Pedoman Promosi Kesehatan RSUD Pandega
Pedoman Promosi Kesehatan RSUD Pandega
PANDEGA PANGANDARAN
NOMOR:__/____
TENTANG
PEDOMAN ORGANISASI PROMOSI KESEHATAN RUMAH SAKIT PADA RUMAH SAKIT UMUM
DAERAH PANDEGA PANGANDARAN
c. Bahwa maksud tersebut pada huruf (a) dan (b) maka perlu ditetapkan
pedoman organisasi promosi kesehatan rumah sakit umum daerah
pandega pangandaran dengan surat keputusan direktur.
KESATU :
KEDUA :
KETIGA :
KEEMPAT :
KELIMA :
BAB I
PENDAHULUAN
A. LATAR BELAKANG
Rumah Sakit sebagai institusi pelayanan kesehatan tingkat rujukan mempunyai tugas
memberikan pelayanan kesehatan perorangan secara paripurna yang meliputi promotif,
preventif, kuratif, dan rehabilitatif. Pelayanan promotif dan preventif di rumah sakit dapat
diwujudkan melalui penyelenggaraan PKRS. Untuk itu Rumah Sakit berperan penting dalam
melakukan promosi kesehatan baik untuk pasien, keluarga pasien, SDM Rumah Sakit,
pengunjung Rumah Sakit maupun masyarakat sekitar rumah sakit.
Promosi Kesehatan di Rumah Sakit (PKRS) berusaha mengembangkan pengertian
pasien, keluarga, dan pengunjung rumah sakit tentang penyakit dan pencegahannya. Selain
itu, Promosi Kesehatan di Rumah Sakit juga berusaha menggugah kesadaran dan minat
pasien, keluarga, dan pengunjung Rumah Sakit untuk berperan secara positif dalam usaha
penyembuhan dan pencegahan penyakit. Oleh karena itu, Promosi Kesehatan di Rumah Sakit
merupakan bagian yang tidak terpisah dari program pelayanan kesehatan di Rumah Sakit.
Terselenggaranya Promosi Kesehatan di Rumah Sakit dapat diwujudkan Rumah Sakit
yang berkualitas yang memenuhi standar akreditasi Rumah Sakit baik nasional maupun
internasional. Integrasi Promosi Kesehatan dalam asuhan pasien melalui peningkatan
komunikasi dan edukasi yang efektif juga dapat mewujudkan peningkatan mutu dan
keselamatan pasien.
Akreditasi rumah sakit merupakan suatu proses dimana suatu lembaga yang
independen melakukan asesmen terhadap rumah sakit. Tujuannya untuk menentukan apakah
rumah sakit bermutu, standar akreditasi dirancang untuk memperhatikan keselamatan pasien
dan peningktan mutu pelayanan. Akreditasi merupakan persyaratan yang ditetapkan
pemerintah untuk mengukur apakah kinerja pelayanan suatu rumah sakit secara optimal dapat
mencapai semua standar akreditasi sesuai yang ditetapkan.
Akreditasi merupakan upaya untuk mendorong rumah sakit senantiasa meningkatkan
mutu dan keamanan pelayanan guna perbaikan yang berkelanjutan dan terus menerus serta
perbaikan system yang meliputi input, proses, produk, input, dan out come. Standar akreditasi
rumah sakit dikelompokkan menurut fungsi-fungsi konsisten dan dipatuhi oleh setiap unit
kerja/bagian.
Undang-undang Nomor 44 tahun 2009 tentang Rumah Sakit mewajibkan Rumah Sakit
mengikuti proses akreditasi, dengan demikian rumah sakit harus menerapkan standar
akreditasi termasuk standar-standar lainnya yang berlaku bagi rumah sakit sesuai standar
Akreditasi Rumah Sakit yaitu Akreditasi Versi 2012.
Sebagai dasar dimulainya membangun system di rumah sakit maka merumuskan
dokumen standar-standar akreditasi diperlukan yang merupakan regulasi di Rumah Sakit
harus diatur dalam Panduan Tata Naskan Rumah Sakit.
Dokumen akreditasi yang harus disiapkan rumah sakit meliputi dokumen yang
merupakan regulasi dan dokumen bukti pelaksanaan kegitan. Untuk dokumen yang
merupakan regulai dibuat dalam bentuk Surat Keputusan, Pedoman, Panduan dan Prosedur
Kerja dimana cara penulisannya harus sesuai dengan panduan Tata Naskan Rumah Sakit
yang dapat dibedakan menjadi dua yaitu:
1. Regulasi Pelayanan Rumah Sakit, yang terdiri dari:
a. Kebijakan Pelayanan Rumah Sakit;
b. Pedoman Pelayanan Rumah Sakit;
c. Standar Prosedur Operasional (SPO);
d. Rencana jangk panjang (25 tahunan) dan jangka menengah (5 tahunan), Master
Plan, Rensta, Rencana Bisnis Strategis/RBS, Strategi Action Plan/SAP, Sistem
Akuntabilitas Pejabat/SAP, dll;
e. Rencana Kerja Tahunan (RKA, RBA, atau lainnya).
2. Regulasi di Unit kerja Rumah Sakit yang terdiri:
a. Kebijakan Pelayan Unit PKRS;
b. Pedoman Pelayanan Unit PKRS;
c. Standar Prosedur Operasional (SPO) terkait;
d. Program (Rencana Kerja Tahunan/Renja) PKRS.
Kebijakan rumah sakit ditetapkan oleh Direktur bersifat garis besar yang mengikat,
karena diterbitkannya Surat Keputusan Direktur Tentang Kebijakan Pelayanan Rumah Sakit
maka selanjutnya perlu ditindak lanjuti secara rinci yang dituangkan dalam Pedoman atau
Panduan dan secara teknis dalam prosedur kerja sehingga ada kejelasan dan langkah-
langkah untuk melaksanakan kebijakan tersebut.
Pedoman adalah kumpulan ketentuan dasar yang memberi arah bagaimana sesuatu
harus dilakukan dan merupakan hal pokok yang menjadi dasar untuk menentukan atau
melaksanakan kegiatan dan mengatur dalam beberapa hal mendasar. Sedangkan panduan
merupakan petunjuk dalam melaksanakan kegiatan dan hanya mengatur salah satu
hal/kegiatan.
Mengacu Peraturan Daerah Kabupaten Pangandaran Nomor _ Tahun 2020 tentang
Struktur Organisasi Tata Kerja RSUD Pandega Pangandaran, dan Peraturan Bupati
Pangandaran Nomor __ Tahun 2020 tentang Tugas Pokok, Fungsi, dan Uraian Tugas Rumah
Sakit Umum Daerah Pandega Pangandaran, serta Keputusan Bupati Pangandaran Nomor __
tahun 2020 tentang Pelimpahan sebagai tugas Bupati kepada Direktur RSUD Pandega
Pangandaran.
Rumah sakit merupakan sarana kesehatan yang termasuk dalam subsistem Upaya
Kesehatan. Rumah Sakit tidak boleh dipandang sebagai suatu entitas yang terpisah dan
berdiri sendiri dalam sektor kesehatan. Peran rumah sakit adalah mendukung pelayanan
kesehatan dasar melalui penyediaan fasilitas rujukan dan mekanisme bantuan. Menurut WHO,
‘”Rumah sakit harus terintergrasi dalam system kesehatan dimana ia berada. Fungsinya
adalah sebagai pusat sumber daya bagi peningkatan kesehatan masyarakat di wilayah yang
bersangkutan”. Reformasi perumah sakitan di Indonesia sangat diperlukan menginngat masih
banyaknya rumah sakit yang hanya menekankan pelayanan kepada aspek kuratif dan
rehabilitatif saja. Padahal keadaan ini menyebabkan rumah sakit menjadi sarana kesehatan
yang elit dan terlepas dari system kesehatan dimana ia berada.
Penerapan paradigma diatas akan sangat berpengaruh terhadap pendekatan yang
harus dilaksanakan dalam promosi kesehatan. Untuk itu pengembangan promosi kesehatan di
rumah sakit perlu dilakukan segera mungkin. Untuk mempercepat upaya PKRS menjadi
bagian dari upaya pelayanan kesehatan Rumah Sakit maka PKRS dirasa penting menjadi
salah satu standar PKRS yang dapat dijadikan acuan dalam penyusunan instrument akreditasi
rumah sakit di Indonesia.
Terciptanya masyarakat rumah sakit yang menerapkan Perilaku Hidup Bersih dan
Sehat melalui perubahan pengetahuan, sikap, dan perilaku pasien RS serta pemeliharaan
lingkungan RS dan termanfaatkannya dengan baik semua pelayanan yang disediakan Rumah
Sakit.
Meningkatkan kualitas pelayanan medis dengan memberikan informasi medis yang
selektif, terpercaya, dan menyeluruh kepada setiap pasien dan keluarganya yang dating ke
rumah sakit dengan cara menyediakan informasi yang dibutuhkan pasien maupun keluarganya
seperti rencana promotif, diagnosis kerja, rencana diagnostic, rencana terapi, prognosis,
rencana rehabilitatif dan rencana preventif.
Sasaran Promosi Kesehatan di Rumah Sakit adalah masyarakat di rumah sakit, yang
terdiri dari:
a. Pemerintah Pusat dan Pemerintah Daerah.
b. Kepala atau Direktur Rumah Sakit.
c. SDM Rumah Sakit.
d. Pasien.
e. Keluarga Pasien.
f. Pengunjung Rumah Sakit.\
g. Masyarakat Sekitar Rumah Sakit.
h. Pemangku Kepentingan Terkait.
B. TUJUAN PEDOMAN
Sebagai acuan atau ketentuan dasar dalam rangka penyelenggaraan PKRS yang
optimal agar terciptanya kondisi rumah sakit yang kondusif dalam melaksanakan promosi
kesehatan sehingga pasien, keluarga, sumber daya manusia rumah sakit dan masyarakat
dapat berperan aktif dalam perubahan perilaku dan lingkungan dalam mencegah dan
meningkatkan kesehatan.
Semenjak pemekaran Kabupaten Pangandaran dari Kabupaten Ciamis pada tahun 2013
(Undang-undang 21 tahun 2012) Kabupaten Pangandaran belum memiliki RSUD, sehingga
baru pada tahun 2016 memulai pembangunan RSUD di Pangandaran.
RSUD Pandega Pangandaran merupakan satu-satunya Rumah Sakit pemerintah yang
ada di Kabupaten Pangandaran yang menjadi pusat rujukan dari wilayah Kabupaten
Pangandaran yang sebelumnya banyak rujukan pasien ke luar wilayah Pangandaran.
Awalnya penamaan RSUD di Pangandaran merujuk pada daerah Pangandaran itu
sendiri yaitu RSUD Pangandaran. Namun ketika Bupati Pangandaran H. Jeje Wiradinata
mengadakan pertemuan dengan Gubernur Jawa Barat yang salah satunya membahas tentang
penamaan dari RSUD di Pangandaran. Gubernur Jawa Barat waktu itu memberikan nama
RSUD Pandega Pangandaran. Pandega itu memiliki dua singkatan yaitu “Pangandaran Sehat
dan Bahagia” dan yang kedua dalam bahasa sundanya “Pangandaran Hade tur Ngajaga”.
Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) Pandega memiliki arti “ahli atau pemuka
atau pemimpin”, maka dari itu RSUD Pandega diharapkan mampu menjadi pemimpin di
wilayah Kabupaten Pangandaran dalam hal bidang pelayanan kesehatan.
Menurut istilah kepramukaan Pandega memiliki arti waktunya kita mengabdikan diri
dalam masyarakat. Jika kita melihat Trisatya Penegak/Pandega (istilah Kepramukaan) poin
kedua yang berbunyi “Menolong sesama hidup dan ikut serta membangun masyarakat”
(selaras dengan Tridharma Perguruan Tinggi yaitu Pengabdian kepada masyarakat), maka
sebenarnya pandega adalah kepanjangan aksi dari penegak. Di usia penegak mungkin kita
sudah ikut serta mengabdikan diri kepada masyarakat, maka di usia Pandega kitalah yang
diharapkan untuk menjadi pelopor dalam pembangunan tersebut.
B. VISI
Adapun Visi RSUD Pandega Pangandaran adalah “Menjadi Rumah Sakit Yang
Mandiri, Modern, dan Profesional”.
C. MISI
Misi RSUD Pandega Pangandaran untuk merealisasikan Visi adalah:
1. Mengembangkan sistem manajemen dan meningkatkan pelayanan di rumah sakit;
2. Menyediakan alat kesehatan dan sarana prasarana sesuai dengan perkembangan ilmu
pengetahuan dan teknologi;
3. Meningkatkan kompetensi sumberdaya manusia yang meliputi ilmu pengetahuan,
keterampilan, dan karakter diseluruh pelayanan;
4. Berperan aktif dalam meningkatkan derajat kesehatan masyarakat Kabupaten
Pangandaran.
D. MOTTO
Adapun Motto RSUD Pandega Pangandaran adalah “Melayani Dengan Cepat (Ceria,
Empati, Profesional, Aman, Tanggung Jawab)”.
BAB IV
STRUKTUR ORGANISASI RUMAH SAKIT
Pengorganisasian merupakan salah satu fungsi dari pengelolaan Unit PKRS yang merupakan
wadah untuk mengorganisasikan kegiatan dari orang-orang yang terlibat dalam kegiatan promsi
kesehatan di dalam rumah sakit maupun di luar rumah sakit.
Struktur organisasi unit PKRS RSUD Pandega Pangandaran terdiri dari:
1. Unsur Manajemen
a. Direktur
b. Kepala Bidang Keperawatan
c. Kepala Seksi Non Medik
d. Kepala Promosi Kesehatan Rumah Sakit
2. Unsur Pelaksana Teknis
a. Kepala Unit PKRS RSUD Pandega Pangandaran.
b. Koordinator Bidang Edukasi dan Pemberdayaan.
c. Koordinator Bidang Media dan Kemitraan.
d. Pelaksana layanan kesehatan di isntalasi/unit.
STRUKTUR
ORGANISASI UNIT PKRS DI RSUD PANDEGA PANGANDARAN
KETERANGAN GAMBAR :
: GARIS KOMANDO
: GARIS KOORDINASI
BAB VI
URAIAN JABATAN
Pelayanan promosi kesehatan yang profesional memiliki standar pengelolaan sum berdaya
manusia/tenaga sebagai bagian penting dalam pelayanan. Pengaturan tenaga promosi kesehatan
bertujuan agar kegiatan pelayanan yang diberikan dapat terlaksana secara efektif dan efisien. Standar
ketenagaan PKRS telah diatur dalam Keputusan Menteri Kesehatan RI Nomor 44 Tahun 2018
Tentang Penyelenggaraan Promosi Kesehatan Rumah Sakit.
A. Pola Ketenagaan dan Kualifikasi Personil
Pada umumnya seluruh petugas rumah sakit adalah tenaga promosi kesehatan namun
untuk tenaga khusus pengelola dan pemberi pelayanan promosi kesehatan harus memenuhi
kualifikasi sebagai berikut:
1. Tenaga Pengelola Promosi Kesehatan Rumah Sakit
Tenaga pengelola promosi kesehatan rumah sakit adalah tenaga yang memiliki tugas
dan fungsi pengelolaan/manajemen kegiatan promosi kesehatan rumah sakit di RSUD
Pandega Pangandaran.
Adapun kualifikasi tenaga pengelola promsi kesehatan rumah sakit adalah tenaga
S1/S2 Kesehatan sebagai pengelola PKRS yang telah mendapatkan pelatihan manajemen
PKRS.
2. Tenaga Fungsional Promosi Kesehatan Rumah Sakit
Tenaga fungsional promosi kesehatan rumah sakit adalah tenaga yang memiliki tugas
dan fungsi memberikan pelayanan langsung sesuai dengan ruang lingkup pelayanan yang
ditetapkan. Adapun kualifikasi tenaga fungsional Promosi Kesehatan Rumah Sakit sebagai
berikut:
a. Fungsional Ahli
1) Pendidikan minimal S1 Kesehatan/Kesehatan Masyarakat/DIV Promosi Kesehatan
yang telah mendapatkan pelatihan Manajemen PKRS.
2) Memiliki sertifikat pelatihan jabatan fungsional.
3) Memenuhi pencapaian angka kredit.
b. Fungsional Terampil
1) Pendidikan minimal D3 Kesehatan.
2) Memiliki sertifikat pelatihan jabatan fungsional.
3) Memenuhi pencapaian angka kredit.
3. Tenaga Fungsional Khusus Edukator
a. Minimal D3 Kesehatan.
b. Minimal memiliki sertifikat pelatihan edukasi dasar.
c. Memiliki sertifikat pelatihan komunikasi efektif dan teurapeutik.
4. Tenaga Teknis Lainnya.
a. Pendidikan minimal SMA sederajat/S1 Public Relation /Hubungan Masyarakat.
b. Memiliki kompetensi desain multimedia.
c. Memiliki sertifikat pelatihan komunikasi efektif dan terapeutik.
B. Analisis Beban Kerja
1. Berdasarkan hasil kerja/objek kerja.
2. Dibutuhkan standar kemampuan rata-rata yang diukur dari satuan waktu/satuan hasil.
Semua petugas PKRS mengacu pada tugas dan tanggung jawab yang sesuai dengan profesi
dan kompetensinya, memahami visi dan misi rumah sakit umum daerah pandega pangandaran,
bertanggung jawab terhadap profesinya agar tercapai tujuan yang diharapkan.
Seluruh personil mengetahui struktur organisasi untuk mengetahui alur tanggung jawab. Seluruh
personil memahami prosedur kerja untuk melaksanakan tugas dengan baik dan bertanggung jawab.
Seluruh personil mengetahui sarana dan prasarana yang tersedia di ruangan masing-masing
untuk membantu kelancaran tugasnya. Seluruh personil mengetahui metode kerja yang berlaku agar
dapat menjalankan tugas dengan baik.
Tabel
Orientasi Pada SDM PKRS
Pengenalan Personal 60
IV Sosialisasi Pelaporan 60
BAB X
PERTEMUAN/RAPAT
Pertemuan dilakukan secara berkala adapun bentuk pertemuan /rapat koordinasi adalah
sebagai berikut:
A. Rapat Bulanan
Rapat bulanan dilakukan setiap tanggal 3 setiap bulan dengan tujuan evaluasi kegiatan
bulan lalu dan melakukan perencanaan untuk bulan berjalan. Rapat bulanan ini dihadiri oleh
koordinator Promosi Kesehatan Rumah Sakit. Pada rapat ini juga dilakukan evaluasi kinerja
individu sebagai bagian dari system pengendalian.
B. Rapat Semesteran
Rapat semesteran dilakukan setiap 6 bulan dengan tujuan evaluasi kegiatan Promosi
Kesehatan Rumah Sakit secara menyeluruh berdasarkan hasil monitoring dan evaluasi. Rapat
semesteran dihadiri oleh Kepala Bidang Keperawatan, Pengelola, Kepala Unit Kerja, dan
Penanggung Jawab Promosi Kesehatan Rumah Sakit disetiap unit kerja. Hasil rapat evaluasi ini
adalah mengukur pencapaian evaluasi kinerja PKRS secara menyeluruh dalam periode 6 bulan.
C. Rapat Tahunan
Rapat tahunan dilakukan dengan tujuan evaluasi kinerja PKRS tahun berjalan, kegiatan ini
penting untuk mengukur sejauh mana perencanaan tahunan yang telah direncanakan
sebelumnya telah terealisasi.
D. Uji Petik dan Telusur/Supervisi
Sebagai bagian dari pengawasan dan pengendalian terutama pada program edukasi pasien
dan keluarga dilakukan uji petik dab telusur melalui Metode Open Medical Record Review
(OMRR) dan Close Medical Record Review (CMRR). OMRR dilakukan dengan telusur rekam
medic pada pasien yang sedang dilakukan perawatan dan 30% dilakukan wawancara.
Sedangkan CMRR adalah metode uji petik untuk mengetahui apakah kegiatan edukasi dilakukan
atau tidak pada dokumen rekam medik pasien yang telah pulang dan diambil 10% dari sampel
rekamedik.
BAB XI
PELAPORAN
A. LAPORAN BULANAN
Laporan Bulanan Unit PKRS meliputi:
1. Laporan jumlah konseling di layanan kesehatan RS.
2. Laporan jumlah edukasi pasien di layanan kesehatan RS.
3. Jumlah ajuan kebutuhan PKRS di masing-masing layanan kesehatan RS.
4. Laporan kegiatan PKRS di dalam maupun luar RS.
B. LAPORAN SEMESTERAN
Laporan semesteran adalah gabungan dari laporan setiap bulan yang sudah
dilaksanakan oleh unit PKRS setiap bulannya.
C. LAPORAN TAHUNAN
Laporan tahunan adalah laporan dari trisemester I sampai dengan trisemester II dan
sebagai bahan evaluasi dan tindak lanjut dalam bahan perencanaan tahun berikutnya.
Lampiran
1. Contoh Format Laporan Bulanan
a. Format Laporan Konseling
Tabel Laporan Bulanan Unit PKRS RSUD Pandega Pangandaran
JUMLAH JUMLAH KASUS
METODE PKRS YANG
YANG DI KET
NO KASUS DIGUNAKAN
KASUS INTERVENSI PKRS
Frek % Metode Frek %
1 Diare 300 66,7 KIP 150 75
Konseling 50 25
Penyuluhan 25 12,5
Pesan Media 100