BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
Tujuan sistem ISM code (International Safety Management code) Dalam
keselamatan operasional kapal dan pencegahan kecelakaan kapal untuk:
1) Memastikan Keselamatan di Laut,
2) Mencegah kecelakaan manusia/hilangnya nyawa/jiwa,
3) Menghindari keusakan-kerusakan lingkungan yang diakibatkan kecelakaan
dan pencemaran di laut,
4) Menjaga muatan barang yang di angkut dan konstruksi kapal.
Tugas, wewenang, dan tanggung jawab perusahaanpelayaran yang diatur
dalam ISM code mempunyai cakupan luas, antara lain:
1) Kebijakan keselamatan dan Perlindungan Lingkungan,
2) Wewenang dan Tanggung Jawab Perusahaan,
3) Wewenang dan tanggung Jawab Nakhoda
4) sumber daya dan personal,
5) kesiapan menghadapi keadaan darurat,
6) perawatan kapal dan Peralatanya,
7) dokumentasi, Sertifikasi, verifikasi dan Pengawasan
Elemen-elemen dalam ISM Code :
1) Umum
Sebuah pendahuluan yang menjelaskan tujuan umum dari ISM Code dan
sasaran-sasaran yang hendak [Link] mengenai keselamatan dan
perlindungan lingkungan
7
2) kebijakannya (policy) tentang keselamatan dan perlindungan lingkungan
maritim (kelautan) dan memastikan bahwa setiap orang dalam perusahaannya
mengetahui dan mematuhinya.
3) Tanggung jawab dan wewenang perusahaan
Perusahaan harus memiliki cukup orang-orang yang mampu bekerja di atas
kapal dengan peranan dan tanggung jawab yang didefinisikan secara tertulis
dengan jelas (siapa yang bertanggung jawab atas apa).
4) Designated Person Ashore
Orang yang ditunjuk sebagai koordinator/penghubung antara pimpinan
perusahaan dan kapal (DPA).Perusahaan harus menunjuk/mengangkat
seseorang atau lebih di kantor pusat di darat yang bertanggung jawab untuk
memantau dan mengikuti semua kegiatan yang berhubungan dengan
“Keselamatan” kapal.
5) Tanggung jawab dan wewenang Nakhoda / Master
Nakhoda bertanggung jawab untuk membuat sistem tersebut berlaku di atas
[Link] harus membantu memberi dorongan / motivasi kepada ABK untuk
melaksanakan sistem tersebut dan memberi mereka instruksi-instruksi yang
diperlukan. Nakhoda adalah “bos” di atas kapal dan bila dipandang perlu
untuk keselamatan kapal atau awaknya dia dapat melakukan penyimpangan
terhadap semua ketentuan yang dibuat oleh kantor mengenai “Keselamatan”
dan “Pencegahan” yang sudah ada.
6) Sumber daya dan tenaga kerja
Perusahaan harus mempekerjakan orang-orang “yang tepat” di atas kapal dan
di kantor serta memastikan bahwa mereka semua: Mengetahui tugas-tugas
8
mereka masing-masing,di dalam menerima instruksi-instruksi tentang cara
melaksanakan tugasnya,mendapat pelatihan jika perlu
7) Pengembangan program untuk keperluan operasi-operasi di atas kapal
Buatlah program mengenai apa yang anda harus lakukan dan lakukanlah apa
yang sudah anda programkan”.Anda perlu membuat program mengenai
pekerjaan anda di atas kapal dan melakukan pekerjaan anda sesuai dengan
program yang telah dibuat.
8) Kesiapan terhadap keadaan darurat
Anda harus siap untuk hal-hal yang tidak terduga (darurat).Itu dapat terjadi
setiap [Link] harus mengembangkan rencana-rencana untuk
menanggapi situasi-situasi darurat di atas kapal dan mempraktikkan kepada
mereka.
9) Laporan-laporan dan analisa mengenai penyimpangan (non – conformity),
kecelakaan-kecelakaan dan kejadian - kejadian yang [Link]
ada orang atau sistem yang sempurna. Hal yang baik tentang sistem ini adalah
bahwa sistem ini memberikan kepada anda suatu cara untuk melakukan
koreksi dan memperbaikinya. Jika anda menemukan sesuatu yang tidak benar
(termasuk kecelakaan dan situasi-situasi yang berbahaya atau juga yang
nyaris terjadi / near miss) laporkan hal itu. Hal-hal yang tidak benar tersebut
akan dianalisa dan keseluruhan sistem dapat diperbaiki.
10) Pemeliharaan kapal dan perlengkapannya
Kapal dan perlengkapannya harus dipelihara dan diusahakan selalu baik dan
[Link] harus selalu mentaati semua ketentuan / aturan dan peraturan-
peraturan yang berlaku. Semua peralatan / perlengkapan yang penting bagi
9
keselamatan anda harus selalu terpelihara dan diyakinkanakan berfungsi
dengan baik melalui pengujian secara teratur / berkala. Buatlah record /
catatan tertulis semua pekerjaan-pekerjaan yang dilakukan.
11) Dokumentasi
Sistem kerja anda (Sistem Manajemen Keselamatan-SMS) harus dinyatakan
secara tertulis (didokumentasikan) dan dapat dikontrol. Dokumen-dokumen
tersebut harus ada di kantor dan di atas kapal. Anda harus mengontrol semua
pekerjaan administrasi anda yang berkaitan dengan sistem tersebut (yakni :
laporan-laporan tertulis dan formulir-formulir).
12) Tinjauan terhadap hasil verifikasi dan evaluasi perusahaan
Perusahaan harus mempunyai metode-metode untuk melakukan pemeriksaan
internal untuk memastikan bahwa sistem tersebut berfungsi dan terus
meningkat
13) Sertifikasi, verifikasi dan control
14) Sertifikat sementara
15) Formulir sertifikat
16) Verifikasi
Pemerintah di negara bendera (Flag Administration) atau suatu
badan/organisasi yang diakui olehnya, akan mengirimkan auditor-auditor
eksternal untuk mengecek sistem manajemen keselamatan dari perusahaan di
kantor dan di atas kapal-kapalnya. Setelah ia memastikan dirinya bahwa
sistem tersebut telah berjalan, pemerintah negara bendera kapal akan
mengeluarkan Document of Compliance untuk kantor dan Safety
Management Certificate untuk setiap kapalnya.
10
Sehubungan dengan masalah yang dibahas maka diperlukan beberapa teori
dan defenisi yang dapat mendukung dalam penyajian dan kebenaran dari
penulisan ini diantaranya sebagai berikut :
A. Faktor Manusia
1. Pengetahuan dan Keterampilan ABK tentang ISM Code.
Seseorang yang ditunjuk idealnya harus, diterima oleh perusahaan,
khususnya tingkat tertinggi manajemen, diterima dan dipercaya oleh staf
berlayar di laut,mampu berkomunikasi dalam bentuk lisan dan / atau
tertulis dengan personil di atas kapal dan darat,kompeten dan
berpengalaman dalam aspek keselamatan, kompeten dan berpengalaman
dalam aspek pengendalian pencemaran, familiar dengan jenis kapal di
bawah tanggung jawabnya, adapun penjabaran ISM Code tentang alat
keselamatan kerja diperusahaan Allianz Middle East yakni dengan
mengeluarkan suatu panduan dasar yang mengatur tentang cara
penggunaan alat-alat keselamatan kerja sesuai dengan jenis pekerjaaanya.
Panduan dasar tersebut diberi nama MPPEM (Marine Personnel Protective
Equipment Matrix)
Adapun beberapa permasalahan yang paling yang sering terjadi
akibat kurangnya pengetahuan dan keterampilan ABK tentang ISM Code
yaitu :
a. Banyaknya kecelakaan yang terjadi lebih banyak disebabkan oleh
ketidaksesuaian antara alat keselamatan kerja dengan jenis
pekerjaannya yang digunakan oleh para anak buah kapal.
11
b. Masih sering terjadi sifat acuh oleh para ABK untuk menggunakan
alat keselamatan kerja sehingga meskipun sudah diarahkan sebelum
pekerjaan dimulai, tapi terkadang juga para ABK lupa untuk
mengenakan alat keselamatan kerja mereka..
2. Kondisi fisik ABK (kebugaran)
Kondisi fisik ABK diatas kapal terkadang menjadi penyebab utama
terjadinya kecelakaan kerja meskipun mereka telah menggunakan alat
keselamatan kerja yang sesuai, untuk itu harus melakukan pemilihan ABK
yang sesuai dengan kemapuan dan kebugarannya apabila hendak
memberikan tugas yang sulit.
3. Perilaku ABK saat terjadinya kecelakaan.
Menurut Dr. Osha. Variable perilku adalah suatu diantara factor individual
yang mempegaruhi tingkat kecelakaan-kecelakaan dari praktik kerja yang
aman bisa menjadi hal yang penting karena ternyata lebih banyak
persoalan yang disebabkan oleh pekerja yang ceroboh dibandingkan
dengan mesin-mesin atau karena ketidak pedulian para [Link]
suatu waktu, pekerja yang tidak puas dengan pekerjaaannya dianggap
memiliki tingkat kecelakaan kerja yang lebih [Link] diatas
kapal adalah suatu halyang tidak diinginkan oleh siapapun untuk itu
diperlukan beberapa anggota atau karyawan untuk menangani kecelakaan
itu sendiri.
B. Organisasi diatas Kapal
Menurut Wasimun, (maritime world). Struktur organisasi diatas kapal
terdiri dari seorang Nakhoda selaku pimpinan umum di atas kapal, ABK yang
12
terdiri dari para perwira kapal dan bukan perwira/bawahan. Struktur organisasi
kapal tersebut bukanlah struktur yang baku , Karena tiap kapal bisa berbeda
struktur organisasinya tergantung jenisnya, fungsi dan kondisi kapal tersebut.
1. Penanggungjawab Pekerjaan/Kegiatan
Nakhoda sebagai pemimpin umum diatas kapal. Akan tetapi sesuai
dengan perwira yang bertanggung jawab diatas kapal khusunya mengenai
keselamatan kerja dikapal supplyyang ditunjuk oleh perusahaan adalah
Chief Officer (Mualim satu). Meskipun dalam pelaksanannya diatas kapal,
keselamatan adalah tangggung jawab bersama, setiap ABK bertanggung
jawab atas keselamatan semua ABK, jadi mereka berhak untuk menegur
satu sama lain demi terciptanya keselamatan dan [Link] officer
harus berperan penting dalam memastikan semua ABK diatas kapal bekerja
sesuai standar dan prosedur yang telah disepakati oleh perusahaan.
2. Komposisi ABK (Kebangsaaan/Jabatan )
Komposisi ABK merupakan hal yang sering terjadi pada kapal yang
berbendera asing. Untuk itu kapal dengan komposisi ABK yang berbeda
negara harus dibekali dengan kecakapan dalam berbahasa asing sehingga
komunikasi dankerjasama dalam menciptakan keselamatan kerja dapat
terlaksana dengan baik
3. Beban Kerja /tingkat kerumitan pekerjaan.
Beban kerja adalah sejumlah proses atau kegiatan yang harus
diselesaikan oleh seorang ABK dalam jangka waktu tertentu, apabila ABK
mampu menyelesaikan dan menyesuaikan diri terhadap sejumlah tugas
13
yang diberikan , maka hal tersebut tidak menjadi suatu beban kerja, namun
jika sebaliknya maka kegiatan tersebut menjadi suatu beban kerja.
4. Tugas Rutin
Di kapal yang berlayar dari tempat tolak menuju ke tempat tiba
tentunya tidak lepas dari berbagai tugas rutin, meskipun dilakukan
berulang kali namun kegiatan tersebut harus dicatat dan direncanakan
dengan baik adapun proses perencanaan diatas kapal diantaranya yaitu;
a. Toolbox Meeting
Menurut Benny (HSE man;Toolbox Meeting).Toolbox Meeting atau
sering pula disebut Daily Safety Meeting merupakan program kerja
yang harus diterapkan oleh semua perusahaan dilokasi kerja. Program
ini merupakan langkah awal yang harus dilakukan oleh semua pekerja.
Tujuan daripada toolbox meeting adalah untuk mengingatkan kembali
kepada setiap pekerja, termasuk mengevaluasi kinerja, keselamatan
dan kenyamanan pekerjaan sebelumnya. Serta mencari solusi atau
penyelesaian dalam upaya untuk memperbaiki kondisi atau prilaku
tidak aman dilokasi kerja
b. Marine Personnel Protective Equipment Matrix (MPPEM).
Suatu daftar table yang memuat cara atau petunjuk penggunaan alat-
alat keselamatan kerja yang harus digunakan oleh pekerja yang telah
disesuaikan dengan jenis-jenis pekerjaan untuk mencegah atau
menghindari resiko kecelakaan. MPPEM merupakan hasil dari
manajemen yang dilakukan oleh perusahaan untuk mengikuti standar
keselamatan (ISM Code).Dengan adanya panduan ini para pekerja
14
seharusnya sudah cakap dan terampil dalam menggunakan alat-alat
keselamatan kerja meskipun tanpa pengawasan atau bantuan langsung
dari petugas pengawas keselamatan. Begitupula dengan pihak
perusahaan pelayaran, dengan adanya daftar panduan atau pertunjuk
keselamatan kerja ini maka pihak perusahaan dapat memperkirakan
alat-alat keselamatan kerja apa saja yang harus mereka kirim atau
supplai ke [Link] dapat mengontrol nilai ekonomi dan
pengeluaran perusahaan sehingga dapat sistemnya dapat berjalan
dengan baik.
c. Job Hazard Analysis (JHA)
Menurut Hebbie Ilma Adzim (google [Link]). Job Hazard
Analysis (JHA) atau biasa dikenal dengan Job Safety Analyisis (JSA)
merupakan upaya untuk mempelajari/menganalisa dan serta pencatatan
tiap-tiap urutan langkah kerja suatu pekerjaan, dilanjutkan dengan
identifikasi potensi-potensi bahaya didalamnya kemudian diselesaikan
dengan menentukan upaya terbaik untuk mengurangi ataupun
menghilangkan/mengendalikan bahaya-bahaya pada pekerjaan yang
dianalisa tersebut.
Dengan menyusun/menerbitkan dan mensosialisasikan Job Hazard
Analysis pada tenaga kerja merupakan salah satu upaya untuk
mencegah terjadinya kecelakaan kerja di tempat kerja.
15
Adapun langkah-langkah menyusun JSA antara lain:
1) Menentukan jenis pekerjaan
Pekerjaan yang memiliki riwayat kecelakaan kerja paling parah
ataupun sering merupakan prioritas utama untuk dianalisa
keselamatannya. Factor-faktor yang perlu diperhatikan dalam
menentukan pekerjaan yang akan dianalisa ialah sebagai berikut:
a) Tingkat keseringan kecelakaan kerja.
b) Tingkat kecelakaan kerja yang menyebabkan cacat.
c) Potensi keparahan kecelakaan kerja.
d) Pekerjaan yang bersifat baru.
e) Pekerjaan yang memiliki riwayat hampir celaka.
2) Merinci urutan-urutan/langkah-langkah pekerjaan dari awal
dimulai pekerjaan sampai dengan selesainya pekerjaan.
3) Mengidentifikasi bahaya dan potensi kecelakaan kerja terhadap
tiap-tiap urutan kerja yang dilakukan.
4) Menentukan langkah pengendalian terhadap bahaya-bahaya tiap
urutan kerja yang dilakukan.
d. Safety Observation Card (SOC)
Menurut luthfie,stopcard. Safety Observation Card (SOC) atau Hazard
Card bahkan biasa disebut dengan Stop Card adalah salah satu bagian
dari prasarana alat untuk mencegah terjadinaya kecelakaan kecil
sampai besar dan juga sebuah appreciation atau reward untuk
seseorang yang telah melakukan sesuatu dengan benar jadi dengan
adanya stop card bukanlah untuk menjelekkan atau membuka aib
16
seseorang tapi untuk memperbaiki agar supaya lebih maju, penilaian
dari stop card bisa meliputi bagian apa saja contohnya dari PPE jika
pemakaian PPE dengan benar maka kita menulisnya di kolom safe
yaitu pada kolom atas contoh: (saya melihat ABK menggunakan
perlengkapan keselamatan kerja dengan benar, menggunakan
pelindung muka sewaktu menggerinda maka saya puji dia bagus dan
pertahankan karena dengan menggunakan perlatan yang benar
keselamatan lebih terjaga).
Berdasarkan penelitian dari beberapa perusahan maka penulis dapat
menyimpulkan bahwa Safety Observation Card (SOC) itu memiliki
berbagai macam nama akan tetapi fungsinya sama. Nama-nama
tersebuat antara lain, SOC, Behaviour Basic Safety (BBS), Stop Card.
Di AME Abu Dhabi dikenal dengan nama Hazard Observation Card.
e. Safety Meeting
Dikutip dari [Link] bahwa safety meeting merupakan sebuah
cara untuk selalu mengingatkan kepada para karyawan atau pegawai
tentang pentingnya kesehatan dan keselamatan kerja di area kerja.
Biasanya materi yang diberikan melalui safety meeting ini siafatnya
spesifik kepada lingkungan kerja dan tidak harus selalu dilakukan di
ruang [Link] dengan memberikan briefing di area terbuka,
karena pada dasarnya seorang pimpinan hanya memberitahukan
bagaimana selalu menjalankan aturan dari kesehatan dan keselamatan
kerja itu sendiri.
17
Manfaat dari safety meeting yaitu untuk pengenalan danpengingat
segala jenis aturan-aturan dari kesehatan dan keselamatan kerja agar
sebuah aktivitas pekerjaan sesuai dengan aturan yang [Link]
itu safety meeting berguna juga untuk selalu mengantisispasi dan lebih
menyadarkan para pekerja tentang pentingnya kesehatan dan
keselamatan kerja.
Banyak kecelakaan kerja terjadi sampai sekarang adalah dikarenakan
keteledoran para pekerja itu sendiri. Para pekerja tidak begitu sadar
akan keselamatan kerja. Contoh, tidak menggunakan alat keselamatan
kerja sesuai dengan standar yang berlaku, tidak mematuhi aturan
pekerjaan sesuai dengan pandua-panduan yang sudah diberikan oleh
perusahaan atau safety officernya dan lain sebagainya.
C. Faktor Kapal
Faktor kapal yang turut berperan dalam penerapan ISM Code sehubungan
dengan MPPEM adalah Perlengkapan yang berhubungan dengan safety yang
tersedia yang dapat digunakan tepat waktu. Posisi kapal yang berubah-ubah
serta pergantian ABK yang dilakukan di pelabuahan-pelabuhan yang berbeda
sehingga persediaan alat keselamatan kerja harus tersedia di atas kapal
khususnya untuk ABK yang baru [Link] Jimdo,tentang keselamatan
kerja di kapal. Adapun perlengkapan dasar alat keselamatan kerja yang harus
disediakan diatas kapal yaitu:
18
1. Baju Pelindung
Baju pelindung atau Coverall yang melindungi badan anggota awak
berbahan beresiko seperti minyak panas, air, percikan pengelasan dan
[Link] semacam ini dikenal sebagai boiler suit.
2. Helmet
Bagian yang paling penting dari badan manusia yaitu [Link]
perlindungan paling baik yang terbuat dari helm plastic keras diatas
[Link] talidagu juga disiapkan untuk melindungi helm agar tidak
terjatuh pada saat bekerja.
3. Safety Shoes
Maksimum dari ruangan internal kapal di pakai oleh muatan dan mesin
terbuat dari logam keras dan yang membuatnya canggung untuk awak
untuk jalan disekitarnya, sepatu safety meyakinkan kalau tak ada luka
yang berlangsung di kaki beberapa pekerja atau ABK di kapal.
4. Sarung Tangan
Beragam jenis sarung tangan yang disiapkan di [Link] ini
dipakai dalam operasi dimana hal semacam ini jadi kewajiban membuat
perlindungan tangan beberapa [Link] sarung tangan yang
didapatkan adalah sarung tangantahan panas, sarung tangan kapas untuk
operasi normal, sarung tangan las, serta sarung tangan untuk bahan kimia
dan lain-lain.
5. Goggles
Mata adalah bagian yang paling peka dari badan manusia dan dalam
operasi keseharian, peluang awak kapal begitu tinggi untuk cedera
19
[Link] pelindung atau kacamata yang dipakai untuk perlindungan
mata, sedang kacamata las diapakai untuk operasi pengelasan yang
melindungi mata dari percikan intensitas tinggi.
6. Plug
Diruangan mesin kapal membuahkan nada 110-120 db ini adalah
frekwensi nada yang begitu tinggi untuk telinga manusia. Bahkan juga
sebagian menit paparan bisa mengakibatkan sakit kepala, iritasi
ataumasalah pendengaran .Satu penutup telinga atau steker telinga
dipakai pada kapal yang bertujuan untuk menyeimbangkan nada
sehingga bisa didengar oleh manusia dengan aman.
7. Safety Harness
Operasi kapal yang teratur meliputi perbaikan dan pengecatan
permukaan yang tinggi yang membutuhkan anggota, ABK untuk
mencapai beberapa daerah yang tidak gampang [Link] hindari
jatuh dari ketinggian maka dianjurkan untuk menggunakan safety
harness. Safety harness yang digunakan oleh operator bagian ujungnya
harus diikat pada titik kuat atau besi untuk menahan bobot berat operator
usahakan untuk mengikat ditempat yang mudah dijangkau.
8. Face Mask
Face mask atau masker muka adalah alat keselamatan kerja yang
digunakan untuk menutupi sebagian wajah khusunya bagian hidung.
Apabila hendak mengerjakan sesuatu yang berhubungan dengan carbon,
debu, serta bahan kimia maka dianjurkan untuk memakai pelindung
wajah atau masker.
20
9. Chemical Suit
Chemical suit atau baju pelingdung yang dibuat khusus apabila ingin
menggunakan bahan kimia untuk menghidari kontak badan dengan
bahan kimia yang berbahaya.
10. Welding Perisai
Pengelasan merupakan aktivitas yang sering dilakukan diatas kapal
apabila melakukan perbaikan structural. Juru las harus memakai
perisaiatau topeng untuk menghindari percikan-percikan api serta sinar
ultraviolet yang disebabkan oleh titik api pada saat pengelasan.
D. Faktor Manajemen Perusahaan Pelayaran
Keselamatan kerja merupakan prioritas penting bagi para pelaut atau
ABK saat bekerja di kapal. Seluruh perusahaan pelayaran memastikan bahwa
crew mereka mengikuti prosedur keamanan pribadi dan aturan semua operasi
yang di bawah diatas [Link] mencapai keamanan maksimal dikapal,
langkah awal memastikan bahwa seluruh ABK memakai peralatan pelindung
keselamatan pribadi mereka dibuat untuk berbagai macam jenis pekerjaan
yang dilakukan di kapal.