Review dan Pembelajaran Topik dalam
Managerial Economics and Buiness Strategy (Baye and Prince, 9th edition)
Chapter 10. Game Theory : Inside Oligopoly
Tugas Mata Kuliah Managerial Economics
Dosen Pengajar Dr. Anggito Abimanyu, [Link].
Disusun oleh Kelompok 10 :
Muthyannesia Br. Sitohang (37P18050)
Nia Ninfa Novia (37P18051)
Parjoko (37P18052)
PROGRAM MAGISTER MANAJEMEN
FAKULTAS EKONOMIKA DAN BISNIS
UNIVERSITAS GADJAH MADA
2018
Chapter 10. Game Theory : Inside Oligopoly
I. PENGANTAR
Dalam suatu pasar oligopoly, ketika hanya beberapa perusahaan bersaing di pasar,
tindakan satu perusahaan akan menimbulkan pengaruh bahkan dampak drastis pada para
pesaingnya. Misalnya, keputusan harga dan keluaran (output) dari suatu perusahaan
oligopoly umumnya akan mempengaruhi laba perusahaan yang lain dalam industri. Untuk
memaksimalkan laba, manajer harus memperhitungkan kemungkinan dampak dari
keputusannya terhadap perilaku atau respon manajer perusahaan lain dalam industri.
Analisis interaksi strategis dalam keputusan manajerial berada dalam situasi saling
ketergantungan. Oleh karena itu, perlu dikembangkan sebuah alat umum yang akan
membantu dalam membuat sejumlah keputusan di pasar oligopolistik, termasuk berapa
harga yang akan dikenakan, berapa banyak iklan yang akan digunakan, apakah akan
memperkenalkan produk baru, dan apakah akan memasuki pasar baru.
Game Theory atau teori permainan merupakan sebuah alat dasar yang dapat
dikembangkan untuk menganalisa masalah dan membantu pengambilan keputusan
strategis perusahaan, dimana mencakup masalah dan keputusan strategis yang terkait
dengan pihak eksternal atau pesaing perusahaan maupun yang terkait dengan pihak
internal perusahaan seperti pemantauan dan tawar menawar dengan pekerja.
1
Chapter 10. Game Theory : Inside Oligopoly
II. TUJUAN PEMBELAJARAN
1. Menerapkan bentuk normal (normal form) dan bentuk representasi yang luas
(extensive form) dari permainan (game) untuk merumuskan keputusan dalam
lingkungan strategis yang meliputi harga, iklan, koordinasi, tawar-menawar,
inovasi, kualitas produk, memantau karyawan, dan masuknya pesaing
2. Membedakan antara strategi dominan (dominant strategy), aman (secure
strategy), keseimbangan Nash (Nash equilibrium), campur (mixed strategy), dan
subgame perfect equilibrium, dan mengidentifikasi strategi-strategi tersebut
dalam berbagai permainan
3. Mengidentifikasi apakah hasil kooperatif (kolusi) dapat didukung sebagai
keseimbangan Nash dalam permainan berulang (repeated game), dan
menjelaskan peran trigger strategy, tingkat bunga, dan adanya periode akhir
terbatas atau tidak pasti dalam mencapai hasil tersebut
2
Chapter 10. Game Theory : Inside Oligopoly
III. POKOK BAHASAN : GAME THEORY INSIDE OLIGOPOLY
A. GAMBARAN UMUM PERMAINAN & PEMIKIRAN STRATEGIS
Game Theory (Teori Permainan)
Merupakan kerangka umum untuk membantu pengambilan keputusan strategis dimana
hasilnya tidak hanya tergantung pada tindakan seorang pemain tetapi juga tindakan yang
diambil oleh pemain lain (pesaing)
Komponen permainan :
1. Pemain (player), adalah agen yang membuat keputusan, dalam hal ini perusahaan
(manajer perusahaan) dan perusahaan pesaing (manajer perusahaan pesaing)
2. Keputusan yang direncanakan (strategy), dalam pasar oligopoly misalnya keputusan
harga, iklan dan kualitas produk.
3. Imbalan (payoff), adalah hasil dari sebuah permaian, dalam hal ini dapat merupakan
laba atau kerugian yang dihasikan dari strategi yang digunakan perusahaan
4. Deskripsi urutan dan frekuensi interaksi dalam permainan
Dalam analisis permainan, urutan para pemain dalam membuat keputusan dan frekuensi
dari interaksi pengambilan keputusan adalah penting.
Urutan Pengambilan Keputusan Frekuensi Interaksi
Simultaneous-move game One-shot game
Permainan yang mana setiap pemain Permainan dimana para pemain hanya
membuat keputusan tanpa mengetahui bermain (membuat keputusan) hanya sekali.
keputusan pemain lain. Contoh : permainan gunting-batu-kertas atau
Contoh : permainan gunting-batu-kertas catur yang disepakati dilakukan 1 kali ronde
Sequential-move game Repeated game
Permainan yang mana satu pemain Permainan dimana para pemain dapat
mengambil langkah setelah mengamati bermain (membuat keputusan) lebih satu kali.
langkah pemain lain. Contoh : permainan gunting-batu-kertas atau
Contoh : permainan catur. catur yang disepakati dilakukan > 1 kali ronde.
B. SIMULTANEOUS-MOVE ONE-SHOT GAME
Untuk memahami Simultaneous-Move, One-Shot Game, maka terlebih dahulu harus
mengetahui teori-teori berikut :
Strategi (strategy)
merupakan suatu aturan keputusan yang menjelaskan aksi yang akan diambil seorang
pemain di tiap titik keputusan
(1) Strategi dominan (dominant strategy), sebuah strategi yang memberikan hasil
tertinggi untuk pemain terlepas dari tindakan lawan
3
Chapter 10. Game Theory : Inside Oligopoly
(2) Strategi aman (secure strategy), sebuah strategi yang menjamin hasil tertinggi
dalam skenario terburuk
(3) Strategi campuran (mixed strategy), sebuah strategi dimana pemain mengacak dua
atau lebih tindakan yang tersedia agar pemain lawan tidak dapat memprediksi
(4) Strategi keseimbangan Nash (Nash equilibrium), sebuah kondisi penetapan strategi
dimana tidak ada pemain yang dapat meningkatkan hasil dengan secara sepihak
mengubah strateginya, mengingat strategi pemain lawan
Normal-form game
Merupakan suatu representasi bentuk normal permainan yang menunjukkan para
pemain, strategi mereka yang memungkinkan dan hasil/imbalan dari strategi alternatif
Player B 8 atau 10 adalah hasil yang
Strategy Left Right mungkin didapat Pemain B
Player A Up 10 , 20 15 , 8_ dari keputusan mengambil
Down -10 , 7_ 10 , 10 Strategi “Right”
-10 atau 10 adalah hasil yang mungkin
didapat Pemain A dari keputusan mengambil
Strategi “Down”
Gambar 1. Contoh simultaneous-move one-shot game dalam normal form
Terdapat 2 (dua) Pemain yaitu A dan B yang dianggap sebagai pengelola dua perusahaan
yang bersaing dalam duopoli. Strategi Pemain A adalah : Up atau Down (misalnya
dianalogikan sebagai menaikkan atau menurunkan harga) sedangkan Strategi Pemain B
adalah : Left atau Right (misalnya dianalogikan sebagai tingkat iklan rendah atau tinggi).
Nilai pertama sebagai hasil dari Pemain A dan nilai kedua Sebagai hasil dari Pemain B.
Karena permainan ini merupakan Simultaneous-Move, One-Shot Game, para pemain
hanya bisa membuat satu keputusan dan harus pada waktu yang bersamaan, dengan
demikian setiap pemain akan terhalangi untuk mendasarkan keputusannya pada
keputusan yang akan diambil pemain lain.
Dari tabel di atas dapat dipahami Stategi Dominan, Strategi Aman dan Strategi
Keseimbangan Nash dari masing-masing pemain yang dirangkum pada tabel berikut :
Strategi Player A Player B
Dominan Up, (10 atau 15) > (-10 atau 10) Tidak ada
Aman Tidak ada Right, min (8 atau 10) > min (20 atau 7)
Nash Up, strategi dominan Left, hasil 20 lebih baik dari 8
Contoh Aplikasi Simultaneous-Move One-Shot Game
Keputusan penetapan harga Keputusan koordinasi
Keputusan iklan & kualitas produk Keputusan pemantauan karyawan
4
Chapter 10. Game Theory : Inside Oligopoly
C. INFINITELY REPEATED GAME
Merupakan permainan yang dimainkan berulang-ulang selamanya (infinitely repeated)
dimana pemain menerima hasil selama setiap pengulangan permainan. Pemain harus
secara tepat mendiskontokan hasil masa depan ketika mereka membuat keputusan saat
ini (menggunakan konsep present value perusahaan)
Player B
Strategy Low Price High Price
Player A High Price 0,0 _50 , -40
Low Price -40 , 50_ 10 , 10
Gambar 2. Contoh infinitely repeated game penetapan harga
Berdasarkan tabel diatas keseimbangan Nash dalam bermain one-shot dari permainan ini
adalah setiap perusahaan menetapkan harga rendah dan mendapatkan laba sebesar nol.
Jika perusahaan berulang kali menghadapi permainan diatas, maka mungkin dari mereka
untuk berkolusi dengan melakukan trigger strategy.
Trigger Strategy
Adalah strategi yang bergantung pada permainan para pemain di masa lalu dalam sebuah
permainan, dimana seorang pemain yang mengadopsi trigger strategy terus memilih
tindakan yang sama sampai pemain lain mengambil tindakan yang memicu tindakan
berbeda dengan pemain pertama
Analisis Keputusan Kooperatif (Kolusi)
Untuk one-shot game yang diulang terus-menerus (infinitely repeated), tingkat bunga i,
hasil one-shot kerjasama (kolusi) adalah Coop, hasil one-shot maksimal jika melakukan
kecurangan adalah Cheat, dan imbal hasil one-shot keseimbangan Nash adalah N, maka
dapat tercapai kesepakatan kerjasama (kolusi) jika :
1
𝜋 𝐶ℎ𝑒𝑎𝑡 − 𝜋 𝐶𝑜𝑜𝑝 ≤ 𝜋 𝐶𝑜𝑜𝑝 − 𝜋 𝑁
𝑖
Kerjasama (kolusi) dapat dipertahankan dalam repeated game dengan trigger strategy :
1. Kerjasama berarti tidak ada pemain yang pernah curang di masa lalu
2. Jika ada kecurangan, pemain lain akan menghukum dengan memilih strategi one-
shot keseimbangan Nash selamanya
Faktor-faktor yang mempengaruhi kerjasama melalui trigger strategy
1. Mengetahui siapa pesaing mereka, sehingga mereka tahu siapa yang harus dihukum
2. Mengetahui siapa pelanggan pesaing, sehingga jika hukuman diperlukan mereka
dapat mengambil para pelanggan dengan penetapan harga yang lebih rendah
3. Mengetahui kapan pesaing mereka menyimpang dari pengaturan kolusi, sehingga
mereka tahu kapan memulai hukuman
4. Keberhasilan menghukum bagi pesaing yang menyimpang dari perjanjian kolusif,
karena kalau tidak maka ancaman hukuman tidak akan bekerja
5
Chapter 10. Game Theory : Inside Oligopoly
Faktor-faktor yang mempengaruhi kolusi dalam permainan harga:
1. Jumlah perusahaan, semakin sedikit jumlah perusahaan maka lebih mudah
melakukan kolusi
2. Ukuran perusahaan, semakin besar perusahaan maka biaya monitoring lebih besar
3. Sejarah pasar, perusahaan belajar dari pengalaman sebelumnya dalam menetapkan
harga atau belajar dari pengalaman perusahaan lain dalam berperilaku di pasar
4. Mekanisme hukuman, mekanisme harga yang digunakan perusahaan
mempengaruhi kemampuan dalam menghukum rival yang tidak bekerja sama
Contoh Aplikasi Infinitely Repeated Game
Permainan harga yang berulang Jaminan produk (warranty)
Keputusan iklan & kualitas produk Garansi produk (quarantee)
D. FINITELY REPEATED GAME
Merupakan permainan one-shot game yang diulang dengan jumlah yang terbatas (finitely
repeated), dimana terdapat 2 (dua) jenis periode akhir permainan sebagai berikut :
1. Uncertain final period, jika periode akhir permainan tidak pasti. Kondisi ini
mencerminkan analisis yang sama degan infinitely repeated game dimana trigger
strategy dapat digunakan untuk mencapai hasil kolusi yang lebih baik.
2. Known final period, jika periode akhir permainan diketahui. Maka akan terjadi
masalah periode akhir yang mencerminkan analisis one-shot game, dimana para
pemain memiliki insentif untuk melakukan kecurangan.
Player B
Strategy Low Price High Price
Player A High Price 0,0 _50 , -40
Low Price -40 , 50_ 10 , 10
Gambar 3. Contoh repeated game penetapan harga
Analisis finitely repeated game terkait periode akhir tersebut adalah sebagai berikut :
Uncertain Final Period Known Final Period
Probabilitas permainan berakhir 0 < θ < 1 Probabilitas permainan berakhir θ = 1
Trigger strategy One-shot game
Strategi : kolusi (High, High) Strategi : no kolusi (low-low)
Insentif melakukan kecurangan jika : Nash equilibrium
10 𝐶𝑜𝑜𝑝
𝛱𝐴𝐶ℎ𝑒𝑎𝑡 = 50 ≤ = 𝛱𝐴
𝜃
Contoh Aplikasi Finitely Repeated Game
Keputusan penetapan harga Pengunduran diri (resign) karyawan
Keputusan iklan & kualitas produk The Snake-Oil Salesman
6
Chapter 10. Game Theory : Inside Oligopoly
E. MULTISTAGE GAME
Merupakan permainan yang mana para pemain membuat keputusan secara berurutan
(sequential-move) dan tidak simultan. Untuk memahami multistage game, maka terlebih
dahulu harus mengetahui teori-teori berikut :
Extensive Form Game (Decision Tree)
Merupakan representasi dari permainan yang merangkum pemain, informasi yang
tersedia pada setiap tahap, strategi yang tersedia, urutan bergerak permainan, dan hasil
dari berbagai strategi.
Subgame Perfect Equilibrium
Sebuah kondisi yang menggambarkan sekumpulan strategi yang merupakan
keseimbangan Nash dan tidak memungkinkan pemain untuk meningkatkan hasil pada
setiap tahap permainan dengan mengubah strategi.
Hasil Pemain A Hasil Pemain B
Simpul keputusan Pemain B (10,15)
Simpul keputusan Pemain A,
Titiak awal permainan
B
(5,5)
A
(0,0)
(6,20)
Gambar 4. Contoh sequential-move game dalam extensive form (decision tree)
Keterangan :
Strategi Pemain A : Up atau Down
Strategi Pemain B : Up, jika Pemaian A mengambil Up atau Down
Down, jika Pemain A mengambil Up atau Down
Nash Equilibrium I : (5,5), Pemain B Down jika Pemain A mengambil Up
Not Credible, respon terbaik pemain B adalah Up
Nash Equilibrium II : (10, 15), Pemain B Up jika Pemain A mengambil Up
Credible, sehingga merupakan Subgame Perfect Equilibrium
Contoh Aplikasi Multistage Game
Keputusan entry (pasar baru) Tawar menawar berurutan
Keputusan inovasi (produk baru) Take it or leave it
7
Chapter 10. Game Theory : Inside Oligopoly
IV. STUDY KASUS : PERANG MINUMAN BERSODA DI INDIA
Salah satu contoh yang paling terkenal dari duopoly persaingan harga adalah Coca-Cola
versus PepsiCo. Meskipun ada banyak perusahaan yang bersaing dalam industri minuman
bersoda, dominasi pangsa pasar Coke dan Pepsi menghasikan laba masing-masing
perusahaan yang sangat dipengarui oleh keputusan harga kedua perusahaan tersebut.
Dalam permainan penentuan harga antara Coke dan Pepsi, setiap perusahaan memiliki
alasan yang kuat untuk menetapkan harga rendah terlepas dari keputusan harga
lawannya, yang mana sering menghasilkan laba rendah ketika harga rendah dibandingkan
dengan hasil ketika keduanya menetapkan harga tinggi
Baru-baru ini, Coke mengumumkan bahwa mereka menurunkan harga untuk botol 200 ml
di India menjadi 8 rupee di seluruh negeri. Penurunan harga ini dibuat untuk
mengantisipasi lonjakan permintaan minuman bersoda di musim panas. Jika Coke
memandang pasar musim panas sebagai one-shot game dengan Pepsi, penetapan harga
rendah ini kemungkinan merupakan strategi yang dominan. Bahkan, Pepsi diharapkan
untuk segera mengikutinnya dengan menurunkan harga, kondisi ini konsisten dengan
prediksi untuk one-shot game.
Sementara one-shot game cukup efektif dalam menjelaskan perang harga baru-baru ini
antara Coke dan Pepsi di India, sebagaimana diketahui bahwa dua perusahaan ini benar-
benar menghadapi satu sama lain berkali-kali di banyak pasar. Pada tahun 2003, kedua
perusahaan ini terlibat perang harga yang sama di India, hanya untuk kemudian bersama-
sama menaikkan harga setelah melihat penurunan yang signifikan pada laba mereka.
Berdasarkan kondisi di atas, dapat dilihat bahwa sifat berulang (repeated game) dari
perang harga antara Coke dan Pepsi dapat memungkinkan mereka melakukan kerjasama
(kolusi) dengan menjaga harga tinggi selama waktu yang lama, terlepas dari godaan untuk
memotong harga dalam periode tertentu.
8
Chapter 10. Game Theory : Inside Oligopoly
V. KESIMPULAN
Simultaneous-move game Normal-form game • Pricing Decisions
• Advertising & Quality
Decisions
One-shot game Nash Equilibrium
• Coordinating Decisions
• Monitoring Employees
Finitely repeated game • Nash Bargaining
• Resignation & Quits
Known Final Period
• The “Snake-Oil”
GAME THEORY Salesmen
Uncertain Final Period
• Pricing Decisions
Infinitely repeated game Trigger Strategy • Advertising & Quality
Decisions
• Waranties &
Quarantees
Sequential-move game Extensive-form game
• Entry
• Innovation
Multistage game Subgame Perfect Equilibrium
• Squential Bargaining
• Take it or leave it
Gambar 5. Skema Game Theory dan aplikasinya
1. Pada one-shot game, keseimbangan Nash tercapai dengan hasil yang umumnya
lebih rendah dari pada hasil jika pemain berkolusi, hal ini dikarenakan bahwa setiap
pemain memiliki insentif untuk melakukan kecurangan atas perjanjian kolusif.
2. Pada infinitely repeated game, penggunaan trigger strategy memungkinkan pemain
melakukan perjanjian kolusif dan menghukum pemain yang curang dalam jangka
waktu yang lama. Faktor-faktor yang mempengaruhi kolusi adalah jumlah
perusahaan, sejarah di pasar, kemampuan monitoring dan kemampuan
menghukum pemain yang curang.
3. Pada finitely repeated game, penggunaan trigger strategy memungkinkan para
pemain melakukan perjanjian kolusi ketika periode akhir interaksi antar pihak tidak
pasti. Sedangkan jika periode akhir diketahui dengan pasti, para pemain memiliki
inisiatif untuk melakukan kecurangan sehingga tercapai keseimbangan Nash.
4. Pada sequential-move game, kita harus menentukan apakah ancaman untuk
mendorong hasil tertentu dalam permainan adalah kredibel atau tidak sehingga
tercapai suatu hasil optimal dalam subgame perfect equilibrium.
9
Chapter 10. Game Theory : Inside Oligopoly
Contoh Aplikasi Game Theory di Indonesia
DUGAAN KOLUSI HONDA & YAMAHA
Jakarta (20-02-2017), Komisi Pengawas Persaingan Usaha (KPPU) menyatakan PT Yamaha
Indonesia Motor Manufacturing (YIMM) dan PT Astra Honda Motor (AHM) bersalah telah
melakukan praktik kartel di wilayah hukum Indonesia dengan membuat kesepakatan
harga terhadap sepeda motor jenis skuter matik 110-125 cc. Keduanya dikenakan Pasal 5
ayat (1) Undang-Undang Nomor 5 Tahun 1999, tentang larangan membuat perjanjian
dengan pelaku usaha pesaing untuk menetapkan harga atas suatu barang dan jasa.
Kasus ini bermula dari kecurigaan KPPU terhadap penguasaan pasar kedua pabrikan asal
Jepang tersebut di kelas motor skutik 110-125cc. Skuter matik menjadi komoditas yang
paling banyak diminati konsumen. Penguasaan pangsa pasar untuk skutik oleh AHM lebih
dari 67 persen dan Yamaha lebih dari 29 persen. Jika dugaan kartel terbukti, kedua
perusahaan menguasai hampir 97 persen pangsa pasar sepeda motor skutik, sementara
PT Suzuki Indomobil Motor (Suzuki) dan PT TVS Motor Company (TVS) hanya menguasai
sedikit dari pangsa pasar atau sekiar kurang dari 2,5 persen.
Penyelidikan terhadap dugaan kartel ini sudah dilakukan KPPU sejak tahun 2014.
Investigator KPUU menemukan adanya pergerakan harga motor skutik Yamaha dan
Honda yang saling beriringan. KPPU menemukan indikasi adanya perjanjian tak tertulis di
antara kedua pabrikan itu untuk mengatur harga jual skuter matik.
Menurut KPPU, sepeda motor skuter matik seharusnya dijual dengan harga Rp.8,7 juta di
pasaran Indonesia. Namun Yamaha dan Honda menjual dengan harga Rp.14-18 juta. Hal
itu dinilai sangat menguntungkan perusahaan. Terkait dengan hal itu, Yamaha dan Honda
dikenakan sanksi administratif. Kedua perusahaan juga diharuskan membayar denda
karena terbukti melakukan pelanggaran. Dalam hal ini Yamaha (PT. YIMM) didenda
sebesar Rp.25 miliar, sedangkan Honda (PT. AHM) didenda Rp.22,5 miliar.
Sumber : [Link], [Link]
Contoh kasus di atas menggambarkan situasi penerapan teori permainan dalam pasar
oligopoly antara PT Yamaha Indonesia Motor Manufacturing (YIMM) dan PT Astra Honda
Motor (AHM). Sifat perang harga yang berulang (repeated game) memungkinkan kedua
pabrikan ini mengadopsi trigger strategy dan melakukan kerjasama atau kolusi atas
penetapan harga jual (kenaikan harga) terhadap produk skuter matik mereka.
Sebagai contoh Honda BeAT POP eSP CBS (110 cc) dipatok seharga Rp 14,6 juta,
sedangkan lawannya dari Yamaha yakni Mio M3 (125 cc) dibanderol Rp 14,1 juta.
Contoh lainnya, Honda eSP Scoopy (108,2 cc) harganya Rp 16,750 juta, sedangkan
Yamaha Mio Fino (113,7 cc) Rp 14,590 juta. Pada tahun 2014, Yamaha dan Honda sama-
sama melakukan 3 (tiga) kali kenaikan harga pada rentang Rp.400-600 ribu.
10