REKAYASA IDE
“PENERAPAN METODE DISCOVERY LEARNING”
PADA MATERI HIPERBOLA
DOSEN PENGAMPU :
DISUSUN OLEH:
KELOMPOK 5
NAMA ANGGOTA KELOMPOK :
1. DEBBY MEUTIARA SARI (4183111001)
2. DWIGITA MELANI C. LIMBONG (4183311042)
3. HAMIM YA’AIN SIN KAF [Link] (4183111101)
4. HOTBER PARASIAN HUTAGAOL (4182111006)
5. INEZ LAURENCIA SIMBO LON (4182111043)
6. KIKI WULANDARI (4181111007)
7. MELATI APRI AULIA (4181111019)
8. RAHAYU LESTARI (4183111075)
9. WARDATUL MAWADDAH TANJUNG (4183111057)
KELAS : MATEMATIKA DIK D 2018
MATA KULIAH : STRATEGI BELAJAR MENGAJAR MATEMATIKA
JURUSAN MATEMATIKA
FAKULTAS MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM
UNIVERSITAS NEGEERI MEDAN
2019
KATA PENGANTAR
Puji syukur penulis ucapkan kepada Tuhan Yang Maha Esa atas segala karunia-Nya
sehingga makalah rekayasa ide (RI) ini berhasil diselesaikan. Judul yang dipilih dalam
Rekayasa ide ini adalah “Penerapan Metode Discovery Learning Pada Materi
Hiperbola”. Rekayasa ide ini disusun untuk memenuhi salah satu tugas wajib pada mata
kuliah Evaluasi Pembelajaran Matematika.
Penulis menyampaikan ucapan terima kasih kepada Dosen Pengampu, Ibu Tiur
Malasari Siregar [Link],[Link] yang telah banyak memberikan arahan, bimbingan dan saran
selama penulis makalah rekayasa ide ini. Semoga budi baiknya mendapat imbalan dari Tuhan
Yang Maha Esa.
Penulis menyadari bahwa makalah ini masih jauh dari sempurna, oleh karena itu
kritik dan saran sangat diharapkan. Demikian makalah rekayasa ide ini disusun semoga dapat
bermanfaat bagi semua pihak yang berkepentingan.
Medan, 22 November 2019
Penulis
i
DAFTAR ISI
KATA PENGANTAR ............................................................................................................................. i
DAFTAR ISI........................................................................................................................................... ii
BAB I ...................................................................................................................................................... 1
PENDAHULUAN .................................................................................................................................. 1
1.1 Latar Belakang ........................................................................................................................ 1
1.2 Rumusan Masalah ................................................................................................................... 2
1.3 Tujuan Penulisan ..................................................................................................................... 2
BAB II..................................................................................................................................................... 3
TINJAUAN TEORITIS .......................................................................................................................... 3
2.1 Kajian Teori ............................................................................................................................ 3
BAB III ................................................................................................................................................... 8
METODELOGI PELAKSANAAN IDE ................................................................................................ 8
3.1 METODE DISCOVERY LEARNING ................................................................................... 8
3.2 SYNTAX PELAKSANAAN METODE DISCOVERY LEARNING ................................... 8
BAB IV .................................................................................................... Error! Bookmark not defined.
PEMBAHASAN ...................................................................................... Error! Bookmark not defined.
4.1 Deskripsi Alat ................................................................................ Error! Bookmark not defined.
BAB V .................................................................................................................................................. 10
PENUTUP ............................................................................................................................................ 10
5.1 KESIMPULAN ..................................................................................................................... 10
5.2 SARAN ................................................................................................................................. 10
DAFTAR PUSTAKA ............................................................................................................................. 1
LAMPIRAN............................................................................................. Error! Bookmark not defined.
ii
BAB I
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Ide adalah sebuah rancangan yang tersusun didalam pikiran atau gagasan. Ide inilah yang
mendasari mengenai pembelajaran. Belajar adalah suatu proses yang kompleks yang terjadi
perubahan tingkah laku dalam dirinya. Perubahan tingkah laku tersebut menyangkut yang bersifat
pengetahuan (kognitif), keterampilan (psikomotor), dan sikap (afektif). Ide atau gagasan mengenai
belajar dan pembelajaran terbagi menjadi tiga, yaitu rasionalisme, empirisme, dan konstruktivisme.
Proses belajar dan pembelajaran akan menjadi lebih baik secara pengetahuan, karakter,
psikologi dan psikomotor, jika adanya pemahaman tentang ide atau gagasan mengenai pembelajaran.
Belajar merupakan pembentukan kebiasaan yang terjadi karena adanya interaksi antara organisme dan
lingkungan sehingga mampu mengakibatkan perubahan perilaku organisme tersebut, sehingga belajar
adalah proses penting dalam kehidupan.
Belajar adalah setiap perubahan yang relatif menetap dalam tingkah laku yang terjadi sebagai
suatu hasil dari latihan atau pengalaman (Purwanto dalam Thobroni, 2013: 20). Pendapat di atas dapat
disimpulkan belajar adalah salah satu usaha yang dilakukan untuk mencapai perubahan yang relatif
tetap, baik perubahan pengetahuan dan perubahan sikap maupun perubahan keterampilan.
Pembelajaran adalah proses interaksi peserta didik dengan pendidik dan sumber belajar pada
suatu lingkungan belajar. Pembelajaran merupakan bantuan yang diberikan pendidik agar dapat
terjadi proses pemerolehan ilmu dan pengetahuan, penguasaan kemahiran dan tabiat, serta
pembentukan sikap dan kepercayaan pada peserta didik (Rahyubi, 2012: 6). Pembelajaran tidak hanya
dialami oleh peserta didik melainkan semua manusia sepanjang hayat, serta berlaku di mana pun dan
kapan pun. Proses pembelajaran akan membuat manusia menjadi insane yang lebih baik, berkarakter,
memiliki keahlian, dan berguna bagi masyarakat luas. Dalam proses belajar dan pembelajaran perlu
adanya rekayasa sistem lingkungan yang mendukung. Penciptaan sistem lingkungan yaitu
menyiapkan kondisi lingkungan yang kondusif bagi peserta didik. Kondisi dapat berupa sejumlah
tugas-tugas sekolah, menyediakan sarana dan prasarana sekolah. Berikut adalah skema proses belajar
dan hasil akhir yang seharusnya dicapai (Rahyubi, 2012: 4).
Salah satu kemampuan dan keahlian profesional yang harus dimiliki oleh para
pendidik adalah kemampuan bidang pendidikan dan keguruan, khususnya terkait dengan
strategi pembelajaran. Seorang guru dan dosen tidak hanya dituntut untuk menguasai bidang
studi yang akan diajarkannya saja, tetapi juga harus menguasai dan mampu mengajarkan
pengetahuan dan keterampilan tersebut pada pada peserta didik. Sebagian besar guru-guru
tingkat pendidikan dasar dan menengah di Indonesia belum pernah mengikuti pendidikan dan
latihan keguruan yang memadai, sehingga pengetahuan dan keterampilan pembelajaran hanya
1
didasari atas pengalaman semata-mata, kurang didukung oleh teori-teori pembelajaran.
Mengingat kondisi para pendidik yang demikian, maka kehadiran sajian Model
Pembelajaran Kreatif dan Inovatif ini akan sangat penting artinya bagi guru untuk mengembangkan
pengetahuan dan keterampilan dalam melaksanakan tugas-tugas pembelajaran. Di
samping itu, sajian ini juga sangat berguna bagi para mahasiswa kependidikan, khususnya
yang berhubungan dengan matakuliah strategi pembelajaran yang merupakan matakuliah
wajib bagi calon-calon guru
1.2 Rumusan Masalah
Berdasarkan uraian latar belakang di atas, maka dapat didefinisikan permasalahan yaitu
sebagai berikut:
1. Strategi apa yang digunakan guru dalam mengajarkan materi hiperbola?
2. Apakah ada pengaruh strategi tersebut dalam perkembangan siswa?
1.3 Tujuan Penulisan
Berdasarkan rumusan masalah di atas, maka tujuan alat peraga ini yaitu sebagai
berikut:
a) Mengetahui strategi yang dapat digunakan guru dalam mengajarkan materi hiperbola
b) Mengetahui ada atau tidaknya pengaruh perkembangan siswa dari strategi yang
digunakan dalam mengajarkan materi hiperbola
1.4 Manfaat Penulisan
Adapun manfaat dari penulisan makalah ini adalah sebagai berikut:
a. Memudahkan guru dalam menggunakan strategi yang tepat dalam mengajarkan
materi hiperbola.
b. Sebagai bahan perbandingan untuk pembaca agar mengetahui strategi yang tepat
dalam mengajar
c. Untuk memenuhi tugas KKNI Evaluasi Pembelajaran Matematika
2
BAB II
TINJAUAN TEORITIS
2.1 Kajian Teori
Pengertian Discovery Learning
Model pembelajaran penemuan (discovery learning) diartikan sebagai proses
pembelajaran yang terjadi ketika siswa tidak disajikan informasi secara langsung tetapi siswa
dituntut untuk mengorganisasikan pemahaman mengenai informasi tersebut secara mandiri.
Siswa dilatih untuk terbiasa menjadi seorang yang saintis (ilmuan). Mereka tidak hanya
sebagai konsumen, tetapi diharapkan pula bisa berperan aktif, bahkan sebagai pelaku dari
pencipta ilmu pengetahuan.
Berikut ini beberapa pengertian discovery learning dari beberapa sumber buku:
Menurut Hosnan (2014:282), discovery learning adalah suatu model untuk
mengembangkan cara belajar aktif dengan menemukan sendiri, menyelidiki sendiri, maka
hasil yang diperoleh akan setia dan tahan lama dalam ingatan. Melalui belajar penemuan,
siswa juga bisa belajar berpikir analisis dan mencoba memecahkan sendiri masalah yang
dihadapi.
Menurut Kurniasih, dkk (2014:64), Model discovery learning adalah proses
pembelajaran yang terjadi bila pelajaran tidak disajikan dengan pelajaran dalam bentuk
finalnya, tetapi diharapkan siswa mengorganisasikan sendiri. Discovery adalah menemukan
konsep melalui serangkaian data atau informasi yang diperoleh melalui pengamatan atau
percobaan.
Menurut Sund, discovery learning adalah proses mental dimana siswa mampu
mengasimilasikan sesuatu konsep atau prinsip. Proses mental tersebut antara lain mengamati,
mencerna, mengerti menggolong-golongkan, membuat dugaan, menjelaskan, mengukur,
membuat kesimpulan dan sebagainya (Suryasubrata, 2002:193).
Jenis dan Bentuk Discovery Learning
Menurut Suprihatiningrum (2014: 244), terdapat dua cara dalam pembelajaran
penemuan (Discovery Learning), yaitu:
Pembelajaran penemuan bebas (Free Discovery Learning) yakni pembelajaran penemuan
tanpa adanya petunjuk atau arahan.
3
Pembelajaran penemuan terbimbing (Guided Discovery Learning) yakni pembelajaran
yang membutuhkan peran guru sebagai fasilitator dalam proses pembelajarannya.
Bentuk metode pembelajaran Discovery Learning dapat dilaksanakan dalam komunikasi
satu arah atau komunikasi dua arah bergantung pada besarnya kelas, yang dijelaskan
lebih detail sebagai berikut (Oemar Hamalik, 2009:187):
Sistem satu arah. Pendekatan satu arah berdasarkan penyajian satu arah yang dilakukan
guru. Struktur penyajiannya dalam bentuk usaha merangsang siswa melakukan proses
discovery di depan kelas. Guru mengajukan suatu masalah, dan kemudian memecahkan
masalah tersebut melalui langkah-langkah discovery.
Sistem dua arah. Sistem dua arah melibatkan siswa dalam menjawab
pertanyaanpertanyaan guru. Siswa melakukan discovery, sedangkan guru membimbing
mereka ke arah yang tepat atau benar.
Karakteristik dan Tujuan Discovery Learning
Menurut Hosnan (2014), ciri atau karakteristik Discovery Learning adalah (1)
mengeksplorasi dan memecahkan masalah untuk menciptakan, mengabungkan, dan
menggeneralisasi pengetahuan; (2) berpusat pada siswa; (3) kegiatan untuk menggabungkan
pengetahuan baru dan pengetahuan yang sudah ada.
Sedangkan menurut Bell, metode Discovery Learning meliliki tujuan melatih siswa
untuk mandiri dan kreatif, antara lain sebagai berikut (Hosnan, 2014):
Dalam penemuan siswa memiliki kesempatan untuk terlibat secara aktif dalam
pembelajaran. Kenyataan menunjukan bahwa partisipasi banyak siswa dalam
pembelajaran meningkat ketika penemuan digunakan.
Melalui pembelajaran dengan penemuan, siswa belajar menemukan pola dalam situasi
konkrit mauun abstrak, juga siswa banyak meramalkan (extrapolate) informasi tambahan
yang diberikan.
Siswa juga belajar merumuskan strategi tanya jawab yang tidak rancu dan menggunakan
tanya jawab untuk memperoleh informasi yang bermanfaat dalam menemukan.
Pembelajaran dengan penemuan membantu siswa membentuk cara kerja bersama yang
efektif, saling membagi informasi, serta mendengar dan mneggunakan ide-ide orang lain.
Terdapat beberapa fakta yang menunjukan bahwa keterampilan-keterampilan, konsep-
konsep dan prinsip-prinsip yang dipelajari melalui penemuan lebih bermakna.
4
Langkah-langkah Discovery Learning
Menurut Veerman (2003) langkah-langkah pembelajaran dalam model discovery
learning antara lain Orientation, Hypothesis Generation, Hypothesis Testing, Conclusion dan
Regulation, yang secara rinci dijelaskan sebagai berikut:
a. Orientation
Guru memberikan fenomena yang terkait dengan materi yang diajarkan untuk
memfokuskan siswa pada permasalahan yang dipelajari. Fenomena yang ditampilkan oleh
guru membuat guru mengetahui kemampuan awal siswa. Tahap orientation melibatkan siswa
untuk membaca pengantar dan atau informasi latar belakang, mengidentifikasi masalah dalam
fenomena, menghubungkan fenomena dengan pengetahuan yang didapat sebelumnya. Sintaks
orientation melatihkan kemampuan interpretasi, analisis dan evaluasi pada aspek kemampuan
berpikir kritis. Produk dari tahapan orientation dapat digunakan untuk tahapan yang lainya
terutama tahapan hypothesis generation dan conclusion.
b. Hypothesis Generation
Informasi mengenai fenomena yang didapatkan pada tahapan orientation digunakan
pada tahapan hypothesis generation. Tahapan hypothesis generation membuat siswa
merumuskan hipotesis terkait permasalahan. Siswa merumuskan masalah dan mencari tujuan
dari proses pembelajaran. Sintaks hypothesis generation melatihkan kemampuan interpretasi,
analisis, evaluasi dan inferensi. Masalah yang telah dirumuskan diuji pada tahapan hypothesis
testing.
c. Hypothesis Testing
Hipothesis yang dihasilkan pada tahapan hypothesis generation tidak dijamin
kebenaranya. Pembuktian terhadap hipotesis yang dibuat oleh siswa dibuktikan pada tahapan
hypothesis testing. Tahapan pengujian hipotesis siswa harus merancang dan melaksanakan
eksperimen untuk membuktikan hipotesis yang telah dirumuskan, mengumpulkan data dan
mengkomunikasikan hasil dari eksperimen. Sintaks hypothesis testing melatihkan
kemampuan regulasi diri, evaluasi, analisis, interpretasi dan penjelasan.
d. Conclusion
Kegiatan siswa pada tahapan conclusion adalah meninjau hipotesis yang telah
dirumuskan dengan fakta-fakta yang telah diperoleh dari pengujian hipotesis. Siswa
memutuskan fakta-fakta hasil pengujian hipotesis apakah sesuai dengan hipotesis yang telah
dirumuskan atau siswa mengidentifikasi ketidaksesuaian antara hipotesis dengan fakta yang
diperoleh dari pengujian hipotesis. Tahapan conclusion membuat siswa merevisi hipotesis
5
atau mengganti hipotesis dengan hipotesis yang baru. Sintaks conclusion melatihkan
kemampuan menyimpulkan, analisis, interpretasi, evaluasi dan penjelasan.
e. Regulation
Tahapan regulation berkaitan dengan proses perencanaan, monitoring dan evaluasi.
Perencanaan melibatkan proses menentukan tujuan dan cara untuk mencapai tujuan tersebut.
Monitoring merupakan sebuah proses untuk mengetahui kebenaran langkah-langkah dan
tindakan yang diambil oleh siswa terkait waktu pelaksanaan dan hasil berdasarkan
perencanaan yang telah dibuat sebelumnya. Guru mengkonfirmasi kesimpulan dan
mengklarifikasi hasil-hasil yang tidak sesuai untuk menemukan konsep sebagai produk dari
proses pembelajaran. Sintaks regulation melatihkan kemampuan evaluasi, regulasi diri,
analisis, penjelasan, interpretasi dan menyimpulkan.
Kelebihan dan Kekurangan Discovery Learning
Suherman, dkk (2001:179) menyebutkan terdapat beberapa kelebihan atau keunggulan
metode Discovery Learning, yaitu:
Siswa aktif dalam kegiatan belajar, sebab ia berpikir dan menggunakan kemampuan
untuk menemukan hasil akhir.
Siswa memahami benar bahan pelajarannya, sebab mengalami sendiri proses
menemukannya. Sesuatu yang diperoleh dengan cara ini lebih lama untuk diingat.
Menemukan sendiri bisa menimbulkan rasa puas. Kepuasan batin ini mendorongnya
untuk melakukan penemuan lagi sehingga minat belajarnya meningkat.
Siswa yang memperoleh pengetahuan dengan metode penemuan akan lebih mampu
mentransfer pengetahuannya ke berbagai konteks.
Metode ini melatih siswa untuk lebih banyak belajar sendiri.
Sedangkan menurut Kurniasih, dkk (2014:64-65), metode Discovery Learning juga
memiliki beberapa kelemahan atau kekurangan, antara lain sebagai berikut:
Metode ini menimbulkan asumsi bahwa ada kesiapan pikiran untuk belajar. Bagi siswa
yang kurang pandai, akan mengalami kesulitan abstrak atau berfikir atau
mengungkapkan hubungan antara konsep- konsep, yang tertulis atau lisan, sehingga pada
gilirannya akan menimbulkan frustasi.
Metode ini tidak efisien untuk mengajar jumlah siswa yang banyak, karna membutuhkan
waktu yang lama untuk membantu mereka menemukan teori untuk pemecahan masalah
lainnya.
6
Harapan-harapan yang terkandung dalam metode ini dapat buyar berhadapan dengan
siswa dan guru yang telah terbiasa dengan cara- cara belajar yang lama.
Pengajaran discovery lebih cocok untuk mengembangkan pemahaman, sedangkan
mengembangkan aspek konsep, keterampilan dan emosi secara keseluruhan kurang
mendapat perhatian.
Pada beberapa disiplin ilmu, misalnya IPA kurang fasilitas untuk mengukur gagasan
yang dikemukakan oleh para siswa.
Tidak menyediakan kesempatan-kesempatan untuk berfikir yang akan ditemukan oleh
siswa karena telah dipilih terlebih dahulu oleh guru.
7
BAB III
METODELOGI PELAKSANAAN IDE
3.1 Metode Discovery Learning
Setelah melakukan mini riset yang kami lakukan di sekolah Mas- Aisyiah Binjai. Kami
melihat strategi yang telah dilakukan guru tersebut kurang berhasil digunakan dalam
pengajaran pada materi hiperbola. Untuk itu kami mencoba menggunakan metode
pembelajaran discovery dalam materi hiperbola. Metode discovery learning merupakan
proses pembelajaran yang terjadi ketika siswa tidak disajikan informasi secara langsung
tetapi siswa dituntut untuk mengorganisasikan pemahaman mengenai informasi tersebut
secara mandiri. Siswa dilatih untuk terbiasa menjadi seorang yang saintis (ilmuan). Mereka
tidak hanya sebagai konsumen, tetapi diharapkan pula bisa berperan aktif, bahkan sebagai
pelaku dari pencipta ilmu [Link] metode ini siswa yang dituntut untuk keaktifannya,
sehingga hal ini mampu mengurangi siswa yang ribut dibelakang. Metode penemuan ini sangat cocok
dalam materi hiperbola.
3.2 Syntax Pelaksanaan Metode Discovery Learning
[Link] Pendahuluan
1. Guru mengajak siswa untuk mengawali kegiatan belajar dengan berdoa terlebih
dahulu, kemudian memeriksa kehadiran siswa
2. Guru mengajukan pertanyaan yang berkaitan dengan materi sebelumnya. “apa
defenisi elips? dan apa bentuk persamaan elips?”,
3. Guru memberi informasi tentang kompetensi ruang lingkup
materi,tujuan,manfaat,langkah pembelajaran yang akan dilaksanakan.
[Link] Inti
Stimulation (Stimulasi/Pemberian Rangsangan)
1. Guru membuka secara luas dan bervariasi kesempatan siswa untuk melakukan
pengamatan melalui kegiatan membaca dan menyimak materi tentang hiperbola
Problem Statement (Identifikasi Masalah)
1. Guru memberikan kesempatan secara luas kepada siswa untuk bertanya mengenai
hiperbola yang telah diamati
8
2. Peserta didik mengaajukan pertaanyaan tentang beberapa hal yabf belum mereka
pahami berkaitan dengan hiperbola yang telah mereka amati
3. Guru memngembangkan rasa ingin tahu peserta didik dari pertanyaan yang meraka
ajukan
4. Peserta didik aktif mencari jawaban atas rasa ingin tahunya mengenai hiperbola
melalui diskusi dengan teman sebangku dan berbagai sumber
Data Collection (Pengumpulan Data)
1. Siswa mengumpulkan informasi tentang hiperbola
Data Processing (Pengolahan Data)
1. Guru meminta peserta didik saling berkerjasama dengan teman untuk mendefenisikan
hiperbola, persamaan dan grafik dari hiperbola.
Verifications (Pembuktian)
1. Guru meminta salahsatu peserta didik untuk mempresentasikan pemahamannya
mengenai hiperbola
2. Sementara siswa yang lain diminta guru untuk mengevaluasi pemahaman temannya
dan merampungkan jawaban yang tepat
3. Guru mengarahkan semua siswa pada kesimpulan mengenai hiperbola
4. Guru melatih siswa dengan memberikan tes tertulis untuk meninjau seberapa jauh
pemahaman peserta didik dalam menguasasi materi hiperbola
C .Kegiatan Penutup
1.2 Guru memberikan tugas mandiri berupa soal soal latihan yang ada dibuku pegangan
milik peserta didik.
2.2 Guru menyampaikan kepada siswa,materi yang akan dibahas pada pertemuan
berikutnya.
3.2 Guru mengakhiri kegiatan belajar mengajar dengan salam dan memberikan pesan
untuk mengerjakan tugas tepat waktu. .
9
BAB IV
PENUTUP
4.1 Kesimpulan
Pelajaran matematika yang terkesan rumit bagi sebagian siswa ini menjadi kendala bagi
siswa untuk menyelesaikan permasalahan yang berkaitan dengan matematika. Oleh karena
itu, diperlukan adanya kreativitas untuk menunjang minat dan motivasi siswa untuk belajar
matematika. Seorang pendidik juga diharapkan dapat melakukan strategi pembelajaran yang
baik. Agar tujuan pembelajaran dapat tercapai. Makanya itu penting bagi seorang pendidik
dalam melakukan metode pembelajaran yang baik dan benar.
Selain itu, pembuatan alat peraga perlu diperhatikan kegunaan alat peraga tersebut
dapat berguna dan menjadi alat bantu siswa dalam materi pelajaran matematika. Oleh karena
itu, perlu ada pertimbangan waktu penggunaan serta jenis alat peraga yang sesuai untuk
membantu siswa dalam mencari tujuan pembelajaran. Selain itu, manfaat dari alat peraga ini
perlu diperhatikan sebelum penggunaannya.
4.2 Saran
Adapun saran dari penulisan makalah ini adalah sebagai berikut:.
1. Bagi guru lebih kreatif dalam membuat strategi pembelajaran sehingga peserta didik
tidak bosen dalam belajar.
2. Bagi Sekolah menyediakan saran dan prasarana yang lengkap dalam mendukung
fasilitas belajar mengajar terutama menyediakan alat peraga hasil produksi pabrik.
10
DAFTAR PUSTAKA
Heruman. 2012. Model Pembelajaran Matematika di Sekolah Dasar. Bandung: PT Remaja
Rosdakarya.
Sundayana, Rostina. 2014. Media dan Alat Peraga dalam Pembelajaran Matematika.
Bandung: Alfabeta