0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
265 tayangan7 halaman

SOP Diabetes Melitus Tipe II Puskesmas

Diabetes Mellitus (DM) Tipe 2 adalah penyakit kronis yang ditandai dengan kadar gula darah tinggi akibat gangguan kerja insulin dan atau sekresinya. Dokumen ini memberikan panduan pelayanan klinis untuk DM Tipe 2 mencakup diagnosis, tata laksana, edukasi kesehatan, dan kriteria rujukan. Prognosis penyakit ini secara umum tidak dapat disembuhkan namun dapat dikontrol.

Diunggah oleh

fajar
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOC, PDF, TXT atau baca online di Scribd
0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
265 tayangan7 halaman

SOP Diabetes Melitus Tipe II Puskesmas

Diabetes Mellitus (DM) Tipe 2 adalah penyakit kronis yang ditandai dengan kadar gula darah tinggi akibat gangguan kerja insulin dan atau sekresinya. Dokumen ini memberikan panduan pelayanan klinis untuk DM Tipe 2 mencakup diagnosis, tata laksana, edukasi kesehatan, dan kriteria rujukan. Prognosis penyakit ini secara umum tidak dapat disembuhkan namun dapat dikontrol.

Diunggah oleh

fajar
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOC, PDF, TXT atau baca online di Scribd

Diabetes Mellitus (DM) Tipe II

No. Dokumen : SOP/ 26/UKP/I/2020


SOP No. Revisi : 01
Tanggal Terbit : 3 Januari 2020
Halaman : 1/3

UPTD Puskesmas
Tabanan II
Kabupaten Tabanan dr. I Wayan Panca
NIP. 19641201199003031011

1. Pengertian Diabetes Melitus (DM) tipe 2 adalah kumulan gejala yang ditandai oleh
hiperglikemia akibat defek pada kerja insulin (resistensi insulin) dan sekresi
insulin atau kedua-duanya.
No. ICD X : E11 Non-insulin-dependent diabetes mellitus

2. Tujuan Sebagai acuan penerapan langkah – langkah untuk pelayanan klinis diabtes
mellitus tipe 2.

3. Kebijakan SK Kepala UPTD Puskesmas Tabanan II Nomor: I / SK /[Link]/I /2020


tentang Jenis Layanan

4. Referensi Keputusan Mentri Kesehatan Republik Indonesia


Nomor HK.02.02/Menkes/514/2015 Tentang Panduan Praktik Klinis Bagi Dokter
Di Fasilitas Pelayanan Kesehatan Tingkat Pertama

5. Alat dan Bahan 1. Buku Rekam medis pasien 4. Timbangan


2. Stetoscope 5. Alat tulis
3. Senter
6. Langkah- Anamnesis (Subjective)
Langkah
Keluhan
1. Polifagia
2. Poliuri
3. Polidipsi
4. Penurunan berat badan yang tidak jelas sebabnya

Keluhan tidak khas:


1. Lemah
2. Kesemutan (rasa baal di ujung-ujung ekstremitas)
3. Gatal
4. Mata kabur
5. Disfungsi ereksi pada pria
6. Pruritus vulvae pada wanita
7. Luka yang sulit sembuh

Faktor risiko
1. Berat badan lebih dan obese (IMT ≥ 25 kg/m2)
2. Riwayat penyakit DM di keluarga
3. Mengalami hipertensi (TD ≥ 140/90 mmHg atau sedang dalam terapi
hipertensi)
4. Riwayat melahirkan bayi dengan BBL > 4000 gram atau pernah didiagnosis
DM Gestasional
5. Perempuan dengan riwayat PCOS (polycistic ovary syndrome)
6. Riwayat GDPT (Glukosa Darah Puasa Terganggu) / TGT(Toleransi Glukosa
Terganggu)
7. Aktifitas jasmani yang kurang

Pemeriksaan Fisik dan Penunjang Sederhana (Objective)


Pemeriksaan Fisik
1. Penilaian berat badan
2. Mata : Penurunan visus, lensa mata buram
3. Extremitas : Uji sensibilitas kulit dengan mikrofilamen

Pemeriksaan Penunjang
1. Gula Darah Puasa
2. Gula Darah 2 jam Post Prandial
3. Urinalisis
.
Penegakan Diagnostik (Assessment)
Diagnosis Klinis
Kriteria diagnostik DM dan gangguan toleransi glukosa:
1. Gejala klasik DM (poliuria, polidipsia, polifagi) + glukosa plasma sewaktu ≥
200 mg/dL (11,1 mmol/L). Glukosa plasma sewaktu merupakan hasil
pemeriksaan sesaat pada suatu hari tanpa memperhatikan waktu makan
terakhir ATAU

2. Gejala Klasik DM+ Kadar glukosa plasma puasa ≥ 126 mg/dl. Puasa
diartikan pasien tidak mendapat kalori tambahan sedikitnya 8 jam ATAU

3. Kadar glukosa plasma 2 jam pada tes toleransi glukosa oral (TTGO)> 200
mg/dL (11,1 mmol/L) TTGO dilakukan dengan standard WHO, menggunakan
beban glukosa anhidrus 75 gram yang dilarutkan dalam air.
Apabila hasil pemeriksaan tidak memenuhi kriteria normal atau DM, maka
dapat digolongkan ke dalam kelompok Toleransi Glukosa Terganggu (TGT)
atau Gula Darah Puasa Teranggu (GDPT) tergantung dari hasil yang
diperoleh
Kriteria gangguan toleransi glukosa:
1. GDPT ditegakkan bila setelah pemeriksaan glukosa plasma puasa
didapatkan antara 100–125 mg/dl (5,6–6,9 mmol/l)
2. TGT ditegakkan bila setelah pemeriksaan TTGO kadar glukosa plasma
140–199 mg/dl pada 2 jam sesudah beban glukosa 75 gram (7,8 -11,1
mmol/L)
3. HbA1C 5,7 -6,4%

Komplikasi
1. Akut
Ketoasidosis diabetik, Hiperosmolar non ketotik, Hipoglikemia
2. Kronik
Makroangiopati, Pembuluh darah jantung, Pembuluh darah perifer, Pembuluh
darah otak
3. Mikroangiopati: Pembuluh darah kapiler retina, pembuluh darah kapiler
renal
4. Neuropati
5. Gabungan:
Kardiomiopati, rentan infeksi, kaki diabetik, disfungsi ereksi
1. Karbohidrat 45 – 65 %
2. Protein 15 – 20 %
3. Lemak 20 – 25 %

Jumlah kandungan kolesterol disarankan < 300 mg/hari. Diusahakan lemak


berasal dari sumber asam lemak tidak jenuh (MUFA = Mono Unsaturated
Fatty Acid), dan membatasi PUFA (Poly Unsaturated Fatty Acid) dan asam
lemak jenuh. Jumlah kandungan serat + 25 g/hr, diutamakan serat larut.
Jumlah kalori basal per hari:
1. Laki-laki: 30 kal/kg BB idaman
2. Wanita: 25 kal/kg BB idaman

Rumus Broca:*
Berat badan idaman = ( TB – 100 ) – 10 %
*Pria < 160 cm dan wanita < 150 cm, tidak dikurangi 10 % lagi.
BB kurang : < 90 % BB idaman
BB normal : 90 – 110 % BB idaman
BB lebih : 110 – 120 % BB idaman
Gemuk : >120 % BB idaman

Penyesuaian (terhadap kalori basal/hari):


1. Status gizi:
a. BB gemuk - 20 %
b. BB lebih - 10 %
c. BB kurang + 20 %

2. Umur > 40 tahun : - 5 %

3. Stres metabolik (infeksi, operasi,dll): + (10 s/d 30 %)

4. Aktifitas:
a. Ringan + 10 %
b. Sedang + 20 %
c. Berat + 30 %

5. Hamil:
a. trimester I, II + 300 kal
b. trimester III / laktasi + 500 kal

Latihan Jasmani
Kegiatan jasmani sehari-hari dan latihan teratur (3-5 kali seminggu selama
kurang lebih 30-60 menit minimal 150 menit/minggu intensitas sedang).
Kegiatan sehari-hari seperti berjalan kaki ke pasar, menggunakan tangga,
berkebun, harus tetap dilakukan.

Kriteria Rujukan
Untuk penanganan tindak lanjut pada kondisi berikut:
1. DM tipe 2 dengan komplikasi
2. DM tipe 2 dengan kontrol gula buruk
3. DM tipe 2 dengan infeksi berat

Peralatan
1. Laboratorium untuk pemeriksaan gula darah, darah rutin, urin rutin, ureum,
kreatinin
2. Alat Pengukur berat dan tinggi badan anak serta dewasa
3. Monofilamen test

Prognosis
Prognosis umumnya adalah dubia. Karena penyakit ini adalah penyakit
kronis, quo ad vitam umumnya adalah dubia ad bonam, namun quo ad
fungsionam dan sanationamnya adalah dubia ad malam.

7. Diagram
Alir1. Anamnese 3. Pemeriksaan
2. Pemeriksaan fisik penunjang

5. Pengobatan dan
6. HE (Health perawatan (sesuai 4. Penegakan
Education) PROTAP) diagnosa

8. Hal-hal A. Petugas melakukan konseling dan edukasi, seperti:


Yang Perlu 1. Penyakit DM tipe 2 tidak dapat sembuh tetapi dapat dikontrol
Diperhatikan 2. Gaya hidup sehat harus diterapkan pada penderita misalnya olahraga,
menghindari rokok, dan menjaga pola makan.
3. Pemberian obat jangka panjang dengan kontrol teratur setiap 2 minggu
B. Petugas menentukan kriteria rujukan, seperti:
1. DM tipe 2 dengan komplikasi
2. DM tipe 2 dengan kontrol gula buruk
3. DM tipe 2 dengan infeksi berat

C. Petugas menentukan evaluasi dan prognosis dari pasien


Prognosis pada umumnya dubia ad bonam

9. Unit Terkait Seluruh unit ruang pelayanan yang terkait

10. Dokumen 1. SK Kepala Puskesmas


Terkait 2. Manual Mutu
3. SOP

11. Rekaman Historis

No Halaman Yang Diubah Perubahan Diberlakukan


Tanggal

Anda mungkin juga menyukai