nebulasi 3 kali berturut-turut pasien tidak menunjukkan
respon (poor response), yaitu gejala dan tanda serangan masih ada
(penilaian ulang sesuai pedoman), pasien harus di rawat di ruang
rawat inap. Bila pasien diduga/diperkirakan serangan berat, maka
langsung diberi nebulasi dengan β2-agonis dan antikolinergik.
Oksigen 2-4 L/menit diberikan sejak awal termasuk saat nebulasi.
Kemudian dipasang jalur parenteral dan di lakukan foto toraks.
Sedangkan bila pasien menunjukkan gejala dan tanda ancaman henti
nafas, pasien harus langsung dirawat di ruang rawat intensif. Pada
pasien dengan serangan berat dan ancaman henti nafas, foto toraks
harus langsung di buat untuk mendeteksi komplikasi pneumotoraks
dan atau pneumomediastinum (BUKU AJAR RESPIROLOGI
ANAK IDAI).
3. Penggunaan Obat Rasional
Secara praktis, penggunaan obat dikatakan rasional jika memenuhi
kriteria: (MODUL PENGGUNAAN OBAT RASIONAL).
1. Tepat Diagnosis
Penggunaan obat disebut rasional jika diberikan untuk diagnosis
yang tepat. Jika diagnosis tidak ditegakkan dengan benar, maka
pemilihan obat akan terpaksa mengacu pada diagnosis yang keliru
tersebut. Akibatnya obat yang diberikan juga tidak akan sesuai dengan
indikasi yang seharusnya.
2. Tepat Pemilihan Obat
Keputusan untuk melakukan upaya terapi diambil setelah diagnosis
ditegakkan dengan benar. Dengan demikian, obat yang dipilih harus yang
memiliki efek terapi sesuai dengan spektrum penyakit.
3. Tepat Indikasi Penyakit
Setiap obat memiliki spektrum terapi yang spesifi k. Antibiotik,
misalnya diindikasikan untuk infeksi bakteri. Dengan demikian,
pemberian obat ini hanya dianjurkan untuk pasien yang memberi gejala
adanya infeksi bakteri.
4. Tepat Pasien
Obat yang diberikan harus tepat penilaian kondisi pasien karena
respon individu terhadap efek obat sangat beragam.
5. Tepat Dosis
Dosis, cara dan lama pemberian obat sangat berpengaruh terhadap
efek terapi obat. Pemberian dosis yang berlebihan, khususnya untuk obat
yang dengan rentang terapi yang sempit, akan sangat beresiko timbulnya
efek samping. Sebaliknya dosis yang terlalu kecil tidak akan menjamin
tercapainya kadar terapi yang diharapkan.
6. Tepat Cara dan Lama Pemberian
Besar dosis, cara dan frekuensi pemberian umumnya didasarkan pada
sifat farmakokinetika dan farmakodinamik obat serta kondisi pasien,
sedang lama pemberian berdasarkan pada sifat penyakit (akut atau
kronis, kambuh berulang dsb).
7. Tepat Harga
Obat yang diberikan harus efektif dan aman dengan mutu terjamin,
serta tersedia setiap saat dengan harga yang terjangkau Untuk efektif dan
aman serta terjangkau, digunakan obat-obat dalam daftar obat esensial.
Pemilihan obat dalam daftar obat esensial didahulukan dengan
mempertimbangkan efektivitas, keamanan dan harganya oleh para pakar
di bidang pengobatan dan klinis.
8. Tepat informasi
Informasi yang tepat dan benar dalam penggunaan obat sangat
penting dalam menunjang keberhasilan terapi.